January 2, 2014

Awal Tahun di Kota Gudeg

Tulisan ini hampir mirip dengan tulisan yang kubuat pada pergantian tahun lalu, tepat setahun lalu. Aku menulis tentang perjalananku mengitari kota Surabaya di penghujung tahun lalu dan kali ini aku ingin menuliskan perjalanan hariku di awal tahun ini saat mengitari kota Jogjakarta.

Tepat jam sembilan malam. Aku tiba di Jogjakarta dari Ngawi. Perjalanan yang kutempuh sekitar empat jam. Kekhawatiran akan macet di Jawa Tengah ternyata tidak separah yang kubayangkan. Aku turun di daerah Janti menunggu kawan yang akan menjemput. Setengah jam berlalu, kawan yang kutunggu akhirnya datang kemudian kami meluncur ke sebuah kafe yang di desain dengan sangat keren. Mirip lebah dan kebanyakan tempatnya lesehan. 

Tiba di sana, sudah ada dua kawan yang menikmati hidangan makan malam dengan sangat lahap salah satunya adalah temanku saat kuliah dulu dan satunya adalah teman smanya. Setelah melepas lelah duduk di bis, aku kemudian memesan nasi goreng dan teh jahe. Sedikit agak lama menunggu pesanan makananku baru tiba, tidak menunggu lama, aku menyantap makananku. Baru setelah aku menghabiskan makananku, rombongan kawan-kawanku yang lain datang. Kami bercanda, bergurau dan apa saja membuat malam pergantian tahun baru menjadi semarak. Sepuluh menit menjelang pukul 24.00, lampu di kafe tersebut sengaja dimatikan dan mulai lah petasan bersahut-sahutan serta juga terompet dengan nyaring seakan merobek gendang telingaku. 

Aku mencoba menikmati suasana ramai karena sudah memutuskan menghabiskan malam tahun baru di tempat ini, berarti siap dengan risiko ketenanganku terusik. Saat petasan mulai dibunyikan, aku turun kepinggir danau di samping tempat lesehan yang kami tempati. Aku jongkok memandangi setiap petasan yang dibakar lalu ditembakkan ke udara yang sesaat kemudian akan pecah dan menimbulkan suara yang amat sangat nyaring, entah berapa ratus juta uang yang dihabiskan oleh mereka mereka membeli petasan tersebut dan peduli apa aku dengan hal tersebut lagian bukan uangku. 

Aku sama sekali hanya menikmati suaranya meski sesungguhnya pikiranku tidak sedang berada disana. Aku memikirkan apa yang kulalui di tahun 2013 dan mencoba mereka reka apa yang akan terjadi pada kehidupanku di tahun 2014. Aku diam dan amat sangat tenang mendengarkan dperbincangan diriku di tengah berisiknya suara petasan. 

Hampir sekitar 30 menit, akhirnya perayaan pergantian tahun berlalu dan lampu di kafe tersebut kembali dinyalakan. Kami kembali bersenda gurau di tempat semua kemudian memutuskan untuk pulang kos mengistirahatkan raga yang sudah amat sangat penat. Sesampai di kos, rencana besok hari telah kami susun, akan menyusuri setiap sudut kota jogja sampai prambanan.

Selamat datang pagi pertama di tahun 2014, itulah gumamku saat membuka mata di pagi hari, namun ternyata hujan semalam yang tertunda baru turun pagi hari mengguyur kota Jogja. Semua rencana kami nampaknya harus ditunda. Aku dan dua temanku bercengkerama sambil menunggu hujan reda lagian kami lama tidak berkumpul seperti ini. Baru sekitar jam 12 siang, hujan mulai berlalu dan kami pun bergegas keluar mengarungi kota ini. Tujuan pertama kami adalah candi Prambanan. 

Aku berboncengan dengan teman dan dua temanku yang lain juga berboncengan. Jalanan amat padat ke arah Prambanan karena memang hari ini sedang libur. Butuh empat puluh lima menit untuk sampai di Prambanan. 

Kami membayar tiga pulu ribu per orang untuk masuk di Prambanan. Setiap sudut candi kuamati. Candi yang hanya aku baca dari buku sejarah sejak kecil. Candi yang paling besar terdapat di tengah dan di dalam candi tersebut ada dua patung. Salah satunya saat aku sedang melihat-lihat, ada pengunjung yang menyempatkan untuk berdoa.

Lama memutari candi tersebut, kami agak penat dan bergeser tempat menuju malioboro. Padatnya kawasan malioboro benar-benar menguras tenaga, kami menghabiskan sekitar dua jam berjalan menikmati senja di malioboro dengan pengunjung yang meluber. Sekitar jam tujuh malam, kami bergerak ke jalan mataram tepatnya di warung padang referensi dari kawan, lumayan murah meriah.

