December 21, 2013

Hari Ibu

Meski beribu huruf yang kutulis untuk melukiskan seorang ibu di negeri sana, tak jua menampung apa yang ada di pikiranku. kata hanyalah rangkaian huruf yang dibaca namun berbicara tentang ibuku adalah tentang cinta yang amat sangat picik ketika termuat dalam tulisan puitis sebagus apapun. hanya memandang wajah sendunya sudah menguapkan semua yang ada dipikiranku. tak ada lagi katakata yang terucap ketika bersamanya. benar bahwa merantau telah mengajarkanku nilai lebih tentang cinta terhadapnya. aku bahkan sampai tidak membayangkan bagaimana beliau berada di ujung negeri ini. memang amat sentimental ketika aku berbicara tentang ibuku bahkan andai saja aku adalah windi maka urai air mataku sudah tak tertahankan lagi ketika rindu terhadapnya menyerangku.

kata orang hari ini adalah hari ibu, aku tak peduli itu, aku tak peduli kapan hari ibu itu karena ibuku ada dalam cintaku, beliau mengajarkanku cinta kepada Khalik dan Muhammad. selalu saja ada getaran rindu yang tak tertahankan ketika mengucap kata ibu. aku selalu mencoba melukis dirinya, menggambarkan ketulusannya namun selalu saja gagal bahkan saat masih berpikir untuk melakukan itu, aku sudah yakin akan gagal karena cintanya hanyalah kurasakan melalui hatiku.

Masih saja beliau bekerja di negeri sana, ketika beliau kutinggalkan, masih dalam keadaan sehat, entah sekarang namun mudah-mudahan saja perjalanan waktu tidak terlalu cepat menggerogoti kekuatannya. beliau masih punya impian melihat anak-anaknya bahagia namun lebih dari itu, aku amat sangat berharap suatu saat nanti menyaksikannya tidak terlalu bekerja keras karena kami sudah berhasil, aku hanya ingin menyaksikan beliau menghabiskan masa tuanya bermain bersama cucu-cucunya tanpa harus lagi bekerja keras. sudah cukup beliau menghabiskan separuh waktunya untuk mengais rejeki buat kami, mungkin saja momennya beliau bermain-main dengan orang yang disayanginya.

Baru segini tulisan tentangnya namun aku sudah tidak bisa mencurahkan katakataku lagi. di memoriku hanyalah wajahnya yang sendu dan dengan diamnya terus mengadon kue, memasak nasi dan pekerjaan yang lain sambil menunggu waktu istirahat, saat senja jatuh menghampiri bumi, beliau bersujud di sajadahnya yang sudah kusam sambil menitikkan air matanya. meski aku tak pernah bertanya tentang doadoanya di dalam shalatnya namun aku amat sangat yakin bahwa beliau tidak sedang berdoa untuk dirinya namun beribu doa dari mulutnya hanya untuk anak-anaknya.

salam sejahtera selalu untukmu ma..
semoga senantiasa sehat wal'afiat

Missions Accomplished

Semua sudut ruang di kota ini telah kutelusuri. Benar-benar melelahkan memang namun sensasi perjalanan sangat mengesankan. tadi siang, kecamatan terakhir berhasil kutelusuri, kecamatan pitu. meski dari berbagai cerita orang disini bahwa kecamatan tersebut amat sangat terpencil namun aku masih berpikir bahwa kecamatan karanganyar masih lebih terpencil dan jalanan yang berbatu. perjalanan di kabupaten ini benar-benar melelahkan. setiap sudutnya telah kusaksikan dan beribu makna hidup pun telah terhidang. mereka penduduk kabupaten ini telah menawarkanku berbagai macam hikmah yang terserabut.
setahun memang bukan waktu yang singkat merasakan hidup disini, menelusuri jejak langkah yang belum pasti meski terkadang jatuh namun tak apalah. hidup ini akan terus berjalan sebagai mana mestinya.
   dokumentasi di kecamatan pitu


ini foto supaya ada bukti bahwa benar-benar pitu telah kujelajahi meski dengan susah payah.

smpn 3 pitu
smpn 3 pitu yang amat sangat miris. perjalananku di kabupaten ngawi telah mengajarkanku tentang realita dunia pendidikan indonesia yang masih amat timpang. aku telah menjadi salah satu aktor yang entah protagonis ataupun antagonis di dunia pendidikan ngawi.

smpn 1 pitu
kalau yang ini sudah amat lumayan dibandingkan dengan smpn 3 pitu yang begitu menyedihkan. dari luar kelihatan seperti sekolah TK.

Kawan yang hampir terlupa

Akhir-akhir ini, saya memanggil kembali memoriku untuk mengingat teman-temanku semasa sekolah, bukan tanpa sebab, seringnya saya ke setiap sekolah memaksa memoriku mengingat semua masa-masa sekolah, dan yang sering teringat adalah teman-teman yang sudah amat sangat lama tidak berkomunikasi meski dulunya lumayan dekat. pertemanan yang kemudian kabur seiring dengan perjalanan waktu, kabur bukan karena waktu yang bersalah namun karena kita tidak menyiram pertemanan tersebut dengan siraman komunikasi yang intens.

Saya mencoba mengingat mereka satu persatu dan kebanyakan yang berhasil kuingat adalah mereka yang tidak terlalu banyak omong. Aku mencoba mengingat mereka satu persatu mulai tingkat pertama sekolah menengah. Nampaknya memoriku agak sedikit bermasalah karena sangat sedikit dari mereka yang mampu kuingat. ada vi**an R, dia amat sangat singkat bersama kami karena dia harus pindah ke kota lain mengikuti ayahnya yang seorang tentara. Muj****in, S**eh dan Ha*i. Mereka semua satu kampung yang berjarak beberapa km dari kampung saya. Orangnya baik dan agak kalem. Mu**ani orang Pa***ak, dia sangat suka tertawa meski tidak ada yang terlalu lucu, kukira selera humornya terlalu rendah.

Di sekolah tingkat atas, sma, aku juga mengingat sebagian dari kawan-kawanku yang hampir terlupa. Terkadang mereka yang terlupa adalah mereka yang menyimpan banyak hikmah. Ma**ur orang P**ui. namanya mudah diingat karena sama dengan nama seorang penyanyi dangdut senior yang populer di masa saya remaja. R**in orang D*lo, terakhir kabar yang kuterima tentangnya bahwa dia mengalami kecelakaan yang mengantarnya ke hadapan Ilahi. saya angkat jempol untuk kemampuan matematikanya. kayaknya dia salah satu siswa yang unggul di mata pelajaran matematika seangkatanku

Seorang lagi temanku namanya Sur**nto, orang Ba**i, lumayan baik orangnya, saya sudah begitu lama tidak mengetahui kabarnya, semoga saja dia sehat-sehat saja.

Begitulah teman-teman yang pernah menghiasi masa remajaku. semua menguap bersamaan dengan waktu dan entah suatu saat nanti masih bisa bersua atau bahkan tidak terdengar sama sekali.

Pertemanan layaknya pengetahuan. jika tidak sering dikomunikasikan atau diulang-ulang maka akan kabur secara perlahan sampai pada akhirnya akan sirna. itulah sebabnya pertemanan yang langgeng adalah pertemanan yang sering komunikasi bahkan untuk sekedar saling menanyakan kabar. 

Lelaki Harus Berkelahi

Lelaki harus berkelahi. Ini bukan pernyataan metafora dari saya, aku mengatakan seperti itu karena aku berfikir laki-laki itu harus sesekali berkelahi.

Siang tadi, untuk membunuh waktu yang terlalu lama jam 12 siang, aku memutuskan duduk berlama-lama di kantin SMK PGRI 1 Ngawi, sambil menyeruput secangkir kopi kesukaanku dan menikmati aneka gorengan. aku memperhatikan setiap siswa di sekolah ini yang mayoritas adalah laki-laki. Sejurus kemudian, segerombolan dari mereka berkumpul dan sedang menyaksikan sesuatu, lama kuperhatikan ternyata dua diantara mereka sedang berkelahi, siswa yang lainnya hanya menonton.

Ya, laki-laki harus berkelahi seperti anak SMK tersebut. Untuk merasakan kerasnya hidupnya, sekali kali para lelaki berkelahi jika memang perlu. Aku bahkan menyesal tidak pernah lagi berkelahi semasa SMP dan SMA, terakhir kuingat aku berkelahi saat masih di SD. seingatku, aku berkelahi dengan sepupuku yang seumuran denganku di belakang TK dekat lapangan sepakbola. kuingat dengan jelas saat kami berguling mencoba saling mengalahkan. Entah bagaimana akhirnya namun tidak ada dari kami yang keluar sebagai pemenang maupun yang kalah.

Ingatanku tentang perkelahian pada masa SMA hanya sebatas menonton temanku yang berduel. jadi sekolah saya yang berada di bawah bukit. nah pada saat itu, ada seorang teman saya yang ditantang berduel dengan siswa satu tingkat di atas kami. alhasil disepakati bahwa mereka akan berduel di tengah hutan di atas bukit yang hanya berjarak sekitar 1 km dari sekolah kami. 

Seingatku, ada beberapa teman yang menjadi penonton. saat duel sudah berlangsung, kakak tingkat saya tersebut kemudian mengeluarkan badik dan mengejar temanku. temanku lari sekuat tenaga karena tidak ingin mengambil risiko. tidak ada yang cedera pada duel tersebut namun setidaknya, mereka membawa kenangan masa remaja yang keras. saya sudah lama tidak bertemu keduanya. mungkin mereka sudah tumbuh dewasa dengan nyali yang cukup tangguh karena sudah pernah menguji nyali mereka saat remaja, beda denganku yang tergolong remaja penakut.

Para lelaki harus berkelahi sepanjang tidak membahayakan diri mereka. berkelahi tidak lebih buruk dari olahraga tinju ataupun olahraga beladiri lainnya, bedanya hanya tatacaranya karena berkelahi bebas dengan teman atau siapa saja tidak membutuhkan wasit sedangkan olahraga beladiri lainnya butuh wasit.

Lelaki harus berkelahi. Memaknai hidupnya sebagai gender yang paling keras meskipun ini terdengar bias gender namun tidak apa-apa. Memaknai diri sebagai orang yang akan menjadi pelindung dalam keluarganya disaat anak-anaknya membutuhkan kehangatan maka akan ada ibu di sampingnya namun disaat bahaya dari luar mengancam maka pria ada jawaban dari ancaman tersebut. pernyataan ini juga sangat maskulinitas dan berpotensi mengundang reaksi para feminis namun sekali lagi, tidak apa-apa karena memang secara fisik, lelaki dibentuk sedikit lebih kuat dari perempuan.


December 20, 2013

Maghrib Ini

Selepas menunaikan beberapa tugas kantor yang menumpuk, aku memlih keluar kantor memutari kota ini sambil menunggu maghrib mengingat maghrib sebentar lagi. Pekerjaan kantor yang benar-benar menumpuk memaksaku tetap duduk sampai pukul 17.00. 

Sembari mencari angin segar menyegarkan pikiranku, motor terus kuarahkan ke setiap sudut kota. Beberapa mesjid telah kulewati namun belum jua terdengar kumandang azan maghrib membuatku malas menunggu, hingga sampailah aku di depan alun-alun kota ini, azan mulai berkumandang. sejurus kemudian, motor bututku kuarahkan ke mesjid agung kota Ngawi. Alhasil, aku menunggu shalat di mesjid ini.

Sayup-sayup azan dikumandangkan beserta orang-orang sekitar bergegas ke mesjid ini menunaikan kewajiban. Sesaat sebelum iqamat, seorang panitia mengumumkan beberapa pemberitahuan. beberapa poin pemberitahuan tidak terlalu menarik perhatianku sampai pada saat diakhir pengumuman, dia mengatakan bahwa "barangsiapa yang membawa anak kecil, harap dijaga supaya tidak mengganggu kekhusyukan salat. aku tiba-tiba langsung terkesiap mendengar pengumuman itu, apa kaitannya anak kecil dengan shalat khusyuk? siapa yang bisa melebihi kekhusyukan shalat Nabi Muhammad SAW, bahkan Beliau pernah shalat sambil menggendong cucunya.

"Berdasarkan riwayat dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW pernah shalat, sementara Umamah —anak perempuan Zainab, yakni putri Rasulullah SAW— di bahu beliau. Jika Rasul rukuk, maka beliau meletakkan anak itu dan jika bangkit dari sujud, maka beliau mengangkatnya dan meletakkannya kembali di atas bahu beliau. Amir berkata, "Aku tidak menanyakan shalat apa sebenarnya yang beliau lakukan ketika itu." Namun, Ibnu Juraij berkata, "Aku diberitahukan oleh Zaib bin Abu Itab dari Umar bin Sulaim bahwa shalat yang dikerjakan Rasul SAW saat itu adalah shalat Subuh.” (HR Bukhari, sebagaimana dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah)".

Entah apa yang ada di pikiran setiap orang ketika melarang anak kecil berlari dan bermain di dalam masjid saat salat sedang berlangsung? aku sendiri sama sekali merasa tidak terganggu bahkan sangat senang ketika melihat dan mendengar anak kecil bermain sambil tertawa tanpa merasa terganggu dengan apa yang sedang kukerjakan termasuk itu ketika aku sedang shalat.

Senja dan Basah

senja yang basah
dengan senandung semesta riang
malam mengintip
dalam heningnya yang bisu
dan senja yang basah
Mencairkan malam yang hening dalam gelap
Kemudian berlari menyambut pagi
Dan senja yang basah
Hadir dengan sejuta makna

Saya mengedit tulisan-tulisan saya yang berserakan beberapa tahun yang lalu. tulisan yang memalukan tentang usaha saya menulis puisi-puisi norak. terlalu banyak puisi semacam itu yang membuat saya tidak mampu menghapus atau merevisi satu persatu. selain itu, saya juga merasa kalau saya hapus maka tidak ada bahan saya merevisi kekonyolan saya dulu yang berusaha ingin menulis puisi tanpa ada dasar sama sekali.

biasanya kalau saya menulis puisi seperti ini, saya baru saja membaca puisi yang menurut saya keren dan saya bisa juga menulis seperti itu dan setiap saya coba, selalu berakhir dengan puisi yang konyol dan memalukan. saya tidak ingat puisi apa yang baru saya baca saat itu.

Saya harus mengakui bahwa kemampuan menulis saya sangat payah. beberapa genre tulisan sudah saya coba namun tidak ada yang berhasil. mulai dari puisi, cerpen, renungan, humor dan tulisan apa pun namun all of that didn't works. agak sedikit sedih sebenarnya membayangkan kapasitas diri saya yang benar-benar tidak mampu berada pada level yang membanggakan bahkan dalam hal apapun. entah itu pekerjaan, hobi, soft skill, dan bidang lainnya yang pernah saya jalani namun semua failed. terkadang ingin memaki diri namun takut kufur nikmat, jadi ya sudah, dijalani dengan hati yang lapang. (diedit 2021)

December 17, 2013

Perpisahan

perpisahan itu amat sangat perih. Dia menyisakan beribu rasa yang menyiksa, air mata yang tak tertahan dan mungkin tangis yg pecah tanpa kenal waktu. Perpisahan mungkin salah satu hal yang paling dibenci oleh setiap orang yang sedang mencinta, namun dibalik wajah yang menyebalkan, perpisahan pula mengajarkan berbagai bentuk kondisi yang sebelumnya tidak terasa. Dia mengajarkan arti mencintai, mengajarkan pula arti kebersamaan bahkan dalam bentuknya yang paling bengis, perpisahan menyisakan arti kerinduan yang mendalam.

kalau ingin mengerti arti mencinta, merindu dan air mata yang tak tertahan maka berpisahlah untuk sementara waktu. Setahuku, sekeras bagaimanapun hatiku seseorang, dia akan takluk juga pada yang namanya perpisahan.

