January 7, 2013

Penghujung Tahun di Kota ini




Akhir tahun, 31 desember 2012, saya berkeliling kota pahlawan sendirian. tidak ada tujuan yang pasti namun karena ini hari libur dan saya tidak punya kegiatan sama sekali sehingga memutuskan untuk berkeliling kota ini. Apalagi ada motor temanku yang dititipi ke saya yang memudahkanku memutari kota ini. Tepat pukul 10.00, saya sudah siap berangkat setelah selesai mandi saya menuju ke kosnya waind tempat saya memarkir motor. Memang saya tidak memarkir motor di rumah tempatku tinggal karena kendaraan anak kos sudah penuh. Kukirimi pesan kepada si Waind bahwa saya ingin mengambil motor, waind memintsaya untuk datang sebelum zuhur karena dia juga akan keluar setelah zuhur menonton di TO bersama temannya.

 

Setelah mengambil motor di kosnya waind jln kalidami, saya menancap motor tanpa tujuan yang pasti, saya menyusuri jln karang menjangan, tepat di perempatan lampu merah, saya berbelok kiri menuju arah kampus ITS. Kususuri jalan yang lurus menuju kampus ITS, saya tidak tahu pasti nama jalan tersebut namun kuduga bahwa kompleks di sepanjang jalan tersebut dihuni oleh taipan-taipan kota pahlawan, ini terlihat dari rumah di samping kiri kanan jalan yang mirip istana. Sesaat ketika melewati jalan tersebut, terlintas di pikiranku kompleks perumahan Boulevard di Makassar. Yah, persis dengan kompleks tersebut yang dipenuhi oleh rumah-rumah mewah menjulang tinggi ala arsitektur barat.

Diujung kompleks ini, kujumpai kampus ITS, kampus yang konon katanya salah satu kampus teknologi terbaik di Indonesia. Sesaat kemudian kuamati kampus itu, saya memutuskan untuk tidak masuk ke kompleks kampus dan hanya mengitari kampus ini dari luar. Setelah kampus ini, saya berbelok arah ke kiri menuju jalan mulyosari. Jalan agak sepi sepanjang kota ini, cuti bersama menjelang tahun baru membuat jalanan lengang dari biasanya dan ini memudahkanku untuk melaju kencang atau memperlambat laju motor untuk memandang setiap sudut kota ini. Tepat pukul 11.00 saat berada di Mulyosari, rasa haus mendersaya ditambah lagi panas matahari yang begitu terik, kuputuskan untuk singgah di angkringan sebelah kanan jalan, kupesan segelas es segar untuk melepas dahagsaya, saat ingin makan gorengan, kutanya mas penjual angkringan namun ternyata hari ini tidak menjual gorengan karena bertepatan dengan hari libur sehingga sepi pengunjung. Kunikmati saja segelas es segar yang telah kupesan sambil membaca koran harian surya. Sekitar 20 menit di angkringan tersebut, saya melanjutkan perjalananku mengitari kota ini, saya menuju ke arah pantai kenjeran. Saat tiba di pertigaan jalan, saya bimbang apakah saya berbelok arah saja pulang ke rumah atau masuk ke area pantai kenjeran, setelah berpikir agak lama, saya memutuskan untuk masuk ke kawasan pantai yang jaraknya sekitar 4 km dari jalan raya. Di dalam kawasan pantai, akhirnya saya bisa melihat laut lagi setelah beberapa lamanya tidak melihat laut. Kuingat terakhir saya melihat laut saat di sulawesi selatan ketika mudik lebaran bersama saudarsaya, saya singgah di pinggir pantai perbatasan barru dengan pare-pare.

Di pantai kenjeran sangat ramai dengan pengunjung karena bertepatan dengan hari libur, kuamati setiap pengunjung yang lalu lalang masuk keluar dari kawasan panai. Saya kemudian memarkir motor dan ikut masuk ke pantai, namun saat berada di depan loket pembelian tiket, antrian begitu panjang hingga saya hanya mematung sambil melihat mereka. Saya tidak jadi membeli tiket dan memilih pulang karena tidak ada juga kamera yang kubawa dan saya tidak bisa mengabadikan momen ketika masuk di pantai. Saya menuju tempat parkir dan berbalik arah. Setelah membayar parkir 2.000, saya melaju ke arah kompleks TNI AU dan menuju bilangan pacar keling. Sesekali kuamati setiap sisi kota ini, sesekali pula kututup hidung untuk menghindari polusi yang begitu banyak di kota ini, saat berada di bilangan jalan pacar keling, saya lurus menuju ke arah kompleks Gubeng lewat di samping Grand city melaju ke belakang stasiun Gubeng dan tiba di jalan sumatera tepat di depan hotel sahid. Kulihat mendung pekat menggelayut di langit kota ini, kuarahkan motor ke kompleks gubeng airlangga untuk mencari mesjid mengingat jam sudah menunjukkan pukul 12.00, namun belum ada mesjid kujumpai, hujan deras menghadangku memakssaya untuk berhenti berteduh menunggu hujan reda, beberapa menit saat hujan nampak reda, saya menju arah depan kampus unair, namun saat tepat di pintu gerbang unair kampus B, hujan deras disertai angin kencang lagi-lagi menghadangku dan kembali memakssaya untuk berteduh di ATM mandiri yang terletak persis di samping pintu gerbang kampus. Sesaat kemudian matsaya tertuju ke angkringan si samping ATM, saya membeli nasi bungkus dengan lauk telur dadar karena perutku sudah berteriak minta diisi. Setelah selesai makan, hujan ternyata belum sudi untuk berhenti mengguyur kompleks Gubeng, saya tetap di samping ATM beteduh bersama beberapa pengendara motor yang juga berhenti menunggu hujan reda. Sesekali saya bergeser tempat karena atap yang bocor ditambah lagi dengan angin yang kencang. Beberapa lama kemudain, hujan mulai reda dan saya menuju ke mesjid babussalam yang dekat dari pintu gerbang unair, setelah selelsai shalat, saya istirahat sejenak.

