Saya sudah pernah menulis tentang seperti apa yang saya rasakan tentang reuni tersebut. Tulisan reuni silaturrahim dan prestise..? mungkin tidak terlalu memaparkan lebih dalam apa yang saya rasakan namun setidaknya sedikit pengingat bahwa kerapkali ketika ada acara kumpul dengan kawan-kawan lama atau istilah kerennya "reuni," hanya akan disambut antusias oleh kawan-kawan yang secara ekonomi sudah masuk dalam kategori kelompok menengah keatas namun bagi mereka yang merasa masih dalam golongan ekonomi bawah, reuni akan menjadi momok menakutkan dan selalu dihindari sebagai topik pembicaraan ketika bertemu dengan teman lama.
Kenapa saya kembali menulis tentang reuni..? ada alasan yang mendasari tulisan ini. sejak saat bermukin di Jakarta, seringkali saya mendapat undangan reuni dengan teman-teman kuliah. entah itu di tempat yang high class maupun di tempat sederhana seperti di Blok M ataupun di Atrium Senen. saya bukanlah pribadi yang parno terhadap acara reuni namun saya juga pribadi yang terlalu suka dengan acara reuni yang terkesan ingin pamer keberhasilan.
Cerita ini mungkin begitu saja terlintas di kepalaku ketika kemarin, saya dan 2 orang teman waktu kuliah dulu menginap di bekasi, rumah salah satu teman. malam harinya, kami menghabiskan waktu untuk bercerita banyak, tentang kabar teman-teman yang sudah lama tidak dijumpai sampai pada pembicaraan mengenai acara kumpul-kumpul alumni yang akhir-akhir ini marak diadakan di Jakarta.
Teman yang kami tempati rumahnya menginap memang belum bekerja. dia menumpahkan keluh kesahnya tentang ajakan reuni selama ini. entah apa yang ada dipikirannya namun dari arah pembicaraannya, dia sedikit sungkan terhadap teman-teman yang lain mengingat dia belum bekerja.
Si kawan tadi mencurahkan semua uneg-unegnya ketika mendapat undangan reuni dan melihat tempat acara reuni. dia bahkan harus berhitung isi dompet setelah melihat menu di acara reuni tersebut meski seringkali acara reuni ditanggung oleh beberapa orang namun tetap saja bahwa isi dompet perlu.
Terlepas dari masalah tersebut tentang mahalnya tempat reuni dan makanan yang disajikan disana, dia juga risih terhadap mereka yang dulunya mungkin saat masih kuliah hanya berpenampilan sederhana namun setelah mendapatkan dunia, penampilan dan karakter mereka diubah oleh pesona kemewahan dunia ditambah lagi saat acara reuni, pertanyaan tentang pekerjaan sering kali menjadi topik paling sering dibicarakan.
Sebenarnya untuk melihat perubahan teman-teman, tidak harus melihat penampilan mereka saat reuni ataupun arisan namun dari gay bertuturnya saat kita berbicara dengan mereka pun kita bisa mengetahui bagaimana perubahan diri mereka bahkan melihat media sosial mereka, kita bisa menganalisis bagaimana perubahan di diri mereka. saya punya teman-teman SMA ataupun SMP dan dari cara bertuturnya dan media sosialnya yang dipenuhi dengan berbagai foto-foto yang diupload, saya bisa berprasangka tentang perubahan yang mereka alami "setidaknya itu dari sudut pandang saya."
Teman SMA yang dulunya tidak terlalu menonjol dan begitu pendiam bisa saja berubah 180' ketika mereka mendapatkan duniawi. memang seringkali orang menjadikan harta sebagai sebuah senjata untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. meski terkadang saya tidak akan pernah sepakat dengan semua hal yang berbau duniawi.
Beranjak dewasa adalah persoalan bagaimana mengenal diri. bukan bagaimana memamerkan "keberhasilan" yang diperoleh dalam bentuk harta. hidup pun tidak pernah mengenang orang yang kaya tapi tidak perduli namun seringkali dunia mengabadikan manusia yang berguna bagi sesamanya.
ah, saya terlalu idealis bahkan saya pun belum menemukan diriku.
260515
No comments:
Post a Comment