Puas menikmati makanan padang yang nasinya diambil sendiri, kami menemani kawan yang lain ke sentra penjual bakpia. Tidak butuh waktu terlalu lama, kami pun sampai di tempat itu. Butuh berapa menit menunggunya memilih pesanannya. 

Saat akan pulang ke kos, aku memutuskan untuk diantar saja ke janti menunggu bis pulang ke Ngawi mengingat jarum jam telah menunjukkan pukul 21.00, besoknya aku harus beraktivitas lagi. kawan mengantaraku ke janti. Di dekat janti, aku sejenak mampir di pom bensin menunaikan salat kemudian melanjutkan perjalanan. Di janti, aku menunggu sekita 20 menit. 

Bis sumber akhirnya datang dengan penumpang yang sudah padat. Aku tak peduli, pamitan kepada temanku dan langsung naik ke bis. Seperti dugaanku, aku tidak mendapatkan tempat duduk sehingga aku harus berdiri di lorong bis. 

Di sampingku ada ibu yang sedang menggendong bayinya dan tidak seorang pun penumpang yang duduk dengan ikhlas menawarkan tempat duduk kepadanya. Mereka acuh dan dengan teganya tidur saat ibu itu dengan susah payah menggendong bayinya sambil berdiri bahkan seorang ibu paruh baya yang duduk tepat di depannya merasa terganggu tidurnya oleh gesekan bayi yang digendong ibu itu, saat bis goyang atau sopir tiba-tiba ngerem. 

Sesekali dia memandang sinis ibu yang menggendong bayi. Di Klaten, ibu yang menggendong bayi turun dan tak jauh dari itu, ibu yang sinis tadi juga turun di pom bensin Klaten dan akhirnya aku menggantikan tempat duduknya. Sebelum memejamkan mata, aku berdoa semoga dibangunkan sebelum terminal lama Ngawi. 

Tidak lama kemudian aku terbuai mimpi, sama sekali tidak merasa apa-apa sampai aku benar-benar terbangun tepat terminal baru sebelum terminal lama Ngawi. Doaku malam itu terkabul karena kalau tidak, bisa-bisa aku baru terbangun saat lewat di terminal lama. Tepat pukul 12.42, aku turun dari bis dan menuju tempat penitipan motor. Memacu motor ke bilangan jalan m.duryat. 

Sesampai di kos, bersih-bersih kemudian membenamkan diri di kamar tidur.

welcome 2014, semoga lebih baik tentang semua yang kujalani di tahun 2013..!!

kaladeiskop 2013 & resolusi 2014

cuma karena tidak ada ide, maka aku ikut-ikutan saja alur masyarakat mainstream saat pergantian tahun baru masehi, mereka selalu saja merenungi apa pencapaian mereka di tahun yang terlewati dan juga mempersiapkan resolusi tentang apa saja yang akan dicapai di tahun mendatang. hitung-hitung untuk mengingat dosa di masa lalu dan mendoakan impian di masa mendatang  maka aku juga menulis tulisan ini sebagai kaledioskop dan resolusi.

Kaledioskop 2013
tahun 2013 mungkin adalah salah satu tahun yang paling banyak kulewati dengan khilaf yang kuperbuat dengan sengaja. tahun yang mengajarkan aku bahwa sesuatu yang dipahami sebagai hal yang salah merstinya diperjuangkan untuk tidak diperbuat, bukan mengikuti alur dalam larut kedalamnya kemudian dengan sok alim tibatiba tobat di ujung tingkah kemudian saat ada kesempatan kecil kembali lagi melakukan dan bertobat dengan sok nasuha dan begitu seterusnya dan mungkin ini yang aku lakukan di tahun 2013. tahun ini juga menjadi salah satu tahun tersibuk saat aku mulai kerja, dengan aktivitas yang bejibun dan belajar profersional dalam semua tugas yang diemban. belajar mencari nafkah sendiri tanpa bergantung lagi kepada orang tua.

Resolusi 2014
entahlah apa yang akan terjadi di tahun 2014. aku sama sekali tidak berani mereka-reka namun mungkin saja tercatat sebagai doadoa maka aku menulis apa yang aku impikan di tahun ini, tahun yang katanya akan lebih keras di tahun sebelumnya meski kutahu bahwa setiap masa yang keras maka akan melahirkan orang yang berjuang lebih keras dan kuharap aku adalah salah satu dari pejuang yang keras.
tahun 2014 benarbenar unpredictible, akhir bulan januari 2014 adalah masa terakhir kontrakku bekerja di pernerbit ini yang itu berarti bahwa aku harus mencari tempat lain untuk bekerja meski belum ada yang pasti. aku benarbenar memutuskan untuk keluar dari tempat ini setelah tepatnya setahun bekerja disini karena ada berbagai macam alasan salah satunya karena prinsip yang kupegang sedikit terintimidasi dengan sistem kerja yang sedang kukerjakan. di 2014 ini, aku mencoba untuk merabaraba apa saja yang mesti harus kulakukan.InsyaAllah ini ada beberapa item dalam hidupku yang coba untuk kuwujudkan di tahun 2014, pertama mencari tempat bekerja yang tetap dan sesuai dengan keinginan hati sambil menunggu menuntuskan caitacitaku bekerja di BUMN. kedua untuk belajar menabung demi masa depan dan juga sedikit membantu orang tua masalah finansial. harapanku aku bisa bekerja di jakarta dan menuntaskan impianku bersama Waind tentang planning masa depan kami. aku juga berharap bahwa tahun 2014 ini, aku tidak lagi melakukan khilaf seperti yang sering kulakukan di tahun 2013 yang menzhalimi diriku sendiri. harapanku bahwa setelah kontrak di penerbit ini habis, aku tidak sampai sebulan mengganggur, aku juga akan berusaha meng upgrade toeflku min di titik score 500. aku juga punya mimpi ditahun ini aku bisa membeli sepeda motor demi memperlancar setiap aktivitasku

December 21, 2013

Hari Ibu

Meski beribu huruf yang kutulis untuk melukiskan seorang ibu di negeri sana, tak jua menampung apa yang ada di pikiranku. kata hanyalah rangkaian huruf yang dibaca namun berbicara tentang ibuku adalah tentang cinta yang amat sangat picik ketika termuat dalam tulisan puitis sebagus apapun. hanya memandang wajah sendunya sudah menguapkan semua yang ada dipikiranku. tak ada lagi katakata yang terucap ketika bersamanya. benar bahwa merantau telah mengajarkanku nilai lebih tentang cinta terhadapnya. aku bahkan sampai tidak membayangkan bagaimana beliau berada di ujung negeri ini. memang amat sentimental ketika aku berbicara tentang ibuku bahkan andai saja aku adalah windi maka urai air mataku sudah tak tertahankan lagi ketika rindu terhadapnya menyerangku.

kata orang hari ini adalah hari ibu, aku tak peduli itu, aku tak peduli kapan hari ibu itu karena ibuku ada dalam cintaku, beliau mengajarkanku cinta kepada Khalik dan Muhammad. selalu saja ada getaran rindu yang tak tertahankan ketika mengucap kata ibu. aku selalu mencoba melukis dirinya, menggambarkan ketulusannya namun selalu saja gagal bahkan saat masih berpikir untuk melakukan itu, aku sudah yakin akan gagal karena cintanya hanyalah kurasakan melalui hatiku.

Masih saja beliau bekerja di negeri sana, ketika beliau kutinggalkan, masih dalam keadaan sehat, entah sekarang namun mudah-mudahan saja perjalanan waktu tidak terlalu cepat menggerogoti kekuatannya. beliau masih punya impian melihat anak-anaknya bahagia namun lebih dari itu, aku amat sangat berharap suatu saat nanti menyaksikannya tidak terlalu bekerja keras karena kami sudah berhasil, aku hanya ingin menyaksikan beliau menghabiskan masa tuanya bermain bersama cucu-cucunya tanpa harus lagi bekerja keras. sudah cukup beliau menghabiskan separuh waktunya untuk mengais rejeki buat kami, mungkin saja momennya beliau bermain-main dengan orang yang disayanginya.

Baru segini tulisan tentangnya namun aku sudah tidak bisa mencurahkan katakataku lagi. di memoriku hanyalah wajahnya yang sendu dan dengan diamnya terus mengadon kue, memasak nasi dan pekerjaan yang lain sambil menunggu waktu istirahat, saat senja jatuh menghampiri bumi, beliau bersujud di sajadahnya yang sudah kusam sambil menitikkan air matanya. meski aku tak pernah bertanya tentang doadoanya di dalam shalatnya namun aku amat sangat yakin bahwa beliau tidak sedang berdoa untuk dirinya namun beribu doa dari mulutnya hanya untuk anak-anaknya.

salam sejahtera selalu untukmu ma..
semoga senantiasa sehat wal'afiat

Missions Accomplished

Semua sudut ruang di kota ini telah kutelusuri. Benar-benar melelahkan memang namun sensasi perjalanan sangat mengesankan. tadi siang, kecamatan terakhir berhasil kutelusuri, kecamatan pitu. meski dari berbagai cerita orang disini bahwa kecamatan tersebut amat sangat terpencil namun aku masih berpikir bahwa kecamatan karanganyar masih lebih terpencil dan jalanan yang berbatu. perjalanan di kabupaten ini benar-benar melelahkan. setiap sudutnya telah kusaksikan dan beribu makna hidup pun telah terhidang. mereka penduduk kabupaten ini telah menawarkanku berbagai macam hikmah yang terserabut.
setahun memang bukan waktu yang singkat merasakan hidup disini, menelusuri jejak langkah yang belum pasti meski terkadang jatuh namun tak apalah. hidup ini akan terus berjalan sebagai mana mestinya.
   dokumentasi di kecamatan pitu


ini foto supaya ada bukti bahwa benar-benar pitu telah kujelajahi meski dengan susah payah.

smpn 3 pitu
smpn 3 pitu yang amat sangat miris. perjalananku di kabupaten ngawi telah mengajarkanku tentang realita dunia pendidikan indonesia yang masih amat timpang. aku telah menjadi salah satu aktor yang entah protagonis ataupun antagonis di dunia pendidikan ngawi.

smpn 1 pitu
kalau yang ini sudah amat lumayan dibandingkan dengan smpn 3 pitu yang begitu menyedihkan. dari luar kelihatan seperti sekolah TK.

Kawan yang hampir terlupa

Akhir-akhir ini, saya memanggil kembali memoriku untuk mengingat teman-temanku semasa sekolah, bukan tanpa sebab, seringnya saya ke setiap sekolah memaksa memoriku mengingat semua masa-masa sekolah, dan yang sering teringat adalah teman-teman yang sudah amat sangat lama tidak berkomunikasi meski dulunya lumayan dekat. pertemanan yang kemudian kabur seiring dengan perjalanan waktu, kabur bukan karena waktu yang bersalah namun karena kita tidak menyiram pertemanan tersebut dengan siraman komunikasi yang intens.

Saya mencoba mengingat mereka satu persatu dan kebanyakan yang berhasil kuingat adalah mereka yang tidak terlalu banyak omong. Aku mencoba mengingat mereka satu persatu mulai tingkat pertama sekolah menengah. Nampaknya memoriku agak sedikit bermasalah karena sangat sedikit dari mereka yang mampu kuingat. ada vi**an R, dia amat sangat singkat bersama kami karena dia harus pindah ke kota lain mengikuti ayahnya yang seorang tentara. Muj****in, S**eh dan Ha*i. Mereka semua satu kampung yang berjarak beberapa km dari kampung saya. Orangnya baik dan agak kalem. Mu**ani orang Pa***ak, dia sangat suka tertawa meski tidak ada yang terlalu lucu, kukira selera humornya terlalu rendah.

Di sekolah tingkat atas, sma, aku juga mengingat sebagian dari kawan-kawanku yang hampir terlupa. Terkadang mereka yang terlupa adalah mereka yang menyimpan banyak hikmah. Ma**ur orang P**ui. namanya mudah diingat karena sama dengan nama seorang penyanyi dangdut senior yang populer di masa saya remaja. R**in orang D*lo, terakhir kabar yang kuterima tentangnya bahwa dia mengalami kecelakaan yang mengantarnya ke hadapan Ilahi. saya angkat jempol untuk kemampuan matematikanya. kayaknya dia salah satu siswa yang unggul di mata pelajaran matematika seangkatanku

Seorang lagi temanku namanya Sur**nto, orang Ba**i, lumayan baik orangnya, saya sudah begitu lama tidak mengetahui kabarnya, semoga saja dia sehat-sehat saja.

Begitulah teman-teman yang pernah menghiasi masa remajaku. semua menguap bersamaan dengan waktu dan entah suatu saat nanti masih bisa bersua atau bahkan tidak terdengar sama sekali.

Pertemanan layaknya pengetahuan. jika tidak sering dikomunikasikan atau diulang-ulang maka akan kabur secara perlahan sampai pada akhirnya akan sirna. itulah sebabnya pertemanan yang langgeng adalah pertemanan yang sering komunikasi bahkan untuk sekedar saling menanyakan kabar. 

Lelaki Harus Berkelahi

Lelaki harus berkelahi. Ini bukan pernyataan metafora dari saya, aku mengatakan seperti itu karena aku berfikir laki-laki itu harus sesekali berkelahi.

Siang tadi, untuk membunuh waktu yang terlalu lama jam 12 siang, aku memutuskan duduk berlama-lama di kantin SMK PGRI 1 Ngawi, sambil menyeruput secangkir kopi kesukaanku dan menikmati aneka gorengan. aku memperhatikan setiap siswa di sekolah ini yang mayoritas adalah laki-laki. Sejurus kemudian, segerombolan dari mereka berkumpul dan sedang menyaksikan sesuatu, lama kuperhatikan ternyata dua diantara mereka sedang berkelahi, siswa yang lainnya hanya menonton.

Ya, laki-laki harus berkelahi seperti anak SMK tersebut. Untuk merasakan kerasnya hidupnya, sekali kali para lelaki berkelahi jika memang perlu. Aku bahkan menyesal tidak pernah lagi berkelahi semasa SMP dan SMA, terakhir kuingat aku berkelahi saat masih di SD. seingatku, aku berkelahi dengan sepupuku yang seumuran denganku di belakang TK dekat lapangan sepakbola. kuingat dengan jelas saat kami berguling mencoba saling mengalahkan. Entah bagaimana akhirnya namun tidak ada dari kami yang keluar sebagai pemenang maupun yang kalah.

Ingatanku tentang perkelahian pada masa SMA hanya sebatas menonton temanku yang berduel. jadi sekolah saya yang berada di bawah bukit. nah pada saat itu, ada seorang teman saya yang ditantang berduel dengan siswa satu tingkat di atas kami. alhasil disepakati bahwa mereka akan berduel di tengah hutan di atas bukit yang hanya berjarak sekitar 1 km dari sekolah kami. 

Seingatku, ada beberapa teman yang menjadi penonton. saat duel sudah berlangsung, kakak tingkat saya tersebut kemudian mengeluarkan badik dan mengejar temanku. temanku lari sekuat tenaga karena tidak ingin mengambil risiko. tidak ada yang cedera pada duel tersebut namun setidaknya, mereka membawa kenangan masa remaja yang keras. saya sudah lama tidak bertemu keduanya. mungkin mereka sudah tumbuh dewasa dengan nyali yang cukup tangguh karena sudah pernah menguji nyali mereka saat remaja, beda denganku yang tergolong remaja penakut.

Para lelaki harus berkelahi sepanjang tidak membahayakan diri mereka. berkelahi tidak lebih buruk dari olahraga tinju ataupun olahraga beladiri lainnya, bedanya hanya tatacaranya karena berkelahi bebas dengan teman atau siapa saja tidak membutuhkan wasit sedangkan olahraga beladiri lainnya butuh wasit.

Lelaki harus berkelahi. Memaknai hidupnya sebagai gender yang paling keras meskipun ini terdengar bias gender namun tidak apa-apa. Memaknai diri sebagai orang yang akan menjadi pelindung dalam keluarganya disaat anak-anaknya membutuhkan kehangatan maka akan ada ibu di sampingnya namun disaat bahaya dari luar mengancam maka pria ada jawaban dari ancaman tersebut. pernyataan ini juga sangat maskulinitas dan berpotensi mengundang reaksi para feminis namun sekali lagi, tidak apa-apa karena memang secara fisik, lelaki dibentuk sedikit lebih kuat dari perempuan.


December 20, 2013

Maghrib Ini

Selepas menunaikan beberapa tugas kantor yang menumpuk, aku memlih keluar kantor memutari kota ini sambil menunggu maghrib mengingat maghrib sebentar lagi. Pekerjaan kantor yang benar-benar menumpuk memaksaku tetap duduk sampai pukul 17.00. 

Sembari mencari angin segar menyegarkan pikiranku, motor terus kuarahkan ke setiap sudut kota. Beberapa mesjid telah kulewati namun belum jua terdengar kumandang azan maghrib membuatku malas menunggu, hingga sampailah aku di depan alun-alun kota ini, azan mulai berkumandang. sejurus kemudian, motor bututku kuarahkan ke mesjid agung kota Ngawi. Alhasil, aku menunggu shalat di mesjid ini.

Sayup-sayup azan dikumandangkan beserta orang-orang sekitar bergegas ke mesjid ini menunaikan kewajiban. Sesaat sebelum iqamat, seorang panitia mengumumkan beberapa pemberitahuan. beberapa poin pemberitahuan tidak terlalu menarik perhatianku sampai pada saat diakhir pengumuman, dia mengatakan bahwa "barangsiapa yang membawa anak kecil, harap dijaga supaya tidak mengganggu kekhusyukan salat. aku tiba-tiba langsung terkesiap mendengar pengumuman itu, apa kaitannya anak kecil dengan shalat khusyuk? siapa yang bisa melebihi kekhusyukan shalat Nabi Muhammad SAW, bahkan Beliau pernah shalat sambil menggendong cucunya.

"Berdasarkan riwayat dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW pernah shalat, sementara Umamah —anak perempuan Zainab, yakni putri Rasulullah SAW— di bahu beliau. Jika Rasul rukuk, maka beliau meletakkan anak itu dan jika bangkit dari sujud, maka beliau mengangkatnya dan meletakkannya kembali di atas bahu beliau. Amir berkata, "Aku tidak menanyakan shalat apa sebenarnya yang beliau lakukan ketika itu." Namun, Ibnu Juraij berkata, "Aku diberitahukan oleh Zaib bin Abu Itab dari Umar bin Sulaim bahwa shalat yang dikerjakan Rasul SAW saat itu adalah shalat Subuh.” (HR Bukhari, sebagaimana dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah)".

Entah apa yang ada di pikiran setiap orang ketika melarang anak kecil berlari dan bermain di dalam masjid saat salat sedang berlangsung? aku sendiri sama sekali merasa tidak terganggu bahkan sangat senang ketika melihat dan mendengar anak kecil bermain sambil tertawa tanpa merasa terganggu dengan apa yang sedang kukerjakan termasuk itu ketika aku sedang shalat.

Senja dan Basah

senja yang basah
dengan senandung semesta riang
malam mengintip
dalam heningnya yang bisu
dan senja yang basah
Mencairkan malam yang hening dalam gelap
Kemudian berlari menyambut pagi
Dan senja yang basah
Hadir dengan sejuta makna

Saya mengedit tulisan-tulisan saya yang berserakan beberapa tahun yang lalu. tulisan yang memalukan tentang usaha saya menulis puisi-puisi norak. terlalu banyak puisi semacam itu yang membuat saya tidak mampu menghapus atau merevisi satu persatu. selain itu, saya juga merasa kalau saya hapus maka tidak ada bahan saya merevisi kekonyolan saya dulu yang berusaha ingin menulis puisi tanpa ada dasar sama sekali.

biasanya kalau saya menulis puisi seperti ini, saya baru saja membaca puisi yang menurut saya keren dan saya bisa juga menulis seperti itu dan setiap saya coba, selalu berakhir dengan puisi yang konyol dan memalukan. saya tidak ingat puisi apa yang baru saya baca saat itu.

Saya harus mengakui bahwa kemampuan menulis saya sangat payah. beberapa genre tulisan sudah saya coba namun tidak ada yang berhasil. mulai dari puisi, cerpen, renungan, humor dan tulisan apa pun namun all of that didn't works. agak sedikit sedih sebenarnya membayangkan kapasitas diri saya yang benar-benar tidak mampu berada pada level yang membanggakan bahkan dalam hal apapun. entah itu pekerjaan, hobi, soft skill, dan bidang lainnya yang pernah saya jalani namun semua failed. terkadang ingin memaki diri namun takut kufur nikmat, jadi ya sudah, dijalani dengan hati yang lapang. (diedit 2021)

December 17, 2013

Perpisahan

perpisahan itu amat sangat perih. Dia menyisakan beribu rasa yang menyiksa, air mata yang tak tertahan dan mungkin tangis yg pecah tanpa kenal waktu. Perpisahan mungkin salah satu hal yang paling dibenci oleh setiap orang yang sedang mencinta, namun dibalik wajah yang menyebalkan, perpisahan pula mengajarkan berbagai bentuk kondisi yang sebelumnya tidak terasa. Dia mengajarkan arti mencintai, mengajarkan pula arti kebersamaan bahkan dalam bentuknya yang paling bengis, perpisahan menyisakan arti kerinduan yang mendalam.

kalau ingin mengerti arti mencinta, merindu dan air mata yang tak tertahan maka berpisahlah untuk sementara waktu. Setahuku, sekeras bagaimanapun hatiku seseorang, dia akan takluk juga pada yang namanya perpisahan.

Cinta, Keluarga, Sahabat

Kalau bicara soal sahabat, mungkin semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tidak tau dari sudut mana namun suatu kebebasan untuk semua individu mengatakan sahabat itu seperti apa?? Ah, aku merasa akhir -akhir ini terlalu melankolis, terlalu banyak menulis hal-hal yang sentimental namun tidak apalah yang penting menulis. 

Oh iya, kepada ke sahabat tadi, kalau orang punya pemikiran tersendiri tentang sahabat maka akupun demikian. Menurutku, sahabat itu adalah sosok yang dirindukan, kita tenang saat berada di dekatnya dan tidak risau atas guyonannya dan yang utama bahwa dia tulus mendoakan kebaikan buat diri kita dan tidak pernah sama sekali iri atas pencapaian yang kita raih bahkan dia malah ikut senang. 

Kalau indikasi yang ini sangat tidak empiris, hal ini sangat subjektif dan hanya bisa dirasa oleh pribadi kita masing-masing. Terkadang orang yang menganggap kita sahabat seringkali sesungguhnya menjadikan kita kompetitor bahkan selalu berusaha diatas kita walau dari mulutnya keluar beribu doa buat namun hati tidak bisa dikibuli seperti itu.

Cinta mungkin tidak lepas dari sahabat. persahabatan pasti akan berbicara tentang cinta kepada mereka. Aku ingat jelas saat masih kuliah, seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mencari seorang sahabat, dia hanya ingin mencari seorang teman. alasannya karena trauma, pernah sekali waktu dia punya sahabat dan sudah sangat percaya terhadap sahabatnya namun dalam perjalanan persahabatannya, dia dikhianati oleh sahabatnya. 

Kasus ini mungkin sangat lumrah karena dalam setiap interaksi manusia, selalu saja tidak bebas nilai, selalu akan ada kepentingan dalam sebuah interaksi dan yang membedakan hanyalah apakah kepentingannya berupa ego atau altruistik.

December 16, 2013

Angkringan Samping Terminal

Salah satu tempat favoritku melepas penat saat di jejali dengan rutinitas yang tidak ada habisnya adalah angkringan. Aku bisa merasakan begitu banyak sensasi kebebasan saat bersandar sambil menikmati gorengan dan susu. Lalu lalang pembeli yang dengan santainya membuatku lumayan fresh bahwa hidup sebenarnya tidak sekejam yang ada di benakku. Angkringan mungkin menjadi salah satu tempat melihat realita dari sudut lain yang sedang kujalani.

Salah satu angkringan yang sering kusambangi adalah angkringan di samping terminal lama pas berseblahan dengan pos polisi. Angkringan ini lumayan strategis dan dari pengamatanku jauh-jauh hari lumayan laris dibanding dengan beberapa angkringan yang laris selain angkringan black yang di jalan trunojoyo. Pemilik angkringan ini namanya mbak sri, dia sering berjaga shift dengan suaminya karena buka sampai pagi, aku tidak tahu nama suaminya.

Mbak sri ini lumayan amat ramah, terpancar di wajahnya yang ceria ketika melayani pembelinya tanpa terlihat sedikitpun rasa lelah di wajahnya yang ada hanya senyum tipis dari bibirnya sambil menyapa satu persatu pelanggannya

suami mb sri ini agak sedikit kalem. dia melayani dengan telaten, meski agak kalem tapi dia juga sangat ramah

PS. sebelumnya ada beberapa foto yang saya tampilkan di postingan ini namun saya memutuskan untuk menghapuskan karena berbagai pertimbangan.

Mereka Yang Sering Kujumpai

Setahun lamanya bermukim di Ngawi, ada begitu banyak orang yang sering kutemui, berinteraksi dengan mereka dan bercengkerama, namun hanya ada tiga makhluk yang hampir pasti kujumpai dalam sehari kecuali hari minggu. Mereka bisa dikatakan rekan kerja yang selalu dan setiap saat ada di sampingku dengan berbagai kelakar, pembicaraan serius bahkan guyonan-guyonan jayus diantara kami dan terkadang juga saling bergosip.

Praktis hanya m*ir yang seumuran denganku karena dua yang lainnya jauh diatasku. aku menyadari kami dalam ikatan kerja dan hubungan yang kami bangun pun tak terlepas dari hubungan rekan kerja tetapi terlepas dari itu semua, kembali lagi bahwa kami masih makhluk yang bernama manusia dan tentunya saja masih punya hati dan itulah yang membuat kami terjalin seperti saudara meski terkadang ada konfrontasi tapi tak apalah karena itu namanya manusia.

Ini yang pertama, dia adalah Group leader di Ngawi, asli orang Bl**r. Awal bertemu dengannya, aku tidak mengerti kalau ternyata dia adalah pimpinan, perawakannya yang putih dan kelihatan masih muda. Aku bahkan berpikir kala itu dia seumur denganku ternyata dia masih jauh lebih tua 6 tahun persis seumur dengan kakakkku yang sulung. Bahkan dia sudah punya putra 1 yang kira-kira umurnya 5 tahun

Rekan kerja yang satu ini sudah amat sangat lama bergelut di dunia marketing. dia sudah malang melintang dari kota satu ke kota lainnya di jawa Timur. Dia alumni unair jurusan sosio tahun 1996. Anaknya ada dua, putra dan putri. Pertama kali bertemu dengannya, aku malah mengira dia pimpinan Ngawi.

Kawan yang satu inilah yang amat paling sering kulihat, kurasakan bau tubuhnya atau apapun yang berhubungan dengannya karena dia seumuran denganku, bareng denganku masuk di Perusahaan bahkan sekamar selama di ngawi. Mungkin setiap pribadi ada sisi yang tidak cocok namun aku selalu berkeyakinan bahwa setiap orang yang telah menghiasi hidup kita sehar-hari adalah orang yang terbaik untuk ditemani. Kadang muncul ketidak cocokan namun itu hal yang amat sangat lumrah dalam sebuah interaksi sosial sepanjang tidak merusak hubungan pertemanan.

Bersama ketiga orang tersebut, aku merangkai hariku di Ngawi. Bercengkerama, bersama dalam beberapa perbedaan budaya karena aku dari Pulau seberang sedangkan mereka asli pribumi. Perbedaan budaya akan tetap ada namun satu hal yang pasti bahwa ketika kita masih berlabel manusia maka kebaikan tetaplah sama karena kebaikan itu universal dalam artian bahwa ketika kita mencoba menjadi pribadi yang baik maka kita akan tetap diterima di komunitas apapun meski dengan begitu banyak perbedaan budaya.

Rangkaian pengalaman-pengalaman yang pada nantinya akan membentuk sebuah susunan puzzle yang mengokohkan pendirian seseorang di masa depan. sebuah bentukan karakter yang dibangun dari berbagai pengalaman masa lalu.

Sudah terlalu banyak aku menulis tentang kebaikan, tentang hidup, tentang diri ataupun tentang yang kedengarannya filosofis namun masih saja aku seperti ini, belum banyak berbuat seperti yang aku tulis. Huh, penat juga cuma menulis namun tidak teraplikasikan.

December 13, 2013

Tersisa dari Masa Kuliah

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan blog seorang kawan yang sering ikut aksi jalanan saat masih kuliah. Aku mencoba menguraikan sendiri isi pikiranku karena agak sepakat dengan alur berpikirnya. Apapun pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, jangan pernah melupakan nilai -nilai perjuangan yang pernah dipelajari, diperjuangkan dan sangat diyakini. Jangan sampai pekerjaan mendistorsi semua nilai perjuangan hidup yang pernah menjadi jargon saat mahasiswa dulu. Paling tidak pikiran harus tetap dijaga dari perkara yang akan melunturkan semangat nilai perjuangan.

Mungkin tidak semilitan dulu dan aku sangat yakin bahwa aku sedang tidak berada pada kondisi yang begitu idealis seperti saat masih kuliah dulu namun aku juga masih tetap menjaga beberapa nilai yang kuanggapa sangat prinsipil dan tidak bisa dikompromikan dengan keadaan bagaimanapun. 

Kebebasan berpikir adalah salah satu yang tetap ingin kulestarikan meskipun aku terjun dalam pekerjaan yang berbasis kapitalis nan sangat eksploitatif, bahkan juga budaya gratifikasi menjadi momok yang sangat menyebalkan disaat aku bekerja di Perusahaan yang melegalkan hal seperti itu. 

Bukan saja aku terkesan sangat naif ataupun dengan bahasa yang lebih kejam aku ini munafik karena tetap bertahan di sebuah lingkungan yang mana hatiku berontak untuk tidak melakoni budaya gratifikasi tetapi tetap saja diriku punya pembelaan untuk membenarkan aku masih tetap di sini sampai saat ini. 

Pembelaan pertamaku karena aku berniat membantu adikku yang masih kuliah kemudian pembelaan kedua adalah aku berusaha komitmen dan bertanggung jawab atas apa yang telah aku putuskan karena ketika aku begitu saja berbalik arah meninggalkan pekerjaan yang sementara ini sedang kujalani berarti juga aku meninggalkan tanggung jawab buat orang yang kelak akan menggantikanku dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.

Terlepas dari itu semua bahwa aku masih saja membutuhkan aliran dana dari perusahaan kapitalistik untuk bertahan hidup di negeri rantau sembari mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan pribadi dan bisa membebaskan pikiranku. Pekerjaan persoalan idealisme dan kebutuhan perut seperti yang sering aku tulis sebelumnya namun bukan hal yang mustahil juga menyelaraskan antara keduanya. 

Aku sekarang sedang berada pada akhir tanggunganku di tempat ini dan mungkin saja sebentar lagi aku akan lepas dan beranjak ke tempat lain mengais rejeki. Perjalanan yang begitu sangat melelahkan dan menguras pikiran sampai harus jatuh bangun mempertahankan isi pikiran yang tidak akan kubiarkan bias oleh kepentingan diri.

kekhawatiranku adalah ketidaktegasan terhadap diriku akan membuat pendirianku semakin goyah.