August 7, 2023

Bertamu ke KNEKS (7)

Hari ini saya berkunjung ke kantor ekonomi syariah Indonesia dalam rangka melengkapi data penlitian saya. Kantornya berada di gedung Juanda kementerian keuangan di daerah Jakarta Pusat. Dengan modal surat permohonan dari kampus, saya berangkat lebih pagi karena jarak dari rumah ke kantor KNEKS cukup jauh.

Saya tiba di depan kantor KNEKS sebelum jam 8 sehingga saya memilih untuk istirahat sejenak. Sekitar setengah 9, saya memutuskan masuk ke kantornya dengan berbagai prosedur yang dialami. Menang tidak terlalu ketat tetapi ketika hendak naik ke lt 17, saya harus mengikuti berbagai prosedur yang sudah ditetapkan.

Saya berdiri di depan ruangan KNEKS dan salah seorang bapak keluar menanyakan maksud kedatangan saya. Setelah dipersilahkan masuk ruangan, saya menemui pak Csr yang sebelumnya direkomendasikan oleh salah seorang narasumber saya di kementerian perdagangan.

Dia sedang asik mengobrol dengan salah seorang rekannya sebelum saya mengatakan akan bertemu dengannya. Dengan nada sedikit agak kaget, dia menghampiri saya dan yang keluar dari mulutnya hanya kalimat pendek:

"Kan kita belum janjian"

Dalam hati saya berguman: oke, berarti dia tidak mau saya temui meskipun saya melihat sendiri bahwa dia sedang tidak mengerjakan apa-apa. 

Saya berdalih hanya ingin menyampaikan surat permohonan data kemudian pamit dengan kesan yang amat sangat tidak enak dengan pegawai ekonomi syariah. 

Entah...

#7 2023

August 6, 2023

Hitam Putih (6)

Dua minggu lalu ketika saya dan dua kawan sedang diskusi terkait konten youtube yang akan kami tayangkan, ada hal yang membuat saya sedikit agak kaget dalam proses diskusi yang berlangsung. Kekagetan tersebut lebih pada sebuah ketidaksepahaman pandangan yang mendasar, bukan hanya tentang hal-hal metodologis.

Jadi begini, saat itu kami diskusi terkait proyeksi kebijakan luar negeri Indonesia yang dikaitkan dengan polarisasi kekuatan global antara AS dan Tiongkok. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa satu dekade terakhir, Tiongkok bertransformasi menjadi salah satu kekuatan global yang berani menggoyang hegemoni AS.

Saat diskusi berlangsung, salah seorang kawan menyatakan pendapatnya bahwa sikap Indonesia ke depan akan lebih cenderung tergantung kepada Tiongkok dengan berbagai landasan berpikir dan alasan yang dia berikan. Saya mengamini pandangannya dan tidak ada persoalan dengan apa yang dia maksud dalam hal ini kemungkinan Indonesia condong ke Tiongkok.

Tibalah saatnya giliran saya mengajukan argumen. Saya berpendapat bahwa Indonesia akan mengambil sikap lain yaitu berusaha untuk tidak tergantung kepada salah satu dari dua kekuatan global. Saya yakin bahwa Indonesia sudah punya pondasi yang kuat untuk tidak terlalu bergantung kepada negara lain.

Yang saya maksudkan tidak tergantung bukan tidak menerima utang atau bukan tidak melakukan kerja sama tetapi yang saya maksud tidak tergantung adalah tidak mengikuti kepentingan kekuatan global. 

Saya kaget dari respon kawan saya bahwa dia mengatakan saya terlalu naif dan normatif. Dia memaksa saya untuk memilih apakah Indonesia akan tergantung kepada AS atau Tiongkok. Perdebatan panjang terjadi dan saya tetap berpendirian bahwa pilihannya bukan dua saja tetapi Indonesia bisa memilih pilihan lain.

