March 19, 2011

Ketika Kumbang Tidak Lagi Berceloteh

-->
Mungkin kupanggil saja dia dengan sebutan Sri, entah dari mana awalnya,nama tersebut perlahan-lahan merasuki jiwaku dan mengalir bersama darahku yang menggelapkan rasioku, namun yang pasti bahwa tiga huruf tersebut yang terangkai menjadi sebuah nama masih lekat dalam sanubariku bahkan sampai saat ini.olok-olokan teman-temanku seakan kuanggap sebagai sebuah angin lalu. Masih serasa kemarin ketika lima tahun lalu kami bertemu dalam sebuah mata kuliah perdana di kampus kecil di kota ini. Dengan wajah yang amat polos, segerombolan mahasiswa baru harus mengikuti kuliah dasar, saat masuk kelas, kupilih pojok kiri belakang agar supaya tidak terlihat oleh dosen. Hal ini karena adanya Perasaan kerdil dari hati nuraniku bahwa aku hanyalah anak bawang lulusan sebuah SMA dari kampung jauh di ujung provinsi ini yang tak punya daya bersaing dengan lulusan terbaik di kota ini. Namun perasaan itu pulalah yang membuatku duduk di belakang dan berkenalan dengan perempuan yang lebih sering kupanggil Sri.

Awalnya, aku sengaja memandangi semua temanku satu persatu supaya lebih mudah kukenali, namun sialnya atau lebih tepat kukatakan untungnya, ketika kupandangi deretan bangku di depanku, mataku tertuju pada dua perempuan yang lagi asyik bercengkerama dan salah satunya yang kemudian kupanggil Sri.mukanya merah merona dengan sedikit make up dan terus memnunduk seakan memikirkan sesuatu. Namun disitulah keluar aura kewanitaanya yang kadang jarang di miliki oleh sebagian besar oleh perempuan-perempuan kota yang terjebak dalam sebuah gaya kehidupan yang hedonis, Gumamku.

Sejak pertemuan pertama dalam kuliah perdana tersebut, Sri menjadi sebuah nama yang terukir rapi di hatiku. Hari-hari kuliah pun kulalui dengan ceria tanpa memperdulikan lagi perasaanku yang kerdil yang sekaan tidak bisa bersaing dengan mahasiswa lain.  Hal yang terpikir setiap harinya adalah aku akan bertemu lagi dengan gadis berpipi merah. Hari-hari pun kulalui dan seakan perasaanku tentang gadis tersebut semakin membuncah menjadi sebuah perasaan yang ingin memiliki. Tingkahku pun ketika bertemu dengannya semakin kikuk, ketika bertemu, aku hanya berbicara seperlunya atau bahkan melempar senyum yang seakan dipaksakan membuat rahangku seakan tengang. Hal inilah yang membuat teman-temanku seakan curiga dan akhirnya paham akan tingkahku yang sering grogi.

Sore ini, kuputuskan untuk mencari udara segar di pinggir danau, kadangkala, danau yang di depan pintu masuk kampus ini sering menjadi tempat pelarian ketika penat dengan sederetan tugas-tugas yang mesti diselesaikan. Di tepi danau, kupandangi bianglala yang muncul dengan indahnya setelah kota ini diguyur hujan keras. Kuamati satu persatu orang yang lalu lalang dan sebagian yang memancing meskipun mereka tahu bahwa kemungkinan dapat ikan sangat kecil namun karena entah tuntutan ekonomi mereka harus bertahan untuk mendapat ikan atau bahkan sekedar hobi sehingga mereka tetap menjalaninya setiap sore. Kuikuti irama tetes hujan yang menetes dari dedaunan yang kembali turun, namun aku tidak berniat untuk beranjak dari danau ini. 

