Semalam, aku menelpon keluargaku di pulau nun jauh di sana, seperti biasa, aku bergiliran bercerita dengan kakakku ibuku dan juga ayahku. Tidak hal yang istimewa sebenarnya karena kebiasaan menelpon mereka di akhir pekan memang menjadi rutinitas. Sampai saat ayahku tiba-tiba berkata dengan sangat sentimental dan mungkin ini percakapan kami selama ini yang paling sentimental. Tiba-tiba saja ayahku mengucapkan minta maaf tentang semua dosanya dimasa lalu barangkali dia pernah memarahiku atau pun memukulku.
Dia kemudian melanjutkan bahwa jarak kami yang jauh mengharuskan setiap saat untuk saling memaafkan karena ajal tidak ada yang tahu. Semua perkataannya semalam malah membuat ku semakin merasa bersalah karena seharusnya bukan ayahku yang meminta maaf tetapi akulah yang harusnya meminta maaf beribu kali terhadapnya. Perkara di masa lampu dia pernah marah terhadapku, memang tugasnya dia sebagai ayah memarahiku saat aku khilaf.
Sesaat setelah percakapan berlangsung agak lama, ternyata dia punya alasan kenapa kami harus saling memaafkan setiap waktu karena sehari sebelumnya, dia menjenguk om ayahku yang berarti kakekku karena sudah beberapa hari sakit. Saat itu ayahku masih sempat berbicara dengan kakekku sambil menanyakan keadaannya kemudian mereka saling memaafkan atas khilaf yang mungkin saja diperbuat dimasa lalu yang tidak disengaja.
Selang beberapa menit, kakekku langsung roboh menjelang sakaratul maut sampai paginya sekitar jam 6, dia di panggil ke hadirat sang Maha Kuasa. Pengalaman itu ternyata yang membuat ayahku semakin percaya bahwa ajal benar-benar tidak bisa diprediksi kapan datangnya uang yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan meminimalisir khilaf.
kemudian ayahku melanjutkan berbagai pengalaman yang pernah dia temui. Beberapa tahun lalu, kakek ayahku adalah seorang guru ngaji di kampung sebelah, setiap senja, dia berangkat mengajar di kampung tersebut dan saat pulang, selalu saja dia dibekali nasi atau makanan, entah itu dari muridnya atau mungkin dari penduduk kampung yang mungkin merasa ingin membalas jasanya.
Mungkin sekilas tak ada yg salah dengan kakek buyutku karena dia tidak mencuri dan murni pemberian orang lain. Secara indrawi seperti itu namun cerita yang lebih menarik diutarakan ayahku tentang kakek buyutku ketika menjelang ajalnya dan bergumul dengan perihnya sakaratul maut.
Setiap saat beliau berteriak mabanda',,mabanda',,mabanda'...!!! Dalam bahasa Indonesia berarti berat. Keluarga disampingnya lalu bertanya apa yang berat kek, beliau lalu menjawab ini nasi dan makanan-makanan berat dipikul. Dalam keadaan tidak sadar, beliau berkata seperti itu. Versi ayahku, fenomena itu kemungkinan besar berhubungan dengan kebiasaan beliau menerima pemberian makanan oleh murid-muridnya seusai mengajar mengaji.
Mungkin saja keliru tetapi ada banyak hal yang diceritakan ayahku tentang fenomena diatas, bisa saja kakek buyutku ketika akan berangkat mengajar ngaji niatnya tertuju pada pemberiaan makanan atau bahkan ada diantara murid-muridnya yang sebenarnya berat memberikan makanan hanya karena merasa berhutang budi sehingga dia tetap memberikan makanan meski pada kenyataannya mereka lebih membutuhkan makanan tersebut.
Hidup memang tentang hari dan keikhlasan. Ketika niat hati sudah bergeser saat akan melakukan sesuatu maka semestinya semua akan berubah seperti niat dalam hati. Gerakan tubuh hanyalah indrawi yang menipu dan yang paling mendasar dalam melakukan segala sesuatu adalah niat kita, seperti apa niat kita ketika membantu orang lain, apakah kita pamrih atau benar-benar tulus dalam membantu.
Suatu kali saat aku masih lolos dan belum tahu apa-apa, ayahku pernah berkata bahwa "Puang Allah Taala itu mangpenawa". Kurang lebih dalam bahasa indonesia berarti Tuhan itu melihat hati tidak melihat tindakan kita karena seungguhnya semua terlihat oleh Tuhan dan hati menjadi hal yang paling inti dalam berkehidupan.
Sesungguhnya ketika kita mengharapkan sesuatu selain ridha Allah dalam bertindak maka ketika sudah terjebak dalam niat yang keliru bahkan ketika shalat pun kita tidak boleh meniatkan mendapat pahala atau masuk surga, shalat dan ibadah lain kita kerjakan karena mengharapkan ridha Allah dan itulah puncak dari semua keinginan yang harusnya kita niatkan.