June 22, 2015

Tentang Insaf dan Hidayah

Cerita tentang seorang yang insyaf seringkali kita baca, dengar dari cerita orang lain atau bahkan melihat sendiri di sekitar kita tentang orang yang dulunya adalah pelaku maksiat namun tiba-tiba insyaf dan berubah 180 derajat. Orang yang insyaf karena mendapat Hidayah dari Allah SWT.

Anugerah hidayah adalah sesuatu yang tak terkira nilainya karena membawa kita kepada kebaikan. Ketika berbicara masalah Hidayah, maka hal yang kita percayai selama ini adalah hidayah tersebut otoritas Allah SWT. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan mendapatkan Hidayah tersebut. terkadang orang yang berkelimpangan dosa namun di kemudian hari mendapat hidayah dan berubah menjadi orang baik. Ada pula dalam sejarah tentang seorang pelacur yang kemudian dijamin masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan.

Hidayah memang adalah rahasia Allah namun ada benang merah yang kusimpulkan dari setiap cerita orang yang mendapat hidayah bahwa meskipun seseorang tersebut menggunung dosanya selama dia tidak bangga akan dosa itu dan dalam hatinya tetap merasa berdosa maka dia kemungkinan akan mendapat hidayah suatu saat nanti.

Beda halnya ketika orang bergumul dalam dosa namun dalam hatinya dia merasa bangga akan dosa yang diperbuatnya maka yakinlah Tuhan tahu hati setiap hambanya.

Begitulah menurutku hakekat hidayah tersebut. dia datang kepada orang yang tepat. Orang yang tetap berusaha menata hatinya menyatu dengan Rabbnya meski di permulaan, dia larut dalam kedzaliman, orang yang menikmati kedzaliman dirinya dan bahkan menyombongkan dirinya dengan perbuatan maksiat menandakan bahwa kedzaliman tersebut merasuk sampai kedalam hatinya.

Mencuri misalnya mempunyai dua sisi yang berbeda meski secara zahir hal tersebut tetaplah mencuri. orang yang kelaparan kemudian mencuri demi kebutuhan perutnya tidaklah sama dengan orang yang menjadikan mencuri sebagai profesinya namun dimata kita, tetaplah mencuri itu salah. wts yang terjerat dalam lubang hitam karena masalah ekonomi tidaklah sama dengan wts yang menikmati profesinya tersebut karena bermewah-mewahan dan menikmatinya.

Hati selalu saja tidak berbohong. bahkan aku berpandangan bahwa " hati yang menangis karena Allah saat bergelimpangan maksiat lebih mulia daripada hati yang menyombongkan kepada manusia ketaatannya kepada Rabb.

Ada satu petuah kuno di kampungku yang masih kuingat sampai sekarang "Tuhan mangkita penawa tangngia batang kale." secara sederhana bisa diartikan bahwa Tuhan melihat aktivitas dan niat dalam hati bukan aktivitas diri yang terlihat karena pada intinya, hatilah yang menentukan.

Hidayah memang otoritas Tuhan namun percayalah bahwa dengan menjaga hati dan selalu menata hati adalah jalan menuju hidayah tersebut. jangan sampai membiarkan hati dalam keadaan sakit atau mati karena hati yang demikian sudah tidak berfungsi lagi.

Pulogadung
4 Ramadhan 1436 H

June 19, 2015

Khutbah Jum'at

Ini adalah jumat pertama di Bulan Ramadhan. tidak banyak yang berubah meski hanya dari perbedaan jalanan yang agak sepi dan warung pinggir jalan tutup selain itu, semua berjalan apa adanya. karyawan masuk seperti biasa meski ada pengurangan jam kerja 1-2 jam.

Barusan saya melaksanakan shalat jumat di mesjid kompleks. tidak seperti jumat kemarin dimana saya agak lambat tiba di mesjid, tadi saya sudah tiba di mesjid sebelum adzan dikumandangkan. alhasil saya bisa mendengarkan secara penuh khutbah jumat kali ini meskipun isi khutbah jumat yang datar-datar saja dan membahas isi khutbah secara tekstual.

Islam adalah salah satu agama yang paling benar di muka bumi ini. memilih jalan selain Islam berarti mengundang amarah Tuhan. Islam datang ketika orang memilih menjadi atheis atau bahkan memiliki banyak Tuhan sehingga pada saat itu, Islam datang dengan kebenarannya.

"ada sekelompok orang dalam Islam yang memilih untuk puasa terus menerus, beribadah tanpa tidur dan memutuskan tidak menikah karena khawatir isteri mereka akan mengalihkan perhatian mereka dari Tuhan. ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, Beliau berkata bahwa Saya adalah manusia yang paling takut kepada Allah namun saya masih makan, masih menyempatkan tidur bahkan memiliki beberapa Isteri"

Itu adalah sebagian dari isi khutbah jumat tadi yang masih segar diingatan saya. entah bagaimana mengutarakan hal yang tidak saya sepakati dari ceramah tersebut namun memang ketika kita membuka dalil-dalil mainstream Islam maka hal-hal seperti itu adalah hal yang umum dan sesuatu yang tidak diperdebatkan lagi meski terkadang saya sering terganggu dengan hal seperti itu karena sejatinya banyak faktor lain yang mungkin saja gugur dengan dalil tersebut diatas.

Cotoh sederhana saja bahwa manusia yang tinggal jauh dari peradaban Islam dan tidak pernah mengenal Islam namun dia secara manusiawi tetap berkelakuan baik meski tidak pernah mengikrarkan dirinya sebagai muslim karena tidak pernah bersentuhan dengan Islam. apakah dia termasuk dalam golongan orang yang kemudian akan di azab?

Contoh lain mengenai cerita tentang seseorang yang memilih tidak menikah karena tidak mau cintanya terhadap Rabbnya terbagi. kisah ini berasal dari Sufi wanita Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Rabi'ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke delapan tahun 713 - 717 masehi. sumber.

Rabiah memilih untuk tidak menikah demi kecintaannya kepada Rabb. Beliau terkenal dengan Syair-syair cinta yang ditujukan kepada Sang Khalik.
“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Syair diatas menunjukkan betapa cintanya Rabiah kepada Rabbnya dan alam semesta sudah tidak meragukan lagi ketebalan cinta yang dimiliki bahkan hatinya sudah tidak tersisa lagi selain dari cintanya kepada Rabb.

Ketika alasan seperti itu yang menyebabkan seseorang memilih untuk tidak menikah, apakah kita dengan sok taunya akan menjustifikasi mereka sebagai manusia yang tidak mengikuti ajaran Islam dengan sempurna?
WallahuAlam Bissawab

Pulogadung
190615

Tarawih #2

Puasa pertama berjalan lancar. tidak ada hal yang terlalu menarik diceritakan karena rutinitas kantor yang berjalan seperti biasanya hanya saja jam pulang kantor yang dipercepat. Jika pada hari biasa kantor masih ramai pada pukul 16:00 WIB namun hari pertama puasa, jam segitu kantor sudah lengang, mau tak mau, aku pun beranjak pulang meski jarak kantor ke kos hanya sekitar 10 menit ditempuh dengan jalan kaki.

Aku tiba di kos sebelum setengah lima. Tidak tahu harus berbuat apa meski sadar bahwa harusnya waktu luangkan itu dipergunakan untuk tadarrus namun aku lebih memilih menyetel radio dari Hp. Tidak terara ternyata aku ketiduran dan bangun 3 menit sebelum buka. alhasil aku hanya berbuka puasa dengan sebotol soft drink.

Aku memilih tarweh di mesjid Mashum dekat kos. di hari kedua tarweh, Mesjid tersebut masih lumayan ramai oleh Jamaah. Setelah shalat Isya, dilanjutkan dengan shalat tarweh secara berjamaah. Ternyata di mesjid tersebut tidak diselingi oleh ceramah tarweh sehingga tidak ada yang bisa aku ceritakan kali ini tentang ceramah tarweh. setelah rakaat kedelapan, tarweh masih dilanjutkan sampai rakaat ke 20 dan aku memilih pulang karena memang niatku dari kos tarweh 8 rakaat.

Di mesjid ini memang hanya menjadwalkan beberapa kali ceramah selama Ramadhan.

Ah, tidak ada yang menarik untuk diceritakan hari ini
mesjid Mashum
2 Ramadhan 1436 H

June 17, 2015

Tarawih #1

Saya memutuskan untuk melalui Tarweh Ramadhan pertama di bilangan blok M.alasanku sederhana karena suasana Mesjid blok M sangat sejuk dan damai. alasan lain mungkin karena beberapa malam tarweh di tahun kemarin kulalui di mesjid tersebut bahkan saat kesendirianku di malam hari raya idul fitri kuhabiskan di mesjid tersebut sambil meresapi betapa hampanya diri yang terkurung dalam kesendirian di saat harusnya momen tersebut dijadikan ajang kumpul bersama dengan keluarga.

Ceramah tarweh malam ini tentang Sejarah puasa dan hakekat puasa. si Penceramah menguaraikan bagaimana awal puasa yang dijalani oleh umat Islam dengan sangat berat karena pada saat itu, umat Islam masih dalam serba kekurangan. di masa awal-awal diwajibkannya Ramadhan pun ditandai dengan persaudaraan yang erat antara kaum anshar dan kaum Muhajirin.

Tidak banyak yang bisa kutuliskan ulang tentang ceramah malam tadi namun pada umumnya bahwa isi ceramah adalah flashback tentang puasa itu sendiri dan siapa saja yang diwajibkan berpuasa.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” 
(QS. Al Baqarah: 183)

Menurut saya, potongan ayat tersebut diatas menjadi inti ceramah semalam meski elaborasi yang lebih panjang tentunya.

Hal lain dari suasana Tarweh pertama semalam adalah mesjid yang dipenuhi oleh jamaah yang membludak. seperti suasana di awal Ramadhan ketika jamaah bahkan harus antri masuk ke dalam mesjid.

Mesjid Al-Azhar salah satu mesjid favorit shalat tarweh bagi  masyarakat ibukota selain mesjid Istiqlal. ada rasa sejuk yang mengalir dari dalam diri ketika shalat di mesjid tersebut atau mungkin juga karena suasananya yang masih rimbun oleh pepohonan di area parkiran meski beberapa bulan yang lalu, ada pohon yang ditebang dan mengurangi kesejukan mesjid

Mesjid Al-Azhar
1 Ramadhan 1436 H

Sisa Percakapan Dengan Bapak (Lagi)

paling tidak seminggu sekali saya menelepon Bapak di kampung. sekedar menanyakan kabarnya dan keluarga lainnya. seringkali ketika menelepon bapak, banyak sempalan cerita yang sayang sekali kalau tidak saya uraikan. sekedar untuk mengingat-ingat hikmah pembicaraan dengan Bapak meski terkadang seringkali kami berselisih pendapat untuk sebuah kasus.

Pembicaraan kami sebenarnya tidak pernah mengarah ke hal yang amat serius meski beberapa kali saya menangkapi pernyataannya yang menurutku tidak sesuai dengan idealisme abal-abal yang masih kurangkul misalnya pernyataannya tentang petani. Menurut saya bahwa hal-hal seperti itu penting untuk saya tanggapi

Bapak memang terkenal orang keras dan tak pernah kompromi namun ada lagi hal yang yang tidak kusepakati dengan apa yang ada di kepalanya. Misalnya saja ketika menjalin silaturrahim, bapak terkadang mengkorelasikannya dengan peluang kerja yang ada dari orang. Beberapa kali saya mendiskusikan hal tersebut bahwa menggantungkan nasib kepada orang lain adalah sesuatu yang keliru karena pada akhirnya ketika jalan tersebut yang akan ditempuh dalam mencari rejeki "pekerjaan" maka akibatnya hanya 2, ketika orang tersebut mampu membantu kita mendapatkan pekerjaan maka kita akan selalu merasa berutang budi dan tidak jarang yang malah menjadi ekor orang tersebut, hal kedua jika dia tidak mampu membantu kita maka kita pada akhirnya akan sakit hati dan terkadang antipati terhadap orang tersebut.

Ada sebuah cerita nyata di kampungku tentang seorang polisi yang pangkatnya sudah masuk dalam jajaran tinggi, saya lupa apa jabatannya. Dia terkenal bisa meloloskan orang-orang di kampungku masuk polisi sehingga tidak heran, banyak sekali orang yang bertandang ke rumahnya apatahlagi orang tua yang punya anak laki-laki yang digadang-gadang bisa dititipkan untuk menjadi seorang polisi. itu dulu saat saya masih bocah. dia benar-benar menjadi idola bahkan ketika beliau mudik maka bisa dipastikan rumahnya akan ramai. saya harus mengakui bahwa bapak juga sering silaturrahim karena memang abang saya yang sulung saat itu berniat mendaftar polisi. alhasil ketika tamat SMA, abang saya benar-benar mendaftar polisi dan sang polisi tadi yang jadi bumpernya. meski 3 kali mengikuti seleksi masuk polisi, abangnya tidak lulus dan yang mungkin menjadi ironis baginya karena pada kesempatan terakhir mendaftar, abang saya jatuh pada tes terakhir.

sejak saat itu, Bapak maupun abang saya sudah tidak terlalu akrab dengan polisi tadi. memang sebelumnya, banyak orang di kampungku yang "berhasil" lulus karena dibackingi oleh Bapak polisi tersebut namun ada insiden yang membuat dia tidak punya lagi power. tepat saat abangku mendaftar untuk terakhir kalinya, ad orang yang membocorkan kepada instansi kepolisian bahwa dia bisa meloloskan calon polisi alhasil pada saat itu, semua calon polisi yang berasal dari kabupaten kami tidak lulus dan termasuk abang saya yang jatuh di tes terakhir. entah isu itu benar atau tidak namun begitulah cerita yang beredar luas, pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP.

saya tidak tahu persis perasaan Bapak kenapa pada saat abang saya tidak lulus, dia begitu menjaga jarak dari polisi tersebut. cerita Bapak kemudian berlanjut semalam. katanya bapak Polisi tersebut yang sudah lanjut usia dan terserang maaf "Stroke" sempat mudik minggu lalu. tidak ada satupun warga di kampung saya yang menjenguknya padahal dulu saat masih aktif sebagai polisi dan punya power di Polda, dia selalu dikunjungi ketika mudik.

Bapak bercerita bahwa si Polisi tersebut mengatakan bahwa " saya masih bisa kok meloloskan orang masuk Polisi" entah apa yang ada dipikiran pak polisi tersebut namun menurut Bapak bahwa ada perasaan lirih dari pernyataannya tersebut karena jarang sekali orang yang menjenguknya tidak seperti saat dia masih punya kekuasaan.

sempalan-sempalan cerita dari bapak semakin menyadarkanku bahwa dunia ini memang tempatnya mayoritas orang yang melihat apa yang nampak. mereka menginkan duniawi dan akan berlalu seketika ketika duniawi sudah tidak di tangan. pun mengingatkanku bahwa roda hidup selalu saja akan berputar entah putarannya lambat ataupun cepat namun begitulah hakekat hidup. satu hal yang harus dipegang teguh adalah semua yang dilakukan seharusnya karena berasal dari nurani terdalam bukan karena ada sesuatu yang diinginkan. menjalin silaturrahim haruslah murni karena niat yang suci bukan karena ingin dekat dan mendapatkan manfaat dari silaturrahim tersebut

ah, sudah dulu
160615

June 16, 2015

Marhaban ya Ramadan

Sudah tak berbilang kali aku menulis tentang waktu bahkan dalam beberapa tulisanku yang bahkan tidak berhubungan dengan waktu pun sering kusisipkan kata itu. Aku memang selalu memperhatikan perjalanan waktu yang seakan tidak pernah letih melangkah dan terus melangkah bahkan sering terkesan waktu berlari begitu cepat. Aku terkadang tak percaya bahwa usiaku sudah menginjak umur yang matang dimana serasa baru kemarin aku bermain layangan ataupun bermain lumpur.

Tiba pada saat ini, di gerbang Ramadhan 1436 H, seakan baru sebulan berlalu aku menjalani Ramadhan tahun di Cilandak namun ternyata kali ini ramadan sudah datang menyapa. Perjalanan waktu yang begitu amat cepatnya benar-benar membuatku terkesima bahwa tidak ada tempat bagi orang yang berleha-leha tanpa bergerak mengikuti alur kehidupan. berjalan adalah solusi paling sempurna dalam mengikuti permainan waktu dan sesekali meneduh ketika penat menghampiri namun jangan biarkan malas mendera karena kita akan tergerus oleh aliran waktu

Durasi setahun yang aku lalui layaknya hanya sekilas pandangan mata. aku tidak sempat mudik lebaran tahun lalu karena masalah ekonomi. Masih segar diingatanku saat shalat ied di masjid Istiqlal. Di tengah riuh kegembiraan manusia yang merayakan kemenangan, aku bahkan menitikkan air mata dengan berbagai alasan. Sepi dalam keramaian karena jauh dari orang yang diakrabi mungkin pula nista yang sudah bergunung membuatku tak tahu harus bagaimana mengakuinya di hadapan Sang Ilahi.

Setahun berjalan, kedzaliman masih aku ulangi meski beberapa kali aku mengikrarkan diri untuk bertobat. Benarlah sebuah pernyataan yang kira-kira seperti ini bahwa lebih baik menghindari maksiat karena ketika sudah terjebak di dalamnya, terkadang membutuhkan kerja keras untuk lepas darinya bahkan seringkali manusia gagal lepas dari cengkraman maksiat.

Hal yang berbeda setahun ini adalah kesibukanku yang harus menjalani rutinitas di kantor bumida rawamangun. Aku kemudian bergumul dengan kesibukan mingguan kemudian menghabiskan waktu berjalan-jalan saat weekend. Suatu bentuk kesyukuran karena tidak mempunyai aktivitas terkadang membunuh gairah kreativitas.

Esok ramadan kembali. Selalu saja ketika momen tersebut tiba, maka memori masa lalu menyeruak di kepalaku tentang semua kenangan di kampung. Ramadan memang selalu menghadirkan kehangatan karena kita akan melewati beberapa rutinitas bersama-sama entah dengan keluarga maupun dengan teman-teman. mulai sahur, shalat subuh di mesjid yang dipenuhi khalayak, jalan-jalan pagi dan saat petang menjelang, aneka jajanan ta'jil dijual di pinggir jalan, buka bersama yang ramai diadakan dimana-mana sampai tarweh bareng.

Di usia yang sudah tidak lagi muda, aku berusaha untuk memaknai Ramadhan bukan sekedar bernostalgia dengan masa kecil yang penuh kesan namun lebih dari semua itu, aku berusaha untuk merefresh ulang semua hal yang telah berjalan setahun sebelumnya. Ramadhan selalu mengingatkan aku bahwa usia selalu bertambah dan umur berkurang.

Sebentar lagi Ramadhan tiba
Marhaban Ya Ramadhan
170615

June 15, 2015

Di Pintu Gerbang Ramadan

Cahaya berpendar dalam dinding nurani yang roboh akan ingin nafsu yang membara, seakan memaksa keluar dan meluluhlantahkan sisasisa iman yang tersisa
selaksa aib terus saja tersembur dari mulut busa
entah sesuatu yang disengaja ataupun asa yang mulai bergeser dari porosnya
kita tenggelam dalam nafas yang saling mengadu dengan mata yang menahan perasaan di ubunubun

aku seakan tersesat di setiap helaan nafasmu yang membuat nafasku menyatu
sisa farfummu menyeretku dalam kelam yang tak berujung
aku mengadah
namun seperti pekat yang terlihat tak mampu berkata apaapa
aku hanya bisa pasrah dengan desahan malam
semakin menenggelamkanku dalam kabut dosa

aku berdiri
merapikan lengan bajumu yang terkoyak
di setiap percikan bau mulut kita yang melekat di lengan baju

ah, aku tak kuasa dengan tangis alam menghampiri
hujatan semesta membuatku semakin merasa seperti pendosa tak berhati
ingin kuakhiri hajat ini
inginku membersihkan noda malam
namun tak jua ada energi
aku menangis
meski seringkali kesadaranku berucap bahwa itu tangisan palsu
karena esok akan berulang lagi

dalam sepi
tertulis doa ini Tuhan
Sembuhkanlah luka nurani ini

di pintu gerbang Ramadhan
1501615

Cerita Ironi Tentang Petani

Cerita tentang Petani selalu saja tidak bosan untuk diuraikan. Saya menulis tulisan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tulisan Kak Yusran tentang Malu Aku Jadi Petani Indonesia namun murni pengalaman pribadiku dan percakapan-percakapan ringan dengan bapakku yang seorang petani tulen. Aku bahkan merasa akulah Asep sebenarnya dalam tulisan Kak Yusran dan itu fakta terjadi di kehidupanku bahkan diriku sendiri.

Sebelum mengurai ceritaku dengan bapak mengenai perbincangan masalah Petani, saya ingin bercerita tentang kampung halamanku yang berada jauh di bagian utara Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Toraja. Kontur kampungku berbukit-bukit dan disitulah penduduk di kampungku bercocok tanam dari jaman dulu. meskipun ada sawah namun hanya berpetak-petak tidak seperti hamparan sawah yang amat luas di daerah bugis seperti pinrang.

Masyarakat di kampungku menggantungkan hidupnya dari hasil bertani dan sawah meski tidak bisa dikatakan berlebihan namun saya pun tidak pernah menemui masyarakat di kampungku yang tergolong miskin karena setidaknya mereka masih bisa makan sehari 3 kali bahkan masih tersisa untuk biaya membeli keperluan lain dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ada cerita tentang kampungku yang membuat termasyhur sampai di daerah lain. Dulu entah tepatnya tahun berapa, kampungku terkenal dengan kampung jujur dan bebas dari pencurian, bayangkan saja ketika ada mangga ataupun kelapa jatuh dari pohonnya maka tidak ada seorang pun Masyarakat yang akan mengambilnya selain pemiliknya. Cerita lain adalah tidak pernah terjadi pencurian ataupun tindak kejahatan lainnya. memang dulu religiusitas di kampung sangat tinggi.

Kembali ke masalah petani. Saya tidak tahu pasti berawal dari mana, pola kehidupan di kampungku berubah bahkan sampai pada paradigma bahwa profesi sebagai petani adalah profesi yang berada di strata paling bawah dibandingkan dengan profesi lain seperti pedagang apatahlagi PNS. Masyarakat di kampungku sudah merubah isi kepalanya tentang sebuah pekerjaan bahkan sekolah selalu saja dikorelasikan dengan pekerjaan. Saya berkali-kali mendengar cerita sinis dari masyarakat tentang beberapa pemuda yang sudah menyelesaikan pendidikan sampai pada tingkat sarjana namun akhirnya kembali ke kampung dan bekerja sebagai petani, masyarakat di kampungku menganggap hal tersebut seperti aib yang memalukan.

Sampailah saya pada perbincangan tentang petani dengan bapakku. Berkali-kali ketika berbicara melalui telepon, saya selalu merasa tidak enak ketika bapakku seakan tidak mensyukuri pekerjaannnya sebagai petani. "nak, kalian harus meningkat dari orang tua, kami jadi petani dan jangan menjadi petani lagi seperti saya." Begitu berkali-kali pernyataan dari bapakku. secara tersirat bapakku seperti tidak mensyukuri pekerjaan sebagai petani dan dia seperti masyarakat pada umumnya di kampungku yang menganggap bahwa menjadi petani berarti memilih menjadi bagian strata paling bahwa dalam kehidupan bermasyarakat. dia bahkan berkali-kali menekankan bahwa kami sudah disekolahkan sampai sarjana sehingga harus bekerja kantoran.

Seringkali terdengar sangat keras ketika saya melancarkan protes kepada bapakku bahwa petani mungkin pekerjaan yang lebih bersih dari hal yang syubhat. Saya pun mengatakan bahwa menjadi petani bukan aib dan tidakkah kita memikirkan masa-masa yang lalu bahwa dari bertani lah kita bertumbuh dan tidak pernah sekalipun kita kelaparan.

Masyarakat di kampungku mayoritas berpikiran bahwa bekerja kantoran adalah sebenar-benarnya pekerjaan. mengenakan pakaian rapi, rambut disisir, berangkat jam 7 dan pulang jam 5 bagi mereka adalah pekerjaan ideal dan jauh lebih baik dari pekerjaan bersenjata cangkul, pakaian apa adanya dan berangkat jam berapa saja kemudian pulang berkubang lumpur. Entahlah apa yang sedang terjadi dalam pergeseran paradigma namun kesimpulanku bahwa itu terletak di dalam hati. ketika kita melakukan demi diri dan tulus bahkan hal tersebut bukan menjadi masalah namun beda halnya ketika kita sudah pada tingkat melihat sesuatu bukan pada esensinya bahkan terkadang fokusnya pada duniawi dan ingin dianggap berhasil oleh orang sekitar maka semua yang dianggap baik adalah yang kasat mata.

Saya pribadi memang dari dulu bekerja sambilan sebagai petani sejak masih SD sampai SMA dan sekarang saya tidak pernah menyesali kehidupan tersebut bahkan malah merindukannya. memang dulu sesekali terlintas pikiran bahwa bekerja kantoran masih lebih baik namun seiring seringnya mengamati banyak hal ternyata saya keliru.

Cara pandang orang tua seringkali berpengaruh terhadap perkembangan anak. Ketika distimulasi sesuai keinginan orang tuanya maka outputnya akan menjadi seperti paradigma orang tua yang berlanjut terus menerus atau sebaliknya akan menjadi pribadi yang menentang segala hal.

Kembali lagi bahwa profesi Petani sama sekali bukan profesi yang paling bawah dalam strata masyarakat bahkan profesi ini sangat vital dalam mata rantai kelangsungan hidup manusia. Namun ketika semua sudah menganggap bertani adalah pekerjaan yang memalukan maka tinggal menunggu waktu ada titik dalam mata rantai keberlangsungan hidup manusia yang terputus dan itu akan membuat kehidupan akan berhenti.

150615

Cerita Yang Tersisa dari Arisan

Saya menilai diriku adalah pribadi yang mungkin selalu berubah dari beberapa hal. Terkadang saya suka berkumpul dan mengunjungi keluarga ataupun kenalan namun seringkali pula saya merasa hanya ingin sendiri dan berdiam diri namun terlepas dari semua itu, saya adalah orang yang tidak ingin memutus silaturrahim dan alasan itu yang membuatku tetap memelihara persaudaraan maupun pertemanan dalam batasan-batasan tertentu.

Berkenalan dengan win dan menjalin relasi lebih dari sekedar pertemanan otomatis membuat saya berkenalan dengan keluarga besarnya. Realita tersebut tidak bisa dipungkiri dan saya harus pandai menempatkan diri di saat tertentu misalnya saja ada acara keluarga. keluarga besar tentunya tidak memiliki isi kepala yang sama sehingga terkadang kita harus memahami satu persatu Acara keluarga yang rutin dilakukan adalah arisan. Sejak setahun yang lalu, saya sudah ikut arisan dengan keluarga besar win meski harus saya akui bahwa status sosial masih saja menggangguku dan bahkan seringkali perasaan minder yang tidak bisa dihindari menghinggapiku dalam setiap sesi pertemuan keluarga. Entahlah meski seringkali saya camkan dalam hati bahwa strata sosial tidak mungkin membunuhku dalam setiap kondisi yang paling pahit pun namun hati tetaplah berkata lain, perasaan seperti itu akan selalu ada sampai mungkin saja bisa berdamai dengan diri. 

Kemarin, arisan keluarga yang ketiga kalinya saya hadiri di rumah pak en. Sehari sebelumnya memang mama eni sudah bbm mengabari acara arisan tersebut. Meski sudah berkali-kali ikut namun tetap saja perasaan saya belum bisa enjoy saat berada di tengah-tengah mereka. Saya bahkan diam seribu bahasa ketika tidak ditanya apatahlagi mereka khususnya yang sudah mak-mak selalu saja membicarakan kuliah, kerja dan apa saja mengenai hal yang mereka anggap prestise. Saya bukan tidak suka namun lebih tepatnya tidak sepakat ketika anak dipaksa untuk mengikuti kemauan orang tua ataupun distimulasi untuk mendapatkan nilai sempurna dan dalam kesempatan yang lain mereka dipaksa bekompetisi dengan diri mereka mencapai kemauan orang tua.

Satu hal yang membuat saya sedikit tersenyum ketika bertemu dengan mereka adalah tingkah polah anak-anak yang lucu dan terlihat agak pendiam. Mereka tidak pernah terlalu perduli dengan ucapan orang tua mereka yang terlalu me"lebay"kan hal yang telah mereka dapat. Saya salut dengan mereka karena dalam berinteraksi dengan sesamanya, mereka sopan dan tahu menempatkan diri mereka dengan orang di sekitarnya. Terlihat dalam hal ini bahwa orang tua mereka berhasil dalam mendidik anaknya menjadi anak yang sopan.

Diantar kelima anak tersebut, mungkin If yang paling supel dan dengan ramah selalu menyapa saudara-saudaranya bahkan yang lain hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Ic pun juga supel namun kelihat sekali bahwa Ic sudah mulai menempatkan dirinya karena dia memang sudah seorang mahasiswa. Saudara mereka yang laki-laki lebih banyak diam, reski, Johan dan Fa amat sangat pendiam dan bahkan menjurus lebih pemalu. Ris masih sedikit membaur namun Johan selalu menyendiri dan lebih suka diam meski dia sebenarnya bukan karena pemalu namun memang dia pendiam sedangkan Fa, mungkin karena usianya yang baru belia, dia lebih pemalu dan seringkali hanya menutup muka ketika ditanya sesuatu oleh tante maupun omnya.

Overall, keluarga besar mama en semua sabar dan pendiam meski dari beberapa sisi mereka rame.
Begitulah berkenalan dengan keluarga baru yang tidak semua isi kepala dan karakter sama.

Rawamangun 150615

June 13, 2015

Menunggu Senja Bersamamu

Aku mengeja waktu menantimu di sudut bangku toko
Merapal mantra perisai dirimu yang sedang pasrah dalam genggaman semesta
Melayang-layang tanpa ada kuasa menaklukkan kecemasan

Bukankah perjalan seperti itu adalah penyerahan total nasib pada takdir
Aku sekali lagi mengirim beribu kata baik kepada sang alam
Semoga angin tetap dengan tenangnya menjagamu

Ah, aku ingin membunuh gundah
Aku mengubur cemas
Lebih baik kuceritkan saja hariku

Tak jua kakiku beranjak bersama alunan hari yang mulai senja
Sebentar lagi engkau tiba

Kita melunasi rindu di taman Menteng
Bersama sepi yang berpendar dalam riuh canda bocah-bocah.

130615

June 12, 2015

malam yang merindu

Aku mendaki senja dengan nafas berbau hening
sepi menangisi sisa pertemuan semalam
diujung derita yang mulai mengering

Kita tidak lebih dari pekat yang berjatuhan
Riuh dalam nada hidup yang semakin meredup
Kita tidak lebih dari sekedar onggokan dendam yang basi

Khutbah Jum'at

khutbah jumat kali ini tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. hanya ada kalimat yang diucapkan Khatib tadi tentang Khutbah yang disampaikannya. mungkin juga saya yang terlambat mendatangi shalat jumat sehingga khutbah yang kudengarkan terdengar terpotong-potong.

" Allah adalah sumber manfaat dan juga Allah adalah sumber Mudharat."

hanya kalimat ini yang masih segar di kepalaku terkait khutbah tadi. setelah itu hanya potongan-potongan kata tentang tauhid yang entah kenapa tidak kumengerti arah khutbahnya.

ah, ini saja lah
khutbah jumat tak berkesan
120615

June 11, 2015

Ode Untuk Sang Kekasih

Aku membalutmu dengan hening malam ini
pelukan dingin menghangatkan aroma kebersamaan kita dengan cengikancengikan sepi
aku merindu rinai yang selalu datang bertamu
namun entah di 2 kamis bulan juni, dia masih enggan menampakkan kehangatannya

aku melukis rindu dengan sisa salju yang kupungut di negeri seberang
ingin kukabarkan semua cerita tentangmu yang mendamba laut

"besok aku kan pergi sebentar waktu sayang, menyeberang lautan bertangan hampa. aku kembali saat sepi mendera dan rindu di ubunubun."
begitu pamitmu saat sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningmu yang berkerut disiram hening.

sebentar saja waktu bertanya tentangku namun aku tak pernah peduli. lautan mengirimkan angin rindu saat kau mulai beranjak
aku seakan diremas malam yang dingin saat merayakan kepergianmu untuk sementara
namun tak juah tangisku

kakimu semakin melukis peta dan semakin menjauh.
namun sepanjang jalan di kota ini selalu saja meyakinkanku bahwa tak ada kata ingkar dalam pelukan semalam
hanya sedikit waktu yang hilang dan kemudian kembali saat rindu menyiksa
karena langit percaya kita adalah bilangan ganjil yang selalu menggenapkan
kita tidak akan pernah berbelah menjadi dua oleh jarak karena ganjil tak bisa berpisah

hutan semakin menakar dirinya menjadi taman percintaan kita
lautan pun berteriak
memekakkan telinga bagi para bedebah penebar asmara

tapi aku hanya disini untukmu
menyimpan sisasisa hidup bersama kenanganmu

110615