Buat my brothers yang belum menikah karena permasalahan uang
Diskurus tentang perempuan mungkin tak akan ada habisnya, perempuan menjadi unik dalam kehidupan bermasyarakat berabad-abad yang lalu sampai sekarang. Namun tidak ada yang melampaui apa yang pernah dipikirkan tentang konsep masyarakat kekinian.. Perempuan-perempuan masa kini yang mengatasnamakan dirinya sebagai wanita-wanita modernis ternyata sudah tercabik-cabik derajatnya. Eksploitasi terhadap perempuan masa kini semakin tidak terkendali, meskipun tidak sevulgar zaman dahulu dimana perempuan dijadikan budak-budak kasar di pabrik-pabrik, tetapi sekarang, perempuan tidak lain hanyalah dijadikan sebagai budak yang dalam arti lebih halus, yaitu budak kapitalisme. Berbagai kontes kecantikan dimana-mana diadakan sebagai ajang mempertontonkan tubuh wanita, iklan di stasiun TV kebanyakan adalah wanita, bahkan wanita dengan pakaian yang sangat minim di tampilkan dalam iklan kendaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kendaraan yang sedang diiklankan, coba kita bayangkan, apa hubungannya sebuah kendaraan dengan wanita yang sedang berbaju seksi. semua itu tidak lain hanya sebagai alat eksploitasi terhadap tubuh wanita untuk mengeruk keuntungan yang lebih banyak yang ujung-ujungnya menguntungkan para penguasa modal.
Seperti yang dipaparkan oleh Soekarno bahwa Perempuan yang dianggap cantik (maka oleh karena itu, timbullah, suatu pergerakan menambah kecantikan satu make up movement yang maksudnya mempelajari dan mempraktikkan berapakah cara mustinya perempuan menarik hati kaum laki-laki. menghaluskan kulit, mengatur rambut memerahkan bibir, memilih warna bedak, mencabut bulu alis supaya alis mejadi kecil seperti bulan tanggal satu, menentukan warna creame dan menyapukan warna creame, megatu badan waktu duduk, menggerakkan badan waktu berjalan, itu semua menjadi suatu ilmu yang siang dan malam berputar didalam otaknya perempuan-perempuan. roman muka dan tingkah laku perempuan menjadi berubah sama sekali. (Sarinah, 86-87).
Ilustrasi diatas bukanlah sebuah imajinasi subjektif dari seorang Soekarno karena pada kenyataannya bahwa perempuan dalam konteks kekinian telah dikonstruksi oleh perusahaan-perusaan kecantikan dengan beberapa standarisasi kecantikan, kulit putih, rambut yang harus di rebonding, gaya berjalan yang melenggak lenggok seperti miss Universe bahkan sampai cara berpakaian pun harus mengikuti hukum yang berlaku seperti para artis agar supaya mendapat predikat sebagai salah satu perempuan yang masuk dalam kategori perempuan yang cantik.
Ketika satandar kecantikan seperti itu di terima secara universal di semua Negara di planet Bumi ini, maka hal tersebut akan menjadi masalah di sebagian besar perempuan yang lahir di Negara Afrika dan Asia, bagaimana tidak, mayoritas dari mereka akan dilahirkan dengan kulit yang tidak putih, dan rambut yang tidak lurus. Dalam artian bahwa mereka sudah tidak termasuk dalam kategori wanita yang cantik. Kalau sudah begitu, maka kecantikan hanyalah milik perempuan-perempuan yang bermukim di benua eropa.
Standarisasi kecantikan tersebut secara tidak sadar telah menjadikan perempuan-perempuan sebagai budak dimana semua keuntungan pasti akan mengarah ke perusahaan-perusahaan yang memproduksi alat kecantikan. bisa dibayangkan bahwa ketika berjuta-juta perempuan setiap hari harus membeli alat kecantikan karena tergoda dengan iklan-iklan yang menampilkan alat-alat kecantikan tersebut, ataupun bahkan berapa banyak keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan-perusahan pakaian ketika setiap hari perempuan harus ke mall membeli baju model terbaru. Ketika kondisi seperti ini sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, maka secara tidak sadar ataukah pura-pura tidak sadar bahwa logika neoliberalisme sudah merasuki kehidupan kita yang secara perlahan-lahan akan menggiring kita ke jurang kehancuran.
Media mempunyai peran yang sanagt besar dalam menyebarkan perspektif tentang seluk beluk wanita, bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi dengan iklan-iklan pembodohan yang merekonstruksi pikiran-pikiran kita tentang bagaimana seorang perempuan dianggap menarik, bagaimana dipamerkan barang-barang yang wajib dipakai oleh perempuan untuk mempermak dirinya dan bagaimana para artis menjadi sosok sentral dalam merekaya kecantikan-kecantikan artifisial, sehingga imbas dari semua ini adalah media dan para produsen kecantikan mendapat keuntungan yang berlipat-lipat.
Lain lagi logika Neoliberalisme yang dilancarkan di pelosok-pelosok desa, dimana perempuan-perempuan Desa yang sudah menjelang umur menikah harus menjadikan materi sebagai alat ukur seorang pemuda bisa meminangnya, dalam kesempatan yang sama, ketika seorang pemuda tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, maka secara otomatis, dia akan sulit untuk meminang seorang perempuan. Dalam sebuah kesempatan, Soekarno mengatakan bahwa Masyarakat kapitalis sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali suatu hal yang tak mungkin. Pencarian nafkah-struggle for life. didalam masyarakat sekarang adalah begitu berat sehinga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privelegenya {hak lebih} pemuda-pemuda yang ada kemampuan rejekinya saja. Siapa yang belum cukup nafkah, sampai umur 30 tahun kadang sampai umur 40 tahun. (sarinah 20-21).
Sampai pada tahap yang sangat personal pun, logika neoliberalisme telah menggerus nilai-nilai kearifan lokal pada tingkat masyarakat desa. Perlawanan terhadap sistem tersebut harusnya dilawan pula secara sistematis dan terpola, kemudian hal lain bahwa tidak seharusnya perempuan-perempuan merasa tertindas oleh kaum laki-laki karena ini bukan sebuah persoalan gender, yang harus dipahami oleh para perempuan adalah bagaimana mereduksi eksploitasi diri mereka oleh logika Neoliberalisme. Sekali lagi soekarno menerangkan bahwa jikalau Ibu di Indonesia hanya ingin sama haknya dan hanya ingin sama derajatnya dengan kaum Bapak Indonesia, jikalau hanya itu saja dipandang sebagai cita-cita tertinggi, maka tak lain dan tak bukan mereka hanyalah ingin mengganti derajatnya dari budak kecil menjadi budak besar belaka.(soekarno dalam di bawah bendera revolusi 1101-102).
No comments:
Post a Comment