" Ibu kota lebih kejam dari pada Ibu tiri"
slogan tersebut sudah sejak lama didengungkan oleh orang yang merasa bahwa kehidupan di jakarta benar-benar keras. entah dari mereka yang telah merasakan atmosfer kehidupan di jakarta ataupun dari mereka yang hanya menyaksikan rutinitas masyarakat Jakarta dari layar kaca persegi kemudian mengkritik habis-habisan kehidupan di kota ini.
Saya sudah sudah tidak tega mengkritik kehidupan jakarta yang super duper sibuk. saya harus akui bahwa ketika masih di sulawesi tepatnya saat kuliah, seringkali saya berpikiran negatif tentang kehidupan masyarakat jakarta yang telah digerus oleh kenyataan hidup yang harus berkejaran dengan waktu setiap harinya untuk sampai di tempat kerja kemudian memburu senja saat pulang ke rumah.
Kenyataan bahwa rutinitas kehidupan di kota ini memang menguras tenaga dan pikiran, namun sejak setahun terakhir saat menetap dan bekerja di kota ini, otakku mulai melunak dan melihat sisi lain dari aktivitas masyarakat urban jakarta. terserah orang-orang menganggapku telah berubah menjadi moderat atau istilah apa yang menyindir bahwa saya sudah memaklumi keadaan seperti ini karena memang seperti itulah adanya meski saya pun sadar bahwa pemaklumanku terhadap kehidupan kota ini didasari dengan analisa yang menurutku sampai saat ini masuk akal.
saya bahkan tidak bersepakat dengan orang yang dengan sok tahu mengkritik kehidupan di kota ini namun tidak pernah merasakan atmosfer hidup dan bekerja disini. mereka hanya melakukan analisa abal-abal melalui kenyataan di media yang terkadang jauh dari apa yang sebenarnya. saya masih sedikit lebih respek terhadap orang yang mengkritik tetapi pernah merasakan kerasnya beraktivitas di kota ini namun tidak serta merta saya menyetujuinya.
saya harus akui bahwa kota ini menawarkan dinamika kehidupan yang amat kompleks. perputaran uang paling banyak disini, aktivitas politik, ekonomi berpusat disini. di kota ini pula ketimpangan sosial begitu memilukan. kejahatan dari yang berjas dan berdasi sampai kejahatan kelas teri ada disini.
Koruptor bersarang di kota ini, germo penjual nafsu, bandit pasar, begal motor semua memiliki lahan di kota ini. memang tidak salah jika mereka yang tidak suka dengan kehidupan jakarta menghabisi kota ini dengan berbagai macam kritikan dari yang membangun sampai yang sifatnya mencaci.
di sisi lain, saya harus berdamai di kota ini ketika menyaksikan sendiri atau lebih tepatnya bergabung dengan orang di kota ini yang tergolong dalam masyarakat kelas menengah. bagaimana seorang bapak yang tinggal di daerah bogor mulai bangun sebelum subuh, bersiap ke kantor kemudian berkejaran dengan KRL pada saat matahari belum nampak di ufuk timur, berdesakan dengan ribuan pengantri di stasiun.
Sesak di kereta sudah hal yang mengasikkan kemudian sampai di kantor dengan cucuran keringat. sore hari kemudian memburu waktu sampai di rumah dengan keadaan di kereta yang lebih mengerikan karena keringat dan bau yang mungkin sudah tidak bisa digambarkan. sampai di rumah saat malam sudah mulai menua, bertatap muka dengan anak isteri sejenak kemudian tidur dan kembali beraktivitas.
 |
| aktivitas pulang kantor di kuningan. 16.04.15 |
Bagaimana seorang Ibu yang tinggal di bekasi utara merangkap sebagai karyawan dan ibu rumah tangga yang rela meninggalkan semua kenyamanan di rumah untuk membantu biaya keluarga. harus bersusah payah bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan untuk suami dan anak. setelah itu dia sendiri yang akan bergegas dan berkumpul dengan mereka yang berlarian ke stasiun, terminal ataupun halte busway mengejar waktu sampai di kantor. tidak ada lagi pertimbangan tentang dirinya, baginya keluarga adalah pengorbanan tanpa batas yang menghabiskan semua waktu untuk dirinya sendiri. wajah mereka letih namun tidak terucap sedikitpun ucapan untuk menghakimi hidup di kota ini. jakarta bagi mereka ada hidup dan pengabdian untuk keluarga.
Kemudian apakah kita masih punya rasa tega untuk mengkritik habis-habisan semua masyarakat urban di kota ini dengan segala pengorbanan mereka yang tak terkira untuk keluarga. bahkan apakah mereka yang hidup dengan tenang di kota lain tanpa hiruk pikuk kehidupan yang menyesakkan lebih berani untuk berkorban kepada keluarga.
Jakarta adalah tempat untuk menguji kesabaran. kota ini mengajarkan para pejuang hidup tentang makna hidup yang sebenarnya. di kota ini kita dituntut untuk sedikit dermawan di tengah kebutuhan yang semakin mencekik, bersabar di tengah kemacetan dan banjir yang tak kenal waktu datangnya, meluangkan waktu bersujud kepada Tuhan ditengah rutinitas yang padat, berusaha setia kepada istri di tengah godaan para perempuan yang menjual dirinya di setiap tikungan bahkan sedikit menahan diri dari godaan kemewahan duniawi yang kadang tak tertahankan.
Ini mungkin kesoktahuan saya bahwa orang yang bisa bersabar di tengah macet jakarta lebih tinggi tingkat kesabarannya daripada orang yang berusaha bersabar di kampung yang adem ayem. ataukah suami yang setia kepada isterinya ketika godaan wanita cantik dibandingkan dengan suami yang setia namun tidak ada godaan dari perempuan lain.
renungan untuk jakarta
mengendalikan diri di jakarta
berhenti mendongkol di kota ini
170415