tak lagi punya katakata untuk
tak lagi menulis puisi romantis untuk
semua sirna
mengepul menggulung pasir di pantai
kemudian diterbangkan angin dan lenyap dalam balutan awan hitam
itu engkau
yang setia menghitung butiran tetes hujan
menadahkan tanganmu
lalu kau aliri sungaimu
tak sampai di situ
engkau berada diujung malam yang mulai dimakan fajar
dengan setiamu
tetap mematung
tanpa peduli setiap celaan malam yang mengganggumu
kemudian lagi
engkau tibatiba saja di senja yang basah
entah apa yang ada dipikiranmu
namun senja lebih berarti segalanya darimu
tak ayal, senja itu kemudian membunuhmu
saat semua berlalu
gunung menjadi peraduanmu
menggapai setiap keindahan alam yang menyatu
sampai akhirnya
semua menyuruhmu pergi malam ini
pergi dan tidur dalam dekapan sang perindu malam
No comments:
Post a Comment