Setelah itu, dia tetap ngotot dan memandang saya terlalu normatif dalam menjawab pertanyaan. Pada akhirnya saya berpikir bahwa tidak ada gunanya melanjutkan diskusi yang dibatasi dalam konteks pilihan. Saya akhirnya diam dan tidak terlalu semangat melanjutkan diskusi.

Entah kenapa, saya selalu tidak sepakat dengan orang yang melihat dunia sosial sebagai pilihan hitam putih, padahal manusia punya banyak instrumen untuk menentukan pilihannya atau bahkan membuat pilihan sendiri.

Hal yang sama terjadi pada pemilu periode sebelumnya. Orang yang bersusaha netral dianggap normatif dan selalu dipaksa untuk memilih salah satu pilihan.

Aneh dan menjemukan. Lebih baik tinggalkan jika ada diskusi seperti itu. 

#6 2023

August 5, 2023

Masalah Keluarga (5)

Saya semakin meyakini bahwa setiap orang memiliki kesunyian masing-masing apalagi ketika memutuskan untuk berkeluarga. Masalah akan semakin besar dan tidak akan pernah sirna sehingga pernikahan adalah perjuangan seumur hidup untuk saling berkompromi antara dua insan manusia. Keluarga yang kita lihat bahagia belum tentu sebagaimana adanya, selalu ada riak-riak yang mengiringi perjalanan mereka.

Istri saya bercerita tentang saudara sepupunya yang sedang memiliki permasalahan dalam pernikahannya sementara dari luar, mereka adalah keluarga yang bahagia

#5 2023

August 4, 2023

Ibu dan Kedua Anaknya (4)

Saat tiba di pool Pasteur, travel berhenti beberapa menit sebagai prosedur untuk mengangkut penumpang yang naik dari pool Pasteur. Setelah beberapa saat, mobil travel belum juga berangkat sementara semua penumpang yang naik dari pool Pasteur sudah di atas mobil.

Saya melihat si sopir membuka pintu baris ketiga kemudian bertanya kepada salah seorang ibu dengan dua orang anaknya. Dia memastikan kepada si ibu berapa tiket yang dibeli. Si ibu menjawab bahwa dia membeli dua tiket karena anaknya yang satu masih berumur dua tahun dan masih bisa dipangku.

Si sopir sedikit komplain karena ada satu kursi yang kosong. Mendengar komplain sopir, si ibu dengan legowo mengatakan bahwa jika memang nantinya bermasalah, dia akan membayar lagi kursi yang kosong di sampingnya. Si ibu menambahkan bahwa setiap minggu dia pergi pulang Bandung-Jakarta dengan skema membeli dua tiket dan anak satunya dipangku tetapi tidak pernah bermasalah.

Setelah itu, si sopir menerima argumen si ibu dan segera menuju tempat duduk sopir. Mobil kemudian berjalan di tengah kemacetan kota Bandung menuju pintu masuk tol.

Setelah momen tersebut, saya baru sadar bahwa ternyata si sopir tersebut baru pertama kali saya lihat. Sejak tujuh bulan rutin menggunakan jasa travel ini, baru kali ini saya melihatnya. Sebelumnya saya sangat mengenali sopir jurusan Surapati menuju Lenteng Agung.

#4 2023

August 3, 2023

Mengambil Sikap (3)

Ini tentang friksi antar rekan yang tak jua kelar. Saya yang tidak mempunyai masalah apa-apa berusaha untuk keluar dari polarisasi pertemanan yang terjadi. Sekuat apapun mereka mau menarik saya ke salah satu kubu maka sekuat itu pula saya menegaskan pendirian saya bahwa saya tidak akan pernah ikut dalam alur perseteruan mereka.

Kemarin saat hendak pulang, saya diminta masuk di salah satu WAG dan saya tegaskan untuk tidak ikut. Dia tetap mendesak apa alasan saya kemudian dengan lugas saya katakan bahwa sebisa mungkin saya ingin menghindari gibah. Saya tahu bahwa di antara mereka, setiap kali terjadi percakapan yang hangat, pasti akan selalu menyerempet ke arah saling bergibah dan ini saya dengar langsung dengan kuping saya.

Entah, saya tidak sedang sok suci bahwa bebas dari pergibahan tetapi sepanjang perjalanan hidup yang sudah saya lewati, saya merefleksikan bahwa menceritakan orang lain di belakangnya membutuhkan energi yang banyak bahkan ketika selesai bergibah, ada perasaan tidak tenang dalam hati. Hal itu yang kemudian ingin saya hindari apalagi dengan umur saya yang sudah tidak mudah.

Mungkin klise karena sering sekali dikutip tetapi benar apa yang dikatakan oleh mantan diplomat AS, Eleanor Roosevelt bahwa:

"Orang besar membicarakan ide, orang biasa membicarakan peristiwa, dan orang kerdil membicarakan orang lain"

Saya rasa quotes tersebut sudah menjadi panduan bagi saya untuk terus merefleksikan apa yang sudah dijalani dan di mana posisi saya saat ini, apakah masih sebagai orang kerdil atau sudah beranjak untuk membicarakan ide.

Tidak berada di salah satu kelompok memang akan menjadikan saya seperti terasing dan tidak mau bergaul tetapi saya selalu yakin dan percaya keputusan yang sudah saya ambil. Pun nantinya hal-hal terburuk terjadi apa saya maka itu konsekuensi dari pilihan sadar yang sudah saya putuskan untuk tidak menceritakan keburukan orang lain.

Memang secara naluriah, seseorang suka menceritakan orang lain apalagi jika ada konflik di antara mereka dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk melihat diri ke dalam. Tidak terjebak pada hal-hal kecil yang membuat kedaulatan diri saya semakin berkurang. Saya yakin semesta punya berbagai cara untuk menunjukkan saya jalan yang akan mengantarkan saya ke titik yang ideal.

#3 2023

August 2, 2023

Membuktikan Diri (2)

Bulan juli menjadi salah satu bulan produktif saya mempublikasikan tulisan-tulisan saya di media. Saya juga sudah tidak ragu untuk membagikan ke publik ide-ide yang sudah saya tulisan sebagai salah satu usaha untuk mencitrakan diri sebagai orang yang "sedikit" bisa menulis. 

Dalam takaran tertentu, saya rasa perasaan untuk mencitrakan diri sebagai penulis, masih lumrah karena akan terus mendorong saya untuk produktif dan terus menulis ide-ide yang melintas di kepala, namun di lain pihak, saya mencoba untuk menahan diri jika sudah dalam tataran ingin membuktikan diri kepada orang lain.

Ukurannya ketika saya memposting status tulisan, saya selalu mengecek siapa saja yang sudah membaca tulisan saya dan itu sudah sedikit melebihi batas. Harusnya tidak perlu untuk peduli siapa yang sudah membaca selama tulisan sudah dimuat di media, maka akan menemukan segmennya tersendiri.

Menulis adalah cara berbicara dengan diri sendiri ketika ada ide yang tidak bisa diartikulasikan dengan baik kepada orang lain. Menulis juga semacam cara untuk sedikit menundukkan hati agar tidak terlalu terganggu dengan hal-hal di luar diri sendiri.

Selain itu, menulis juga menjadi sarana aktualisasi sendiri sehingga minimal ada sedikit karya yang bisa dihasilkan dari oleh pikir karena ketika mandek berpikir, maka hidup menjadi seperti robot. Hanya berjalan tanpa arah yang jelas.

#2 2023

August 1, 2023

Target Menulis (1)

Juli sudah berlalu dengan berbagai dinamikanya dan pasang surut mood yang tidak bisa dikontrol dengan baik. Di akhir Juli kemarin, mendengar kabar meninggalnya seorang kerabat di kampung juga tetangga dekat. Umurnya masih terbilang mudah sekitar 45 tahun tetapi begitulah namanya ajal, tidak pernah menjadikan waktu sebagai salah satu indikator untuk mendatangi manusia. 

Juli juga menjadi momen di mana produktivitas saya dalam menerbitkan tulisan di media sedikit meningkat. Jika bulan-bulan sebelumnya, praktis saya hanya bisa menerbitkan satu tulisan maka di bulan Juli, frekuensinya meningkat dan saya rasa ini salah satu pencapaian terbaik bagi saya dan juga menjadi tolok ukur di bulan berikutnya dalam hal meningkatkan produktivitas menulis.

Sekarang memasuki Agustus dan saya akan tetap memaksa diri saya untuk menulis apa saja, tidak terbatas pada bidang ilmu yang sedang saya geluti. Menulis akan menjadi salah satu prioritas dalam keseharian saya selain tentunya karena saya punya keinginan untuk menerbitkan buku antologi dari tulisan-tulisan saya yang sudah pernah terbit di media.

Salah satu media favorit saya tentunya Kumparan.com karena proses kurasinya tidak terlalu lama jadi ketika submit tulisan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya sudah mendapat konfirmasi terkait layak tidaknya tulisan saya diterbitkan. 

Sementara Detik.com pun salah satu media yang akan menjadi tujuan saya menerbitkan tulisan. Tentu karena saya sudah sedikit bisa menerka model tulisan yang diinginkan oleh redaktur Detik.com. Persoalannya cuma, kurasinya yang membutuhkan waktu dua minggu sehingga cukup lama menunggu kepastian tulisan layak diterbitkan atau tidak.

Selain kedua media di atas, saya juga sangat berhasrat untuk menerbitkan tulisan di beberapa media lain yang belum bisa saya tembus, entahlah media apapun itu.

Agustus benar-benar akan menjadi pertaruhan diri menyalurkan energi yang besar untuk menulis dan melakukan riset karena saya juga sedang dalam proses riset kecil-kecilan tentang pengembangan UMKM usaha Sablon di wilayah Surapati. Tujuannya untuk menerbitkan buka riset yang mungkin sedikit membantu publikasi UMKM tersebut.

Lets do the best, min...!

#1 2023

July 31, 2023

Kematian (31)

Kematian selalu menjadi pelajaran paling ampuh untuk menurunkan semua ambisi yang membuncah di dalam hati. Berita kematian membuat kita tersadar bahwa semua yang sedang dijalani hanya merupakan kilatan cahaya yang nantinya tiba-tiba hilang begitu saja. Apalagi jika berita kematian dari orang yang lumayan dekat dengan kita dalam perjalanan waktu di masa lampau.

Pagi ini saya mendengar kabar kematian dari salah seorang tetangga depan rumah yang masih keluarga. Dia adalah seorang polisi yang lama bertugas di Poso. Dia memiliki istri namun belum dikaruniai seorang anak. Memang dia sudah lama menderita sakit diabetes dan bertarung dengan hidupnya.

Selama berinteraksi dengannya, dia merupakan pribadi yang baik dan tidak pernah ingin bermasalah dengan orang lain termasuk juga pribadi yang sabar. Kepergiannya kembali memberikan pelajaran bahwa hidup ini hanyalah perjalanan yang sangat singkat. 

Saya seharusnya sudah bisa memproyeksikan apa saja yang harus saya lakukan di dalam hidup yang singkat ini tanpa menghabiskan waktu untuk menyesali masa yang sudah lampau dan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi.

Kepergian akan selalu datang dan kita tidak pernah tahu dengan pasti kapan giliran kita menyusul ke kehidupan yang abadi. Saya hanya berharap semoga saja hidup saya tidak menyusahkan orang lain khususnya keluarga saya dan sebagai suami, saya selalu berdoa kepada Sang Maha Pemilik Rezeki agar saya diberikan rezeki yang cukup sebagai wasilah untuk mencukupi rezeki anak istri saya.

#31 Juli 2023

July 28, 2023

Khawatir Rezeki (28)

Senin kemarin, seperti biasa saya kembali ke Bandung untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tetapi ada yang berbeda dengan bawaan saya karena saya membaca begitu banyak makanan dengan asumsi bahwa nanti mengurangi biaya makanan saya di Bandung.

Pada perjalanannya, ternyata ada banyak acara di kampus sehingga saya mendapat makanan dan tidak harus mengeluarkan biaya makan sementara makanan yang saya bawa dari rumah ternyata tidak habis juga.

Akhirnya saat pulang ke Jakarta di akhir pekan, saya membawa pulang makanan yang sebelumnya saya rencanakan untuk dimakan di Bandung, bahkan ada makanan yang expired karena tanggal layak konsumsinya sudah lewat.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih bijaksana dalam menyikapi rezeki bahwa jangan sesekali khawatir apa yang akan dimakan esok hari karena sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pemberi Makan. Kita hanya perlu berusaha tanpa harus khawatir secara berlebihan.

#28 2023

July 27, 2023

Pulang Lebih Awal (27)

Hari ini saya pulang lebih awal. Biasanya saya mudik di akhir pekan tetapi karena awal pekan depan saya sudah harus masuk kampus, maka saya memutuskan untuk pulang lebih awal.

Di sepanjang perjalanan, saya merefleksikan perjalanan hidup saya tentang apa saja yang saya lalui. Waktu saya cukup banyak untuk melakukan sesuatu yang produktif namun ternyata masih belum optimal karena manajemen waktu yang kacau

#27 2023

July 23, 2023

Evaluasi Diri (23)

Saya tertohok ketika mendengar potongan diskusi Sabrang di salah satu akun youtube. Dia menekankan jangan sesekali merendahkan orang lain karena setiap orang punya kebenaran masing-masing. Manusia sering memandang orang lain dengan simbol yang melekat. Jika pejabat maka mereka hormat tetapi jika manusia yang tidak punya simbol fungsional yang mereka hormati maka mereka akan merendahkannya. 

Saya selalu berusaha untuk tidak merendahkan orang lain termasuk juga saya berusaha untuk tidak inferior di depan orang yang dianggap memiliki simbol duniawi yang layak dihormati misalnya orang kaya atau orang berpangkat. Saya akan selalu menempatkan semua manusia sesuai fungsinya.

Beberapa hari ini, saya mencoba untuk mengevaluasi diri saya termasuk cara saya berinteraksi dengan orang lain. Fase kehidupan yang sedang saya jalani sekarang lebih banyak di kampus sehingga ada beberapa orang yang sering saya temui.

Salah satu dari mereka ada rekan saya yang mungkin sebagian orang menganggapnya sulit tertebak. Saya juga pernah beberapa kali mengalami pengalaman yang menurut saya tidak terlalu baik yaitu sudah janjian dengan waktu yang sudah disepakati namun molor.

Hal yang ingin saya evaluasi adalah cara saya berinteraksi dengannya beberapa hari ini yang terlalu banyak bercanda. Beberapa kejadian kemarin mengingatkan saya bahwa dia sebenarnya sangat perasa dan menilai orang lain. Dia mengingatkan saya untuk tetap berada pada batas-batas yang seharusnya. Ada potongan cerita yang kemudian menyadarkan saya bahwa, "oke, saya sudah melewati beberapa titik batas yang seharusnya."

Setelah ini, saya akan kembali ke titik awal untuk menjalin relasi secara profesional dan tidak terlalu bercanda yang mungkin hanya akan merusak relasi pertemanan.

Ingatkan saya, Ya Allah.


#23 2023

July 22, 2023

PkM (22)

Hari yang cukup melelahkan dengan berbagai aktivitas yang harus dijalankan. Seminggu yang lalu, saya dan salah seorang rekan sudah merencanakan pelaksanaan PkM di salah satu komunitas sablon daerah Surapati. Kegiatan ini salah satu bentuk manifestasi dari tugas utama sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi.

Tentu ini merupakan pengalaman pertama saya melaksanakan PkM karena tahun lalu belum bergabung di kampus. Meskipun pengalaman pertama tetapi pengalaman saat kuliah S1 mengadakan berbagai kegiatan di tengah masyarakat sehingga paling tidak ada gambaran di kepala saya seperti apa kegiatan ini akan berlangsung.

Sebelumnya dijadwalkan akan diadakan setelah dhuhur namun saat konfirmasi kepada ketua komunitas, dia menyarankan untuk diadakan di pagi agar peserta bisa hadir. Alhasil waktu pelaksanaan diundur ke pagi hari. Sebenarnya secara pragmatis juga menguntung saya karena siang hari saya bisa langsung pulang ke Jakarta.

Kami tiba di lokasi sekitar 10 menit sebelum acara dimulai kemudian mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Pelaksanaan mundur 30 menit karena peserta dari pelaku komunitas terlambat datang.

Meskipun dengan peserta yang sangat minim, tidak mencapai 10 orang namun saya rasa bahwa acaranya cukup sukses. Saya pribadi belum terlalu maksimal tetapi semoga ini merupakan perjalanan awal untuk mematangkan diri karena memang tidak bisa instan. Saya terlalu terlambat untuk terjun di bidang ini sehingga harus sabar menunggu kematangan diri.

#22 2023

July 20, 2023

Identitas (20)

Kemarin saya ikut pengajian Asep Rahmat. Ada salah satu kisah yang beliau ceritakan yang sangat berbekas di memori saya. Beliau berkisah bahwa di tahun 2012 saat melaksanakan umrah, beliau menyempatkan ke Yordania. Saat sedang berada di ruang tunggu bandara Yordania, beliau duduk tidak jauh dari 4 orang arab yang merupakan satu keluarga. suami, istri dan kedua anaknya. Pakaiannya lengkap selayaknya orang arab.

Layaknya orang Indonesia yang suka menyapa orang lain meskipun tidak dikenal, beliau menyapa si bapak dengan sapaan standar, menanyakan kabar dan asal dari mana. keluarga tersebut ternyata berasal dari Ramallah, salah satu daerah yang selalu membara dengan konflik.

Si bapak tersebut yang lengkap dengan jubah orang arab pada umumnya kemudia menebak asal ust. Asep "dari Kuala Lumpur ya?" tebaknya. Tidak, saya dari Indonesia.

Mendengar kata Indonesia, si bapak yang duduk sekitar 4 kursi dari ust. Asep langsung berdiri dan memeluknya sambil mengusap kepala ust. Asep. Salah satu budaya orang Arab yang menunjukkan keakraban dan rasa sayang adalah mengusap kepala.

Terucap kalimat terima kasih dari mulut si bapak Arab sambil berkata bahwa Indonesia sudah begitu banyak mebantu Palestine mulai dari membangun sekolah, rumah sakit, fasilitas lain serta bantuan lainnya. 

Sepersekian menit, terdengar panggilan untuk boarding tujuan ke Kuala Lumput karena keluarga tersebut hendak ke Kuala Lumpur. Salah seorang anak menghampiri mereka mengingat bahwa pesawat sudah sebentar lagi akan berangkat.

Si bapak kemudian pamit dan sekilas mata ust. Asep melihat istri si bapak yang dari tadi duduk membaca kemudian bangkit berdiri, dan di sinilah satu hal yang snagat berkesan. Saat berdiri, kalung salib besar yang dikenakan oleh istri si bapak keluar dari jubahnya. Ust Asep juga baru menyadari bahwa bapaknyang tadi memeluknya menggunakan salib tetapi lebih kecil.

Ust Asep kemudian menyadari bahwa simbol pakaian syar'i yang kita kenal di Indonesia sebenarnya bukan murni identitas Islam tetapi identitas Arab karena kaum Nasrani Arab juga memakai pakaian yanv persis sama dengan orang Islam sementara mayoritas orang Indonesia menganggap bahwa pakaian seperti itu merupakan identitas Islam.

Kisah ust Asep juga mngafirmasi penelitian saya tentang konflik Palestina Israel bahwa konflik tersebut bukan karena faktor agama. Keluarga tadi yang merupakan orang Palestine-Nasrani pun merasa terbantu dengan Indonesia dan juga merasakan dampak invasi dari Israel.

 #20 203