Senja yang menua, semua memudar kecuali suara hingar bingar kendaraan yang liar di sepanjang jalan yang rela dengan sabarnya menjadi penuntut setiap pejalan tanpa sedikitpun mengeluh menahan beban dari setiap bebal yang tak berperasaan
Kemana harus kurebahkan raga yang semakin penat mengejar mimpi yang tak ada habisnya. ada mereka yang menghabiskan waktunya seperti diriku dan ada mereka yang membagi waktunya dengan jeda dan membuat raga mereka tidak terlalu lelah.
Aku mengeja waktu yang berlalu, aku berpelukan dengan sepi yang selalu saja hadir disaat ramai bahkan hiruk pikuk mereka yang menertawakan dunianya tidak membuatku melirik sedikitpun. Entah dimana ramai itu dan entah sepi kapan beranjak. peluh melumuri seluruh tubuh layaknya sungai yang mengalir dari gunung
Aku membeku. hasrat hidup ingin menepi dan bermimpi menggenggam asa namun tidaklah pantas untuk melepas semua dengan mengejar yang tak pasti.
Dua orang bercengkerama. bercerita tentang keluarga mereka yang menahan lapar. tidak ada beras untuk hari ini dan besok pun masih menjadi misteri. aku gemetar, membayangkan mereka yang meradang karena rakusnya para begal kehidupan. Menganggap mereka adalah hidup yang tak berguna.
Aku menunggu kekasihku di ujung senja ini. waktu bukan lagi soal jarum jam yang berputar karena semua musnah dengan harapan untuk memeluk dalam rindu yang memuncak. perasaan meredakan sakit yang ditanggung raga.
Seorang gadis menatap langit temaram. dari sudut mata meleleh butiran air dan tak henti mengusap dengan sapu tangan lusuh di genggamannya.
Sepi adalah keramaian dalam arti lain karena hanya berupa perasaan yang pada diri setiap orang dirasakan dengan cara yang berbeda. kata-kata hanyalah kamuflase dari ketidaksanggungan membumikan pikiran-pikiran yang sudah semakin berkecamuk.
Rawamangun.270515
Kemana harus kurebahkan raga yang semakin penat mengejar mimpi yang tak ada habisnya. ada mereka yang menghabiskan waktunya seperti diriku dan ada mereka yang membagi waktunya dengan jeda dan membuat raga mereka tidak terlalu lelah.
Aku mengeja waktu yang berlalu, aku berpelukan dengan sepi yang selalu saja hadir disaat ramai bahkan hiruk pikuk mereka yang menertawakan dunianya tidak membuatku melirik sedikitpun. Entah dimana ramai itu dan entah sepi kapan beranjak. peluh melumuri seluruh tubuh layaknya sungai yang mengalir dari gunung
Aku membeku. hasrat hidup ingin menepi dan bermimpi menggenggam asa namun tidaklah pantas untuk melepas semua dengan mengejar yang tak pasti.
Dua orang bercengkerama. bercerita tentang keluarga mereka yang menahan lapar. tidak ada beras untuk hari ini dan besok pun masih menjadi misteri. aku gemetar, membayangkan mereka yang meradang karena rakusnya para begal kehidupan. Menganggap mereka adalah hidup yang tak berguna.
Aku menunggu kekasihku di ujung senja ini. waktu bukan lagi soal jarum jam yang berputar karena semua musnah dengan harapan untuk memeluk dalam rindu yang memuncak. perasaan meredakan sakit yang ditanggung raga.
Seorang gadis menatap langit temaram. dari sudut mata meleleh butiran air dan tak henti mengusap dengan sapu tangan lusuh di genggamannya.
Sepi adalah keramaian dalam arti lain karena hanya berupa perasaan yang pada diri setiap orang dirasakan dengan cara yang berbeda. kata-kata hanyalah kamuflase dari ketidaksanggungan membumikan pikiran-pikiran yang sudah semakin berkecamuk.
Rawamangun.270515
No comments:
Post a Comment