Amerika latin menjadi sebuah diskursus kawasan yang sangat unik sejak dekade 1990-an. Kecerobohan para stake holders di Amerika Latin untuk memberikan kepercayaan kepada para penganut paham neoliberalisme untuk memecahkan masalah kebangsaan di Amerika Latin ternyata malah menjerumuskan Amerika Latin dalam lumpur kesengsaraan yang panjang. Pemberian mandat kepada institusi internasional (World bank, IMF dan WTO) untuk mengurusi negara-negara Amerika Latin dan ikut serta dalam memutuskan kebijakan sehingga mendorong Negara-negara Amerika Latin kejurang kesengsaraan yang paling dalam. Argentina yang menjadi sebuah contoh Negara yang masuk dalam pusaran sesat bantuan regim internasional, terjadi bebrapa kali kudeta yang disebabkan oleh krisis multi dimensi yang berkepanjangan. IMF punya andil yang sangat besar dalam menggoyahkan stabilitas Argentina selama dekader 1990 yang baru berakhir ketika naiknya seorang presiden Martina Hernandez. Seperti halnya juga yang terjadi di Meksiko Sejak awal tahun 1980-an, demi mengatasi krisis ekonomi, pemerintah Meksiko menjalankan kebijakan Neo-liberal yang didiktekan oleh IMF dan Bank Dunia, diantaranya adalah; pengurangan pengeluaran publik (termasuk sosial), penghapusan subsidi, pembatasan kredit, swastanisasi perusahaan-perusahaan negara, dan liberalisasi perdagangan. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang cukup luas. Bukannya dapat menyelesaiakan krisis ekonomi Selama dekade 1980-an, akibat pengurangan yang terus menerus, subsidi dana kesehatan menurun dari 4,7 persen menjadi 2,7 persen. Keadaan di Amerika Latin pada saat itu diperparah oleh keadaan dimana para penguasa di Negara tersebut adalah para komprador yang sangat setia terhadap kemauan pemimpin imprealisme dunia, Amerika Sertikat. Mulai dari Chile yang dipimpin oleh pemerintah fasis Pinochet sejak kudetanya di tahun 1973 yang menghancurkan para buruh-petani, Kolombia yang di pimpin oleh Alvaro Uribe meskipun sekarang sudah diganti oleh Juan Manuel Santos. sampai pada Ekuador yang telah mengalami masa-masa kritis seperti dalam pengakuan John Perkins bahwa sekitar tahun 1968, tingkat kemiskinan di Ekuador meningkat dari 50% menjadi 70%, kekurangan pekerjaan atau pengagguran meningkat dari 15% menjadi 70%, utang Negara meningkat dari 240 juta menjadi $ 16 milliar dan bagian sumber daya nasional yang dialokasikan untuk segmen penduduk yang paling miskin menciut dari 20% menjadi 6%.[1]
Krisis adalah sebuah penyakit yang inheren dalam sistem kapitalisme, karena spirit kapitalisme itu sendiri adalah Akumulasi, Eksploitasi dan Ekspansi. Makanya mereka akan terus mengakumulasi modal, mengeksploitasi baik itu Manusia maupun alam. Hal yang kemudian akan terjadi adalah krisis produksi di tubuh mereka, untuk mengatasi hal tersebut maka, sasaran empuk untuk memasarkan barang over produksi adalah Negara-negara di Afrika,Amerika Latin dan Negara-negara asia. Diciptakanlah apa yang disebut free trade area
Amerika Latin : sebuah gaya perlawanan baru
Adalah sebuah keniscayaan bahwa ketika ada penindasan maka akan muncul sebuah perlawanan dari kaum tertindas. Hal inilah yang terjadi di Amerika Latin, ketika selama decade 1990-an berada dalam penindasan yang sistematis, mereka bangkit untuk melawan ketertindasan tersebut. Meskipun Francis Fukuyama dengan percaya diri mengatakan bahwa sistem kapitalisme adalah salah satunya sistem yang berhasil dengan tumbangnya sistem komunis, namun kemudian bahwa sistem kapitalisme yang mereka paksakan di Amerika Latin ternyata menggali kuburnya sendiri dengan munculnya krisis yang berkepanjangan sehingga menimbulkan perlawanan Amerika latin. Mulai dari munculnya para pemimpin Negara yang berani berteriak tidak kepada Amerika Serikat. Sosok seperti Hugo Chaves, Evo Morales, Fernando Lugo, Raffael Correa menjadi inspirator perlawanan Amerika Latin. Secara elektoral, mereka masuk dalam sistem untuk menguasai negara sebagai alat perlawanan terhadap kedigdayaan Amerika serikat. Kebijakan-kebijakan populis yang diterapkan seperti nasionalisasi aset-aset asing, reformasi agrarian dan beberapa kebijakan populis lainnya mampu membangkitkan semangat para rakyat untuk melawan hegemoni Amerika Serikat.
Varian-varian lain yang menjadi bentuk perlawanan Amerika Latin adalah dengan membentuk institusi untuk menandingi institusi Bretton Woods. Mereka membentuk Mercosur dan ALBA- alisansi Bolivarian untuk rakyat Amerika. Institusi tersebut mampu menjadi alternative bagi rakyat Amerika Latin. Institusi ini memberikan bantuan secara Cuma-Cuma kepada Negara di Amerika Latin yang tidak punya banyak modal untuk membangun kembali puing-puing negaranya yang dihancurkan oleh sistem kapitalisme yang dipaksakan oleh Amerika Serikat. Amerika latin dengan alternative perlawanannya mampu menyadarkan setiap orang bahwa kapitalisme belumlah menjadi sistem pemenang, Amerika Latin mampu mengalihkan perhatian Amerika Serikat bahwa ada banyak varian sisrtem yang tetap akan menggoyahkan dominasi sistem kapitalisme yang sudah dia ambang kehancuran.
No comments:
Post a Comment