December 27, 2012

Sepanjang Kota Malang

Sepanjang kota malang
Dalam damai sebuah pelukan
Berjanji tuk kembali pulang
Meski hujan kali ini masih menghalangi

Sepanjang kota malang
Kucampakkan semua penat yang menghampiri
Meski harus memburu dalam nafas
Namun takkan berarti itu sia sia

Di penghujung kota malang
Semua kan bercerita dalam syahdu
Mendendang asa yang tertanam dalam sanubari
Walau kadang semua seakan kabur

Menatap setiap sudut kota ini
Merangkai cerita indah dalam kenangan masa lalu
Walau kutahu hati merajut kisah dalam cerita lain
Dan sepanjang kota malang

Sudut langit di ujung kota ini
Membenamkan matahari yang letih dalam perjalanan hari ini
Hingga membentuk siluet dalam cahaya remang
Sampai akhirnya malam menjemputnya dalam genggaman

Seketika terdiam orang orang itu
Jemu dalam gerusan asa yang tak usai
Karena kan membawa ke sudut kematian
Dan penyesalan menjadi tak berarti
dan sepanjang kota malang

Karena sepanjang kota malang
Berderet setiap kaki yang tak mengenal kata lelah
Hingga bocah bocah di gubuk makan malam ini
Meski sesuap, walau seteguk

Oh, nostalgia yang sendu
Mendendang kenangan yang tak bertepi
Di ujung hati yang semakin luka
Hingga damai kota ini menyejukkannya
larut dalam dekapan kota malang

Kembali berjalan ditengah kota ini
Menemukan kepingan hati yang tertinggal
Menjemput asa yang belum terceritakan
Dalam kota ini
Kota malang memungut semua serpihan itu menjadi tiang tiang tak tergapai
buatku,
bahkan buat semua yang tak terjelaskan
dan kuakhiri cerita di sudut kota ini

Malang, 27 desember 2012

December 26, 2012

Cerita lain di Malang

Dalam damai menjemputku. Hening saat malam mulai menua. Barisan mobil itu bergerak perlahan. Sampai akhirnya hujan menyambutku di kota ini. Kota Malang dalam bisu bercerita, tentang apa yang kubaca darinya di buku buku itu. Deretan penjual buah memanggil pembelinya. Dalam asa tertanam pengorbanan

Orangorang itu diam seribu bahasa. Bisu menikmati setiap detik yang berlalu. Dan wajah yang bercerita tentang sebuah kisah itu. Senyum dalam bahagia yang paripurna. Kota Malang. Deretan ceritamu akan kusimpan dengan rapi. Kugoreskan dalam tinta emasku untuk kukenang masa tuaku. Saat engkau telah menjadi bagian cerita hidupku. Hingga akhirnya kubelajar dari setiap sudut dirimu

Di masa nanti ku jauh. Di masa ketika tak ada lagi harapanharapan itu. Kenangan akan menjadi sebuah cerita diri. Karena itu, tetaplah dalam damai, tetraplah dalam asri. Saat tingkah pongah manusia mengusikmu. Masa dimana manusia tak bersahabat denganmu. Saat itu kotamu kan kabur dalam absurditas yang hanya kan menjadi tumpuan sesaat manusiamanusia itu.

Berhenti sejenak di jantung kotamu. Melepas penat yang sekian lama menggerogoti. Bercengkerama dengan damainya kotamu. Sebelum kuterbangun dan larut kembali dalam duniaku

Malang in stories, 26/12/2012

Kota Malang

Setelah menunggu tiga hari untuk mengabadikan perjalananku ke Malang, akhirnya malam ini bisa juga bercuap-cuap lagi dalam cerita tulisan hanya untuk sekedar mengisi blogku yang sudah lama memintaku untuk mengisinya. Perjalanan yang panjang setelah sebulan berkutat di tempat kerja yang memekakkan kepalaku. Mungkin juga menjadi liburan dan sejenak menjauh dari kepadatan kota surabaya yang bising. Malang menjemput dalam sejuk dengan kota yang damai

Sebenarnya perjalananku ke Malang kali ini adalah yang kedua, setelah beberapa waktu yang lalu aku ikut dengan iparku namun perjalanan saat itu benar-benar tidak mengesankan karena aku berangkat dengan mobilnya kemudian sesampai di Malang, kami hanya berdiam diri di rumah dan hanya sekali keluar. Namun kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang berarti. Banyak alasan yang kemudian menjadikan pengalamanku ini sangat mengesankan, dan kali pertama aku keluar dari kota surabaya setelah sebulan larut dalam pekerjaan, aku juga berangkat menumpang bis antar kota tepat pukul 23.00 bersama seorang kawan E. Awalnya saat  keluar dari rumah, aku hanya pamit untuk pergi kerja, namun karena aku harus loading di tempat kerja sampai pukul 22.00, maka kuputuskan untuk mengirimi sms sepupuku bahwa aku tidak sempat pulang dan kemungkinan nginap di kantor atau numpang d kosnya si cepy. 

Saat selesai loading dan tiba di jalan raya kedondong, temanku mengajakku untuk liburan ke Malang berhubung besoknya kami libur bersama selama 4 hari bertepatan dengan perayaan hari Natal. Aku kemudian berpikir beberapa menit untuk mengiyakan ajakannya. Setelah agak lama berpikir, aku memutuskan untuk ikut dan mengirimi ulang sms sepupuku bahwa aku akan ke Malang sekitar empat hari, jawabannya hanya yah. Aku berangkat dengan temanku berboncengan dengan motor suzukinya menuju ke terminal Bungurasih, kami menitipkan motor di terminal bungurasih dan menumpang bis ke Malang mengingat bahwa mengendarai motor ke Malang di tengah malam apatahlagi saat long weekend seperti ini sangat berbahaya. Kami menumpang bis terakhir yang menuju ke Malang. Saat di atas bis, sang kernet mengatakan bahwa ini adalah bis terakhir yang berangkat ke Malang dan bis selanjutnya baru akan bernagkat jam 03.00 dinihari, sebuah keberuntungan bagi kami malam itu.

Di dalam bis, sudah penuh sesak dengan para penumpang, ada yang mendapat tempat duduk dan banyak pula yang hanya berdiri di sepanjang lorong bis. Sebagian penumpang yang mendapat tempat duduk sudah terlelap dalam mimpi namun yang berdiri hanya bisa menguap dan sekali memejam mata kemudian tersadar saat sang sopir bis mengerem tiba-tiba. Kupandangi setiap wajah penumpang saat itu. Sebuah kenikmatan tersendiri bagiku saat berada di tengah orang banyak dengan memandang wajah mereka satu persatu. Tergores setiap cerita dari setiap wajah yang kupandangi. Tempat ku yang berada di lorong paling belakang sambil berdiri memudahkanku menatap setiap penumpang dalam bis. Wajah-wajah penat tersembur di wajah mereka, goresan kisah siang tadi tergambar jelas di diri mereka meski tak kutahu pasti cerita mereka dan hanya berusaha mereka-reka dari guratan lelah wajah mereka. Saat tiba di bilangan daerah pandaan, bis berhenti menampung penumpang lain, tiga penumpang lalu naik dan dua diantaranya adalah bocah yang kira-kira berumur 7 tahun dan seorang perempuan tua yang sudah mulai renta. Saat nenek itu naik bis, kupikir bahwa akan ada seorang yang dengan tulus memberikan tempat duduk kepadanya, namun saat bis kemudian bergerak membelah malam yang gelap menuju malang, tak satupun orang yang duduk  bergeming akan kehadiran nenek itu, mereka tetap terlelap dalam buaian mimpi mereka. Nenek itu tak memperlihatkan wajah memelas untuk meminta tempat duduk, dia tetap berdiri dengan tenang sambil sesekali memejam matanya yang mulai sayu. Tergenggam karung kecil di tangannya. 

Sekitar pukul 01.00, kami tiba di Malang. Aku tak tahu pasti apa nama terminal di malang. Kami sampai di rumah dan langsung istirahat dalam letih.


Besoknya, kami hanya tinggal di rumah karena di Malang sedang hujan deras, perjalanan semalam membuat kami tak punya kekuatan untuk keluar melihat kota malang saat itu. Kami asyik bercengkerama di dalam kamar, bermain dengan pikiran sambil sesekali bercanda dalam damai. E tinggal dengan kedua orang tuanya dan seorang adiknya serta keponakannya. Adiknya masih kuliah di UB sedangkan keponakannya tinggal di rumahnya karena kakak E yang merupakan orang tua keponakannya kerja di Balikpapan beserta isterinya.


Hari kemudian, tepat perayaan Natal, kami mengelilingi kota Malang, tujuan kami yang pertama adalah kampus Universitas Brawijaya. Saat masuk ke kampus tersebut, kepingan cerita lalu saat aku masih kuliah di UH perlahan-lahan kembali menghangat di dalam pikiranku, sesaat kemudian temanku berujar, kamu kok aneh, masa liburan ke kampus. Namun entahlah, aku suka melihat kampus-kampus, setelah puas berkeliling di kampus UniBraw, kami menuju ke kampus UMM. Kampus ini lumayan sangat eksotik, konstruksi bangunannya membuatku terkesan. Aku bahkan beberapa kali meminta untuk di foto di beberapa sudut kampus ini. Ada hal yang kemudian mengusikku setelah di UMM, temanku bercerita bahwa meskipun kampus ini adalah kampus Muhammadiyah namun Mahasiswinya tidak diwajibkan memakai jilbab saat masuk kuliah alhasil banyak dari mereka yang berpenampilan sangat modis ketika masuk kampus. Namun aku tak punya banyak komentar tentang itu mengingat aku hanya sekilas melihat kampus ini. 

Kami kemudian melanjutkan perjalan ke kabupaten batu, geografi kota ini hampir mirip dengan Malino di Sulawesi Selatan. Di sepanjang jalan mendaki ke daerah wisata, banyak ditemui kedai-kedai yang menjual sate kelinci namun itu tidaklah terlalu menarik perhatianku bahkan yang aku perhatikan adalah kedai yang kemudian menjual bebas minuman keras, entah karena aku tidak terbiasa atau mungkin saja karena di sulawesi selatan, menjual miras itu masih sangat tabu dilakukan secara terang-terangan maka aku bertanya kepadanya, dia berkata bahwa memang tidak ada larangan di sini menjual minuman keras kecuali saat bulan ramadan. Sesaat terlintas di pikiranku bahwa aku bersyukur tumbuh dan besar di sulawesi selatan yang masih lebih ketat terhadap sesuatu yang jelas sudah diharamkan meskipun kutahu bahwa banyak yang menjual miras namun mereka masih melakukannya dengan diam-diam.

Sepulang dari kabupaten batu sekitar pukul 16.00, kami singgah di stadion gajayana. Stadion ini terletak di tengah kota malang dan berlokasi yang sama dengan salah satu mall sehingga selalu ramai pengunjung. Aku tak menyia-nyiakan waktu untuk mengabadikan stadion ini. Aku berfoto di depannya namun saat akan masuk ke dalam ternyata stadion ini dikunci. Kami pulang kerumah saat senja mulai menampakkan dirinya. Sebenarnya kami masih punya beberapa rencana untuk mengelilingi kota Malang namun waktu jua yang kemudian membuat kami harus menunda sampai besok. Musim hujan yang sedang menghampiri kota malang membuat kami tidak keluar saat malam hari. Rencana kami besok hari adalah ke Blitar mengunjungi museum bung Karno, semakin bergairah hatiku ingin melihat museum yang selama ini hanya bisa kubaca di buku-buku sejarah dan tayangan televisi.

Esok hari, kami berangkat dengan doa, kami membelah kota Malang selatan menuju Blitar, kami singgah di stadion kanjuruhan sebelum ke Blitar, namun keinginan ke Blitar melihat museum Bung Karno harus kutunda lagi, saat akan sampai di stadion Kanjuruhan, hujan deras menghadang perjalanan kami, akhirnya harus singgah di salah satu tempat laundry untuk menunggu reda hujan. Sekitar sejam lamanya, hujan perlahan-lahan reda dan kami melanjutkan perjalan ke stadion kanjuruhan. Kami pun meyempatkan shlat dzuhur di Mushalah stadion. Saat kelar shalat, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Blitar mengingat perjalanan sekitar dua jam lagi sedangkan museum Bung Karno ditutup pukul 15.00 dan jarum jam di hpku sudah menunjukkan pukul 13.00. kami hanya mengunjungi bendungan yang terdekat dan balik arah menuju ke rumah saat akan pulang, temanku getting cold sehingga dia memintaku untuk memboncengnya. Sampailah kami di rumah. Tak ada tulisan tentang museum yang bisa aku buat padahal kemarin aku sudah berniat untuk membuat tulisan khusus tentang Bung Karno dan apa saja nantinya yang akan kulihat di museum bung karno. Mungkin belum waktunya. Malang dalam kisahku kali ini.

malam hari, ternyata sakit flu yang diderita temanku semakin parah, dia menggigil dan meriang sehingga harus makan obat penurun panas. temanku tidur di kamar sebelah karena katanya adem namun itu juga membuat aku tak punya teman bercerita sehingga aku menulis apa saja yang ingin kutulis saat itu. tentang setiap serpihan kisah yang kulalui di malang. paginya, ternyata temanku belum sembuh sehingga kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke museum Bung Karno yang sempat tertunda hari kemarin karena hujan deras. aku hanya menemaninya seharian di rumah, mengajaknya bercerita sambil dirinya menggigil kedinginan karena demam yang dideritanya. sore harinya, tepat pukul 14.30, adiknya mengajakku bermain futsal bersama teman kampusnya. kuiyakan ajakannya karena aku juga sudah sangat lama tidak bermain futsal, olahraga yang menjadi favoritku. kami berangkat berbocengan dengan motor mio ke sebuah lapangan futsal di pinggir kota Malang, aku sama sekali tak tahu tempatnya. kami bermain futsal selama 2 jam 30 menit. mengingat aku sudah terlalu lama tidak bermain futsal, alhasil baru 5 menit bermain, semua badanku seakan remuk dan tulang-tulang seakan copot satu persatu. namun aku tetap melanjutkan bermain. disamping lapangan yang kami tempati bermain, ada juga sekelompok orang yang berasal dari papua bermain futsal. tepat pukul 17.00, kami selesai bermain futsal dan langsung pulang ke rumah.

malam hari, demam temanku semakin meninggi, bahkan katanya dia pusing saat berjalan, kutemani dia dan bapaknya ke dokter praktek yang dekat dari komplek tempat tinggalnya. sesaat setelah diperiksa, dokter mengdiagnosa bahwa temanku menderita radang tenggorokan yang parah sehingga menyebabkan demam yang tinggi. ini juga disebabkan karena dia mengalami kelelahan karena setiap hari harus bolak-balik dari malang ke surabaya untuk kerja. dokter memberikannya resep dan kami pulang ke rumah dengan mobil putih kepunyaan bapaknya. sampai di rumah, sejenak kami makan terang bulan yang dibeli oleh bapaknya disamping tempat kediaman dokter praktek yang tadi, kemudian dia istirahat dan aku pun shalat isya di musala rumahnya kemudian masuk kamar menulis kisah ini ditemani secangkir white koffea yang hangat. 

Inilah ceritaku di malang selama empat hari dan sekaligus merupakan perpisahanku dengannya karena dia sudah memutuskan resign dari tempat kami bekerja sebab dia diterima di salah satu perusahaan di palangkaraya dan rencananya sebelum tanggal 15 januari 2013, dia akan berangkat ke sana. dalam hening malam ini ditemani  alunan tembang Pas Band sambil mengabadikan kisahku di malang dan esok aku harus kembali ke surabaya untuk kembali larut dalam pekerjaanku. malang dengan potongan kisahku saat ini.


Malang, 26 Desember 2012.
23.03

Selamat

Buatmu Abr yang kan diwisuda besok
Tulisan ini adalah kado wisudamu yang akan berlangsung besok. Aku tak tahu harus memberimu sesuatu, hanya coretan singkat ini. Aku tulis dengan tergesa-gesa karena numpang pinjam laptop teman, namun tetap kuluangkan waktuku untuk memberimu kado sebuah tulisan yang entah apa pesannya karena itulah kebiasaanku saat kalian berdua dengan the youngest brother, Asr merayakan momen-momen kalian atau bahkan ada sesuatu yang ingin kusampaikan maka terkadang aku menulisnya dan mengupload kemudian mengirimi kalian coretanku yang asal-asalan. Salah satu alasan juga kenapa aku hanya mampu menulis sebagai kado wisudamu adalah aku tak punya apa-apa untuk kuhadiahi kepadamu. Hanya inilah yang kemudian menjadi apresiasiku terhadap keberhasilanmu meraih sarjanamu.

Untuk sekedar kau baca
Kutahu malam ini engkau sedang berbahagia, alasan yang membuatmu bahagia adalah kau telah menyelesaikan studimu di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mungkin ini adalah salah satu momen paling berharga dalam hidupmu karena kau mampu membuktikan kepada orang tua bahwa kau punya tanggung jawab sebagai Mahasiswa untuk kemudian menyelesaikan kuliahmu. Kau mampu memberikan sesuatu yang bukan hanya melalui janji namun bukti bahwa engkau layak dipercaya. Kuyakin bahwa pembuktianmu menyelesaikan kuliahmu sudah sedikit mengobati perjuangan keras orang tua untuk membiayai sekolahmu meskipun yang harus kau ingat bahwa ini baru awal dari perjuanganmu yang sesungguhnya. Sama sekali ini bukan akhir karena setelah menjadi sarjana, tanggung jawab yang sangat besar telah menunggumu dan bukan untuk orang tua atau siapapun namun tanggung jawab buat dirimu sendiri sebagai seorang manusia. Dunia kampus hanyalah sebuah ruang kecil yang nantinya akan menjadi kenanganmu saat benar-benar engkau telah terjun ke sebuah arena kehidupan yang sesungguhnya. Teori-teori yang telah banyak engkau jumpai di kampus akan teruji nantinya dan yang harus engkau perkuat adalah mentalitasmu.

Hanya pengingat saat waktu luangmu
Rasa yang sama malam ini telah aku rasakan dua tahun lalu, tepat 2 tahun lalu saat aku juga berhasil menyelesaikan kuliahku dan menjadi seorang sarjana. Saat itu aku bahagia, mampu memberikan yang diharapkan kepada orang tua namun saat itu aku tidak bijak dalam menyikapi semua hal yang akan menjumpaiku sesaat setelah menjadi sarjana. Aku masih diliputi teori-teori yang mengekangku, teori yang terlalu banyak menghalangiku dan hanya mengantarkanku untuk menjadi seorang pemimpi, mentalitasku saat itu benar-benar anjlok dan seakan tidak siap dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi dalam hidupku. Semua kuanggap biasa-biasa saja hingga akhirnya akulah yang kemudian harus dirubah oleh masa. “ketika engkau tidak mau berubah maka waktulah yang kan merubahmu”. Sejatinya adalah yang terjadi dalam setiap episode hidup kita adalah sebuah perubahan, maka sebelum engkau terpaksa harus berubah karena waktu maka jauh-jauh sebelumnya berubahlah menjadi individu yang lebih baik lagi, menjadi manusia yang punya impian, manusia yang punya prinsip sehingga tidak diombang-ambing oleh siapapun dan apapun, manusia yang senantiasa bekerja keras, manusia yang selalu mau menundukkan kepalanya untuk belajar dari kehidupan. Jangan pernah menganggap bahwa menjadi sarjana berarti engkau lebih dari yang lain, saat engkau berperasaan seperti itu maka sebenarnya engkau sedang menuju degradasi diri. Ini adalah sms dari seorang temaku yang kurasa perlu juga untuk engkau ketahui “ bukan ilmu sejati jika buatmu merasa lebih tinggi, bukan pemahaman hakiki jika buatmu enggan belajar lagi. Tingginya cita sempitkan waktu santaimu, dalamnya ilmu luaskan jalan baktimu, tabiat ilmu berlelah-lelah karena ia jalan tuk naik ke ketinggian.jagalah ilmu dengan amal, jagalah amal dengan ikhlas, jagalah ikhlas dengan istiqomah, jagalahistiqomah dengan ihsan. Jangan malu katakan “aku tak tahu” dengan begitu Allah yang kan jadi gurumu. Sejatinya bahwa ini merupakan pengalamanku setelah sarjana dan maaf karena seakan terkesan curhat tentang diriku namun aku berdoa kepada Allah semoga nasibmu setelah selesai tidak sama denganku.

