July 31, 2013

Kepala VS Perut

Pelajaran selalu datang di setiap episode kehidupan. Itulah yang aku maknai tentang kehidupanku selama ini. Pelajaran-pelajaran hidup selalu mengikuti jejak langkahku, jika dulu saat menjumpai sebuah masalah maka aku sering mengatakan bahwa kenapa masalahku begitu besar dan seterusnya,  saat aku menghadapi masalah lain.

Sekarang aku yakin bahwa dengan bertambahnya usiaku maka tingkatan masalah pun akan menjadi lebih rumit dalam artian bahwa tingkatan masalah berbanding lurus dengan kematangan seseorang dan hanya satu yang perlu kita lakukan adalah menghadapi masalah tersebut sampai tuntas entah bagaimana hasil akhirnya namun pada intinya bahwa jangan sekali-kali mencoba lari dari sebuah masalah.

Sekarangpun aku menjumpai masalah dalam hidupku, setelah memikirkan semua masalah yang pernah kulalui maka mungkin ini adalah salah satu masalah yang lumayan rumit yang pernah kujumpai karena berhubungan dengan persoalan isi kepala dan perut. Di satu sisi aku punya prinsip yang tidak bisa kuganggu gugat namun di sisi lain aku pun butuh sedikit penghasilan untuk bertahan agar tetap bernafas di perantauan. 

Namun alasan yang sangat klise jika aku mendahulukan alasan perut karena sering kali aku berteriak bahwa masalah perut adalah urusan Allah sepanjang kita selalu mencari. Maka dari itu aku mencari waktu yang pas untuk memenangkan kepalaku daripada perutku. Aku adalah determinan dari pertarungan kepalaku dan perutku dan harus kuingat adalah perut hanyalah persoalan duniawi sedangkan kepala mempertaruhkan esensi hidupku.

Aku tahu itu dan aku sadar itu bahwa aku harus memenangkan kepentingan kepalaku namun aku juga tidak akan pergi begitu saja meninggalkan komitmen yang telah aku ambil di tempat yang saat ini mengkondisikan aku harus menguras begitu banyak tenaga bahkan pikiran hingga kadangkala aku harus melakukan hal yang tidak kusepakati entah itu dengan cara yang sangat jijik. aku benar-benar sadar bahwa hal tersebut keliru dan akan aku tinggalkan ketika beberapa tugasku telah rampung disini.

July 28, 2013

Tak Lagi

tak lagi punya katakata untuk
tak lagi menulis puisi romantis untuk
semua sirna
mengepul menggulung pasir di pantai
kemudian diterbangkan angin dan lenyap dalam balutan awan hitam

itu engkau
yang setia menghitung butiran tetes hujan
menadahkan tanganmu
lalu kau aliri sungaimu

tak sampai di situ
engkau berada diujung malam yang mulai dimakan fajar
dengan setiamu
tetap mematung
tanpa peduli setiap celaan malam yang mengganggumu

kemudian lagi
engkau tibatiba saja di senja yang basah
entah apa yang ada dipikiranmu
namun senja lebih berarti segalanya darimu
tak ayal, senja itu kemudian membunuhmu

saat semua berlalu
gunung menjadi peraduanmu
menggapai setiap keindahan alam yang menyatu
sampai akhirnya
semua menyuruhmu pergi malam ini
pergi dan tidur dalam dekapan sang perindu malam

June 27, 2013

Subuh

subuh adalah dia
dengan kabut malumalu yang menutupi
meleleh setiap embun dikipasi angin semilir
dingin menusuk malam yang sesaat lagi beranjak
karena subuh adalah dia
maka dia menghangatkan
menyelimuti setiap jiwa yang terlelap
dalam bunga mimpi yang hilang sesaat tersadar
kadang sepi namun bukan merana
karena itu hanyalah permainan yang dipertontonkan dalam dunia sinetron
tak nyata
subuh ini bukan dia
karena lain daripada subuh yang kemarin
mencekam bahkan dengan sadisnya membunuh
subuh ini telah berubah
menjadi warna kelam yang menyeramkan

June 25, 2013

Ust. H

Menyerahkan diri kepadaNya: 
1. Datang menemuiNya
2. Menghadapkan wajah diri kepadaNya. 
3. Menyerahkan satu per satu ... 

Ilmu yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada ilmu.

Gelar yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada gelar.

Posisi, pangkat, jabatan, pekerjaan yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada punya keempatnya.

Keluarga, kerabat, sahabat, teman yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya seorang diri.

Masa lalu yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tak punya lagi masa lalu untuk disesali.

Angan, cita, harapan, masa depan yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada punya masa depan untuk saya khawatirkan.

Segenap perasaan yang berkecamuk pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada perasaan.

Raga yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada raga.

Jiwa yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada jiwa

Kesadaran yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada sadar

Diri saya yang ada pada diri saya serahkan kepadaMu. Sekarang saya tiada...

4. Sekarang saya telah tiada, hilang, diam, tenang, hening, kosong..

Kepala dan Perut

" Kepala
      Perut
          Hidup"

Entah apa yang sedang berjalan di sebuah panggung dunia saat masa ini dimana aku mengukir setiap kata yang aku goreskan dengan tinta-tinta keseharianku. Tiga kata diatas menggambarkan betapa hidup harus dijalani dengan dua kata sebelumnya. saat aku masih berstatus mahasiswa, kepala yang mendominasi kehidupanku, apa yang diyakini kepalaku harus aku jalankan tanpa ada kompromi sedikitpun bahkan terkesan hidup ini harus sejalan dengan setiap gambaran dunia yang melekat di kepalaku apapun alasannya. entah itu harus melalui tantangan yang berat ataupun dengan cara apapun. Namun ada satu hal yang aku dapatkan ketika mengedepankan apa yang ada di kepalaku adalah kebebasan diri.

Kata kedua adalah perut. setelah menyelesaikan kuliah dan mulai menata hidup di kehidupan yang sebenarnya dan bergabung dengan masyarakat, hidupku mulai terkompromikan dengan masalah perut, tak dapat dipungkiri bahwa hidup butuh kekuatan dan salah satu kekuatan fisik berasal dari perut.inilah yang kemudian menjadi alasan untuk mengkompromikan keduanya namun tetap saja ketika hidup difokuskan kepada masalah perut maka permasalahan akan muncul karena seringkali masalah di kehidupan ini berawal dari masalah perut. akupun tidak memungkiri bahwa terkadang aku terjebak dalam masalah perut sehingga apasaja yang diminta oleh perut aku lakukan meskipun bertentangan dengan apa yang dianut oleh kepalaku. inilah tantangan sesungguhnya bagaimana menyelaraskan keyakinan kepala dan keinginan perut.

Maka hidup tetap berjalan, kepala dan perut akan tetap mengikut yang inheren dalam kehidupan ini. memenangkan keyakinan perut dengan mengabaikan kebutuhan perut adalah tidak baik sedangkan mengikuti keinginan perut yang melanggar apa yang diyakini kepala adalah jalan yang salah. hidup adalah keseimbangan dan bagaimana menyeimbangkan kedua elemen yang selalu mengikut dalam kehidupan kita.

June 19, 2013

Aku dan Jalanku

benarbenar hilang hasratku untuk dunia
entahlah
tapi itu yang terjadi
aku muak dengan pikiranpikiran idealku yang kupercaya
namun lakonku tak jua mengikuti
tak jua sama sekali
aku larut dalam jalan yang berdebu
tetap mengikuti merekamereka itu
meski akupun ikut terlumuri debudebu yang pekat
hingga akhirnya diriku sendiri tak kukenali
hanya bayangbanyang yang menjadi tanda
hanya itu
hanya itu yang tersisa dari diriku
entah sampai kapan
kukan menemukan lagi jalanku
setapak yang mungkin saja melelahkan
namun menyisakan telaga di ujung sana
entahlah
hidup masih seperti saat itu
aku malu berkata
aku malu berpidato
tersungkurlah diriku
meratapi kekalahan dalam diri
tapi akan kupaksakan diriku
berbelok di persimpangan itu
menuju jalan yang benar
jalan dimana Dia menungguku
bertemu denganNYA adalah kerinduanku yang terdalam

Being Honest

Being honest may not get you a lot friends but oyu will get the right ones. honest is one of the key in standing within a right way. now, I'm in a complicated thing. it's all 'bout honest. this fucking ways trap me. I always try to go away from this condition but till now, I'm still here, looking myself in a wrong ways without any power to control it.
it's bigger than me, kill me and push me in a ravine. not enough to avoid that till I'm feeling bad. honestly, I never deal with this unfair thing but this me, I always compromise even wrong.
 whatever that, someday, I'm gonna walk away and find the right one. living my life with my passion. nothing fake more.

June 14, 2013

Every Silence Has a Story

Judul tulisanku kali ini sebenarnya adalah judul dari salah satu novel Zara Zettira yang baru saja aku baca. dalam bahasa indonesia, novel tersebut berjudul cerita dalam keheningan. novel ini dikemas dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. kisah yang menceritakan tentang pengalaman hidup penulis yang dikemas dengan imajinasi yang amat sangat mengesankan, aku bahkan merasakan diriku sebagai tokoh dalam novel tersebut. 
 
Beberapa hari setelah menyelesaikan novel tersebut, sebenarnya aku sangat berhasrat membuat resensinya namun sampai sekarang belum terwujud, tak ada alasan lain kecuali karena memang kemalasanku akhir-akhir ini menulis. hingga siang ini, aku mencoba memaksakan pikiranku untuk menstimulasi tanganku untuk menulis sesuatu, aku khawatir ketika terlalu lama vakum menulis, hasrat menulisku akan menjadi pudar dan terkubur dalam bersama kesibukanku yang tidak ada habisnya.

Meskipun tulisan ini tentang novel namun aku memutuskan tidak membuatnya dalam sebuah resensi namun hanya tentang kesamaan perasaanku yang dialami oleh sang penulis dalam beberapa episode kehidupannya yang dituangkan dalam novel ini. kehidupannya yang amat sangat heterogen membuat penulis selalu berpikir tentang apa saja yang kadang kala tidak terpikir oleh orang lain. bagaimana penulis menafsirkan tentang takdir yang ia ketahui dan tentang apa saja yang tak terlihat.

Sang tokoh mempunyai ayah seorang Islam yang sangat dicintainya dan seorang ibu beragama kristen yang sering berselisih paham dengannya. dia mempunyai adik yang amat sangat dicintai oleh ibunya melebihi dirinya, kemudian terkuak ditengah cerita bahwa ibunya selalu berusaha membencinya karena sang tokoh bersemayam di dalam rahim ibunya  bulan sebelum orang tuanya menikah. inilah alasan ibunya membencinya untuk berusaha menghapus kesalahan masa lalu.

Episode yang paling membuatku kagum adalah ketika beberapa kali penulis meraih keberhasilannya dalam beberapa bidang namun dengan begitu saja meninggalkannya dengan bayaran yang begitu menggiurkan. tawaran iklan yang datang kepadanya dengan bayaran yang amat sangat mahal ditolak mentah-mentah karena merasa tidak membutuhkan bahkan uang yang didapatkan hanyalah untuk didekasikan kepada Ayahnya dan saat ayahnya meninggal, uang tidak lagi begitu berarti. bahkan cintanya yang begitu besar terhadap ayahnya telah membuat semangat hidupnya menguap sejak kematian ayahnya. 
 
Inilah kekuatan cinta yang sungguh amat sangat menakjubkan, saat tak ada lagi cinta dalam diri maka hidup tak lagi berarti bahkan hanya menjadi seonggok jazad yang menunggu waktu ketika cinta telah mati. ini pula yang dirasakan sang penulis saat ayahnya meninggal, hidupnya kehilangan cinta dan dengan kehilangan cinta tersebut membuat semangat hidupnya menjadi pudar bahkan beberapa kali dia berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Di episode terakhir novel tersebut, penulis benar-benar membuatku hanyut dalam seri petualangnya dimana masa kejayaan perusahaan yang dibangunnya, dia memilih untuk pergi, bukan benar-benar pergi namun pergi dengan cara lain. di diam tanpa berbicara kepada seorang pun sampai akhirnya semua orang  menganggapnya gila. namun tidak untuk dirinya, dia diam untuk melatih pendengarannya karena suara lebih bermakna daripada kata-kata. dia mengartikan semua yang ada di sampingnya dengan diamnya.

Mengapa aku kagum dengan novel tersebut, tidak lain karena sang tokoh sangat kuat karakternya dalam mencari hakekat hidup. diam yang merupakan salah satu cara yang dijalani penulis dalam mengartikan hidup ini sering pula aku lakukan. dalam diam, sering muncul ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa. saat diam pula, semua permasalahan akan teratasi ketika kita berusaha untuk diam dan mendengarkan suara dari dalam diri kita. inilah yang sering aku tulisankan sebagai cara untuk berbicara kepada diri sendiri. ketika kita diam, maka kita memberi kesempatan kepada diri untuk berkomunikasi dengan semesta karena sejatinya bahwa semua yang ada disekitar kita masing-masing bersuara dan kadang kala suara mereka mempunyai arti yang lebih dari suara manusia.

belajarlah berdiam diri untuk mengenal diri

June 11, 2013

Tak Inginku

keresahanmu yang nampak di depanku. aku ingin menghapusnya namun tak kuasa
sudahlah,
jikalau memang itu adalah dosa, aku harus mengakui sebagai salahku
itu saja.
ketika suatu saat nanti aku menghadap kepada Tuhanku kemudian ditanya tentang dosaku itu,
aku akan dengan jujur mengakuinya, mengakui bahwa aku benar-benar melakukannya,
dengan yang belum menjadi hakku
jikalau Tuhan menghukumku dengan dosa itu, setidaknya aku telah jujur kepada Tuhanku meskipun bukan sebuah pembenaran untuk mengulangi kesalahan tersebut
bukan pula mengatakan bahwa karena aku manusia maka aku khilaf,
sama sekali bukan.
aku hanya ingin mengatakan kepada Tuhanku bahwa aku melakukannya karena aku tidak mampu menahan diriku.
itu yang kutahu tentang khilafku senja itu.

June 6, 2013

Di Kelokan Maospati

persimpangan maospati siang itu
dia yang mempertemukan
sekaligus memisahkan

di persimpangan maospati siang itu
menjadi tempat persinggahan
di sudut terminal itu

dia datang di persimpangan itu
dengan senyum tipis
bahkan hanya senyum malumalu

Cara Menghilangkan Diri

ketika melihat keberhasilan orang lain, terkadang terbersit dalam diri perasaan iri bahkan dibiarkan akan menjelma menjadi dengki,,
tips menghilangkan iri ala pak kasno...
datangi orang yang mendapatkan rejeki apapun itu yang menimbulkan benih iri dalam hati kemudian beri selamat dan tunjukkan bahwa kita ikut senang akan rejekinya itu

jangan mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya karena kata adalah doa
berkatalah yang baik-baik saja.

rumah pak kasno,
rabu malam
5,6,13
saat hujan mengguyur dengan deras
bersama pak andi rahman

June 2, 2013

Mengeluh itu Kerdil

mengeluh itu kerdil,, tak punya karakter kuat berjuang.
Gibah itu kerdi, tak punya keberanian mengakui kesalahan bahkan ketika menjelek-jelekkan seseorang, tak sadar kita telah menyebar keburukan kita sendiri.
mencoba untuk tidak mengeluh apatahlagi mengumbar kejelekan orang lain.
mengeluh sejatinya mencari alasan akan kelemahan sedangkan menjelek-jelekkan orang lain hanya untuk berusaha untuk menutupi kekurangan kita dan that's not really eficient. nothing going well bout every single way like that


right now, try 2 look into myself. every single things comes from myself, whatever..