January 31, 2013

kasih dalam tangis sang Bunda


Ini takkan pernah kulupakan, benar-benar takkan kulupakan dalam perjalananku di kota ini
Berbagai perasaan berkecamuk di kepalaku, bagaimana tidak
Semalam,
Sesaat setelah aku pindah kos,
Kukabarkan ini kepada ibuku, dia menelponku sejak pukul 18,00
Karena aku masih kerja dan baru pulang pukul 21.00, kukirimi
Sms supaya menelpon lagi sekitar jam itu,
Karena sesuatu dan lain hal, aku baru sampai di kos
Sekitar pukul 22.00, itu berarti di kampungku sudah pukul 23.00,
Aku mengirimi sms ibuku.
Semenit kemudian, dia menelponku, awalnya dia menanyakan keadaanku
Lalu kemudian sekitar 5 menit bicara denganku,
Ada suaru isak yg terdengar parau dari dalam telepon,
Kusadari ibuku sedang bersedih, entahlah apa alasannya, namun kucoba menerka kenapa dia bersedih,
Mungkin saja aku jauh dan hidup sendiri,
Mungkin saja mengkhawatirkan keadaanku di sini,
Mungkin saja dia rindu akan diriku,
Mungkin saja perasaannya sedang tak stabil,
Namun apapun kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepalaku,
Kutahu bahwa alasannya menangis karena lebih dari semua itu,
Cintanya terhadap anak-anaknya begitu besar,
Tak kujumpai sebuah kata untuk menggambarkan perasaan yang ada di lubuk hatinya,
Benar-benar aku tak sanggup mendengarnya terisak,
Kucoba untuk tidak ikut bersedih,
Kucoba untuk mengalihkan pembicaraan,
Kucoba untuk berkata “doakan saja aku bu”,
Namun itu semua tak mampu menepis hatiku yang juga terenyuh,
Aku memaksakan untuk mencari alasan lain agar dia tak bersedih, namun gagal,
Kukatakan bahwa sudah dulu bu’ karena aku mau istirahat, saat
Aku menutup telepon, sayup-sayup masih kudengar suaranya yang parau dalam sedih,
Ini terkesan sentimental bu dan mohon restu padamu.
Maaf, bu’,
Bukan maksudku untuk mengakhiri pembicaraan denganmu,
Bukan sama sekali,
Bahkan jika berjam-jam pun, aku takkan lelah bercerita
Apa saja denganmu, asalkan dengan satu syarat
Bu, jangan nampakkan kesedihan di setiap alunan suaramu
Aku hanya tak mau mendengarmu bersedih, aku hanya tak mau ikutan sedih,
Aku hanya ingin mengabarimu saat-saat bahagiaku di sini,
Dan biarlah masa-masa sulitku kusimpan rapi untuk kujadikan kenangan masa tuaku
Tanpa harus memberitahumu,
Engkau terlalu mudah terbawa perasaan ketika mendengar anak-anakmu dalam kesusahan,
Kedungdoro, 26 januari 2013 sesaat setelah pindah ke kos

No comments: