Cerita tentang seorang yang insyaf seringkali kita baca, dengar dari cerita orang lain atau bahkan melihat sendiri di sekitar kita tentang orang yang dulunya adalah pelaku maksiat namun tiba-tiba insyaf dan berubah 180 derajat. Orang yang insyaf karena mendapat Hidayah dari Allah SWT.
Anugerah hidayah adalah sesuatu yang tak terkira nilainya karena membawa kita kepada kebaikan. Ketika berbicara masalah Hidayah, maka hal yang kita percayai selama ini adalah hidayah tersebut otoritas Allah SWT. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan mendapatkan Hidayah tersebut. terkadang orang yang berkelimpangan dosa namun di kemudian hari mendapat hidayah dan berubah menjadi orang baik. Ada pula dalam sejarah tentang seorang pelacur yang kemudian dijamin masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan.
Hidayah memang adalah rahasia Allah namun ada benang merah yang kusimpulkan dari setiap cerita orang yang mendapat hidayah bahwa meskipun seseorang tersebut menggunung dosanya selama dia tidak bangga akan dosa itu dan dalam hatinya tetap merasa berdosa maka dia kemungkinan akan mendapat hidayah suatu saat nanti.
Beda halnya ketika orang bergumul dalam dosa namun dalam hatinya dia merasa bangga akan dosa yang diperbuatnya maka yakinlah Tuhan tahu hati setiap hambanya.
Begitulah menurutku hakekat hidayah tersebut. dia datang kepada orang yang tepat. Orang yang tetap berusaha menata hatinya menyatu dengan Rabbnya meski di permulaan, dia larut dalam kedzaliman, orang yang menikmati kedzaliman dirinya dan bahkan menyombongkan dirinya dengan perbuatan maksiat menandakan bahwa kedzaliman tersebut merasuk sampai kedalam hatinya.
Mencuri misalnya mempunyai dua sisi yang berbeda meski secara zahir hal tersebut tetaplah mencuri. orang yang kelaparan kemudian mencuri demi kebutuhan perutnya tidaklah sama dengan orang yang menjadikan mencuri sebagai profesinya namun dimata kita, tetaplah mencuri itu salah. wts yang terjerat dalam lubang hitam karena masalah ekonomi tidaklah sama dengan wts yang menikmati profesinya tersebut karena bermewah-mewahan dan menikmatinya.
Hati selalu saja tidak berbohong. bahkan aku berpandangan bahwa " hati yang menangis karena Allah saat bergelimpangan maksiat lebih mulia daripada hati yang menyombongkan kepada manusia ketaatannya kepada Rabb.
Ada satu petuah kuno di kampungku yang masih kuingat sampai sekarang "Tuhan mangkita penawa tangngia batang kale." secara sederhana bisa diartikan bahwa Tuhan melihat aktivitas dan niat dalam hati bukan aktivitas diri yang terlihat karena pada intinya, hatilah yang menentukan.
Hidayah memang otoritas Tuhan namun percayalah bahwa dengan menjaga hati dan selalu menata hati adalah jalan menuju hidayah tersebut. jangan sampai membiarkan hati dalam keadaan sakit atau mati karena hati yang demikian sudah tidak berfungsi lagi.
Pulogadung
4 Ramadhan 1436 H
Hidayah memang adalah rahasia Allah namun ada benang merah yang kusimpulkan dari setiap cerita orang yang mendapat hidayah bahwa meskipun seseorang tersebut menggunung dosanya selama dia tidak bangga akan dosa itu dan dalam hatinya tetap merasa berdosa maka dia kemungkinan akan mendapat hidayah suatu saat nanti.
Beda halnya ketika orang bergumul dalam dosa namun dalam hatinya dia merasa bangga akan dosa yang diperbuatnya maka yakinlah Tuhan tahu hati setiap hambanya.
Begitulah menurutku hakekat hidayah tersebut. dia datang kepada orang yang tepat. Orang yang tetap berusaha menata hatinya menyatu dengan Rabbnya meski di permulaan, dia larut dalam kedzaliman, orang yang menikmati kedzaliman dirinya dan bahkan menyombongkan dirinya dengan perbuatan maksiat menandakan bahwa kedzaliman tersebut merasuk sampai kedalam hatinya.
Mencuri misalnya mempunyai dua sisi yang berbeda meski secara zahir hal tersebut tetaplah mencuri. orang yang kelaparan kemudian mencuri demi kebutuhan perutnya tidaklah sama dengan orang yang menjadikan mencuri sebagai profesinya namun dimata kita, tetaplah mencuri itu salah. wts yang terjerat dalam lubang hitam karena masalah ekonomi tidaklah sama dengan wts yang menikmati profesinya tersebut karena bermewah-mewahan dan menikmatinya.
Hati selalu saja tidak berbohong. bahkan aku berpandangan bahwa " hati yang menangis karena Allah saat bergelimpangan maksiat lebih mulia daripada hati yang menyombongkan kepada manusia ketaatannya kepada Rabb.
Ada satu petuah kuno di kampungku yang masih kuingat sampai sekarang "Tuhan mangkita penawa tangngia batang kale." secara sederhana bisa diartikan bahwa Tuhan melihat aktivitas dan niat dalam hati bukan aktivitas diri yang terlihat karena pada intinya, hatilah yang menentukan.
Hidayah memang otoritas Tuhan namun percayalah bahwa dengan menjaga hati dan selalu menata hati adalah jalan menuju hidayah tersebut. jangan sampai membiarkan hati dalam keadaan sakit atau mati karena hati yang demikian sudah tidak berfungsi lagi.
Pulogadung
4 Ramadhan 1436 H