July 15, 2015

Cerita Perjalanan Mudik

Akhirnya momen yang ditunggu kaum urban tiba. Mudik ke kampung halaman ada penyemangat bagi mereka yang memutuskan untuk bergabung dalam barisan kaum urban sembari meninggalkan suasana tenang di kampung. Akupun larut dalam euforia ini.

03:10
Aku mulai sadar dari mimpi dan bangkit mencari sesuap nasi untuk sahur. selesai menyantap sahur dengan lauk seadanya, aku menunggu adzan subuh dan bergegas ke mesjid dekat terminal Rawamangun. dengan dua tas ransel penuh baju baru untuk keluarga tersayang di kampung.

05:30
aku duduk dengan manis di atas damri bandara sambil menunggu penumpang yang lain. mengambil tempat duduk paling depan tepat di belakang sopir. sambil menikmati teduhnya ibu kota di subuh dini hari meski pikiran sudah melayang jauh sampai di kampung halaman. pikiran berkecamuk dan tidak sabar berjumpa dengan masa lalu setelah dua tahun bergelut dengan kerasnya kehidupan.

06:20
aku sudah sampai di depan bandara terminal 1B. terlalu dini memang mengingat pesawat yang akan membawaku ke makassar baru akan berangkat pukul 09:20. akhirnya harus menunggu di halte sambil menikmati lalu lalang manusia yang hendak mudik sepertiku. kehidupan selalu seperti itu dan sepertinya mengasyikkan menikmati setiap jejak hidup yang berjalan dengan rapi.

08:10
aku beranjak dari halte dan menuju tempat chek in. memperlihatkan tiket ke petugas kemudian bergegas menuju ke ruang tunggu dengan tas yang lumayan berat. sekitar 10 menit di ruang tunggu, kulihat kak ochan juga memasuki ruang tunggu yang sama denganku. kemungkinan satu pesawat denganku. dia menuju ruang tunggu yang berbeda arah dengan tempat dudukku kemudian aku menghampirinya dan memperkenalkan nama. tidak banyak yang keluar dari mulutnya hanya senyum khasnya dan menanyakan apakah aku sudah menikah. aku beriringan dengannya menuju ke dalam pesawat dan dia sempat berujar bahwa di dalam tasnya terdapat mukena ole-ole untuk ibundanya. setelah itu, dia menanyakan nomor kursiku dan selanjutnya kami berpisah karena tempat duduk kami yang berjauhan. sempat kulirik Dia mengambil sebuah buku yang tidak sempat kulihat sampul kemudian hanyut dalam kata-kata. aku berpikir bahwa memang untuk menjadi orang hebat, bijak dan cerdas haruslah banyak membaca.

09:20
Pesawat sudah lepas landas dan meninggalkan kota Jakarta menuju Makassar. suara yang ada hanya mesin Pesawat dan Para Pramugari yang memperagakan simulasi jika ada kecelakaan. selanjutnya lalu lalang Pramugari yang menjual souvenir. aku sama sekali tidak tertarik membeli dan hanya mengambil koran yang dibagikan oleh pramugari.

13:30
pesawat akhirnya landing di bandara Sultan Hasanuddin setelah 2 jam lamanya mengudara. aku mengemasi tas yang kutaruh di kabin kemudian antri keluar dari pesawat. aku masih sempat berpapasan dengan kak Ochan di Mushalah dan shalat bersama kemudian dia berjalan duluan setelah itu. setelah melaksanakan shalat zuhur dijamak dengan shalat Ashar, aku menuju pintu kedatangan bandara dan menunggu kakakku yang memang sedang dalam perjalanan menjemputku. lumayan lama menunggu karena dia terjebak macet di daerah Maros.

14:10
Mobil avanza DP 1225 akhirnya muncul di depanku dan aku naik duduk di kursi tengah. selanjutnya kami menuju gudang penjualan kopi karena kakakku masih punya urusan di sana. 

19:30
kami baru melaju ke kampung karena urusan kakakku baru saja selesai di gudang penjualan kopi. jalanan sedikit padat berhubungan karena mudik lebaran yang sudah mencapai puncaknya. sesekali kupejamkan mata kemudian terbangun ketika mobil terantuk di jalanan rusak. aku kemudian tertidur pulas saat di Barru menuju Cakke. baru tersadar ketika mobil sudah tiba di pasar Cakke.

02:10
kami sudah tiba di Cakke dan menunggu mobil lain yang akan membawaku ke Buntu Lamba karena kakakku hendak melanjutkan perjalanan ke Sudu sedangkan arah kedua daerah tersebut berlawanan. setengah jam menunggu mobil namun nihil maka aku putuskan untuk ikut kakakku ke Sudu dan baru akan diantar siang harinya ke Buntu Lamba. aku di Sudu sampai siang harinya karena kakakku masih punya beberapa urusan di Pasar Sudu

12:20
akhirnya aku sampai di rumah. tidak banyak yang berubah di kampung ini, hanya saja di bawah rumahku sudah ada rumah dan di pertigaan masuk lorong rumahku, dibangun rumah mewah untuk ukuran rumah di kampung oleh salah seorang masyarakat di kampungku yang memang adalah pejabat di kantor pajak. 

setelah itu, cerita di kampung seperti apa adanya. menikmati setiap serpihan yang masih tertinggal di kampung. memuaskan hasrat memandang wajah sendu ibuku yang semakin menua. uban yang semakin menjamur diatas kepalanya namun satu yang tidak pernah luntur darinya, rasa sayangnya terhadap anak-anaknya. aku selalu merindukan teriakannya menyuruhku apa saja. merindukan senyumnya yang merekah saat bercengkerama dengan cucunya.

aku selalu menyimpan wajahnya di sudut hatiku karena aku menyisakan separuh untuknya.

200715

Tarwih #28

Ini adalah malam tarwih terakhir di ibukota tahun ini. Saya rencana akan ikut merayakan pesta mudik besok pagi. Saya memutuskan untuk shalat tarwih di bilangan blok M, mesjid Al-Azhar yang sering kujadikan persinggahan ketika penat sudah sampai di urat leher.

Setelah menyelesaikan rutinitas buka puasa di samping mesjid Al-Azhar dengan segelas es kelapa, saya beranjak ke mesjid menunaikan shalat maghrib kemudian melanjutkan makan malam ikan bakar.

Acara Malam Ramadhan di mesjid ini seperti biasanya, setelah selesai shalat isya dilanjutkan dengan ceramah agama.

Ceramah agama kali ini membahas tentang hakekat hidup. mubaliq mencontohkan tentang seorang yang diberi oksigen dengan persediaan yang cukup untuk menyelam ke laut dan diwajibkan memperoleh 50 berlian dengan persediaan oksigen yang cukup. Ketika mulai menyelam, dia terpesona dengan kehidupan bawah laut yang amat indah sehingga lupa tujuan awalnya mencari berlian. Ketika sisa oksigennya tinggal sedikit, dia baru menyadari tujuan awalnya dan terburu-buru mencari berlian namun apa saya, sudah tidak mampu memperoleh 50 berlian. Begitulah hakekat hidup manusia di dunia ini.

Ceramah malam ini lumayan menginspirasi meski mata saya tidak sanggup berkompromi karena letih memandang PC seharian di kantor.

Mesjid Al-Azhar Blok M
28 Ramadhan 1436 H

July 14, 2015

Doadoa

Di dalam setiap patahan kataku
terselip sebutir doa untukmu
tidak panjang memang
cukup pengharapan tentang hari baikmu

di dalam setiap nyanyian bisu
ada syair suci untuk setiap dirimu
tidak merdu memang
hanya sebagai penanda bahwa engkau sehat adanya

dalam setiap diamku
ada sebaris kata yang terucap
apa kabarmu disana

kita adalah kata yang tak ber spasi
kita rangkaian huruf yang berderet
dan membentuk suatu makna
cinta

Rawamangun
14.7.15

Tarwih #27

tidak ada cerita malam ini. shalat Isya kemudian dilanjutkan dengan shalat tarwih di mesjid Baitul Mashum. jamaah di mesjid ini masih tetap stabil meski pada rakaat kedelapan kemudian berkurang.

Mesjid Baitul Mashum Rawamangun
27 Ramadhan 1436 H

July 13, 2015

Mudik dan Kisah Di Dalamnya

Saya berencana mudik dua hari lagi. setelah dua puluh empat bulan merantau, akhirnya saya berencana mudik. euforia mudik selalu saja meninggalkan berbagai kesan bagi siapa saja yang pernah merasakan getirnya merantau entah bekerja ataupun sekolah.cerita tentang mudik memang tidak akan pernah habis untuk dituturkan melalui kata-kata meski setiap orang menuliskannya. 

Tentu saja yang membuat orang selalu antusias menanti momen mudik karena perasaan emosional dan keterikatan terhadap kampung halaman. memang manusiawi bahwa orang yang lahir dan bertumbuh di sebuah daerah akan merasakan keterikatan yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja entah suatu waktu ketika dia akan jauh merantau namun selalu saja ada serpihan hatinya yang tertinggal.

Ada banyak kisah yang tersimpan disetiap mudik dan selalu saja kaum urban menantikan momen tersebut. saya yang akhirnya akan merasakan sensasi mudik yang lain karena mudik kali ini dengan pesawat meski dua tahun lalu pun saya sudah mudik dengan angkutan udara seperti ini.

Cerita di kampung halaman akan menjadi lebih seru dengan kedatangan para perantau yang dianggap "sukses' oleh orang yang tetap memilih untuk tetap tinggal di kampung. momen lebaran akan ditandai dengan ramainya suasana kampung yang sebelumnya sepi senyap. berbagai mobil mewah akan lalu lalang di jalanan kampung yang sebelumnya hanya dilalui oleh mobil butut. orang perantau yang notabene berasal dari kampung akan tampil mencolok dengan balutan pakaian bermerek atau dengan gadget mewah di tangan dan langkah yang sok di gagah-gagahin.

Saya tidak sedang menjustifikasi secara general orang kampung yang merantau kemudian mudik lebaran namun harus diakui bahwa sebagian dari mereka "semoga saja saya tidak termasuk" seperti memamerkan apa yang sudah didapatkan di kota. cerita mereka seperti sudah terbang ke langit dan tidak pernah menyadari bahwa mereka pun berasal dari kampung yang kebetulan saja merantau dan ketiban rejeki.

Satu hal yang membuat kesenjangan antara desa dengan kota adalah perilaku kaum urban ketika mudik yang memperlihatkan kemewahan sehingga orang yang memilih untuk tetap di kampung dan menjadi Petani kemudian silau dan merasa tertantang pula untuk merantau ke kota alhasil kota semakin sesak dan desa semakin tidak berpenghuni. hal yang perlu dicatat bahwa hidup di kota apatahlagi di ibukota tidak seindah di sinetron. memilih untuk merantau ke ibu kota berarti memilih untuk menggadaikan hidup baik waktu maupun ketenangan hati.

Momen mudik Lebaran juga menjadi ajang reuni bagi kawan lama. reuni kemudian berubah wujud dari hakekatnya adalah untuk menjalin silaturrahim kemudian lebih seperti lomba pamer kesuksesan. cerita dari mereka yang sudah merasa sok paling berhasil. reuni ini pula yang selalu dihindari oleh kawan lama yang tetap di kampung dan menjadi petani tetapi sangat dinanti oleh mereka yang sudah merasa sukses di perkotaan.

Mungkin lebih baik ketika menjadi kaum urban yang sedang merayakan momen mudik, tidak perlu untuk terlalu mencolok apatahlagi kalau masih memungkinkan mudik dengan kendaraan umum meski memiliki kendaraan pribadi. demi untuk menjaga harmoni saat bertemu sanak saudara di kampung. mudik bukan untuk ajang pamer namun tidak lebih sekedar untuk menyicil rindu kampung halaman yang masih tersisa di sanubari dan juga menjalin silaturrahim dengan handai tauladan. itu saja hakekat mudik

Selamat mudik
hati-hati di jalan

Pulogadung
13 Juli 2015


Tarwih #26

Malam ini saya shalat tarwih di mesjid samping terminal Rawamangun. Acara malam tarwih di mesjid ini layaknya mesjid di kampungku hanya saja tidak ada pembacaan Al-Qur'an sebelum ceramah agama. mesjid ini termasuk salah satu mesjid yang masih ramai di saat akhir Ramadhan karena pada umumnya mesjid yang lain sudah tinggal sebaris.

