Semua
orang mencibirku, mereka bahkan da yang menganggapku tak lebih berharga dari
setumpuk sampah, bagaimana tidak, aktivitasku beraneka ragam dan sayangnya
tidak ada yang dianggap terhormat bagi manusia-manusia itu. Tetapi apa
peduliku, yang aku pikirkan adalah bagaimana bisa mengganjal perut hari ini
dengan sebungkus nasi atau bahkan sekerat roti basi. Aku terkadang ngamen,
sering juga jadi pemulung, kernet angkot, tukang angkat barang di terminal
sampai saat kepepet, akupun duduk dengan wajah memelas di setiap lampu merah
ataupun stasiun kereta untuk meminta belas kasihan dari manusia.
Setiap
kubertemu dengan manusia-manusia bermobil dan pakaian yang mengkilap, sering
pikiranku ngelantur, sering juga menelan ludah dengan lidah kelu, jika saja uang
pembeli baju mereka kugunakan untuk membeli nasi bungkus, mungkin bisa sampai
berbulan-bulan. Aku tidak ingin membiarkan pikiranku larut terlalu dalam
membayangkan ilusi tersebut karena kenyataannya aku harus banting tulang untuk
membeli sebungkus nasi di angkringan.
Beginilah
nasib membawaku ke dunia ini. Orang tuaku meninggalkanku sejak kecil entah
kemana. Jalananlah yang kemudian membentuk karakterku yang keras. Tak peduli
panas ataupun hujan, kau tetap harus mencari apa yang bisa kutukar dengan uang.
Pekerjaan yang berat membuat badanku semakin kekar, meski umurku baru menginjak
14 tahun namun kau seperti layaknya binaraga. Ketika melihat otot-ototku
mungkin saja orang-orang akan mengira bahwa aku rutin fitness namun saja rambut
kumal, kulit kecoklatan dan rambut pirang akibat terbakar matahari menjelaskan
bahwa aku tidak pernah ftness di ruang ber-AC tetapi tidak lebih fitness alami
yang membentuk badanku.
Cemohan-cemohan
adalah santapan sehari-hariku yang sudah menjadi kata puitis buatku, saat aku
menjadi gembel peminta-minta di samping perlintasan rel kereta api, berbagai
tatapan sinis harus kuterima, ada yang sama sekali tidak menggubris
keberadaanku, ada yang sok bijaksana mengguruiku untuk mencari pekerjaan lain
namun yang lebih menyayat hati adalah orang yang memberikan recehan dan
kemudian membuang muka seakan jijik melihatku.
Mereka seakan menyatakan dalam
diamnya bahwa aku tidak lebih dari seonggok sampah. Pekerjaan sebagai peminta
kutinggalkan saat pemerintah menerbitkan UU larangan bagi orang-orang memberikan
uang kepada gepeng di empat umum sedangkan pemerintah sendiri lepas tangan akan
penderitaan rakyatnya. Hal yang lebih konyol dan menyebalkan adalah pemuka
agama pun ramai-ramai ikut berfatwa haram bagi orang-orang yang dengan ikhlas
memberikan kelebihan rezekinya kepada kami. Sejak saat itu, satpol PP semakin
giat menggrebek kami hingga beberapa kali aku harus merasakan perihnya sepatu
lars mereka yang tepat mengenai pelipisku.
Aku
kemudian beralih profesi menjadi sedikit terhormat yaitu pengamen, dengan
berbekal gitar butut hasil pinjaman temanku, suara yang agak cempreng, aku
berpindah dari satu warung ke warung yang lain menyanyikan lagu yang sama
karena hanya lagu itulah yang aku hafal selain liriknya pas dengan kondisiku.
Lagu iwan fals yang berjudul manusia setengah dewa dan lirik yang paling aku
suka bahkan kuulang terus menerus adalah “berikan kami, pekerjaan”.
Pekerjaan
inipun tak lama kugeluti, hasil dari ngamen tidak cukup banyak untuk makan
sehari-hari bahkan yang lebih menyedihkan dari kami sebagai pengamen karena
banyak warung maupun toko yang memasang tulisan di pintu masuk “tidak menerima
sumbangan”, namun itu tidak seberapa dengan salah satu tulisan di sebuah toko
yang membuat hati para pengamen merana “Masuk ngamen, gratis”, bahkan tulisan
tersebut terpampang di salah satu restoran terbesar di kota ini yang dimiliki
oleh anggota DPR. Begitulah nasibku menjadi seorang pengamen.
Aku
uring-uringan, namun satu keyakinanku bahwa ketika manusia masih bernafas, maka
rezekinya masih ada di bumi ini. Aku berganti profesi yang kesekian kalinya
menjadi sopir angkot. Meskipun umurku masih sangat belia, namun aku menjadi
sopir tembak yang digaji rendah namun lebih besar dari hasil mengamen. Aku
melakukan pekerjaan sebagai sopir angkot dengan senang hati karena tidak
terlalu berat bahkan saat malam menjelang, aku mendapat tempat tidur yang lebih
layak dari biasanya, aku tidur di angkot.
Dibanding saat aku masih menjadi
pengemis dan pengamen, aku kadang di mesjid, di stasiun, emperan toko, taman
kota dan dimanapun tempat yang bisa kubaringkan badanku sambil terlelap dalam
mimpi. Seringkali kuberharap sesaat sebelum tidur supaya aku bermimpi indah dan
tak terbangun lagi atau bahkan bangun dengan membawa mimpi indah tersebut
kedunia nyataku namun ternyata aku harus kembali merenggut kecewa karena
kujumpai duniaku yang kelam dan kelabu bahkan yang lebih mengerikan dari yang
kubayangkan, setiap kali aku tidur, aku sering mimpi buruk dan saat terbangun
dari tidur, mimpi yang lebih buruk lagi telah menjadi kenyataan dalam hidupku.
Hari-hari
menjadi sopir angkot mulai kunikmati dan berfikir bahwa profesi inilah yang
akan kutekuni namun sampai akhirnya kenyataan kembali tidak sesuai dengan
asaku, aku bahkan harus kembali mengelus dada setelah beberapa bulan menjadi
sopir angkot, pemerintah kota ini kembali menerbitkan sebuah kebijakan tentang
pengadaan angkutan trans kota, tak pelak lagi, dengan adanya angkatan trans kota
tersebut, pendapatan angkutan umum menurun drastis dan imbasnya aku harus
ikhlas tidak dipakai lagi sebagai sopir angkot karena para jurangan angkot
mencoba untuk mengurangi biaya operasionalnya.
Aku semakin tak mengerti dengan
pemerintah, dua kali mereka menerbitkan kebijakan yang selalu merenggut
pekerjaanku, saat pertama mereka menerbitkan UU tentang pelarangan memberi uang
kepada pengemis yang membuatku harus beralih profesi dan kali ini mereka
kembali menerbitkan proyek pengadaan bus trans kota yang lagi-lagi
mengharuskanku angkat kaki sebagai sopir angkot. Terkadang kuberpikir bahwa
pemerintah selalu saja menguntit profesiku dan menciptakan profesi tandingan
yang kan membuatku harus kembali menjadi gelandnagan. Benar-benar harapanku
hancur karena aku tidak tahu lagi profesi apa yang harus kujalani bahkan saat
menjadi sopir angkot, aku sudah bisa membeli beberapa potongan pakaian untuk
mengganti pakaianku yang lusuh nan kumal.
Terkadang
aku berfikir untuk menjadi pencuri saja atau pun perampok namun selalu gagal.
Entahlah, yang pasti bahwa meskipun aku tidak pernah mendapat pelajaran agama
sejak kecil sekaan ada dorongan yang sangat kuat dari dalam hatiku untuk
menolak hal-hal yang dilarang agama dan dorongan tersebut tidak pernah
sekalipun mampu kulawan. Aku putuskan untuk mendaftar sebagai office boy di
salah satu kantor perbankan. Saat mendaftar di perusahaan outsourcing penerima
office boy, aku dimintai ijazah SMP, aku tidak punya sama sekali ijazah pak”.
Kataku saat itu.
Akupun ditolak, dalam hatiku memaki mereka, apakah ijazah itu
yang kan membuat kopi atau membersihkan lantai kantor, meskipun aku tidak punya
ijazah, namun aku piawai melakukan kerja-kerja office boy. Jangankan SMP, TK
saja bahkan aku tidak tamat. Aku hanya bisa membaca dengan terbata-bata karena
ikut program belajar gratis yang diadakan oleh sekelompok mahasiswa di samping
stasiun buat para gepeng. Saat itu aku masih umur 8 tahun, umur yang cukup tua
buat anak yang baru belajar membaca.
Aku
tak punya apa-apa sekarang, saat kelaparan, aku mencari sisa-sisa nasi di
warteg. Aku tak ingin lagi menjadi pengemis, aku berprinsip bahwa aku tidak mau
menjalani pekerjaan yang sebelumnya sudah pernah kujalani.
Aku
akhirnya memilih menjadi tukang parkir di sebuah terminal. Meskipun
pendapatannya tidak begitu banyak pekerjaannya pun tidak berat. Aku harus jaga
malam karena masih baru, menjadi tukang parkir di kota ini bukan tanpa resiko,
aksi-aksi curanmor sangat nekat dan tak segan-segan melukai setiap orang yang
menghalangi aksi mereka, dan ternyata mereka pulalah yang menggiringku ke
takdir berikutnya yaitu jurang kematian, mereka yang akhirnya mengakhiri cerita
hidupku di dunia.
Malam
itu, tepat malam minggu saat kendaraan ramai, aku ditugaskan untuk jaga malam,
menjelang tengah malam, aku melihat sekelompok orang yang mencurigakan. Saat
kutegur, mereka gugup dan salah satu dari mereka langsung menyerangku tiba-tiba,
aku masih bisa melawan dan namun akhirnya terdengar tembakan dengan senjata
rakitan. Dua butir peluru tepat bersarang di dadaku. Aku tersungkur ke tanah,
bayang pekat terlintas di kepalaku, setiap potongan hidupku kembali hadir dalam
ingatanku dan semua terlihat kabut. Samar-samar kudengar suara masyarakat yang
mengejar para curanmor. Aku tak sanggup lagi berbuat apa-apa. Kurasakan tubuhku
digotong oleh orang-orang ke sebuah mobil pick up menuju rumah sakit. Tak ada
orang yang bersedih layaknya ketika orang di bawah ke rumah sakit. Aku memang
tak punya siapa-siapa dan takkan ada yang perduli terhadap kondisiku.
Di
sebuah rumah sakit, aku masih merasakan sakit yang luar biasa. Kudengar bosku
yang juru parkir berdebat dengan petugas rumah sakit yang menolak untuk
merawatku karena tak punya sepersen pun dana untuk biaya administrasi rumah
sakit. Setelah lama berdebat, akhirnya kurasakan juga tubuhku masuk ruang
operasi. Pisau operasi mulai membelah dadaku, betapa perih yang luar biasa
menghinggapi seluruh tubuhku.dua butir peluru dikeluarkan dari dadaku namun
darah seakan tak berhenti menetes. Tubuhku menggigil, pendengaranku kabur dan
semakin gelap dan rasa perih tak terhingga ketika ada sesosok bayang putih yang
mengajakku terbang dengan sayapnya kemudian melayang-layang mengitari tubuhku
lalu tertunduk sejenak dan bagai roket meluncur ke atas. Tiba-tiba semua
menjadi gelap. Bos juru parkir menggoyangkan tubuhku, kusapa dia namun tak
bergeming. Semua orang berkerumun dan tubuhku mulai ditutupi dengan bebrapa
lembar sarung. Aku kemudian pergi dan menyeberang ke alam sana.
Begitulah
potongan hidup yang kujalani. Tulisan ini kurangkai dengan terburu-buru sesaat
sebelum menghadapi pengadilan kan diriku, pengadilan dimana tak ada saksi
selain diriku sendiri dan tulisan ini kutujukan Buat manusia-manusia yang masih
berada di alam dunia. entah apa hasil timbangan hidupku nantinya namun aku pasrah menghadapinya karena berbagai
ketidakadilan di dunia telah kualami bahkan saat ini mereka tidak adil
terhadapku karena para pembunuhku tidak pernah diadili sebab aku tidak punya
pengacara untuk menuntut mereka dan tidak punya uang untuk membayar hakim yang
haus uang.
Di suatu senja di malang akhir 2012
No comments:
Post a Comment