Sabtu kemarin, saya mengajak anak isteri mengitari kawasan Pasar Minggu. rutinitas sabtu minggu yang wajib dilakukan untuk menyenangkan Damar yang sedang menikmati jika diajak naik motor. saya biasanya tidak membawa dompet setiap kali naik motor di pagi hari, alasannya karena repot. toh jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Perjalanan kemarin benar-benar membuatku sial. saat berangkat masih lancar tanpa halangan namun petaka datang pada saat mau pulang ke rumah. saya melewati rute yang jarang sekali saya lalui. jalan Simatupang menuju Pasar minggu
sebelum tiba di bawah kolong fly over untuk berbalik arah ke Kebagusan, segerombolan lelaki bertubuh kekar berpakaian cokelat sedang berkumpul di pinggir jalan menyetop kendaraan secara random. saya yang baru menyadari keberadaan mereka langsung menyadari bahwa saya tidak membawa dompet yang berisi sim dan stnk. saya berniat belok ke kiri di pertigaan namun ternyata mereka tidak dungu, sebagian dari mereka sudah menunggu di titik pertigaan tersebut yang artinya saya sudah terjebak.
menyadari tidak ada lagi jalan keluar, saya melaju dengan muka yang pura-pura tidak bersalah. salah seorang dari mereka yang mungkin berumur 45an tahun menyetop saya.
"maaf pagi, boleh liat surat-suratnya?" pertanyaan mereka yang khas membuatku tidak berkutik.
"saya tidak membawa dompet pak yang berisi surat-surat." saya jujur mengatakan apa adanya karena sudah tidak ada alasan yang pas.
percakapan berikutnya sudah bisa ditebak. sambil menulis di surat tilang, dia mengatakan bahwa motor saya harus disita karena sama sekali tidak membawa surat-surat kelengkapan.
Saya menawarkan untuk mengambil sejenak dompet saya di rumah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan harapan bahwa motor tidak disita, pikirku sim yang dijadikan jaminan sebelum saya menebus kesalahan di pengadilan, toh saya dulu sudah pernah mengurus tilang di pengadilan.
jawaban dari bapak mengejutkanku, "atau mau dibantu di sini saja?"
saya sudah mengetahui arah pembicaraannya bahwa dia meminta uang tebusan supaya tidak harus ke pengadilan. saya tanpa pertimbangan apa-apa mengiyakan dan menyodorkan selembar uang kemudian saya melanjutkan perjalanan pulang.
meski urusannya selesai namun saya merasa kalah. teoriku luntur karena tidak mau repot sehingga saya yang seharusnya menjalani prosedur semestinya dikalahkan oleh tindakan konyol.
saya kalah meski urusan dengan polisi selesai.
16 3 19