September 18, 2011

Pendidikan, Kebutuhan Ilmu atau Tuntutan Pekerjaan?

-->
Saya pusing tidak ada kukerja sekarang..

Kalimat tersebut sangat akrab di kuping saya beberapa minggu terakhir. Kalimat tersebut terlontar dari kawan-kawanku yang baru melepaskan statusnya sebagai seorang mahasiswa. Tidak salah memang,( saya pun masih berjuang untuk itu ) bahwa tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan yang nantinya akan menunjang kehidupan yang mapan setelah kuliah adalah perlu, apalagi ditambah dengan tuntutan dari orang tua untuk harus mendapatkan pekerjaan setelah sarjana.  Tulisan ini pun bukan mengerdilkan kawan-kawanku yang sampai sekarang masih mondar-mandir karena belum ada rejeki pekerjaan dan tulisan ini tidak akan mengulas banyak tentang pekerjaan yang  belum didapat, namun saya hanya sedikit berceloteh tentang eksistensi pendidikan yang ada di benakku yang pada akhirnya memproduksi mentalitas seperti orang-orang, entah nantinya kawan-kawanku setuju ataupun kurang setuju atau bahkan tidak setuju sekalipun. Apa yang akan keluar dalam deret kata-kataku ini adalah refleksi terhadap pengetahuanku tentang pendidikan selama menempuh pendidikan formal selama kurang lebih 16 tahun sejak dari SD tanpa sebuah referensi yang jelas.



Hakekat Pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia..! Jargon pendidikan tersebut yang telah dicetuskan oleh Ki hajar Dewantara nampaknya telah terdistorsi oleh kebutuhan pasar yang sangat menggila. Sampai pada sendi-sendi pendidikan sekecil pun telah dirasuki oleh Logika pasar, sehingga celoteh-celoteh yang belum dapat pekerjaan seperti diatas sering terdengar bagi mereka yang tidak mampu resisten terhadap logika pasar. Sekali lagi bukan menyalahkan mereka yang menuntut untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah menempuh pendidikan, (saya pun masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan) bahkan yang telah menenteng gelar sarjana. Perilaku tersebut muncul dari perilaku mainstream [pasar] yang menanamkan sebuah kebiasaan bahwa setelah selesai menempuh pendidikan, maka secara otomatis harus mencari pekerjaan dan bersaing dengan beberapa competitor yang standar criteria sangat subjektif ditentukan oleh setiap korporasi tempat melamar. Logika tradisional rekayasa neoliberal memang telah mengkristal dalam diri umat di Inodnesia namun bukan berarti bahwa hal tersebut tidak bisa direduksi atau bahwa dihapus karena tindakan yang kita tempuh ditentukan oleh kemauan.

Pendidikan Artifisial

Sangat sulit untuk membantah sebuah justifikasi bahwa pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang artifisial dengan melihat fenomena pendidikan di Indonesia dan tingkah laku orang-orang yang katanya telah menempuh pendidikan sampai pada tingkat yang tertinggi. Sekali lagi meminjam istilah bahwa pendidikan tersebut harus mampu memanusiakan manusia, maka seharusnya negeri antah Berantah ini mestinya sudah mampu memenuhi hakekat tersebut melihat statistik orang Indonesia yang bergelar Sarjana sampai Professor sudah bejibun dimiliki oleh bangsa kolam susu ini. Jangan salah juga bahwa orang Indonesia yang antrian menuntut pendidikan di luar negeri pun tidak terhitung jumlah, mulai dari mereka yang menuntut ilmu di timur tengah sampai Eropa bahkan sampai di Amerika, namun apa yang mampu mereka perbuat di Negeri ini? Bukan menggeneralisir, namun kebanyakan mereka tidak mampu berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan hidup di Indoensia dengan satus mereka yang bertitel lulusan luar negeri.

Mereka belajar tentang kedokteran, namun setelah kembali menjadi dokter dengan bayaran mahal, mereka belajar tentang diplomasi, namun ketika berdiplomasi dengan bangsa lain, mereka tidak berdaya, mereka belajar tentang geologi, namun mereka tidak berdaya menghadapi masalah Lapindo, dan bencana alam lainnya. Yang paling parah adalah mereka belajar tentang Ekonomi Politik, namun ternyata kelakuan mereka ketika di Indonesia malah menghancurkan perekonomian dan perpolitikan Indonesia, entah mereka telah menelan mentah-mentah dogma untuk melakukan hal tersebut atraukah mereka terlalu pintar sehingga solusi-solusi untu ekonomi-politik yang mereka tawarkan tidak bisa mencapai akar rumput. Ataukah memang benar apa yang dikatakan oleh Revrisond Baswir bahwa Mereka adalah sekelompok ekonom Indonesia yang “dibina” oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia kejalan ekonomi pasar neoliberalisme yanag sering disebut sebagai Mafia bekeley.     ( Revrisond Baswir, Mafia Berkeley dan krisis Ekonomi Indonesia, Hal 17). Setelah melihat kondisi seperti tersebut diatas, lalu apa bedanya belajar diluar negeri dengan didalam negeri jika kondisinya seperti itu? Maaf jika saya katakan hanya sebuah Prestise. Kemudian dimana gerangan pendidikan yang katanya memanusiakan manusia?

Ramadan 1432 Hijriah: Sebuah Refleksi


Malam Takbiran 1432 H
Lengkingan bunyi petasan, gemerlapnya kembang api dan raungan kendaraan yang lalu lalang mengikuti takbir keliling di berbagai tempat  menandakan datangnya lebaran yang berarti usainya bulan Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini telah berlalu baru saja, namun momen Ramadhan kali ini meninggalkan begitu banyak kisah kehidupan yang bisa dijadikan sebuah pelajaran hidup, hari-hari berikutnya kembali akan menjadi normal seperti sedia kala, tiada lagi penjual setiap sore yang berserakan di pinggir jalan, tiada lagi tauziah-tauziah setiap malam dan juga shalat tarawih yang dikerjakan secara berjamaah setiap malamnya. Mungkin juga akan jarang dijumpai orang yang pemurah mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang lain, ataukah bahkan akan jarang lagi dijumpai orang-orang yang berlalu lalang ke Mesjid. Para public figure ( Artis) pun akan susah lagi dijumpai yang berpakaian sopan seperti lazimnya pada bulan Ramadhan karena mereka kembali ke habitat mereka dimana berpakaian yang tidak senonoh atau tidak menutupi aurat. Akan jarang pula orang yang berlaku ramah karena mereka menganggap bahwa amalan tidak lagi di lipat gandakan.
Memang terkadang, ketika kita tidak mampu memaknai ramadhan, maka bulan yang penuh berkah tersebut hanya akan terlihat sebagai rutinitas tahunan yang dilalui oleh umat islam, namun harus diketahui bahwa Ramadhan bukanlah sekadar rutinitas tahun yang kemudian diakhiri dengan acara mudik berlebaran di kampung halaman. Ramadhan punya makna yang begitu luas bagi siapa saja yang mau mengambil hikmah darinya. Ramadhan adalah sebuah entry point untuk kehidupan selanjutnya yang lebih baik.  Ramadhan dijadikan sebagai latihan untuk menundukkan hawa nafsu yang selama ini mungkin saja menguasai keseharian kita.
Namun nampaknya, Ramadhan kali ini tidak membawa pengaruh yang begitu baik pada kehidupan Berbangsa, dimulai dari penentuan Lebaran yang menjadi dua versi, ini menambah daftar panjang bahwa Ramadhan kali ini tidak begitu baik meninggalkan spirit Ramadhan yang sebenarnya karena ternyata ormas-ormas keagamaan yang punya otoritas sama-sama mendahulukan tendensi pribadi masing-masing sehingga mengorbankan Rakyat yang harus tidak sama lebarannya. Perbedaan mengenai keyakinan bukanlah sebuah rakhmat karena tidak mungkin 1 Syawal itu ada dua hari sehingga guyonan bahwa perbedaan itu rakhmat yang menyangkut keyakinan adalah sesuatu yang menyesatkan, namun dalam kasus ini adalah umat menjadi korban dari ketidakharmonisan para Umara di Negara ini yang ternyata belum mampu menjabarkan spirit Ramadhan yang sebenarnya.  Kejadian yang lain adalah dipergokinya ketua DPRD oleh istrinya sendiri di salah satu kabupaten di Jawa yang sedang selingkuh dengan sekertaris menjadi fenomena yang sangat miris pada Ramadhan kali ini, dimana sebagai wakil Rakyat, Dia harus bisa menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri.
Jangan sampai kita terjebak dalam Euforia semata seperti yang dijelaskan oleh Cahyadi Takariawan mengenai Peradaban Eropa. Menurutnya, Peradaban Eropa saat ini menemukan Tuhannya hanya pada perayaan hari keagamaan. (Peradaban Eropa saat ini bukanlah Peradaban Kristen). Lebih lanjut dikatakan bahwa Peradaban ini adalah sifatnya yang merendahkan Tuhan dan sangat sedikit kandungan spritualnya. Prof lecky dalam bukunya History of Europan Morals ”semua peradaban Yunani hanya didasarkan atas akal yang menjadi sumber peradaban Eropa saat ini, sedangkan peradaban Mesir hanya didasarkan pada spiritual saja. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejarah Yunani pasti membenarkan keterangan di atas. Tidak ada sebuah Agama pun yang menyamai Agama bangsa Yunani dalam persoalan banyaknya karnaval,  perayaaan-perayaan, permainan, dan ketidakseriusan. cara penghormatan mereka kepada Tuhan cukup dengan upacara dan tradisi-tradisi yang berlaku. Itulah yang kita saksikan sekarang. Karnaval di walt Disney land, perayaan paskah dengan kemegahan materialistik  dan huru haranya, rasa syukur kepada Tuhan diungkapkan dalam bentuk minum bir dalam upacara toast. ( Cahyadi Takariawan, Dialog peradaban: Islam menggugat Materialisme Barat ).
Ilustrasi tersebut jangan sampai tertular kepada kita, meskipun tidak dinafikan bahwa tanda-tanda menuju kesana mempunyai bukti yang sangat kuat. Banyaknya para artis, Pejabat dan kalangan atas mengadakan open house untuk berbagi dengan sesama yang menunjukkan rasa sosial yang begitu tinggi, namun sekali lagi semoga tidak berhenti pada acara open house tersebut. Banyaknya Muballig yang menyampaikan tauziah pada Bulan Ramadhan semoga bukan ajang mengeruk keuntungan materi semata. Spirit Ramadhan seperti kejujuran, Kesopanan, kedermawanan dan spirit yang lain jangan sampai runtuh ketika Ramadhan kali ini usai. Konstruksi Negara ini akan menjadi lebih mudah ketika semua spirit Ramadhan tidak luntur dalam diri kita. Kasus korupsi yang menjadi fenomena rumit di Negara ini akan semakin terkuras dengan memelihara spirit Ramadhan karena bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan. Kemenangan umat muslim pada perang Badar terjadi pada bulan ramadhan, penaklukan kota Mekah pun terjadi pada bulan Ramadhan, atau contoh yang paling dekat adalah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada bulan Ramadhan. Semoga kita mampu menjadikan momen Ramadhan sebagai Bulan kemenangan, menang dari perilaku Korupsi, menang dari pertikaian antar sesama, menang dari rasa menjatuhkan lawan politik, dan kemenangan-kemenangan lainnya yang lebih hakiki dlam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara sehingga terjalin Ukhuwah yang lebih kuat.  
                                                                                                                                                                Minal Aidin Wal Faidzin






