September 30, 2020

Bandara Sultan Hasanuddin

I arrived at Sultan Hasanuddin airport at 02.00 wita. it was a long trip from my village to airport, about 6 hours. menjelang tiba di bandara, saya mulai merasa was was karena khawatir bandara sepi dan saya harus menunggu sampai pagi karena pesawat yang akan menerbangkan saya ke jakarta terjadwal jam 9.

Memasuki area parkiran, perkiraan saya meleset. bandara jauh lebih ramai dari biasanya dan saya bahkan kesulitan mencari space yang lowong di pelataran bandara karena sudah dipenuhi calon penumpang yang tiduran maupun yang duduk. bayangkan ini jam 2 dini hari namun serasa siang hari.

saya akhirnya menemukan ruang yang lumayan longgar untuk merenggangkan badan. meskipun sedikit khawatir dengan pandemi covid 19, namun saya tetap memaksakan diri ikut tiduran. tak terasa saya terlelap sekitar sejam lebih dan baru terjaga ketika menjelang subuh.

saya memutuskan ke musala yang terletak di area kantor ekspedisi. sekitar beberapa meter dari pelataran bandara. di musala, saya membersihkan diri, menunaikan hajat pagi dengan mengeluarkan isi perut, salat subuh kemudian bersantai sambil mengabarkan ibu saya kalau saya baik baik saja.

setengah 7 pagi, saya beranjak kembali ke pelataran bandara dan langsung melakukan cek data sesuai prosedur penerbangan di masa pandemi. untunglah tidak ada kendala meski sedikit memakan waktu karena harus antri.

saat chek in, antrean sudah sangat panjang. saya bahkan hampir sejam menunggu antrean. mayoritas calon penumpang menuju indonesia bagian timur. maklumlah karena bandara makassar memang menjadi bandara transit jika dari Indonesia barat hendak ke timur.

saat tiba di depan petugas cek in, saya khawatir jangan sampai ditanyakan barang bawaan saya karena pesawat yang saya tumpangi berbayar untuk bagasinya. namun dengan sedikit doa, akhirnya barang tentengan saya lolos ke kabin dan tidak harus membayar biaya tambahan bagasi.

I'm coming back home

September 14, 2020

Semua Berubah

Di bandara Soetta pertama kali sejak masa pandemi. semua seakan berubah dalam sekejap. tidak ada perasaan seperti dulu saat momen seperti ini.

ini kali pertama saya harus naik pesawat lagi setelah virus covid menyerang. kali pertama saya ditugaskan kantor dinas keluar kota. jika sebelum-sebelumnya saya menikmati perjalanan seperti ini, namun kali ini semua menjadi seakan terasa aneh. jika seandainya bisa menolak, maka mungkin saya sudah tidak berangkat dalam perjalanan kali ini namun tugas kantor membuat saya harus mengalahkan semua kekhawatiran tentang keselamatan.

Seharusnya kali ini saya antusias karena ditugaskan ke kota yang dekat kampung halaman, seharusnya menjadi momen menyenangkan karena bisa mampir di rumah namun sekali lagi, kali ini perasaan senang dikalahkan oleh perasaan khawatir, tentang virus yang ada dimana mana tanpa terlihat, meskipun mungkin saya akan tetap mampir di rumah menuntaskan rindu yang terpendam lama. semoga saja saya tidak menyimpan virus dalam diri dan tidak menjadi perantara bagi keluarga.

Di bandara Soetta kali ini, saya menengok schedule keberangkatan. begitu banyak penerbangan yang dibatalkan. virus ini benar-benar telah mengubah tatatan manusia yang sudah berlangsung lama, ataukah mungkin bukam virusnya tapi semesta ingin menyeimbangkan kehidupan ini karena manusia sudah terlalu lama menjadi virus bagi makhluk lain.

Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung namun satu hal yang pasti, wajah wajah manusia penuh dengan kekhawatiran. mereka cemas tertular dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. semua menghadapi hal yang sama, takut terhadap virus namun roda kehidupan memaksa mereka untuk tetap bergerak, berjalan tegap dan tetap bertahan untuk tidak tumbang.

Semoga perjalanan kali ini baik-baik saja. semoga semesta memudahkan semua urusanku dan menjauhkan dari hal yang tidak diinginkan.

Hidup memang sebuah gerak otomatis yang berpindah dari satu kekhawatiran ke bagian kekhawatiran berikutnya yang tiada berujung sampai akhirnya nanti menemui titik akhir, atau mungkin tidak ada yang namanya titik akhir, yang ada hanya ujung yang bisa terlihat mata. toh gerak hidup akan berlanjut ke kehidupan lain dan mungkin saja merupakan bagian kekhawatiran berikutnya bahkan lebih besar karena kita tidak paham apa yag terjadi di sana.

di Bandara Soetta kali ini dengan wajah para manusia penuh cemas dan sesekali merapal doa supaya tidak tertular virus ini.


Bandara Soetta, 14 September 2020. 

03.10 Wib

September 6, 2020

Berkurang Jatah Hidup

Pada sepersekian hari yang saya sudah jalani sampai sekarang, datangnya lagi hari di mana pertama kali saya dihadirkan di dunia ini, namun sampai setua ini, jalan hidup saya semakin kehilangan arah. saya menjauh dari diriku dan terbawa oleh angan-angan duniawi yang tak ada habisnya.

Saya menyesali semua yang sudah terlewati dan mengkhawatirkan detik demi detik yang akan datang membuat saya lupa bahwa saya sedang hidup hari ini.

Hari yang saya lewati sudah sangat banyak dan di usia seperti sekarang, seharusnya saya sudah bisa berdamai dengan hidup, namun ternyata nihil. saya sampai saat ini masih dikalahkan diriku yang menyandarkan bahunya pada hal-hal yang artifisial.

Selamat ulang tahun diriku, semoga segera menemukan dirimu yang salah arah.

7 September

August 23, 2020

Futur

 Ada hal yang tidak pernah saya bisa lepaskan sama sekali. sesuatu yang menurutku membuat kualitas diriku semakin mengalami degradasi. semakin kuat saya menepisnya maka semakin deras dia datang mengantam. setelah ini apa?

Jika perbaikan diri tidak mengenal batas waktu maka saya serasa mulai dari nol. membangun kepercayaan diri dan menyusun elemen-elemen pembentuk karakter yang porak poranda oleh saya sendiri. karakter diri yang belum berdiri sempurna dan hancur lebur kemudian mulai lagi dari sisa puing yang berserakan.

Entah kapan menjadi diri?

Jika jalan hidup sendiri saja belum menemukan rutenya maka bagaimana saya mengimami keturunan saya?

August 22, 2020

Masalah Repetitif

 Saya punya masalah  yang seakan terus datang dengan pola yang sama. masalah ini sudah berlangsung sejak 5-6 tahun terakhir. sebuah masalah yang menyadarkanku bahwa ternyata cerita-cerita di sinetron Indosiar yang selama ini saya anggap fiktif ternyata benar adanya di dunia nyata bahkan sangat dekat dengan diriku, walau saya sadari bahwa masalah tersebut di luar kendaliku. 

Masalah ini tentang pola interaksi antara seorang Ibu dengan Puteranya. pola relasi yang seakan hanya terjadi dalam sebuah narasi fiktif yang sering saya baca di buku cerpen namun ternyata cerita fiktif tidak ada yang fiktif di dunia ini, yang ada bahwa cerita tersebut belum kita temui dalam kehidupan kita sendiri. 

Ibu tersebut sudah sejak 16 tahun yang lalu ditinggal mati oleh suaminya. dia harus berjuang keras menghidupi seorang putera dan seorang puteri. sebuah perjuangan yang tidak mudah karena dia hanya seorang guru swasta yang gajinya tidak terlalu besar, beruntung karena dia masih menerima uang pensiunan suaminya setiap bulan dan masih dibantu oleh saudaranya. meski demikian, tetap saja bahwa urusan membesarkan anak bukan hanya melulu mengenai materai namun ada banyak sisi yang harus diperhatikan. 

Nampaknya tidak ada masalah yang terlalu serius sampai akhirnya si putera yang sulung masuk kuliah. di tahun-tahun pertama, belum ada hal yang mencemaskan namun kenyataan pahit menghampiri ketika si putera sudah menjelang akhir kuliah. berbagai permintaan aneh mulai menyusahkan si Ibu namun masih dalam batas normal.

Beberapa tahun setelah lulus, si putera sudah bekerja di sebuah bank dan menikah dengan gadis pilihannya. momen ini nampaknya akan menjadi momentum balik dari si Ibu untuk merayakan kerja kerasnya selama ini dan sedikit mengendorkan punggungnya yang sudah terlalu lama memikul beban berat. si putera sudah selesai pada masalah materi karena sudah bekerja dan juga sudah menikah sehingga tanggung jawabnya sudah lepas. 

Namun ternyata, momentum menikahkan puteranya yang seharusnya menjadi titik bahagia ternyata menjadi bumerang bagi si Ibu. pasca menikah, berbagai masalah besar datang dari perilaku si putera yang nampaknya tidak pernah memiliki sedikitpun rasa iba terhadap ibunya. mulai saat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di bank kemudian sebuah beban anak isterinya yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, dibebankan kepada ibunya bahkan pada puncak masalah, satu-satunya rumah peninggalan bapaknya dijual demi melunasi utang si puteranya.

Meskipun rumah sudah dijual, ternyata sama sekali tidak mengubah pola berpikir si puteranya, dia seakan semakin menjadi-jadi apatahlagi setelah tidak bekerja sama sekali. semua kebutuhan keluarnya beserta ketiga anaknya, dipikul oleh Ibunya yang anehnya, si Ibu selalu memenuhi permintaan apapun dari si puteranya.

Si Ibu yang sudah semakin menipis tabungannya tidak kehabisan akal, berapa pun puteranya meminta uang dalam jumlah jutaan, si Ibu selalu berusaha memenuhi meskipun harus berutang kepada saudara-saudaranya. perilaku si Puteranya diperparah dengan isterinya yang meskipun sebagai seorang menantu, sama sekali tidak memiliki rasa sungkan untuk meminta apa saja kepada si Ibu yang hanya seorang mertuanya.

Perjalanan kisah pedih tidak sudah berlangsung bertahun-tahun dan minggu lalu, si Putera dan isterinya kembali meminta uang 15 juta kepada Ibunya dengan alasan untuk membayar utangnya di rentenir karena jika tidak dibayar, akan mengancam keluarganya. tanpa pikir panjang, si Ibu meminjam uang kepada adik laki-lakinya yang akhirnya diberikan pinjaman 10 juta dan 5 juta diambil dari tabungannya sendiri untuk menggenapi permintaan puteranya.

Entah kapan berakhirnya kisah ironi ini namun sebagai orang yang sama sekali tidak punya kuasa untuk masuk memberikan sedikit masukan, maka saya hanya mengambil hikmah dari kisah ini untuk sedikit lebih empati kepada Ibu saya bahwa jika tidak mampu membahagiakannya, paling tidak saya tidak memberatinya dengan masalah saya.

22 8 2020

July 31, 2020

Idul Adha 1441 H

Hari raya Qurban kembali datang menjumpai. Sebuah penanda bahwa tepat setahun lamanya saya tidak pulang kampung. Sebuah kenyataan yang ironi karena saya tidak pernah selama ini tidak pulang menengok masa laluku. namun harus bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk memendam rasa rindu. kondisi yang tidak menentu membuat semuanya terhambat, rencana-rencana yang sudah disusun dimentahkan oleh keadaan. Lebaran Idul Adha kali ini harus dijalani di kota perantauan yang meskipun sangat ramai namun tetap saja jiwaku merasa kesepian dan kosong.

Subuh hari tepat di saat semua masjid dekat rumah bersahut-sahutan mengumandangkan takbir, saya sudah terjaga, duduk di kursi depan sambil memperbaiki napas yang belum pulih dari mimpi. takbir bergema yang membuat jiwaku terbang ke beberapa tahun yang lalu di mana perasaan tenang menghinggapi setiap kali suasana lebaran menjelang, namun kali ini sepertinya semua terasa hambar. jiwaku yang terlalu lelah dengan urusan duniawi seakan tidak mampu menemukan ketenangan dalam takbir-takbir yang sedari malam sudah berkumandang.

Setelah selesai menunaikan salat subuh dan mandi. saya memilih pakaian putih yang merupakan baju lebaranku tiga atau empat tahun yang lalu namun masih terlihat baru karena jarang saya gunakan. Saya dan isteri berboncengan ke arah musala untuk menunaikan salat ied. Kami memang memilih untuk salat ied di musala mengingat jamaahnya tidak terlalu padat dan jarak antar jamaah masih diberlakukan sehingga tidak harus berdesak-desakan.

sekitar 15 menit setelah kami tiba di musala tersebut, salat kemudian dimulai dengan terbit. butuh waktu 40 menit di musala tersebut termasuk mendengarkan ceramah. Kami kemudian pulang melewati jalan yang terdapat masjid besar disampingnya. ternyata jalanan tersebut ditutup karena jamaahnya memenuhi jalanan dan ceramah di masjid tersebut belum selesai. terpaksa kami harus menunggu. 

Saat tiba di rumah, suasana lebaran tidak saya jumpai. berbeda halnya di kampung ketika momen lebaran yang penuh dengan makanan dan keluarga yang sedang bercengkerama, namun kali ini, semua itu tidak tersaji di depanku. namun tak apalah, memang situasi kehidupan saya sudah berubah dan tidak seperti saat masih di kampung.

Satu-satunya momen yang membuat suasana lebaran kali ini sedikit terasa adalah tadi saat ikut membantu di pemotongan qurban. bau amis darah qurban dan daging segar membangunkan jiwa saya bahwa benar kali ini adalah lebaran idul Adha. setelah itu, semua kembali menjadi normal. saya pulang ke rumah, duduk di ruang depan menghabiskan waktu bermain hp kemudian tidur dan mencicipi apa yang bisa dimakan. membunuh waktu dalam kesia-siaan sambil terus mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu kemudian tidak menyadari masa sekarang. sebuah ritme hidup yang membuat saya jauh dari diri saya sendiri.

Saya sedih pada banyak hal terutama pada diri saya yang tidak mampu sedikit berkeras kepada diriku sendiri yang selalu berencana tanpa tindakan, terlalu banyak angan yang menggelayut di pikiranku yang membuat diriku jauh dari apa yang sedang kujalani. 

Saya jauh dari diriku...!


Merayakan 10 tahun

#RenunganJuli yang sudah saya buat selama 31 hari sebenarnya adalah sebuah usaha untuk merayakan blog ini yang bisa bertahan sampai 10 tahun lamanya meskipun dengan tulisan-tulisan yang kadang hanya curhatan menggelikan nan memalukan. namun demikian, usaha untuk tetap meninggalkan jejak hidup dalam sebuah tulisan sehingga bisa abadi dan dijadikan bahan untuk melihat masa lalu yang sudah terlewati.

Di bulan Juli ini pula, banyak sekali tulisan di blog ini yang saya edit karena menurut saya sangat ridiculous dan tidak pantas lagi untuk saya tayangkan di masa sekarang. beberapa diantaranya adalah tulisan curhat yang menjijikkan dan juga tulisan tentang orang-orang yang terlalu vulgar saya tuliskan baik itu identitasnya maupun segala macam aktivitasnya.

Hari ini sudah menjadi akhir di Juli tahun ini dan saya sudah berusaha keras dalam bulan ini untuk menulis setiap hari meski terkadang tertunda namun demikian, saya tetap harus menunaikan target yang sudah saya buat di awal bulan. sebuah usaha untuk membuktikan kepada diri bahwa saya tidak semalas dengan apa yang ada di pikiranku. 

Semua tulisan di bulan ini yang mungkin konyol atau juga terlalu cengeng namun tak apalah karena tulisan-tulisan di bulan ini memang sebagai sebuah usaha untuk kembali membangkitkan gairah dalam diri saya sudah menulis yang lebih baik.

July 30, 2020

Bersyukur

Satu hal yang hilang dari diri saya adalah rasa syukur yang semakin redup. Saya jarang mendapati diriku mengucap terima kasih atas apa yang sudah saya dapatkan baik secara lisan maupun dalam hati saya dan hal tersebut yang seringkali membuat jiwa saya tidak tenang sama sekali. rasa syukur yang tidak pernah muncul dalam diri saya menjadi pertanda bahwa begitu banyak angan-angan yang menutupi nurani saya untuk sekedar bersyukur atas nikmat yang saya peroleh.

Cerita tentang kesyukuran sebenarnya selalu terpampang di depan kehidupan saya yang seharusnya menjadi pelajaran bagi saya bahwa hidup tidak sekedar mengejar angan-angan namun harus tetap bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Tadi saat penjual kue langganan anak saya ke rumah, dia diberikan ketupat dan opor ayam oleh mertua saya. menurut cerita mertua saya bahwa dia begitu senang dan berkali-kali mengucap syukur karena kebetulan hari ini dia tidak memasak di rumah. sebuah sikap bersyukur yang menampar saya karena dengan mudahnya dia mensyukuri sedikitpun yang diterima sedangkan saya yang mungkin jauh menerima begitu banyak hal, tidak mampu mengucapkan hal tersebut. Saya yang masih digaji sekian juta per bulan, tidak pernah sama sekali mengucap hal yang sama.

Satu hal yang paling saya rasakan dari tingginya angan-angan dan kurangnya rasa syukur dalam diri saya adalah diri saya yang semakin tidak tenang karena cemas akan masa depanku yang berarti bahwa saya tidak mennsyukuri apa yang sudah saya miliki.

Pelajaran lain tentang bersyukur saya dapatkan dari percakapan ringan Gus Baha dan Quraish Shihab yang ditayangkan di youtube. Gus Baha menerangkan bahwa orang-orang di pasar mendapat 5 ribu sudah mengucap syukur. cerita lain dari beliau ketika gurunya tidur di kamar yang memiliki beberapa kamar kemudian bergumam, kenapa saya harus memiliki banyak kamar sedangkan saya sudah bahagia tidur di kamar ini. kurang lebih seperti itulah. pelajaran tentang rasa syukur yang begitu banyak namun sangat sulit menumbuhkan dalam diri saya.

July 29, 2020

Harapan Akhir Tahun

Salah satu harapan terbesar saya di akhir tahun ini adalah bisa mudik ke kampung. libur lebaran idul fitri yang reschedule ke akhir tahun akibat pandemi Covid membuat libur di akhir tahun menjadi lumayan panjang, sekitar dua minggu. jika kondisi membaik kemungkinan saya mudik ke kampung sekitar 20 hari. sebuah momen langkah yang belum pernah saya dapatkan selama ini dengan libur selama itu.

Itulah kenapa saya berharap bahwa keadaan pandemi ini segera membaik atau minimal tidak menjadi lebih buruk. jika kondisi seperti ini masih terus terjadi sampai akhir tahun, maka bayang-bayang mudik bisa saja gagal karena proses transportasi yang bakalan lebih susah, harus mengurus berbagai macam kelengkapan berkas yang jika tidak dipenuhi maka kemungkinan terburuk tidak diperbolehkan melakukan perjalanan antar kota.

belum ada tanda-tanda kondisi saat ini akan segera membaik. statistik yang ditampilkan di media-media masih sangat tinggi bahkan terus menunjukkan kenaikan grafik. aturan-aturan ketat di ruang publik pun masih belum dilonggarkan dan berbagai aturan lain yang tentunya akan mengambat banyak rencana. jika demikian, akhir tahun akan menjadi rencana gagal, namun semoga tidak.

