December 17, 2013

Perpisahan

perpisahan itu amat sangat perih. Dia menyisakan beribu rasa yang menyiksa, air mata yang tak tertahan dan mungkin tangis yg pecah tanpa kenal waktu. Perpisahan mungkin salah satu hal yang paling dibenci oleh setiap orang yang sedang mencinta, namun dibalik wajah yang menyebalkan, perpisahan pula mengajarkan berbagai bentuk kondisi yang sebelumnya tidak terasa. Dia mengajarkan arti mencintai, mengajarkan pula arti kebersamaan bahkan dalam bentuknya yang paling bengis, perpisahan menyisakan arti kerinduan yang mendalam.

kalau ingin mengerti arti mencinta, merindu dan air mata yang tak tertahan maka berpisahlah untuk sementara waktu. Setahuku, sekeras bagaimanapun hatiku seseorang, dia akan takluk juga pada yang namanya perpisahan.

Cinta, Keluarga, Sahabat

Kalau bicara soal sahabat, mungkin semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tidak tau dari sudut mana namun suatu kebebasan untuk semua individu mengatakan sahabat itu seperti apa?? Ah, aku merasa akhir -akhir ini terlalu melankolis, terlalu banyak menulis hal-hal yang sentimental namun tidak apalah yang penting menulis. 

Oh iya, kepada ke sahabat tadi, kalau orang punya pemikiran tersendiri tentang sahabat maka akupun demikian. Menurutku, sahabat itu adalah sosok yang dirindukan, kita tenang saat berada di dekatnya dan tidak risau atas guyonannya dan yang utama bahwa dia tulus mendoakan kebaikan buat diri kita dan tidak pernah sama sekali iri atas pencapaian yang kita raih bahkan dia malah ikut senang. 

Kalau indikasi yang ini sangat tidak empiris, hal ini sangat subjektif dan hanya bisa dirasa oleh pribadi kita masing-masing. Terkadang orang yang menganggap kita sahabat seringkali sesungguhnya menjadikan kita kompetitor bahkan selalu berusaha diatas kita walau dari mulutnya keluar beribu doa buat namun hati tidak bisa dikibuli seperti itu.

Cinta mungkin tidak lepas dari sahabat. persahabatan pasti akan berbicara tentang cinta kepada mereka. Aku ingat jelas saat masih kuliah, seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mencari seorang sahabat, dia hanya ingin mencari seorang teman. alasannya karena trauma, pernah sekali waktu dia punya sahabat dan sudah sangat percaya terhadap sahabatnya namun dalam perjalanan persahabatannya, dia dikhianati oleh sahabatnya. 

Kasus ini mungkin sangat lumrah karena dalam setiap interaksi manusia, selalu saja tidak bebas nilai, selalu akan ada kepentingan dalam sebuah interaksi dan yang membedakan hanyalah apakah kepentingannya berupa ego atau altruistik.

December 16, 2013

Angkringan Samping Terminal

Salah satu tempat favoritku melepas penat saat di jejali dengan rutinitas yang tidak ada habisnya adalah angkringan. Aku bisa merasakan begitu banyak sensasi kebebasan saat bersandar sambil menikmati gorengan dan susu. Lalu lalang pembeli yang dengan santainya membuatku lumayan fresh bahwa hidup sebenarnya tidak sekejam yang ada di benakku. Angkringan mungkin menjadi salah satu tempat melihat realita dari sudut lain yang sedang kujalani.

Salah satu angkringan yang sering kusambangi adalah angkringan di samping terminal lama pas berseblahan dengan pos polisi. Angkringan ini lumayan strategis dan dari pengamatanku jauh-jauh hari lumayan laris dibanding dengan beberapa angkringan yang laris selain angkringan black yang di jalan trunojoyo. Pemilik angkringan ini namanya mbak sri, dia sering berjaga shift dengan suaminya karena buka sampai pagi, aku tidak tahu nama suaminya.