Cinta, Keluarga, Sahabat

Kalau bicara soal sahabat, mungkin semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tidak tau dari sudut mana namun suatu kebebasan untuk semua individu mengatakan sahabat itu seperti apa?? Ah, aku merasa akhir -akhir ini terlalu melankolis, terlalu banyak menulis hal-hal yang sentimental namun tidak apalah yang penting menulis. 

Oh iya, kepada ke sahabat tadi, kalau orang punya pemikiran tersendiri tentang sahabat maka akupun demikian. Menurutku, sahabat itu adalah sosok yang dirindukan, kita tenang saat berada di dekatnya dan tidak risau atas guyonannya dan yang utama bahwa dia tulus mendoakan kebaikan buat diri kita dan tidak pernah sama sekali iri atas pencapaian yang kita raih bahkan dia malah ikut senang. 

Kalau indikasi yang ini sangat tidak empiris, hal ini sangat subjektif dan hanya bisa dirasa oleh pribadi kita masing-masing. Terkadang orang yang menganggap kita sahabat seringkali sesungguhnya menjadikan kita kompetitor bahkan selalu berusaha diatas kita walau dari mulutnya keluar beribu doa buat namun hati tidak bisa dikibuli seperti itu.

Cinta mungkin tidak lepas dari sahabat. persahabatan pasti akan berbicara tentang cinta kepada mereka. Aku ingat jelas saat masih kuliah, seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mencari seorang sahabat, dia hanya ingin mencari seorang teman. alasannya karena trauma, pernah sekali waktu dia punya sahabat dan sudah sangat percaya terhadap sahabatnya namun dalam perjalanan persahabatannya, dia dikhianati oleh sahabatnya. 

Kasus ini mungkin sangat lumrah karena dalam setiap interaksi manusia, selalu saja tidak bebas nilai, selalu akan ada kepentingan dalam sebuah interaksi dan yang membedakan hanyalah apakah kepentingannya berupa ego atau altruistik.

December 16, 2013

Angkringan Samping Terminal

Salah satu tempat favoritku melepas penat saat di jejali dengan rutinitas yang tidak ada habisnya adalah angkringan. Aku bisa merasakan begitu banyak sensasi kebebasan saat bersandar sambil menikmati gorengan dan susu. Lalu lalang pembeli yang dengan santainya membuatku lumayan fresh bahwa hidup sebenarnya tidak sekejam yang ada di benakku. Angkringan mungkin menjadi salah satu tempat melihat realita dari sudut lain yang sedang kujalani.

Salah satu angkringan yang sering kusambangi adalah angkringan di samping terminal lama pas berseblahan dengan pos polisi. Angkringan ini lumayan strategis dan dari pengamatanku jauh-jauh hari lumayan laris dibanding dengan beberapa angkringan yang laris selain angkringan black yang di jalan trunojoyo. Pemilik angkringan ini namanya mbak sri, dia sering berjaga shift dengan suaminya karena buka sampai pagi, aku tidak tahu nama suaminya.

Mbak sri ini lumayan amat ramah, terpancar di wajahnya yang ceria ketika melayani pembelinya tanpa terlihat sedikitpun rasa lelah di wajahnya yang ada hanya senyum tipis dari bibirnya sambil menyapa satu persatu pelanggannya

suami mb sri ini agak sedikit kalem. dia melayani dengan telaten, meski agak kalem tapi dia juga sangat ramah

PS. sebelumnya ada beberapa foto yang saya tampilkan di postingan ini namun saya memutuskan untuk menghapuskan karena berbagai pertimbangan.