Mungkin bukan yang pertama kallinya danau ini menjadi tempat pelarianku ketika rindu sedang membuncah. Danau ini pulalah yang mampu memberi secercah harapan untuk seorang Sri yang entah benar-benar tidak mengerti ataukah hanya pura-pura tidak mengerti tentang aku. Sepasang kumbang sedang bercengkerama di depanku seakan mengejekku sebagai pria yang tak punya keberanian tentang seorang gadis yang dirindukan, ingin ku berteriak kepada si kumbang, tapi apa pedulinya kumbang tersebut andai saja bisa, akan kujelaskan semua bahwa bukan sekedar keberanian tapi ini menyangkut sebuah prinsip seorang insan. Bahwa manusia dan kumbang adalah makhluk yang hakekatnya berbeda dan prinsip itulah yang menghalangiku kenapa sampai sekarang aku tidak pernah menggapai dan menyampaikan niatku. Namun entahlah, yang pasti bahwa bayang-bayang perasaan tersebut selalu terngiang-ngiang di setiap hela nafasku. Lamunanku kali ini di buyarkan oleh sebuah tabrakan di pintu satu  yang membuat orang berkerumum. Apa yang terjadi pak”,  tanyaku pada pak satpam yng kebetulan lewat. Ada tabrakan lari; jawabnya singkat, sambil berlalu memastikan kejadian tersebut. Ketika ingin melihat tabrakan tersebut, kuurungkan niatku karena sudah ada aparat di sana dan juga mentari sudah mulai menukik ke peraduannya pertanda bahwa malam akan menjemput kota daeng ini. 

Kupercepat langkahku menuju kamar kosku yang terletak di belakang asrama mahasiswa. Kususuri kampus ini lewat fakultas hukum, belum sampai di kos, hujan kembali mengguyur, namun tetap kulangkahkan kakiku karena senja semakin gelap. Akupun mesti mengerjakan setumpuk makalah yang mesti kukerjakan. Besok adalah hari terakhir final, dan Aku sudah berjanji untuk memaksimalkan ujianku. Setelah makan malam seadanya khas anak kos dengan lauk beberapa potong gorengan, mulai kupacu rasioku untuk mengerjakan tugas-tugas. Dengan berbekal laptop pinjaman teman, lembar per lembar pun telah kuketik, akhirnya saya harus belajar untuk final besok. Dengan berbekal sepuntung rokok kretek dan kopi tubruk kiriman orang tua, menemaniku memelototi satu persatu kalimat dalam buku ini, kutahu bahwa dosen yang akan mengawas besok dosen yang semua mahasiswa kenal sebagai dosen yang tidak kenal kompromi, terlambat satu menit saja, umpatan akan bertubi-tubi diberikan.

Songkolo”, jam 8 mi, tanpa sadar aku mengumpat setelah melihat jam di HPku yang sudah karatan, dan aku mesti masuk setengah jam kemudian. penat yang amat sangat setelah mengerjakan setumpuk tugas semalaman membuatku bangun kesiangan. Wajah sang dosen terus membayangiku. Kuayunkan langkahku menuju toilet umum, mudah-mudahan belum adapi kodong temanku yang mandi, gumamku. Kutahu bahwa pagi-pagi seperti ini, kami harus ngantri mandi. Dugaanku meleset, pintu kamar mandi sudah tertutup berarti sudah ada yang pakai. Kutahu bahwa tetangga kamarku yang sedang mandi, cepat-cepatko kodong adi, mauka final sebentar, tidak dikasi’ masukmo nanti”,  teriakku dari luar. Tunggumi, baru-baruka juga mandi”,  sahutnya sambil mengguyur badannya. Jawaban yang sangat tidak kuharapkan. 15 menit kemudian aku sudah mandi, dan bersiap ke kampus. Sialan hujan mi seng. Gerutuku setelah melihat tetes-tese air kembali menetes dari atap kosku. 

Kuterobos hujan dengan sedikit berlari-lari kecil, dengan harapan tidak terlambat. Sampai di fakultasku, kulihat bahwa pintu kelas sudah tertutup. Kusadari sang dosen yang juga ketua jurusan sudah di dalam dengan muka garangnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau sang dosen sudah masuk, ruangan kelas akan hening tanpa suara, bahkan batuk pun akan di tahan. Kupaksakan masuk dengan pelan-pelan sambil mengucapkan salam, sudah..! Sudah...! sudah…! Keluar kau”, mahasiswa macam apa kau. Tutup pintu dari luar. Dengan tangan seperti mengusir ayam dan senyum yang sinis, dia mengusirku. Kata-kata usiran yang khas ketika mahasiswa terlambat pun meluncur dari mulutnya ketika melihat aku terlambat lagi. Dengan perasaan yang berkecamuk, kubalikan badanku, apalagi gadis yang kupanggil sri duduk paling depan dan melihat dengan jelas insiden tadi. Ah, alangkah malunya Aku, padahal Aku sudah berjanji untuk mengatakan perasaanku padanya setelah ujian atas semua hal yang kurasakan padanya selama ini. Bodoh amat, Aku tetap akan mengatakannya”, tantangku. Kutunggu jam final yang serasa sangat lama di korodor fakultas, atau kuurungkan saja niatku, tapi sampai kapan. Lama berdebat dengan pikiranku, tak terasa sang dosen sudah keluar. Kulangkahkan kakiku di tempat yang kami sepakati. Belum sampai aku mengatakan sesuatu, Sri bergumam, sudahlah, jodoh tuh ada di tangan Tuhan”, sahutnya dengan yakin. Serasa tulangku serasa remuk. Entahlah, atau aku yang tidak tepat. Kuucapkan maaf dan kubalikkan badan. Kuputuskan untuk langsung pulang ke kos meskipun hari ini ada rapat panitia dan aku jadi ketuanya, tapi peduli amat. Sampai di kamar, kubaringkan badanku untuk menghilangkan penat yang menghantuiku. Aku berjanji untuk melupakannya sejenak tentang si Sri, Gadis ayu nan anggun yang berpipi merah. Sekarang Aku harus fokus di kuliahku dan besok ada kuliah pengganti dari dosen tadi yang mengusirku. Jam 6 pagi, bunyi alarm HPku membangunkanku dari dunia mimpi. Aku bergegas mandi karena tidak rela kejadian kemarin terulang.

Sang Dosen sudah mulai berceloteh di depan kelas dengan menghisap rokok andalannya, dia mulai menjelaskan tentang paradigma HI, sampai pada sebuah pernyataanya yang sangat menggangguku, dia berujar mengenai salah satu paradigma strukturalis, ah, Marxisme itu tidak layak di terapkan karena  tidak menghargai kepemilikian pribadi dan semua hal harus dimiliki bersama, tentunya juga termasuk isteri, makanya Isterimu adalah Isteriku, jelasnya dengan gaya yang amat khas. Pernyataannya tersebut langsung kutimpali tanpa mengacungkan tangan dan tanpa persetujuannya dengan sedikit referensi. Pak adalah hal yang keliru melihat hal tersebut, bentukan pikiran seperti itu adalah hasil konspiratif Orde Baru. Marxisme itu adalah ambil sesuai kebutuhanmu dan bekerjalah sesuai kemampuanmu. Mengenai kepemilikan bersama yang dimaksud hanya terbatas pada akses terhadap alat Produksi dalam artian semua orang punya hak akses terhadap alat produksi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Isteri. Sedikit meminjam pendapatnya Nurani Soyomukti dalam tulisannya tentang Soekarno, saya menjelaskan tentang Perempun. Bahwa Perempuan lebih tersiksa dengan penerapan Neoliberalisme, pelacuran dan ekspolitasi terhadap perempuan ada karena dilegalisasi oleh Neoliberalisme. Perempuan rela untuk diekspolitasi menjadi artis, penyanyi bahkan jadi pelacur murahan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut terjadi karena neoliberalisme menghalalkan bahwa hanya sebagian orang yang bisa mengakses alat produksi. Pelacuran (ekspolitasi terhadap perempuan) akan hilang ketika para penumpuk modal (kapitalis) tidak membutuhkan para gadis-gadis untuk menggunakan potensi tubuhnya secara eksploitatif dalam iklan dalam rangka mencari keuntungan. Pelacuran tidak perlu ada bila para wanita tidak perlu menjual kehormatan untuk sekedar mempertahankan hidup. Masalahnya, kemiskinan bukanlah takdir tetapi hasil hubungan produksi dalam corak perbudakan, feudal dan kapitalisme. Ingat kelas bukanlah sentimen antara laki-laki dan wanita. Sedikit banyak referensi dari tulisan Nurani Soyomukti tersebut mengalir dari mulutku. Ah, sudahlah, tau apa kau dengan itu. Keluar..! keluar..! keluar..!, usirnya. Kali ini aku di usir karena menanggapi pernyataannya. Kali ini, aku keluar dengan tanpa merasa bersalah. Ah, biar tongmi deh, benar-benar dosen yang tidak demokratis, gerutuku.

Tak terasa, sudah lebih 4 tahun Aku menempuh kuliah, dan perasaan terhadap gadis yang kupanggil Sri tidak kunjung memudar, bahkan sejak Aku berjanji untuk berusaha melupakannya, yang ada bahwa perasaan tersebut malah semakin menjadi-jadi. Minggu-minggu ini, Aku disibukkan dengan kegiatan mencari buku-buku untuk referensi skripsiku, Sri yang sudah ujian minggu lalu menjadi penyemangatku agar kami bisa bersama-sama diwisuda bulan 12 ini. Kulangkahkan kaki menuju himpunan, kupikir aka nada buku yang bias menjadi tambahan referensiku. Kuacak-acak perpustakaan Himpunan, tak terasa, mataku tertuju pada sebuah undangan pernikahan, kusengaja untuk melihat sejenak. Tanda sadar, kulihat nama yang tertera di sana, Aku terkejut, benarkah apa yang sedang kulihat, nama gadis yang sering kupanggil Sri tersebut tertulis sebagai pengantin Perempuan. Bergegas kucari teman akrabnya, kutanyakan semua apa yang telah kulihat, memang benar din, Dia akan menikah sehari setelah wiauda, kau taumi bila keluarganya masih kental dengan sistem menjodohkan, Terangnya. 

Kuberlari menjauh, kuarahkan langkahku ke Danau, kutemui kumbang yang dulu mengumpatku, Ku teriakkan bahwa memang benar perkataanmu, harus punya keberanian untuk itu, meskipun jodoh ada di tangan Tuhan namun harus sejalan dengan usaha yang maksimal karena Tuhan sangat rasional dalam mengatur ciptaanNya. Meskipun kadang kala masyarakat terjebak dalam budaya Fatalistik dengan adanya jargon seperti itu.

Sialan juga ini system feudal dan kapitalistik, kau telah merasuki sendi-sendi kehidupanku, bahkan ruang pribadiku yang sangat pribadi sekalipun mampu Kau masuki, atau memang benar bahwa Kau ada di setiap hembusan nafas setiap Manusia. Sistem ini telah melahirkan budaya yang tak logis, bahkan melahirkan budaya perjodohan yang telah membunuh harapanku tentang seseorang yang sering kupanggil dengan sebutan Sri. Gadis yang selama ini mewarnai kehidupanku di kampus dengan gayanya yang khas. Pipi merah merona, anggun, ayu nan ramah bahkan sangat sopan terhadap siapa pun. Namun terkadang dia tegas dalam setiap prinsip yang dia pahami, berani menantang apa yang tidak disepakati yang menurutnya sangat prinsipil, meskipun akhirnya Dia bertekuk lutut pada sebuah Budaya Feodal yang amat sangat menjijikkan, namun kupikir dia mau dijodohkan bukan Karena kalah namun ini menyangkut prinsipnya untuk patuh terhadap orang tuanya.

Kubuang pikiranku untuk menyelesaikan Skripsiku bulan ini. Kubulatkan tekadku untuk menunda kesarjanaanku, bukan karena sakit hati terhadap Sri, bahkan bukan untuk tidak sama-sama untuk diwisuda, namun lebih kearah tujuan prinsipil bahwa Aku masih harus berjuang menghancurkan budaya feodal yang melahirkan berbagai budaya yang menyiksa bahkan melahirkan budaya Perjodohan yang telah merenggut mimpi-mimpiku bersamanya untuk sebuah masa depan yang telah kususun di bawah alam sadarku sejak pertama kali bertemu dengan gadis yang sering kupanggil dengan nama Sri.

No comments: