March 20, 2015

Nasabah yang Legowo

Genap sudah 7 bulan aku bekerja di kantor ini. Divisi kerja yang menurutku harus banyak berinteraksi dengan para nasabah yang mengajukan klaim. Sudah terlalu banyak karakter orang yang kutemui dan mayoritas dari mereka tidak sabar dan bahkan harus dibayarkan sekarang juga klaimnya apatahlagi ketika klaim yang ditolak, sudah tidak terbayangkan kata-kata yang akan keluar dari mulut mereka. Sumpah serapah laksana peluru yang keluar dari mulut mereka yang klaimnya ditolak bahkan menyumpahi setiap karyawan yang bekerja di kantor.

Aku pernah menulis seorang nasabah bernama ibu fitriana, umurnya sekitar 30 tahun. Hal yang kuingat saat dia melengkapi berkas adalah bertepatan dengan tutup buku sehingga kasie keuangan belum bisa membayarkan klaim dan ditunda sekitar 2 minggu. Berawal dari situ, dia begitu geram dan menyumpahiku dengan kata-kata bahkan dengan ancaman bahwa dia akan menulis tentang perusahaan kantorku ke koran.

Sejujurnya dalam hati yang paling dalam, aku sama sekali tidak gentar dengan setiap ancaman seperti itu namun ada hal yang harus kujaga dalam setiap berinteraksi dengan nasabah. mereka adalah nyawa dari perusahaan. Sering pula aku menempatkan diriku sebagai nasabah dan aku berpikir mungkin saja ketika aku yang diposisi mereka, aku mungkin juga tidak bisa bersabar seperti beberapa diantara mereka.

Ketika ditelepon oleh N bahwa ada tamu namanya Zuharudin. Pikiranku sudah berkecamuk untuk menguatkan hati mendengarkan sumpah serapah karena dia datang untuk mengambil surat penolakannya. berbekal rasa tanggung jawab, aku menemuinya di ruang tamu kantor. Kujelaskan bahwa  tidak bisa diakseptasi karena kasus Hipnotis dan pengemudinya tidak ada surat. 

Saat sedang menjelaskan, kuperhatikan setiap perubahan rona di wajahnya namun sampai pada kalimat bahwa ditolak, tak sedikitpun perubahan rona memerah di wajahnya bahkan ketika aku sudah selesai menjelaskan semua, dia kemudian menimpali dengan bijak bahwa ketika peraturannya seperti itu, dia tidak bisa berbuat banyak. tak lupa saat dia pamit pulang, dia mengucapkan terima kasih dan salam. 

Ah, begitulah kita manusia, selalu tidak bisa ditebak.

Aku tidak tahu apakah dia akan datang lagi memprotes keputusan ditolaknya tersebut namun setidaknya dia telah menunjukkan sebuah sikap tenang meski sesuatu tidak sesuai dengan harapannya. aku bahkan membandingkan dengan nasabah yang suka mengeluarkan sumpah serapah.

Beginilah hari-hariku di kantor ini. berinteraksi dengan setiap orang yang mengajukan klaim. bertemu dengan bermacam karakter manusia. Setidaknya bahwa semua dari mereka menjadi pelajaran hidup untukku supaya lebih tenang dan sabar.

pulogadung, 200315 

Aku yang Nista

Cinta apa yang sedang aku dengungkan untukMu Rabb
aku membunuh semua cahaya cintaMu dalam hatiku dengan nista hitam nafsu yang tak terjaga
meski dalam setiap kesendirianku
aku melafalkan ikrar untuk berjalan di jalanMu
namun hampa
tak ada tersisa

kalau lah semua hal telah Engkau cabut dari setiap sisiku
Kalau lah murkaMu menjemputku dalam kesendirianku
siapa yang akan menjadi syafaatku
tidak ada setitik harapan untukku
karena kutahu nafsuku membinasakan semua apa yang kurajut

Tuhan, semestinya semua hal yang Engkau berikan menyadarkanku betapa aku begitu nista
mestinya aku bergerak atas semua ridhaMu
namun apa yang telah aku lakukan selama ini
aku mendzalimi diriku

berulang kali mengaku taubat
kerapkali meneteskan air mata kepedihan
namun sesering itu pula aku mengulang semua kesalahanku

Tuhan, Ijinkan aku merasakan nikmatnya beribadah kepadaMu
ijinkan semua hal yang kulakukan di alam ini hanya karenaMu
meski kusadari aku adalah pendosa tak berhati

pulogadung.200315

March 18, 2015

Menjaring Angin

Merapal doadoa senja hari
mengharap semesta berbaik hati untuk tetap bersama
namun sirna juga akhirnya

aku adalah pendamba angin
memburu setiap yang membahagiakan
aku terlena
tertidur dalam dekapan malam yang hening

kau yang disana
aku tak ingin menyakitimu
untuk setiap janji yang terucap
adalah pantang untuk berbalik arah

ah, kali ini aku penat
180315

March 17, 2015

Jejak Langkah di Tanah Pasundan

Satu lagi jejak langkah kutinggalkan di pulau ini. tanah bagian paling barat yang dianggap sebagai suku yang mungkin sedikit berbeda dari suku jawa pada umumnya. aku menarik napas lega saat melangkahkan kaki di daerah ini. mungkin sebagai perayaan bahwa semua bagian pulau ini telah kususuri. Tidak terasa memang langkahku sudah begitu jauh dan entah kemana lagi jejak langkah selanjutnya.

Tepat sabtu 14 Maret 2015, aku dan rombongan dari kantorku meninggalkan jakarta menuju tanah Pasundan tepat pukul 08:00 WIB. 3 mobil yang membawa rombongan kami kesana. masuk di tol Cawang ke arah bekasi dan tiba di Bandung. mungkin perjalanan yang tidak terlalu mengesankan karena melalui jalan Tol sampai tiba di bandung. hanya laju mobil yang kupandangi di perjalanan.

Tiba di Bandung, suasana yang kurasakan seperti berada di Malang. Entahlah namun begitu adanya. Kontur tanah yang berbukit mengingatkan aku tentang kota Malang bahkan ketika melaju ke Lembang di Dusun Bambu, suasana kota seperti memasuki pedesaan yang asri. Memoriku langsung terhempas ke masa lalu ketika aku menghabiskan masa kecil di kampung. seperti itu adanya tentang alam yang asri dan berbukit.

Setelah melepas dahaga tentang pemandangan di Dusun Bambu. kami melaju ke daerah Tebing Keraton. kami melalui tengah kota menuju Dago dan akhirnya berlabuh di Tebing Keraton. mobil harus parkir di ujung jalan setapak menuju tebing tersebut. mungkin sekitar 200 meter kami harus berjalan kaki dengan kondisi jalan yang menanjak dan berbatu. 

Bagi sebagian temanku yang masih sayang kakinya harus pegal dan tidak ingin berkucur keringat, mereka lebih memilih naik ojek dan membayar 25-50 ribu rupiah. sebenarnya ini bukan tentang harga ojek namun tentang menikmati alam. manusia adalah bagian dari alam dan tetaplah harus memijakkan kaki di kerasnya tanah. namun begitulah tentang mereka yang mungkin lebih memilih untuk memanjakan diri dengan tidak mengeluarkan keringat di tengah asrinya alam menuju Tebing Keraton. 

Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai puncak keraton. di bukit tersebut, ada tebing yang menjulang dan di bawahnya ada aliran sungai. di seberang sana, kita melihat jelas kota dengan tatanan rumah yang seperti titik-titik berderet dengan semrawut. tebing ini ramai dikunjungi oleh pasangan muda-mudi yang selfie ria tepat di tepi tebing.

setelah menuntaskan perjalanan di Tebing Keraton, kami menuju puncak Caringin Tilu. Mungkin jalanan hampir sama dengan perjalanan ke Tebing Keraton namun jalan ke Caringin Tilu masih bisa dilalui oleh mobil sehingga kami tidak berjalan kaki ke puncak.