Hanya untuk kenanganmu
Kutahu engkau punya cara sendiri, kutahu engkau telah banyak pemahaman dan bukan aku merasa lebih tahu darimu sehingga menulis coretan ini yang seakan-akan menasehatimu namun hanya berharap bahwa ada hikmah yang engkau petik dari pengalamanku. Ini bukan lagi tentang orang lain, hidupmu dimulai dari sini. Engaku akan terlepas dari tanggung jawab orang tua, aku pikir bahwa waktunya engkau menjalani hidupmu sendiri. Sebuah kehidupan yang penuh tantangan telah menunggumu dengan berbagai ancaman yang akan engkau lewati. Waktunya engkau menunjukkan kepada dunia bahwa inilah dirimu sendiri tanpa bergantung kepada orang tua.

Berlarilah dan jalani hidupmu sesuai jalurnya
Saatnya engkau berlari, jangan pernah engkau merasa penat, sekali-kali berhentilah saat engkau letih namun sekali-kali hanya untuk memulihkan tenagamu. Berlarilah karena saat engkau berhenti maka masa yang kan membawamu berlari dan ketika waktu yang memaksamu berlari maka engkau takkan mampu memilih jalanmu sendiri, maka berlarilah sebelum hal itu terjadi kepadamu dan pilihlah jalurmu sendiri dan jadikan Allah sebagai alasan semua hal yang engkau akan lakukan.

Jangan terpaku masa lalumu
Cerita hidupmu di kampus telah berlalu, jangan terpaku terhadapnya, biarkan cerita itu tertutup oleh lembaran baru kehidupanmu, jangan terlalu lama terpaku melihat dan mengenang lembaran itu, biarkan dia tersimpan rapi dan jadikan cerita buat generasimu yang akan datang. Aku pernah membaca statusmu di facebook bahwa orang yan paling berkuasa adalah orang yang menguasai dirinya sendiri. aku sangat kagum pada kalimat yang engkau tulis dan semoga saja lahir dari sebuah proses kontemplasi yang murni analisamu namun apresiasiku yang setinggi-tingginya ketika engkau mencoba untuk menjadikan itu sebuah kenyataan dalam hidupmu. Tahukah engkau bahwa semua hal yang membuat manusia gagal menjadi manusia terdapat dalam dirinya sendiri, betapa banyak orang yang menyalahkan orang lain padahal kesalahan ada di dalam dirinya.

Renungkanlah ini
Hidupmu selalu berjalan, tetapkan tujuanmu menuju Allah, jadikan DIA sebagai tujuan hidup namun bukan berarti engkau mengabaikan duniamu. Belajarlah untuk menjadi manusia sesungguhnya, belajarlah untuk menunduk dalam setiap hal, belajarlah dari semua hal yang engkau akan jumpai. Tersenyumlah kepada dunia. Dan semua yang tepenting dari apa yang telah aku tulis adalah tetaplah Bersyukur dan Bersabar dalam semua kondisi hidupmu. Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur. Namun jadikan dua sikap tersebut inheren dalam dirimu karena saat engkau mampu melakukannya maka engkau telah menjadi seorang manusia, hamba yang menghambakan dirinya bahkan memfanakan dirinya dari semua yang melekat dari dirimu. Semoga itu terjadi kepada kita semua. Amin.
Selamat menjadi Abr S,Pd.
Selamat menikmati momen bahagiamu
Semoga ilmu yang engkau pelajari bermanfaat
Semoga menjadi manusia yang sesungguhnya
And welcome to the real life



SELAMAT MENJADI SARJANA

Berpeluh dalam usaha
Tak lelah dalam setiap doadoa
Bahkan dalam diam berpikir
Tentang sebuah tanggung jawab di pundak
            Kadang tertawa, senyum namun seringkali menangis
Terbayang akan dua insan yang banting tulang
Hanya untuk dirimu
Dalam segenggam cita yang menggantung di kepalamu
Masa itu dalam derita
Masa itu dalam pengorbanan
Saat mulut tak berhenti mendoa
Hingga akhirnya membuncah dalam momen ini
            Sawah, ladang tak seberapa
            Lelaki itu pergi subuh pulang malam
            Hasil yang minim untuk biaya
            Namun tak ada keluhan yang keluar
Adonan kue setiap pasar
Perempuan yang mulai beranjak tua itu tak henti
Bergerak dan berjalan ia menjinjing nampan kue
Harapan laris untuk biaya
            Bahkan tak sampai di situ
            Saat malam menjemput dengan dingin
            Dua sosok manusia itu tersungkur dalam sujud
Mulut mendoa demi dirimu
Mendung dalam sepi mengiringi
Mendamba asa dalam kesabaran
Meraih setiap titik sinar yang nampak
Hingga masa membawa hasil
            Berbalut dalam tangis
            Setiap tetesnya adalah doa
            Dan gerak menjadi usaha
            Mengiringi alunan waktu yang berjalan damai
Namun akhirnya terjawab semua
Dalam kebahagiaan yang tertanam
Nada bahagia telah tiba
Berhentilah sejenak dalam diam dan heningmu
Bergembiralah sejenak dengan apa yang engkau raih hari ini
Lepaskanlah semua beban pikiranmu yang menjerat
Sebelum kemudian menyusun rencana selanjutnya
`           hari ini engkau wisuda
            Perjuanganmu 4 tahun terbayarkan
            Allah telah menjawab setiap butiran doa dan usahamu
Dalam damai, hening dan bisu, berikan cinta kasihmu kepada dua sosok yang kutulis di baris atas
Dan mereka datang dengan doa
Mendambamu baik demi dirimu
Karena hati telah menjawab
Bahagiamu adalah bahagia mereka
                                                            Malang, 26 Desember 2012
           



December 24, 2012

Greenpeacers


Bertemu, entah kebetulan atau cerita yang harus terjalani
bercanda, saat kebersamaan terasa begitu singkat dalam setiap langkah yang dijalani
bercerita, tentang mimpi mimpi yang akan diraih dimasa depan dengan menggenggam sejuta asa yang menggairahkan

senyum, saat semua bersama bercengkerama dengan tulus tanpa beban. saat semua terjeak dalam masa, bertemu kemudian melangkah bersama di sebuah tempat. dan mungkin saja kebersamaan akan berlangsung singkat. namun itu bukan soal waktu karena setiap canda telah terlontar, meski sering kabur
tak dinanya,,

semua akan saling merindu di masa saat ini berlalu. karena Greenpeace telah mempertemukan kita dalam waktu yang lalu

Malang, 24 Desember 2012

December 13, 2012

Rasa Itu

Kuingat dengan jelas kita bertemu pertama kali saat di warung makan ibu Sar di samping kantor, saat itu mulutmu larut dalam lezatnya makanan-makanan yang kau masukkan lalu kau kunyah, tak sedikitpun kau bergeming atas kehadiranku disampingmu, sekali-kali engkau membalas sms yang masuk di hpmu yang berwarna pink, namun karena kau tidak memperhatikan kehadiranku maka aku kemudian memandangmu berkali-kali sepuasku. Entah kenapa aku sangat berkesan terhadapmu saat pertama kali aku memandangmu, perawakanmu yang mungil, matamu yang indah dengan alismu yang lentik dan jari-jemarimu yang sangat lembut. Itulah kali pertama aku melihatmu di kota pahlawan ini.

Kuyakin saat itu kau tak menyadari keberadaanku, kuyakin pula kau tak menghiraukanku , namun peduli apa aku, yang terpenting bagiku adalah aku bisa memandangmu saat itu sepuasku, engkau nampaknya sangat akrab dengan ibu Sar pemilik warung itu karena sekali-kali kau bercanda setelah menghabiskan makananmu. Kemudian kau menikmati secangkir es teh. Engkau kemudian beranjak meninggalkan warung itu dan tak sekalipun bergeming atas kehadiranku yang juga sedang makan di sampingmu, mungkin saja aku terlalu berharap. Setelah engkau beranjak pergi, kutanya beberapa pertanyaan tentang dirimu kepada ibu sar, ternyata engkau bekerja di kantor LSM yang sama denganku namun kau sudah setahun lebih bekerja di kantor ini sedangkan aku baru sebulan bekerja di kantor ini setelah pindah dari kota Daeng. Itulah kali pertama aku melihatmu, saat semua terasa sangat berkesan, aku pun bermaksud untuk berkenalan denganmu suatu saat nanti, wanita berwajah manis dengan senyum yang selalu merekah, sikap riang terhadap semua bahkan terhadap orang yang baru kau kenal sekalipun.

Malam ini adalah malam yang terasa menyiksa bagiku, malam yang terasa sangat panjang, tadi pagi kudengar kabar darimu, kabar yang sangat menyesakkan bagiku namun pastinya sangat menyenangkan bagimu, kabar yang seakan meremukkan semua sendi tulang-tulangku, bahkan kabar yang mungkin saja lebih dahsyat dari petir yang menyambar. Malam ini adalah malam diamana keluargamu akan menerima pinangan dari keluarga seorang lelaki berkedudukan tinggi, kuyakin malam ini engkau sedang dirias bagai bidadari dan yang pastinya kau sedang mengurung diri dalam kamarmu sambil merangkai asa masa depan keluarga bahagia yang sebentar lagi akan engkau lalui. 

Malam ini kedua keluarga kalian akan menentukan jadwal pernikahanmu. Mungkin saja momen ini telah engkau tunggu selama ini bahkan mungkin saja tidak terlintas sedikitpun rasa dalam hatimu untuk memikirkan perasaanku saat ini, perasaan yang telah kau  cabik-cabik dengan kebahagianmu dengan pria lain, pria yang lebih mapan dariku namun peduli apa aku dengan semua itu, yang kutahu engkau telah menghancurkan asa yang telah kurangkai untuk memilikimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau remukan asa itu kedalam jurang hingga aku tak bisa lagi memungutnya kembali. Bagiku malam ini adalah malam penyiksaan batin yang teramat sangat, malam yang menjemukan hingga aku harus takluk dalam dinginnya malam ini kemudian berusaha berdamai dengan diri meskipun kutahu itu amat sangat slit.



Setelah pertemuan kita di warung bu Sar, aku baru tahu bahwa kita berbeda divisi di kantor yang sama. Ruangan tempatmu bekerja berada di sudut namun untungnya ketika harus ke toilet, ruanganmu akan dilewati sehingga inilah yang menjadi kebiasaanku setelah tahu akan hal itu, meskipun aku tidak sedang punya hajat ke toilet, aku tetap ke sana hanya sekekdar cuci muka dan yang terpenting melewati ruanganmu kemudian melirikmu saat engkau sedang asyik bekerja. Pertama kali aku tahu namamu dari papan nama yang ada diatas meja kerjamu, “Sriwulaninda”, itulah namamu, nama yang sebenarnya tak pernah kuperhatikan namun kau  membuatku harus mengingat nama itu terus menerus. 

Entah mengapa setiap mengingat nama itu, dadaku terasa berdegup kencang. Bayanganmu menari-nari di pikiranku, ketika aku berangkat kerja, yang pertama kali kupikirkan bahwa hari ini aku akan melihat wajahmu lagi, menikmati senyummu yag selalu mengembang dengan gigi-gigimu yang tersusun rapi dan sangat putih berseri. Engkau wanita yang tidak terlalu peduli denagn penampilanmu, terlihat dari caramu berpakaian, rambut diikat rapi kebelang kemudian stelan baju dan celana panjang yang menjadi favoritmu, disaat wanita-wanita sekarang memilih meggunakan rok  mini yang super duper pendek bahakan hampir memperlihatkan sesuatu yang harusnya dtutupi namun engaku sendiri memilih untuk memakai celana panjang yang sering dianggap ketinggalan zaman oleh mereka. Namun penampilanmu yang sederhana semmakin membuatku terpesona dan terpikat terhadapmu. Tak ada guratan sikap angkuh diwajahmu seperti yang lain. Engkau ramah terhadap semua orang tanpa memandang orang itu siapa dan apa jabatannya.

Sepulang kerja kemarin sore, kudapati undangan berwarna ungu, tertera disitu nama Sriwulaninda. Aku terperangah, lemas tak berdaya dan kemudian menjatuhkan diriku dikursi ruang tamu, ternyata sebulan yang lalu saat malam itu engkau dilamar, kalian menetapkan resepsi pernikahan pada minggu pertama bulan desember akhir tahun ini, namun seandainya engkau tahu, semenjak engkau dilamar, aku selalu berdoa didalam setiap sujud-sujudku agar lamaran itu batal, namun Tuhan berkehendak lain, doa yang mencelakakan takkan dikabulkan, perih rasanya ingin membaca undangan itu, harusnya nama laki-laki yang tertera di situ adalah namaku. Kulihat di sampul undanganmu ada foto kalian berdua, kucoba menahan air mataku untuk membaca undanganmu karena aku seorang laki-laki namun tak kuasa aku menahannya, air mataku menetes tepat diatas fotomu. Tega nian engkau mengirimi aku undangan pernikahanmu atau mungkin saja kau segaja ingin melukai hatiku disaat engkau tahu bahwa aku sangat mengharapkanmu sebagai pendamping hidupku. Pantas saja engkau resign dari kantor kita sebulan yang lalu, ketika kutanya alasanmu engkau selalu mengelak dan undangan inilah yang menjadi jawaban atas semua kepura-puraanmu selama ini. Dibalik wajahmu yang teduh menyimpan luka yang engkau alamatkan kepadaku. Durjana nian perbuatanmu terhadapku. Engkau merangkai kebahagiaanmu dari kepingan-kepingan hatiku yag hancur luluh atas semua sikap palsumu selama ini.

Sejak aku sering mondar-mandir ke toilet hanya untuk melihatmu, akhirnya takdir lah yang kemudian mempertemukan kita. saat itu  kantor mengadakan berbagai kunjungan kerja ke luar kota, divisiku dan divisimu ditugaskan untuk menghandle kegiatan tersebut, sebenarnya kita bertiga hanya karyawan yang satu yang menjadi perwakilan kantor sedang cuti nikah, alhasil kita berdua saja yang mengikuti kunjungan kerja tersebut. Sejak kita pertama kali berkenalan ketika akan berangkat keluar kota, engkau memintaku untuk memanggil namamu saja tanpa harus memanggil ibu. Komunikasi kita semakin intens bahkan terkadang aku dan kau sudah sering bercerita tentang pribadi masing-masing. Makan siang selalu kita lalui bersama di kota tujuan kerja kita. Perhatianmu sejak kunjungan kerja semakin membuatku mengagumimu, bahkan ketika kusakit di kota tempat kita ditugaskan, engkaulah yang merawat dan memperhatikanku, hingga tiba waktunya kita menyelesaikan tugas kunjungan kerja di kota sebuah pulau di timur negeri ini. Saat kembali ke kota pahlawan menjalani rutinitas kita di 

kantor ini, hubungan kita semakin erat bahkan semua karyawan mengira engau telah menjadi milikku. Suatu hari di akhir pekan, saat kuajak engkau menikmati indahnya kota pahlwan dengan berkeliling berboncengan naik motorku yang butut, kita singgah di taman bungkul duduk beralaskan tikar hasil pinjaman dari penjual batagor, kita menikmati es dawet dan batagor, disaat momen itulah, aku menyatakan semua perasaanku terhadapmu, perasaan yang sudah sejak lama kupendam sejak kita pertama kali bertemu namun engkau tidak menjawab dengan pasti, hanya senyum yang tersungging dari bibirmu yang membuatku tidak kuasa untk memaksamu menjawab pertanyaanku. Setelah momen itu berlalu, semua kembali seakan normal, pekerjaan kita yang terkadang lembur bersama membuat aku dan kau sering pulang berboncengan dengan motorku yang butut.
Malam ini dalam dinginnya hotel prodeo yang hanya beralaskan tikar tanpa bantal, angin malam bertiup begitu kencang dan aku menggigil bukan karena kedinginan, aku mengingat masa-masa kita berdua dahulu, namun sekarang aku sedang dalam penantian, menunggu eksekusi mati yang tinggal seminggu lagi. Aku tak pernah menyesal akan hal itu. Hukuman gantung yang akan kujalani minggu depan akan mengantarkanku menuju alammu dan kita akan bersama-sama lagi. Vonis yang harus kuterima saat membunuhmu di malam pengantinmu. Malam itu, saat malam pengantinmu, semua orang mempersiapkan hari bahagiamu yang akan digelar esok hari, aku mendatangimu dan berpura-pura ikut merasakan kebahagianmu, engkau kuajak ke taman di depan rumahmu, karena engkau yakin akan sikapku yang seakan ikut bahagia atas pernikahanmu, engkau mengikuti ajakanku. Sebelum kutikam dirimu, kita berdua asyik bercerita tentang masa-masa kita berdua dahulu. Kenangan masa lalu yang kemudian menyeruak kembali kedalam sanubariku membuat hatiku hancur luluh saat kusadari malam ini adalah malam pengantinmu hal tersebut menimbulkan kebencian terhadap cintamu, mungkin saja aku yang salah karena kita tak pernah berikrar menjadi sepasang kekasih namun perhatianmu yang lebih memberiku harapan yang tinggi akan dirimu. 

Kutancapkan pisau malam itu diperutmu tiga kali, bukan karena sebuah kebencian namun lebih karena cintaku yang amat sanagt terhadapmu sehingga aku tidak rela engkau dimiliki oleh siapapun kecuali aku. Engkau langsung roboh bersimbah darah, segera kuserahkan diriku ke polisi malam itu juga. Berbagai umpatan dan caci maki dari orang terdekatmu tak pernah kuperdulikan. Yang kurasakan adalah rasa kemenangan setelah membunuhmu, tak ada seorangpun yang berhasil memilikimu dan kemudian aku akan menysulmu dengan vonis hukuman mati. Aku divonis hukuman gantung setelah menjalani sidang sebulan yang lalu dengan tuduhan pembunuhan berencana dan memang begitulah adanya bahwa aku merencanakan membunuhmu dengan cintaku setelah kutahu engkau akan dimiliki oleh orang lain. Tak pernah terbertik sedikitpun dalam hatiku untuk banding atas vonisku karena memang itulah yang aku harapkan. Namun apa perduli aku dengan semua itu, yang kutahu bahwa sebentar lagi aku akan menyusulmu ke alam yang sekarang engkau diami, kubermimpi semoga yang terlewati disini akan terlupa dialam sana sehingga kita bisa memulai kembali merangkai masa-masa indah berdua tanpa seorang pun yang menghalangi.

Kertajaya-jln raya kedondong, 7 – 12 Desember 2012 

December 11, 2012

Ceritaku

Nama saya MJ, konon kabarnya tante saya yang mengusulkan nama itu, saat saya lahir dia kebetulan membaca entah surat kabar atau majalah namun tante saya membaca nama yang sama, seorang Professor di perguruan tinggi IAIN Alauddin Makassar. Saya lahir tanggal 7 september  tepatnya hari senin. Saya adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara, namun adik saya yang bungsu meninggal saat dilahirkan, saat itu ibuku melahirkan anak kembar, kuingat persisnya saat itu waktu ibuku melahirkan subuh hari dibantu seorang tante yang kebetulan sekampung dengan kami.

Nama ayahku adalah Bsr, dia bekerja sebagai Petani, Ayahku pernah bercerita bahwa saat tamat SMA, dia berniat mendaftar sebagai Tentara namun keinginannya ditolak mentah-mentah oleh nenekku karena pada saat itu, kondisi perpolitikan Indonesia tidak menentu sehingga risiko menjadi tentara sangat besar. Ibuku bernama Nurxxx, dia anak bungsu. Ibuku seorang Ibu rumah tangga namun setiap dua kali dalam seminggu tepatnya hari senin dan kamis, Ibuku pergi menjual aneka adonan kue di pasar karena kedua hari tersebut bertepatan dengan hari pasar di kampung kami. Saya sangat menggambarkan kepribadian Ibuku seperti apa dia sesungguhnya karena dia terlampau baik untuk diceritakan dengan kata-kata dan kuyakin bahwa aku takkan bisa menceritakannya dalam baris huruf.

Saya masuk sekolah pertama kalinya di TK Aisyiyah. Saya tidak tahu persis umurku saat itu, yang kuingat saat sekolah di TK adalah saya punya teman yang sangat akrab denganku. Kamis sering kerumahku mencari kerak nasi. Saat itu memang kami sangat doyan dengan kerak nasi. Saat TK, saya juga dikenal tukang berak celana, karena saat itu kami belum mempunyai toilet di rumah maka saya harus ke sungai untuk buang air. Jarak dari rumah ke sungai sekitar 20 meter sehingga alhasil sering ketika sudah kebelet dan belum sampai di sungai mengharuskan saya memberaki celanaku.