Saya berfikir lagi kemana motor harus kupacu, tiba-tiba saja terlintas pusat grosir ITC,a ku beranjak ke sana, menuju jalan pemuda belok kanan ke jalan walikota mustajab dan lurus ke arah ITC, saat sudah di depan ITC, kulihat papan penunjuk jalan bahwa jika terus akan sampai ke kawasan wisata Sunan Ampel. Saya tidak jadi singgah di ITC dan melaju menuju kompleks wisata Sunan Ampel. Setelah dua kali bertanya ke warga untuk memastikan bahwa arah ke sana sudah benar, akhirnya saya sampai juga di depan pintu gerbangnya, kulihat begitu banyak orang bergerombol datang berwisata di tempat ini, saya memarkir motor di pinggir jalan. Memasuki area kawasan tersebut, saya serasa berada di bulan ramadhan, musik qasidah bertalu-talu, disepanjang jalan setapak menuju mesjid Sunan Ampel, dipadati penjual pakaian gamisdan penjual qurma, sesampai di mesjid, begitu banyak orang yang memadati mesjid, kuteruskan langkahku menuju depan mesjid dan disitulah terleatak makam Sunan Ampel. Saya masuk ke kawasan makam sunan ampel, kugulung celana jeans ku sampai lutut karena gerimis masih turun dan jalanan agak basah, sesampai di depan kuburan, banyak peziarah yang dududk bersila, membaca wirid dan ada yang berdoa dengan sangat khusyuk, para peziarah tersebut bukan hanya orang tua namun juga anak-anak, muda mudi sampai kakek nenek. Saya tidak ikut berdoa hanya berdiri melihat mereka satu persatu, karena saya dipandangi oleh peziarah tersebut, saya lalu keluar dari makam. Di pintu masuk pemakaman, orang antri meminum air yang langsung dari kran, beberapa lama saya mengamati air apa sebenarnya yang sedang mereak minum, mungkin saja air itu dikeramatkan hingga para peziarah rela antri minum air tersebut, saat antrian sudah agak berkurang, saya mengamati air tersebut, saya tidak meminumnya hanya saja mengambil sedikit lalu kupakai cuci muka, tidak ada yang berbeda dari air biasanya, saya tidak meminumnya supaya terhindar dari kepercayaan yang aneh-aneh karena hanya Allah yang menentukan tanpa harus mempercayai hal-hal yang keramat. Tepat pukul 14.30, saya meninggalkan lokasi wisata religi sunan ampel. Sebenarnya saya ingin menunggu waktu ashar dan shalat di mesjid tersebut namun karena hujan dan terlalu banyak orang yang memadati mesjid, maka kuurungkan niatku. 

Saya langsung pulang menjuju bilangan jln kalidami untuk menitip kembali motornya teman di kos waind. sesampai di depan kos, ternyata ibu kos ada di pintu dan waind tidak berada di kosnya. Ada perasaan segan menitip motor namun kuberanikan diri untuk meminta izin kepadanya dan menjelaskan bahwa saya ingin menitip motor untuk beberapa hariternyata ibu kos sangat baik dan hanya mengatakan tidak apa-apa, langsung saja kuparkir motor dan pamit pulang. Kususuri jalan kalidami ke arah rumah, diujung jalan kalidami di pertigaan jln karang menjangan, ada penjual kue yang dari kemarin menggoda selersaya, kubeli 3 buah dan makan berdiri di dekat penjualnya, setelah itu saya memotong jln menuju jln darmawangsa dan masuk ke lorong kertajaya 7 raya dan tiba di rumah. Inilah hariku di penghujung desember di kota pahlawan.


Surabaya, 31 desember 2012

December 27, 2012

Pertemanan

Kawan, Sebentar lagi masa itu kan tiba diantara kita. Dan benar benar takkan lama. Semua kan menjadi serpihan kenangan buat kita berdua. Kawan, Dia masa tak memberikan kita waktu yang lama. Dan bahkan hanya sebulan lamanya. Kebersamaan kita dalam setiap canda yang terberikan. Kawan, Semua kan berubah seperti dulu. Semua seakan tak pernah ada cerita diantara kita, meski masa punya catatan untuk kita

Kawan, Sebelum kita benar benar tak lagi bersua. Saat ruang dan waktu kan menjadi pemisah masa ini
Aku kan menggoreskan semua hal yang pernah kita lewati, tentang canda, cita dan arti hidup. kawan, Kita pernah ada dalam cerita hidup. Kita pernah mencatat kisah itu, walau terkadang bias. Namun seringkali tak tercerabut dalam hati tentang arti sama

Kawan, Jika memang semua orang adalah guru dan mestilah engkau ada salah satu guru dalam kepingan hidupku. Dalam diammu, tawamu dan semua hal yang telah engkau pertunjukkan akan menjadi hikmah buatku. Buat potongan cerita hidupku yang lain di suatu masa. kawan, Dan di sini kisah ini kan berakhir dan desember pengujung tahun ini menjadi saksi bisu perjalanan kita hingga akhirnya januari menjemput. Membawamu ke pulau seberang sana untuk melanjutkan kisah hidupmu yang lainnya

Kawan, Perjalan panjang malam itu telah melelahkan kita. Membelah semua sudut di pulau jawa paling timur. Menuju sebuah kota yang damai hingga akhirnya ragamu lelah menuntut haknya untuk sejenak berhenti karena saat ini, saat tak sehat buatmu

Kawan, Beginilah hidup yang mesti dijalani. Masa menjadi saksi pertemuan kita di kota itu, namun dia pula yang kan menjadi saksi perpisahan di kotamu ini karena masa, tetap kan berjalan mengikuti alurnya menggoreskan serpihan cerita kepada manusia manusia. kawan, Kita laki laki. Katanya harus menantang hidup dengan kepala tegak. katanya punya kekuatan yang lebih untuk berjalan karena bumi ini adalah bumi kita yang kan mengajarkan kita setiap hikmahnya

Saat bersama bercerita dan bercanda masa itu. Masa seakan berlari membawa kita sampai ke titik perpisahan ini namun saat kita tak lagi bersua dalam ruang. Masa seakan enggan berjalan ki titik yang sama kita pijak

Kawan, hingga akhirnya kita harus menjalani hidup dalam jalan kita namun hikmah itu kan menjadi sebuah pelajaran saat itu, saat dalam perjalanan, engkau bercerita tentang arti hidup, tentang bagaimana menjadi baik. Saat itu, saat engkau teringat orang terkasih dan dalam masa ketika hati tergerak ke arah yang salah

Dan ituah engkau, dengan candaan yang khas dan inilah aku dengan membalas candaanmu yang khas yang kemudian berakhirlah canda itu di akhir desember penghujung tahun ini. Dalam masa ini, masa hujan menjembut bumi jawa dan hujan pun kan bercerita kelak tentang aku dan kau dengan canda yang terlontar

Simpan di satu ruang hatimu serpihan cerita usang ini yang suatu saat nanti engkau kan rangkai dari kepingan setiap dari yang tertinggal dan kita kan bercerita ke generasi kita. dalam setiap bentuk kata yang bermakna dan damai dalam hati dengan kita yang selalu berdamai dengan diri.



Malang, 27 desember 2012

Sepanjang Kota Malang

Sepanjang kota malang
Dalam damai sebuah pelukan
Berjanji tuk kembali pulang
Meski hujan kali ini masih menghalangi

Sepanjang kota malang
Kucampakkan semua penat yang menghampiri
Meski harus memburu dalam nafas
Namun takkan berarti itu sia sia

Di penghujung kota malang
Semua kan bercerita dalam syahdu
Mendendang asa yang tertanam dalam sanubari
Walau kadang semua seakan kabur

Menatap setiap sudut kota ini
Merangkai cerita indah dalam kenangan masa lalu
Walau kutahu hati merajut kisah dalam cerita lain
Dan sepanjang kota malang

Sudut langit di ujung kota ini
Membenamkan matahari yang letih dalam perjalanan hari ini
Hingga membentuk siluet dalam cahaya remang
Sampai akhirnya malam menjemputnya dalam genggaman

Seketika terdiam orang orang itu
Jemu dalam gerusan asa yang tak usai
Karena kan membawa ke sudut kematian
Dan penyesalan menjadi tak berarti
dan sepanjang kota malang

Karena sepanjang kota malang
Berderet setiap kaki yang tak mengenal kata lelah
Hingga bocah bocah di gubuk makan malam ini
Meski sesuap, walau seteguk

Oh, nostalgia yang sendu
Mendendang kenangan yang tak bertepi
Di ujung hati yang semakin luka
Hingga damai kota ini menyejukkannya
larut dalam dekapan kota malang

Kembali berjalan ditengah kota ini
Menemukan kepingan hati yang tertinggal
Menjemput asa yang belum terceritakan
Dalam kota ini
Kota malang memungut semua serpihan itu menjadi tiang tiang tak tergapai
buatku,
bahkan buat semua yang tak terjelaskan
dan kuakhiri cerita di sudut kota ini

Malang, 27 desember 2012

December 26, 2012

Cerita lain di Malang

Dalam damai menjemputku. Hening saat malam mulai menua. Barisan mobil itu bergerak perlahan. Sampai akhirnya hujan menyambutku di kota ini. Kota Malang dalam bisu bercerita, tentang apa yang kubaca darinya di buku buku itu. Deretan penjual buah memanggil pembelinya. Dalam asa tertanam pengorbanan

Orangorang itu diam seribu bahasa. Bisu menikmati setiap detik yang berlalu. Dan wajah yang bercerita tentang sebuah kisah itu. Senyum dalam bahagia yang paripurna. Kota Malang. Deretan ceritamu akan kusimpan dengan rapi. Kugoreskan dalam tinta emasku untuk kukenang masa tuaku. Saat engkau telah menjadi bagian cerita hidupku. Hingga akhirnya kubelajar dari setiap sudut dirimu

Di masa nanti ku jauh. Di masa ketika tak ada lagi harapanharapan itu. Kenangan akan menjadi sebuah cerita diri. Karena itu, tetaplah dalam damai, tetraplah dalam asri. Saat tingkah pongah manusia mengusikmu. Masa dimana manusia tak bersahabat denganmu. Saat itu kotamu kan kabur dalam absurditas yang hanya kan menjadi tumpuan sesaat manusiamanusia itu.

Berhenti sejenak di jantung kotamu. Melepas penat yang sekian lama menggerogoti. Bercengkerama dengan damainya kotamu. Sebelum kuterbangun dan larut kembali dalam duniaku

Malang in stories, 26/12/2012

Kota Malang

Setelah menunggu tiga hari untuk mengabadikan perjalananku ke Malang, akhirnya malam ini bisa juga bercuap-cuap lagi dalam cerita tulisan hanya untuk sekedar mengisi blogku yang sudah lama memintaku untuk mengisinya. Perjalanan yang panjang setelah sebulan berkutat di tempat kerja yang memekakkan kepalaku. Mungkin juga menjadi liburan dan sejenak menjauh dari kepadatan kota surabaya yang bising. Malang menjemput dalam sejuk dengan kota yang damai

Sebenarnya perjalananku ke Malang kali ini adalah yang kedua, setelah beberapa waktu yang lalu aku ikut dengan iparku namun perjalanan saat itu benar-benar tidak mengesankan karena aku berangkat dengan mobilnya kemudian sesampai di Malang, kami hanya berdiam diri di rumah dan hanya sekali keluar. Namun kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang berarti. Banyak alasan yang kemudian menjadikan pengalamanku ini sangat mengesankan, dan kali pertama aku keluar dari kota surabaya setelah sebulan larut dalam pekerjaan, aku juga berangkat menumpang bis antar kota tepat pukul 23.00 bersama seorang kawan E. Awalnya saat  keluar dari rumah, aku hanya pamit untuk pergi kerja, namun karena aku harus loading di tempat kerja sampai pukul 22.00, maka kuputuskan untuk mengirimi sms sepupuku bahwa aku tidak sempat pulang dan kemungkinan nginap di kantor atau numpang d kosnya si cepy. 

Saat selesai loading dan tiba di jalan raya kedondong, temanku mengajakku untuk liburan ke Malang berhubung besoknya kami libur bersama selama 4 hari bertepatan dengan perayaan hari Natal. Aku kemudian berpikir beberapa menit untuk mengiyakan ajakannya. Setelah agak lama berpikir, aku memutuskan untuk ikut dan mengirimi ulang sms sepupuku bahwa aku akan ke Malang sekitar empat hari, jawabannya hanya yah. Aku berangkat dengan temanku berboncengan dengan motor suzukinya menuju ke terminal Bungurasih, kami menitipkan motor di terminal bungurasih dan menumpang bis ke Malang mengingat bahwa mengendarai motor ke Malang di tengah malam apatahlagi saat long weekend seperti ini sangat berbahaya. Kami menumpang bis terakhir yang menuju ke Malang. Saat di atas bis, sang kernet mengatakan bahwa ini adalah bis terakhir yang berangkat ke Malang dan bis selanjutnya baru akan bernagkat jam 03.00 dinihari, sebuah keberuntungan bagi kami malam itu.

Di dalam bis, sudah penuh sesak dengan para penumpang, ada yang mendapat tempat duduk dan banyak pula yang hanya berdiri di sepanjang lorong bis. Sebagian penumpang yang mendapat tempat duduk sudah terlelap dalam mimpi namun yang berdiri hanya bisa menguap dan sekali memejam mata kemudian tersadar saat sang sopir bis mengerem tiba-tiba. Kupandangi setiap wajah penumpang saat itu. Sebuah kenikmatan tersendiri bagiku saat berada di tengah orang banyak dengan memandang wajah mereka satu persatu. Tergores setiap cerita dari setiap wajah yang kupandangi. Tempat ku yang berada di lorong paling belakang sambil berdiri memudahkanku menatap setiap penumpang dalam bis. Wajah-wajah penat tersembur di wajah mereka, goresan kisah siang tadi tergambar jelas di diri mereka meski tak kutahu pasti cerita mereka dan hanya berusaha mereka-reka dari guratan lelah wajah mereka. Saat tiba di bilangan daerah pandaan, bis berhenti menampung penumpang lain, tiga penumpang lalu naik dan dua diantaranya adalah bocah yang kira-kira berumur 7 tahun dan seorang perempuan tua yang sudah mulai renta. Saat nenek itu naik bis, kupikir bahwa akan ada seorang yang dengan tulus memberikan tempat duduk kepadanya, namun saat bis kemudian bergerak membelah malam yang gelap menuju malang, tak satupun orang yang duduk  bergeming akan kehadiran nenek itu, mereka tetap terlelap dalam buaian mimpi mereka. Nenek itu tak memperlihatkan wajah memelas untuk meminta tempat duduk, dia tetap berdiri dengan tenang sambil sesekali memejam matanya yang mulai sayu. Tergenggam karung kecil di tangannya. 

Sekitar pukul 01.00, kami tiba di Malang. Aku tak tahu pasti apa nama terminal di malang. Kami sampai di rumah dan langsung istirahat dalam letih.


Besoknya, kami hanya tinggal di rumah karena di Malang sedang hujan deras, perjalanan semalam membuat kami tak punya kekuatan untuk keluar melihat kota malang saat itu. Kami asyik bercengkerama di dalam kamar, bermain dengan pikiran sambil sesekali bercanda dalam damai. E tinggal dengan kedua orang tuanya dan seorang adiknya serta keponakannya. Adiknya masih kuliah di UB sedangkan keponakannya tinggal di rumahnya karena kakak E yang merupakan orang tua keponakannya kerja di Balikpapan beserta isterinya.


Hari kemudian, tepat perayaan Natal, kami mengelilingi kota Malang, tujuan kami yang pertama adalah kampus Universitas Brawijaya. Saat masuk ke kampus tersebut, kepingan cerita lalu saat aku masih kuliah di UH perlahan-lahan kembali menghangat di dalam pikiranku, sesaat kemudian temanku berujar, kamu kok aneh, masa liburan ke kampus. Namun entahlah, aku suka melihat kampus-kampus, setelah puas berkeliling di kampus UniBraw, kami menuju ke kampus UMM. Kampus ini lumayan sangat eksotik, konstruksi bangunannya membuatku terkesan. Aku bahkan beberapa kali meminta untuk di foto di beberapa sudut kampus ini. Ada hal yang kemudian mengusikku setelah di UMM, temanku bercerita bahwa meskipun kampus ini adalah kampus Muhammadiyah namun Mahasiswinya tidak diwajibkan memakai jilbab saat masuk kuliah alhasil banyak dari mereka yang berpenampilan sangat modis ketika masuk kampus. Namun aku tak punya banyak komentar tentang itu mengingat aku hanya sekilas melihat kampus ini. 

Kami kemudian melanjutkan perjalan ke kabupaten batu, geografi kota ini hampir mirip dengan Malino di Sulawesi Selatan. Di sepanjang jalan mendaki ke daerah wisata, banyak ditemui kedai-kedai yang menjual sate kelinci namun itu tidaklah terlalu menarik perhatianku bahkan yang aku perhatikan adalah kedai yang kemudian menjual bebas minuman keras, entah karena aku tidak terbiasa atau mungkin saja karena di sulawesi selatan, menjual miras itu masih sangat tabu dilakukan secara terang-terangan maka aku bertanya kepadanya, dia berkata bahwa memang tidak ada larangan di sini menjual minuman keras kecuali saat bulan ramadan. Sesaat terlintas di pikiranku bahwa aku bersyukur tumbuh dan besar di sulawesi selatan yang masih lebih ketat terhadap sesuatu yang jelas sudah diharamkan meskipun kutahu bahwa banyak yang menjual miras namun mereka masih melakukannya dengan diam-diam.

Sepulang dari kabupaten batu sekitar pukul 16.00, kami singgah di stadion gajayana. Stadion ini terletak di tengah kota malang dan berlokasi yang sama dengan salah satu mall sehingga selalu ramai pengunjung. Aku tak menyia-nyiakan waktu untuk mengabadikan stadion ini. Aku berfoto di depannya namun saat akan masuk ke dalam ternyata stadion ini dikunci. Kami pulang kerumah saat senja mulai menampakkan dirinya. Sebenarnya kami masih punya beberapa rencana untuk mengelilingi kota Malang namun waktu jua yang kemudian membuat kami harus menunda sampai besok. Musim hujan yang sedang menghampiri kota malang membuat kami tidak keluar saat malam hari. Rencana kami besok hari adalah ke Blitar mengunjungi museum bung Karno, semakin bergairah hatiku ingin melihat museum yang selama ini hanya bisa kubaca di buku-buku sejarah dan tayangan televisi.

Esok hari, kami berangkat dengan doa, kami membelah kota Malang selatan menuju Blitar, kami singgah di stadion kanjuruhan sebelum ke Blitar, namun keinginan ke Blitar melihat museum Bung Karno harus kutunda lagi, saat akan sampai di stadion Kanjuruhan, hujan deras menghadang perjalanan kami, akhirnya harus singgah di salah satu tempat laundry untuk menunggu reda hujan. Sekitar sejam lamanya, hujan perlahan-lahan reda dan kami melanjutkan perjalan ke stadion kanjuruhan. Kami pun meyempatkan shlat dzuhur di Mushalah stadion. Saat kelar shalat, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Blitar mengingat perjalanan sekitar dua jam lagi sedangkan museum Bung Karno ditutup pukul 15.00 dan jarum jam di hpku sudah menunjukkan pukul 13.00. kami hanya mengunjungi bendungan yang terdekat dan balik arah menuju ke rumah saat akan pulang, temanku getting cold sehingga dia memintaku untuk memboncengnya. Sampailah kami di rumah. Tak ada tulisan tentang museum yang bisa aku buat padahal kemarin aku sudah berniat untuk membuat tulisan khusus tentang Bung Karno dan apa saja nantinya yang akan kulihat di museum bung karno. Mungkin belum waktunya. Malang dalam kisahku kali ini.

malam hari, ternyata sakit flu yang diderita temanku semakin parah, dia menggigil dan meriang sehingga harus makan obat penurun panas. temanku tidur di kamar sebelah karena katanya adem namun itu juga membuat aku tak punya teman bercerita sehingga aku menulis apa saja yang ingin kutulis saat itu. tentang setiap serpihan kisah yang kulalui di malang. paginya, ternyata temanku belum sembuh sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke museum Bung Karno yang sempat tertunda hari kemarin karena hujan deras. aku hanya menemaninya seharian di rumah, mengajaknya bercerita sambil dirinya menggigil kedinginan karena demam yang dideritanya. sore harinya, tepat pukul 14.30, adiknya mengajakku bermain futsal bersama teman kampusnya. kuiyakan ajakannya karena aku juga sudah sangat lama tidak bermain futsal, olahraga yang menjadi favoritku. kami berangkat berbocengan dengan motor mio ke sebuah lapangan futsal di pinggir kota Malang, aku sama sekali tak tahu tempatnya. kami bermain futsal selama 2 jam 30 menit. mengingat aku sudah terlalu lama tidak bermain futsal, alhasil baru 5 menit bermain, semua badanku seakan remuk dan tulang-tulang seakan copot satu persatu. namun aku tetap melanjutkan bermain. disamping lapangan yang kami tempati bermain, ada juga sekelompok orang yang berasal dari papua bermain futsal. tepat pukul 17.00, kami selesai bermain futsal dan langsung pulang ke rumah.

malam hari, demam temanku semakin meninggi, bahkan katanya dia pusing saat berjalan, kutemani dia dan bapaknya ke dokter praktek yang dekat dari komplek tempat tinggalnya. sesaat setelah diperiksa, dokter mengdiagnosa bahwa temanku menderita radang tenggorokan yang parah sehingga menyebabkan demam yang tinggi. ini juga disebabkan karena dia mengalami kelelahan karena setiap hari harus bolak-balik dari malang ke surabaya untuk kerja. dokter memberikannya resep dan kami pulang ke rumah dengan mobil putih kepunyaan bapaknya. sampai di rumah, sejenak kami makan terang bulan yang dibeli oleh bapaknya disamping tempat kediaman dokter praktek yang tadi, kemudian dia istirahat dan aku pun shalat isya di musala rumahnya kemudian masuk kamar menulis kisah ini ditemani secangkir white koffea yang hangat. 

Inilah ceritaku di malang selama empat hari dan sekaligus merupakan perpisahanku dengannya karena dia sudah memutuskan resign dari tempat kami bekerja sebab dia diterima di salah satu perusahaan di palangkaraya dan rencananya sebelum tanggal 15 januari 2013, dia akan berangkat ke sana. dalam hening malam ini ditemani  alunan tembang Pas Band sambil mengabadikan kisahku di malang dan esok aku harus kembali ke surabaya untuk kembali larut dalam pekerjaanku. malang dengan potongan kisahku saat ini.


Malang, 26 Desember 2012.
23.03

Selamat

Buatmu Abr yang kan diwisuda besok
Tulisan ini adalah kado wisudamu yang akan berlangsung besok. Aku tak tahu harus memberimu sesuatu, hanya coretan singkat ini. Aku tulis dengan tergesa-gesa karena numpang pinjam laptop teman, namun tetap kuluangkan waktuku untuk memberimu kado sebuah tulisan yang entah apa pesannya karena itulah kebiasaanku saat kalian berdua dengan the youngest brother, Asr merayakan momen-momen kalian atau bahkan ada sesuatu yang ingin kusampaikan maka terkadang aku menulisnya dan mengupload kemudian mengirimi kalian coretanku yang asal-asalan. Salah satu alasan juga kenapa aku hanya mampu menulis sebagai kado wisudamu adalah aku tak punya apa-apa untuk kuhadiahi kepadamu. Hanya inilah yang kemudian menjadi apresiasiku terhadap keberhasilanmu meraih sarjanamu.

Untuk sekedar kau baca
Kutahu malam ini engkau sedang berbahagia, alasan yang membuatmu bahagia adalah kau telah menyelesaikan studimu di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mungkin ini adalah salah satu momen paling berharga dalam hidupmu karena kau mampu membuktikan kepada orang tua bahwa kau punya tanggung jawab sebagai Mahasiswa untuk kemudian menyelesaikan kuliahmu. Kau mampu memberikan sesuatu yang bukan hanya melalui janji namun bukti bahwa engkau layak dipercaya. Kuyakin bahwa pembuktianmu menyelesaikan kuliahmu sudah sedikit mengobati perjuangan keras orang tua untuk membiayai sekolahmu meskipun yang harus kau ingat bahwa ini baru awal dari perjuanganmu yang sesungguhnya. Sama sekali ini bukan akhir karena setelah menjadi sarjana, tanggung jawab yang sangat besar telah menunggumu dan bukan untuk orang tua atau siapapun namun tanggung jawab buat dirimu sendiri sebagai seorang manusia. Dunia kampus hanyalah sebuah ruang kecil yang nantinya akan menjadi kenanganmu saat benar-benar engkau telah terjun ke sebuah arena kehidupan yang sesungguhnya. Teori-teori yang telah banyak engkau jumpai di kampus akan teruji nantinya dan yang harus engkau perkuat adalah mentalitasmu.

Hanya pengingat saat waktu luangmu
Rasa yang sama malam ini telah aku rasakan dua tahun lalu, tepat 2 tahun lalu saat aku juga berhasil menyelesaikan kuliahku dan menjadi seorang sarjana. Saat itu aku bahagia, mampu memberikan yang diharapkan kepada orang tua namun saat itu aku tidak bijak dalam menyikapi semua hal yang akan menjumpaiku sesaat setelah menjadi sarjana. Aku masih diliputi teori-teori yang mengekangku, teori yang terlalu banyak menghalangiku dan hanya mengantarkanku untuk menjadi seorang pemimpi, mentalitasku saat itu benar-benar anjlok dan seakan tidak siap dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi dalam hidupku. Semua kuanggap biasa-biasa saja hingga akhirnya akulah yang kemudian harus dirubah oleh masa. “ketika engkau tidak mau berubah maka waktulah yang kan merubahmu”. Sejatinya adalah yang terjadi dalam setiap episode hidup kita adalah sebuah perubahan, maka sebelum engkau terpaksa harus berubah karena waktu maka jauh-jauh sebelumnya berubahlah menjadi individu yang lebih baik lagi, menjadi manusia yang punya impian, manusia yang punya prinsip sehingga tidak diombang-ambing oleh siapapun dan apapun, manusia yang senantiasa bekerja keras, manusia yang selalu mau menundukkan kepalanya untuk belajar dari kehidupan. Jangan pernah menganggap bahwa menjadi sarjana berarti engkau lebih dari yang lain, saat engkau berperasaan seperti itu maka sebenarnya engkau sedang menuju degradasi diri. Ini adalah sms dari seorang temaku yang kurasa perlu juga untuk engkau ketahui “ bukan ilmu sejati jika buatmu merasa lebih tinggi, bukan pemahaman hakiki jika buatmu enggan belajar lagi. Tingginya cita sempitkan waktu santaimu, dalamnya ilmu luaskan jalan baktimu, tabiat ilmu berlelah-lelah karena ia jalan tuk naik ke ketinggian.jagalah ilmu dengan amal, jagalah amal dengan ikhlas, jagalah ikhlas dengan istiqomah, jagalahistiqomah dengan ihsan. Jangan malu katakan “aku tak tahu” dengan begitu Allah yang kan jadi gurumu. Sejatinya bahwa ini merupakan pengalamanku setelah sarjana dan maaf karena seakan terkesan curhat tentang diriku namun aku berdoa kepada Allah semoga nasibmu setelah selesai tidak sama denganku.

Hanya untuk kenanganmu
Kutahu engkau punya cara sendiri, kutahu engkau telah banyak pemahaman dan bukan aku merasa lebih tahu darimu sehingga menulis coretan ini yang seakan-akan menasehatimu namun hanya berharap bahwa ada hikmah yang engkau petik dari pengalamanku. Ini bukan lagi tentang orang lain, hidupmu dimulai dari sini. Engaku akan terlepas dari tanggung jawab orang tua, aku pikir bahwa waktunya engkau menjalani hidupmu sendiri. Sebuah kehidupan yang penuh tantangan telah menunggumu dengan berbagai ancaman yang akan engkau lewati. Waktunya engkau menunjukkan kepada dunia bahwa inilah dirimu sendiri tanpa bergantung kepada orang tua.

Berlarilah dan jalani hidupmu sesuai jalurnya
Saatnya engkau berlari, jangan pernah engkau merasa penat, sekali-kali berhentilah saat engkau letih namun sekali-kali hanya untuk memulihkan tenagamu. Berlarilah karena saat engkau berhenti maka masa yang kan membawamu berlari dan ketika waktu yang memaksamu berlari maka engkau takkan mampu memilih jalanmu sendiri, maka berlarilah sebelum hal itu terjadi kepadamu dan pilihlah jalurmu sendiri dan jadikan Allah sebagai alasan semua hal yang engkau akan lakukan.

Jangan terpaku masa lalumu
Cerita hidupmu di kampus telah berlalu, jangan terpaku terhadapnya, biarkan cerita itu tertutup oleh lembaran baru kehidupanmu, jangan terlalu lama terpaku melihat dan mengenang lembaran itu, biarkan dia tersimpan rapi dan jadikan cerita buat generasimu yang akan datang. Aku pernah membaca statusmu di facebook bahwa orang yan paling berkuasa adalah orang yang menguasai dirinya sendiri. aku sangat kagum pada kalimat yang engkau tulis dan semoga saja lahir dari sebuah proses kontemplasi yang murni analisamu namun apresiasiku yang setinggi-tingginya ketika engkau mencoba untuk menjadikan itu sebuah kenyataan dalam hidupmu. Tahukah engkau bahwa semua hal yang membuat manusia gagal menjadi manusia terdapat dalam dirinya sendiri, betapa banyak orang yang menyalahkan orang lain padahal kesalahan ada di dalam dirinya.

Renungkanlah ini
Hidupmu selalu berjalan, tetapkan tujuanmu menuju Allah, jadikan DIA sebagai tujuan hidup namun bukan berarti engkau mengabaikan duniamu. Belajarlah untuk menjadi manusia sesungguhnya, belajarlah untuk menunduk dalam setiap hal, belajarlah dari semua hal yang engkau akan jumpai. Tersenyumlah kepada dunia. Dan semua yang tepenting dari apa yang telah aku tulis adalah tetaplah Bersyukur dan Bersabar dalam semua kondisi hidupmu. Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur. Namun jadikan dua sikap tersebut inheren dalam dirimu karena saat engkau mampu melakukannya maka engkau telah menjadi seorang manusia, hamba yang menghambakan dirinya bahkan memfanakan dirinya dari semua yang melekat dari dirimu. Semoga itu terjadi kepada kita semua. Amin.
Selamat menjadi Abr S,Pd.
Selamat menikmati momen bahagiamu
Semoga ilmu yang engkau pelajari bermanfaat
Semoga menjadi manusia yang sesungguhnya
And welcome to the real life



SELAMAT MENJADI SARJANA

Berpeluh dalam usaha
Tak lelah dalam setiap doadoa
Bahkan dalam diam berpikir
Tentang sebuah tanggung jawab di pundak
            Kadang tertawa, senyum namun seringkali menangis
Terbayang akan dua insan yang banting tulang
Hanya untuk dirimu
Dalam segenggam cita yang menggantung di kepalamu
Masa itu dalam derita
Masa itu dalam pengorbanan
Saat mulut tak berhenti mendoa
Hingga akhirnya membuncah dalam momen ini
            Sawah, ladang tak seberapa
            Lelaki itu pergi subuh pulang malam
            Hasil yang minim untuk biaya
            Namun tak ada keluhan yang keluar
Adonan kue setiap pasar
Perempuan yang mulai beranjak tua itu tak henti
Bergerak dan berjalan ia menjinjing nampan kue
Harapan laris untuk biaya
            Bahkan tak sampai di situ
            Saat malam menjemput dengan dingin
            Dua sosok manusia itu tersungkur dalam sujud
Mulut mendoa demi dirimu
Mendung dalam sepi mengiringi
Mendamba asa dalam kesabaran
Meraih setiap titik sinar yang nampak
Hingga masa membawa hasil
            Berbalut dalam tangis
            Setiap tetesnya adalah doa
            Dan gerak menjadi usaha
            Mengiringi alunan waktu yang berjalan damai
Namun akhirnya terjawab semua
Dalam kebahagiaan yang tertanam
Nada bahagia telah tiba
Berhentilah sejenak dalam diam dan heningmu
Bergembiralah sejenak dengan apa yang engkau raih hari ini
Lepaskanlah semua beban pikiranmu yang menjerat
Sebelum kemudian menyusun rencana selanjutnya
`           hari ini engkau wisuda
            Perjuanganmu 4 tahun terbayarkan
            Allah telah menjawab setiap butiran doa dan usahamu
Dalam damai, hening dan bisu, berikan cinta kasihmu kepada dua sosok yang kutulis di baris atas
Dan mereka datang dengan doa
Mendambamu baik demi dirimu
Karena hati telah menjawab
Bahagiamu adalah bahagia mereka
                                                            Malang, 26 Desember 2012
           



December 24, 2012

Greenpeacers


Bertemu, entah kebetulan atau cerita yang harus terjalani
bercanda, saat kebersamaan terasa begitu singkat dalam setiap langkah yang dijalani
bercerita, tentang mimpi mimpi yang akan diraih dimasa depan dengan menggenggam sejuta asa yang menggairahkan

senyum, saat semua bersama bercengkerama dengan tulus tanpa beban. saat semua terjeak dalam masa, bertemu kemudian melangkah bersama di sebuah tempat. dan mungkin saja kebersamaan akan berlangsung singkat. namun itu bukan soal waktu karena setiap canda telah terlontar, meski sering kabur
tak dinanya,,

semua akan saling merindu di masa saat ini berlalu. karena Greenpeace telah mempertemukan kita dalam waktu yang lalu

Malang, 24 Desember 2012

December 13, 2012

Rasa Itu

Kuingat dengan jelas kita bertemu pertama kali saat di warung makan ibu Sar di samping kantor, saat itu mulutmu larut dalam lezatnya makanan-makanan yang kau masukkan lalu kau kunyah, tak sedikitpun kau bergeming atas kehadiranku disampingmu, sekali-kali engkau membalas sms yang masuk di hpmu yang berwarna pink, namun karena kau tidak memperhatikan kehadiranku maka aku kemudian memandangmu berkali-kali sepuasku. Entah kenapa aku sangat berkesan terhadapmu saat pertama kali aku memandangmu, perawakanmu yang mungil, matamu yang indah dengan alismu yang lentik dan jari-jemarimu yang sangat lembut. Itulah kali pertama aku melihatmu di kota pahlawan ini.

Kuyakin saat itu kau tak menyadari keberadaanku, kuyakin pula kau tak menghiraukanku , namun peduli apa aku, yang terpenting bagiku adalah aku bisa memandangmu saat itu sepuasku, engkau nampaknya sangat akrab dengan ibu Sar pemilik warung itu karena sekali-kali kau bercanda setelah menghabiskan makananmu. Kemudian kau menikmati secangkir es teh. Engkau kemudian beranjak meninggalkan warung itu dan tak sekalipun bergeming atas kehadiranku yang juga sedang makan di sampingmu, mungkin saja aku terlalu berharap. Setelah engkau beranjak pergi, kutanya beberapa pertanyaan tentang dirimu kepada ibu sar, ternyata engkau bekerja di kantor LSM yang sama denganku namun kau sudah setahun lebih bekerja di kantor ini sedangkan aku baru sebulan bekerja di kantor ini setelah pindah dari kota Daeng. Itulah kali pertama aku melihatmu, saat semua terasa sangat berkesan, aku pun bermaksud untuk berkenalan denganmu suatu saat nanti, wanita berwajah manis dengan senyum yang selalu merekah, sikap riang terhadap semua bahkan terhadap orang yang baru kau kenal sekalipun.

Malam ini adalah malam yang terasa menyiksa bagiku, malam yang terasa sangat panjang, tadi pagi kudengar kabar darimu, kabar yang sangat menyesakkan bagiku namun pastinya sangat menyenangkan bagimu, kabar yang seakan meremukkan semua sendi tulang-tulangku, bahkan kabar yang mungkin saja lebih dahsyat dari petir yang menyambar. Malam ini adalah malam diamana keluargamu akan menerima pinangan dari keluarga seorang lelaki berkedudukan tinggi, kuyakin malam ini engkau sedang dirias bagai bidadari dan yang pastinya kau sedang mengurung diri dalam kamarmu sambil merangkai asa masa depan keluarga bahagia yang sebentar lagi akan engkau lalui. 

Malam ini kedua keluarga kalian akan menentukan jadwal pernikahanmu. Mungkin saja momen ini telah engkau tunggu selama ini bahkan mungkin saja tidak terlintas sedikitpun rasa dalam hatimu untuk memikirkan perasaanku saat ini, perasaan yang telah kau  cabik-cabik dengan kebahagianmu dengan pria lain, pria yang lebih mapan dariku namun peduli apa aku dengan semua itu, yang kutahu engkau telah menghancurkan asa yang telah kurangkai untuk memilikimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau remukan asa itu kedalam jurang hingga aku tak bisa lagi memungutnya kembali. Bagiku malam ini adalah malam penyiksaan batin yang teramat sangat, malam yang menjemukan hingga aku harus takluk dalam dinginnya malam ini kemudian berusaha berdamai dengan diri meskipun kutahu itu amat sangat slit.



Setelah pertemuan kita di warung bu Sar, aku baru tahu bahwa kita berbeda divisi di kantor yang sama. Ruangan tempatmu bekerja berada di sudut namun untungnya ketika harus ke toilet, ruanganmu akan dilewati sehingga inilah yang menjadi kebiasaanku setelah tahu akan hal itu, meskipun aku tidak sedang punya hajat ke toilet, aku tetap ke sana hanya sekekdar cuci muka dan yang terpenting melewati ruanganmu kemudian melirikmu saat engkau sedang asyik bekerja. Pertama kali aku tahu namamu dari papan nama yang ada diatas meja kerjamu, “Sriwulaninda”, itulah namamu, nama yang sebenarnya tak pernah kuperhatikan namun kau  membuatku harus mengingat nama itu terus menerus. 

Entah mengapa setiap mengingat nama itu, dadaku terasa berdegup kencang. Bayanganmu menari-nari di pikiranku, ketika aku berangkat kerja, yang pertama kali kupikirkan bahwa hari ini aku akan melihat wajahmu lagi, menikmati senyummu yag selalu mengembang dengan gigi-gigimu yang tersusun rapi dan sangat putih berseri. Engkau wanita yang tidak terlalu peduli denagn penampilanmu, terlihat dari caramu berpakaian, rambut diikat rapi kebelang kemudian stelan baju dan celana panjang yang menjadi favoritmu, disaat wanita-wanita sekarang memilih meggunakan rok  mini yang super duper pendek bahakan hampir memperlihatkan sesuatu yang harusnya dtutupi namun engaku sendiri memilih untuk memakai celana panjang yang sering dianggap ketinggalan zaman oleh mereka. Namun penampilanmu yang sederhana semmakin membuatku terpesona dan terpikat terhadapmu. Tak ada guratan sikap angkuh diwajahmu seperti yang lain. Engkau ramah terhadap semua orang tanpa memandang orang itu siapa dan apa jabatannya.

