Kerinduan, sebuah perasaan yang pasti menyiksa ketika menyeruak di dalam sanubari setiap makhluk saat berada jauh dari yang tercinta. kerinduan memang menawarkan kepedihan yang amat sangat menyiksa ketika waktu tak kunjung mempertemukan dengan yang dirindukan.
ini tentang kerinduan yang akan kutulis, kutujukan kepada Tuhanku dan seseorang yang sering kurindukan. kerinduan benar-benar mengandung makna yang dalam menembus sanubari dan menjelma menjadi tindakan yang irrasional ketika tak tertahankan lagi.
surat untukmu W tentang rindu itu,,,
tahukah engkau beberapa hari ini aku selalu merindukanmu? semua hal menjelma dalam diriku tentang bahasa kerinduan terhadapmu. seringkali perasaanku terhadapmu tak tertahankan untuk bertemu denganmu ketika rindu itu menyerang dan anehnya lagi rindu itu setiap saat menghampiri dalam semenit bahkan sedetik waktuku. tak ada yang meragukanku bahwa aku memang rindu kepadamu. setiap saat kutunggu kabar darimu dan perasaan senang tiba-tiba saja muncul ketika engkau sekedar mengabariku tentang dirimu dan apa saja tentangmu akan membuatku begitu bahagia. itulah rindu yang benar-benar bersemayam di dalam hatiku.
dik, ketika rinduku seperti itu terhadapmu, apakah rindu yang lebih besar terhadap Tuhanku lebih besar dari rindu itu atau bahkan tidak ada sama sekali? ketika aku bahagia mendengar semua tentangmu, apakah aku lebih bahagia lagi ketika mendengar apa saja tentang Tuhanku? ketika aku sangat bahagia mendengar kabar darimu atau menerima teleponmu namun apakah aku lebih bahagia ketika Tuhanku memanggilku menjalankan perintahnya sebagai wadah bertemu denganNYA? ternyata semua itu masih tidak seperti seharusnya. seringkali aku lebih merindukanmu daripada merindukan Tuhanku. perintahnya sering kutunda bahkan kuabaikan namun ketika engkau mengirimiku pesan, aku tidak mau menunda untuk membalasnya dan saat Tuhanku memanggilku menunaikan kewajibanku, aku bahkan seringkali menundanya sampai akhir waktu.
rindu yang kumiliki benar-benar belum membuatku dekat dengan Ilahi dik. seandainya saja rinduku terhadap Tuhanku lebih besar dari rindu untukmu atau bahkan sama maka ragaku akan dipenuhi oleh kehadiran Tuhanku yang nantinya akan menghadirkan kebahagiaan yang tak terkira. kerinduan seperti itu dimiliki oleh para salik yang telah larut dalam kerinduan yang hakiki terhadap Tuhannya. aku mendambakan keadaan seperti itu dik. aku tetap berharap suatu saat nanti, aku berada dalam keadaan rindu terhadap Tuhanku yang tidak ada lagi apa-apa yang kupikirkan selain memikirkan pertemuan dengan Tuhanku.
dik, kuingat kemarin malam saat engkau marah karena kita tidak jadi bertemu. aku selalu membayangkan seandainya saja engkau seperti itu adanya terhadap Sang Pemilik Hidup. saat engkau belum waktunya bertemu dengan Dia, apakah engkau juga akan marah atau semakin dilanda perasaan rindu terhadapNYA?. aku menerawang diriku bahwa aku belum berada dalam kondisi rindu yang sublim terhadap Tuhanku dik.
dik, sering engkau tidak melirik lagi orang lain karena cintamu terhadapku. didalam pikiranmu hanyalah aku dan kerinduan membuatmu selalu ingin di dekatku dan begitupun adanya aku terhadap dirimu dik, namun apakah seperti itu perasaan kita terhadap Tuhan? apakah kita tidak melirik lagi selain yang disukai oleh Tuhan? apakah kita tidak lagi berselingkuh dengan yang lain dariNYA? apakah kita selalu ingin bertemu denganNYA? dan apakah kita tidak lagi mepedulikan diri kita demi untuk bertemu denganNya dan bahkan apakah kita tidak ingin lagi jauh dariNya? masih banyak lagi pertanyaan yang mengganggu pikiranku terhadap minimnya cintaku terhadap Tuhanku. aku sama sekali belum seperti itu dik. mudah-mudahan saja engkau telah berada dalam kondisi seperti itu terhadapNya.
dik, maukah engkau sedikit mendengar pemahamanku tentang Tuhanku dan syurgaNya? pertemuan dengan Tuhan adalah segalanya. syurga bahkan tidak ada apa-apanya. analoginya seperti ini, antara dua pilihan dik, yang mana yang akan engkau pilih, tetap jauh dari seseorang yang engkau rindukan dengan kelimpahan harta yang engkau miliki ataukah selalu berada disamping orang yang engkau rindukan dengan keadaan yang sederhana. kebanyakan orang yang berada dalam kondisi kerinduan yang akut hanya ingin bertemu dengan yang dirindukan tanpa meperdulikan iming-iming kesenangan, baginya pertemuan dengan yang dirindukan adalah diatas segalanya, begitupun adanya ketika kita rindu terhadap Tuhan. iming-iming syurga ataupun kesenangan yang lainnya tidak menjadi prioritas namun yang terutama adalah pertemuan dengan Tuhan diatas kenikmatan segalanya. memandang wajah yang dirindukan melebihi dari kenikmatan apapun.
entah engkau setuju atau tidak dik, namun itulah pemahamanku tentang sebuah kerinduan.
dik, saat aku mendatangimu di kota itu, aku rela tidak tidur menunggu larut malam berangkat ke kota itu untuk bertemu denganmu tanpa mepedulikan kondisi tubuhku yang dalam kepenatan yang amat sangat, hal yang terbersit dalam pikiranku adalah kita akan segera bertemu namun sekali lagi ini renungan untuk diriku, apakah aku sudah seperti itu adanya terhadap Tuhanku? ternyata tidak, jangankan bangun tengah malam untuk bertemu Tuhanku di sudut malam yang hening, bangun subuh pun tepat waktu masih sangat susah, selalu saja alasan capek atau mengantuk hadir di dalam hatiku namun ketika itu untukmu dik, rasa capek dan ngantuk selalu kuabaikan ketika kita akan bertemu. ini menjadi hasil kontemplasi bagi diriku bahwa aku belum benar-benar rindu terhadap Tuhanku.
surat untuk Tuhanku tentang rindu itu,,,,!
Tuhanku, perasaan rindu yang seharusnya kutujukan terhadapMU masih menguap entah dimana. serpihan-serpihan kerinduan yang kupunya ternyata masih kutujukan terhadap makhluk-makhlukMU. meski dalam setiap kali bibirku selalu berucap bahwa aku rindu terhadapMU dan kekasihku Muhammad SAW namun ternyata itu masih di sudut bibirku karena perasaan itu belum sepenuhnya meliputi sanubariku. rindu yang sublim itu belum juga kutujukan terhadapMU. aku masih berkutat dengan setiap serpihan rindu semu yang mengganggu konstalasi kehidupanku.
Tuhanku, aku pernah tidak tidur dan mengabaikan kondisi diriku yang amat sangat penat hanya untuk bertemu dengan seorang yang kurindukan. malam yang hening dan dinginnya angin yang seakan menusuk tulang-tulang bahkan tidak menghalangiku untuk bertemu dengannya, namun ketika itu berhubungan denganMu, aku sama sekali tak kuasa, bangun tengah malam untuk menyongsong pertemuan denganMu hampir pasti tidak kulakukan akhir-akhir ini. bahkan hal yang ringan sebagai wadah mengingatMu sering kutunda. benar-benar aku belum merindukanMu dengan rindu yang sublim. aku malu Ya Rabb, aku hina. kumohon tanamkanlah kerinduan yang sublim dalam sanubariku terhadapMu. aku ingin berada dalam kondisi kerinduan yang hakiki terhadapMu.
Tuhanku, tanamkanlah kerinduan yang sublim dalam diriku terhadapMU dan juga terhadap sang kekasih Rasulullah SAW. biarkan ragaku merasakan betapa rinduku terhadapMU benar-benar menyiksa saat aku jauh dariMu. berikan aku sedikit waktu untuk mencicipi perasaan rindu terhadapMu seperti para Salik merindukanMu. aku mengerti seseorang yang berada di dalam kerinduan, aku tahu perasaaan mereka seperti apa, namun aku hina Yaa Allah karena perasaan itu pernah kumiliki namun bukan untukMu.
saat rindu meliputi pikiran makhluk, maka yang terpikirkan adalah sebuah pertemuan. entah itu pertemuan terjadi dimana saja namun selalu saja pertemuan itu diinginkan dalam waktu yang dekat. sang perindu tidak lagi mempedulikan seperti apa kondisi dirinya, entah itu sakit atau dalam kondisi apapun bahkan semua hal dilakukan demi untuk bertemu dengan yang dirindukan dan kondisi itu belum aku miliki untukMu Tuhanku. aku ingin sekali berada dalam kondisi seperti itu dimana tidak ada lagi selain Engkau yang menyilaukan hatiku. tidak ada lagi yang membuatku berpaling dariMu meski itu sebuah kemewahan dunia.
aku tidak peduli dengan apa yang akan Engkau berikan kepadaku Tuhan, entah itu kesenangan ataupun kepedihan namun yang kuingankan dariMu adalah pertemuan denganMu dalam balutan keridhaanMu terhadaku. syurga ataupun label kesenangan lainnya hanyalah suplemen namun bercengkerama denganMu dan Engkau selalu ridha terhadapku adalah hal yang tidak terkira nilainya.
surat untuk diriku tentang rindu itu,,,!
diri, dimanakah engkau sekarang berada? sudah terlalu jauh engkau berjalan menyusuri lorong waktu yang gelap mencari sesuatu yang fatamorgana. engkau selalu tidak puas dengan apa yang engkau dapatkan sekarang dan itu yang akan selalu engkau rasakan karena apa yang sedang engkau kejar adalah hal yang fatamorgana, bukankah ketika hal yang semu itu menjadi tujuan maka perasaan kecewa selalu menjadi hasil dari proses pencarian.
diri, tidakkah engkau mau mencari hal yang lebih hakiki. sesuatu yang akan menggiringku dalam kondisi yang semakin baik lagi.