Kuingat dengan jelas kita
bertemu pertama kali saat di warung makan ibu Sar di samping kantor, saat itu
mulutmu larut dalam lezatnya makanan-makanan yang kau masukkan lalu kau kunyah,
tak sedikitpun kau bergeming atas kehadiranku disampingmu, sekali-kali engkau
membalas sms yang masuk di hpmu yang berwarna pink, namun karena kau tidak
memperhatikan kehadiranku maka aku kemudian memandangmu berkali-kali sepuasku.
Entah kenapa aku sangat berkesan terhadapmu saat pertama kali aku memandangmu,
perawakanmu yang mungil, matamu yang indah dengan alismu yang lentik dan
jari-jemarimu yang sangat lembut. Itulah kali pertama aku melihatmu di kota
pahlawan ini.
Kuyakin saat itu kau tak menyadari keberadaanku, kuyakin pula kau
tak menghiraukanku , namun peduli apa aku, yang terpenting bagiku adalah aku
bisa memandangmu saat itu sepuasku, engkau nampaknya sangat akrab dengan ibu
Sar pemilik warung itu karena sekali-kali kau bercanda setelah menghabiskan
makananmu. Kemudian kau menikmati secangkir es teh. Engkau kemudian beranjak
meninggalkan warung itu dan tak sekalipun bergeming atas kehadiranku yang juga
sedang makan di sampingmu, mungkin saja aku terlalu berharap. Setelah engkau
beranjak pergi, kutanya beberapa pertanyaan tentang dirimu kepada ibu sar,
ternyata engkau bekerja di kantor LSM yang sama denganku namun kau sudah
setahun lebih bekerja di kantor ini sedangkan aku baru sebulan bekerja di
kantor ini setelah pindah dari kota Daeng. Itulah kali pertama aku melihatmu,
saat semua terasa sangat berkesan, aku pun bermaksud untuk berkenalan denganmu
suatu saat nanti, wanita berwajah manis dengan senyum yang selalu merekah,
sikap riang terhadap semua bahkan terhadap orang yang baru kau kenal sekalipun.
Malam ini adalah malam yang
terasa menyiksa bagiku, malam yang terasa sangat panjang, tadi pagi kudengar
kabar darimu, kabar yang sangat menyesakkan bagiku namun pastinya sangat
menyenangkan bagimu, kabar yang seakan meremukkan semua sendi tulang-tulangku,
bahkan kabar yang mungkin saja lebih dahsyat dari petir yang menyambar. Malam
ini adalah malam diamana keluargamu akan menerima pinangan dari keluarga
seorang lelaki berkedudukan tinggi, kuyakin malam ini engkau sedang dirias
bagai bidadari dan yang pastinya kau sedang mengurung diri dalam kamarmu sambil
merangkai asa masa depan keluarga bahagia yang sebentar lagi akan engkau lalui.
Malam ini kedua keluarga kalian akan menentukan jadwal pernikahanmu. Mungkin
saja momen ini telah engkau tunggu selama ini bahkan mungkin saja tidak
terlintas sedikitpun rasa dalam hatimu untuk memikirkan perasaanku saat ini,
perasaan yang telah kau cabik-cabik
dengan kebahagianmu dengan pria lain, pria yang lebih mapan dariku namun peduli
apa aku dengan semua itu, yang kutahu engkau telah menghancurkan asa yang telah
kurangkai untuk memilikimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau remukan asa itu
kedalam jurang hingga aku tak bisa lagi memungutnya kembali. Bagiku malam ini
adalah malam penyiksaan batin yang teramat sangat, malam yang menjemukan hingga
aku harus takluk dalam dinginnya malam ini kemudian berusaha berdamai dengan diri
meskipun kutahu itu amat sangat slit.
Setelah pertemuan kita di
warung bu Sar, aku baru tahu bahwa kita berbeda divisi di kantor yang sama.
Ruangan tempatmu bekerja berada di sudut namun untungnya ketika harus ke toilet,
ruanganmu akan dilewati sehingga inilah yang menjadi kebiasaanku setelah tahu akan
hal itu, meskipun aku tidak sedang punya hajat ke toilet, aku tetap ke sana
hanya sekekdar cuci muka dan yang terpenting melewati ruanganmu kemudian
melirikmu saat engkau sedang asyik bekerja. Pertama kali aku tahu namamu dari
papan nama yang ada diatas meja kerjamu, “Sriwulaninda”, itulah namamu, nama
yang sebenarnya tak pernah kuperhatikan namun kau membuatku harus mengingat nama itu terus
menerus.
Entah mengapa setiap mengingat nama itu, dadaku terasa berdegup
kencang. Bayanganmu menari-nari di pikiranku, ketika aku berangkat kerja, yang
pertama kali kupikirkan bahwa hari ini aku akan melihat wajahmu lagi, menikmati
senyummu yag selalu mengembang dengan gigi-gigimu yang tersusun rapi dan sangat
putih berseri. Engkau wanita yang tidak terlalu peduli denagn penampilanmu,
terlihat dari caramu berpakaian, rambut diikat rapi kebelang kemudian stelan
baju dan celana panjang yang menjadi favoritmu, disaat wanita-wanita sekarang
memilih meggunakan rok mini yang super
duper pendek bahakan hampir memperlihatkan sesuatu yang harusnya dtutupi namun
engaku sendiri memilih untuk memakai celana panjang yang sering dianggap
ketinggalan zaman oleh mereka. Namun penampilanmu yang sederhana semmakin
membuatku terpesona dan terpikat terhadapmu. Tak ada guratan sikap angkuh diwajahmu
seperti yang lain. Engkau ramah terhadap semua orang tanpa memandang orang itu
siapa dan apa jabatannya.
Sepulang kerja kemarin
sore, kudapati undangan berwarna ungu, tertera disitu nama Sriwulaninda. Aku
terperangah, lemas tak berdaya dan kemudian menjatuhkan diriku dikursi ruang
tamu, ternyata sebulan yang lalu saat malam itu engkau dilamar, kalian
menetapkan resepsi pernikahan pada minggu pertama bulan desember akhir tahun
ini, namun seandainya engkau tahu, semenjak engkau dilamar, aku selalu berdoa
didalam setiap sujud-sujudku agar lamaran itu batal, namun Tuhan berkehendak
lain, doa yang mencelakakan takkan dikabulkan, perih rasanya ingin membaca
undangan itu, harusnya nama laki-laki yang tertera di situ adalah namaku.
Kulihat di sampul undanganmu ada foto kalian berdua, kucoba menahan air mataku
untuk membaca undanganmu karena aku seorang laki-laki namun tak kuasa aku
menahannya, air mataku menetes tepat diatas fotomu. Tega nian engkau mengirimi
aku undangan pernikahanmu atau mungkin saja kau segaja ingin melukai hatiku disaat
engkau tahu bahwa aku sangat mengharapkanmu sebagai pendamping hidupku. Pantas
saja engkau resign dari kantor kita sebulan yang lalu, ketika kutanya alasanmu
engkau selalu mengelak dan undangan inilah yang menjadi jawaban atas semua
kepura-puraanmu selama ini. Dibalik wajahmu yang teduh menyimpan luka yang engkau
alamatkan kepadaku. Durjana nian perbuatanmu terhadapku. Engkau merangkai
kebahagiaanmu dari kepingan-kepingan hatiku yag hancur luluh atas semua sikap
palsumu selama ini.
Sejak aku sering
mondar-mandir ke toilet hanya untuk melihatmu, akhirnya takdir lah yang
kemudian mempertemukan kita. saat itu kantor mengadakan berbagai kunjungan kerja ke
luar kota, divisiku dan divisimu ditugaskan untuk menghandle kegiatan tersebut,
sebenarnya kita bertiga hanya karyawan yang satu yang menjadi perwakilan kantor
sedang cuti nikah, alhasil kita berdua saja yang mengikuti kunjungan kerja tersebut.
Sejak kita pertama kali berkenalan ketika akan berangkat keluar kota, engkau
memintaku untuk memanggil namamu saja tanpa harus memanggil ibu. Komunikasi
kita semakin intens bahkan terkadang aku dan kau sudah sering bercerita tentang
pribadi masing-masing. Makan siang selalu kita lalui bersama di kota tujuan
kerja kita. Perhatianmu sejak kunjungan kerja semakin membuatku mengagumimu,
bahkan ketika kusakit di kota tempat kita ditugaskan, engkaulah yang merawat
dan memperhatikanku, hingga tiba waktunya kita menyelesaikan tugas kunjungan
kerja di kota sebuah pulau di timur negeri ini. Saat kembali ke kota pahlawan
menjalani rutinitas kita di
kantor ini, hubungan kita semakin erat bahkan semua
karyawan mengira engau telah menjadi milikku. Suatu hari di akhir pekan, saat kuajak
engkau menikmati indahnya kota pahlwan dengan berkeliling berboncengan naik
motorku yang butut, kita singgah di taman bungkul duduk beralaskan tikar hasil
pinjaman dari penjual batagor, kita menikmati es dawet dan batagor, disaat
momen itulah, aku menyatakan semua perasaanku terhadapmu, perasaan yang sudah
sejak lama kupendam sejak kita pertama kali bertemu namun engkau tidak menjawab
dengan pasti, hanya senyum yang tersungging dari bibirmu yang membuatku tidak
kuasa untk memaksamu menjawab pertanyaanku. Setelah momen itu berlalu, semua
kembali seakan normal, pekerjaan kita yang terkadang lembur bersama membuat aku
dan kau sering pulang berboncengan dengan motorku yang butut.
Malam ini dalam dinginnya
hotel prodeo yang hanya beralaskan tikar tanpa bantal, angin malam bertiup
begitu kencang dan aku menggigil bukan karena kedinginan, aku mengingat
masa-masa kita berdua dahulu, namun sekarang aku sedang dalam penantian,
menunggu eksekusi mati yang tinggal seminggu lagi. Aku tak pernah menyesal akan
hal itu. Hukuman gantung yang akan kujalani minggu depan akan mengantarkanku
menuju alammu dan kita akan bersama-sama lagi. Vonis yang harus kuterima saat
membunuhmu di malam pengantinmu. Malam itu, saat malam pengantinmu, semua orang
mempersiapkan hari bahagiamu yang akan digelar esok hari, aku mendatangimu dan berpura-pura
ikut merasakan kebahagianmu, engkau kuajak ke taman di depan rumahmu, karena
engkau yakin akan sikapku yang seakan ikut bahagia atas pernikahanmu, engkau
mengikuti ajakanku. Sebelum kutikam dirimu, kita berdua asyik bercerita tentang
masa-masa kita berdua dahulu. Kenangan masa lalu yang kemudian menyeruak
kembali kedalam sanubariku membuat hatiku hancur luluh saat kusadari malam ini
adalah malam pengantinmu hal tersebut menimbulkan kebencian terhadap cintamu,
mungkin saja aku yang salah karena kita tak pernah berikrar menjadi sepasang
kekasih namun perhatianmu yang lebih memberiku harapan yang tinggi akan dirimu.
Kutancapkan pisau malam itu diperutmu tiga kali, bukan karena sebuah kebencian
namun lebih karena cintaku yang amat sanagt terhadapmu sehingga aku tidak rela
engkau dimiliki oleh siapapun kecuali aku. Engkau langsung roboh bersimbah
darah, segera kuserahkan diriku ke polisi malam itu juga. Berbagai umpatan dan
caci maki dari orang terdekatmu tak pernah kuperdulikan. Yang kurasakan adalah
rasa kemenangan setelah membunuhmu, tak ada seorangpun yang berhasil memilikimu
dan kemudian aku akan menysulmu dengan vonis hukuman mati. Aku divonis hukuman
gantung setelah menjalani sidang sebulan yang lalu dengan tuduhan pembunuhan
berencana dan memang begitulah adanya bahwa aku merencanakan membunuhmu dengan
cintaku setelah kutahu engkau akan dimiliki oleh orang lain. Tak pernah
terbertik sedikitpun dalam hatiku untuk banding atas vonisku karena memang
itulah yang aku harapkan. Namun apa perduli aku dengan semua itu, yang kutahu
bahwa sebentar lagi aku akan menyusulmu ke alam yang sekarang engkau diami,
kubermimpi semoga yang terlewati disini akan terlupa dialam sana sehingga kita
bisa memulai kembali merangkai masa-masa indah berdua tanpa seorang pun yang
menghalangi.
Kertajaya-jln raya kedondong, 7 – 12 Desember 2012
No comments:
Post a Comment