Sepulang kerja kemarin sore, kudapati undangan berwarna ungu, tertera disitu nama Sriwulaninda. Aku terperangah, lemas tak berdaya dan kemudian menjatuhkan diriku dikursi ruang tamu, ternyata sebulan yang lalu saat malam itu engkau dilamar, kalian menetapkan resepsi pernikahan pada minggu pertama bulan desember akhir tahun ini, namun seandainya engkau tahu, semenjak engkau dilamar, aku selalu berdoa didalam setiap sujud-sujudku agar lamaran itu batal, namun Tuhan berkehendak lain, doa yang mencelakakan takkan dikabulkan, perih rasanya ingin membaca undangan itu, harusnya nama laki-laki yang tertera di situ adalah namaku. Kulihat di sampul undanganmu ada foto kalian berdua, kucoba menahan air mataku untuk membaca undanganmu karena aku seorang laki-laki namun tak kuasa aku menahannya, air mataku menetes tepat diatas fotomu. Tega nian engkau mengirimi aku undangan pernikahanmu atau mungkin saja kau segaja ingin melukai hatiku disaat engkau tahu bahwa aku sangat mengharapkanmu sebagai pendamping hidupku. Pantas saja engkau resign dari kantor kita sebulan yang lalu, ketika kutanya alasanmu engkau selalu mengelak dan undangan inilah yang menjadi jawaban atas semua kepura-puraanmu selama ini. Dibalik wajahmu yang teduh menyimpan luka yang engkau alamatkan kepadaku. Durjana nian perbuatanmu terhadapku. Engkau merangkai kebahagiaanmu dari kepingan-kepingan hatiku yag hancur luluh atas semua sikap palsumu selama ini.

Sejak aku sering mondar-mandir ke toilet hanya untuk melihatmu, akhirnya takdir lah yang kemudian mempertemukan kita. saat itu  kantor mengadakan berbagai kunjungan kerja ke luar kota, divisiku dan divisimu ditugaskan untuk menghandle kegiatan tersebut, sebenarnya kita bertiga hanya karyawan yang satu yang menjadi perwakilan kantor sedang cuti nikah, alhasil kita berdua saja yang mengikuti kunjungan kerja tersebut. Sejak kita pertama kali berkenalan ketika akan berangkat keluar kota, engkau memintaku untuk memanggil namamu saja tanpa harus memanggil ibu. Komunikasi kita semakin intens bahkan terkadang aku dan kau sudah sering bercerita tentang pribadi masing-masing. Makan siang selalu kita lalui bersama di kota tujuan kerja kita. Perhatianmu sejak kunjungan kerja semakin membuatku mengagumimu, bahkan ketika kusakit di kota tempat kita ditugaskan, engkaulah yang merawat dan memperhatikanku, hingga tiba waktunya kita menyelesaikan tugas kunjungan kerja di kota sebuah pulau di timur negeri ini. Saat kembali ke kota pahlawan menjalani rutinitas kita di 

kantor ini, hubungan kita semakin erat bahkan semua karyawan mengira engau telah menjadi milikku. Suatu hari di akhir pekan, saat kuajak engkau menikmati indahnya kota pahlwan dengan berkeliling berboncengan naik motorku yang butut, kita singgah di taman bungkul duduk beralaskan tikar hasil pinjaman dari penjual batagor, kita menikmati es dawet dan batagor, disaat momen itulah, aku menyatakan semua perasaanku terhadapmu, perasaan yang sudah sejak lama kupendam sejak kita pertama kali bertemu namun engkau tidak menjawab dengan pasti, hanya senyum yang tersungging dari bibirmu yang membuatku tidak kuasa untk memaksamu menjawab pertanyaanku. Setelah momen itu berlalu, semua kembali seakan normal, pekerjaan kita yang terkadang lembur bersama membuat aku dan kau sering pulang berboncengan dengan motorku yang butut.
Malam ini dalam dinginnya hotel prodeo yang hanya beralaskan tikar tanpa bantal, angin malam bertiup begitu kencang dan aku menggigil bukan karena kedinginan, aku mengingat masa-masa kita berdua dahulu, namun sekarang aku sedang dalam penantian, menunggu eksekusi mati yang tinggal seminggu lagi. Aku tak pernah menyesal akan hal itu. Hukuman gantung yang akan kujalani minggu depan akan mengantarkanku menuju alammu dan kita akan bersama-sama lagi. Vonis yang harus kuterima saat membunuhmu di malam pengantinmu. Malam itu, saat malam pengantinmu, semua orang mempersiapkan hari bahagiamu yang akan digelar esok hari, aku mendatangimu dan berpura-pura ikut merasakan kebahagianmu, engkau kuajak ke taman di depan rumahmu, karena engkau yakin akan sikapku yang seakan ikut bahagia atas pernikahanmu, engkau mengikuti ajakanku. Sebelum kutikam dirimu, kita berdua asyik bercerita tentang masa-masa kita berdua dahulu. Kenangan masa lalu yang kemudian menyeruak kembali kedalam sanubariku membuat hatiku hancur luluh saat kusadari malam ini adalah malam pengantinmu hal tersebut menimbulkan kebencian terhadap cintamu, mungkin saja aku yang salah karena kita tak pernah berikrar menjadi sepasang kekasih namun perhatianmu yang lebih memberiku harapan yang tinggi akan dirimu. 

Kutancapkan pisau malam itu diperutmu tiga kali, bukan karena sebuah kebencian namun lebih karena cintaku yang amat sanagt terhadapmu sehingga aku tidak rela engkau dimiliki oleh siapapun kecuali aku. Engkau langsung roboh bersimbah darah, segera kuserahkan diriku ke polisi malam itu juga. Berbagai umpatan dan caci maki dari orang terdekatmu tak pernah kuperdulikan. Yang kurasakan adalah rasa kemenangan setelah membunuhmu, tak ada seorangpun yang berhasil memilikimu dan kemudian aku akan menysulmu dengan vonis hukuman mati. Aku divonis hukuman gantung setelah menjalani sidang sebulan yang lalu dengan tuduhan pembunuhan berencana dan memang begitulah adanya bahwa aku merencanakan membunuhmu dengan cintaku setelah kutahu engkau akan dimiliki oleh orang lain. Tak pernah terbertik sedikitpun dalam hatiku untuk banding atas vonisku karena memang itulah yang aku harapkan. Namun apa perduli aku dengan semua itu, yang kutahu bahwa sebentar lagi aku akan menyusulmu ke alam yang sekarang engkau diami, kubermimpi semoga yang terlewati disini akan terlupa dialam sana sehingga kita bisa memulai kembali merangkai masa-masa indah berdua tanpa seorang pun yang menghalangi.

Kertajaya-jln raya kedondong, 7 – 12 Desember 2012