After writing in bahasa for a month, I'm going to write my daily life in english during next month in February. Writing in english is one of my effort to make it habit because I have to do it in supporting my academic writing.
January 31, 2023
January 30, 2023
Penelitian (30)
Setelah menyelesaikan tugas sampai setengah 2 subuh, tugas lain sudah menanti. Saya harus menyelesaikan proposal penelitian untuk disubmit. Lumayan menguras energi namun saya menikmatinya karena beberapa faktor, selain karena sesuai dengan apa yang saya impikan, juga karena saya sudah bisa fokus pada pekerjaan ini. Tidak ragu atas apa yang harus saya kerjakan.
Saya sedang menyusun sebuah proyeksi masa depan. Semacam step untuk menggapai setiap tangga yang harus saya kerjakan untuk sampai pada satu tujuan yang memang sudah saya impikan. Namun terlepas dari itu semua, saya sudah berikrar bahwa ini semua hanya cara menjalani hidup dan tujuan utama yang saya ingin gapai adalah bagaimana mendapat ridhaNya.
Saya ingat tahun lalu ketika masih berada di perusahaan sebelumnya, saya memimpikan bidang pekerjaan yang sekarang saya jalani maka seharusnya saya lebih banyak bersyukur dengan cara berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya.
Hidup itu adalah perjuangan karena setiap fase yang dijalani membutuhkan kerja keras dan komitmen yang kuat. Hidup bukan sebuah tujuan karena jika hidup merupakan tujuan maka manusia akan berhenti untuk bergerak. Ketika kita memimpikan sesuatu maka harus dipahami bahwa saat tiba di sebuah kondisi yang kita impikan maka persiapkan diri dengan segala kemampuan untuk menjalani kondisi yang kita impikan sebab tentu kondisi tersebut membutuhkan perjuangan.
Misalnya seseorang bercita-cita menjadi Tentara, maka tentu ketika mereka sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang Tentara, maka butuh energi yang lebih untuk menjalani apa yang mereka cita-citakan. Menjadi tentara bukan tujuan akhir namun sebuah proses perjuangan.
Jadi apa sebenarnya tujuan kita?
Tentunya dunia ini bukan tujuan namun perjuangan untuk mengisinya dengan nilai-nilai yang kita pahami dan berbeda-beda setiap manusia yang menjalaninya. Ada yang berjuang untuk keluarga, ada yang berjuang untuk masyarakat, dan berbagai perjuangan lain yang sangat kontekstual dengan kehidupan masing-masing pribadi yang menjalaninya.
Bagi umat yang mempercayai suatu agama, tentu tujuannya adalah kehidupan setelah dunia ini dan itu merupakan kehidupan kekal di mana manusia menikmati jerih payahnya di dunia ini.
#30 2023
January 29, 2023
Baraya (29)
Perjalanan kembali ke kota tempat bekerja selalu berat. Ada rasa yang susah diungkapkan untuk harus meninggalkan keluarga seminggu ke depan. Meskipun tetap saja pulang di weekend, tetap saja bahwa jiwa serasa melayang.
Rasa seperti ini sudah pernah saya rasakan sejak mulai meninggalkan rumah saat tamat SMA dan kuliah di kota. Setiap kali mudik selalu menyenangkan karena kembali ke rumah namun ketika waktunya kembali ke kota, rasanya begitu berat meninggalkan orang tua. Rasa seperti itu kembali muncul sejak saya bekerja di kota lain dan harus terpisah dari anak istri.
Saya kembali ke kota tempat bekerja, menggunakan jasa travel langganan. Hanya ada tiga penumpang di atas mobil sehingga memungkinkan bagi saya untuk tidur di kursi belakang sambil selonjoran. Saya menghabiskan perjalanan dengan tidur sampai menjelang tempat tujuan.
Seperti biasa, perjalanan kami lancar sampai tujuan meskipun tetap harus berdoa karena saya tiba di kota tujuan tepat jam 12 malam sedangkan saya masih harus menumpang ojek online menuju kos dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Perjalanan berat tersebut seringkali saya hapus dengan komitmen bahwa saya memilih pilihan ini dengan sadar tanpa paksaan dari siapa pun. Pilihan ini untuk mengisi hidup yang menurut saya sesuai dengan ide dan nilai yang saya percayai. Maka dengan ini, tidak seharusnya halangan ini menghilangkan niat awal saya karena sejatinya, setiap apa yang diusahakan memiliki tantangannya masing-masing. Tidak ada yang mudah untuk setiap pekerjaan yang harus dijalani.
#29 2023
January 28, 2023
Diskusi (28)
Saya selalu menghabiskan malam minggu dengan rutinitas diskusi dengan beberapa teman melalui media zoom. Diskusi ini semacam relaksasi setelah bekerja 5 hari dan tidak memberikan ruang bagi diri untuk merefleksikan apa yang dijalani.
Malam ini, kami banyak membahas tentang tema psikologi. Tema yang pada dasarnya tidak terlalu saya kuasai namun karena diskusinya tidak formal sehingga setiap dari kami bebas mengutarakan apa saja yang ada di kepala.
Ketika saya diberi kesempatan memberikan argumen tentang tema malam ini, saya membahas tentang diri saya yang saya alami selama ini. Perasaan yang benar-benar saya rasakan bahkan sampai pada titik ini. Fase di mana seharusnya sudah bisa menata hati namun saya masih bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.
Kenapa saya di sini? apakah sudah benar yang saya lakukan? apakah saya terlalu ambisi sehingga hati terasa kosong? Dan serangkaian pertanyaan yang sifatnya privasi menyeruak di kepalaku.
Sepuluh tahun terakhir, saya benar-benar bergulat dengan diri sendiri. Semacam mempertanyakan makna hidup yang kujalani dan membenci banyak hal termasuk perasaan ingin membuktikan diri kepada dunia. Lalu setelah semua tercapai, kembali menjadi kosong dan hati terasa hampa.
#28 2023
January 27, 2023
Baraya (27)
Travel ini sudah saya akrabi sejak dua minggu lalu dan kemungkinan untuk beberapa bulan ke depan, saya akan semakin akrab dengan travel ini. Pulang ke rumah jumat sore kemudian berangkat lagi di minggu malam. Tentunya ini sebuah pilihan sadar yang sudah saya perkiraan sebelumnya. Saya sebisa mungkin tidak akan menyesali apa yang sudah saya putuskan sendiri.
Setelah seharian menghabiskan energi karena hari ini penutupan diklat sekaligus peer teaching, waktunya untuk pulang ke rumah. Sejak pagi, saya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjalani tes yang menurut saya cukup menyita energi.
Tes saya berlangsung dengan baik dan lancar meskipun menurut saya bahwa masih banyak kekurangan yang seharusnya saya perbaiki. Ada poin-poin penting yang masih terlewatkan namun setidaknya saya sudah mencobanya.
Di perjalanan sepanjang tol di dalam mobil travel, saya kemudian mendengarkan kembali rekaman saya yang memang sengaja saya rekam sebagai bahan evaluasi atas kekurangan yang masih saya alami. Benar saya bahwa menurut pendengaran saya, ada hal-hal yang ke depannya akan saya evaluasi sendiri.
***
Oh iya, travel ini selalu menjadi pilihan saya untuk pulang rumah karena sewa yang murah dibandingkan dengan kereta api. Selain itu, pool travel ini sangat dekat dengan rumah saya sehingga saya tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah ketika turun dari travel.
Saya tiba di rumah lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena beberapa saat sebelum memasuki Jakarta, hujan cukup deras sehingga jalanan tidak terlalu padat. Untungnya saat tiba di pemberhentian travel, hujan sudah reda sehingga saya bisa dengan nyaman memesan ojek online tanpa harus memakai jas hujan.
#Baraya
#27 2023
January 26, 2023
Burnout (26)
Hari ini menjadi momen yang cukup melelahkan. Bagaimana tidak, sejak setengah delapan pagi, saya sudah menatap laptop dalam rangka mengikuti materi diklat via zoom. Siang hari istirahat sejam kemudian dilanjutkan sampai setengah 5 sore.
Sebenarnya materi sudah selesai di sore hari namun karena ada tugas yang harus diselesaikan esok hari, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk mengerjakan tugas di kampus. Jam menunjukkan setengah sepuluh malam namun tak kunjung kelar. Bukannya menunda namun lebih karena saya belum memahami tugas yang diberikan.
Saya memutuskan izin pulang sedangkan dua teman saya masih bertahan menyelesaikan tugas sampai setengah sebelas malam. Cukup melelahkan namun karena ini pilihan profesi yang saya putuskan maka saya tidak boleh mundur sampai pada batas maksimal kemampuan saya.
Sesampai di kos, saya rencana melanjutkan untuk mengerjakan tugas namun ternyata badan sudah tidak berkompromi.
***
Setiap kali ingin mengeluh atas tantangan yang saya hadapi, saya selalu mengingat kembali niat saya memilih tempat ini untuk berkarir dan alasan saya kenapa mundur dari perusahaan sebelumnya. Klise mungkin namun begitulah adanya, ada nilai yang saya pegang dan sedikit tidak sesuai dengan pekerjaan saya sebelumnya sehingga memutuskan untuk pindah meskipun sudah lama dan gaji yang sudah stabil.
Saya sedang berusaha membangun karakter diri untuk tidak terlalu terburu-buru dengan semua yang ada di depan. Tidak terseret dalam kegelisahan atas ambisi yang tak terkejar. Saya ingin tetap bekerja maksimal dengan tujuan yang sudah saya tetapkan bahwa akan istiqomah di jalan yang mudah-mudahan diridhai oleh Allah.
#26 2023
January 25, 2023
Academic Environment (25)
Long time before decide to resign from my previous workplace then move to the other place, I ensure myself that every single workplace has a unique things. But I had to leave it because something reason that I can't write out here. but anyway it didn't relate with my colleagues or boss but come from my bottom heart.
Whatsover, now I'm a part of academic field. It mean that I should be a astonishing lecturer eventhough there are so many things that I have to learn to be a master in my subject and I'm sure that I can engage with my new routine.
Regadless of my duty, I'm really surprised when I realize that this workplace environment is so unconducive. I always imagine that academic field is a place that all the people being a good man and create a enjoyable place.
I find a dark side of the academic field. It's not like what I imagine before about that field.
#25 2023
January 24, 2023
Pekerti (24)
Seminggu ini, saya mengikuti diklat pekerti. Salah satu proses yang harus saya lalui untuk memastikan bahwa keputusan saya pindah di bidang ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sebagaimana diklat pada umumnya, tentunya berbagai materi dan tugas harus saya jalani dan kerjakan namun pada hari terakhir diklat, akan ada proses pengajaran untuk memastikan bahwa peserta sudah menjalani diklat dengan baik.
Malam ini, saya masih menimbang materi apa yang harus saya bawakan karena tentunya ini menjadi ujian tersendiri. Pada dasarnya ada solusi jitu yaitu membawakan penelitian saya yang sudah beberapa kali saya uji di depan publik dan tentunya ini akan memudahkan saya, namun saya berpikir jika materi tersebut yang saya bawakan, maka tidak ada progres dalam diri saya yang bisa saya ukur.
Saya sedang berusaha untuk menyelaraskan materi yang akan saya bawakan dengan materi yang nantinya benar-benar menjadi tanggung jawab saya. Selain sebagai sebuah proses untuk menguji kemampuan saya pada materi lain, juga sebagai ajang untuk mengasah keterampilan saya nantinya jika harus bertanggung jawab dalam membawakan materi tersebut di lapangan.
Semoga saja hari terakhir, mungkin jum'at, bisa saya jalani dengan baik dan benar dan tidak meninggalkan kesan yang kurang terampil. Tentunya kekhawatiran itu ada di sudut hati paling dalam karena saya belum benar-benar terjun di dalamnya namun sudah harus melalui diklat yang biasanya ditujukan untuk para senior yang berkecimpung terlebih dulu.
#24 2023
January 23, 2023
Rumus Kehidupan (23)
Kemarin, saya menghadiri acara keluarga besar dari istri yang akan mengadakan pernikahan. Tidak hanya satu namun sekaligus dua dari saudari sepupu istri saya yang rencananya akan melangsungkan pernikahan di tahun ini.
Acara kemarin baru dalam tahap perkenalan keluarga dan penentuan tanggal lamaran. Sebuah acara yang seharusnya normal saja bagi sebagian orang. Semua orang sudah menyadari bahwa proses pernikahan di Indonesia melalui proses perjalanan yang panjang dan menghabiskan banyak biaya.
Namun demikian, saya tetap kaget mendengar pembicaraan antara keluarga besar istri sesaat setelah acara perkenalan keluarga. Mulai dari acara lamaran dengan segala tetek bengek dan estimasi biaya yang di luar prediksi saya, kemudian acara inti dengan berbagai embel-embel dan biaya yang lebih besar lagi.
Pada dasarnya, wajar saja karena keluarga besar istri termasuk kelas menengah ke atas yang cukup mapan dengan berbagai investasi yang tersebar baik yang mendatangkan passive income maupun investasi lain dalam bentuk tanah. Selain itu, mereka hanya mempunyai dua anak sehingga tidak terlalu memusingkan biaya pendidikan anaknya.
Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan rumus kehidupan yang menurut saya tidak bisa dikalkulasikan dengan akal pikiran. Bukan tentang pengeluaran biaya nikah yang besar namun tentang kondisi keluarga besar istri yang cukup mapan dan semua anaknya tidak neko-neko sedangkan mertua saya satu-satunya dari keempat saudaranya yang dari segi finansial, cukup jauh gap nya.
#23 2023
January 22, 2023
Insecure (22)
Beberapa tahun terakhir ketika menyadari bahwa saya sudah terlalu lama terpaku pada satu bidang pekerjaan, terkadang timbul perasaan inferior di dalam diri. Melihat orang yang lebih muda sudah mencapai posisi tertentu sedangkan saya stagnan pada posisi yang sama selama hampir sembilan tahun. Saya tidak bisa memastikan bahwa apakah itu sebuah kegagalan atau diri saya yang terlalu banyak pertimbangan.
Setelah pindah bidang dan memulai dari awal, perasaan itu semakin kuat karena mentor saya di tempat baru selisih umurnya hampir delapan tahun di bawah saya. Sebuah perasaan yang dalam kadar tertentu masih manusiawi karena semua orang menginginkan progres dalam setiap fase kehidupan termasuk juga karir. Jika hati tidak ditata dengan baik, perasaan inferior itu bisa merusak dan semakin menenggelamkan diri.
Namun kemudian, saya menyadari bahwa hidup bukan semacam lomba lari. Masing-masing orang mempunyai kecepatan yang berbeda dalam menjalankan fungsinya di dunia ini. Tidak harus menengok ke samping untuk menjatuhkan semangat diri karena semakin itu dilakukan, maka progres akan semakin jauh.
Kemudian apa yang perlu dilakukan?
Fokus pada tujuan diri sendiri. Melihat ke depan apa yang akan dicapai dan menjalankan setiap prosesnya tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, jangan sesekali mundur ketika menemui halangan dan rintangan karena hidup itu itu sendiri merupakan fase dari satu rintangan ke rintangan yang lain. Tidak ada yang mudah dalam hidup ini selain ketika kita sudah mati. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa pun sudah merupakan sebuah rintangan.
Saat ini, rintangan saya adalah menjalani proses menjadi seorang tenaga pendidik yang baik. Pengalaman yang minim dalam bidang ini tentunya semakin menambah rintangan yang harus saya selesaikan apatahlagi akan berhadapan dengan manusia yang tentunya mempunyai kepribadian yang berbeda.
#22 2023
January 21, 2023
Anak Sakit (21)
Salah satu kekhawatiran terbesar meninggalkan rumah dan bekerja di luar kota adalah ketika anak sakit dan butuh sosok seorang ayah, minimal ada di sampingnya untuk menghiburnya. Biasanya kecemasan serupa juga dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan di rumah.
Kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan. Setelah dua minggu lamanya mulai bekerja di kota lain, untuk pertama kalinya anak saya sakit demam. Sejak dulu dia sering demam namun karena saya ada di rumah jadi saya bisa melihat setiap perkembangannya. Kali ini saya jauh dan hanya mengontrol kondisinya melalui kabar dari ibunya.
Esok hari, demamnya bahkan mencapai 40 derajat celcius, cukup tinggi untuk ukuran anak-anak bahkan untuk ukuran suhu badan segitu, terkadang anak-anak seperti menggigil dan mengigau. Dia pernah mengalami demam yang cukup tinggi dan hampir pingsan di rumah sakit.
#21 2023
January 20, 2023
Kuliah (20)
Sejak memutuskan untuk menenggelamkan diri di dunia pendidikan dan berharap bisa menuntaskan karir di dunia pendidikan. Saya kemudian menyusun beberapa strategi yang akan saya jalani untuk mematangkan diri dan bisa berkontribusi di dunia pendidikan.
Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa keputusan untuk menenggelamkan diri di pendidikan bukan perkara mudah karena butuh adaptasi dan effort yang besar. Pengalaman bekerja di korporasi bisa menjadi modal untuk melanjutkan karir di pendidikan namun tidak semua hal bisa diterapkan. Memang ada beberapa hal dari pengalaman bekerja di korporasi yang bisa digunakan di bidang pendidikan misalnya profesionalitas, namun terdapat beberapa hal yang tentunya tidak sinkron.
Meninggalkan dunia industri dengan gaji bulanan yang sudah settle kemudian pindah ke dunia pendidikan dengan gaji yang hanya sekitar sepertiga dari gaji di korporasi, menjadi tantangan tersendiri. Ada semacam penataan hati ketika melihat angka di slip gaji yang jauh berkurang, namun demikian, saya harus meyakinkan hati bahwa niat pindah bukan gaji tetapi membawa nilai hidup untuk ketenangan diri.
***
Jika di dunia industri, saya tidak dituntut untuk melanjutkan kuliah, namun ketika memutuskan di dunia pendidikan, sebuah keharusan untuk sekolah lagi di tingkat selanjutnya. Menjadi akademisi artinya bahwa siap untuk menghabiskan sebagian besar waktu untuk belajar dan mengembangkan diri dalam berbagai hal. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan di negeri ini tidak dijalankan apa adanya namun harus ada nilai lebih.
Saya berharap dan berdoa kepada Sang Maha, semoga saja di tahun kedua, ketika sudah memahami pola dan proses di bidang ini, saya bisa melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya di salah satu kampus di luar negeri. Semoga keputusan ini mendatangkan kebaikan untuk anak istri, tidak malah sebaliknya.
Saya berdoa semoga semangat ini tidak luntur di tengah jalan dan tidak cepat angkat tangan ketika menemui tantangan termasuk persoalan finansial. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya butuh dukungan finansial untuk menyelaraskan kehidupan keluarga dan profesi saya namun saya juga meyakini bahwa uang bukan soal hitung-hitungan, tetapi Semesta punya cara tersendiri untuk mencukupkan kebutuhan kita akan uang.
Kuliah lagi tentunya akan menjadi fase kehidupan selanjutnya di dua atau tiga tahun mendatang. Jika sebelumnya saya kadang ragu melanjutkan kuliah karena khawatir akan tanggung jawab namun saat ini, saya menyadari bahwa kuliah setinggi apa pun atau tidak kuliah sama sekali, manusia akan tetap memiliki tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan.
Kuncinya terletak pada kesungguhan kita sebagai manusia untuk melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita masing-masing.
#20 2023
January 19, 2023
Menjaga Lisan (19)
Salah satu petaka paling berbahaya ketika manusia tidak mampu menjaga lisan. Ucapan yang terlontar biasa berbekas dalam waktu yang lama bagi orang yang mendengarnya. Maka alangkah bijak ketika setiap apa yang diucapkan bisa ditakar dengan matang dan tidak membuat orang lain terluka atas setiap lisan yang terucap.
Bukan, ini bukan tentang isu kritikan cak Nun terhadap presiden yang sedang trending di twitter. Sama sekali bukan.
Tulisan ini murni sebagai pengingat bagi diri pribadi karena tadi ketika di kampus, ada beberapa kalimat dan pertanyaan kepada kolega seharusnya tidak perlu kutanyakan. Apalagi aku sedang berintis tangga karir di tempat ini dan sedang berada di pijakan awal. Jika terlalu mencampuri hal-hal non teknis yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan karirku, maka nantinya akan menjadi batu sandungan yang seharusnya tidak terjadi.
Seiring dengan umur yang semakin menua, aku mulai menata semua apa yang harus aku ucapkan. Bukan tentang benar atau tidak namun tentang apakah itu baik untuk orang lain. Menakar semua hal yang harus saya ucapkan apalagi untuk diucapkan.
Aku mempunyai begitu banyak waktu luang untuk berbicara dengan diriku karena sedang menyepi sendiri di kos. Praktis senin sampai jum'at merupakan hari-hari kesendirian dan seharusnya bisa saya manfaatkan untuk lebih banyak merefleksikan hidup.
Kesendirian tidak selalu mendatangkan hasil refleksi dalam hidup seseorang, namun terkadang kesepian itu menelurkan sebuah perasaan bebas untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan merusak diri.
Kesendirian dan kesepian sebenarnya dua hal yang berbeda. Kesendirian sifatnya lebih pada keadaan seseorang di ruang dan waktu tanpa ada orang lain di sampingnya sedangkan kesepian itu urusannya dengan hati. Bisa saja orang berada dalam kesendirian namun tidak kesepian karena hatinya sibuk untuk menakar diri dan hidupnya bahkan sibuk bercengkerama dengan Tuhannya.
Seseorang yang berada di dalam keramaian bisa saja kesepian jika hatinya kosong dan tidak tahu tujuannya.
Maka selama berada dalam kesendirian, saya mencoba untuk melihat jauh ke dalam diri saya, apa sebenarnya yang harus saya tuju di dunia ini agar hidup lebih bermakna. Dalam artian tidak harus sesuatu yang luar biasa di mata manusia namun lebih pada kemanfaatannya.
Menjaga lisan adalah satu satu refleksi termasuk juga langkah awal untuk menentukan arah ke depan. Lisan seringkali menjadi batu sandungan jika tidak dijinakkan.
#19 2023