Selama merantau sejak 8 tahun silam, saya tidak pernah melewatkan rutinitas mudik setiap tahun paling tidak sekali setahun. terdengar sedikit berlebihan karena banyak perantau yang bisa bertahun-tahun tidak pernah mudik namun bagi saya, mudik adalah semacam isi ulang energi dalam diri untuk memulihkan jiwa yang sudah kosong dihantam kerasnya kehidupan di perantauan.  kampung menjadi sumber energi meski seringkali hanya dijadikan sebagai pelarian namun paling tidak, kampung selalu menerima saya setiap kali ingin lari dari kehidupan kota, dan semoga,,,

Semesta bisa mengamini doa saya. di akhir tahun ini bisa mudik ke kampung.

July 28, 2020

Masalah

Hidup adalah perjalanan dari masalah yang satu ke masalah yang lain. tidak ada manusia yang masih bernafas, yang lepas dari sebuah masalah, siapapun itu. Hanya saja tingkat masalah mereka yang berbeda. tidak ada masalah yang berat namun juga tidak ada masalah yang ringan. hal yang menentukan adalah kedewasaan seorang manusia menghadapi masalah mereka masing-masing. mungkin inilah yang dimaksud dalam Al-Qur'an bahwa "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Saya terlalu picik saat belum menikah kemudian berpikir bahwa setelah menikah, kemungkinan masalah saya akan menjadi sedikit lebih ringan, ternyata tidak. masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya seringkali kelimpungan. ternyata masalah tidak menjadi lebih mudah namun sebaliknya semakin berat namun kita harus lebih kuat dari masalah itu sendiri. "What doesn't kill you, will makes you stronger." selalu saja kutipan Nietzche tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang bahkan sampai kapan pun. orang yang tidak kalah oleh masalah mereka akan semakin kuat dan semakin siap dalam menghadapi masalah demi masalah yang akan menyerang di hari-hari berikutnya. selama jantung masih berdenyut maka masalah akan tetap ada. iya masalah adalah sebuah keniscayaan dalam hidup.

Saat mengamati berbagai periode masalah yang saya lewati, satu hal yang saya pelajari adalah ketika bertemu masalah, jangan pernah membelakanginya kemudian menjauh karena masalah tersebut tidak akan pernah sirna jika dihindari. satu hal yang menurutku terbaik adalah menghadapi masalah kemudian melakukan hal yang terbaik, setelah itu, semesta akan menuntun langkah kita melewati masalah tersebut.

Masalah itu terbagai dalah dua kotak besar. ada masalah yang diluar jangkauan kita dan ada masalah yang terjadi karena ulah kita sendiri. masalah datang di luar kemampuan kita adalah bencana dan hal-hal yang sifatnya alamiah. sedangkan masalah yang datang karena polah kita yang tidak mengukur diri misalnya kita dililit hutang karena tidak mempertimbangkan secara rasional ketika hendak berutang. semua masalah tersebut harus dihadapi untuk diselesaikan.


July 27, 2020

Teman Kuliah

Sudah hampir setahun saya kuliah di kampus Parmad. kuliah dengan situasi yang sangat berbeda karena saya mengambil kelas sabtu otomatis hanya sekali dalam seminggu. sebuah kondisi yang menurut saya tidak terlalu ideal karena kuliah bukan hanya sebagai sebuah rutinitas dalam kelas semata. kuliah seharusnya memberikan ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan siapa saja dan banyak hal. kondisi perkuliahan saya semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang merebak di awal semester dua, alhasil saya harus mengikuti kuliah online dan intensitas interaksi dengan kampus semakin berkurang.