Perempuan Dalam Konteks Kekinian


Buat my brothers yang belum menikah karena permasalahan uang
Diskurus tentang perempuan mungkin tak akan ada habisnya, perempuan menjadi unik dalam kehidupan bermasyarakat berabad-abad yang lalu sampai sekarang. Namun tidak ada yang melampaui  apa yang pernah dipikirkan tentang konsep masyarakat kekinian.. Perempuan-perempuan masa kini yang mengatasnamakan dirinya sebagai wanita-wanita modernis ternyata sudah tercabik-cabik derajatnya. Eksploitasi terhadap perempuan masa kini semakin tidak terkendali, meskipun tidak sevulgar zaman dahulu dimana perempuan dijadikan budak-budak kasar di pabrik-pabrik, tetapi sekarang, perempuan tidak lain hanyalah dijadikan sebagai budak yang dalam arti lebih halus, yaitu budak kapitalisme. Berbagai kontes kecantikan dimana-mana diadakan sebagai ajang mempertontonkan tubuh wanita, iklan di stasiun TV kebanyakan adalah wanita, bahkan wanita dengan pakaian yang sangat minim di tampilkan dalam iklan kendaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kendaraan yang sedang diiklankan, coba kita bayangkan, apa hubungannya sebuah kendaraan dengan wanita yang sedang berbaju seksi. semua itu tidak lain hanya sebagai alat eksploitasi terhadap tubuh wanita untuk mengeruk keuntungan yang lebih banyak yang ujung-ujungnya menguntungkan para penguasa modal.
            Seperti yang dipaparkan oleh Soekarno bahwa Perempuan yang dianggap cantik (maka oleh karena itu, timbullah, suatu pergerakan menambah kecantikan satu make up movement yang maksudnya mempelajari dan mempraktikkan berapakah cara mustinya perempuan menarik hati kaum laki-laki. menghaluskan kulit, mengatur rambut memerahkan bibir, memilih warna bedak, mencabut bulu alis supaya alis mejadi kecil seperti bulan tanggal satu, menentukan warna creame dan menyapukan warna creame, megatu badan waktu duduk, menggerakkan badan waktu berjalan, itu semua menjadi suatu ilmu yang siang dan malam berputar didalam otaknya perempuan-perempuan. roman muka dan tingkah laku perempuan menjadi berubah sama sekali. (Sarinah, 86-87).
Ilustrasi diatas bukanlah sebuah imajinasi subjektif dari seorang Soekarno karena pada kenyataannya bahwa perempuan dalam konteks kekinian telah dikonstruksi oleh perusahaan-perusaan kecantikan dengan beberapa standarisasi kecantikan, kulit putih, rambut yang harus di rebonding, gaya berjalan yang melenggak lenggok seperti miss Universe bahkan sampai cara berpakaian pun harus mengikuti hukum yang berlaku seperti para artis agar supaya mendapat predikat sebagai salah satu perempuan yang masuk dalam kategori perempuan yang cantik.
Ketika satandar kecantikan seperti itu di terima secara universal di semua Negara di planet Bumi ini, maka hal tersebut akan menjadi masalah di sebagian besar perempuan yang lahir di Negara Afrika dan Asia, bagaimana  tidak, mayoritas dari mereka akan dilahirkan dengan kulit yang tidak putih, dan rambut yang tidak lurus. Dalam artian bahwa mereka sudah tidak termasuk dalam kategori wanita yang cantik. Kalau sudah begitu, maka kecantikan hanyalah milik perempuan-perempuan yang bermukim di benua eropa.
Standarisasi kecantikan tersebut secara tidak sadar telah menjadikan perempuan-perempuan sebagai budak dimana semua keuntungan pasti akan mengarah ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi alat kecantikan. bisa dibayangkan bahwa ketika berjuta-juta perempuan setiap hari harus membeli alat kecantikan karena tergoda dengan iklan-iklan yang menampilkan alat-alat kecantikan tersebut, ataupun bahkan berapa banyak keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan-perusahan pakaian ketika setiap hari perempuan harus ke mall membeli baju model terbaru. Ketika kondisi seperti ini sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, maka secara tidak sadar ataukah pura-pura tidak sadar bahwa logika neoliberalisme sudah merasuki kehidupan kita yang secara perlahan-lahan akan menggiring kita ke jurang kehancuran.
Media mempunyai peran yang sanagt besar dalam menyebarkan perspektif tentang seluk beluk wanita, bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi dengan iklan-iklan pembodohan yang merekonstruksi pikiran-pikiran kita tentang bagaimana seorang perempuan dianggap menarik, bagaimana dipamerkan barang-barang yang wajib dipakai oleh perempuan untuk mempermak dirinya dan bagaimana para artis menjadi sosok sentral dalam merekaya kecantikan-kecantikan artifisial, sehingga imbas dari semua ini adalah media dan para produsen kecantikan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat.
Lain lagi logika Neoliberalisme yang dilancarkan di pelosok-pelosok desa, dimana perempuan-perempuan Desa yang sudah menjelang umur menikah harus menjadikan materi sebagai alat ukur seorang pemuda bisa meminangnya, dalam kesempatan yang sama, ketika seorang pemuda tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, maka secara otomatis, dia akan sulit untuk meminang seorang perempuan. Dalam sebuah kesempatan, Soekarno mengatakan bahwa Masyarakat kapitalis sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali suatu hal yang tak mungkin. Pencarian nafkah-struggle for life. didalam masyarakat sekarang adalah begitu berat sehinga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privelegenya {hak lebih} pemuda-pemuda yang ada kemampuan rejekinya saja. Siapa yang belum cukup nafkah, sampai umur 30 tahun kadang sampai umur 40 tahun. (sarinah 20-21).
Sampai pada tahap yang sangat personal pun, logika neoliberalisme telah menggerus nilai-nilai kearifan lokal pada tingkat masyarakat desa. Perlawanan terhadap sistem tersebut harusnya dilawan pula secara sistematis dan terpola, kemudian hal lain bahwa tidak seharusnya perempuan-perempuan merasa tertindas oleh kaum laki-laki karena ini bukan sebuah persoalan gender, yang harus dipahami oleh para perempuan adalah bagaimana mereduksi eksploitasi diri mereka oleh logika Neoliberalisme. Sekali lagi soekarno menerangkan bahwa jikalau Ibu di Indonesia hanya ingin sama haknya dan hanya ingin sama derajatnya dengan kaum Bapak Indonesia, jikalau hanya itu saja dipandang sebagai cita-cita tertinggi, maka tak lain dan tak bukan mereka hanyalah ingin mengganti derajatnya dari budak kecil menjadi budak besar belaka.(soekarno dalam di bawah bendera revolusi 1101-102).

April 25, 2011

Pengakuan Seorang Hamba

-->
Sebuah hal yang tidak pernah terjawab
Ataukah hanya belum bisa terungkap
Hal yang semestinya menjadi esensi hidup
Adalah bisikan hati yang begitu lama terabaikan

Mungkin terlalu lama dalam arus absurditas
Mungkin juga terlalu acuh dengan diri sendiri
Sampai akhirnya semua seakan begitu tertutupi
Dan akhirnya sangat paradox dengan yang dipahami


Terombang-ambing dalam kenistaan
Terbuai dalam kefatamorganaan
Terjebak dalam absurditas
Sampai semuanya terlupakan

Keegoaan yang begitu merajai
Keangkuhan yang lebih mendominasi
Terangkum dalam tindakan yang fanatis
Sampai akhirnya semua berlangsung tiada arti

Mencoba untuk lebih baik tanpa pamrih
Mencoba untuk mencintaiMU lebih dari segala
Mencoba untuk bertindak karena Engkau
Tanpa harus ada sebuah ragu yang mengiringi

Sudahlah untuk berbuat karena makhluk
Sudahlah untuk berjalan karena sesuatu
Mencoba dengan giat lagi
Lebih banyak kontemplasi dan berbicara dengan hati

March 19, 2011

Dimanakah Gerangan Budaya Diskusi Dalam Dunia Kampus?

-->
Kampus adalah institusi yang dihuni inlek-intelek muda{bede}yang biasa menyombongkan dirinya dengan gelar Mahasiswa,yang dianggap sebagai simbol institusi pendidikan tertinggi di tengah masyarakat.manusia-manusia yang menjamur didalamnya diharapkan mampu memikirkan solusi-solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dalam masyarakat.merekalah lulusan-lulusan SMA yang punya tanggung jawab lebih karena mereka bergelar Mahasiswa yang punya sejarah dan makna yang dalam di tengah-tengah masyarakat.
            Namun,apa gerangan yang terjadi pada dunia kampus yang dianggap sebagai kehidupan yang masih ideal pada dekade terakhir? Budaya diskusi yang sering mereka agung-agungkan sebagai langkah awal dalam memahami dinamika sosial seakan-akan menjadi retorika lama yang sudah basi.setiap harinya,kita disuguhi pemandangan yang membosankan dalam kampus,koridor-koridor tidak lagi dipenuhi Mahasiswa dengan suara lantang yang sedang membawakan materi diskusi,tak terlihat lagi sekumpulan Mahasiswa yang melingkar dengan kopi dan gorengan didepan mereka yang sedang mendiskusikan kebijakan pemerintah yang zalim.mereka lebih asyik mengotak-atik laptop dengan main game terbaru.
            Budaya diskusi seolah-olah hanyalah pertunjukan wayang yang ramai digelar untuk MABA pada saat tahun ajaran baru.dimana fenomenanya yang sering terjadi adalah Mahasiswa yang menganggap diri mereka senior memaksa Mahasiswa baru untuk mengikuti diskusi sedangkan mereka asyik tidur dalam himpunan seakan-akan merela lebih banyak tahu dari MABA tersebut.
            Mulailah sekarang meninggalkan budaya feodalisme,janganlah merasa bahwa kamu senior berarti kamu lebih pintar dan tidak perlu lagi berdiskusi,sok pintar di depan maba dan tidak mau bertana pada junior karena gengsi.tidak ada lagi budaya feodalisme yang dipercaya oleh Tan Malaka dalam karya terbesarnya “MADILOG” sebagai budaya yang telah menghancurkan tata kehidupan bangsa Indonesia selama berabad_abad lamanya sampai sekarang.
“Belajar itu bisa dari siapa saja,karena itu jangan suka menganggap remeh orang,nama baik dan kehormatan bisa dating jika kita menghormati sesama dan rendah hati”
                                                     “LEI WEI YEI”

Amerika Latin Dalam Sebuah Tulisan


Amerika latin menjadi sebuah diskursus kawasan yang sangat unik sejak dekade 1990-an. Kecerobohan para stake holders di Amerika Latin untuk memberikan kepercayaan kepada para penganut paham neoliberalisme untuk memecahkan masalah kebangsaan di Amerika Latin ternyata malah menjerumuskan Amerika Latin dalam lumpur kesengsaraan yang panjang.  Pemberian mandat kepada institusi internasional (World bank, IMF dan WTO) untuk mengurusi negara-negara Amerika Latin dan ikut serta dalam memutuskan kebijakan  sehingga mendorong Negara-negara Amerika Latin kejurang kesengsaraan yang paling  dalam. Argentina yang menjadi sebuah contoh Negara yang masuk dalam pusaran sesat bantuan regim internasional, terjadi bebrapa kali kudeta yang disebabkan oleh krisis multi dimensi yang berkepanjangan. IMF punya andil yang sangat besar dalam menggoyahkan stabilitas Argentina selama dekader 1990 yang baru berakhir ketika naiknya seorang presiden Martina Hernandez. Seperti halnya juga yang terjadi di Meksiko Sejak awal tahun 1980-an, demi mengatasi krisis ekonomi, pemerintah Meksiko menjalankan kebijakan Neo-liberal yang didiktekan oleh IMF dan Bank Dunia, diantaranya adalah; pengurangan pengeluaran publik (termasuk sosial), penghapusan subsidi, pembatasan kredit, swastanisasi perusahaan-perusahaan negara, dan liberalisasi perdagangan. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang cukup luas. Bukannya dapat menyelesaiakan krisis ekonomi  Selama dekade 1980-an, akibat pengurangan yang terus menerus, subsidi dana kesehatan menurun dari 4,7 persen menjadi 2,7 persen. Keadaan di Amerika Latin pada saat itu diperparah oleh keadaan dimana para penguasa di Negara tersebut adalah para komprador yang sangat setia terhadap kemauan pemimpin imprealisme dunia, Amerika Sertikat. Mulai dari Chile yang dipimpin oleh pemerintah fasis Pinochet sejak kudetanya di tahun 1973 yang menghancurkan para buruh-petani, Kolombia yang di pimpin oleh Alvaro Uribe meskipun sekarang sudah diganti oleh Juan Manuel Santos. sampai pada Ekuador yang telah mengalami masa-masa kritis seperti dalam pengakuan John Perkins bahwa sekitar tahun 1968, tingkat kemiskinan di Ekuador meningkat dari 50% menjadi 70%, kekurangan pekerjaan atau pengagguran meningkat dari 15% menjadi 70%, utang Negara meningkat dari 240 juta menjadi $ 16 milliar dan bagian sumber daya nasional yang dialokasikan untuk segmen penduduk yang paling miskin menciut dari 20% menjadi 6%.[1]  
Krisis adalah sebuah penyakit yang inheren dalam sistem kapitalisme, karena spirit kapitalisme itu sendiri adalah Akumulasi, Eksploitasi dan Ekspansi. Makanya mereka akan terus mengakumulasi modal, mengeksploitasi baik itu Manusia maupun alam. Hal yang kemudian akan terjadi adalah krisis produksi di tubuh mereka, untuk mengatasi hal tersebut maka, sasaran empuk untuk memasarkan barang over produksi adalah Negara-negara di Afrika,Amerika Latin dan Negara-negara asia. Diciptakanlah apa yang disebut free trade area

Amerika Latin : sebuah gaya perlawanan baru
Adalah sebuah keniscayaan bahwa ketika ada penindasan maka akan muncul sebuah perlawanan dari kaum tertindas. Hal inilah yang terjadi di Amerika Latin, ketika selama decade 1990-an berada dalam penindasan yang sistematis, mereka bangkit untuk melawan ketertindasan tersebut. Meskipun Francis Fukuyama dengan percaya diri mengatakan bahwa sistem kapitalisme adalah salah satunya sistem yang berhasil dengan tumbangnya sistem komunis, namun kemudian bahwa sistem kapitalisme yang mereka paksakan di Amerika Latin ternyata menggali kuburnya sendiri dengan munculnya krisis yang berkepanjangan sehingga menimbulkan perlawanan Amerika latin. Mulai dari munculnya para pemimpin Negara yang berani berteriak tidak kepada Amerika Serikat. Sosok seperti Hugo Chaves, Evo Morales, Fernando Lugo, Raffael Correa menjadi inspirator perlawanan Amerika Latin. Secara elektoral, mereka masuk dalam sistem untuk menguasai negara sebagai alat perlawanan terhadap kedigdayaan Amerika serikat. Kebijakan-kebijakan populis yang diterapkan seperti nasionalisasi aset-aset asing, reformasi agrarian dan beberapa kebijakan populis lainnya mampu membangkitkan semangat para rakyat untuk melawan hegemoni Amerika Serikat.
Varian-varian lain yang menjadi bentuk perlawanan Amerika Latin adalah dengan membentuk institusi untuk menandingi institusi Bretton Woods. Mereka membentuk Mercosur dan ALBA- alisansi Bolivarian untuk rakyat Amerika. Institusi tersebut mampu menjadi alternative bagi rakyat Amerika Latin. Institusi ini memberikan bantuan secara Cuma-Cuma kepada Negara di Amerika Latin yang tidak punya banyak modal untuk membangun kembali puing-puing negaranya yang dihancurkan oleh sistem kapitalisme yang dipaksakan oleh Amerika Serikat. Amerika latin dengan alternative perlawanannya mampu menyadarkan setiap orang bahwa kapitalisme belumlah menjadi sistem pemenang, Amerika Latin mampu mengalihkan perhatian Amerika Serikat bahwa ada banyak varian sisrtem yang tetap akan menggoyahkan dominasi sistem kapitalisme yang sudah dia ambang kehancuran.        


[1] John Perkins, Confessions of Economic Hit Man, Abdi Tandur, Jakarta, 2005. Hal 234

Ketika Kumbang Tidak Lagi Berceloteh

-->
Mungkin kupanggil saja dia dengan sebutan Sri, entah dari mana awalnya,nama tersebut perlahan-lahan merasuki jiwaku dan mengalir bersama darahku yang menggelapkan rasioku, namun yang pasti bahwa tiga huruf tersebut yang terangkai menjadi sebuah nama masih lekat dalam sanubariku bahkan sampai saat ini.olok-olokan teman-temanku seakan kuanggap sebagai sebuah angin lalu. Masih serasa kemarin ketika lima tahun lalu kami bertemu dalam sebuah mata kuliah perdana di kampus kecil di kota ini. Dengan wajah yang amat polos, segerombolan mahasiswa baru harus mengikuti kuliah dasar, saat masuk kelas, kupilih pojok kiri belakang agar supaya tidak terlihat oleh dosen. Hal ini karena adanya Perasaan kerdil dari hati nuraniku bahwa aku hanyalah anak bawang lulusan sebuah SMA dari kampung jauh di ujung provinsi ini yang tak punya daya bersaing dengan lulusan terbaik di kota ini. Namun perasaan itu pulalah yang membuatku duduk di belakang dan berkenalan dengan perempuan yang lebih sering kupanggil Sri.

Awalnya, aku sengaja memandangi semua temanku satu persatu supaya lebih mudah kukenali, namun sialnya atau lebih tepat kukatakan untungnya, ketika kupandangi deretan bangku di depanku, mataku tertuju pada dua perempuan yang lagi asyik bercengkerama dan salah satunya yang kemudian kupanggil Sri.mukanya merah merona dengan sedikit make up dan terus memnunduk seakan memikirkan sesuatu. Namun disitulah keluar aura kewanitaanya yang kadang jarang di miliki oleh sebagian besar oleh perempuan-perempuan kota yang terjebak dalam sebuah gaya kehidupan yang hedonis, Gumamku.

Sejak pertemuan pertama dalam kuliah perdana tersebut, Sri menjadi sebuah nama yang terukir rapi di hatiku. Hari-hari kuliah pun kulalui dengan ceria tanpa memperdulikan lagi perasaanku yang kerdil yang sekaan tidak bisa bersaing dengan mahasiswa lain.  Hal yang terpikir setiap harinya adalah aku akan bertemu lagi dengan gadis berpipi merah. Hari-hari pun kulalui dan seakan perasaanku tentang gadis tersebut semakin membuncah menjadi sebuah perasaan yang ingin memiliki. Tingkahku pun ketika bertemu dengannya semakin kikuk, ketika bertemu, aku hanya berbicara seperlunya atau bahkan melempar senyum yang seakan dipaksakan membuat rahangku seakan tengang. Hal inilah yang membuat teman-temanku seakan curiga dan akhirnya paham akan tingkahku yang sering grogi.

Sore ini, kuputuskan untuk mencari udara segar di pinggir danau, kadangkala, danau yang di depan pintu masuk kampus ini sering menjadi tempat pelarian ketika penat dengan sederetan tugas-tugas yang mesti diselesaikan. Di tepi danau, kupandangi bianglala yang muncul dengan indahnya setelah kota ini diguyur hujan keras. Kuamati satu persatu orang yang lalu lalang dan sebagian yang memancing meskipun mereka tahu bahwa kemungkinan dapat ikan sangat kecil namun karena entah tuntutan ekonomi mereka harus bertahan untuk mendapat ikan atau bahkan sekedar hobi sehingga mereka tetap menjalaninya setiap sore. Kuikuti irama tetes hujan yang menetes dari dedaunan yang kembali turun, namun aku tidak berniat untuk beranjak dari danau ini. 

Mungkin bukan yang pertama kallinya danau ini menjadi tempat pelarianku ketika rindu sedang membuncah. Danau ini pulalah yang mampu memberi secercah harapan untuk seorang Sri yang entah benar-benar tidak mengerti ataukah hanya pura-pura tidak mengerti tentang aku. Sepasang kumbang sedang bercengkerama di depanku seakan mengejekku sebagai pria yang tak punya keberanian tentang seorang gadis yang dirindukan, ingin ku berteriak kepada si kumbang, tapi apa pedulinya kumbang tersebut andai saja bisa, akan kujelaskan semua bahwa bukan sekedar keberanian tapi ini menyangkut sebuah prinsip seorang insan. Bahwa manusia dan kumbang adalah makhluk yang hakekatnya berbeda dan prinsip itulah yang menghalangiku kenapa sampai sekarang aku tidak pernah menggapai dan menyampaikan niatku. Namun entahlah, yang pasti bahwa bayang-bayang perasaan tersebut selalu terngiang-ngiang di setiap hela nafasku. Lamunanku kali ini di buyarkan oleh sebuah tabrakan di pintu satu  yang membuat orang berkerumum. Apa yang terjadi pak”,  tanyaku pada pak satpam yng kebetulan lewat. Ada tabrakan lari; jawabnya singkat, sambil berlalu memastikan kejadian tersebut. Ketika ingin melihat tabrakan tersebut, kuurungkan niatku karena sudah ada aparat di sana dan juga mentari sudah mulai menukik ke peraduannya pertanda bahwa malam akan menjemput kota daeng ini. 

Kupercepat langkahku menuju kamar kosku yang terletak di belakang asrama mahasiswa. Kususuri kampus ini lewat fakultas hukum, belum sampai di kos, hujan kembali mengguyur, namun tetap kulangkahkan kakiku karena senja semakin gelap. Akupun mesti mengerjakan setumpuk makalah yang mesti kukerjakan. Besok adalah hari terakhir final, dan Aku sudah berjanji untuk memaksimalkan ujianku. Setelah makan malam seadanya khas anak kos dengan lauk beberapa potong gorengan, mulai kupacu rasioku untuk mengerjakan tugas-tugas. Dengan berbekal laptop pinjaman teman, lembar per lembar pun telah kuketik, akhirnya saya harus belajar untuk final besok. Dengan berbekal sepuntung rokok kretek dan kopi tubruk kiriman orang tua, menemaniku memelototi satu persatu kalimat dalam buku ini, kutahu bahwa dosen yang akan mengawas besok dosen yang semua mahasiswa kenal sebagai dosen yang tidak kenal kompromi, terlambat satu menit saja, umpatan akan bertubi-tubi diberikan.

Songkolo”, jam 8 mi, tanpa sadar aku mengumpat setelah melihat jam di HPku yang sudah karatan, dan aku mesti masuk setengah jam kemudian. penat yang amat sangat setelah mengerjakan setumpuk tugas semalaman membuatku bangun kesiangan. Wajah sang dosen terus membayangiku. Kuayunkan langkahku menuju toilet umum, mudah-mudahan belum adapi kodong temanku yang mandi, gumamku. Kutahu bahwa pagi-pagi seperti ini, kami harus ngantri mandi. Dugaanku meleset, pintu kamar mandi sudah tertutup berarti sudah ada yang pakai. Kutahu bahwa tetangga kamarku yang sedang mandi, cepat-cepatko kodong adi, mauka final sebentar, tidak dikasi’ masukmo nanti”,  teriakku dari luar. Tunggumi, baru-baruka juga mandi”,  sahutnya sambil mengguyur badannya. Jawaban yang sangat tidak kuharapkan. 15 menit kemudian aku sudah mandi, dan bersiap ke kampus. Sialan hujan mi seng. Gerutuku setelah melihat tetes-tese air kembali menetes dari atap kosku. 

Kuterobos hujan dengan sedikit berlari-lari kecil, dengan harapan tidak terlambat. Sampai di fakultasku, kulihat bahwa pintu kelas sudah tertutup. Kusadari sang dosen yang juga ketua jurusan sudah di dalam dengan muka garangnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau sang dosen sudah masuk, ruangan kelas akan hening tanpa suara, bahkan batuk pun akan di tahan. Kupaksakan masuk dengan pelan-pelan sambil mengucapkan salam, sudah..! Sudah...! sudah…! Keluar kau”, mahasiswa macam apa kau. Tutup pintu dari luar. Dengan tangan seperti mengusir ayam dan senyum yang sinis, dia mengusirku. Kata-kata usiran yang khas ketika mahasiswa terlambat pun meluncur dari mulutnya ketika melihat aku terlambat lagi. Dengan perasaan yang berkecamuk, kubalikan badanku, apalagi gadis yang kupanggil sri duduk paling depan dan melihat dengan jelas insiden tadi. Ah, alangkah malunya Aku, padahal Aku sudah berjanji untuk mengatakan perasaanku padanya setelah ujian atas semua hal yang kurasakan padanya selama ini. Bodoh amat, Aku tetap akan mengatakannya”, tantangku. Kutunggu jam final yang serasa sangat lama di korodor fakultas, atau kuurungkan saja niatku, tapi sampai kapan. Lama berdebat dengan pikiranku, tak terasa sang dosen sudah keluar. Kulangkahkan kakiku di tempat yang kami sepakati. Belum sampai aku mengatakan sesuatu, Sri bergumam, sudahlah, jodoh tuh ada di tangan Tuhan”, sahutnya dengan yakin. Serasa tulangku serasa remuk. Entahlah, atau aku yang tidak tepat. Kuucapkan maaf dan kubalikkan badan. Kuputuskan untuk langsung pulang ke kos meskipun hari ini ada rapat panitia dan aku jadi ketuanya, tapi peduli amat. Sampai di kamar, kubaringkan badanku untuk menghilangkan penat yang menghantuiku. Aku berjanji untuk melupakannya sejenak tentang si Sri, Gadis ayu nan anggun yang berpipi merah. Sekarang Aku harus fokus di kuliahku dan besok ada kuliah pengganti dari dosen tadi yang mengusirku. Jam 6 pagi, bunyi alarm HPku membangunkanku dari dunia mimpi. Aku bergegas mandi karena tidak rela kejadian kemarin terulang.

Sang Dosen sudah mulai berceloteh di depan kelas dengan menghisap rokok andalannya, dia mulai menjelaskan tentang paradigma HI, sampai pada sebuah pernyataanya yang sangat menggangguku, dia berujar mengenai salah satu paradigma strukturalis, ah, Marxisme itu tidak layak di terapkan karena  tidak menghargai kepemilikian pribadi dan semua hal harus dimiliki bersama, tentunya juga termasuk isteri, makanya Isterimu adalah Isteriku, jelasnya dengan gaya yang amat khas. Pernyataannya tersebut langsung kutimpali tanpa mengacungkan tangan dan tanpa persetujuannya dengan sedikit referensi. Pak adalah hal yang keliru melihat hal tersebut, bentukan pikiran seperti itu adalah hasil konspiratif Orde Baru. Marxisme itu adalah ambil sesuai kebutuhanmu dan bekerjalah sesuai kemampuanmu. Mengenai kepemilikan bersama yang dimaksud hanya terbatas pada akses terhadap alat Produksi dalam artian semua orang punya hak akses terhadap alat produksi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Isteri. Sedikit meminjam pendapatnya Nurani Soyomukti dalam tulisannya tentang Soekarno, saya menjelaskan tentang Perempun. Bahwa Perempuan lebih tersiksa dengan penerapan Neoliberalisme, pelacuran dan ekspolitasi terhadap perempuan ada karena dilegalisasi oleh Neoliberalisme. Perempuan rela untuk diekspolitasi menjadi artis, penyanyi bahkan jadi pelacur murahan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut terjadi karena neoliberalisme menghalalkan bahwa hanya sebagian orang yang bisa mengakses alat produksi. Pelacuran (ekspolitasi terhadap perempuan) akan hilang ketika para penumpuk modal (kapitalis) tidak membutuhkan para gadis-gadis untuk menggunakan potensi tubuhnya secara eksploitatif dalam iklan dalam rangka mencari keuntungan. Pelacuran tidak perlu ada bila para wanita tidak perlu menjual kehormatan untuk sekedar mempertahankan hidup. Masalahnya, kemiskinan bukanlah takdir tetapi hasil hubungan produksi dalam corak perbudakan, feudal dan kapitalisme. Ingat kelas bukanlah sentimen antara laki-laki dan wanita. Sedikit banyak referensi dari tulisan Nurani Soyomukti tersebut mengalir dari mulutku. Ah, sudahlah, tau apa kau dengan itu. Keluar..! keluar..! keluar..!, usirnya. Kali ini aku di usir karena menanggapi pernyataannya. Kali ini, aku keluar dengan tanpa merasa bersalah. Ah, biar tongmi deh, benar-benar dosen yang tidak demokratis, gerutuku.

Tak terasa, sudah lebih 4 tahun Aku menempuh kuliah, dan perasaan terhadap gadis yang kupanggil Sri tidak kunjung memudar, bahkan sejak Aku berjanji untuk berusaha melupakannya, yang ada bahwa perasaan tersebut malah semakin menjadi-jadi. Minggu-minggu ini, Aku disibukkan dengan kegiatan mencari buku-buku untuk referensi skripsiku, Sri yang sudah ujian minggu lalu menjadi penyemangatku agar kami bisa bersama-sama diwisuda bulan 12 ini. Kulangkahkan kaki menuju himpunan, kupikir aka nada buku yang bias menjadi tambahan referensiku. Kuacak-acak perpustakaan Himpunan, tak terasa, mataku tertuju pada sebuah undangan pernikahan, kusengaja untuk melihat sejenak. Tanda sadar, kulihat nama yang tertera di sana, Aku terkejut, benarkah apa yang sedang kulihat, nama gadis yang sering kupanggil Sri tersebut tertulis sebagai pengantin Perempuan. Bergegas kucari teman akrabnya, kutanyakan semua apa yang telah kulihat, memang benar din, Dia akan menikah sehari setelah wiauda, kau taumi bila keluarganya masih kental dengan sistem menjodohkan, Terangnya. 

Kuberlari menjauh, kuarahkan langkahku ke Danau, kutemui kumbang yang dulu mengumpatku, Ku teriakkan bahwa memang benar perkataanmu, harus punya keberanian untuk itu, meskipun jodoh ada di tangan Tuhan namun harus sejalan dengan usaha yang maksimal karena Tuhan sangat rasional dalam mengatur ciptaanNya. Meskipun kadang kala masyarakat terjebak dalam budaya Fatalistik dengan adanya jargon seperti itu.

Sialan juga ini system feudal dan kapitalistik, kau telah merasuki sendi-sendi kehidupanku, bahkan ruang pribadiku yang sangat pribadi sekalipun mampu Kau masuki, atau memang benar bahwa Kau ada di setiap hembusan nafas setiap Manusia. Sistem ini telah melahirkan budaya yang tak logis, bahkan melahirkan budaya perjodohan yang telah membunuh harapanku tentang seseorang yang sering kupanggil dengan sebutan Sri. Gadis yang selama ini mewarnai kehidupanku di kampus dengan gayanya yang khas. Pipi merah merona, anggun, ayu nan ramah bahkan sangat sopan terhadap siapa pun. Namun terkadang dia tegas dalam setiap prinsip yang dia pahami, berani menantang apa yang tidak disepakati yang menurutnya sangat prinsipil, meskipun akhirnya Dia bertekuk lutut pada sebuah Budaya Feodal yang amat sangat menjijikkan, namun kupikir dia mau dijodohkan bukan Karena kalah namun ini menyangkut prinsipnya untuk patuh terhadap orang tuanya.

Kubuang pikiranku untuk menyelesaikan Skripsiku bulan ini. Kubulatkan tekadku untuk menunda kesarjanaanku, bukan karena sakit hati terhadap Sri, bahkan bukan untuk tidak sama-sama untuk diwisuda, namun lebih kearah tujuan prinsipil bahwa Aku masih harus berjuang menghancurkan budaya feodal yang melahirkan berbagai budaya yang menyiksa bahkan melahirkan budaya Perjodohan yang telah merenggut mimpi-mimpiku bersamanya untuk sebuah masa depan yang telah kususun di bawah alam sadarku sejak pertama kali bertemu dengan gadis yang sering kupanggil dengan nama Sri.