March 29, 2022

Bandara Hasanuddin

Saya tiba di bandara dari kampung pukul 02.00 wita. jam yang cukup krusial karena biasnya saya masih pulas di jam segitu, apalagi tidak ada space yang nyaman untuk istirahat di bandara. Saya akhirnya memilih bersandar di dinding loket Lion parcel yang masih tutup.

Saya harus menempuh perjalanan di waktu subuh dinihari karena jam 8 harus terbang kembali ke ibu kota. 

Kepulangan saya kali ini sebenarnya tidak direncanakan. hanya saja ada urusan yang saya kerjakan di sini sehingga menyempatkan pulang kampung. seingat saya, hal seperti ini sudah beberapa kali saya lakukan untuk sekadar menengok orang tua yang semakin renta.

Setelah menunggu dua setengah jam di lobi bandara, saya kemudian memilih untuk chek in sekaligus shalat subuh di ruang tunggu. Di bandara kota ini, penumpang chek in selalu antri panjang, maklum karena bandara ini tempat transit para pejalan dari barat ke timur dan sebaliknya.

Saya shalat di musala gate 1 kemudian memilih untuk menikmati secangkir karamel dan sepotong kue di Gloria Jean's karena cukup dekat dengan gate 1 tempat boarding pesawat tumpangan saya.

Sedikit agak kaget melihat harga yang harus saya bayar sebesar seratus dua ribu dengan hidangan secangkir karamel dan sepotong kue. Namun kemudian saya menyadari bahwa bisnis di bandara memang mahal kemudian saya berpura-pura untuk menikmati suasana.

Sebentar lagi saya harus boarding.

Gate 1 Bandara st Hasanuddin, 29.3.2022

February 28, 2022

Dinamika Februari

Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melewati bulan Februari dengan perasaan yang sangat fluktuatif. Bulan yang katanya bulan kasih sayang ini, benar-benar menguras emosiku. Saya baru bisa menertawakan kemudian bersyukur atas semua, tentunya setelah dilewati kemudian diingat kembali. Sejatinya memang hidup seperti itu, semenyeramkan apapun hidup yang dialami, ketika sudah dilewati maka seringkali menjadi masa lalu yang lucu untuk diceritakan. Begitulah Februari yang mencampakkanku kemudian menyelamatkanku dari kubangan masalah.

Bagaimana tidak, di minggu pertama Februari tepatnya tanggal 7 Februari, badan saya rasanya remuk dan bola mata saya pegal setiap saat. Gejala yang sama pada hampir semua penderita Covid varian omicron. Atas dasar diagnosa pribadi dan mencoba untuk melindungi keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan tes PCR. Saya harus menunggu sehari sebelum tes PCR keluar. 

Esok hari sekitar jam 12 siang, hasil PCR saya keluar di aplikasi Halodoc. Perkiraan saya tidak meleset, ternyata saya terpapar Covid Omicron. Saya kemudian melakukan isoman di dalam kamar karena ada keluarga di rumah. Saya mendapat seabrek obat dari kemenkes yang pada akhirnya tidak saya minum semua.

Dua hari setelah saya dinyatakan positif, anak, isteri dan mertua PCR untuk mengantisipasi terpapar. Malam hari hasil tes mereka keluar dan ternyata memang semua terpapar. namun untungnya, tidak ada gejala berarti yang mereka rasakan sebagaimana yang saya alami.

Menjalani isoman membuat saya sedikit agak frustasi karena pada saat itu, saya juga sedang menunggu jadwal sidang ujian akhir. di hari ketiga isoman, pihak kampus memberikan saya informasi bahwa sidang ujian akhir saya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari, artinya bahwa saya mempunyai empat hari untuk belajar dan mempersiapkan diri ujian.

Terpapar Covid di masa sedang menunggu ujian memang menjadi dilema. Di satu sisi membuat saya agak frustasi karena tidak bisa konsentrasi penuh untuk belajar namun di sisi lain, saya mengucapkan syukur karena mempunyai waktu lebih untuk fokus pada ujian akhir. Artinya saya tidak terdistraksi dengan pekerjaan kantor karena orang kantor sadar bahwa saya sedang isoman dan tidak diberikan tugas tambahan.

Tepat tanggal 14 Februari pukul 19.00 WIb, ujian akhir saya berlangsung meskipun tidak maksimal. Saya merasa bahwa seharusnya saya bisa melakukan hal yang lebih di sidang misalnya menjawab pertanyaan penguji dengan baik namun apa daya, saya seperti kehilangan ide untuk kemudian bertarung kata dengan penguji. 

Sidang berlangsung dua jam dan berakhir dengan baik meskipun tidak maksimal. Saya dinyatakan lulus dengan catatan harus melakukan revisi tesis khususnya operasionalisasi teori maksimal sebulan setelah sidang.

Esok harinya, saya mencoba melakukan tes antigen untuk sekedar mengetahui hasil tes saya setelah seminggu isoman. Hal ini juga saya maksudkan agar saya bisa ke kampus mencari referensi tambahan saat revisi tesis. Hasil antigen saya ternyata sudah negatif dan esok harinya, saya ke kampus untuk mencari referensi tambahan.

Saya berkutat dengan revisi tesi selama dua minggu yang akhirnya disetujui oleh seluruh penguji tepat di tanggal 28 Februari 2022. sebuah perasaan senang karena Februari terlewati dengan perasaan lega.

Sekarang Maret dan semoga semua hal yang dihadapkan bagi saya di bulan ini bisa saya lewati dengan maksimal.

28.2.2022

January 16, 2022

Merenungi Impian

 

Di umur yang setua ini, saya merasa bahwa kapasitas intektual saya semakin menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak menyalahkan takdir saya yang menempatkan saya sebagai karyawan Perusahaan yang profit oriented namun saya menyadari bahwa bekerja di perusahaan membawa saya dalam kondisi yang tidak mampu merenungkan hal-hal prinsipil dalam hidup saya, bahkan saya merasa bahwa beberapa poin prinsip yang dulunya kupegang erat, mulai runtuh satu demi satu dan harus menjustifikasi tindakan saya sebagai seorang pekerja.

Di umur sekian, saya sama sekali tidak mengetahui apakah saya masih bisa punya peluang untuk kembali ke diri saya bergelut dengan dunia yang membuat saya senang. saya tidak tahu pasti jika suatu saat nanti takdir membawaku ke dunia yang berhubungan dengan pendidikan saya, apakah saya akan menyenanginya namun setidaknya sampai detik ini, saya memimpikan dunia tersebut, kondisi yang membuat saya mampu meramu dunia ideal dalam pikiran saya tanpa direduksi oleh kepentingan duniawi.

Bukannya saya tidak berani untuk mendeklarasikan apa yang saya impikan namun saya takut kepada Sang Semesta. Saya khawatir menjadi manusia yang kufur nikmat ketika diberikan sesuatu namun tidak menyukainya.

Semalam, saya membuka beberapa lembaran impian saya yang pernah ditulis dan ternyata beberapa impian tersebut terwujud. Lalu apa yang saya rasakan? Ternyata tidak sesuai dengan rasaku. Saya selalu menginginkan yang lain. Misalnya saya bermimpi untuk bekerja dan mempunyai rumah di kota ini namun ternyata impian tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan.

Memang saya menyicil rumah di kota ini namun hati tidak benar-benar tinggal di rumah itu. Bagaimana tidak, takdir membawaku di sebuah lingkungan yang tidak sehat untuk psikis. Rumah saya diapit oleh beberapa rumah tetangga dan setiap masuk keluar rumah, harus melalui berada tetangga yang sama sekali tidak mengenakkan. Apatahlagi satpam depan rumah yang benar-benar sangat tidak bersahabat.

Memang saya bekerja di kota ini sesuai dengan impianku. Bukannya tidak bersyukur bahkan saya menikmati setiap takdirku, namun pekerjaanku jauh dari kondisi yang memungkinkanku untuk memeluk beberapa prinsip dasar dalam nuraniku. Saya harus selalu menjustifikasi beberapa nilai yang sebenarnya menurutku bisa dihindari, namun ternyata tidak semudah dengan khayalan-khayalan masa lalu.

Setelah sekian lama, saya berpikir bahwa Sang Maha Pemilik benar-benar satu-satunya yang mengetahui apa yang baik untuk manusia seperti saya. Impian-impian yang penuh nafsu hanya akan menggiring kita ke kondisi yang menyiksa batin. Setelah itu, Nurani mati sedangkan tubuh masih bergerak secara mekanik.

Mengerikan membayangkan apa yang saya khawatirkan terjadi padaku. Hidup secara mekanik yang tidak lebih baik dari robot yang bergerak tanpa tujuan.

 16 1 22

January 15, 2022

Gempa

Seingat saya, selama berada di ibu kota, sudah dua kali saya merasakan gempa yang benar-benar mengkhawatirkan. pertama sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. ketika itu maghrib baru saja berlalu sedangkan waktu isya belum tiba. di rentang waktu antara maghrib dan isya, keluarga biasanya melepas penat sambil bercengkerama, begitupun dengan kami yang sedang menghabiskan waktu untuk bercerita dan makan malam.

Tiba-tiba saja saya merasa pusing dan tembok rumah seakan runtuh. sesaat kemudian saya belum menyadari bahwa telah terjadi gempa. maklum karena seumur hidup saya, jarang sekali saya merasakan gempa. setelah sepersekian detik, goncangan makin keras kemudian terdengar orang-orang yang berhamburan keluar rumah. seketika itu saya menyadari bahwa telah terjadi gempa. 

Tanpa pikir panjang, saya menggendong anak saya dan mengajak keluar rumah isteri dan mertua. di jalan depan rumah, sudah dipenuhi oleh orang-orang yang keluar dari rumahnya. saya merasakan kepalaku masih sangat pusing dengan gempa yang barusan terjadi. untunglah setelah itu, tidak ada lagi gempa susulan yang dirasakan. kami kembali ke rumah dengan perasaan was-was

Gempa kedua yang saya rasakan di kota ini terjadi kemarin sore. ketika itu saya sedang di lantai tiga kantor yang terletak di monginsidi. saya sebenarnya tidak terlalu merasakan goncangan yang keras namun kepala saya terasa amat pusing. semua karyawan berhamburan keluar kantor dan memadati pinggir jalan. saya meraih dompet dan hp yang tergeletak di laci meja saya kemudian keluar kantor.

Satu hal yang langsung terpikir di benak saya adalah anak isteri yang hanya berdua di rumah. saya segera menelon mereka untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. seperti dugaanku, dia mengabari bahwa gempa sudah berlalu beberapa menit yang lalu dan sekarang sudah aman. perasaanku sedikit tenang namun tetap merasa was-was karena gempa biasanya terjadi tidak hanya sekali namun seringkali diikuti gempa susulan.

Jam 5 sore saya bergegas pulang. memastikan untuk segera tiba di rumah, setidaknya jika terjadi lagi gempa, isteri saya tidak terlalu panik karena ada saya. untunglah sampai malam tidak ada getaran yang terasa. 

Saya menelepon ibu di kampung dan berpesan untuk berjaga di malam hari. saya tidak jam satu kurang. sampai pagi tidak terjadi lagi gempa.

semoga selalu dilindungi dari bencana


15 1 2022

January 3, 2022

Trip 1 2022

Perjalanan pertama di tahun 2022. menuju negeri minang yang sempat saya singgahi di tahun 2018. biasanya kalau saya sudah pernah mengunjungi suatu tempat maka tidak terlalu bergairah. namun harus dijalani karena tugas.

Satu hal yang membuat perjalanan kali ini sedikit mengesankan karena di hari ketiga tahun 2022, selain itu maka semua sama saja, dalam artian gairah untuk melihat sesuatu yang indrawi namun sejatinya bahwa perjalanan selalu berada di situasi bersamaan dengan hikmah yang inheren, hanya saja bagaimana kita untuk memetik hikmah yang berserakan. sebuah kota yang dikunjungi dua kali selalu menawarkan pelajaran yang berbeda.

Saya sudah lupa berapa kali saya melakukan perjalanan ke seantero nusantara sejak 2016 bahkan ada beberapa tempat yang sudah saya kunjungi dua bahkan tiga kali dan selalu saja pelajaran hikmah yang saya dapat berbeda dalam ruang dan waktu yang berbeda juga.

Saya masih duduk di ruang tunggu E4 terminal 2. belum ada tanda tanda panggilan untuk boarding. saya sengaja berangkat lebih pagi dari rumah karena khawatir macet di jalan mengingat hari ini adalah hari pertama kerja setelah liburan tahun baru.

Di Bandara, tidak terlalu ramai hiruk pikuk penumpang. saya menduga mungkin liburan mereka belum usai. bandara benar benar sepi dari biasanya.

Saya duduk terpaku. menerawang tahun 2022 yang akan saya hadapi. Saya mengira-ngira apa yang akan terjadi di tahun ini. Apakah akan ada progress atas target atau kembali meleset seperti sebelumnya.

Entahlah, hidup hanya butuh untuk dijalani dengan sebenar-benarnya, selebihnya biarkan Sang Maha Pemilik Semesta yang menentukan.

Saya hanya butuh merapalkan doa doa terbaik.

Mungkin sebentar lagi ada panggilan boarding. Saya sudahi tulisan ini dengan harapan semua baik baik saja di tahun ini

3 Januari 2022

January 2, 2022

Latihan Diri

Tips ini saya salin dari instagram "successparty"

do these for 30 days straight (no cheating)

  1. turn off your phone before going to bed
  2. take one hour to do deep work (no distraction) before turning on your phone
  3. read at least 10 pages a day (self help books, business etc)
  4. workout at least 3 times a week
  5. track your progress

January 1, 2022

1 Januari 2022

Setahun yang lalu atau sehari sebelumnya, saya sudah menuliskan beberapa hal yang ingin kulakukan di tahun ini yang merupakan refleksi atas kekurangan di tahun-tahun sebelumnya.

di hari pertama ini, tidak banyak yang saya lakukan. semua rutinitas seperti biasa hanya saja saya menguatkan diri untuk tidak terlalu banyak melakukan hal yang sia-sia, nonton youtube atau scroll sosial media. mungkin tidak langsung bisa saya tinggalkan namun setidaknya mengurangi day by day.

Saya masih bangun terlalu pagi tadi, kemudian meninggalkan rutinitas olahraga. setelah itu sedikit belajar dan keluar membeli keperluan sehari-hari. rutinitas yang sama sebenarnya saya lakukan tahun sebelumnya.

kalau ada yang kurang, mungkin tugas kuliah yang tidak kunjung kelar. rasanya agak berat namun bagaimana lagi, tetap harus diselesaikan dengan berbagai distraksi yang selalu menghantui. ketika distraksi teratasi, otak tidak kunjung menemukan ide yang akan ditulis. 

Memang, semua hal punya tantangannya masing-masing. 

Hidup berjalan seperti biasanya dengan berbagai dinamika

December 31, 2021

31 Desember 2021

Tidak ada pengharapan apa-apa, hanya sedikit refleksi untuk diri yang terlalu lama dalam ruang yang sama. hanya ingin bertahan dan menjalani hidup dengan baik-baik saja. seperti yang dinyanyikan Fstvlst "Sementara terasa baik-baik saja, Walau yang sebenar-benarnya Bukan ini rencananya"

Setelah ini, semua akan berjalan seperti biasa. saya kembali akan menghabiskan waktu dalam kesepian, sesekali dengan hal-hal yang absurd.

Minimal, saya menemukan diriku seperti beberapa tahun lalu ketika saya mencintai pengetahuan, larut dalam pembelajaran diri dan memaksa diri untuk tidak terjebak dalam zona nyaman.

Mengurangi rasa iri yang negatif dengan pencapaian orang lain. lebih banyak membaca buku. bercengkerama dengan yang Maha. menjadi teman bagi anak dan isteri. sesering mungkin menjenguk orang tua di kampung. lebih meningkatkan kualitas diri dalam segala hal. berada di lingkungan yang sehat secara fisik dan mental. tidak cemas dan tidak khawatir terhadap hal yang sudah dan belum dijalani.

Saya akan meninggalkan pertemanan yang tidak membawa saya ke perubahan yang lebih positif, saya juga akan berhenti untuk bercanda yang berlebihan dan kemungkinan menyakiti perasaan orang lain namun saya juga akan berhenti untuk berusaha menyenangkan semua orang.

Saya berharap dan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kebiasaan menceritakan keburukan orang lain. saya pernah membaca tulisan bahwa puncak tertinggi kemampuan orang yang lemah adalah membicarakan kejelekan orang lain. saya mempersiapkan diri untuk tidak menceritakan keburukan orang lain yang saya ketahui karena tetap saja itu gibah apatahlagi keburukan yang tidak ada pada diri orang lain karena menjadi fitnah.

bersiap untuk menjadi pribadi yang lebih sehat baik fisik maupun mental di tahun 2022.

31 Desember 2022

December 4, 2021

Wasting Time

saya sebulan tidak menulis apa-apa. sebulan saya habiskan untuk bermimpi yang tak pernah saya jalani, bermimpi menyelesaikan tesis, bermimpi untuk melakukan hal-hal baik dan semua mimpi lain yang hanya berakhir di batok kepala

sekarang sudah masuk awal Desember namun sama sekali tidak ada progres. baca buku tidak pernah, hanya menghabiskan waktu entah untuk apa. saya menyesali namun tidak ada  yang salah. saya tidak mampu melawan diri saya sendiri.
Setelah ini, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. tidak ada visi ke depan, sama sekali. semua blank dan menjelma menjadi manusia yang hanya berjalan tanpa arah. 

hanya sedikit harapan yang saya selipkan di tahun ini, semoga bisa menyelesaikan tesis akhir tahun ini


October 16, 2021

16 Oktober

Saya terpuruk dan satu hal yang paling menyebalkan adalah bagaimana menceritakan ini kepada ibu saya. dalam setiap kondisi terjatuh yang saya alami, bukan kondisinya yang membuatku sedih namun hal yang paling berat adalah mengabarkan kepada ibu saya. 

Ibu saya selalu dapat merasakan hal tersebut tanpa saya ceritakan. 

October 3, 2021

3 Oktober

Saya selalu melupakan momen pada hari ini sedangkan tepat di 3/10 merupakan momen saya mengambil tanggung jawab lebih sebagai seorang lelaki. setiap kali melewati tanggal 3/10, saya selalu tidak menyadari bahwa ini sebuah momen yang patut diingat.

Seperti kemarin siang, pasangan saya mengingatkan bahwa esok adalah hari spesial kami. saya baru menyadarinya pada saat itu. untuk momen-momen tertentu, saya memang tidak pernah menjadikan sebuah momen apapun dalam hidupku sebagai sesuatu yang harus dirayakan.

Tadi siang, kami memilih untuk makan di mall sebagai upaya untuk merayakan kemampuan bertahan hidup bersama. makan siang yang tidak terlalu mewah karena hanya memesan burger dan kentang goreng yang dilengkapi dengan dua gelas milo. cukup sederhana bukan? namun itulah pilihan-pilihan hidup yang kami jalani.

Saya juga membelikan sebuah tas berwarna pink sebagai upaya bahwa ada kado di momen spesial, meskipun harganya tidak seberapa namun paling tidak tas tersebut bisa digunakan oleh pasangan saya.

Sekali lagi bahwa hanya harapan-harapan baik yang seringkali kami rapalkan untuk mampu menghadapi kenyataan hidup di masa mendatang. Setidaknya mampu bertahan untuk membuktikan kepada semesta tentang komitmen yang sudah dibangun. Selebihnya menyandarkan semua kenyataan kepada Sang Maha yang menentukan semuanya.

Hal yang perlu dilakukan kemudian hanyalah mengikuti hukum semesta. Jika jatuh, berdiri kembali. jika lelah, berhenti sementara untuk rehat. Jika ada lebih, sedikit berbagai kepada keluarga dan yang membutuhkan. Jika bahagia, ingat bahwa itu tidak abadi dan esok hari mungkin saja akan sedih, demikian pula jika sedih, ingat bahwa bahagia akan menghampiri. 

Tidak ada yang absolut dalam hidup. semua berganti sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Hidup adalah jalan yang dijejak setapak demi setapak sampai akhirnya giliran kita yang akan meninggalkan kehidupan. Sama halnya dengan pernihakan yang serupa perjalanan untuk tetap bertahan.

Wedding anniversary. 3 Okt 2022

October 1, 2021

1 Oktober

Sepertinya saya benar-benar penat beberapa bulan terakhir. gelombang kesibukan menerpa dan tidak memberikan ruang untuk sekedar menghela nafas, diperburuk dengan sikap menghabiskan waktu yang sia-sia ketika di rumah,

Tidak hanya fisik, psikis juga terkuras dengan pikiran yang bercabang. berbagai hal harus disolusikan dengan olah pikir yang tidak mudah bahkan seringkali membuat saya berada pada titik nadir keputusasaan. sebuah sikap yang tentunya tidak sehat untuk perkembangan diri karena putus asa adalah toxic bagi manusia yang ingin menembus batas kemampuan dirinya.

Entah kebetulan atau memang semesta sedang memberikan berbagai challange untuk melihat diriku apakah sudah sanggup untuk melangkah ke tahap berikutnya, namun yang jelas bahwa pekerjaan kantor benar-benar menumpuk, tugas akhir kuliah yang tidak ada titik terang dan sebuah impian yang harus saya hadapi di dua minggu ke depan. impian yang tentunya merupakan chance terakhir bagiku dan jika gagal maka mungkin sudah tertutup pintu untuk cita-cita tersebut, sialnya saya tidak pernah bisa memaksa diriku untuk mempersiapkan segalanya dengan baik karena pada dasarnya, keberhasilan adalah sebuah luck yang merupakan perwujudan dari persiapan yang maksimal dan doa yang khusyuk kemudian diamini semesta


September 26, 2021

26 September

Cerita hari ini hanya tentang pertemuan dengan seorang teman lama dari bagian timur pulau ini. teman yang pernah kerja bareng di salah satu perusahaan dan kami tergabung dalam bagian pemasaran. sebuah pekerjaan yang masih sangat asing bagiku saat itu. pekerjaan yang menuntut pencapaian target hari demi hari, bulan demi bulan dan puncaknya target tahunan

sebenarnya lumayan berat mengingat saya orangnya tidak terlalu menyenangi pekerjaan yang ditekan lagian bukan pekerjaan yang saya inginkan namun apa daya, kemampuan yang ala kadarnya dan takdir menyatu membawaku ke situasi pada saat itu apatahlagi saya sedang merantau dan jika tidak bekerja maka bisa dipastikan, saya harus pulang kampung.

Setahun kami tinggal bersama di kantor yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal. dia tipe teman yang mudah akrab dengan orang lain dan dengan kelebihannya itu, sebenarnya dia punya potensi yang cukup besar untuk menjadi tenaga marketing yang sukses.

Setelah tinggal dan berkerja bersama selama beberapa bulan, saya menyadari bahwa meskipun dia punya kelebihan cepat akrab dengan orang asing, namun dia tipe orang yang tidak suka dalam tekanan dan sering bercerita bahwa dia lebih menyukai usaha sendiri. saya sudah menyadari itu hingga akhirnya, dia benar-benar resign setahun setelah kami kerja bareng.

setelah resign, praktis saya jarang bertemu dengannya hanya saja, saya selalu berkabar melalui pesan singkat dan dari ceritanya, saya mengetahui bahwa dia benar-benar mengikuti kata hatinya untuk membuka usaha mulai dari usaha jual nasi, sampai akhirnya, beberapa bulan lalu saya bertemu di ujung timur pulau ini. saya takjub pencapaiannya. dalam hal materi, dia sudah mampu membeli mobil sedangkan dari segi psikis, hatinya lebih merdeka karena tidak berada di bawah telunjuk orang.

Siang kemarin kami bertemu di sebuah mall di daerah selatan. tidak ada yang berubah dari dirinya dengan guyonannya yang khas. cara ngomong yang masih sama dan tawanya yang renyah. dia bertutur bahwa melihat kondisi jakarta, dia tidak bisa tahan hidup di kota ini. sesekali saya menimpali bahwa saya juga sebenarnya sudah jenuh dengan hiruk pikuk Ibu Kota namun saya sadari, saya bukan dia yang berani mengambil risiko. pertimbanganku terlalu banyak dan kekhawatiran yang tiada berujung.

Jika sudah seperti itu, hanya beberapa kalimat doa yang selalu terselip pada sisi terdalam hatiku bahwa suatu saat saya hidup di sebuah tempat yang tenang dengan lingkungan yang baik terhadap fisik dan psikisku dan tidak terlalu terjerat dalam kekhawatiran duniawi.

oh iya, teman saya sempat bertutur bahwa dia selalu ingat kata-kataku dulu bahwa "mungkin kita saat ini susah dalam pekerjaan namun akan lebih susah jika resign" saya lupa kalau pernah mengatakan itu kepadanya delapan tahun silam namun yang jelas, saya memang sudah sejak lama mengamini kalimat tersebut