June 14, 2013

Every Silence Has a Story

Judul tulisanku kali ini sebenarnya adalah judul dari salah satu novel Zara Zettira yang baru saja aku baca. dalam bahasa indonesia, novel tersebut berjudul cerita dalam keheningan. novel ini dikemas dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. kisah yang menceritakan tentang pengalaman hidup penulis yang dikemas dengan imajinasi yang amat sangat mengesankan, aku bahkan merasakan diriku sebagai tokoh dalam novel tersebut. 
 
Beberapa hari setelah menyelesaikan novel tersebut, sebenarnya aku sangat berhasrat membuat resensinya namun sampai sekarang belum terwujud, tak ada alasan lain kecuali karena memang kemalasanku akhir-akhir ini menulis. hingga siang ini, aku mencoba memaksakan pikiranku untuk menstimulasi tanganku untuk menulis sesuatu, aku khawatir ketika terlalu lama vakum menulis, hasrat menulisku akan menjadi pudar dan terkubur dalam bersama kesibukanku yang tidak ada habisnya.

Meskipun tulisan ini tentang novel namun aku memutuskan tidak membuatnya dalam sebuah resensi namun hanya tentang kesamaan perasaanku yang dialami oleh sang penulis dalam beberapa episode kehidupannya yang dituangkan dalam novel ini. kehidupannya yang amat sangat heterogen membuat penulis selalu berpikir tentang apa saja yang kadang kala tidak terpikir oleh orang lain. bagaimana penulis menafsirkan tentang takdir yang ia ketahui dan tentang apa saja yang tak terlihat.

Sang tokoh mempunyai ayah seorang Islam yang sangat dicintainya dan seorang ibu beragama kristen yang sering berselisih paham dengannya. dia mempunyai adik yang amat sangat dicintai oleh ibunya melebihi dirinya, kemudian terkuak ditengah cerita bahwa ibunya selalu berusaha membencinya karena sang tokoh bersemayam di dalam rahim ibunya  bulan sebelum orang tuanya menikah. inilah alasan ibunya membencinya untuk berusaha menghapus kesalahan masa lalu.

Episode yang paling membuatku kagum adalah ketika beberapa kali penulis meraih keberhasilannya dalam beberapa bidang namun dengan begitu saja meninggalkannya dengan bayaran yang begitu menggiurkan. tawaran iklan yang datang kepadanya dengan bayaran yang amat sangat mahal ditolak mentah-mentah karena merasa tidak membutuhkan bahkan uang yang didapatkan hanyalah untuk didekasikan kepada Ayahnya dan saat ayahnya meninggal, uang tidak lagi begitu berarti. bahkan cintanya yang begitu besar terhadap ayahnya telah membuat semangat hidupnya menguap sejak kematian ayahnya. 
 
Inilah kekuatan cinta yang sungguh amat sangat menakjubkan, saat tak ada lagi cinta dalam diri maka hidup tak lagi berarti bahkan hanya menjadi seonggok jazad yang menunggu waktu ketika cinta telah mati. ini pula yang dirasakan sang penulis saat ayahnya meninggal, hidupnya kehilangan cinta dan dengan kehilangan cinta tersebut membuat semangat hidupnya menjadi pudar bahkan beberapa kali dia berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Di episode terakhir novel tersebut, penulis benar-benar membuatku hanyut dalam seri petualangnya dimana masa kejayaan perusahaan yang dibangunnya, dia memilih untuk pergi, bukan benar-benar pergi namun pergi dengan cara lain. di diam tanpa berbicara kepada seorang pun sampai akhirnya semua orang  menganggapnya gila. namun tidak untuk dirinya, dia diam untuk melatih pendengarannya karena suara lebih bermakna daripada kata-kata. dia mengartikan semua yang ada di sampingnya dengan diamnya.

Mengapa aku kagum dengan novel tersebut, tidak lain karena sang tokoh sangat kuat karakternya dalam mencari hakekat hidup. diam yang merupakan salah satu cara yang dijalani penulis dalam mengartikan hidup ini sering pula aku lakukan. dalam diam, sering muncul ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa. saat diam pula, semua permasalahan akan teratasi ketika kita berusaha untuk diam dan mendengarkan suara dari dalam diri kita. inilah yang sering aku tulisankan sebagai cara untuk berbicara kepada diri sendiri. ketika kita diam, maka kita memberi kesempatan kepada diri untuk berkomunikasi dengan semesta karena sejatinya bahwa semua yang ada disekitar kita masing-masing bersuara dan kadang kala suara mereka mempunyai arti yang lebih dari suara manusia.

belajarlah berdiam diri untuk mengenal diri

No comments: