January 31, 2013

Anjal Bukan sampah Masyarakat

Semua orang mencibirku, mereka bahkan da yang menganggapku tak lebih berharga dari setumpuk sampah, bagaimana tidak, aktivitasku beraneka ragam dan sayangnya tidak ada yang dianggap terhormat bagi manusia-manusia itu. Tetapi apa peduliku, yang aku pikirkan adalah bagaimana bisa mengganjal perut hari ini dengan sebungkus nasi atau bahkan sekerat roti basi. Aku terkadang ngamen, sering juga jadi pemulung, kernet angkot, tukang angkat barang di terminal sampai saat kepepet, akupun duduk dengan wajah memelas di setiap lampu merah ataupun stasiun kereta untuk meminta belas kasihan dari manusia.

Setiap kubertemu dengan manusia-manusia bermobil dan pakaian yang mengkilap, sering pikiranku ngelantur, sering juga menelan ludah dengan lidah kelu, jika saja uang pembeli baju mereka kugunakan untuk membeli nasi bungkus, mungkin bisa sampai berbulan-bulan. Aku tidak ingin membiarkan pikiranku larut terlalu dalam membayangkan ilusi tersebut karena kenyataannya aku harus banting tulang untuk membeli sebungkus nasi di angkringan.

Beginilah nasib membawaku ke dunia ini. Orang tuaku meninggalkanku sejak kecil entah kemana. Jalananlah yang kemudian membentuk karakterku yang keras. Tak peduli panas ataupun hujan, kau tetap harus mencari apa yang bisa kutukar dengan uang. Pekerjaan yang berat membuat badanku semakin kekar, meski umurku baru menginjak 14 tahun namun kau seperti layaknya binaraga. Ketika melihat otot-ototku mungkin saja orang-orang akan mengira bahwa aku rutin fitness namun saja rambut kumal, kulit kecoklatan dan rambut pirang akibat terbakar matahari menjelaskan bahwa aku tidak pernah ftness di ruang ber-AC tetapi tidak lebih fitness alami yang membentuk badanku.

Cemohan-cemohan adalah santapan sehari-hariku yang sudah menjadi kata puitis buatku, saat aku menjadi gembel peminta-minta di samping perlintasan rel kereta api, berbagai tatapan sinis harus kuterima, ada yang sama sekali tidak menggubris keberadaanku, ada yang sok bijaksana mengguruiku untuk mencari pekerjaan lain namun yang lebih menyayat hati adalah orang yang memberikan recehan dan kemudian membuang muka seakan jijik melihatku. 

Mereka seakan menyatakan dalam diamnya bahwa aku tidak lebih dari seonggok sampah. Pekerjaan sebagai peminta kutinggalkan saat pemerintah menerbitkan UU larangan bagi orang-orang memberikan uang kepada gepeng di empat umum sedangkan pemerintah sendiri lepas tangan akan penderitaan rakyatnya. Hal yang lebih konyol dan menyebalkan adalah pemuka agama pun ramai-ramai ikut berfatwa haram bagi orang-orang yang dengan ikhlas memberikan kelebihan rezekinya kepada kami. Sejak saat itu, satpol PP semakin giat menggrebek kami hingga beberapa kali aku harus merasakan perihnya sepatu lars mereka yang tepat mengenai pelipisku.

Aku kemudian beralih profesi menjadi sedikit terhormat yaitu pengamen, dengan berbekal gitar butut hasil pinjaman temanku, suara yang agak cempreng, aku berpindah dari satu warung ke warung yang lain menyanyikan lagu yang sama karena hanya lagu itulah yang aku hafal selain liriknya pas dengan kondisiku. Lagu iwan fals yang berjudul manusia setengah dewa dan lirik yang paling aku suka bahkan kuulang terus menerus adalah “berikan kami, pekerjaan”.


Pekerjaan inipun tak lama kugeluti, hasil dari ngamen tidak cukup banyak untuk makan sehari-hari bahkan yang lebih menyedihkan dari kami sebagai pengamen karena banyak warung maupun toko yang memasang tulisan di pintu masuk “tidak menerima sumbangan”, namun itu tidak seberapa dengan salah satu tulisan di sebuah toko yang membuat hati para pengamen merana “Masuk ngamen, gratis”, bahkan tulisan tersebut terpampang di salah satu restoran terbesar di kota ini yang dimiliki oleh anggota DPR. Begitulah nasibku menjadi seorang pengamen.

Aku uring-uringan, namun satu keyakinanku bahwa ketika manusia masih bernafas, maka rezekinya masih ada di bumi ini. Aku berganti profesi yang kesekian kalinya menjadi sopir angkot. Meskipun umurku masih sangat belia, namun aku menjadi sopir tembak yang digaji rendah namun lebih besar dari hasil mengamen. Aku melakukan pekerjaan sebagai sopir angkot dengan senang hati karena tidak terlalu berat bahkan saat malam menjelang, aku mendapat tempat tidur yang lebih layak dari biasanya, aku tidur di angkot. 

Dibanding saat aku masih menjadi pengemis dan pengamen, aku kadang di mesjid, di stasiun, emperan toko, taman kota dan dimanapun tempat yang bisa kubaringkan badanku sambil terlelap dalam mimpi. Seringkali kuberharap sesaat sebelum tidur supaya aku bermimpi indah dan tak terbangun lagi atau bahkan bangun dengan membawa mimpi indah tersebut kedunia nyataku namun ternyata aku harus kembali merenggut kecewa karena kujumpai duniaku yang kelam dan kelabu bahkan yang lebih mengerikan dari yang kubayangkan, setiap kali aku tidur, aku sering mimpi buruk dan saat terbangun dari tidur, mimpi yang lebih buruk lagi telah menjadi kenyataan dalam hidupku.  

Hari-hari menjadi sopir angkot mulai kunikmati dan berfikir bahwa profesi inilah yang akan kutekuni namun sampai akhirnya kenyataan kembali tidak sesuai dengan asaku, aku bahkan harus kembali mengelus dada setelah beberapa bulan menjadi sopir angkot, pemerintah kota ini kembali menerbitkan sebuah kebijakan tentang pengadaan angkutan trans kota, tak pelak lagi, dengan adanya angkatan trans kota tersebut, pendapatan angkutan umum menurun drastis dan imbasnya aku harus ikhlas tidak dipakai lagi sebagai sopir angkot karena para jurangan angkot mencoba untuk mengurangi biaya operasionalnya.

Aku semakin tak mengerti dengan pemerintah, dua kali mereka menerbitkan kebijakan yang selalu merenggut pekerjaanku, saat pertama mereka menerbitkan UU tentang pelarangan memberi uang kepada pengemis yang membuatku harus beralih profesi dan kali ini mereka kembali menerbitkan proyek pengadaan bus trans kota yang lagi-lagi mengharuskanku angkat kaki sebagai sopir angkot. Terkadang kuberpikir bahwa pemerintah selalu saja menguntit profesiku dan menciptakan profesi tandingan yang kan membuatku harus kembali menjadi gelandnagan. Benar-benar harapanku hancur karena aku tidak tahu lagi profesi apa yang harus kujalani bahkan saat menjadi sopir angkot, aku sudah bisa membeli beberapa potongan pakaian untuk mengganti pakaianku yang lusuh nan kumal.

Terkadang aku berfikir untuk menjadi pencuri saja atau pun perampok namun selalu gagal. Entahlah, yang pasti bahwa meskipun aku tidak pernah mendapat pelajaran agama sejak kecil sekaan ada dorongan yang sangat kuat dari dalam hatiku untuk menolak hal-hal yang dilarang agama dan dorongan tersebut tidak pernah sekalipun mampu kulawan. Aku putuskan untuk mendaftar sebagai office boy di salah satu kantor perbankan. Saat mendaftar di perusahaan outsourcing penerima office boy, aku dimintai ijazah SMP, aku tidak punya sama sekali ijazah pak”. Kataku saat itu. 

Akupun ditolak, dalam hatiku memaki mereka, apakah ijazah itu yang kan membuat kopi atau membersihkan lantai kantor, meskipun aku tidak punya ijazah, namun aku piawai melakukan kerja-kerja office boy. Jangankan SMP, TK saja bahkan aku tidak tamat. Aku hanya bisa membaca dengan terbata-bata karena ikut program belajar gratis yang diadakan oleh sekelompok mahasiswa di samping stasiun buat para gepeng. Saat itu aku masih umur 8 tahun, umur yang cukup tua buat anak yang baru belajar membaca.

Aku tak punya apa-apa sekarang, saat kelaparan, aku mencari sisa-sisa nasi di warteg. Aku tak ingin lagi menjadi pengemis, aku berprinsip bahwa aku tidak mau menjalani pekerjaan yang sebelumnya sudah pernah kujalani.

Aku akhirnya memilih menjadi tukang parkir di sebuah terminal. Meskipun pendapatannya tidak begitu banyak pekerjaannya pun tidak berat. Aku harus jaga malam karena masih baru, menjadi tukang parkir di kota ini bukan tanpa resiko, aksi-aksi curanmor sangat nekat dan tak segan-segan melukai setiap orang yang menghalangi aksi mereka, dan ternyata mereka pulalah yang menggiringku ke takdir berikutnya yaitu jurang kematian, mereka yang akhirnya mengakhiri cerita hidupku di dunia.

Malam itu, tepat malam minggu saat kendaraan ramai, aku ditugaskan untuk jaga malam, menjelang tengah malam, aku melihat sekelompok orang yang mencurigakan. Saat kutegur, mereka gugup dan salah satu dari mereka langsung menyerangku tiba-tiba, aku masih bisa melawan dan namun akhirnya terdengar tembakan dengan senjata rakitan. Dua butir peluru tepat bersarang di dadaku. Aku tersungkur ke tanah, bayang pekat terlintas di kepalaku, setiap potongan hidupku kembali hadir dalam ingatanku dan semua terlihat kabut. Samar-samar kudengar suara masyarakat yang mengejar para curanmor. Aku tak sanggup lagi berbuat apa-apa. Kurasakan tubuhku digotong oleh orang-orang ke sebuah mobil pick up menuju rumah sakit. Tak ada orang yang bersedih layaknya ketika orang di bawah ke rumah sakit. Aku memang tak punya siapa-siapa dan takkan ada yang perduli terhadap kondisiku.

Di sebuah rumah sakit, aku masih merasakan sakit yang luar biasa. Kudengar bosku yang juru parkir berdebat dengan petugas rumah sakit yang menolak untuk merawatku karena tak punya sepersen pun dana untuk biaya administrasi rumah sakit. Setelah lama berdebat, akhirnya kurasakan juga tubuhku masuk ruang operasi. Pisau operasi mulai membelah dadaku, betapa perih yang luar biasa menghinggapi seluruh tubuhku.dua butir peluru dikeluarkan dari dadaku namun darah seakan tak berhenti menetes. Tubuhku menggigil, pendengaranku kabur dan semakin gelap dan rasa perih tak terhingga ketika ada sesosok bayang putih yang mengajakku terbang dengan sayapnya kemudian melayang-layang mengitari tubuhku lalu tertunduk sejenak dan bagai roket meluncur ke atas. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Bos juru parkir menggoyangkan tubuhku, kusapa dia namun tak bergeming. Semua orang berkerumun dan tubuhku mulai ditutupi dengan bebrapa lembar sarung. Aku kemudian pergi dan menyeberang ke alam sana.

Begitulah potongan hidup yang kujalani. Tulisan ini kurangkai dengan terburu-buru sesaat sebelum menghadapi pengadilan kan diriku, pengadilan dimana tak ada saksi selain diriku sendiri dan tulisan ini kutujukan Buat manusia-manusia yang masih berada di alam dunia. entah apa hasil timbangan hidupku nantinya  namun aku pasrah menghadapinya karena berbagai ketidakadilan di dunia telah kualami bahkan saat ini mereka tidak adil terhadapku karena para pembunuhku tidak pernah diadili sebab aku tidak punya pengacara untuk menuntut mereka dan tidak punya uang untuk membayar hakim yang haus uang.

Di suatu senja di malang akhir 2012

No comments: