Setelah
menunggu tiga hari untuk mengabadikan perjalananku ke Malang, akhirnya malam ini
bisa juga bercuap-cuap lagi dalam cerita tulisan hanya untuk sekedar mengisi
blogku yang sudah lama memintaku untuk mengisinya. Perjalanan yang panjang
setelah sebulan berkutat di tempat kerja yang memekakkan kepalaku. Mungkin juga
menjadi liburan dan sejenak menjauh dari kepadatan kota surabaya yang bising.
Malang menjemput dalam sejuk dengan kota yang damai
Sebenarnya
perjalananku ke Malang kali ini adalah yang kedua, setelah beberapa waktu yang
lalu aku ikut dengan iparku namun perjalanan saat itu benar-benar tidak
mengesankan karena aku berangkat dengan mobilnya kemudian sesampai di Malang,
kami hanya berdiam diri di rumah dan hanya sekali keluar. Namun kali ini benar-benar
menjadi pengalaman yang berarti. Banyak alasan yang kemudian menjadikan
pengalamanku ini sangat mengesankan, dan kali pertama aku keluar dari kota
surabaya setelah sebulan larut dalam pekerjaan, aku juga berangkat menumpang
bis antar kota tepat pukul 23.00 bersama seorang kawan E. Awalnya
saat keluar dari rumah, aku hanya pamit
untuk pergi kerja, namun karena aku harus loading di tempat kerja sampai pukul
22.00, maka kuputuskan untuk mengirimi sms sepupuku bahwa aku tidak sempat
pulang dan kemungkinan nginap di kantor atau numpang d kosnya si cepy.
Saat selesai loading dan tiba di jalan raya kedondong, temanku mengajakku untuk liburan ke Malang berhubung besoknya kami libur bersama selama 4 hari bertepatan dengan perayaan hari Natal. Aku kemudian berpikir beberapa menit untuk mengiyakan ajakannya. Setelah agak lama berpikir, aku memutuskan untuk ikut dan mengirimi ulang sms sepupuku bahwa aku akan ke Malang sekitar empat hari, jawabannya hanya yah. Aku berangkat dengan temanku berboncengan dengan motor suzukinya menuju ke terminal Bungurasih, kami menitipkan motor di terminal bungurasih dan menumpang bis ke Malang mengingat bahwa mengendarai motor ke Malang di tengah malam apatahlagi saat long weekend seperti ini sangat berbahaya. Kami menumpang bis terakhir yang menuju ke Malang. Saat di atas bis, sang kernet mengatakan bahwa ini adalah bis terakhir yang berangkat ke Malang dan bis selanjutnya baru akan bernagkat jam 03.00 dinihari, sebuah keberuntungan bagi kami malam itu.
Saat selesai loading dan tiba di jalan raya kedondong, temanku mengajakku untuk liburan ke Malang berhubung besoknya kami libur bersama selama 4 hari bertepatan dengan perayaan hari Natal. Aku kemudian berpikir beberapa menit untuk mengiyakan ajakannya. Setelah agak lama berpikir, aku memutuskan untuk ikut dan mengirimi ulang sms sepupuku bahwa aku akan ke Malang sekitar empat hari, jawabannya hanya yah. Aku berangkat dengan temanku berboncengan dengan motor suzukinya menuju ke terminal Bungurasih, kami menitipkan motor di terminal bungurasih dan menumpang bis ke Malang mengingat bahwa mengendarai motor ke Malang di tengah malam apatahlagi saat long weekend seperti ini sangat berbahaya. Kami menumpang bis terakhir yang menuju ke Malang. Saat di atas bis, sang kernet mengatakan bahwa ini adalah bis terakhir yang berangkat ke Malang dan bis selanjutnya baru akan bernagkat jam 03.00 dinihari, sebuah keberuntungan bagi kami malam itu.