Mbak sri ini lumayan amat ramah, terpancar di wajahnya yang ceria ketika melayani pembelinya tanpa terlihat sedikitpun rasa lelah di wajahnya yang ada hanya senyum tipis dari bibirnya sambil menyapa satu persatu pelanggannya

suami mb sri ini agak sedikit kalem. dia melayani dengan telaten, meski agak kalem tapi dia juga sangat ramah

PS. sebelumnya ada beberapa foto yang saya tampilkan di postingan ini namun saya memutuskan untuk menghapuskan karena berbagai pertimbangan.

Mereka Yang Sering Kujumpai

Setahun lamanya bermukim di Ngawi, ada begitu banyak orang yang sering kutemui, berinteraksi dengan mereka dan bercengkerama, namun hanya ada tiga makhluk yang hampir pasti kujumpai dalam sehari kecuali hari minggu. Mereka bisa dikatakan rekan kerja yang selalu dan setiap saat ada di sampingku dengan berbagai kelakar, pembicaraan serius bahkan guyonan-guyonan jayus diantara kami dan terkadang juga saling bergosip.

Praktis hanya m*ir yang seumuran denganku karena dua yang lainnya jauh diatasku. aku menyadari kami dalam ikatan kerja dan hubungan yang kami bangun pun tak terlepas dari hubungan rekan kerja tetapi terlepas dari itu semua, kembali lagi bahwa kami masih makhluk yang bernama manusia dan tentunya saja masih punya hati dan itulah yang membuat kami terjalin seperti saudara meski terkadang ada konfrontasi tapi tak apalah karena itu namanya manusia.

Ini yang pertama, dia adalah Group leader di Ngawi, asli orang Bl**r. Awal bertemu dengannya, aku tidak mengerti kalau ternyata dia adalah pimpinan, perawakannya yang putih dan kelihatan masih muda. Aku bahkan berpikir kala itu dia seumur denganku ternyata dia masih jauh lebih tua 6 tahun persis seumur dengan kakakkku yang sulung. Bahkan dia sudah punya putra 1 yang kira-kira umurnya 5 tahun

Rekan kerja yang satu ini sudah amat sangat lama bergelut di dunia marketing. dia sudah malang melintang dari kota satu ke kota lainnya di jawa Timur. Dia alumni unair jurusan sosio tahun 1996. Anaknya ada dua, putra dan putri. Pertama kali bertemu dengannya, aku malah mengira dia pimpinan Ngawi.

Kawan yang satu inilah yang amat paling sering kulihat, kurasakan bau tubuhnya atau apapun yang berhubungan dengannya karena dia seumuran denganku, bareng denganku masuk di Perusahaan bahkan sekamar selama di ngawi. Mungkin setiap pribadi ada sisi yang tidak cocok namun aku selalu berkeyakinan bahwa setiap orang yang telah menghiasi hidup kita sehar-hari adalah orang yang terbaik untuk ditemani. Kadang muncul ketidak cocokan namun itu hal yang amat sangat lumrah dalam sebuah interaksi sosial sepanjang tidak merusak hubungan pertemanan.

Bersama ketiga orang tersebut, aku merangkai hariku di Ngawi. Bercengkerama, bersama dalam beberapa perbedaan budaya karena aku dari Pulau seberang sedangkan mereka asli pribumi. Perbedaan budaya akan tetap ada namun satu hal yang pasti bahwa ketika kita masih berlabel manusia maka kebaikan tetaplah sama karena kebaikan itu universal dalam artian bahwa ketika kita mencoba menjadi pribadi yang baik maka kita akan tetap diterima di komunitas apapun meski dengan begitu banyak perbedaan budaya.

Rangkaian pengalaman-pengalaman yang pada nantinya akan membentuk sebuah susunan puzzle yang mengokohkan pendirian seseorang di masa depan. sebuah bentukan karakter yang dibangun dari berbagai pengalaman masa lalu.

Sudah terlalu banyak aku menulis tentang kebaikan, tentang hidup, tentang diri ataupun tentang yang kedengarannya filosofis namun masih saja aku seperti ini, belum banyak berbuat seperti yang aku tulis. Huh, penat juga cuma menulis namun tidak teraplikasikan.

December 13, 2013

Tersisa dari Masa Kuliah

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan blog seorang kawan yang sering ikut aksi jalanan saat masih kuliah. Aku mencoba menguraikan sendiri isi pikiranku karena agak sepakat dengan alur berpikirnya. Apapun pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, jangan pernah melupakan nilai -nilai perjuangan yang pernah dipelajari, diperjuangkan dan sangat diyakini. Jangan sampai pekerjaan mendistorsi semua nilai perjuangan hidup yang pernah menjadi jargon saat mahasiswa dulu. Paling tidak pikiran harus tetap dijaga dari perkara yang akan melunturkan semangat nilai perjuangan.

Mungkin tidak semilitan dulu dan aku sangat yakin bahwa aku sedang tidak berada pada kondisi yang begitu idealis seperti saat masih kuliah dulu namun aku juga masih tetap menjaga beberapa nilai yang kuanggapa sangat prinsipil dan tidak bisa dikompromikan dengan keadaan bagaimanapun. 

Kebebasan berpikir adalah salah satu yang tetap ingin kulestarikan meskipun aku terjun dalam pekerjaan yang berbasis kapitalis nan sangat eksploitatif, bahkan juga budaya gratifikasi menjadi momok yang sangat menyebalkan disaat aku bekerja di Perusahaan yang melegalkan hal seperti itu. 

Bukan saja aku terkesan sangat naif ataupun dengan bahasa yang lebih kejam aku ini munafik karena tetap bertahan di sebuah lingkungan yang mana hatiku berontak untuk tidak melakoni budaya gratifikasi tetapi tetap saja diriku punya pembelaan untuk membenarkan aku masih tetap di sini sampai saat ini. 

Pembelaan pertamaku karena aku berniat membantu adikku yang masih kuliah kemudian pembelaan kedua adalah aku berusaha komitmen dan bertanggung jawab atas apa yang telah aku putuskan karena ketika aku begitu saja berbalik arah meninggalkan pekerjaan yang sementara ini sedang kujalani berarti juga aku meninggalkan tanggung jawab buat orang yang kelak akan menggantikanku dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.

Terlepas dari itu semua bahwa aku masih saja membutuhkan aliran dana dari perusahaan kapitalistik untuk bertahan hidup di negeri rantau sembari mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan pribadi dan bisa membebaskan pikiranku. Pekerjaan persoalan idealisme dan kebutuhan perut seperti yang sering aku tulis sebelumnya namun bukan hal yang mustahil juga menyelaraskan antara keduanya. 

Aku sekarang sedang berada pada akhir tanggunganku di tempat ini dan mungkin saja sebentar lagi aku akan lepas dan beranjak ke tempat lain mengais rejeki. Perjalanan yang begitu sangat melelahkan dan menguras pikiran sampai harus jatuh bangun mempertahankan isi pikiran yang tidak akan kubiarkan bias oleh kepentingan diri.

kekhawatiranku adalah ketidaktegasan terhadap diriku akan membuat pendirianku semakin goyah.  

Nostalgia Awal

Benar -benar tak terasa, hampir setahun lamanya aku bekerja di Ngawi, menghabiskan waktuku menjadi karyawan di salah satu perusahaan penerbit nasional. Aku sesungguhnya tidak menyangka sama sekali akan menghabiskan setahun waktuku bekerja di sini namun begitulah cerita lagit yang ditakdirkan kepadaku dan aku hanya berusaha menjalani dengan aturan-aturan langit.

Menjelang akhir tahun ini, aku sedang menikmati hari-hari terakhir bekerja dan tinggal di kota ini yang dekat dengan perbatasan jawa tengah dan Jawa timur. Benarlah bahwa awal menjalani pekerjaan di sini sebagai seorang pemasaran yang harus berlomba dengan target benar-benar melelahkan fisik dan raga, setiap saat harus dihabiskan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kemudian berburu waktu dari sekolah satu ke sekolah lainnya dan terkadang melupakan keselamatan di rimba jalanan namun risiko pekerjaan yang telah kupilih harus tetap kujalani. Salah satu Manager marketing sby 2, pak SN mengatakan bahwa tidak ada yang menyuruh kalian mendaftar dan bekerja di sini jadi jika ada yang merasa terjebak bekerja di sini, hanya ada dua opsi, mengajukan surat resign atau belajar mendalami pekerjaan ini dan totalitas dalam bekerja". Pernyataan beliau sampaikan di training karyawan baru sekitar bulan Mei di kantor cabang surabaya Jln. Berbek industri 7 Waru. Aku mengamini pernyataan beliau karena pilihan kita dalam hidup adalah pilihan sadar dan itu yang terjadi di setiap keputusan-keputusan yang diambil dalam segala hal.

Aku yakin bahwa hidup ini semuanya indah bahkan kondisi yang dianggap manusia sebagai kondisi sulit juga sebenarnya sangat menyenangkan. Dengar saja penuturan kisah orang-orang sukses yang berbagi pengalaman di acara seminar, mereka dengan sangat bangga menceritakan semua pengalaman susah mereka saat baru berjuang menggapai kesuksesan, tak sedikit pun tergores penyesalan dari wajah mereka saat berbagi kisah tentang itu bahkan kebanggaan lah yang terpancar di wajah mereka karena pernah melewati masa sulit. Itulah yang menyadarkanku bahwa memang apapun kondisi hidup kita tidak akan pernah mengurangi keindahan hidup namun hidup itu akan menjadi sangat indah ketika sudah tersisa sebagai kenangan.

Potongan hidupku di Ngawi pun seperti itu. Meski awalnya aku harus melawan egoku selalu saja mengeluh tentang pekerjaan yang sedang kujalani namun di lain sisi, aku selalu saja yakin bahwa kenangan di Ngawi alan menjadi sangat terasa indah ketika aku mampu melewati dengan menikmati alurnya. Bahkan menjelang akhir tahun yang juga berarti bulan terakhir aku di sini, aku sudah merasa sangat berat meninggalkan kota kecil ini. Kenangan setahun mengitari kota ini benar-benar membuat langkahku enggan bergerak walau kusadari bahwa hidup harus terus berjalan dan jangan pernah terbuai oleh nostalgia yang melenakan karena masih banyak tempat di bumi ini yang akan menjadi tempat menggoreskan cerita hidup. Memang dalam setiap perjalanan itu, ada beberapa titik yang sangat berat untuk ditinggalkan ketika hati sudah terpaut disana. Namun ingat, titik-titik itu yang akan menghalangimu berlomba dengan waktu jika engkau membiarkan ragamu tinggal terpaku di zona nyaman. Perluaslah zona nyamanmu hingga akhirnya suatu saat nanti, semua tempat akan menjadi zona nyaman bagimu.

begitulah satu lagi potongan cerita hidup dalam babak yang sebentar lagi akan kuselesaikan. Babak kehidupan di kota Ngawi selama satu tahun. Mengenal dengan baik kota ini sampai pada setiap pelosok desa. Mengiringi setiap jalan setapak kemudian masuk di setiap sekolahan smp menunggu guru-guru yang sedang mengajar kemudian bercuap-cuap kemudian berlalu.

Aku benar-benar menghabiskan waktu setahun di sini mengiringi waktu memutari kota ini. Menikmati setiap sisi pemandangan yang ditawarkan kota ini. Kota yang terletak tepat di jalan trans jawa yang semakin membuat kota ini bising di setiap waktunya. Setiap kendaraan seakan berada di arena balap mengendarai mobil bahkan motor mereka.

Namun seperti itulah kota ini, apapun keadaan kota ini, bahwa aku telah menggoreskan setahun kisahku disini, mengukir di setiap helai daun dengan tetesan air hujan. Menyingggahi setiap warung pojokan sambil membaur menjadi warga kota ini bahkan dalam beberapa episode kehidupanku disini, aku seperti orang asli. Yah itulah kota Ngawi dengan segala kisahku menghabiskan waktu setahun disini selama 2013.