Mereka Yang Sering Kujumpai

Setahun lamanya bermukim di Ngawi, ada begitu banyak orang yang sering kutemui, berinteraksi dengan mereka dan bercengkerama, namun hanya ada tiga makhluk yang hampir pasti kujumpai dalam sehari kecuali hari minggu. Mereka bisa dikatakan rekan kerja yang selalu dan setiap saat ada di sampingku dengan berbagai kelakar, pembicaraan serius bahkan guyonan-guyonan jayus diantara kami dan terkadang juga saling bergosip.

Praktis hanya m*ir yang seumuran denganku karena dua yang lainnya jauh diatasku. aku menyadari kami dalam ikatan kerja dan hubungan yang kami bangun pun tak terlepas dari hubungan rekan kerja tetapi terlepas dari itu semua, kembali lagi bahwa kami masih makhluk yang bernama manusia dan tentunya saja masih punya hati dan itulah yang membuat kami terjalin seperti saudara meski terkadang ada konfrontasi tapi tak apalah karena itu namanya manusia.

Ini yang pertama, dia adalah Group leader di Ngawi, asli orang Bl**r. Awal bertemu dengannya, aku tidak mengerti kalau ternyata dia adalah pimpinan, perawakannya yang putih dan kelihatan masih muda. Aku bahkan berpikir kala itu dia seumur denganku ternyata dia masih jauh lebih tua 6 tahun persis seumur dengan kakakkku yang sulung. Bahkan dia sudah punya putra 1 yang kira-kira umurnya 5 tahun

Rekan kerja yang satu ini sudah amat sangat lama bergelut di dunia marketing. dia sudah malang melintang dari kota satu ke kota lainnya di jawa Timur. Dia alumni unair jurusan sosio tahun 1996. Anaknya ada dua, putra dan putri. Pertama kali bertemu dengannya, aku malah mengira dia pimpinan Ngawi.

Kawan yang satu inilah yang amat paling sering kulihat, kurasakan bau tubuhnya atau apapun yang berhubungan dengannya karena dia seumuran denganku, bareng denganku masuk di Perusahaan bahkan sekamar selama di ngawi. Mungkin setiap pribadi ada sisi yang tidak cocok namun aku selalu berkeyakinan bahwa setiap orang yang telah menghiasi hidup kita sehar-hari adalah orang yang terbaik untuk ditemani. Kadang muncul ketidak cocokan namun itu hal yang amat sangat lumrah dalam sebuah interaksi sosial sepanjang tidak merusak hubungan pertemanan.

Bersama ketiga orang tersebut, aku merangkai hariku di Ngawi. Bercengkerama, bersama dalam beberapa perbedaan budaya karena aku dari Pulau seberang sedangkan mereka asli pribumi. Perbedaan budaya akan tetap ada namun satu hal yang pasti bahwa ketika kita masih berlabel manusia maka kebaikan tetaplah sama karena kebaikan itu universal dalam artian bahwa ketika kita mencoba menjadi pribadi yang baik maka kita akan tetap diterima di komunitas apapun meski dengan begitu banyak perbedaan budaya.

Rangkaian pengalaman-pengalaman yang pada nantinya akan membentuk sebuah susunan puzzle yang mengokohkan pendirian seseorang di masa depan. sebuah bentukan karakter yang dibangun dari berbagai pengalaman masa lalu.

Sudah terlalu banyak aku menulis tentang kebaikan, tentang hidup, tentang diri ataupun tentang yang kedengarannya filosofis namun masih saja aku seperti ini, belum banyak berbuat seperti yang aku tulis. Huh, penat juga cuma menulis namun tidak teraplikasikan.

December 13, 2013

Tersisa dari Masa Kuliah

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan blog seorang kawan yang sering ikut aksi jalanan saat masih kuliah. Aku mencoba menguraikan sendiri isi pikiranku karena agak sepakat dengan alur berpikirnya. Apapun pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, jangan pernah melupakan nilai -nilai perjuangan yang pernah dipelajari, diperjuangkan dan sangat diyakini. Jangan sampai pekerjaan mendistorsi semua nilai perjuangan hidup yang pernah menjadi jargon saat mahasiswa dulu. Paling tidak pikiran harus tetap dijaga dari perkara yang akan melunturkan semangat nilai perjuangan.

Mungkin tidak semilitan dulu dan aku sangat yakin bahwa aku sedang tidak berada pada kondisi yang begitu idealis seperti saat masih kuliah dulu namun aku juga masih tetap menjaga beberapa nilai yang kuanggapa sangat prinsipil dan tidak bisa dikompromikan dengan keadaan bagaimanapun. 

Kebebasan berpikir adalah salah satu yang tetap ingin kulestarikan meskipun aku terjun dalam pekerjaan yang berbasis kapitalis nan sangat eksploitatif, bahkan juga budaya gratifikasi menjadi momok yang sangat menyebalkan disaat aku bekerja di Perusahaan yang melegalkan hal seperti itu. 

Bukan saja aku terkesan sangat naif ataupun dengan bahasa yang lebih kejam aku ini munafik karena tetap bertahan di sebuah lingkungan yang mana hatiku berontak untuk tidak melakoni budaya gratifikasi tetapi tetap saja diriku punya pembelaan untuk membenarkan aku masih tetap di sini sampai saat ini. 

Pembelaan pertamaku karena aku berniat membantu adikku yang masih kuliah kemudian pembelaan kedua adalah aku berusaha komitmen dan bertanggung jawab atas apa yang telah aku putuskan karena ketika aku begitu saja berbalik arah meninggalkan pekerjaan yang sementara ini sedang kujalani berarti juga aku meninggalkan tanggung jawab buat orang yang kelak akan menggantikanku dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.

Terlepas dari itu semua bahwa aku masih saja membutuhkan aliran dana dari perusahaan kapitalistik untuk bertahan hidup di negeri rantau sembari mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan pribadi dan bisa membebaskan pikiranku. Pekerjaan persoalan idealisme dan kebutuhan perut seperti yang sering aku tulis sebelumnya namun bukan hal yang mustahil juga menyelaraskan antara keduanya. 

Aku sekarang sedang berada pada akhir tanggunganku di tempat ini dan mungkin saja sebentar lagi aku akan lepas dan beranjak ke tempat lain mengais rejeki. Perjalanan yang begitu sangat melelahkan dan menguras pikiran sampai harus jatuh bangun mempertahankan isi pikiran yang tidak akan kubiarkan bias oleh kepentingan diri.

kekhawatiranku adalah ketidaktegasan terhadap diriku akan membuat pendirianku semakin goyah.  

Nostalgia Awal

Benar -benar tak terasa, hampir setahun lamanya aku bekerja di Ngawi, menghabiskan waktuku menjadi karyawan di salah satu perusahaan penerbit nasional. Aku sesungguhnya tidak menyangka sama sekali akan menghabiskan setahun waktuku bekerja di sini namun begitulah cerita lagit yang ditakdirkan kepadaku dan aku hanya berusaha menjalani dengan aturan-aturan langit.

Menjelang akhir tahun ini, aku sedang menikmati hari-hari terakhir bekerja dan tinggal di kota ini yang dekat dengan perbatasan jawa tengah dan Jawa timur. Benarlah bahwa awal menjalani pekerjaan di sini sebagai seorang pemasaran yang harus berlomba dengan target benar-benar melelahkan fisik dan raga, setiap saat harus dihabiskan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kemudian berburu waktu dari sekolah satu ke sekolah lainnya dan terkadang melupakan keselamatan di rimba jalanan namun risiko pekerjaan yang telah kupilih harus tetap kujalani. Salah satu Manager marketing sby 2, pak SN mengatakan bahwa tidak ada yang menyuruh kalian mendaftar dan bekerja di sini jadi jika ada yang merasa terjebak bekerja di sini, hanya ada dua opsi, mengajukan surat resign atau belajar mendalami pekerjaan ini dan totalitas dalam bekerja". Pernyataan beliau sampaikan di training karyawan baru sekitar bulan Mei di kantor cabang surabaya Jln. Berbek industri 7 Waru. Aku mengamini pernyataan beliau karena pilihan kita dalam hidup adalah pilihan sadar dan itu yang terjadi di setiap keputusan-keputusan yang diambil dalam segala hal.