Di dalam
bis, sudah penuh sesak dengan para penumpang, ada yang mendapat tempat duduk
dan banyak pula yang hanya berdiri di sepanjang lorong bis. Sebagian penumpang
yang mendapat tempat duduk sudah terlelap dalam mimpi namun yang berdiri hanya
bisa menguap dan sekali memejam mata kemudian tersadar saat sang sopir bis
mengerem tiba-tiba. Kupandangi setiap wajah penumpang saat itu. Sebuah kenikmatan
tersendiri bagiku saat berada di tengah orang banyak dengan memandang wajah
mereka satu persatu. Tergores setiap cerita dari setiap wajah yang kupandangi. Tempat
ku yang berada di lorong paling belakang sambil berdiri memudahkanku menatap
setiap penumpang dalam bis. Wajah-wajah penat tersembur di wajah mereka,
goresan kisah siang tadi tergambar jelas di diri mereka meski tak kutahu pasti
cerita mereka dan hanya berusaha mereka-reka dari guratan lelah wajah mereka. Saat
tiba di bilangan daerah pandaan, bis berhenti menampung penumpang lain,
tiga penumpang lalu naik dan dua diantaranya adalah bocah yang kira-kira berumur 7
tahun dan seorang perempuan tua yang sudah mulai renta. Saat nenek itu naik
bis, kupikir bahwa akan ada seorang yang dengan tulus memberikan tempat duduk
kepadanya, namun saat bis kemudian bergerak membelah malam yang gelap menuju
malang, tak satupun orang yang duduk
bergeming akan kehadiran nenek itu, mereka tetap terlelap dalam buaian
mimpi mereka. Nenek itu tak memperlihatkan wajah memelas untuk meminta tempat
duduk, dia tetap berdiri dengan tenang sambil sesekali memejam matanya yang
mulai sayu. Tergenggam karung kecil di tangannya.
Sekitar
pukul 01.00, kami tiba di Malang. Aku tak tahu pasti apa nama terminal di
malang. Kami sampai di rumah dan langsung istirahat dalam letih.
Besoknya,
kami hanya tinggal di rumah karena di Malang sedang hujan deras, perjalanan
semalam membuat kami tak punya kekuatan untuk keluar melihat kota malang saat
itu. Kami asyik bercengkerama di dalam kamar, bermain dengan pikiran sambil
sesekali bercanda dalam damai. E tinggal dengan kedua orang tuanya dan seorang
adiknya serta keponakannya. Adiknya masih kuliah di UB sedangkan
keponakannya tinggal di rumahnya karena kakak E yang merupakan orang tua
keponakannya kerja di Balikpapan beserta isterinya.
Hari
kemudian, tepat perayaan Natal, kami mengelilingi kota Malang, tujuan kami yang
pertama adalah kampus Universitas Brawijaya. Saat masuk ke kampus tersebut,
kepingan cerita lalu saat aku masih kuliah di UH perlahan-lahan kembali
menghangat di dalam pikiranku, sesaat kemudian temanku berujar, kamu kok aneh, masa
liburan ke kampus. Namun entahlah, aku suka melihat kampus-kampus, setelah puas
berkeliling di kampus UniBraw, kami menuju ke kampus UMM. Kampus ini lumayan
sangat eksotik, konstruksi bangunannya membuatku terkesan. Aku bahkan beberapa
kali meminta untuk di foto di beberapa sudut kampus ini. Ada hal yang kemudian
mengusikku setelah di UMM, temanku bercerita bahwa meskipun kampus ini adalah
kampus Muhammadiyah namun Mahasiswinya tidak diwajibkan memakai jilbab saat
masuk kuliah alhasil banyak dari mereka yang berpenampilan sangat modis ketika
masuk kampus. Namun aku tak punya banyak komentar tentang itu mengingat aku
hanya sekilas melihat kampus ini.
Kami
kemudian melanjutkan perjalan ke kabupaten batu, geografi kota ini
hampir mirip dengan Malino di Sulawesi Selatan. Di sepanjang jalan mendaki ke
daerah wisata, banyak ditemui kedai-kedai yang menjual sate kelinci namun itu
tidaklah terlalu menarik perhatianku bahkan yang aku perhatikan adalah kedai
yang kemudian menjual bebas minuman keras, entah karena aku tidak terbiasa atau
mungkin saja karena di sulawesi selatan, menjual miras itu masih sangat tabu
dilakukan secara terang-terangan maka aku bertanya kepadanya, dia berkata bahwa
memang tidak ada larangan di sini menjual minuman keras kecuali saat bulan
ramadan. Sesaat terlintas di pikiranku bahwa aku bersyukur tumbuh dan besar di
sulawesi selatan yang masih lebih ketat terhadap sesuatu yang jelas sudah
diharamkan meskipun kutahu bahwa banyak yang menjual miras namun mereka masih
melakukannya dengan diam-diam.
Sepulang
dari kabupaten batu sekitar pukul 16.00, kami singgah di stadion gajayana. Stadion
ini terletak di tengah kota malang dan berlokasi yang sama dengan salah satu
mall sehingga selalu ramai pengunjung. Aku tak menyia-nyiakan waktu untuk
mengabadikan stadion ini. Aku berfoto di depannya namun saat akan masuk ke
dalam ternyata stadion ini dikunci. Kami pulang kerumah saat senja mulai
menampakkan dirinya. Sebenarnya kami masih punya beberapa rencana untuk
mengelilingi kota Malang namun waktu jua yang kemudian membuat kami harus
menunda sampai besok. Musim hujan yang sedang menghampiri kota malang membuat kami
tidak keluar saat malam hari. Rencana kami besok hari adalah ke Blitar
mengunjungi museum bung Karno, semakin bergairah hatiku ingin melihat museum
yang selama ini hanya bisa kubaca di buku-buku sejarah dan tayangan televisi.
Esok
hari, kami berangkat dengan doa, kami membelah kota Malang selatan menuju
Blitar, kami singgah di stadion kanjuruhan sebelum ke Blitar, namun keinginan
ke Blitar melihat museum Bung Karno harus kutunda lagi, saat akan sampai di
stadion Kanjuruhan, hujan deras menghadang perjalanan kami, akhirnya harus
singgah di salah satu tempat laundry untuk menunggu reda hujan. Sekitar sejam
lamanya, hujan perlahan-lahan reda dan kami melanjutkan perjalan ke stadion
kanjuruhan. Kami pun meyempatkan shlat dzuhur di Mushalah stadion. Saat kelar
shalat, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Blitar mengingat
perjalanan sekitar dua jam lagi sedangkan museum Bung Karno ditutup pukul 15.00
dan jarum jam di hpku sudah menunjukkan pukul 13.00. kami hanya mengunjungi
bendungan yang terdekat dan balik arah menuju ke rumah saat akan pulang, temanku getting cold sehingga dia memintaku untuk memboncengnya. Sampailah kami di
rumah. Tak ada tulisan tentang museum yang bisa aku buat padahal kemarin aku
sudah berniat untuk membuat tulisan khusus tentang Bung Karno dan apa saja
nantinya yang akan kulihat di museum bung karno. Mungkin belum waktunya. Malang dalam
kisahku kali ini.
malam hari, ternyata sakit flu yang diderita temanku semakin parah, dia menggigil dan meriang sehingga harus makan obat penurun panas. temanku tidur di kamar sebelah karena katanya adem namun itu juga membuat aku tak punya teman bercerita sehingga aku menulis apa saja yang ingin kutulis saat itu. tentang setiap serpihan kisah yang kulalui di malang. paginya, ternyata temanku belum sembuh sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke museum Bung Karno yang sempat tertunda hari kemarin karena hujan deras. aku hanya menemaninya seharian di rumah, mengajaknya bercerita sambil dirinya menggigil kedinginan karena demam yang dideritanya. sore harinya, tepat pukul 14.30, adiknya mengajakku bermain futsal bersama teman kampusnya. kuiyakan ajakannya karena aku juga sudah sangat lama tidak bermain futsal, olahraga yang menjadi favoritku. kami berangkat berbocengan dengan motor mio ke sebuah lapangan futsal di pinggir kota Malang, aku sama sekali tak tahu tempatnya. kami bermain futsal selama 2 jam 30 menit. mengingat aku sudah terlalu lama tidak bermain futsal, alhasil baru 5 menit bermain, semua badanku seakan remuk dan tulang-tulang seakan copot satu persatu. namun aku tetap melanjutkan bermain. disamping lapangan yang kami tempati bermain, ada juga sekelompok orang yang berasal dari papua bermain futsal. tepat pukul 17.00, kami selesai bermain futsal dan langsung pulang ke rumah.
malam hari, demam temanku semakin meninggi, bahkan katanya dia pusing saat berjalan, kutemani dia dan bapaknya ke dokter praktek yang dekat dari komplek tempat tinggalnya. sesaat setelah diperiksa, dokter mengdiagnosa bahwa temanku menderita radang tenggorokan yang parah sehingga menyebabkan demam yang tinggi. ini juga disebabkan karena dia mengalami kelelahan karena setiap hari harus bolak-balik dari malang ke surabaya untuk kerja. dokter memberikannya resep dan kami pulang ke rumah dengan mobil putih kepunyaan bapaknya. sampai di rumah, sejenak kami makan terang bulan yang dibeli oleh bapaknya disamping tempat kediaman dokter praktek yang tadi, kemudian dia istirahat dan aku pun shalat isya di musala rumahnya kemudian masuk kamar menulis kisah ini ditemani secangkir white koffea yang hangat.
Inilah ceritaku di malang selama empat hari dan sekaligus merupakan perpisahanku dengannya karena dia sudah memutuskan resign dari tempat kami bekerja sebab dia diterima di salah satu perusahaan di palangkaraya dan rencananya sebelum tanggal 15 januari 2013, dia akan berangkat ke sana. dalam hening malam ini ditemani alunan tembang Pas Band sambil mengabadikan kisahku di malang dan esok aku harus kembali ke surabaya untuk kembali larut dalam pekerjaanku. malang dengan potongan kisahku saat ini.
Malang, 26 Desember 2012.
23.03