Kerena Waktu

dan akhirnya
waktu terus menjalankan takdirnya
tanpa berhenti sedetik pun
membawa semua cerita
menyisakan potongan jejak kaki tak berbekas
dan akhirnya
setelah berjalan cukup lama
waktu tak kunjung kalah
dia tetap melaju
walau aku harus berhenti
mengambil nafas lalu memburu kembali waktu
malam mulai menggores ceritaku
bahkan senja menyimpannya dengan amat sangat rapi
tak sedikitpun terlupa

December 12, 2013

Tentang Siang dan Malam

malam menjemput kabut
setelah sekian lama siang berkabung
entahlah,,
namun seakan siang dan malam sedang berkomprontasi
bahkan tak saling menyapa
tak sekalipun aku menjumpai mereka datang bersamaan menyapa bumi
selalu saja malam berlalu ketika siang menjelang
dan begitu juga sebaliknya
dapatkah kita menyandingkan mereka
karena bumi tak pernah menolak?

December 10, 2013

Merantau

merantau mempunyai sensasi tersendiri, lebih dari berdiam diri pada zona nyaman yang ditawarkan kampung halaman. setiap tatapan mata akan menerawang betapa begitu manusia yang berani melangkah membelakangi tempat kecilnya akan merasakan sensasi tersendiri tentang arti merantau bahkan tentang arti hidup. disaat semua orang mendekap dalam rindu yang amat sangat menyiksa ketika jauh dari keluarga dan hal apa saja yang dirindukan di istana kecil kita maka saat itu pulalah, semesta mengalirkan butiran doanya kepada mereka yang jauh dari semua yang dicintai demi impian hidup.

MERANTAU
Aku adalah salah satu pribadi yang bercita-cita merantau dan merasakan betapa benar-benar merantau itu punya sensasi tersendiri, Saat kita dirundung rindu yang tak tertahankan, saat semua cerita masa kecil menari-nari di ubun-ubun atau pun saat berada dalam masa sulit di perantauan bahkan juga saat semua yang ada di perantauan sedang tidak bersahabat dengan kita maka disitulah tertancap beribu sensasi tentang rantau.

December 8, 2013

Bahagia Itu

Bahagia itu. mungkin semua orang mendamba kata itu benar menjadi miliknya. Berbagai macam cara dilakukan oleh setiap orang untuk mengejar kebahagiaan bahkan dengan cara yang diluar nalar sehat. Sangat lazim di tengah-tengah kita bahwa kebahagiaan itu sering diidentikkan dengan tersedianya kebutuhan atau dalam artian apa yang diinginkan dapat terpenuhi. Meski sering dalam ceramah masjid, khutbah gereja dan di tempat-tempat ibadah lain. Dikatakan bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada kekayaan namun tetap saja sebagian dari kita menganggap bahwa ketika orang mempunyai kelimpahan harta maka besar kemungkinan mereka akan bahagia.

Pagi ini, ada dua fenomena yang membuatku lagi-lagi tersadar bahwa benar adanya kebahagiaan itu tidak terletak pada setiap apa yang diinderawi. Hal yang kasat mata hanyalah semu dan terkadang menipu karena orang yang sering kita anggap mempunyai kecukupan materi pasti punya masalah, ini yang sering aku katakan bahwa "everyone has a own problem."

Aku bercerita panjang lebar dengan ibu Tuti, salah satu rekan kerja pak Audi. Awalnya kami hanya bercerita hal yang biasa kemudian aku menimpali kalau pak Audi itu sangat kuat merokok (kami tidak sedang bergibah), bahkan saat di rumahnya sekalipun dia sangat sering merokok hingga pernah berselisih sama bojonya karena tidak berhenti merokok. Ibu Tuti menimpali bahwa memang pak Audi dari sejak dulu punya kebiasaan merokok dan sebenarnya dia punya penyakit maaf akut yang sangat berpantangan dengan kebiasaan merokok. 

Aku tiba-tiba terkesiap, perawakan pak Audi yang tinggi besar ternyata beliau menderita maag akut. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pak Audi tidak bahagia gara-gara penyakitnya tersebut, aku hanya ingin mengatakan bahwa benar setiap orang punya masalah. 

Secara inderawi, pak Audi amat sangat bahagia, beliau seorang guru beserta istrinya, punya rumah, mobil dan toko bahkan ketiga anaknya sedang lucu-lucunya tumbuh berkembang dengan sehat (semoga ketiganya tetap sehat wal'afiat), namun meski begitu, beliau tetaplah manusia yang mempunyai masalah sendiri.

Setelah itu, aku bertandang ke rumah ibu Anti di sekitar perumahan lawu 1. Beliau adalah salah seorang guru bahasa Indonesia di SMP 4 Ngawi. Lumayan akrab sama aku dan kebetulan aku ingin mengantarkan bed cover. Sesampai di rumahnya, aku terdiam melihat rumahnya yang begitu besar meski belum kelar direnovasi, aku membatin bahwa ibu ini pasti sangat bahagia. 

Aku disambut dengan hangat oleh beliau. Sejenak bercerita panjang lebar, aku menanyakan kok rumahnya sepi. Beliau kemudian mulai bercerita tentang keluarganya, beliau mempunyai dua orang anak yang salah satunya sudah kuliah di UMS jurusan fisioterapi dan satunya lagi ada di rumah tersebut sayang anaknya yang bungsu menderita autis, umurnya sekitar 14 tahun. 

Sesaat kemudian, anaknya keluar dan hanya melongo memandangku, aku melihat sekilas wajahnya yang begitu ayu bahkan sangat ayu diantara anak seusianya. Setelah itu, beliau juga bercerita tentang suaminya yang mengalami geger otak hingga memutuskan pensiun dini. 

Aku lagi-lagi mengamini bahwa sejatinya setiap orang punya masalah sendiri. Ibu anti yang kelihatan sangat bahagia dengan punya mobil dan rumah besar ternyata punya masalah yang rumit meski kutahu dari wajahnya, beliau begitu tabah menghadapinya bahkan anaknya yang autis sudah mulai berobat sejak umur 3 tahun sampai sekarang dan sudah begitu banyak biaya tenaga, materi dan pikiran yang terkuras namun beliau hanya berkata, yah begitulah namanya usaha.

Kedua fenomena diatas benar-benar meyakinkanku bahwa setiap orang punya masalah namun bukan bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan adanya masalah tersebut bahkan mungkin saja dengan masalah mereka malah membuat mereka semakin bahagia tanpa mereduksi sedikitpun kebahagiaan yang mereka punyai.

. Grudo, 08.12.13

December 7, 2013

Mengurai Kehidupan Mahasiswa

Saat menjadi salah satu mahasiswa di kota asalku, aku sangat gandrung dengan paham yang sering dianggap kekiri-kirian nan makar. Begitu banyak faktor yang membuatku harus menjadi seperti itu. disamping jurusanku yang memang mengkaji berbagai ideologi diluar ideologi mainstream, lingkungan pergaulanku juga menjadi salah satu faktor yang sangat mendukungku menjadi mahasiswa yang suka menggunggat apa saja yang kuanggap salah. Bahkan latar belakang dari kampung kecil yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup menjadi faktor lain mengapa aku semakin gandrung mempelajari hal-hal di luar pemahaman mainstream. 

Saat masih di kampung, aku menganggap bahwa kerasnya kehidupan adalah hal wajar dan mungkin juga takdir atau bahkan orang malas bekerja sehingga hidup susah namun saat menginjakkan kaki di kampus, banyak membaca informasi dan diskusi dengan siapa saja maka aku mendapat pencerahan bahwa hidup ternyata ada sebuah hal konstruktif yang dijalankan oleh orang-orang bejat.

