December 13, 2012

Rasa Itu

Kuingat dengan jelas kita bertemu pertama kali saat di warung makan ibu Sar di samping kantor, saat itu mulutmu larut dalam lezatnya makanan-makanan yang kau masukkan lalu kau kunyah, tak sedikitpun kau bergeming atas kehadiranku disampingmu, sekali-kali engkau membalas sms yang masuk di hpmu yang berwarna pink, namun karena kau tidak memperhatikan kehadiranku maka aku kemudian memandangmu berkali-kali sepuasku. Entah kenapa aku sangat berkesan terhadapmu saat pertama kali aku memandangmu, perawakanmu yang mungil, matamu yang indah dengan alismu yang lentik dan jari-jemarimu yang sangat lembut. Itulah kali pertama aku melihatmu di kota pahlawan ini.

Kuyakin saat itu kau tak menyadari keberadaanku, kuyakin pula kau tak menghiraukanku , namun peduli apa aku, yang terpenting bagiku adalah aku bisa memandangmu saat itu sepuasku, engkau nampaknya sangat akrab dengan ibu Sar pemilik warung itu karena sekali-kali kau bercanda setelah menghabiskan makananmu. Kemudian kau menikmati secangkir es teh. Engkau kemudian beranjak meninggalkan warung itu dan tak sekalipun bergeming atas kehadiranku yang juga sedang makan di sampingmu, mungkin saja aku terlalu berharap. Setelah engkau beranjak pergi, kutanya beberapa pertanyaan tentang dirimu kepada ibu sar, ternyata engkau bekerja di kantor LSM yang sama denganku namun kau sudah setahun lebih bekerja di kantor ini sedangkan aku baru sebulan bekerja di kantor ini setelah pindah dari kota Daeng. Itulah kali pertama aku melihatmu, saat semua terasa sangat berkesan, aku pun bermaksud untuk berkenalan denganmu suatu saat nanti, wanita berwajah manis dengan senyum yang selalu merekah, sikap riang terhadap semua bahkan terhadap orang yang baru kau kenal sekalipun.

Malam ini adalah malam yang terasa menyiksa bagiku, malam yang terasa sangat panjang, tadi pagi kudengar kabar darimu, kabar yang sangat menyesakkan bagiku namun pastinya sangat menyenangkan bagimu, kabar yang seakan meremukkan semua sendi tulang-tulangku, bahkan kabar yang mungkin saja lebih dahsyat dari petir yang menyambar. Malam ini adalah malam diamana keluargamu akan menerima pinangan dari keluarga seorang lelaki berkedudukan tinggi, kuyakin malam ini engkau sedang dirias bagai bidadari dan yang pastinya kau sedang mengurung diri dalam kamarmu sambil merangkai asa masa depan keluarga bahagia yang sebentar lagi akan engkau lalui. 

Malam ini kedua keluarga kalian akan menentukan jadwal pernikahanmu. Mungkin saja momen ini telah engkau tunggu selama ini bahkan mungkin saja tidak terlintas sedikitpun rasa dalam hatimu untuk memikirkan perasaanku saat ini, perasaan yang telah kau  cabik-cabik dengan kebahagianmu dengan pria lain, pria yang lebih mapan dariku namun peduli apa aku dengan semua itu, yang kutahu engkau telah menghancurkan asa yang telah kurangkai untuk memilikimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau remukan asa itu kedalam jurang hingga aku tak bisa lagi memungutnya kembali. Bagiku malam ini adalah malam penyiksaan batin yang teramat sangat, malam yang menjemukan hingga aku harus takluk dalam dinginnya malam ini kemudian berusaha berdamai dengan diri meskipun kutahu itu amat sangat slit.



Setelah pertemuan kita di warung bu Sar, aku baru tahu bahwa kita berbeda divisi di kantor yang sama. Ruangan tempatmu bekerja berada di sudut namun untungnya ketika harus ke toilet, ruanganmu akan dilewati sehingga inilah yang menjadi kebiasaanku setelah tahu akan hal itu, meskipun aku tidak sedang punya hajat ke toilet, aku tetap ke sana hanya sekekdar cuci muka dan yang terpenting melewati ruanganmu kemudian melirikmu saat engkau sedang asyik bekerja. Pertama kali aku tahu namamu dari papan nama yang ada diatas meja kerjamu, “Sriwulaninda”, itulah namamu, nama yang sebenarnya tak pernah kuperhatikan namun kau  membuatku harus mengingat nama itu terus menerus. 

Entah mengapa setiap mengingat nama itu, dadaku terasa berdegup kencang. Bayanganmu menari-nari di pikiranku, ketika aku berangkat kerja, yang pertama kali kupikirkan bahwa hari ini aku akan melihat wajahmu lagi, menikmati senyummu yag selalu mengembang dengan gigi-gigimu yang tersusun rapi dan sangat putih berseri. Engkau wanita yang tidak terlalu peduli denagn penampilanmu, terlihat dari caramu berpakaian, rambut diikat rapi kebelang kemudian stelan baju dan celana panjang yang menjadi favoritmu, disaat wanita-wanita sekarang memilih meggunakan rok  mini yang super duper pendek bahakan hampir memperlihatkan sesuatu yang harusnya dtutupi namun engaku sendiri memilih untuk memakai celana panjang yang sering dianggap ketinggalan zaman oleh mereka. Namun penampilanmu yang sederhana semmakin membuatku terpesona dan terpikat terhadapmu. Tak ada guratan sikap angkuh diwajahmu seperti yang lain. Engkau ramah terhadap semua orang tanpa memandang orang itu siapa dan apa jabatannya.

Sepulang kerja kemarin sore, kudapati undangan berwarna ungu, tertera disitu nama Sriwulaninda. Aku terperangah, lemas tak berdaya dan kemudian menjatuhkan diriku dikursi ruang tamu, ternyata sebulan yang lalu saat malam itu engkau dilamar, kalian menetapkan resepsi pernikahan pada minggu pertama bulan desember akhir tahun ini, namun seandainya engkau tahu, semenjak engkau dilamar, aku selalu berdoa didalam setiap sujud-sujudku agar lamaran itu batal, namun Tuhan berkehendak lain, doa yang mencelakakan takkan dikabulkan, perih rasanya ingin membaca undangan itu, harusnya nama laki-laki yang tertera di situ adalah namaku. Kulihat di sampul undanganmu ada foto kalian berdua, kucoba menahan air mataku untuk membaca undanganmu karena aku seorang laki-laki namun tak kuasa aku menahannya, air mataku menetes tepat diatas fotomu. Tega nian engkau mengirimi aku undangan pernikahanmu atau mungkin saja kau segaja ingin melukai hatiku disaat engkau tahu bahwa aku sangat mengharapkanmu sebagai pendamping hidupku. Pantas saja engkau resign dari kantor kita sebulan yang lalu, ketika kutanya alasanmu engkau selalu mengelak dan undangan inilah yang menjadi jawaban atas semua kepura-puraanmu selama ini. Dibalik wajahmu yang teduh menyimpan luka yang engkau alamatkan kepadaku. Durjana nian perbuatanmu terhadapku. Engkau merangkai kebahagiaanmu dari kepingan-kepingan hatiku yag hancur luluh atas semua sikap palsumu selama ini.

Sejak aku sering mondar-mandir ke toilet hanya untuk melihatmu, akhirnya takdir lah yang kemudian mempertemukan kita. saat itu  kantor mengadakan berbagai kunjungan kerja ke luar kota, divisiku dan divisimu ditugaskan untuk menghandle kegiatan tersebut, sebenarnya kita bertiga hanya karyawan yang satu yang menjadi perwakilan kantor sedang cuti nikah, alhasil kita berdua saja yang mengikuti kunjungan kerja tersebut. Sejak kita pertama kali berkenalan ketika akan berangkat keluar kota, engkau memintaku untuk memanggil namamu saja tanpa harus memanggil ibu. Komunikasi kita semakin intens bahkan terkadang aku dan kau sudah sering bercerita tentang pribadi masing-masing. Makan siang selalu kita lalui bersama di kota tujuan kerja kita. Perhatianmu sejak kunjungan kerja semakin membuatku mengagumimu, bahkan ketika kusakit di kota tempat kita ditugaskan, engkaulah yang merawat dan memperhatikanku, hingga tiba waktunya kita menyelesaikan tugas kunjungan kerja di kota sebuah pulau di timur negeri ini. Saat kembali ke kota pahlawan menjalani rutinitas kita di 

kantor ini, hubungan kita semakin erat bahkan semua karyawan mengira engau telah menjadi milikku. Suatu hari di akhir pekan, saat kuajak engkau menikmati indahnya kota pahlwan dengan berkeliling berboncengan naik motorku yang butut, kita singgah di taman bungkul duduk beralaskan tikar hasil pinjaman dari penjual batagor, kita menikmati es dawet dan batagor, disaat momen itulah, aku menyatakan semua perasaanku terhadapmu, perasaan yang sudah sejak lama kupendam sejak kita pertama kali bertemu namun engkau tidak menjawab dengan pasti, hanya senyum yang tersungging dari bibirmu yang membuatku tidak kuasa untk memaksamu menjawab pertanyaanku. Setelah momen itu berlalu, semua kembali seakan normal, pekerjaan kita yang terkadang lembur bersama membuat aku dan kau sering pulang berboncengan dengan motorku yang butut.
Malam ini dalam dinginnya hotel prodeo yang hanya beralaskan tikar tanpa bantal, angin malam bertiup begitu kencang dan aku menggigil bukan karena kedinginan, aku mengingat masa-masa kita berdua dahulu, namun sekarang aku sedang dalam penantian, menunggu eksekusi mati yang tinggal seminggu lagi. Aku tak pernah menyesal akan hal itu. Hukuman gantung yang akan kujalani minggu depan akan mengantarkanku menuju alammu dan kita akan bersama-sama lagi. Vonis yang harus kuterima saat membunuhmu di malam pengantinmu. Malam itu, saat malam pengantinmu, semua orang mempersiapkan hari bahagiamu yang akan digelar esok hari, aku mendatangimu dan berpura-pura ikut merasakan kebahagianmu, engkau kuajak ke taman di depan rumahmu, karena engkau yakin akan sikapku yang seakan ikut bahagia atas pernikahanmu, engkau mengikuti ajakanku. Sebelum kutikam dirimu, kita berdua asyik bercerita tentang masa-masa kita berdua dahulu. Kenangan masa lalu yang kemudian menyeruak kembali kedalam sanubariku membuat hatiku hancur luluh saat kusadari malam ini adalah malam pengantinmu hal tersebut menimbulkan kebencian terhadap cintamu, mungkin saja aku yang salah karena kita tak pernah berikrar menjadi sepasang kekasih namun perhatianmu yang lebih memberiku harapan yang tinggi akan dirimu. 

Kutancapkan pisau malam itu diperutmu tiga kali, bukan karena sebuah kebencian namun lebih karena cintaku yang amat sanagt terhadapmu sehingga aku tidak rela engkau dimiliki oleh siapapun kecuali aku. Engkau langsung roboh bersimbah darah, segera kuserahkan diriku ke polisi malam itu juga. Berbagai umpatan dan caci maki dari orang terdekatmu tak pernah kuperdulikan. Yang kurasakan adalah rasa kemenangan setelah membunuhmu, tak ada seorangpun yang berhasil memilikimu dan kemudian aku akan menysulmu dengan vonis hukuman mati. Aku divonis hukuman gantung setelah menjalani sidang sebulan yang lalu dengan tuduhan pembunuhan berencana dan memang begitulah adanya bahwa aku merencanakan membunuhmu dengan cintaku setelah kutahu engkau akan dimiliki oleh orang lain. Tak pernah terbertik sedikitpun dalam hatiku untuk banding atas vonisku karena memang itulah yang aku harapkan. Namun apa perduli aku dengan semua itu, yang kutahu bahwa sebentar lagi aku akan menyusulmu ke alam yang sekarang engkau diami, kubermimpi semoga yang terlewati disini akan terlupa dialam sana sehingga kita bisa memulai kembali merangkai masa-masa indah berdua tanpa seorang pun yang menghalangi.

Kertajaya-jln raya kedondong, 7 – 12 Desember 2012 

No comments: