October 24, 2020

Kedaulatan Diri

Diri kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk hal yang nampaknya tidak kita butuhkan, alih-alih bermanfaat bahkan seringkali menjadi semacam toxic bagi diri kita. pernahkah kita mencoba untuk merendahkan sedikit saja ego kita untuk berbacara ke dalam diri. duduk di tepian bukit sambil menyelami apa sebenarnya yang bergejolak di dalam diri kita. jawaban-jawaban jujur seringkali datang dari dalam diri kita tentang diri dan hidup kita.

Tidak mudah memang untuk menundukkan sedikit ego dari variabel di luar diri kita, tidak mudah untuk sekedar duduk melepaskan pengaruh dari luar diri dan menyelami diri sendiri, tidak mudah untuk melakukan hal-hal yang tidak mempunyai prestise bagi keegoan diri, namun jika dilatih dalam waktu yang panjang, jawaban tentang hidup yang paling jujur akan kita dapatkan.

Mari kita renungi beberapa hal tentang diri kita sendiri dan tidak perlu untuk menunjuk orang lain. cukup beranikan diri untuk jujur terhadap jejak-jejak yang telah kita lewati.

Saya misalnya. begitu banyak hal yang saya sesali dan ingin saya ulangi tanpa pernah mengukur bahwa apa yang telah saya capai mungkin melebihi dari kepantasan diri saya sekarang. jika saya pun diberikan waktu untuk mengulang apa yang ada di angan-angan saya, besar kemungkinan hal terburuk yang saya dapatkan dari yang sekarang. 

Atau seberapa sering kita mengukur kebagiaan kita dengan kehidupan orang lain. membandingkan diri dengan kondisi orang lain adalah dosa terbesar kita terhadap diri kita. pernahkah kita sedikit saja berterima kasih terhadap tubuh kita yang sudah kita eksploitasi dari waktu ke waktu? atau jangan-jangan kita merasa punya otoritas mutlak terhadap jasad ini sehingga tidak ada sedikit pun rasa terima kasih dan bahkan membandingkannya dengan yang lain.

Ketika saya menyewa kamar kos 4x5 m. saya selalu berangan-angan seandainya saya bisa ngekos dengan ruang yang sedikit lebih lega. setahun kemudian, saya menyewa ruangan yang lumayan lapang dengan kamar mandi dan dapur namun saya kembali berangan-angan seandainya saya bisa menyewa kontrakan yang ada kamarnya karena sudah berkeluarga. hanya berselang beberapa bulan, saya kembali pindah kontrakan yang memiliki 1 kamar tidur. namun ternyata tidak sampai di situ, angan-anganku kembali berlari ke depan membayangkan rumah kontrakan yang ada ruang tamu. Tuhan maha baik, saya disanggupi mengontrakan rumah dengan  2 kamar, ruang tamu, dan ruang tengah. 

Apa yang terjadi, apakah saya puas?
ternyata tidak

Saya kembali memimpikan membeli rumah, namun lagi-lagi, Tuhan memberikan saya kemampuan untuk menyicil rumah. setelah itu, kepuasan tidak jua hadir dalam diri saya. angan-angan terus melambung tinggi menginginkan sesuatu yang belum dimiliki. 

Sampai kapan angan-angan itu berhenti melampaui diri kita?

Pada satu titik ketika ketika berbicara serius dengan diri kita. apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi prioritas hidup. sesuatu yang kasat mata seringkali tidak mampu menembus ketenangan hati namun sebaliknya, jika kebijaksanaan sudah menghampiri, semua sudah sirna karena bahagia sudah terpatri dalam sanubari.

Mari kita membiasakan diri berdua dengan diri kita berbicara satu sama lain.

#Renungan

October 23, 2020

Postingan ke-1000

Sebelumnya saya berencana untuk mengupload tulisan yang Postingan ke-1000 tepat pada 10 tahun blog ini saya buat namun sedikit agak terhambat. postingan pertama di blog ini pada Juli 2010 dan menjadi sangat spesial jika pada Juli 2020, saya memposting tulisan Postingan ke-1000 tetapi pada Juli 2020 yang lalu, tulisan masih di angka 970an, itu berarti saya harus ngebut menulis 30an tulisan dalam satu bulan yang menurut saya tidak masuk akal dari segi kualitas tulisan, jika cuma untuk kejar target, bisa saja saya memposting tulisan apa saja namun saya sudah berjanji untuk lebih rapi dalam menuangkan ide-ide di blog ini.

Jika konsisten dalam menulis minimal 10 tulisan dalam sebulan, kualitas tulisan akan semakin terasah. hanya saja angan tidak selalu sejalan dengan usaha. distraksi terlalu banyak sehingga apa yang seharusnya dilakukan menjadi terbengkalai. HP adalah distraksi paling paripurna di era sekarang. saya yakin bahwa mayoritas manusia sekarang tersita waktunya di dalam sebuah benda kecil yang sangat praktis di tangan. tidak menjadi selingan namun telah menjadi sebuah rutinitas untuk sekedar memainkan benda tersebut. coba bayangkan berapa waktu yang dihabiskan dengan memelototi benda yang telah menjadi berhala.

Saya bahkan beberapa kali mencoba untuk melatih diri dalam menjauhkan perhatian dari benda tersebut namun selalu gagal. terkadang dengan pemakluman bahwa untuk refreshing atau sekedar antisipasi jika ada panggilan baik dari kantor maupun dari keluarga di kampung.

Di luar dari semua itu, akhirnya blog ini mencapai postingan Postingan ke-1000. pencapaian yang tentunya menyenangkan dari sisi kuantitas namun saya harus akui bahwa kualitas tulisan saya masih dalam tahap belajar. seharusnya masa 10 tahun itu cukup dalam mematangkan diri dalam proses menulis namun entah lah, kemampuan menulis saya tidak berkembang dengan baik. baik dari segi penceritaan, pemilihan diksi, penggambaran sesuatu, pemaparan ide yang kacau dan semua teknik menulis yang tidak terlalu baik tetapi saya akan tetap menulis setidaknya untuk diri saya sendiri. 

Di suatu waktu yang luang nantinya, saya akan menghabiskan waktu di depan taman sambil membaca tulisan-tulisan saya untuk menyerap energi masa lalu.


23 10 2020

October 3, 2020

3 Oktober

Wedding Anniversary

Momen yang sebagian orang mengenangnya dengan berbagai macam perasaan. ada yang mengenang dengan cara yang sangat sentimental, ada yang mengenang dengan perasaan kecewa, bahagia dan apapun perasaan mereka mengekspresikan ingatan-ingatan mereka terhadap momen pernikahan adalah refleksi dari keadaan pernikahan mereka sekarang. jika mereka bahagia tentu saja saraf-saraf mereka menstimulasi ingatan tentang pernikahan dengan perasaan bahagia dan bersyukur melewati momen tersebut namun jika seandainya mereka tidak bahagia atau bahkan sudah bercerai maka momen ingatan tentang pernikahan akan menjadi sebuah kenangan pahit yang tentunya sangat disesali.

Saya sendiri tidak berada pada posisi yang ekstrim, maksudnya bahwa momen wedding anniversary saya lewati dengan hal yang biasa saja tanpa perasaan seperti yang saya sebutkan di atas. persis sama dengan keadaan pernikahan saya yang saya lewati dengan sangat datar. tidak ada sesuatu yang terjadi. jika bertengkar maka dalam hal yang wajar maupun jika bersenang-senang pun sewajarnya jadi semua berjalan seperti apa adanya.

Jika ditanya apa perasaanku tentang pernikahan maka mungkin jawaban yang sering saya lontarkan adalah bersyukur dalam artian bahwa salah satu tujuan saya menikah lima tahun lalu adalah mencoba menjaga diri saya dari hal-hal yang di luar prinsip yang saya yakini apatahlagi saat itu, saya sudah akrab dengan isteri saya jadi semua kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa saja terjadi dan satu hal saya syukuri karena kemungkinan terburuk dalam proses perkenalan tidak pernah saya lakukan sampai akhirnya saya menikah.

Langkah memang belum terlalu jauh namun setidaknya sejauh ini, seharusnya saya tidak melangkah mundur. saya yang termasuk yang percaya bahwa setiap harinya, pasti akan ada saja hal yang menjadi batu sandungan dan setiap pernikahan mempunyai tantangannya sendiri dan saya tidak mau menyerah untuk tantangan yang saya hadapi.

Percayalah bahwa pernikahan yang dibayangkan sebelum menikah tidak akan selalu sama. jika belum menikah, bayangkan semua hal-hal terburuk karena pernikahan bukan melulu urusan kelonan. ada banyak urusan yang harus diselesaikan dalam sebuah pernikahan dan tentunya mantapkan niat sebelum menikah.

3-10-2015/2020

October 1, 2020

Jarak

 Tadi saya membersihkan kamar mandi, jika dari dekat tidak terlihat noda sama sekali di lantai kamar mandi namun ketika saya menjauh sedikit, maka terlihat jelas warna lantai kamar mandi agak kuning, berbeda dari warna dasarnya.

Seperti halnya semua hal dalam hidup ini. di awal bekerja sebagai internal audit di sebuah perusahaan. ada sebuah kalimat klise setiap kali datang ke kantor cabang untuk melakukan audit. "kami datang untuk memperbaiki sesuatu yang tidak sesuai regulasi, karena biasanya bau busuk itu tidak tercium oleh penghuni rumah namun akan tercium jelas oleh pendatang." kurang lebih seperti itu perumpaan yang digunakan bahwa sesuatu yang melekat dalam diri kita yang tidak berjarak khususnya sesuatu yang negatif, maka seringkali kita tidak pernah menyadarinya namun terlihat jelas oleh orang lain. maka dari itu, setiap kita berada dalam lingkungan yang sudah terlalu lama, maka ada baiknya menyingkir beberapa saat, menghirup udara segar kemudian mengamati diri kita untuk merefleksikan, apa saja yang selama ini tidak pernah disadari.

Manusia memang fitrahnya tidak mau disalahkan. ego bagi mayoritas manusia terlalu kuat untuk mengamini kritik dari orang lain sehingga jika demikian, kita harus berdamai dengan diri dan mengambil jarak untuk mengkritisi diri sendiri daripada harus menunggu orang lain.

Jarak diperlukan dalam banyak hal. jarak yang terlalu dekat seringkali mencelakakan. inilah kenapa di bagian belakang mobil untuk kursus menyetir, terdapat tulisan "jaga jarak." bahkan jargon tersebut semakin sering kita dengar di masa pandemi ini bahwa kita harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain.

Dalam hubungan pernikahan, jarak diperlukan untuk merekatkan hubungan. itulah kenapa setiap kali saya dinas ke luar kota, ada keterikatan yang mendalam dengan anggota keluarga ketika pulang ke rumah, meskipun sebenarnya absurd karena hanya beberapa waktu kemudian perasaan keterikatan terkikis lagi. muncul lagi ketika pergi dari rumah beberapa saat, begitu seterusnya. entah perasaan yang manipulatif atau seperti apa namun toh hidup memang sungguh absurd, namun paling tidak, jarak adalah kunci. 

kita harus pandai menjaga jarak untuk semua hal jika ingin tenang. Jarak yang sesuai porsinya.

September 30, 2020

Bandara Sultan Hasanuddin

I arrived at Sultan Hasanuddin airport at 02.00 wita. it was a long trip from my village to airport, about 6 hours. menjelang tiba di bandara, saya mulai merasa was was karena khawatir bandara sepi dan saya harus menunggu sampai pagi karena pesawat yang akan menerbangkan saya ke jakarta terjadwal jam 9.

Memasuki area parkiran, perkiraan saya meleset. bandara jauh lebih ramai dari biasanya dan saya bahkan kesulitan mencari space yang lowong di pelataran bandara karena sudah dipenuhi calon penumpang yang tiduran maupun yang duduk. bayangkan ini jam 2 dini hari namun serasa siang hari.

saya akhirnya menemukan ruang yang lumayan longgar untuk merenggangkan badan. meskipun sedikit khawatir dengan pandemi covid 19, namun saya tetap memaksakan diri ikut tiduran. tak terasa saya terlelap sekitar sejam lebih dan baru terjaga ketika menjelang subuh.

saya memutuskan ke musala yang terletak di area kantor ekspedisi. sekitar beberapa meter dari pelataran bandara. di musala, saya membersihkan diri, menunaikan hajat pagi dengan mengeluarkan isi perut, salat subuh kemudian bersantai sambil mengabarkan ibu saya kalau saya baik baik saja.

setengah 7 pagi, saya beranjak kembali ke pelataran bandara dan langsung melakukan cek data sesuai prosedur penerbangan di masa pandemi. untunglah tidak ada kendala meski sedikit memakan waktu karena harus antri.

saat chek in, antrean sudah sangat panjang. saya bahkan hampir sejam menunggu antrean. mayoritas calon penumpang menuju indonesia bagian timur. maklumlah karena bandara makassar memang menjadi bandara transit jika dari Indonesia barat hendak ke timur.

saat tiba di depan petugas cek in, saya khawatir jangan sampai ditanyakan barang bawaan saya karena pesawat yang saya tumpangi berbayar untuk bagasinya. namun dengan sedikit doa, akhirnya barang tentengan saya lolos ke kabin dan tidak harus membayar biaya tambahan bagasi.

I'm coming back home

September 14, 2020

Semua Berubah

Di bandara Soetta pertama kali sejak masa pandemi. semua seakan berubah dalam sekejap. tidak ada perasaan seperti dulu saat momen seperti ini.

ini kali pertama saya harus naik pesawat lagi setelah virus covid menyerang. kali pertama saya ditugaskan kantor dinas keluar kota. jika sebelum-sebelumnya saya menikmati perjalanan seperti ini, namun kali ini semua menjadi seakan terasa aneh. jika seandainya bisa menolak, maka mungkin saya sudah tidak berangkat dalam perjalanan kali ini namun tugas kantor membuat saya harus mengalahkan semua kekhawatiran tentang keselamatan.

Seharusnya kali ini saya antusias karena ditugaskan ke kota yang dekat kampung halaman, seharusnya menjadi momen menyenangkan karena bisa mampir di rumah namun sekali lagi, kali ini perasaan senang dikalahkan oleh perasaan khawatir, tentang virus yang ada dimana mana tanpa terlihat, meskipun mungkin saya akan tetap mampir di rumah menuntaskan rindu yang terpendam lama. semoga saja saya tidak menyimpan virus dalam diri dan tidak menjadi perantara bagi keluarga.

Di bandara Soetta kali ini, saya menengok schedule keberangkatan. begitu banyak penerbangan yang dibatalkan. virus ini benar-benar telah mengubah tatatan manusia yang sudah berlangsung lama, ataukah mungkin bukam virusnya tapi semesta ingin menyeimbangkan kehidupan ini karena manusia sudah terlalu lama menjadi virus bagi makhluk lain.

Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung namun satu hal yang pasti, wajah wajah manusia penuh dengan kekhawatiran. mereka cemas tertular dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. semua menghadapi hal yang sama, takut terhadap virus namun roda kehidupan memaksa mereka untuk tetap bergerak, berjalan tegap dan tetap bertahan untuk tidak tumbang.

Semoga perjalanan kali ini baik-baik saja. semoga semesta memudahkan semua urusanku dan menjauhkan dari hal yang tidak diinginkan.

Hidup memang sebuah gerak otomatis yang berpindah dari satu kekhawatiran ke bagian kekhawatiran berikutnya yang tiada berujung sampai akhirnya nanti menemui titik akhir, atau mungkin tidak ada yang namanya titik akhir, yang ada hanya ujung yang bisa terlihat mata. toh gerak hidup akan berlanjut ke kehidupan lain dan mungkin saja merupakan bagian kekhawatiran berikutnya bahkan lebih besar karena kita tidak paham apa yag terjadi di sana.

di Bandara Soetta kali ini dengan wajah para manusia penuh cemas dan sesekali merapal doa supaya tidak tertular virus ini.


Bandara Soetta, 14 September 2020. 

03.10 Wib

September 6, 2020

Berkurang Jatah Hidup

Pada sepersekian hari yang saya sudah jalani sampai sekarang, datangnya lagi hari di mana pertama kali saya dihadirkan di dunia ini, namun sampai setua ini, jalan hidup saya semakin kehilangan arah. saya menjauh dari diriku dan terbawa oleh angan-angan duniawi yang tak ada habisnya.

Saya menyesali semua yang sudah terlewati dan mengkhawatirkan detik demi detik yang akan datang membuat saya lupa bahwa saya sedang hidup hari ini.

Hari yang saya lewati sudah sangat banyak dan di usia seperti sekarang, seharusnya saya sudah bisa berdamai dengan hidup, namun ternyata nihil. saya sampai saat ini masih dikalahkan diriku yang menyandarkan bahunya pada hal-hal yang artifisial.

Selamat ulang tahun diriku, semoga segera menemukan dirimu yang salah arah.

7 September

August 23, 2020

Futur

 Ada hal yang tidak pernah saya bisa lepaskan sama sekali. sesuatu yang menurutku membuat kualitas diriku semakin mengalami degradasi. semakin kuat saya menepisnya maka semakin deras dia datang mengantam. setelah ini apa?

Jika perbaikan diri tidak mengenal batas waktu maka saya serasa mulai dari nol. membangun kepercayaan diri dan menyusun elemen-elemen pembentuk karakter yang porak poranda oleh saya sendiri. karakter diri yang belum berdiri sempurna dan hancur lebur kemudian mulai lagi dari sisa puing yang berserakan.

Entah kapan menjadi diri?

Jika jalan hidup sendiri saja belum menemukan rutenya maka bagaimana saya mengimami keturunan saya?

August 22, 2020

Masalah Repetitif

 Saya punya masalah  yang seakan terus datang dengan pola yang sama. masalah ini sudah berlangsung sejak 5-6 tahun terakhir. sebuah masalah yang menyadarkanku bahwa ternyata cerita-cerita di sinetron Indosiar yang selama ini saya anggap fiktif ternyata benar adanya di dunia nyata bahkan sangat dekat dengan diriku, walau saya sadari bahwa masalah tersebut di luar kendaliku. 

Masalah ini tentang pola interaksi antara seorang Ibu dengan Puteranya. pola relasi yang seakan hanya terjadi dalam sebuah narasi fiktif yang sering saya baca di buku cerpen namun ternyata cerita fiktif tidak ada yang fiktif di dunia ini, yang ada bahwa cerita tersebut belum kita temui dalam kehidupan kita sendiri. 

Ibu tersebut sudah sejak 16 tahun yang lalu ditinggal mati oleh suaminya. dia harus berjuang keras menghidupi seorang putera dan seorang puteri. sebuah perjuangan yang tidak mudah karena dia hanya seorang guru swasta yang gajinya tidak terlalu besar, beruntung karena dia masih menerima uang pensiunan suaminya setiap bulan dan masih dibantu oleh saudaranya. meski demikian, tetap saja bahwa urusan membesarkan anak bukan hanya melulu mengenai materai namun ada banyak sisi yang harus diperhatikan. 

Nampaknya tidak ada masalah yang terlalu serius sampai akhirnya si putera yang sulung masuk kuliah. di tahun-tahun pertama, belum ada hal yang mencemaskan namun kenyataan pahit menghampiri ketika si putera sudah menjelang akhir kuliah. berbagai permintaan aneh mulai menyusahkan si Ibu namun masih dalam batas normal.

Beberapa tahun setelah lulus, si putera sudah bekerja di sebuah bank dan menikah dengan gadis pilihannya. momen ini nampaknya akan menjadi momentum balik dari si Ibu untuk merayakan kerja kerasnya selama ini dan sedikit mengendorkan punggungnya yang sudah terlalu lama memikul beban berat. si putera sudah selesai pada masalah materi karena sudah bekerja dan juga sudah menikah sehingga tanggung jawabnya sudah lepas. 

Namun ternyata, momentum menikahkan puteranya yang seharusnya menjadi titik bahagia ternyata menjadi bumerang bagi si Ibu. pasca menikah, berbagai masalah besar datang dari perilaku si putera yang nampaknya tidak pernah memiliki sedikitpun rasa iba terhadap ibunya. mulai saat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di bank kemudian sebuah beban anak isterinya yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, dibebankan kepada ibunya bahkan pada puncak masalah, satu-satunya rumah peninggalan bapaknya dijual demi melunasi utang si puteranya.

Meskipun rumah sudah dijual, ternyata sama sekali tidak mengubah pola berpikir si puteranya, dia seakan semakin menjadi-jadi apatahlagi setelah tidak bekerja sama sekali. semua kebutuhan keluarnya beserta ketiga anaknya, dipikul oleh Ibunya yang anehnya, si Ibu selalu memenuhi permintaan apapun dari si puteranya.

Si Ibu yang sudah semakin menipis tabungannya tidak kehabisan akal, berapa pun puteranya meminta uang dalam jumlah jutaan, si Ibu selalu berusaha memenuhi meskipun harus berutang kepada saudara-saudaranya. perilaku si Puteranya diperparah dengan isterinya yang meskipun sebagai seorang menantu, sama sekali tidak memiliki rasa sungkan untuk meminta apa saja kepada si Ibu yang hanya seorang mertuanya.

Perjalanan kisah pedih tidak sudah berlangsung bertahun-tahun dan minggu lalu, si Putera dan isterinya kembali meminta uang 15 juta kepada Ibunya dengan alasan untuk membayar utangnya di rentenir karena jika tidak dibayar, akan mengancam keluarganya. tanpa pikir panjang, si Ibu meminjam uang kepada adik laki-lakinya yang akhirnya diberikan pinjaman 10 juta dan 5 juta diambil dari tabungannya sendiri untuk menggenapi permintaan puteranya.

Entah kapan berakhirnya kisah ironi ini namun sebagai orang yang sama sekali tidak punya kuasa untuk masuk memberikan sedikit masukan, maka saya hanya mengambil hikmah dari kisah ini untuk sedikit lebih empati kepada Ibu saya bahwa jika tidak mampu membahagiakannya, paling tidak saya tidak memberatinya dengan masalah saya.

22 8 2020

July 31, 2020

Idul Adha 1441 H

Hari raya Qurban kembali datang menjumpai. Sebuah penanda bahwa tepat setahun lamanya saya tidak pulang kampung. Sebuah kenyataan yang ironi karena saya tidak pernah selama ini tidak pulang menengok masa laluku. namun harus bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk memendam rasa rindu. kondisi yang tidak menentu membuat semuanya terhambat, rencana-rencana yang sudah disusun dimentahkan oleh keadaan. Lebaran Idul Adha kali ini harus dijalani di kota perantauan yang meskipun sangat ramai namun tetap saja jiwaku merasa kesepian dan kosong.

Subuh hari tepat di saat semua masjid dekat rumah bersahut-sahutan mengumandangkan takbir, saya sudah terjaga, duduk di kursi depan sambil memperbaiki napas yang belum pulih dari mimpi. takbir bergema yang membuat jiwaku terbang ke beberapa tahun yang lalu di mana perasaan tenang menghinggapi setiap kali suasana lebaran menjelang, namun kali ini sepertinya semua terasa hambar. jiwaku yang terlalu lelah dengan urusan duniawi seakan tidak mampu menemukan ketenangan dalam takbir-takbir yang sedari malam sudah berkumandang.

Setelah selesai menunaikan salat subuh dan mandi. saya memilih pakaian putih yang merupakan baju lebaranku tiga atau empat tahun yang lalu namun masih terlihat baru karena jarang saya gunakan. Saya dan isteri berboncengan ke arah musala untuk menunaikan salat ied. Kami memang memilih untuk salat ied di musala mengingat jamaahnya tidak terlalu padat dan jarak antar jamaah masih diberlakukan sehingga tidak harus berdesak-desakan.

sekitar 15 menit setelah kami tiba di musala tersebut, salat kemudian dimulai dengan terbit. butuh waktu 40 menit di musala tersebut termasuk mendengarkan ceramah. Kami kemudian pulang melewati jalan yang terdapat masjid besar disampingnya. ternyata jalanan tersebut ditutup karena jamaahnya memenuhi jalanan dan ceramah di masjid tersebut belum selesai. terpaksa kami harus menunggu. 

Saat tiba di rumah, suasana lebaran tidak saya jumpai. berbeda halnya di kampung ketika momen lebaran yang penuh dengan makanan dan keluarga yang sedang bercengkerama, namun kali ini, semua itu tidak tersaji di depanku. namun tak apalah, memang situasi kehidupan saya sudah berubah dan tidak seperti saat masih di kampung.

Satu-satunya momen yang membuat suasana lebaran kali ini sedikit terasa adalah tadi saat ikut membantu di pemotongan qurban. bau amis darah qurban dan daging segar membangunkan jiwa saya bahwa benar kali ini adalah lebaran idul Adha. setelah itu, semua kembali menjadi normal. saya pulang ke rumah, duduk di ruang depan menghabiskan waktu bermain hp kemudian tidur dan mencicipi apa yang bisa dimakan. membunuh waktu dalam kesia-siaan sambil terus mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu kemudian tidak menyadari masa sekarang. sebuah ritme hidup yang membuat saya jauh dari diri saya sendiri.

Saya sedih pada banyak hal terutama pada diri saya yang tidak mampu sedikit berkeras kepada diriku sendiri yang selalu berencana tanpa tindakan, terlalu banyak angan yang menggelayut di pikiranku yang membuat diriku jauh dari apa yang sedang kujalani. 

Saya jauh dari diriku...!


Merayakan 10 tahun

#RenunganJuli yang sudah saya buat selama 31 hari sebenarnya adalah sebuah usaha untuk merayakan blog ini yang bisa bertahan sampai 10 tahun lamanya meskipun dengan tulisan-tulisan yang kadang hanya curhatan menggelikan nan memalukan. namun demikian, usaha untuk tetap meninggalkan jejak hidup dalam sebuah tulisan sehingga bisa abadi dan dijadikan bahan untuk melihat masa lalu yang sudah terlewati.

Di bulan Juli ini pula, banyak sekali tulisan di blog ini yang saya edit karena menurut saya sangat ridiculous dan tidak pantas lagi untuk saya tayangkan di masa sekarang. beberapa diantaranya adalah tulisan curhat yang menjijikkan dan juga tulisan tentang orang-orang yang terlalu vulgar saya tuliskan baik itu identitasnya maupun segala macam aktivitasnya.

Hari ini sudah menjadi akhir di Juli tahun ini dan saya sudah berusaha keras dalam bulan ini untuk menulis setiap hari meski terkadang tertunda namun demikian, saya tetap harus menunaikan target yang sudah saya buat di awal bulan. sebuah usaha untuk membuktikan kepada diri bahwa saya tidak semalas dengan apa yang ada di pikiranku. 

Semua tulisan di bulan ini yang mungkin konyol atau juga terlalu cengeng namun tak apalah karena tulisan-tulisan di bulan ini memang sebagai sebuah usaha untuk kembali membangkitkan gairah dalam diri saya sudah menulis yang lebih baik.

July 30, 2020

Bersyukur

Satu hal yang hilang dari diri saya adalah rasa syukur yang semakin redup. Saya jarang mendapati diriku mengucap terima kasih atas apa yang sudah saya dapatkan baik secara lisan maupun dalam hati saya dan hal tersebut yang seringkali membuat jiwa saya tidak tenang sama sekali. rasa syukur yang tidak pernah muncul dalam diri saya menjadi pertanda bahwa begitu banyak angan-angan yang menutupi nurani saya untuk sekedar bersyukur atas nikmat yang saya peroleh.

Cerita tentang kesyukuran sebenarnya selalu terpampang di depan kehidupan saya yang seharusnya menjadi pelajaran bagi saya bahwa hidup tidak sekedar mengejar angan-angan namun harus tetap bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Tadi saat penjual kue langganan anak saya ke rumah, dia diberikan ketupat dan opor ayam oleh mertua saya. menurut cerita mertua saya bahwa dia begitu senang dan berkali-kali mengucap syukur karena kebetulan hari ini dia tidak memasak di rumah. sebuah sikap bersyukur yang menampar saya karena dengan mudahnya dia mensyukuri sedikitpun yang diterima sedangkan saya yang mungkin jauh menerima begitu banyak hal, tidak mampu mengucapkan hal tersebut. Saya yang masih digaji sekian juta per bulan, tidak pernah sama sekali mengucap hal yang sama.

Satu hal yang paling saya rasakan dari tingginya angan-angan dan kurangnya rasa syukur dalam diri saya adalah diri saya yang semakin tidak tenang karena cemas akan masa depanku yang berarti bahwa saya tidak mennsyukuri apa yang sudah saya miliki.

Pelajaran lain tentang bersyukur saya dapatkan dari percakapan ringan Gus Baha dan Quraish Shihab yang ditayangkan di youtube. Gus Baha menerangkan bahwa orang-orang di pasar mendapat 5 ribu sudah mengucap syukur. cerita lain dari beliau ketika gurunya tidur di kamar yang memiliki beberapa kamar kemudian bergumam, kenapa saya harus memiliki banyak kamar sedangkan saya sudah bahagia tidur di kamar ini. kurang lebih seperti itulah. pelajaran tentang rasa syukur yang begitu banyak namun sangat sulit menumbuhkan dalam diri saya.

July 29, 2020

Harapan Akhir Tahun

Salah satu harapan terbesar saya di akhir tahun ini adalah bisa mudik ke kampung. libur lebaran idul fitri yang reschedule ke akhir tahun akibat pandemi Covid membuat libur di akhir tahun menjadi lumayan panjang, sekitar dua minggu. jika kondisi membaik kemungkinan saya mudik ke kampung sekitar 20 hari. sebuah momen langkah yang belum pernah saya dapatkan selama ini dengan libur selama itu.

Itulah kenapa saya berharap bahwa keadaan pandemi ini segera membaik atau minimal tidak menjadi lebih buruk. jika kondisi seperti ini masih terus terjadi sampai akhir tahun, maka bayang-bayang mudik bisa saja gagal karena proses transportasi yang bakalan lebih susah, harus mengurus berbagai macam kelengkapan berkas yang jika tidak dipenuhi maka kemungkinan terburuk tidak diperbolehkan melakukan perjalanan antar kota.

belum ada tanda-tanda kondisi saat ini akan segera membaik. statistik yang ditampilkan di media-media masih sangat tinggi bahkan terus menunjukkan kenaikan grafik. aturan-aturan ketat di ruang publik pun masih belum dilonggarkan dan berbagai aturan lain yang tentunya akan mengambat banyak rencana. jika demikian, akhir tahun akan menjadi rencana gagal, namun semoga tidak.

Selama merantau sejak 8 tahun silam, saya tidak pernah melewatkan rutinitas mudik setiap tahun paling tidak sekali setahun. terdengar sedikit berlebihan karena banyak perantau yang bisa bertahun-tahun tidak pernah mudik namun bagi saya, mudik adalah semacam isi ulang energi dalam diri untuk memulihkan jiwa yang sudah kosong dihantam kerasnya kehidupan di perantauan.  kampung menjadi sumber energi meski seringkali hanya dijadikan sebagai pelarian namun paling tidak, kampung selalu menerima saya setiap kali ingin lari dari kehidupan kota, dan semoga,,,

Semesta bisa mengamini doa saya. di akhir tahun ini bisa mudik ke kampung.