July 31, 2023

Kematian (31)

Kematian selalu menjadi pelajaran paling ampuh untuk menurunkan semua ambisi yang membuncah di dalam hati. Berita kematian membuat kita tersadar bahwa semua yang sedang dijalani hanya merupakan kilatan cahaya yang nantinya tiba-tiba hilang begitu saja. Apalagi jika berita kematian dari orang yang lumayan dekat dengan kita dalam perjalanan waktu di masa lampau.

Pagi ini saya mendengar kabar kematian dari salah seorang tetangga depan rumah yang masih keluarga. Dia adalah seorang polisi yang lama bertugas di Poso. Dia memiliki istri namun belum dikaruniai seorang anak. Memang dia sudah lama menderita sakit diabetes dan bertarung dengan hidupnya.

Selama berinteraksi dengannya, dia merupakan pribadi yang baik dan tidak pernah ingin bermasalah dengan orang lain termasuk juga pribadi yang sabar. Kepergiannya kembali memberikan pelajaran bahwa hidup ini hanyalah perjalanan yang sangat singkat. 

Saya seharusnya sudah bisa memproyeksikan apa saja yang harus saya lakukan di dalam hidup yang singkat ini tanpa menghabiskan waktu untuk menyesali masa yang sudah lampau dan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi.

Kepergian akan selalu datang dan kita tidak pernah tahu dengan pasti kapan giliran kita menyusul ke kehidupan yang abadi. Saya hanya berharap semoga saja hidup saya tidak menyusahkan orang lain khususnya keluarga saya dan sebagai suami, saya selalu berdoa kepada Sang Maha Pemilik Rezeki agar saya diberikan rezeki yang cukup sebagai wasilah untuk mencukupi rezeki anak istri saya.

#31 Juli 2023

July 28, 2023

Khawatir Rezeki (28)

Senin kemarin, seperti biasa saya kembali ke Bandung untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tetapi ada yang berbeda dengan bawaan saya karena saya membaca begitu banyak makanan dengan asumsi bahwa nanti mengurangi biaya makanan saya di Bandung.

Pada perjalanannya, ternyata ada banyak acara di kampus sehingga saya mendapat makanan dan tidak harus mengeluarkan biaya makan sementara makanan yang saya bawa dari rumah ternyata tidak habis juga.

Akhirnya saat pulang ke Jakarta di akhir pekan, saya membawa pulang makanan yang sebelumnya saya rencanakan untuk dimakan di Bandung, bahkan ada makanan yang expired karena tanggal layak konsumsinya sudah lewat.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih bijaksana dalam menyikapi rezeki bahwa jangan sesekali khawatir apa yang akan dimakan esok hari karena sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pemberi Makan. Kita hanya perlu berusaha tanpa harus khawatir secara berlebihan.

#28 2023

July 27, 2023

Pulang Lebih Awal (27)

Hari ini saya pulang lebih awal. Biasanya saya mudik di akhir pekan tetapi karena awal pekan depan saya sudah harus masuk kampus, maka saya memutuskan untuk pulang lebih awal.

Di sepanjang perjalanan, saya merefleksikan perjalanan hidup saya tentang apa saja yang saya lalui. Waktu saya cukup banyak untuk melakukan sesuatu yang produktif namun ternyata masih belum optimal karena manajemen waktu yang kacau

#27 2023

July 23, 2023

Evaluasi Diri (23)

Saya tertohok ketika mendengar potongan diskusi Sabrang di salah satu akun youtube. Dia menekankan jangan sesekali merendahkan orang lain karena setiap orang punya kebenaran masing-masing. Manusia sering memandang orang lain dengan simbol yang melekat. Jika pejabat maka mereka hormat tetapi jika manusia yang tidak punya simbol fungsional yang mereka hormati maka mereka akan merendahkannya. 

Saya selalu berusaha untuk tidak merendahkan orang lain termasuk juga saya berusaha untuk tidak inferior di depan orang yang dianggap memiliki simbol duniawi yang layak dihormati misalnya orang kaya atau orang berpangkat. Saya akan selalu menempatkan semua manusia sesuai fungsinya.

Beberapa hari ini, saya mencoba untuk mengevaluasi diri saya termasuk cara saya berinteraksi dengan orang lain. Fase kehidupan yang sedang saya jalani sekarang lebih banyak di kampus sehingga ada beberapa orang yang sering saya temui.

Salah satu dari mereka ada rekan saya yang mungkin sebagian orang menganggapnya sulit tertebak. Saya juga pernah beberapa kali mengalami pengalaman yang menurut saya tidak terlalu baik yaitu sudah janjian dengan waktu yang sudah disepakati namun molor.

Hal yang ingin saya evaluasi adalah cara saya berinteraksi dengannya beberapa hari ini yang terlalu banyak bercanda. Beberapa kejadian kemarin mengingatkan saya bahwa dia sebenarnya sangat perasa dan menilai orang lain. Dia mengingatkan saya untuk tetap berada pada batas-batas yang seharusnya. Ada potongan cerita yang kemudian menyadarkan saya bahwa, "oke, saya sudah melewati beberapa titik batas yang seharusnya."

Setelah ini, saya akan kembali ke titik awal untuk menjalin relasi secara profesional dan tidak terlalu bercanda yang mungkin hanya akan merusak relasi pertemanan.

Ingatkan saya, Ya Allah.


#23 2023

July 22, 2023

PkM (22)

Hari yang cukup melelahkan dengan berbagai aktivitas yang harus dijalankan. Seminggu yang lalu, saya dan salah seorang rekan sudah merencanakan pelaksanaan PkM di salah satu komunitas sablon daerah Surapati. Kegiatan ini salah satu bentuk manifestasi dari tugas utama sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi.

Tentu ini merupakan pengalaman pertama saya melaksanakan PkM karena tahun lalu belum bergabung di kampus. Meskipun pengalaman pertama tetapi pengalaman saat kuliah S1 mengadakan berbagai kegiatan di tengah masyarakat sehingga paling tidak ada gambaran di kepala saya seperti apa kegiatan ini akan berlangsung.

Sebelumnya dijadwalkan akan diadakan setelah dhuhur namun saat konfirmasi kepada ketua komunitas, dia menyarankan untuk diadakan di pagi agar peserta bisa hadir. Alhasil waktu pelaksanaan diundur ke pagi hari. Sebenarnya secara pragmatis juga menguntung saya karena siang hari saya bisa langsung pulang ke Jakarta.

Kami tiba di lokasi sekitar 10 menit sebelum acara dimulai kemudian mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Pelaksanaan mundur 30 menit karena peserta dari pelaku komunitas terlambat datang.

Meskipun dengan peserta yang sangat minim, tidak mencapai 10 orang namun saya rasa bahwa acaranya cukup sukses. Saya pribadi belum terlalu maksimal tetapi semoga ini merupakan perjalanan awal untuk mematangkan diri karena memang tidak bisa instan. Saya terlalu terlambat untuk terjun di bidang ini sehingga harus sabar menunggu kematangan diri.

#22 2023

July 20, 2023

Identitas (20)

Kemarin saya ikut pengajian Asep Rahmat. Ada salah satu kisah yang beliau ceritakan yang sangat berbekas di memori saya. Beliau berkisah bahwa di tahun 2012 saat melaksanakan umrah, beliau menyempatkan ke Yordania. Saat sedang berada di ruang tunggu bandara Yordania, beliau duduk tidak jauh dari 4 orang arab yang merupakan satu keluarga. suami, istri dan kedua anaknya. Pakaiannya lengkap selayaknya orang arab.

Layaknya orang Indonesia yang suka menyapa orang lain meskipun tidak dikenal, beliau menyapa si bapak dengan sapaan standar, menanyakan kabar dan asal dari mana. keluarga tersebut ternyata berasal dari Ramallah, salah satu daerah yang selalu membara dengan konflik.

Si bapak tersebut yang lengkap dengan jubah orang arab pada umumnya kemudia menebak asal ust. Asep "dari Kuala Lumpur ya?" tebaknya. Tidak, saya dari Indonesia.

Mendengar kata Indonesia, si bapak yang duduk sekitar 4 kursi dari ust. Asep langsung berdiri dan memeluknya sambil mengusap kepala ust. Asep. Salah satu budaya orang Arab yang menunjukkan keakraban dan rasa sayang adalah mengusap kepala.

Terucap kalimat terima kasih dari mulut si bapak Arab sambil berkata bahwa Indonesia sudah begitu banyak mebantu Palestine mulai dari membangun sekolah, rumah sakit, fasilitas lain serta bantuan lainnya. 

Sepersekian menit, terdengar panggilan untuk boarding tujuan ke Kuala Lumput karena keluarga tersebut hendak ke Kuala Lumpur. Salah seorang anak menghampiri mereka mengingat bahwa pesawat sudah sebentar lagi akan berangkat.

Si bapak kemudian pamit dan sekilas mata ust. Asep melihat istri si bapak yang dari tadi duduk membaca kemudian bangkit berdiri, dan di sinilah satu hal yang snagat berkesan. Saat berdiri, kalung salib besar yang dikenakan oleh istri si bapak keluar dari jubahnya. Ust Asep juga baru menyadari bahwa bapaknyang tadi memeluknya menggunakan salib tetapi lebih kecil.

Ust Asep kemudian menyadari bahwa simbol pakaian syar'i yang kita kenal di Indonesia sebenarnya bukan murni identitas Islam tetapi identitas Arab karena kaum Nasrani Arab juga memakai pakaian yanv persis sama dengan orang Islam sementara mayoritas orang Indonesia menganggap bahwa pakaian seperti itu merupakan identitas Islam.

Kisah ust Asep juga mngafirmasi penelitian saya tentang konflik Palestina Israel bahwa konflik tersebut bukan karena faktor agama. Keluarga tadi yang merupakan orang Palestine-Nasrani pun merasa terbantu dengan Indonesia dan juga merasakan dampak invasi dari Israel.

 #20 203

July 19, 2023

Tahun Baru Islam (19)

Saya sudah begitu lama tidak menyadark bahwa saya sebenarnya tidak hafal kalender hijriyah. Sesuatu yang menurut saya fatal karena Islam mencakup semua hal dalam hidup saya termasuk sebagai identitas saya.

Penanggalan Hijriyah dimulai pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Jika kalender Masehi patokannya pergantian Matahari maka kalender Hijriyah berdasarkan pergantian bulan.

1. Muharram merupakan bulan pertama yang bermakna bahwa bulan yang diharamkan untuk berperang.

2 Safar

3. Rabiul Awal

4. Rabiul Akhir

5. Jumadil Awal

6. Jumadil Akhir

7. Rajab

8. Sya'ban

9. Ramadan

10. Syawal

11. Dzulkaidah

12. Dzulhijjah

#19 2023

July 15, 2023

Musibah (15)

Hari yang cukup melelahkan, baik fisik maupun psikis. Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia karena salah seorang keluarga melangsungkan pernikahannya di sebuah gedung daerah jalan Gatot Subroto. Saya sudah membayangkan bahwa acara akan berlangsung dengan sangat meriah dan dihadiri oleh tamu penting karena kedua mempelai bekerja di perusahaan yang bonafide.

Tetapi selalu adalah kejadian yang di luar kuasa kita dan itulah fungsinya doa. Siapa sangka bahwa acara yang sudah dibayangkan akan berlangsung dengan keceriaan, tiba-tiba berubah menjadi kepanikan sesaat setelah ijab kabul. 

Gedung terbakar di lantai 7 sementara acara pernikahan di gelar di lantai 5. Kebakaran cukup besar dan sebagian dinding luar gedung terbakar habis. 

#15 2023

July 11, 2023

Manusia (11)

"Cintailah orang yang engkau cintai, seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu. Bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak, dia akan menjadi orang yang kau cintai." (Ali bin Abi Thalib)

Seingat saya, dulu waktu masih duduk di sekolah dasar, salah satu pelajaran yang saya masih ingat sampai sekarang tentang pesan bahwa perang tersebut manusia adalah melawan diri sendiri. Sekian lama saya memikirkan maksud dari kalimat tersebut karena saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya melawan diri sendiri dan apa yang harus dilawan dalam diri.

Seiring berjalan waktu, saya semakin tidak percaya bahwa perang terbesar yaitu melawan diri sendiri karena saya melihat kenyataan bahwa ada sistem besar yang membuat manusia lain sengsara. Sekelompok orang yang memiliki otoritas bersekongkol dengan orang yang menguasai sumber daya kemudian membuat sebuah aturan yang semakin menyengsarakan rakyat kecil. Kenyataan yang saya saksikan membuat saya meyakini bahwa mereka adalah musuh besar yang seharusnya dilawan, bukan diri sendiri.

Perjalanan hidup saya kemudian berlanjut dan usia yang semakin menua kemudian memberikan pelajaran bahwa memang ternyata melawan diri adalah perang terbesar dalam hidup seorang manusia. Ada begitu banyak musuh besar dalam diri yang harus dikalahkan dan ditundukkan agar tidak merusak kehidupan ini.

Kita selalu berada dalam medan perang berkepanjangan. Lengah sedikit maka kita akan dihantam nafsu yang selalu siap menerkam. Sadar diri sepanjang waktu menjadi senjata paling ampuh meskipun pada dasarnya, jarang sekali manusia yang selalu berada dalam keadaan sadar. Itulah kenapa Tuhan memberikan beberapa instrumen untuk menambal kondisi tidak sadar seperti doa atau istighfar.

Ada cerita seorang alim di sebagian besar perjalanan hidupnya namun tergelincir di ujung nafas sehingga dia dikenang sebagai manusia yang merugi. Di lain cerita, ada juga manusia yang berada dalam keadaan tidak sadar namun di ujung hidupnya, dia menyadari diri hakikat hidupnya sehingga menjadi manusia yang beruntung.

#11 2023

July 10, 2023

Kebebasan (10)

Di atas mobil travel menuju Bandung ketika malam sudah sangat larut, saat itu mobil 344 baru saja keluar dari rest area untuk cek point dan kembali melaju di jalan tol yang dipadati kendaraan. Sambil mendengarkan lagu andalan dari sang legenda, Broery Marantika, saya memejamkan mata sambil merefleksikan kehidupan saya enam bulan terakhir sejak memutuskan untuk pindah kerja ke Bandung. Keputusan tersebut memaksa saya menjalani LDM sehingga saya harus menyiapkan energi yang berkali lipat untuk bolak balik Jakarta-Bandung setiap akhir pekan dengan catatan jika tidak ada tugas tambahan di hari Sabtu.

Keputusan yang tentu saja memiliki sisi positif dan negatif tetapi di tulisan ini, saya tidak ingin curhat apa saja hal positif maupun hal negatif dari keputusan yang sudah saya ambil. Saya hanya ingin membagikan satu sisi dari hasil refleksi saya tentang apa yang sedang saya jalani sekarang.

Kebebasan...!!!

Menikah seringkali dimaknai oleh sebagian pihak sebagai kondisi yang membuat seseorang merelakan kebebasannya berkurang. Menikah dianggap menawan kebebasan yang selama ini dimiliki oleh orang yang tidak/belum menikah. Saya pun dalam beberapa kali kesempatan merasa bahwa ada hal-hal tertentu atau banyak hal yang membuat kebebasan kita berkurang ketika sudah menikah karena ada komitmen yang dijaga. Kondisi seperti itu merupakan konsekuensi dari keputusan-keputusan hidup yang memang harus dijalani.

Bahkan mungkin ada orang yang memutuskan bercerai karena kaget atau belum bersedia untuk mengkompromikan kebebasannya dengan komitmen yang sudah diputuskan. Sah-sah saja karena setiap orang punya preferensi masing-masing dan memiliki kapasitas pribadi menjalani hidupnya. Meskipun saya yakin bahwa di sisi lain, mereka kehilangan sesuatu yang bermakna.

Benarkah menikah mengurangi kebebasan seseorang?

Nah ini yang menjadi tanda tanya besar. Saya yang hidup sendiri di Bandung dan menyewa sebuah kamar kos tanpa pengawasan dari istri, seharusnya memiliki kebebasan yang tak terbatas. Saya bisa pulang ke kos jam berapa pun saya mau dan bisa ke mana saja tanpa ada kewajiban pulang lebih awal. Toh saya tidak melakukan itu bahkan saya merasa sangat bosan hidup dengan kebebasan yang baru. Saya tetap pulang ke kos lebih awal dan menghabiskan banyak waktu di kos sambil mengeja waktu dan menunggu akhir pekan untuk kembali ke rumah.

Ternyata semua kebebasan yang saya miliki sekarang hanyalah ilusi. Saya tetap merindukan hidup dalam pengawasan istri dan  menikmati teguran istri ketika pulang larut malam ke rumah. Kebebasan hanya persoalan perspektif. Orang yang tidak diawasi oleh siapa-siapa belum tentu merasa bebas, pun demikian sebaliknya bahwa orang yang diawasi oleh orang tua atau pasangannya, bisa jadi merasa sangat bebas. 

Argumen saya tersebut diafirmasi dengan kenyataan bahwa semakin menua seseorang maka semakin kecil lingkaran pertemanannya. Entah dia menikah atau memilih untuk tidak menikah, maka saya yakin bahwa tetap saja lingkaran pertemanannya akan mengecil dan membatasi ruang geraknya untuk melakukan kebebasan yang absolut. Orang yang memilih untuk hidup tanpa menikah, akan mendambakan hidup yang dibatasi, entah dari istri atau dari orang tua. Persoalannya ketika umur semakin bertambah, orang tua tidak lagi membatasi seketat ketika memiliki pasangan.

Orang yang memilih bercerai atau meninggalkan rumah orang tua dengan dalih ingin bebas, maka saya yakin bahwa semakin tidak bebas perasaannya. Dia akan kembali merindukan hidup yang berada dalam pengawasan entah dari orang tua atau dari pasangan.

Itulah kenapa saya mempercayai bahwa kesendirian itu tidak semata bermakna kebebasan tetapi ada makna lain yaitu kesepian. Orang yang memilih menyendiri tidak serta merta dianggap sebagai orang yang bebas tetapi bisa saja dia berperang dengan kesepiannya.

Kutipan kalimat Socrates yang sudah sangat mainstream dijadikan pilihan kalimat untuk mengajak seseorang menikah:

By all means, marry. If you get a good wife, you’ll become happy; if you get a bad one, you’ll become a philosopher.

#10 2023

July 9, 2023

Kota ini (9)

Saya sudah beberapa bulan menetap di kota ini dan entah sampai kapan saya akan tinggal di sini. Saya pun tidak inging terlalu berangan-angan akan masa depan yang misterius. Saya hanya bisa menjalani setiap hari demi hari ini meneguhkan hidup sebagai sebuah perjalanan menuai semua hikmah yang bertebaran di bumi ini.

Di kota ini, saya merasa belum menemukan fase menikmati kota ini dengan segala dinamikanya. Masih ada rasa seperti ingin menemukan kota yang lebih sederhana dan tidak berjalan dengan terburu-buru. Saya menganggap bahwa hidup sebenarnya berjalan dengan segala seninya.

Entah mengapa, mungkin juga karena di kota ini saya hidup sendiri dan jauh dari keluarga. Tidak ada anak istri yang ditemui ketika pulang dari kantor selain rasa hampa yang ada di kamar kos dan beberapa buku yang bertebaran.

Hidup memang selalu tidak sesuai dengan harapan.

#9 2023

July 8, 2023

Diskusi Politik (8)

Malam ini sebagaimana rutinitas malam minggu sebelumnya, saya memiliki jadwal diskusi buku dengan teman-teman dari Makassar secara online. Biasanya menggunakan media zoom namun kali ini, salah seorang teman yang sering memfasilitasi media zoom sedang berhalangan sehingga kami memutuskan untuk menggunakan google meet. 

Hanya ada empat orang teman yang meluangkan waktu hadir di diskusi malam ini termasuk saya. Tidak ada yang bersedia untuk membagikan hasil bacaannya sehingga untuk memantik diskusi, saya terpaksa menshare hasil bacaan saya tentang Agama, Demokrasi, dan Politik Kekerasan yang ditulis oleh prof Haedar. Sebenarnya saya belum selesai membaca semua isi buku namun karena tidak ada yang bersedia maka setidaknya hasil bacaan saya yang masih sedikit bisa menstimulasi teman-teman yang hadir untuk diskusi tentang tema yang saya ajukan.

Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan prof Haedar di media Republika pasca reformasi sampai saat ini, sehingga di beberapa tulisan tersebut, nuansa situasi politik Indonesia era orde baru masih sangat terasa seperti bahasan tentang dwifungsi ABRI dan analisis tentang arah reformasi yang baru saja lahir. Selain itu juga, prof Haedar mengidentifikasi situasi politik pasca reformasi termasuk polarisasi di antara golongan di tengah masyarakat dalam menyikapi reformasi.

Diskusinya berjalan lancar namun teman-teman yang hadir menanggapi dengan pertanyaan, tidak dengan referensi yang lain, sementara saya berharap bahwa diskusinya berjalan dengan baik dan peserta yang lain memberikan informasi atau pandangan yang bisa memperkaya khasanah keilmuan tentang tema besar yang sedang didiskusikan.

salah seorang teman bahkan menanyakan kepada saya bahwa apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa dalam sistem demokrasi yang memungkinkan semua orang bisa menyuarakan pendapatnya.

Saya menanggapi bahwa sebagai warga negara, kita punya porsi yang berada di dalam jangkauan kita misalnya mengkritisi kebijakan publik dengan menawarkan solusi atau juga tanpa solusi namun bisa memetakan persoalan yang ada.

# 8 2023

July 7, 2023

Tentang Mengajar (7)

Ini tentang keputusan hidup untuk menjalani sebuah profesi yang berhubungan dengan orang lain. Artinya bahwa ada tanggung jawab lebih yang harus diemban dalam menjalani profesi ini. Jika ada hal yang keliru maka dampaknya cukup besar.

Saya memilih menjadi seorang pengajar dengan beberapa pertimbangan salah satunya agar saya bisa terus memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan diri. Tetapi di sisi yang lain, ada kekhawatiran jika dalam proses pengajaran yang saya lakukan, ada misinformasi yang saya sampaikan dan tentu itu sangat berpengaruh terhadap anak didik.

#7 2023