Tidak ada yang terlalu istimewa karena semua hampir sama dengan tempat yang kami kunjungi. perjalanan berakhir di Caringin Tilu saat pulul 20:00 wib. Kami bergegas menuju jalan Cipaganti menuntaskan perut yang sudah meminta haknya. 2 kali memutari jalan tersebut baru kemudian menemukan rumah makan Iga Bakar Sijangkung. Diiringi 3 pengamen dengan suara yang pas-pasan, kami menikmati hidangan Iga Bakar yang masih hangat.

Aku tidak lantas pulang ke ibukota saat rombongan temanku sudah pulang. aku memutuskan untuk bermalam di bandung rumah salah satu kawan baikku yang sudah menikah dan menetap di Bandung. dia menjemputku dengan motor suzukinya yang sudah butut dan sering kupinjam dulu saat masih kuliah.

Paginya, kami memutuskan untuk berjalan di sekitar kampus UNPAD, lapangan Gazebu dan gedung sate. Kami memanjakan makanan di samping kampus UNPAD.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan beberapa daerah yang kudatangi di Bandung

March 12, 2015

Dia yang Kuanggap Guru

Pernahkah kalian respek kepada manusia yang pernah dijumpai dari berbagai sisi

Untuk pertanyaan ini, aku jawab iya. Mungkin banyak orang yang kujumpai yang membuatku kagum dari satu sudut pandang namun tidak dengan guruku. Beliau mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. bagaimana menaruh kehidupan dunia di tangan bukan di hati.

terlalu banyak hikmah yang mungkin kuramu dari interaksi kami. satu hal yang kupercayai dari setiap tindakannya adalah tidak pernah sekalipun aku menjumpai tindakannya karena ego, semua berdasar pada pertimbangan yang matang. salah satu orang yang tenang menghadapi musibah yang pernah kujumpai.

sekali waktu beliau merintis sekolah dan gagal namun dari raut wajahnya, tidak ada rasa kekecewaan darinya. sekali waktu merintis tempat kursus yang sudah mulai berjalan kemudian berhenti tanpa kutahu sebabnya dan lagi-lagi tak nampak di wajahnya sebuah kekecewaan.

Aku tak mampu meramu tulisan untuk menggambarkan beliau karena kuyakin bahwa semua hal yang kuceritakan tidak akan mampu merepresentasikan pribadi beliau. terlalu dalam untuk sekedar menulis apa yang ada di dalam samudera hikmah yang beliau tunjukkan kepada dunia, entahlah namun jernihnya pikiran beliau membuat beberapa kali aku bermimpi untuk menjadi pribadi seperti beliau.

March 10, 2015

Karena Tuhan Tidak Pernah Melupakan Kita

Jangan berharap tentang petuah yang kutulis dengan sekilas membaca tulisan diatas. Sejatinya bahwa judul di atas adalah tema sebuah lomba menulis cerpen. Aku ingin menguji sedikit nyali untuk mengikuti lomba cerpen tersebut mengingat sejak dulu aku sudah berhasrat untuk ikut lomba menulis namun selalu saja terkendala di persyaratan. 

Pada akhirnya, lomba menulis cerpen ini lumayan tidak memberatkan. Hanya menulis sesuai tema, ditulis di Ms Word A4, spasi 1,5, times new roman font 12, margin 2,54 cm, panjang 2-8 halaman. Biodata ditulis diakhir cerpen minimal nama pena. 

Dikirim ke email oksana.menulis@gmail.com. bisa mengirim 2 karya. Subjek_nama pengirim_judul naskah. Paling lambat 15 april 2015.

Aku cukup antusias untuk menguji kemampuan menulisku kali ini meski sampai sekarang, belum ada setitik ide yang hadir di kepalaku namun tak apalah karena batasnya masih sebulan.

Entahlah apa yang nantinya akan aku tulis namun sejauh ini, ideku masih sebatas tentang pengalaman pribadi bertemu dan bertahan dengan seorang gadis yang berbeda dari banyak segi bahkan perbedaan budaya yang mencolok. 

Hanya persamaan keyakinan yang menguatkan untuk tetap saling berpegang tangan meski dalam perjalanan waktu, banyak khilaf yang terlewati. Mungkin juga akan kusajikan beberapa poin penting dalam mempertahankan hubungan. Hal yang prinsipil misalnya tidak selingkuh, saling mengingatkan dan mungkin bahagia dengan hidup yang diyakini bukan karena pandangan orang lain.

Info lombanya ada disini 

Perayaan Weekend di Sudut Senayan

Setiap hari yang kulewati adalah rutinitas berulang yang terkadang membuatku jenuh meski kuakui bahwa aku adalah orang yang suka dengan pekerjaan terencana dan sedikit agak monoton. Senin selalu menjadi momok memuakkan bagiku dan mungkin bagi sebagian masyarakat urban pada umumnya. Aku bahkan terkadang terlambat beranjak ke kantor saat hari senin menjelang. selalu saja mood yang tidak menyenangkan menyerangku ketika minggu sore dan menyadari besok harus memulai rutinitas yang terus menerus seperti itu

Ketika senin menjadi momok menyeramkan, jumat sore adalah momen meneduhkan. berharap weekend akan berlalu dengan indah. Tak salah jika dalam beberapa tulisanku, aku menyadari bahwa aku termasuk dalam kumpulan masyarakat urban mainstream yang selalu merindukan akhir pekan untuk melepas penat. begitulah setiap jejak langkah yang kuayun di pergantian hari selama di ibukota.

Weekend kemarin lumayan menjemukan. Ketika sabtu menjelang, aku hanya menghabiskan hariku di blok M seperti biasa membeli beberapa novel yang mungkin bisa membunuh rasa sepiku di malam hari. Kemudian setelah itu membela ibukota menuju kramat jati menonton pertandingan bola. aku benar-benar tidak meresapi weekend kemarin dengan sepenuh hati. 

weekend yang berjalan seperti apa adanya.

Hari minggu, aku menuju ke bilangan senayan. aku tahu bahwa di Istora Senayan sedang berlangsung pameran buku-buku Islam yang akan dihadiri oleh penulis tere liye. Entahlah aku tidak terlalu antusias dengan acara tersebut namun kesukaanku melihat buku memaksaku tetap berangkat. memasuki kawasan GBK, ada fenomena yang menarik karena ternyata selain pameran buku di Istora, sedang berlangsung juga pameran electronic di JCC dan disampingnya pun ada pentas musik metal "Hammersonic." 

Pemandangan yang kontras di minggu kemarin. Ketika melewati pentas seni, terlihat sekumpulan orang dengan kostum mayoritas hitam ala anak metal dan bau alkohol yang menyengat. Di depan pintu masuk tersebut, antrian penikmat musik metal hampir 100 meter.

Di samping lain, tepatnya di gedung JCC. gelombang orang pencinta gadget pun sedang berkumpul dan perkiraan hampir sama banyaknya dengan orang yang sedang antri masuk menonton di pameran musik metal. aku tetap melaju ke arah Istora karena memang tujuan utamaku adalah melihat pameran buku.

Di istora pun, aku menemui begitu banyak  kumpulan orang dengan kostum Islami. baju kemeja, celana yang sedikit dipendekkan dan wanita dengan cadar sedang lalu lalang di dalam pameran. mereka asyik memilih buku.

ah, weekend yang kurang menyenangkan
090315

March 7, 2015

Blok M

Di sudut sebuah ruang
Menjulang hutan beton
Aku memilih menyingkir
Mendekap mimpi

Indah bersamamu.
Blok M. 080315

March 6, 2015

Ponakan Ketiga

"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).

ini pertama kalinya aku menulis tentangmu nak andra. bahkan sekarang umurmu sudah memasuki 3 bulan. begitulah hakekatnya waktu nak. dia tidak pernah berkompromi untuk berhenti sejenak bahkan sedetik pun sehingga manusia lah yang dituntut untuk mempergunakannya agar kelak kita tidak pernah menyesal akan kepergiannya. engkau akan memahami makna waktu ketika berkali lipat dia telah berlari meninggalkanmu. tak seorangpun yang tidak menyesal akan kepergian waktu nak andra bahkan orang yang banyak berbuat baik pun akan menyesal ketika waktu meninggalkannya namun penyesalannya mungkin tetap merasa belum berbuat banyak kebaikan.

aku hanya bisa melihatmu dari beberapa foto yang dijadikan DP BBM oleh ibu dan ayahmu. aku benar-benar selalu berdoa semoga engkau menjadi anak yang berbuat baik kepada sesama. entahlah nak namun manusia memang selalu berbeda dalam pengharapan tentang anak-anaknya. aku pribadi hanya ingin melihatmu menjadi anak yang baik. berguna bagi manusia yang lain.

 Di foto samping. engkau sedang tertawa lepas di dalam pelukan ayahmu. entah apa yang sedang membuatmu begitu renyah tertawa namun aku selalu yakin kepada ayahmu. aku selalu yakin dia mampu menjagamu dengan baik bahkan meski dengan seluruh jiwa raganya. nantilah engkau akan melihat betapa seorang ayah dengan caranya sendiri menyayangi anaknya. engkau patut bersyukur nak dilahirkan dari kedua orang tua yang kuanggap baik bukan karena ayahmu adalah kakakku namun aku memang melihat beberapa kebaikan pada diri ayahmu begitu pun ibumu. aku selalu meyakini sesuatu yang baik terhadap hal yang akan bersentuhan denganmu. dan akhirnya aku ingin bilang nak nikmatilah setiap jengkal masa kecilmu tanpa beban. biarkan dirimu menghirup energi kehidupan yang masih tulus sebelum pada waktunya nanti, engkau akan berjuang tentang hidupmu sendiri. bagaimanapun, waktu akan membawa kita menjadi dewasa dan tua nak. dan disaat itu, kita harus memperjuangkan apa yang menjadi visi hidup kita tanpa harus berkompromi dengan kesusahan yang menghalangi. yakinlah bahwa ada Dzat yang tetap mengiringi setiap jejak langkah yang kita lalui sepanjang niat kita baik dan benar.

ngomong-ngomong tentang ayahmu nak. banyak hal yang mungkin ingin kuceritakan tentangnya. dia adalah abangku sendiri yang hanya berselisih 2,5 tahun denganku. umur yang tidak terlalu jauh sehingga masa kecil kami sering lalui bersama. banyak kenangan sebenarnya yang tercecer diantara kami meski sulit untuk menyulam satu persatu kenangan tersebut.

aku pernah menulis panjang tentang ayahmu ketika menjelang pernikahannya dengan ibumu. aku meneteskan beberapa air mata saat menulis tentangnya waktu itu karena aku sadar bahwa hubungan emosional kami terlalu kuat sebagai saudara. baca disini tentang tulisanku kepada ayahmu saat akan melepas masa lajangnya.

engkau menggemaskan nak. Tapi sejatinya bocah sepertimu memang lucu. Aku mungkin terlalu sok bijak jika harus menulis banyak tentangmu dikala umurmu masih 3 bulan. Semua hal yang engkau lalui nantinya akan mengasyikkan. Pandangan hidupmu pun pastinya akan dipengaruhi oleh refleksi panutan dari orang tuamu. Seperti sepupu yang sudah amat sering kutuliskan sesuatu, engkau pun akan aku ceritakan banyak hal nak tapi nantilah ketika kau sudah bertumbuh.

Pada saat nantinya ketika kalian bertiga, sudah bisa mendengarkan, aku berhasrat untuk mendongengkan kalian cerita lucu sampai kalian terbahak-bahak. Kita duduk di beranda rumah panggung nenek kalian sambil duduk melingkar. Saat itu sudah senja dan gerimis tidak berhenti membasahi bumi sehingga kita berempat masygul dalam forum dongeng.

Ada 3 gelas susu untuk kalian dan aku lebih memilih dibuatkan kopi oleh nenek kalian. Ada pula ubi goreng dan pisang goreng. Kalian bertiga sudah tidak sabar mendengarkan aku membacakan dongeng. Tapi mungkin saat itu nak andra, engkau lebih sibuk menghabiskan susumu dan mencicipi pisang goreng karena kau yang paling muda, nampaknya engkau tidak terlalu peduli dengan dongengku..hehe.