Pertama kali berubah status sebagai mahasiswa, aku disuguhi oleh fenomena kehidupan kampus yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan yang kujalani di masa SMA ku. Beribu wajah kujumpai dengan segala cerita yang mereka goreskan. Saat diskusi di berbagai sudut kampus, begitu banyak istilah yang membuat kepalaku berputar untuk memahaminya. 

Perlahan aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa yang pada akhirnya lingkungan mahasiswaku mengantarkanku menjadi mahasiswa yang suka diskusi dan mempelajari ideologi yang berbeda dengan ideologi status quo. Aku bahkan menyadari bahwa pada awalnya aku benar-benar hanya terpengaruh oleh lingkunganku namun pada akhirnya, aku benar-benar mengamini semua dari pahaman yang aku kaji. Mulai dari perlawanan terhadap gurita besar kapitalisme, kemudian mempelajari tandingan ideologinya yaitu marxisme. 

Dalam mempelajari pahaman seperti ini, aku mulai membongkar paham ortodoks yang sudah lama tertanam di dalam kepalaku. PKI yang dulunya kuanggap benar-benar sadis ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Berbagai macam distorsi sejarah membuat mereka dilabeli sebagai hantu yang harus dimusnahkan dan tidak punya hak untuk hidup. Kenyataan yang aku pelajari bahwa paham marxisme yang kemudian dikenal di Indonesia sebagai PKI ternyata berjuang melawan status quo yang bangsat dan otoriter. 

Perlawanan mereka yang begitu gigih dengan berbagai cara akhirnya diredam oleh penguasa dengan cara licik. Mereka diftnah sebagai anti agama dan kelompok sadis sehingga masyarakat awam termakan hasutan tersebut dan ikut membenci perjuangan mereka.

Bahkan dalam beberapa edisi perjalananku sebagai mahasiswa, aku seringkali ikut aksi jalanan dalam berbagai isu nasional. Berhadapan dengan laras polisi dan pentungan benar-benar tidak menciutkan nyaliku untuk terus ikut aksi jalanan bahkan pernah dua kali saat chaos, aku harus merelakan dadaku terkena lemparan batu polisi di dekat tugu volcom kampus, begitu sakit memang namun selepas itu, tidak jua membuatku jera. 

Aku bahkan saat itu benar-benar muak dengan penguasa lalim. Aku bercita-cita menyaksikan dunia yang penuh kedamaian dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aku semakin yakin bahwa kemiskinan bukan sebuah takdir Ilahi namun tidak lebih ada konstruksi dari dinasti kapitalisme yang mencengkeram dunia.

Pemiskinan terjadi dimana-mana bahkan 80% kekayaan dunia hanya dimiliki oleh 20% penduduk bumi artinya bahwa 20% kekayaan dunia dibagi kepada 80% penduduk bumi. Ini jelas sebuah kecurangan yang tidak bisa dibiarkan. Pemiskinan seperti itu yang pada akhirnya melahirkan gerakan perlawanan. Bayangkan saja, di Indonesia, hany segelintir orang punya tabungan yang tak terhitung nilainya sedangkan disamping mereka, beribu orang makan hanya sekali dalam 3 hari, apakah ini takdir. 

Jelas tidak, Tuhan tidak sejajar itu, mereka yang rakus menyebabkan kondisi seperti ini. Semua ingin dimiliki seakan bahwa perut mereka bisa menampung semua itu bahkan hany untuk makan nasi bungkus buat orang disekelilingnya pun mereka enggan. Bumi ini bukan buat mereka saja. Masih banyak orang yang menempati bumi ini.

Sampai saat ini, meski tensi interaksiku dengan duniaku yang dulu tidak terlalu intens namun aku tetap mendukung setiap perjuangan pergerakan yang menuntut keadilan apapun itu namanya. Perjuangan untuk sebuah keadilan bumi bukan berarti membenci orang kaya namun lebih dari itu, melawan ketamakan dan tidak semua orang kaya itu tamak. 

