September 18, 2011

Ramadan 1432 Hijriah: Sebuah Refleksi


Malam Takbiran 1432 H
Lengkingan bunyi petasan, gemerlapnya kembang api dan raungan kendaraan yang lalu lalang mengikuti takbir keliling di berbagai tempat  menandakan datangnya lebaran yang berarti usainya bulan Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini telah berlalu baru saja, namun momen Ramadhan kali ini meninggalkan begitu banyak kisah kehidupan yang bisa dijadikan sebuah pelajaran hidup, hari-hari berikutnya kembali akan menjadi normal seperti sedia kala, tiada lagi penjual setiap sore yang berserakan di pinggir jalan, tiada lagi tauziah-tauziah setiap malam dan juga shalat tarawih yang dikerjakan secara berjamaah setiap malamnya. Mungkin juga akan jarang dijumpai orang yang pemurah mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang lain, ataukah bahkan akan jarang lagi dijumpai orang-orang yang berlalu lalang ke Mesjid. Para public figure ( Artis) pun akan susah lagi dijumpai yang berpakaian sopan seperti lazimnya pada bulan Ramadhan karena mereka kembali ke habitat mereka dimana berpakaian yang tidak senonoh atau tidak menutupi aurat. Akan jarang pula orang yang berlaku ramah karena mereka menganggap bahwa amalan tidak lagi di lipat gandakan.
Memang terkadang, ketika kita tidak mampu memaknai ramadhan, maka bulan yang penuh berkah tersebut hanya akan terlihat sebagai rutinitas tahunan yang dilalui oleh umat islam, namun harus diketahui bahwa Ramadhan bukanlah sekadar rutinitas tahun yang kemudian diakhiri dengan acara mudik berlebaran di kampung halaman. Ramadhan punya makna yang begitu luas bagi siapa saja yang mau mengambil hikmah darinya. Ramadhan adalah sebuah entry point untuk kehidupan selanjutnya yang lebih baik.  Ramadhan dijadikan sebagai latihan untuk menundukkan hawa nafsu yang selama ini mungkin saja menguasai keseharian kita.
Namun nampaknya, Ramadhan kali ini tidak membawa pengaruh yang begitu baik pada kehidupan Berbangsa, dimulai dari penentuan Lebaran yang menjadi dua versi, ini menambah daftar panjang bahwa Ramadhan kali ini tidak begitu baik meninggalkan spirit Ramadhan yang sebenarnya karena ternyata ormas-ormas keagamaan yang punya otoritas sama-sama mendahulukan tendensi pribadi masing-masing sehingga mengorbankan Rakyat yang harus tidak sama lebarannya. Perbedaan mengenai keyakinan bukanlah sebuah rakhmat karena tidak mungkin 1 Syawal itu ada dua hari sehingga guyonan bahwa perbedaan itu rakhmat yang menyangkut keyakinan adalah sesuatu yang menyesatkan, namun dalam kasus ini adalah umat menjadi korban dari ketidakharmonisan para Umara di Negara ini yang ternyata belum mampu menjabarkan spirit Ramadhan yang sebenarnya.  Kejadian yang lain adalah dipergokinya ketua DPRD oleh istrinya sendiri di salah satu kabupaten di Jawa yang sedang selingkuh dengan sekertaris menjadi fenomena yang sangat miris pada Ramadhan kali ini, dimana sebagai wakil Rakyat, Dia harus bisa menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri.
Jangan sampai kita terjebak dalam Euforia semata seperti yang dijelaskan oleh Cahyadi Takariawan mengenai Peradaban Eropa. Menurutnya, Peradaban Eropa saat ini menemukan Tuhannya hanya pada perayaan hari keagamaan. (Peradaban Eropa saat ini bukanlah Peradaban Kristen). Lebih lanjut dikatakan bahwa Peradaban ini adalah sifatnya yang merendahkan Tuhan dan sangat sedikit kandungan spritualnya. Prof lecky dalam bukunya History of Europan Morals ”semua peradaban Yunani hanya didasarkan atas akal yang menjadi sumber peradaban Eropa saat ini, sedangkan peradaban Mesir hanya didasarkan pada spiritual saja. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejarah Yunani pasti membenarkan keterangan di atas. Tidak ada sebuah Agama pun yang menyamai Agama bangsa Yunani dalam persoalan banyaknya karnaval,  perayaaan-perayaan, permainan, dan ketidakseriusan. cara penghormatan mereka kepada Tuhan cukup dengan upacara dan tradisi-tradisi yang berlaku. Itulah yang kita saksikan sekarang. Karnaval di walt Disney land, perayaan paskah dengan kemegahan materialistik  dan huru haranya, rasa syukur kepada Tuhan diungkapkan dalam bentuk minum bir dalam upacara toast. ( Cahyadi Takariawan, Dialog peradaban: Islam menggugat Materialisme Barat ).
Ilustrasi tersebut jangan sampai tertular kepada kita, meskipun tidak dinafikan bahwa tanda-tanda menuju kesana mempunyai bukti yang sangat kuat. Banyaknya para artis, Pejabat dan kalangan atas mengadakan open house untuk berbagi dengan sesama yang menunjukkan rasa sosial yang begitu tinggi, namun sekali lagi semoga tidak berhenti pada acara open house tersebut. Banyaknya Muballig yang menyampaikan tauziah pada Bulan Ramadhan semoga bukan ajang mengeruk keuntungan materi semata. Spirit Ramadhan seperti kejujuran, Kesopanan, kedermawanan dan spirit yang lain jangan sampai runtuh ketika Ramadhan kali ini usai. Konstruksi Negara ini akan menjadi lebih mudah ketika semua spirit Ramadhan tidak luntur dalam diri kita. Kasus korupsi yang menjadi fenomena rumit di Negara ini akan semakin terkuras dengan memelihara spirit Ramadhan karena bulan Ramadhan adalah bulan kemenangan. Kemenangan umat muslim pada perang Badar terjadi pada bulan ramadhan, penaklukan kota Mekah pun terjadi pada bulan Ramadhan, atau contoh yang paling dekat adalah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada bulan Ramadhan. Semoga kita mampu menjadikan momen Ramadhan sebagai Bulan kemenangan, menang dari perilaku Korupsi, menang dari pertikaian antar sesama, menang dari rasa menjatuhkan lawan politik, dan kemenangan-kemenangan lainnya yang lebih hakiki dlam kehidupan pribadi, bermasyarakat berbangsa dan bernegara sehingga terjalin Ukhuwah yang lebih kuat.  
                                                                                                                                                                Minal Aidin Wal Faidzin






No comments: