"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar". (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).
ini pertama kalinya aku menulis tentangmu nak andra. bahkan sekarang umurmu sudah memasuki 3 bulan. begitulah hakekatnya waktu nak. dia tidak pernah berkompromi untuk berhenti sejenak bahkan sedetik pun sehingga manusia lah yang dituntut untuk mempergunakannya agar kelak kita tidak pernah menyesal akan kepergiannya. engkau akan memahami makna waktu ketika berkali lipat dia telah berlari meninggalkanmu. tak seorangpun yang tidak menyesal akan kepergian waktu nak andra bahkan orang yang banyak berbuat baik pun akan menyesal ketika waktu meninggalkannya namun penyesalannya mungkin tetap merasa belum berbuat banyak kebaikan.
aku hanya bisa melihatmu dari beberapa foto yang dijadikan DP BBM oleh ibu dan ayahmu. aku benar-benar selalu berdoa semoga engkau menjadi anak yang berbuat baik kepada sesama. entahlah nak namun manusia memang selalu berbeda dalam pengharapan tentang anak-anaknya. aku pribadi hanya ingin melihatmu menjadi anak yang baik. berguna bagi manusia yang lain.
Di foto samping. engkau sedang tertawa lepas di dalam pelukan ayahmu. entah apa yang sedang membuatmu begitu renyah tertawa namun aku selalu yakin kepada ayahmu. aku selalu yakin dia mampu menjagamu dengan baik bahkan meski dengan seluruh jiwa raganya. nantilah engkau akan melihat betapa seorang ayah dengan caranya sendiri menyayangi anaknya. engkau patut bersyukur nak dilahirkan dari kedua orang tua yang kuanggap baik bukan karena ayahmu adalah kakakku namun aku memang melihat beberapa kebaikan pada diri ayahmu begitu pun ibumu. aku selalu meyakini sesuatu yang baik terhadap hal yang akan bersentuhan denganmu. dan akhirnya aku ingin bilang nak nikmatilah setiap jengkal masa kecilmu tanpa beban. biarkan dirimu menghirup energi kehidupan yang masih tulus sebelum pada waktunya nanti, engkau akan berjuang tentang hidupmu sendiri. bagaimanapun, waktu akan membawa kita menjadi dewasa dan tua nak. dan disaat itu, kita harus memperjuangkan apa yang menjadi visi hidup kita tanpa harus berkompromi dengan kesusahan yang menghalangi. yakinlah bahwa ada Dzat yang tetap mengiringi setiap jejak langkah yang kita lalui sepanjang niat kita baik dan benar.
ngomong-ngomong tentang ayahmu nak. banyak hal yang mungkin ingin kuceritakan tentangnya. dia adalah abangku sendiri yang hanya berselisih 2,5 tahun denganku. umur yang tidak terlalu jauh sehingga masa kecil kami sering lalui bersama. banyak kenangan sebenarnya yang tercecer diantara kami meski sulit untuk menyulam satu persatu kenangan tersebut.
aku pernah menulis panjang tentang ayahmu ketika menjelang pernikahannya dengan ibumu. aku meneteskan beberapa air mata saat menulis tentangnya waktu itu karena aku sadar bahwa hubungan emosional kami terlalu kuat sebagai saudara. baca disini tentang tulisanku kepada ayahmu saat akan melepas masa lajangnya.
engkau menggemaskan nak. Tapi sejatinya bocah sepertimu memang lucu. Aku mungkin terlalu sok bijak jika harus menulis banyak tentangmu dikala umurmu masih 3 bulan. Semua hal yang engkau lalui nantinya akan mengasyikkan. Pandangan hidupmu pun pastinya akan dipengaruhi oleh refleksi panutan dari orang tuamu. Seperti sepupu yang sudah amat sering kutuliskan sesuatu, engkau pun akan aku ceritakan banyak hal nak tapi nantilah ketika kau sudah bertumbuh.
Pada saat nantinya ketika kalian bertiga, sudah bisa mendengarkan, aku berhasrat untuk mendongengkan kalian cerita lucu sampai kalian terbahak-bahak. Kita duduk di beranda rumah panggung nenek kalian sambil duduk melingkar. Saat itu sudah senja dan gerimis tidak berhenti membasahi bumi sehingga kita berempat masygul dalam forum dongeng.
Ada 3 gelas susu untuk kalian dan aku lebih memilih dibuatkan kopi oleh nenek kalian. Ada pula ubi goreng dan pisang goreng. Kalian bertiga sudah tidak sabar mendengarkan aku membacakan dongeng. Tapi mungkin saat itu nak andra, engkau lebih sibuk menghabiskan susumu dan mencicipi pisang goreng karena kau yang paling muda, nampaknya engkau tidak terlalu peduli dengan dongengku..hehe.
Aku mulai membaca dongeng dari buku yang bersampul merah. Tentang lomba lari siput dan kancil yang dimenangkan oleh siput, tentang kucing yang tidak pernah berhenti berkonflik dengan tikus, dan tentang buaya vs cicak. Kalian tertawa terpingkal-pingkal nak. Namun cerita ketiga tidak kalian mengerti karena aku malah bercerita tentang para pejabat negeri ini. Ah biarkanlah cerita yang ketiga kalian simpan di memori dan suatu saat nanti akan mengerti maknanya makanya rajinlah membaca nak. Baca apa saja dan belajar apa saja. Jangan malas karena semesta membenci orang malas.
Adzan maghrib berkumandang. Aku mengakhiri dongeng untuk kalian dan mengambil air wudhu. Kita berjamaah dan kakek imamnya. Sesekali engkau nak andra menggoyang-goyangkan kaki ketika terlalu lama berdiri bahkan ketika kakek melantunkan ayat terakhir Al-Fatihah, engkau langsung menyahut dengan suara maksimal, Aaaaaamiiiinnn...!! Tidak apa-apa nak. Begitulah memang seorang bocah yang sedang belajar. Tidak ada salahnya.
Kapan-kapan lagi aku bercerita tentangmu nak. Untuk kali ini aku tidak ada pesan untukmu karena engkau masih menikmati hangatnya pelukan ibumu. Keep health and strong. Rayakanlah masa balitamu dengan senyuman tawa dan sesekali merengek karena begitulah hakekatnya menjadi bocah. Semoga ayah ibumu selalu mendampingimu merangkai kenangan yang nantinya engkau bercerita di depan kelas bahwa betapa bangganya engkau memiliki kedua orang tua yang menyayangimu.
Pulogadung.080315