Aku yakin bahwa hidup ini semuanya indah bahkan kondisi yang dianggap manusia sebagai kondisi sulit juga sebenarnya sangat menyenangkan. Dengar saja penuturan kisah orang-orang sukses yang berbagi pengalaman di acara seminar, mereka dengan sangat bangga menceritakan semua pengalaman susah mereka saat baru berjuang menggapai kesuksesan, tak sedikit pun tergores penyesalan dari wajah mereka saat berbagi kisah tentang itu bahkan kebanggaan lah yang terpancar di wajah mereka karena pernah melewati masa sulit. Itulah yang menyadarkanku bahwa memang apapun kondisi hidup kita tidak akan pernah mengurangi keindahan hidup namun hidup itu akan menjadi sangat indah ketika sudah tersisa sebagai kenangan.

Potongan hidupku di Ngawi pun seperti itu. Meski awalnya aku harus melawan egoku selalu saja mengeluh tentang pekerjaan yang sedang kujalani namun di lain sisi, aku selalu saja yakin bahwa kenangan di Ngawi alan menjadi sangat terasa indah ketika aku mampu melewati dengan menikmati alurnya. Bahkan menjelang akhir tahun yang juga berarti bulan terakhir aku di sini, aku sudah merasa sangat berat meninggalkan kota kecil ini. Kenangan setahun mengitari kota ini benar-benar membuat langkahku enggan bergerak walau kusadari bahwa hidup harus terus berjalan dan jangan pernah terbuai oleh nostalgia yang melenakan karena masih banyak tempat di bumi ini yang akan menjadi tempat menggoreskan cerita hidup. Memang dalam setiap perjalanan itu, ada beberapa titik yang sangat berat untuk ditinggalkan ketika hati sudah terpaut disana. Namun ingat, titik-titik itu yang akan menghalangimu berlomba dengan waktu jika engkau membiarkan ragamu tinggal terpaku di zona nyaman. Perluaslah zona nyamanmu hingga akhirnya suatu saat nanti, semua tempat akan menjadi zona nyaman bagimu.

begitulah satu lagi potongan cerita hidup dalam babak yang sebentar lagi akan kuselesaikan. Babak kehidupan di kota Ngawi selama satu tahun. Mengenal dengan baik kota ini sampai pada setiap pelosok desa. Mengiringi setiap jalan setapak kemudian masuk di setiap sekolahan smp menunggu guru-guru yang sedang mengajar kemudian bercuap-cuap kemudian berlalu.

Aku benar-benar menghabiskan waktu setahun di sini mengiringi waktu memutari kota ini. Menikmati setiap sisi pemandangan yang ditawarkan kota ini. Kota yang terletak tepat di jalan trans jawa yang semakin membuat kota ini bising di setiap waktunya. Setiap kendaraan seakan berada di arena balap mengendarai mobil bahkan motor mereka.

Namun seperti itulah kota ini, apapun keadaan kota ini, bahwa aku telah menggoreskan setahun kisahku disini, mengukir di setiap helai daun dengan tetesan air hujan. Menyingggahi setiap warung pojokan sambil membaur menjadi warga kota ini bahkan dalam beberapa episode kehidupanku disini, aku seperti orang asli. Yah itulah kota Ngawi dengan segala kisahku menghabiskan waktu setahun disini selama 2013.

Kerena Waktu

dan akhirnya
waktu terus menjalankan takdirnya
tanpa berhenti sedetik pun
membawa semua cerita
menyisakan potongan jejak kaki tak berbekas
dan akhirnya
setelah berjalan cukup lama
waktu tak kunjung kalah
dia tetap melaju
walau aku harus berhenti
mengambil nafas lalu memburu kembali waktu
malam mulai menggores ceritaku
bahkan senja menyimpannya dengan amat sangat rapi
tak sedikitpun terlupa