Bumi adalah milik semua makhluk dan tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli bumi ini demi nafsu mereka. Bumi masih mampu memberi makan buat semua penghuninya kecuali bagi mereka yang tamak. Tidak ada bumi yang cukup buat mereka yang tamak.

Piala Dunia

Jarang sekali aku menghubungkan peristiwa hidupku dengan kejadian di luar. Aku mungkin salah satu orang yang tidak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Seperti pemain arsenal, Aron Ramsey ketika mencetak gol maka selalu saja ada orang populer di dunia yang akan menjemput ajalnya. 

Aku sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu namun akhirnya aku juga harus menghubungkan periodik hidupku dengan turnamen piala dunia yang digelar 4 sekali dan aku menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal tak terduga yang aku jumpai dalam hidupku dalam periode 4 tahun, bahkan momennya selalu hampir bertepatan dengan helatan piala dunia. Momen yang selalu bertepatan dengan piala dunia sering kali momen yang menjadi start awal dari hidupku.

Momen piala dunia 2002 menandakan aku akan menjalani hidupku sebagai siswa SMA, mungkin kedengaran biasa-biasa saja namun tetap saja aku menganggap sebuah awal. Empat tahun berikutnya pada helatan piala dunia 2006, aku baru saja diterima sebagai salah satu mahasiswa di kota asalku, Universitas terbesar di wilayah tersebut yang menjadi favorit. 

Sebenarnya ini juga kedengaran amat sangat tidak berkaitan namun aku masih berpikir bahwa kenapa bisa tahun 2006 saat aku baru bisa diterima di Universitas ini padahal sebelumnya pada tahun 2005, aku sudah ikut tes di Universitas ini. melangkah lagi ke turnamen piala dunia 2010, adalagi kejutan yang menghampiriku. 

Di tahun itu pula aku berhasil meraih gelar sarjana di kampusku, aku sedikit amat merasa takjub karena kalau mau jujur, aku menggarap skripsiku tidak begitu serius dan bahkan aku menggarapnya hanya beberapa bulan sedangkan kawanku yang lain butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsi mereka. Mungkin ini juga berkah dari helatan piala dunia.

Menjelang perhelatan piala dunia 2014, aku berharap ada lagi momen yang bahagia menyapaku, aku tak mau muluk-muluk, hanya berharap hal yang baik menyapaku di tahun depan saat tahun di mana piala dunia kembali digelar.

Menantikan kejutan-kejutan lain dalam hidupku yang bertepatan dengan turnamen piala dunia dan semoga saja kejutannya adalah kejutan indah seperti yang telah berlalu di tahun-tahun sebelumnya.

NB. Semoga juga Italia juara piala dunia lagi

Desember Menyapa

Aku sebenarnya bukan pribadi yang terlalu puitis tentang setiap bulan dal kalender masehi yang terlewati namun ada saja orang yang mengabadikan setiap kisah perjalanan mereka dalam setiap bulannya yang dibingkai dalam tulisan puisi, cerita ataupun prosa, entah itu tentang november yang basah. 

Desember menjelang pergantian Tahun ataupun januari yang ceria. Perjalanan setiap bulan hanya kulewati dengan cara-cara yang biasa tanpa berusaha menggoreskan warna yang puitis seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda romansa.

Seringkali membaca banyak tulisan tentang desember akhirnya menggugah juga minatku untuk menulis tentang desember yang basah. Musim hujan yang datang di awal November membuat desember menjadi semakin basah. Desember sebenarnya juga meninggalkan berbagai kenangan yang tidak bisa begitu saja kulupakan. 

Desember adalah bulan yang menjadi bukti akan penghianatan seorang gadis yang pernah singgah di jiwaku, aku sama sekali tidak menyalahkan desember namun mengingatnya selalu saja mengungkit pesihku terhadap gadis tiga huruf yang telah mencampakkanku di desember tahun lalu. Dia membuat desember menjadi bulan kelabu buatku. 

Bahkan disaat begitu banyak manusia menggoreskan romansa di bulan ini, aku harus menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku tepat di bulan desember menjelang pergantian tahun.