May 27, 2022
Kematian #2
May 20, 2022
Kematian #1
April 28, 2022
Mudik
Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan saya mudik dengan anak saya. sebuah pertimbangan yang sulit karena harus lebaran terpisah dengan istri yang harus menemani mertua lebaran di Jakarta. saya sendiri mau tidak mau harus lebaran dengan orang tua karena sudah 2 tahun tidak pernah bersama lebaran sejak pandemi. 2 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk tidak lebaran bersama orang tua sejak saya merantau 10 tahun silam.
Keputusan untuk mudik sangat mendadak karena mengikuti keputusan pemerintah yang akhirnya menetapkan liburan idul fitri dengan pertimbangan pandemi sudah mulai mereda. Pemerintah menetapkan libur idul fitri dua minggu sebelumnya. bersamaan dengan keputusan pemerintah, harga tiket pesawat serta merta melambung tinggi. sebuah dilema bagi perantau seperti saya dengan pemasukan yang pas-pasan, mau pulang dompet menipis, tidak pulang rindu membuncah. Setelah menimbang banyak hal terutama persoalan dana, saya akhirnya memantapkan hati untuk mudik tanggal 27 April. Saya membeli tiket pesawat yang paling murah meskipun jam berangkat pukul 04.00 wib dini hari.
Sejatinya cuti bersama tanggal 29 April namun untuk menghindari peak mudik dan tiket pesawat yang terlalu mahal, saya akhirnya memutuskan untuk cuti dua hari sebelumnya.
Pada tanggal 27 April, kami berangkat ke bandara jam 1 dini hari. Saya berangkat lebih awal karena mengantisipasi macet di tol ternyata ketika melintasi sepanjang tol jor, sama sekali tidak terlihat kepadatan kendaraan, mungkin karena kami mudik lebih awal dan juga masih dini hari.
Jalan tol yang lengang membuat kami tiba di bandara lebih awal. saya memutuskan untuk chek in lebih cepat supaya bisa istirahat di ruang tunggu. anak saya terlihat masih ngantuk dan saya pun sedikit agak sempoyongan karena harus membawa dua tas besar.
Sebelum boarding, saya menyempatkan sahur dengan sepotong roti dan sebotol air mineral. untungnya pesawat tidak delay sehingga pertimbangan waktu tepat. Perjalanan kami ke bandara Hasanuddin cukup lancar karena cuaca juga sangat baik. Kami tiba sesuai jadwal pada pukul 07.30 Wita.
Persoalan berikutnya adalah travel ke kampung karena jam segitu, semua travel sudah berangkat. kami dibantu oleh salah seorang sepupu yang berprofesi sebagai polisi di wilayah bandara. Dia mengantar kami mencari travel yang menuju arah Toraja.
Perjalanan ke kampung pun lancar meskipun ketika memasuki kampung, hujan deras mengguyur dan kami harus menumpang mobil lain menuju rumah.
Akhirnya tiba di kampung dengan selamat.
April 2, 2022
Ramadan 1443 H
Hari ini adalah hari pertama puasa yang ditetapkan oleh Muhammadiyah sedangkan NU dan Pemerintah menetapkan 1 ramadan jatuh pada esok hari. Sebuah dilema bagi saya yang berasal dari kultur Muhammadiyah namun hidup di tengah mayoritas warga NU. Pada dasarnya, tidak ada persoalan bagi saya karena perbedaan adalah sebuah hal yang seharusnya disikapi dengan bijak namun kebingungan muncul ketika membayangkan bahwa kemungkinan saya akan mudik dan tentu saja, idul fitri di kampungku mengikuti penetapan Muhammadiyah sedangkan saya sendiri memulai puasa mengikuti penetapan NU.
Kebingungan tersebut hanya sekadar membayangkan apakah saya boleh ikut idul fitri yang ditetapkan oleh Muhammadiyah atau kah saya harus berpuasa sehari lagi mengikuti NU di tengah keluarga saya yang tentunya sudah merayakan lebaran. Seingat saya, setelah sekian lama merantau, baru kali ini saya agak merisaukan perbedaan ini karena persoalan teknis mengenai idul fitri.
March 29, 2022
Bandara Hasanuddin
Saya tiba di bandara dari kampung pukul 02.00 wita. jam yang cukup krusial karena biasnya saya masih pulas di jam segitu, apalagi tidak ada space yang nyaman untuk istirahat di bandara. Saya akhirnya memilih bersandar di dinding loket Lion parcel yang masih tutup.
Saya harus menempuh perjalanan di waktu subuh dinihari karena jam 8 harus terbang kembali ke ibu kota.
Kepulangan saya kali ini sebenarnya tidak direncanakan. hanya saja ada urusan yang saya kerjakan di sini sehingga menyempatkan pulang kampung. seingat saya, hal seperti ini sudah beberapa kali saya lakukan untuk sekadar menengok orang tua yang semakin renta.
Setelah menunggu dua setengah jam di lobi bandara, saya kemudian memilih untuk chek in sekaligus shalat subuh di ruang tunggu. Di bandara kota ini, penumpang chek in selalu antri panjang, maklum karena bandara ini tempat transit para pejalan dari barat ke timur dan sebaliknya.
Saya shalat di musala gate 1 kemudian memilih untuk menikmati secangkir karamel dan sepotong kue di Gloria Jean's karena cukup dekat dengan gate 1 tempat boarding pesawat tumpangan saya.
Sedikit agak kaget melihat harga yang harus saya bayar sebesar seratus dua ribu dengan hidangan secangkir karamel dan sepotong kue. Namun kemudian saya menyadari bahwa bisnis di bandara memang mahal kemudian saya berpura-pura untuk menikmati suasana.
Sebentar lagi saya harus boarding.
Gate 1 Bandara st Hasanuddin, 29.3.2022
February 28, 2022
Dinamika Februari
Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melewati bulan Februari dengan perasaan yang sangat fluktuatif. Bulan yang katanya bulan kasih sayang ini, benar-benar menguras emosiku. Saya baru bisa menertawakan kemudian bersyukur atas semua, tentunya setelah dilewati kemudian diingat kembali. Sejatinya memang hidup seperti itu, semenyeramkan apapun hidup yang dialami, ketika sudah dilewati maka seringkali menjadi masa lalu yang lucu untuk diceritakan. Begitulah Februari yang mencampakkanku kemudian menyelamatkanku dari kubangan masalah.
Bagaimana tidak, di minggu pertama Februari tepatnya tanggal 7 Februari, badan saya rasanya remuk dan bola mata saya pegal setiap saat. Gejala yang sama pada hampir semua penderita Covid varian omicron. Atas dasar diagnosa pribadi dan mencoba untuk melindungi keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan tes PCR. Saya harus menunggu sehari sebelum tes PCR keluar.
Esok hari sekitar jam 12 siang, hasil PCR saya keluar di aplikasi Halodoc. Perkiraan saya tidak meleset, ternyata saya terpapar Covid Omicron. Saya kemudian melakukan isoman di dalam kamar karena ada keluarga di rumah. Saya mendapat seabrek obat dari kemenkes yang pada akhirnya tidak saya minum semua.
Dua hari setelah saya dinyatakan positif, anak, isteri dan mertua PCR untuk mengantisipasi terpapar. Malam hari hasil tes mereka keluar dan ternyata memang semua terpapar. namun untungnya, tidak ada gejala berarti yang mereka rasakan sebagaimana yang saya alami.
Menjalani isoman membuat saya sedikit agak frustasi karena pada saat itu, saya juga sedang menunggu jadwal sidang ujian akhir. di hari ketiga isoman, pihak kampus memberikan saya informasi bahwa sidang ujian akhir saya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari, artinya bahwa saya mempunyai empat hari untuk belajar dan mempersiapkan diri ujian.
Terpapar Covid di masa sedang menunggu ujian memang menjadi dilema. Di satu sisi membuat saya agak frustasi karena tidak bisa konsentrasi penuh untuk belajar namun di sisi lain, saya mengucapkan syukur karena mempunyai waktu lebih untuk fokus pada ujian akhir. Artinya saya tidak terdistraksi dengan pekerjaan kantor karena orang kantor sadar bahwa saya sedang isoman dan tidak diberikan tugas tambahan.
Tepat tanggal 14 Februari pukul 19.00 WIb, ujian akhir saya berlangsung meskipun tidak maksimal. Saya merasa bahwa seharusnya saya bisa melakukan hal yang lebih di sidang misalnya menjawab pertanyaan penguji dengan baik namun apa daya, saya seperti kehilangan ide untuk kemudian bertarung kata dengan penguji.
Sidang berlangsung dua jam dan berakhir dengan baik meskipun tidak maksimal. Saya dinyatakan lulus dengan catatan harus melakukan revisi tesis khususnya operasionalisasi teori maksimal sebulan setelah sidang.
Esok harinya, saya mencoba melakukan tes antigen untuk sekedar mengetahui hasil tes saya setelah seminggu isoman. Hal ini juga saya maksudkan agar saya bisa ke kampus mencari referensi tambahan saat revisi tesis. Hasil antigen saya ternyata sudah negatif dan esok harinya, saya ke kampus untuk mencari referensi tambahan.
Saya berkutat dengan revisi tesi selama dua minggu yang akhirnya disetujui oleh seluruh penguji tepat di tanggal 28 Februari 2022. sebuah perasaan senang karena Februari terlewati dengan perasaan lega.
Sekarang Maret dan semoga semua hal yang dihadapkan bagi saya di bulan ini bisa saya lewati dengan maksimal.
28.2.2022
January 16, 2022
Merenungi Impian
Di umur yang
setua ini, saya merasa bahwa kapasitas intektual saya semakin menurun
dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak menyalahkan takdir
saya yang menempatkan saya sebagai karyawan Perusahaan yang profit oriented namun
saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan membawa saya dalam kondisi yang
tidak mampu merenungkan hal-hal prinsipil dalam hidup saya, bahkan saya merasa
bahwa beberapa poin prinsip yang dulunya kupegang erat, mulai runtuh satu demi
satu dan harus menjustifikasi tindakan saya sebagai seorang pekerja.
Di umur sekian,
saya sama sekali tidak mengetahui apakah saya masih bisa punya peluang untuk kembali
ke diri saya bergelut dengan dunia yang membuat saya senang. saya tidak tahu
pasti jika suatu saat nanti takdir membawaku ke dunia yang berhubungan dengan
pendidikan saya, apakah saya akan menyenanginya namun setidaknya sampai detik
ini, saya memimpikan dunia tersebut, kondisi yang membuat saya mampu meramu
dunia ideal dalam pikiran saya tanpa direduksi oleh kepentingan duniawi.
Bukannya saya
tidak berani untuk mendeklarasikan apa yang saya impikan namun saya takut
kepada Sang Semesta. Saya khawatir menjadi manusia yang kufur nikmat ketika
diberikan sesuatu namun tidak menyukainya.
Semalam, saya
membuka beberapa lembaran impian saya yang pernah ditulis dan ternyata beberapa
impian tersebut terwujud. Lalu apa yang saya rasakan? Ternyata tidak sesuai
dengan rasaku. Saya selalu menginginkan yang lain. Misalnya saya bermimpi untuk
bekerja dan mempunyai rumah di kota ini namun ternyata impian tersebut tidak
sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.
Memang saya
menyicil rumah di kota ini namun hati tidak benar-benar tinggal di rumah itu. Bagaimana
tidak, takdir membawaku di sebuah lingkungan yang tidak sehat untuk psikis. Rumah
saya diapit oleh beberapa rumah tetangga dan setiap masuk keluar rumah, harus
melalui berada tetangga yang sama sekali tidak mengenakkan. Apatahlagi satpam
depan rumah yang benar-benar sangat tidak bersahabat.
Memang saya
bekerja di kota ini sesuai dengan impianku. Bukannya tidak bersyukur bahkan
saya menikmati setiap takdirku, namun pekerjaanku jauh dari kondisi yang
memungkinkanku untuk memeluk beberapa prinsip dasar dalam nuraniku. Saya harus
selalu menjustifikasi beberapa nilai yang sebenarnya menurutku bisa dihindari,
namun ternyata tidak semudah dengan khayalan-khayalan masa lalu.
Setelah sekian
lama, saya berpikir bahwa Sang Maha Pemilik benar-benar satu-satunya yang
mengetahui apa yang baik untuk manusia seperti saya. Impian-impian yang penuh
nafsu hanya akan menggiring kita ke kondisi yang menyiksa batin. Setelah itu, Nurani
mati sedangkan tubuh masih bergerak secara mekanik.
Mengerikan membayangkan
apa yang saya khawatirkan terjadi padaku. Hidup secara mekanik yang tidak lebih
baik dari robot yang bergerak tanpa tujuan.
January 15, 2022
Gempa
Seingat saya, selama berada di ibu kota, sudah dua kali saya merasakan gempa yang benar-benar mengkhawatirkan. pertama sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. ketika itu maghrib baru saja berlalu sedangkan waktu isya belum tiba. di rentang waktu antara maghrib dan isya, keluarga biasanya melepas penat sambil bercengkerama, begitupun dengan kami yang sedang menghabiskan waktu untuk bercerita dan makan malam.
Tiba-tiba saja saya merasa pusing dan tembok rumah seakan runtuh. sesaat kemudian saya belum menyadari bahwa telah terjadi gempa. maklum karena seumur hidup saya, jarang sekali saya merasakan gempa. setelah sepersekian detik, goncangan makin keras kemudian terdengar orang-orang yang berhamburan keluar rumah. seketika itu saya menyadari bahwa telah terjadi gempa.
Tanpa pikir panjang, saya menggendong anak saya dan mengajak keluar rumah isteri dan mertua. di jalan depan rumah, sudah dipenuhi oleh orang-orang yang keluar dari rumahnya. saya merasakan kepalaku masih sangat pusing dengan gempa yang barusan terjadi. untunglah setelah itu, tidak ada lagi gempa susulan yang dirasakan. kami kembali ke rumah dengan perasaan was-was
Gempa kedua yang saya rasakan di kota ini terjadi kemarin sore. ketika itu saya sedang di lantai tiga kantor yang terletak di monginsidi. saya sebenarnya tidak terlalu merasakan goncangan yang keras namun kepala saya terasa amat pusing. semua karyawan berhamburan keluar kantor dan memadati pinggir jalan. saya meraih dompet dan hp yang tergeletak di laci meja saya kemudian keluar kantor.
Satu hal yang langsung terpikir di benak saya adalah anak isteri yang hanya berdua di rumah. saya segera menelon mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. seperti dugaanku, dia mengabari bahwa gempa sudah berlalu beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah aman. perasaanku sedikit tenang namun tetap merasa was-was karena gempa biasanya terjadi tidak hanya sekali namun seringkali diikuti gempa susulan.
Jam 5 sore saya bergegas pulang. memastikan untuk segera tiba di rumah, setidaknya jika terjadi lagi gempa, isteri saya tidak terlalu panik karena ada saya. untunglah sampai malam tidak ada getaran yang terasa.
Saya menelepon ibu di kampung dan berpesan untuk berjaga di malam hari. saya tidak jam satu kurang. sampai pagi tidak terjadi lagi gempa.
semoga selalu dilindungi dari bencana
15 1 2022
January 3, 2022
Trip 1 2022
Perjalanan pertama di tahun 2022. menuju negeri minang yang sempat saya singgahi di tahun 2018. biasanya kalau saya sudah pernah mengunjungi suatu tempat maka tidak terlalu bergairah. namun harus dijalani karena tugas.
Satu hal yang membuat perjalanan kali ini sedikit mengesankan karena di hari ketiga tahun 2022, selain itu maka semua sama saja, dalam artian gairah untuk melihat sesuatu yang indrawi namun sejatinya bahwa perjalanan selalu berada di situasi bersamaan dengan hikmah yang inheren, hanya saja bagaimana kita untuk memetik hikmah yang berserakan. sebuah kota yang dikunjungi dua kali selalu menawarkan pelajaran yang berbeda.
Saya sudah lupa berapa kali saya melakukan perjalanan ke seantero nusantara sejak 2016 bahkan ada beberapa tempat yang sudah saya kunjungi dua bahkan tiga kali dan selalu saja pelajaran hikmah yang saya dapat berbeda dalam ruang dan waktu yang berbeda juga.
Saya masih duduk di ruang tunggu E4 terminal 2. belum ada tanda tanda panggilan untuk boarding. saya sengaja berangkat lebih pagi dari rumah karena khawatir macet di jalan mengingat hari ini adalah hari pertama kerja setelah liburan tahun baru.
Di Bandara, tidak terlalu ramai hiruk pikuk penumpang. saya menduga mungkin liburan mereka belum usai. bandara benar benar sepi dari biasanya.
Saya duduk terpaku. menerawang tahun 2022 yang akan saya hadapi. Saya mengira-ngira apa yang akan terjadi di tahun ini. Apakah akan ada progress atas target atau kembali meleset seperti sebelumnya.