Kondisi seperti ini membuat banyak hal hilang dari perkuliahan pada umumnya. satu hal yang paling saya rasakan adalah kedekatan dengan teman kuliah yang tidak begitu akrab, meski ada beberapa diantara mereka yang mulai akrab namun kuliah dengan mayoritas pegawai kantoran membuat suasana perkuliahan sangat tidak mengasyikkan bahkan hampa. tidak bisa disalahkan karena mereka mempunyai banyak urusan selain kuliah misalnya tugas kantor atau kehidupan keluarga bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Saya yang berada diantara mereka pun akhirnya ikut dalam arus perkuliahan yang monoton. datang ke kampus, masuk kelas, sedikit beretorika kemudian istirahat dan menunggu kelas berikutnya dan sore hari pulang ke rumah. rutinitas perkuliahan yang tidak seperti dalam bayangan saya namun tetap harus saya jalani karena kondisinya memang sudah berbeda.

Sebenarnya saya sangat berhasrat bertemu dengan teman kuliah yang gandrung akan ilmu dan suka berdiskusi untuk sekedar menambah isi kepala namun nampaknya, sampai pada tahun pertama berlalu, sama sekali belum ada teman kuliah yang seperti dalam bayangan saya. tidak ada yang benar-benar menyukai diskusi tentang konsentrasi kuliah yang sedang dijalani. mayoritas hanya menjadi apa adanya seperti pelajar pada umumnya. bukan, bukan saya merasa haus pengetahuan atau apalah namun lebih karena saya menyesali masa lalu saya yang banyak terbuang dengan main-main sehingga saya membutuhkan relasi yang serius dalam mengejar pengetahuan, namun nampaknya belum ada seperti dalam bayangan saya. 

Entahlah mungkin saya yang belum pantas menemukan teman yang seperti itu. saya harus memantaskan diri terlebih dulu.

July 26, 2020

Hal-Hal Sepele

Kemarin sore saat berolahraga di taman Dadap Merah. tiba-tiba melintas 4 orang dengan pakaian rapi. sangat mencolok dari pengunjung taman karena rata-rata orang yang ke taman tersebut berniat olaharaga. sepersekian detik, saya tidak terlalu memperhatikannya sampai pada saat mereka melintas di pos satpam, salah satu dari mereka, seorang cewek dengan dandanan rapi, bersitegang dengan tukang parkir taman. entah apa yang dipermasalahkan namun yang pasti si cewek mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas sambil berlalu sedangkan tukang parkir dengan muka memerah, terus saja meneriakinya. akhirnya mereka menjadi tontotan bagi semua orang di sekitar taman.

Tadi pagi saat kembali berolahraga, saat hendak pulang dan menuju parkiran, saya menyodorkan uang parkir ke pemuda yang bersitegang dengan si cewek sehari sebelumnya. saya iseng menanyakan apa yang membuatnya begitu murka dengan cewek yang berdandan rapi kemarin sore.

Si Tukang parkir menjelaskan dengan detail bahwa sebenarnya si cewek tersebut berniat foto prewed di taman kemudian disarankan oleh si tukang parkir untuk meminta izin kepada pihak kelurahan karena regulasinya seperti itu. si cewek ternyata tidak terima bahkan dia sepertinya menantang si tukang parkir.

Begitulah, hidup di kota ini seakan terlalu berat. manusia-manusianya dihantam dengan berlipat masalah secara sporadis yang membuat urat-urat mereka tegang setiap saat. seringkali saya menemukan masalah yang sebenarnya sangat sederhana namun selalu diselesaikan dengan urat leher yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Saya pun tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kali momen, saya menjadi sangat temperamental, entah karena memang bawaan atau kota ini ikut menyeret saya dalam budaya adu urat leher. momen yang paling membuatku tidak bersabar ketika berada di jalan raya. saat ada kendaraan yang menghalangi jalan saya atau mungkin sedikit mengganggu saya maka dengan serta merta, saya merasa tergangggu tanpa berusaha untuk berusaha. saya benar-benar sudah tenggelam dalam budaya kota ini. budaya yang tidak melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.