Aku mulai membaca dongeng dari buku yang bersampul merah. Tentang lomba lari siput dan kancil yang dimenangkan oleh siput, tentang kucing yang tidak pernah berhenti berkonflik dengan tikus, dan tentang buaya vs cicak. Kalian tertawa terpingkal-pingkal nak. Namun cerita ketiga tidak kalian mengerti karena aku malah bercerita tentang para pejabat negeri ini. Ah biarkanlah cerita yang ketiga kalian simpan di memori dan suatu saat nanti akan mengerti maknanya makanya rajinlah membaca nak. Baca apa saja dan belajar apa saja. Jangan malas karena semesta membenci orang malas.

Adzan maghrib berkumandang. Aku mengakhiri dongeng untuk kalian dan mengambil air wudhu. Kita berjamaah dan kakek imamnya. Sesekali engkau nak andra menggoyang-goyangkan kaki ketika terlalu lama berdiri bahkan ketika kakek melantunkan ayat terakhir Al-Fatihah, engkau langsung menyahut dengan suara maksimal, Aaaaaamiiiinnn...!! Tidak apa-apa nak. Begitulah memang seorang bocah yang sedang belajar. Tidak ada salahnya.

Kapan-kapan lagi aku bercerita tentangmu nak. Untuk kali ini aku tidak ada pesan untukmu karena engkau masih menikmati hangatnya pelukan ibumu. Keep health and strong. Rayakanlah masa balitamu dengan senyuman tawa dan sesekali merengek karena begitulah hakekatnya menjadi bocah. Semoga ayah ibumu selalu mendampingimu merangkai kenangan yang nantinya engkau bercerita di depan kelas bahwa betapa bangganya engkau memiliki kedua orang tua yang menyayangimu.

Pulogadung.080315

MASIHKAH DIAM

Kukutuk benih kemarahan jiwaku untukmu. menjadikanmu puingpuing asa yang berserakan.
aku memunguti setiap serpihan itu dan menyimpan di hati.
kau tahu tidak?
seperti katamu kita bak drama King dan Queen.

ah iya juga yah, aku baru menyadarinya
aku bak sutradara dan engkau adalah lakonnya
tapi tidakkah engkau tahu bahwa sang sutradara sangat menyayangi semua tokoh dalam ceritanya
meski berlebihan
namun akupun tidak pernah benarbenar menyakitimu
kau tahu kan alasanku setiap aku membentakmu?
itu karena kesalahan yang kita ulangi
dan kau tahu kan apa artinya ketika aku membentakmu?
itu karena aku marah terhadap diriku sendiri.
dan kau tahu kan ketika aku memarahimu.
itu artinya aku marah terhadap diriku sendiri

saat engkau tersedu sedan, akulah yang paling merana dan saat kau tertawa renyah pun aku ikut terbahak.
aku merasakan setiap aliran rasa yang mengalun indah di sukmamu
karena bagian hidupku adalah dirimu

mungkin terlalu dini merayumu dengan syair indah namun kau pun menerawang jauh kebelakang betapa aku tidak pernah benar-benar menyakitimu.

aku memang egois, keras kepala bahkan tak sabar namun tidak menyurutkan sedikitpun kasihku untuk menyayangi setiap apa yang ada padamu.

syair syahdu pagi hari
060315

March 4, 2015

Sebuah Tanya

aku adalah deretan pertanyaan itu
tentang semua rindu dan harapan
aku adalah pertanyaan tanpa titik
hanya koma yang kadang menyelingi.

aku ingin mengores sebuah kesimpulan dari hidup yang kujalani
tentang jawaban-jawaban dari tanyaku
sampai penat

ah, aku adalah tanya tanpa titik
040315

March 3, 2015

Pecundang

Berkecamuk hatiku bahkan semua perasaan yang tak menentu menyerang rongga kepalaku saat tahu tante eny yang mungkin sebentar lagi akan menjadi orang tuaku ternyata memendam perasaan sakit hati terhadapku. namun apapun alasannya, akulah biang dari semua sakit hatinya. Perlakuanku terhadap anaknya memang tidak seperti ekspetasinya dan akulah pesakitan itu. Menyia-nyiakan kepercayaan yang kuemban hingga berujung fatal.

Bukan bermaksud untuk membela diri namun aku kerapkali berpesan kepada anaknya ketika kami sedang dalam perselisihan ataupun ketidakcocokan, jangan sekali-kali ibunya tahu karena akan menimbulkan image negatif terhadapku, namun sesering aku menasehatinya tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk tidak bercerita alhasil semua masalah kami diketahui oleh tante dan sialnya aku memang biang dari masalah.

Aku sebenarnya berharap banyak ketika kami sedang selisih paham, tidak ada seorang pun yang tahu hingga kami menyelesaikan sendiri namun tidak baginya. Selalu saja semua masalah diumbar kepada ibunya.

Aku sekalipun tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang tuaku seberat apapun itu. Bahkan ketika aku dan anaknya marahan, aku sama sekali tidak ingin keluargaku tahu karena menjaga nama baiknya di depan keluargaku. Sampai pada titik ini, orang tuaku tidak sekalipun tahu kalau kami sering bertengkar. Mereka hanya tahu bahwa kami baik-baik saja.

Ah, setidaknya nasi telah menjadi bubur. Aku telah dianggap loser di pandangan keluarganya. Aku tidak bisa berkelit lagi.

Entah apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya merasa seperti seonggok manusia yang mempertahankan janji. Karena menepati sebuah janji adalah salah satu dari prinsip hidupku maka suka ataupun tidak suka, aku harus menjalani semua ini dan mungkin saja bersanding dengannya dengan alasan menepati janjiku. Nothing to loose untuk semua hal yang akan terjadi bahkan aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk ketika suatu saat rencana kami tidak terlaksana.

Aku bahkan harus berbesar hati untuk semua yang akan terjadi kedepannya meski nama keluarga besarku menjadi taruhannya karena di kampungku nan jauh disana, banyak orang yang sudah mendengar desas-desus bahwa sebentar lagi aku menikah dan ketika itu tidak terjadi, muka keluargaku akan tercoreng. Itu adalah satu dari beberapa alasan kenapa aku masih tetap bertahan dsini.

030315

HINGGA UJUNG WAKTU




Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini
Dan pekat pun berakhir sudah

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak kan henti bernyanyi

Saat aku berakhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istiriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu




Sheila On 7 – Hingga Hujung Waktu





tiba-tiba saja aku tergerak menulis tentang lagu ini saat mas elly disampingku menyetelnya. di bait yang ada kata-kata "saat kau menjadi isteriku nanti," aku langsung terperangah dan tergugah menuliskannya. entahlah apa musababnya namun aku harus akui bahwa ternyata menyatu dengan seseorang itu tidak segampang dengan mengatakan gombal basi. butuh perjuangan yang amat keras untuk melalui setiap gelombang yang ada.karakter yang berbeda adalah indikasi utama begitu sulitnya untuk selalu bersama.

Lagu-lagu SO7 memang meninggalkan kenangan masa remaja yang mendalam. dia adalah kepingan masa lalu yang mungkin mayoritas remaja seusiaku mempunyai cerita dengan lagu-lagu SO7. begitulah lirik-liriknya merasuk dalam kenangan remajaku dan lagu yang barusan disetel oleh mas Elly mungkin lebih relevan dengan masa yang sebentar lagi akan kujalani.


berangkat dari kebersamaanku dengan windi. meski kami sudah mengikrarkan diri untuk berjuang namun selalu saja ada cela yang membuat kami tidak menemukan titik. aku tidak sanggup mengungkapkan beberapa kali kami tidak cocok atau bahkan beberapa kali aku memarahinya dan membuatnya menangis. aku mungkin egois namun begitulah hakekatnya sebuah jalinan yang akan dibangun.

"Jika kau menjadi istriku nanti,Pahami aku saat menangis,Saat kau menjadi istriku nanti, 
Jangan pernah berhenti memilikiku, Hingga ujung waktu"

 mungkin seharusnya juga yang mengatakan seperti itu adalah windi. akulah yang sering membuatnya menangis. akulah yang sering membuatnya terluka bahkan kerapkali tidak berusaha memahaminya.keputusan untuk bersama memang butuh perjuangan sepanjang hidup. suka duka adalah keniscayaan yang akan terjadi dalam hidup yang akan dijalani sekeras apapun kita berjuang untuk melawannya.