Di atas mobil travel menuju Bandung ketika malam sudah sangat larut, saat itu mobil 344 baru saja keluar dari rest area untuk cek point dan kembali melaju di jalan tol yang dipadati kendaraan. Sambil mendengarkan lagu andalan dari sang legenda, Broery Marantika, saya memejamkan mata sambil merefleksikan kehidupan saya enam bulan terakhir sejak memutuskan untuk pindah kerja ke Bandung. Keputusan tersebut memaksa saya menjalani LDM sehingga saya harus menyiapkan energi yang berkali lipat untuk bolak balik Jakarta-Bandung setiap akhir pekan dengan catatan jika tidak ada tugas tambahan di hari Sabtu.
Keputusan yang tentu saja memiliki sisi positif dan negatif tetapi di tulisan ini, saya tidak ingin curhat apa saja hal positif maupun hal negatif dari keputusan yang sudah saya ambil. Saya hanya ingin membagikan satu sisi dari hasil refleksi saya tentang apa yang sedang saya jalani sekarang.
Kebebasan...!!!
Menikah seringkali dimaknai oleh sebagian pihak sebagai kondisi yang membuat seseorang merelakan kebebasannya berkurang. Menikah dianggap menawan kebebasan yang selama ini dimiliki oleh orang yang tidak/belum menikah. Saya pun dalam beberapa kali kesempatan merasa bahwa ada hal-hal tertentu atau banyak hal yang membuat kebebasan kita berkurang ketika sudah menikah karena ada komitmen yang dijaga. Kondisi seperti itu merupakan konsekuensi dari keputusan-keputusan hidup yang memang harus dijalani.
Bahkan mungkin ada orang yang memutuskan bercerai karena kaget atau belum bersedia untuk mengkompromikan kebebasannya dengan komitmen yang sudah diputuskan. Sah-sah saja karena setiap orang punya preferensi masing-masing dan memiliki kapasitas pribadi menjalani hidupnya. Meskipun saya yakin bahwa di sisi lain, mereka kehilangan sesuatu yang bermakna.
Benarkah menikah mengurangi kebebasan seseorang?
Nah ini yang menjadi tanda tanya besar. Saya yang hidup sendiri di Bandung dan menyewa sebuah kamar kos tanpa pengawasan dari istri, seharusnya memiliki kebebasan yang tak terbatas. Saya bisa pulang ke kos jam berapa pun saya mau dan bisa ke mana saja tanpa ada kewajiban pulang lebih awal. Toh saya tidak melakukan itu bahkan saya merasa sangat bosan hidup dengan kebebasan yang baru. Saya tetap pulang ke kos lebih awal dan menghabiskan banyak waktu di kos sambil mengeja waktu dan menunggu akhir pekan untuk kembali ke rumah.
Ternyata semua kebebasan yang saya miliki sekarang hanyalah ilusi. Saya tetap merindukan hidup dalam pengawasan istri dan menikmati teguran istri ketika pulang larut malam ke rumah. Kebebasan hanya persoalan perspektif. Orang yang tidak diawasi oleh siapa-siapa belum tentu merasa bebas, pun demikian sebaliknya bahwa orang yang diawasi oleh orang tua atau pasangannya, bisa jadi merasa sangat bebas.
Argumen saya tersebut diafirmasi dengan kenyataan bahwa semakin menua seseorang maka semakin kecil lingkaran pertemanannya. Entah dia menikah atau memilih untuk tidak menikah, maka saya yakin bahwa tetap saja lingkaran pertemanannya akan mengecil dan membatasi ruang geraknya untuk melakukan kebebasan yang absolut. Orang yang memilih untuk hidup tanpa menikah, akan mendambakan hidup yang dibatasi, entah dari istri atau dari orang tua. Persoalannya ketika umur semakin bertambah, orang tua tidak lagi membatasi seketat ketika memiliki pasangan.
Orang yang memilih bercerai atau meninggalkan rumah orang tua dengan dalih ingin bebas, maka saya yakin bahwa semakin tidak bebas perasaannya. Dia akan kembali merindukan hidup yang berada dalam pengawasan entah dari orang tua atau dari pasangan.
Itulah kenapa saya mempercayai bahwa kesendirian itu tidak semata bermakna kebebasan tetapi ada makna lain yaitu kesepian. Orang yang memilih menyendiri tidak serta merta dianggap sebagai orang yang bebas tetapi bisa saja dia berperang dengan kesepiannya.
Kutipan kalimat Socrates yang sudah sangat mainstream dijadikan pilihan kalimat untuk mengajak seseorang menikah:
By all means, marry. If you get a good wife, you’ll become happy; if you get a bad one, you’ll become a philosopher.
#10 2023