Ceramah mesjid kali ini bercerita tentang hari qiamat. Pada pembukaan ceramah, Mubaliq bercerita tentang dahsyatnya kejadian di hari qiamat. Dia kemudian mengambil contoh fenomena yang terjadi beberapa waktu lalu di Kanada dimana ada suara aneh seperti suara terompet yang terdengar juga di Australia. Mubaliq mengatakan bahwa sama sekali itu bukan terompet Malaikat Israfil karena pada saat Malaikat Israfil meniup terompetnya maka semua yang ada akan musnah.

Secara garis besarnya, mubaliq membahas secara skriptualis tentang bagaimana itu hari kiamat dan bagaimana keadaan manusia pada saat hari kiamat. bagaimana suhu yang begitu panas ketika manusia sudah dikumpulkan di padang Masyar. matahari hanya sejengkal di atas ubun-ubun.

Pada sesi terakhir ceramahnya, Dia menjelaskan macam-macam hati menurut Imam Al-Ghazali di dalam bukunya ihya Ulumuddin. Bahasan ini sudah pernah dibawakan oleh mubaliq yang juga berceramah di mesjid ini beberapa malam yang lalu.

Ada tiga macam hati manusia, hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang selamat/sehat.

Mesjid Jami' Rawamangun
26 Ramadhan 1436 H

July 12, 2015

Cerita Salat Subuh

Saya mencari suasana baru shalat subuh di sebuah mesjid yang jaraknya lumayan sedikit jauh dari kosku. Suasana temaram lampu di pinggir jalan saat subuh memang menimbulkan perasaan damai.

Cerita tentang shalat subuh di Mesjid Baitul mu'minin samping terminal Rawamangun kutemui saat saya selesai shalat dan beranjak pulang. saat di pintu keluar mesjid, ada tiga jamaah yang  maaf "tunanetra" membuatku terkagum melihat mereka. Saya mengikuti mereka sampai di jalan raya dan betapa saya harus percaya tentang apa yang namanya intuisi atau apapun namanya karena dengan lancarnya dan hanya dibantu tongkat besi berukuran kecil, mereka bertiga seperti layaknya orang yang sehat penglihatannya meski jelas tidak melihat sama sekali. Mereka hanya dibantu sopir Bajaj ketika menyebarangi jalan raya, selebihnya mereka jalan sendiri.

Tarawih #25

Malam ini saya shalat tarawih di mushalah dekat pos. Telalu saja tidak ada ceramah agama di mushalah ini. Setelah shalat isya langsung dilanjutkan dengan shalat tarawih. Sebenarnya pilihan untuk shalat tarawih ada 4 mesjid, 2 diantaranya rutin mengadakan ceramah agama setelah shalat isya namun ketika lagi malas, saya cari mesjid yang langsung shalat tarawih.hehe


Mushalah dekat pos
25 Ramadhan 1436 Hq

July 10, 2015

Tarawih #24

Sebenarnya malam ini saya berniat shalat tarawih di mesjid yang terletak di bilangan Tebet, rute yang sering kulewati saat pulang dari mall ambassador ke Rawamangun namun jalanan yang padat merayap mengharuskanku untuk memutar balik motor ke masjid pendurenan yang sering saya tempati salat tarawih.
 
Saya sudah paham shalat tarawih di mesjid ini. setelah salat Isya dan shalat sunnah, pengurus masjid lalu naik ke mimbar dan menyampaikan beberapa pengumuman kemudian dilanjutkan dengan salat tarawih delapan rakaat kemudian ceramah agama sekitar tiga puluh menit, barulah setelah ceramah agama, ditutup dengan shalat sunnah witir tiga rakaat.

Muballiq malam ini nampaknya sudah pernah membawakan ceramah agama. Pembahasannya tentang malam lailatul Qadar. Muballiq bercerita tentang seorang israel bernama sam'un. Dia dicari kelemahan oleh isterinya. Isterinya merantai tangan dan kakinya tanpa tetap saja bisa lewat. Setelah itu turun tangan iblis. Kemudian diberitahu isterinya dan merayu sam'un. Diurai rambut yang digulung delapan dan diikatkan tangannya. Setelah itu sam'un bisa dilumpuhkan. Setelah itu, sam'un mengingat dan meminta pertolongan Allah.

Cerita ini ingin mengulas tentang lamanya Sam'un beribadah kepada Allah selama seribu tahun namun unur manusia sekarang tidak sampai selama itu sehingga umat sekarang disediakan malam lailatul Qadar dimana ketika beribadah di malam tersebut, seperti beribadah seribu bulan.

Saya selalu tidak habis pikir dengan orang-orang yang pemburu malam lailatul Qadar namun disisi lain mereka tidak memperbaiki akhlaqnya. Sampai saat ini saya yakin bahwa malam lailatul Qadar itu tidak seperti door prize yang setiap orang tiba-tiba saja mendapatkannya entah itu orang dzalim ataupun orang alim. Saya yakin bahwa hadiah Malam lailatul Qadar adalah diperuntukkan bagi orang yang secara istiqamah memperbaiki diri dari hari ke hari bukan kepada orang yang dzalim.
Wallahu Alam bissawab

Mesjid Al-Ishlah Pendurenan
24 Ramadhan 1436 H

Khutbah Jum'at

Hari ini adalah jumat terakhir di bulan Ramadhan kali ini. rasa kantuk menyerangku namun tetap kukuatkan langkah menuju mesjid

Khutbah kali ini membahas tentang hikmah-hikmah yang berceceran di sekitar kita dan bagaimana kita memahami  hikmah tersebut. Sang khatib menceritakan sebuah kisah yang sarat akan hikmah. Kisah tersebut sejatinya sudah kubaca dari sebuah buku beberapa bulan yang lalu. Tentang seorang petani yang hidup di desa bersama seorang putra satu-satunya. Tetangganya kemudian berkata bahwa alangkah malangnya nasibmu pak tani, hanya punya anak satu, hidup pas-pasan dan kuda tua dan hilang. Pak tani hanya menjawab, malang dan untung hanya Allah yang tahu. 

Kemudian bebebarapa hari kemudian, kuda tersebut datang bersama dengan gerembolan kuda hutan lain. Melihat hal tersebut, tetangga pak tani bilang, alangkah mujurnya hidupmu pak tani. Dia kemudian berujar, malang dan mujur, hanya Allah yang tahu. Setelah itu, kuda-kuda dijual dan hanya menyisakan kuda yang gagah perkasa. Anaknya ditugasi untuk menjinakkan kuda tersebut namun ketika sedang menjinakkan kuda, kaki anaknya patah dan tak bisa berjalan. Tetangganya kemudian berujar, alangkah sialnya nasibmu pak tani, hanya punya satu anak dan cacat. Pak tani kemudian berujar, mujur dan malang hanya Allah yang tahu. Beberapa saat kemudian, kerajaan mewajibkan semua anak muda untuk ikut berperang kecuali yang cacat. Alhasil anak pak tani tidak ikut berperang dan semua pemuda desa yang ikut berperang mati di medan perang.

Sebenarnya cerita tersebut disajikan dalam beberapa versi, namun yang diceritakan oleh khatib tadi adalah versi yang kutuliskan diatas.inti dari cerita diatas adalah bagaimana menyerap setiap hikmah yang ada. Terkadang kita mendapati suatu kondisi yang kelihatannya sangat buruk namun ternyata baik buat kita. Cerita tersebut sangat sesuai dengan ayat Al-Qur'an 

Ùˆ عسى Ø£َÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُوا Ø´َÙŠْئًا وهُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ لكَÙ…ْ Ùˆَعَسى Ø£َÙ†ْ تُØ­ِبُّÙˆْا Ø´َÙŠْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَÙ†ْتُÙ…ْ لا تَعْلمُÙˆْÙ†َ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Hidup memang bukan melulu tentang hal yang empiris karena sejatinya hidup punya beribu makna yang butuh dipelajari. Kita hanya butuh hati yang jernih untuk memahami pelajaran-pelajaran hidup

10 Juli 2015

Tarawih #23

Malam ini saya shalat tarawih di mushalah kecil dekat pos. Musala ini tidak mengadakan ceramah agama setelah salat isya alhasil jam 8 kurang, saya sudah pulang tarawih.

mushalah
24 Ramadhan 1436 H

July 9, 2015

Tarawih #22

Aku membenci waktu yang tergesa-gesa beranjak pergi. Aku menginginkannya untuk berjalan perlahan supaya kehadirannya bisa kuresapi dalam-dalam namun apa yang dilakukan waktu untukku..? dia selalu berbuat hal paradoks terhadapku. Ketika derita menyelimuti raga dan luka yang menganga di mana-mana, maka dia berjalan begitu pelan seakan mreayakan diriku bergumul dengan nestapa namun ketika bahagia menghampiriku, waktu berjalan dengan energi penuh bahkan berlari seakan menginginkan bahagia itu cepat raib dari genggamanku.

Ramadan seperti itu adanya. Waktu membawanya lari dan serasa mimpi sudah memasuki malam ke 22. Aku memutuskan untuk melaksakan shalat tarawih di mesjid Baitul Ma'shum. Mesjid yang suasananya adem karena full AC. Jika dua malam sebelumnya ada ceramah agama, maka kali ini tidak ada ceramah agama di mesjid tersebut. Setelah shalat Isya langsung dilanjutkan dengan shalat Tarawih.

Seperti biasanya, ketika selesai rakaat kedelapan, aku meninggalkan jamaah dan melanjutkan shalat witir di kos. Tidak ada ceramah malam ini maka tidak ada yang bisa aku ceritakan tentang malam ini. Hanya keterkejutanku tentang waktu yang sudah hampir di pintu gerbang Ramadhan dan sebentar lagi keluar meninggalkannya lalu berganti dengan hari-hari seperti biasanya untuk mengulang khilaf-khilaf.

Mesjid Baitul Ma'shum
22 Ramadhan 1436 H

July 8, 2015

Cerita Tentang THR

Hidup memang dengan begitu mudahnya bisa di bolak balik oleh Sang Pemilik hidup tanpa kita pernah merasakan prosesnya bahkan seperti kedipan mata, peruabahan dalam hidup seperti kilatan cahaya yang tak terhentikan. Perubahan akan selalu begitu adanya, tidak akan pernah menunggu setiap manusia yang berleha-leha dan tak akan pernah mengenal kata berhenti.

Masih segar dalam ingatanku dua tahun yang lalu saat masih di Ngawi sebagai marketing salah satu penerbit buku sekolah terbesar di negeri ini. Saat-saat menjelang hari raya, aku dan team Ngawi menyiapkan begitu banyak parcel yang nantinya akan dikirimkan ke beberapa nasabah Pareto ( Baca Prioritas ) bahkan aku sendiri yang mengantarkannya ke beberapa diantara nasabah tersebut. Yang kutahu bahwa satu-satunya alasan siapa saja yang akan kami berikan parcel lebaran adalah pertimbangan bisnis semata. Jika sang guru mempunyai peranan penting di suatu sekolah dalam pengadaan buku maka kami akan memanjakannya dengan parcel atau hadiah lebaran yang harganya tidak menjadi persoalan. disini aku masih percaya teori bahwa yang abadi di dunia ini adalah kepentingan.

Seperti yang aku bayangkan sebelumnya bahwa hidup berganti begitu saja dan tidak perlu prosedur macam-macam karena memang seperti itulah sunnahtullahnya berjalan. akhirnya aku sampai di masa ini dan menjadi staf klaim di salah satu perusahaan finance. Pekerjaan yang mengahuskanku untuk selalu berurusan dengan nasabah. terkadang aku berpikir jauh kebelakang bahwa mungkin saja aku memang ditakdirkan pada pekerjaan yang lebih banyak berinteraksi dengan manusia.

Mendekati hari raya idul fitri, perusahaan di seluruh nusantara punya kebiasaan membagi bagikan parcel kepada klien mereka meski pada sampai titik ini, aku percaya dengan haqqul yakin bahwa pemberian parcel tersebut didasarkan pada kepentingan bisnis semata. Di kantorku yang sekarang pun begitu adanya. Semua klien direkap dan dipilih dari perusahaan rekanan yang memang berkontribusi menguntungkan perusahaan setahun terakhir, aku melihat sendiri rekapan tersebut.

Akupun sampai saat ini sudah tiga rekanan yang ingin memberiku "THR." Perusahaan yang satu bahkan sudah mengirimiku kartu ucapan yang disisipkan didalamnya uang senilai 500 ribu. Uang tersebut akhirnya kuserahkan kepada bosku dan dibagi rata kepada teman-teman staff. Aku dua perusahaan rekanan lain yang meneleponku dan ingin memberikanku THR namun kuacuhkan saja.

Pulogadung
090115