Entahlah, hidup hanya butuh untuk dijalani dengan sebenar-benarnya, selebihnya biarkan Sang Maha Pemilik Semesta yang menentukan.
Saya hanya butuh merapalkan doa doa terbaik.
Mungkin sebentar lagi ada panggilan boarding. Saya sudahi tulisan ini dengan harapan semua baik baik saja di tahun ini
3 Januari 2022
January 2, 2022
Latihan Diri
Tips ini saya salin dari instagram "successparty"
do these for 30 days straight (no cheating)
- turn off your phone before going to bed
- take one hour to do deep work (no distraction) before turning on your phone
- read at least 10 pages a day (self help books, business etc)
- workout at least 3 times a week
- track your progress
January 1, 2022
1 Januari 2022
Setahun yang lalu atau sehari sebelumnya, saya sudah menuliskan beberapa hal yang ingin kulakukan di tahun ini yang merupakan refleksi atas kekurangan di tahun-tahun sebelumnya.
di hari pertama ini, tidak banyak yang saya lakukan. semua rutinitas seperti biasa hanya saja saya menguatkan diri untuk tidak terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia, nonton youtube atau scroll sosial media. mungkin tidak langsung bisa saya tinggalkan namun setidaknya mengurangi day by day.
Saya masih bangun terlalu pagi tadi, kemudian meninggalkan rutinitas olahraga. setelah itu sedikit belajar dan keluar membeli keperluan sehari-hari. rutinitas yang sama sebenarnya saya lakukan tahun sebelumnya.
kalau ada yang kurang, mungkin tugas kuliah yang tidak kunjung kelar. rasanya agak berat namun bagaimana lagi, tetap harus diselesaikan dengan berbagai distraksi yang selalu menghantui. ketika distraksi teratasi, otak tidak kunjung menemukan ide yang akan ditulis.
Memang, semua hal punya tantangannya masing-masing.
Hidup berjalan seperti biasanya dengan berbagai dinamika
December 31, 2021
31 Desember 2021
Tidak ada pengharapan apa-apa, hanya sedikit refleksi untuk diri yang terlalu lama dalam ruang yang sama. hanya ingin bertahan dan menjalani hidup dengan baik-baik saja. seperti yang dinyanyikan Fstvlst "Sementara terasa baik-baik saja, Walau yang sebenar-benarnya Bukan ini rencananya"
Setelah ini, semua akan berjalan seperti biasa. saya kembali akan menghabiskan waktu dalam kesepian, sesekali dengan hal-hal yang absurd.
Minimal, saya menemukan diriku seperti beberapa tahun lalu ketika saya mencintai pengetahuan, larut dalam pembelajaran diri dan memaksa diri untuk tidak terjebak dalam zona nyaman.
Mengurangi rasa iri yang negatif dengan pencapaian orang lain. lebih banyak membaca buku. bercengkerama dengan yang Maha. menjadi teman bagi anak dan isteri. sesering mungkin menjenguk orang tua di kampung. lebih meningkatkan kualitas diri dalam segala hal. berada di lingkungan yang sehat secara fisik dan mental. tidak cemas dan tidak khawatir terhadap hal yang sudah dan belum dijalani.
Saya akan meninggalkan pertemanan yang tidak membawa saya ke perubahan yang lebih positif, saya juga akan berhenti untuk bercanda yang berlebihan dan kemungkinan menyakiti perasaan orang lain namun saya juga akan berhenti untuk berusaha menyenangkan semua orang.
Saya berharap dan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kebiasaan menceritakan keburukan orang lain. saya pernah membaca tulisan bahwa puncak tertinggi kemampuan orang yang lemah adalah membicarakan kejelekan orang lain. saya mempersiapkan diri untuk tidak menceritakan keburukan orang lain yang saya ketahui karena tetap saja itu gibah apatahlagi keburukan yang tidak ada pada diri orang lain karena menjadi fitnah.
bersiap untuk menjadi pribadi yang lebih sehat baik fisik maupun mental di tahun 2022.
31 Desember 2022
December 4, 2021
Wasting Time
saya sebulan tidak menulis apa-apa. sebulan saya habiskan untuk bermimpi yang tak pernah saya jalani, bermimpi menyelesaikan tesis, bermimpi untuk melakukan hal-hal baik dan semua mimpi lain yang hanya berakhir di batok kepala