Selesai di TK, saya melanjutkan sekolahku di MI, sekolah ini sangat dekat dari rumahku, hanya dipisahkan 3 rumah. Selama masa sekolah di Madarasah, mungkin inilah masa hidupku yang sbebenarnya, masa kecil yang sesungguhnya. Yang kuingat saat itu adalah kujalani hidupku dengan bahagia, bermain sesukaku. Saat masih kecil, saya adalah salah satu bocah yang jago dalam beberapa permainan seperti Gundi, Wayang dan karet gelang, samapai-sampai saya menjadi momok menakutkan bagi teman-temanku ketika bermain. Kumpulan Gundi, Wayang dan karet gelagku sangat banyak. Permainan Layangan juga menajdi favoritku, Cuma saya benar-benar amatir dalam permainan ini, di saat teman-temanku jago membuat layangan, saya bahkan hanya bisa membuat satu layangan yang bisa diterbangkan selebihnya nihil sama sekali, itu yang kuingat. Ada juga permainan senapan dari bambu, nah kalau ini lumayan mudah membuatnya. Kalau olahraga, saya paling senang bermain sepakbola. Sebuah lapangan dekat rumahku menjadi tempat kami bermain sepakbola. Hampir setiap sore saya habiskan bermain bola di lapangan. Dalam setiap harinya, saat saya pulang sekolah, saya ditugaskan untuk mengembali sapi, barulah setelah itu saya ke lapangan bermain bola dan hampir semua teman sebayaku saat itu punya rutinitas yang sama denganku.

Di sekolah, saya selalu masuk ranking 3 besar namun saya menolak disebut pintar dan bahkan tertawa ketika ada temanku yang menyebut demikian pasalnya dalam 1 kelas hanya terdapat 8 siswa. Dulu saat tiba musim mangga, kami sering menyisir setiap pohon mangga yang ada di kebun-kebun, memang di kampung kami, mangga-mangga yang sudah jatuh dari pohonnya diperbolehkan untuk diambil oleh siapa saja.

Setamat dari MI, saya melanjutkan sekolahku di SLTA Negeri yang terletak di kampung sebelah, saya dan teman sekampungku harus  menempuh jarak yang lumayan jauh dengan berjalan kaki. Masa SMP ku termasuk menyenangkan, di masa ini mungkin awal pembentukan karakterku. Dulu saat di Madrasah, saya masih merasa santai namun menginjakkan pendidikan di SMP, saya mulai giat belajar. Di SMP, ternyata saya masih bisa masuk 3 besar di setiap semesternya dan jumlah siswa dalam 1 kelasnya sekitar 50 orang. Di SMP, saya dikenal tidak neko-neko dan sangat pemalu, ketika diejek dengan perempuan, wajah saya berubah drastis seperti kepiting rebus. Saya sangat menikmati masa SMP yang menjadi aktualisasi masa pertumbuhanku.

Saat SMP pula, ketikaa teman-temanku mulai mengenal perilaku-perilaku anak ABG yang mainstream, seiap malam mereka nongkrong di pos ronda dan bernyanyi atau main domino, saya malah bahkan tinggal di rumah dan jarang keluar malam, membaca buku cerita, bukan ujub namun memang saat kelas VI SD, saya sangat gandrung membaca buku-buku cerita bahkan hampir sebagian waktuku kuhabiskan untuk membaca buku cerita hasil pinjaman dari perpustakaan, saat mengembala sapi pun, saya sering membaca buku cerita sambil duduk diatas punggung sapi. Meskipun saya tidak ikut nongkrong dengan teman-temanku pada malam hari tidak lantas membuat mereka menganggapku cupu kaena saya sangat aktif dalam berbagai kegiatan lainnya pada siang harinya terutama latihan sepak bola pada sore hari. 

Masa SMP selama 3 tahun kulalui dengan rutinitas yang hampir sama setiap harinya. Pagi hari saya berangkat ke sekolah, kemudian sekitar pukul 14.00 saya pulang dari sekolah dan langsung mengembala sapi kemudian sekitar pukul 16.30 saya mengandangkan sapiku kemudian bermain sepakbola sampai Maghrib dan malam hari saya habiskan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah

Setamat SMP, saya melanjutkan SMA di kampung yang sama, memang kampung ini adalah ibu kota kecamatan dan satu-satunya kampung yang terdapat SMA di sekitar kecamatan tersebut. Di SMA, kehidupan yang sama kujalani, di sore hari saya semakin giat berlatih sepakbola dan kelas 1 SMA, saya sudah menjadi salah satu pemain tim B di kampungku. Di beberap kecamatan di kabupaten kami memang sering mengadakan liga antar kampung, saya senang seali ketika pertam kali dimasukkan kedalam tim, kuingat saat itu karena timku adalah tim B maka kami dijuluki “Hondo-Hondo”. Saya juga kurang bisa mencari padanan artinya dalam bahasa Indonesia karena sebutan itu adalah jargon asal-asalan di kampung kami. Pertandingan pertamaku waktu itu, kami memakai baju warna orange seperti seragam tim Belanda, namun lengan panjang. Saya lupa nomor punggung yang kukenakan saat itu. Meskipun sebenarnya saya tidak terlalu jago bermain sepakbola namun mungkin karena hanya tim B maka saya menjadi salah satu pemain inti. Pertandingan pertama kami menang 1-0 namun sialnya saya mengalami cedera pada pertandingan itu sehngga pertandingan berikutnya saya tidak bisa dimainkan.

Di masa SMA, saya pernah belajar naik motor, alhasil saya menabrak keponakanku, saat itu saya pergi bersembunyi di kebun Ayahku, sebenarnya keponakanku tidak apa-apa hanya lecet sedikit di jidatnya namun yang menjadi masalah motor yang kupakai belajar adalah motor ayahnya, setelah pulang ke rumah ayahnya tidak marah sama sekali terhadapku namun ayahku yang ternyata malah gusar terhadapku dan marah  besar.

Prestasiku di sekolah hampir tidak pernah berubah, masih seperti waktu di SD dan SMP, namun saat kelas II semester I, saya sempat di skors selama 2 minggu bersama salah seorang temanku, gara-garanya kami tertawa di dalam kelas saat Guru bahasa Indonesia menjelaskan dan dia juga kebetulan adalah wali kelas kami. Sebenarnya kami berdua tertawa bukan tanpa sebab karena saat itu, ibu guru tersebut seperti sedang melucu, saat itu saya harus datang ke rumahnya minta maaf kemudian di bolehkan masuk kelas, alhasil pada pembagian raport saya peringkat 29 dari 36 siswa. Inilah masa kelam dalam catatan raportku yang paling buram sekolahku selama saya sekolah mulai dari MI sampai saat itu. Saya pun dipindahkan dari kelas tersebut karena saat itu, kelas yang kutempati adalah kelas unggulan. Saat semester berikutnya, saya mulai kembali ke track ku yang sbebelumnya. Sejujurnya saya tidak membanggakan sama sekali apa yag kucapai saat itu karena tidak lebih hanya menjadi bebanku. Pelajaran yang paling kusenangi adalah bahasa inggris, meskipun saya sadar tidak bisa berbahasa inggris, namun saya tetap menyenanginya. Sebenarnya kelas I sampai kelas II SMP, bahasa Inggris adalah momok mengerikan bagi saya namun saat memasuki kelas III semester II, guru bahasa inggris kami selalu menjelaskan dalam bahasa inggris dengan dialeknya yang sangat baik dan juga sangat retorik sehingga mulailah saat itu saya menyenangi  bahasa inggris.

Saat kelas III SMA, saya mulai konsentrasi menghadapi ujian akhir namun juga saya tetap ikut liga antar kampung, saat kelas III, saya sudah sering ikut pertandingan  dan sudah menjadi salah satu pemain tim senior. Pertandingan yang paling  kuingat waktu SMA kelas III adalah pertandingan U-18 tahun kebawah. Yang berkesan saat itu adalah saya menjadi kapten tim dan saat itu kami adalah salah satu tim kuat yang diperhitungkan oleh lawan sayangnya pada pertandingan ke empat, kami kalah adu penalti dari tim tuan rumah dan salah satu pemain tuan rumah adalah teman sekolahku yang bersama-saya di skors pada kelas II, namun pada pertandingan it pula saya berhasil mencetak gol meskipun lewat tendangan penalti. Seragam yang kami pakai saat itu adalah seragam tim chelsea dan saya mengenakan nomor punggung 16 karena pada saat itu saya suka pemain chelsea yang bernomor punggung 16 yaitu jhon terry bahkan sampai sekarang, baju saya masih ada dan selalu saya simpan sebagai kenang-kenangan.

Setamat dari SMU, saya ikut menaftar SPMB, pilihan pertamaku saat itu adalah UH dan pendidikan bahasa inggris UNM. Saat keluar pengumuman., namaku tidak terdaftar, praktis saat itu saya tidak mempunyai kegiatan, kemudian saya mencoba mendaftar di angkatan laut namun lagi-lagi gagal saat tes tahap kedua psikotes. Saya saat itu tetap tinggal di makassar kemudian ikut kursus bahasa inggris di benteng rotterdamyang diadakan oleh london village setelah selelsai mengikuti kursus tersebut, saya kemudian ikut meeting club di Al-Markaz. Saat itu, ikut meeting di mks adalah kegiatan rutinku karenan meetingnya 3 kali seminggu dan juga terkadang mengadakan kegiatan-kegiatan lain.

Tahun berikutnya, saya ikut kembali SPMB mengambil jurusan hi dan jurusan bahasa inggris dan akhirnya saya lulus di  jurusan hi, saat itu saya merasa sangat bahagia karena bisa masuk di UH sebagai simbol Universitas terbaik di Indonesia Timur namun pada akhirnya saat menjalani kuliah, saya kemudian merasa biasa-biasa saja kuliah di UH.

Kehidupanku sebagai seorang mahasiswa penuh dinamika, sebelum masuk kuliah, saya memang berniat aktif di organisasi, saat masih mahasiswa baru saya sangat rajin mengikuti perkaderan. Memasuki semester III, saya mulai mengenal dunia kampus, berkenalan dengan teori –teori yang dulunya kuanggap rumit saat itu pula saya mulai ikut-ikutan aksi baik di kampus maupun di kantor-kantor pemerintahan.

Organisasi yang pernah kuikuti selama kulaih adalah himpunan  dan organisasi ini yang paling aktif kuikuti. Saya juga pernah ikut di organisasi LDM yang dekat dari kostku namun hanya bertahan beberapa lama. Saya juga pernah ikut organisasi HMI dan kemudian ikut kajian-kajiannya namun dengan berbagai alasan, saya menarik diri dari organisasi tersebut. menjadi Siswa Orientasi sar juga dalah bagian cerita organisasiku saat kuliah, saya sebenarnya aktif di sar, aktif ikut Binjas namun saat akan mengikuti diklat, saya kekurangan dana dan persiapan yang mebuat saya gagal mengikuti semua prosesi perekrutan anggota sar UH. awal tahun 2009, saya mengikuti perekrutan anggota fmn yang diadakan di kantor walhi. Organisasi ini kuikuti secara aktif selama setahun lebih. Garis politik organisasi ini adalah demnas, organisasi ini skalanya nasional sehingga sering mengadakan pertemuan-pertemuan nasional, namun terlepas dari semua organisasi yag pernah kuikuti dan tanpa mengerdilkan organisai yang pernah kuikuti, kurasa hanya dua yang berperan besar membentuk karakterku sampai sekarang yaitu makes dan himpunan, bahkan saat saya sarjana pun, saya masih sering bertandang ke base camp kedua organisasi tersebut dan masih sering diundang saat mereka mengadakan kegiatan.

Juni 2009, saya mengikuti kkn di MTDC, Tiroang Pinrang. kkn ini dilaksanakan selama 2 bulan. Saat itu saya bertindak sebagai korkel di kelurahanku, hidup bergaul bersama masyarakat setempat. Sebenarnya saya tidak mengalami banyak kendala saat kkn karena tempat kkn kami saat itu masih lebih ramai dari kampungku, disaat rerata teman-temanku yang terbiasa dengan perkotaan mengeluh saat menajlani kkn, saya bahkan merasa baik-baik saja.

Pertengahan 2010, saya mulai fokus menyelesaikan skripsiku, judul skripsiku saat itu adalah “ Pengaruh gerakan Maois terhadap stabilitas Nepal” saya tidak meras mendapat halangan yang berarti saat menyelesaikan skripsiku tersebut hingga pada tanggal 3 november 2010, saya mengikuti ujian meja dan dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana, dan sejujurnya buat saya pribadi, saya tidak larut dalam euforia kesarjanaanku, inti kebahagiaanku saat itu tidak lebih hanya untuk mempersembahkan kepada kedua orang tuaku.

Acara wisudaku dilaksanakan tanggal 30 desember 2010 dan yang menghadiri acara wisudaku saat itu adalah kedua orang tuaku dan kakakku. Itulah sekelumit sejarahku di bangku kuliah yang tidak bisa kuuraikan secara detail karena terlalu banyak dinamika didalamnya.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, saya belum tergerak mencari pekerjaan, di saat para temanku aktif mencari pekerjaan, saya masih santai-santai saja. Kemudian saya ke sulawesi tenggara selama sebulan, sepluang dari sana, saya mengalami gangguan kesehatan yang mengharuskan saya tinggal berbulan-bulan di kampung, inilah awal dari titik kulminasiku, saat maoritas teman-temanku sudah berkutat di dunia kerja saya harus berjuang memulihkan tenagaku, yang kuingat saat itu adalah harus menumbuhkan semangatku. Saat itu adalah masa-masa hibernasiku dari dunia luar.

Bulan november 2011, saat kondisiku mulai pulih meskipun belum 100%, saya kembali ke makassar, saat itu saya mulai serius mencari kerja, namun setahun berlalu, belum ada tanda-tanda terang akan pencarianku itu. 28 september 2012 saya ke jakarta mendaftar di mensesneg, saya harus menunggu pengumuman di sana selam sebulan, namun lagi-lagi gagal, saya kemudian ke Jogjakarta dan selama sebuan di sana saya melanjutkan hijrahku ke surabaya. inilah masa 2 tahun semenjak lulus kuliah yang  menjadi masa perjuanganku demi sebuah yang dinamakan hidup. Ternyata inti dari kehidupan itu adalah senantiasa BERSYUKUR DAN BERSABAR.


gubeng kertajaya 7C/2,, 
Awal Desember 2012