April 8, 2023

Ramadan (17)

Aku berhasrat untuk menenggelamkan diriku dalam lautan pengetahuan. Aku akan menghilangkan semua distraksi yang membuat waktuku terbuang sia-sia seperti tidur terlalu lama, bermain hp terlalu sering, bercanda terlalu kelewat batas dan hal lain yang pada akhirnya hanya membuat waktuku berlalu tanpa menghasilkan apa-apa. 

Menenggelamkan diri dalam samudera ilmu pengetahuan dalam banyak hal termasuk menambah kualitas dan kuantitas membaca serta menulis, sering merefleksikan hidup dan apa saja yang sudah dilewati, belajar atas setiap pengalaman yang sudah dijalani, berinteraksi dengan manusia dengan baik dan mengambil pelajaran dari mereka, dan semua hal yang pada akhirnya menambah kualitas diri.

Aku ingin dikenal sebagai orang yang haus ilmu, kemudian mengabdikan hidup dalam ilmu pengetahuan serta memanfaatkan ilmu kepada semua makhluk. Sejatinya bahwa ilmu itu diukur dari seberapa manfaat kepada diri sendiri dan kepada makhluk.

Rasa-rasanya, dengan umur yang sudah segini tuanya, bukan halangan untuk kembali memulai semua dari awal tanpa harus inferior melihat orang yang lebih muda sudah mendapat pencapaian yang lebih tinggi. Hidup bukan tentang kompetisi, juga bukan perbandingan dengan orang lain karena masing-masing orang punya kesunyiannya sendiri dalam menjalani hidup.

Aku juga akan menutup pintu untuk omongan orang lain yang menjatuhkan. Kita bisa merasakan mana omongan orang lain yang memberikan semangat dan mana yang sekadar ingin melihat kita jatuh karena pada dasarnya, tidak semua lingkaran dalam hidup kita memberikan dukungan terhadap perjalanan hidup. Ada di antara mereka yang berusaha memblok langkah kita untuk mencapai titik tertentu.

#8 2023

April 7, 2023

Ramadan (16)

Sejak berkeluarga dan memiliki seorang putra, saya menakar kembali setiap relasi yang selama ini saya bangun dengan sesama teman. Saya meyakini satu hal bahwa dalam membangun sebuah relasi pertemanan, ada semacam kecocokan yang tidak bisa kalkulasi atau bahasa populernya sefrekuensi. Tidak harus selalu sependapat namun meskipun berbeda argumen, kita tidak menjadikannya sebagai sumber konflik.

Sementara ada teman yang meskipun kita sudah berusaha untuk membangun kedekatan tetapi nampaknya tidak ditakdirkan untuk menjadi teman dekat. Pola tersebut saya pelajari sejak kuliah sampai saat ini dan saya percaya bahwa memang ada orang yang ditakdirkan dekat dengan kita namun ada juga yang hanya sekadar kenalan.

Awalnya saya selalu merasa ingin dekat dengan semua orang yang saya kenal dengan berbagai cara. Berusaha menyenangkan mereka dan mencoba membantu sebisa yang saya dapat lakukan, namun dari berbagai pengamatan panjang, saya mulai menyadari bahwa relasi manusia tidak harus dekat dengan semuanya. 

Berangkat dari pengamatan tersebut, saya kemudian tidak selalu berusaha dekat dengan semua orang yang saya kenali. Porsi saya hanya mencoba berbuat baik tanpa ingin menjadi teman dekat. Jika mereka tidak suka maka saya tidak akan mencoba menyenangkan mereka.

Prinsip saya bahwa selama bukan keluarga, maka saya tidak terlalu peduli dengan setiap omongan yang keluar dari siapapun yang saya temui entah di lingkungan kantor.

#7 2023

April 6, 2023

Ramadan (15)

Menyadari bahwa waktu terus berlalu sementara kualitas diri tidak jua meningkat merupakan sebuah kesengsaraan. Pilu dalam diam yang tak terlukis dengan semua apa yang telah terjadi. Ada rasa penyesalan yang menggumpal namun tak jua menemukan penawarnya.

Sedih namun tak tahu bagaimana menawarnya. Sepi namun tak jua menemukan kedamaian. Ada riuh yang terus saya menggelayut tanpa tahu sebab musababnya. Bisa jadi karena ambisi yang tak sejalan dengan ikhtiar.

Oh sang waktu yang fana, menggerogoti setiap langkah yang tak bernilai. Diri ini serasa berjalan di belantara kota namun sepi dalam jiwa.

Saya suka tausiah dari Buya Hamka yang menggugah dan membangunkan jiwa saya untuk tidak terus-menerus berada di dalam keadaan seperti ini.

"Salah satu pengerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas. Mendahulukan istirahat sebelum lelah. Hal yang melemahkan semangat ada dua yaitu prasangka dan hati yang busuk.

Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal karena orang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah karena dengan kesalahan yang pertama, kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua." Buya Hamka.

Masih banyak kutipan hikmah dari Buya Hamka yang relevan dengan kehidupan sekarang. Mungkin akan saya tulis potongan-potongan hikmahnya di postingan berikutnya.

#6 2023

April 5, 2023

Ramadan (14)

Mungkin ini perdebatan usang tentang apakah benar adanya persahabatan antara seorang pria dan wanita tanpa melibatkan perasaan asmara?

Salah seorang rekan saya sama sekali tidak mempercayai konsep persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, tidak ada yang namanya persahabatan berbeda lawan jenis karena pada titik tertentu, akan timbul rasa mengagumi yang pada akhirnya melahirkan bibit cinta.

Apakah itu benar? tentu sangat subjektif tergantung masing-masing pribadi melihat relasinya dengan lawan jenisnya. Namun memang agama memberikan batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.

Jelas bahwa mereka yang bukan muhrim tidak ada celah untuk menjadi sahabat karena kedekatan yang terlalu akrab akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

#5 2023

April 4, 2023

Ramadan (13)

Konsisten atau dalam bahasa agamanya istiqomah, bukan sesuatu yang mudah. Butuh energi yang besar untuk tetap berada di jalan yang diyakini dalam menelusuri setiap lorong gelap tanpa lari dari jalan yang sudah dijejak demi tujuan yang ditetapkan.

Distraksi paling besar biasanya handphone. Semua kalangan pasti punya persoalan yang sama bahwa terkadang handphone dengan segala fitur yang disediakan sering membuat kita lalui. Media sosial, game dan aplikasi lain yang tidak mampu dihindarkan.

Konsisten membutuhkan strategi yang matang sehingga kita tidak terlempar lagi ke dalam jurang kekalahan diri. Konsisten memang tidak menyenangkan namun akan menghasilkan kebahagiaan ketika sudah tiba pada sebuah tujuan, sementara game, nonton film, media sosial dan hal-hal menyenangkan lainnya hanya memanipulasi diri untuk tetap terjebak ke dalamnya lalu kemudia kita tidak menyadari bahwa waktu sudah berjalan begitu jauh.

Saya sedang berusaha untuk konsisten dalam menulis meskipun seringkali ide tidak muncul namun setidaknya saya tetap menulis minimal satu paragrap. Satu hal yang perlu diingat tentang konsisten bahwa ketika sudah keluar jalur maka paksakan diri untuk kembali ke jalur yang benar. Jangan terlalu sering membuat permakluman seperti "ini hanya sebentar" nonton youtube sebagai self reward" dan justifikasi lain untuk tetap bermalas-malasan.

#4 2023

April 3, 2023

Ramadan (12)

Hari yang pada di awal pekan dan menguji kesabaran di bulan ramadan. Sejak pagi, saya sudah siap untuk mengantar istri dan rencana langsung ke kantor samsat untuk gesek kendaraan karena seharusnya, motor saya sudah harus ganti plat dua bulan lalu.

Setelah mengantar istri ke kantornya, saya menuju kantor samsat di Jakarta Selatan. Jalan Gatot Subroto seperti biasanya, padat merayap bahkan motor tidak punya celah untuk melaju. Saya butuh sekitar setengah jam untuk sampai di kantor samsat yang jaraknya hanya beberapa km dari kantor istri.

Di depan samsat, saya melihat kendaraan di parkir di sepanjang trotoar dan parkiran samsat kosong. Saya baru menyadari bahwa ada acara penyambutan sehingga motor dilarang masuk. Saya harus memarkir kendaraan di belakang kemudian berjalan kaki sekitar 1 km, cukup melelahkan apalagi matahari sedang terik dan di bulan ramadan.

Setiba di loket samsat, saya menjumpai ruangan yang masih kosong karena belum jam kantor. Salah seorang petugas menyarankan untuk mencari kantor samsat terdekat karena sedang ada acara dan tentu pelayanan akan terhambat.

Saya menyetujui sarannya dan segera melaju ke samsat Jakarta Timur. Sebenarnya ada alternatif di samsat Jakarta Barat namun saya tidak tahu persis lokasinya sedangkan samsat Jakarta Timur sudah familiar bagi saya ketika dulu masih bekerja di Rawamangun.

Tidak butuh waktu lama untuk tiba di samsat Jakarta Timur namun sialnya, saat akan menyerahkan dokumen untuk dilegalisir, harus dilampirkan KTP atas nama kendaraan yang kebetulan atas nama istri saya. Meskipun saya sudah memegang surat gesek kendaraan namun belum dilegalisir.

Saya pulang ke rumah mengambil foto copy KTP istri. Jarak yang cukup jauh dari rumah ke samsat membuat badan cukup pegal, namun saya merasa nanggung kalau tidak selesai karena saya sudah harus masuk kantor esok hari.

Saya kembali ke kantor samsat dan untungnya bisa diselesaikan. Butuh waktu sekitar satu jam antri untuk kemudian selesai dilegalisir.

Semoga bisa diganti plat karena pajak sudah off tiga tahun dan ganti plat sudah lewat dua bulan.

#3 2023

April 2, 2023

Ramadan (11)

Minggu yang cerah namun berbagai deadline menghantui termasuk bahan ajar kuliah yang harus segera dibuat agar tidak gelagapan saat mengajar di kelas. Tantangan saya yang paling berat tentu adalah bagaimana memaksa diri untuk lebih giat lagi untuk meriset bahan yang harus saya sampaikan.

Selain itu, masih banyak deadline yang sudah menghantui termasuk target pribadi seperti menulis draft buku yang sudah saya rencanakan.

Tidak ada yang benar-benar selesai karena saya gagal dalam merencanakan dengan baik apa yang menjadi prioritas. Impian terlalu banyak dan mimpi terlalu tinggi sementara hal-hal receh di depan tidak mampu dikonstruksi dengan baik.

Tidak ada sesuatu yang besar tanpa menuntaskan hal-hal kecil. Mimpi yang besar seringkali terwujud dari rangkaian realisasi mimpi-mimpi kecil.

#2 2023

April 1, 2023

Ramadan (10)

Tadi siang saat pulang dari mall Penvil mengantar istri belanja, saya menemui peristiwa yang memang umum terjadi di kota ini. Kejadian yang mungkin setiap orang punya potensi untuk melakukan hal yang saya tergantung bagaimana pengendalian diri seseorang. Saya sendiri tentu punya potensi untuk melakukan hal yang sama dan seringkali meledak.

Jadi ketika tiba di lampu merah kementerian pertanian, kendaraan cukup padat seperti biasanya. Ada empat jalur yang harus antri di lampu merah. Ketika lampu lalu lintas masih merah dari arah Ragunan menuju Mampang menandakan bahwa kendaraan harus berhenti, namun ada kendaraan roda dua yang dikendarai oleh seorang bapak paruh baya tanpa menggunakan helm membonceng seorang perempuan yang mungkin seusianya. 

Dia hampir menabrak motor dari arah berlawanan yang dikendarai oleh seorang gadis. Mungkin merasa terhalangi atau merasa benar, si bapak berteriak lantang sambil memaki ke arah pengendara gadis. Dia melontarkan berbagai umpatan yang mengundang perhatian pengendara lain.

Si ibu yang dibonceng memberikan kode untuk tidak mengumpat dan melanjutkan perjalanan namun tidak digubris sama sekali oleh bapak yang sudah tentu salah karena tidak menggunakan helm. Teriakannya seperti orang yang sedang meluapkan masalah yang sudah menumpuk di kepala.

Sesungguhnya peristiwa semacam itu seringkali saya temui di jalanan ibu kota. Orang-orang tidak memberikan ampun kepada orang lain dan selalu merasa benar sehingga mereka merasa sudah seharusnya diberikan jalan. Saya tentu kadang-kadang merasa emosi di jalan namun berusaha sekuat mungkin untuk tidak meluapkan amarah.

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang bapak yang menetapkan kriteria seorang menantu bahwa jika ingin mencari menantu, uji kesabarannya dengan berkendara di jalanan ibu kota yang padat. Jika tidak emosi maka salah satu tanda dia mampu mengendalikan diri.

Hidup tentang bagaimana setiap hari memperbaiki diri.

Begitulah...

# 1 2023


March 31, 2023

Ramadan (9)

Saya menyadari bahwa ada hal yang masih harus saya perbaiki dalam diri saya yaitu bagaimana menenangkan diri dalam setiap kondisi. Sesuatu hal yang alami jika saat tampil, seseorang pasti mengalami perasaan was-was namun tidak seharusnya perasaan itu membuat gentar apalagi profesi yang memang menuntut untuk tampil di depan orang.

Hari ini ada workshop di kampus dan rencana awalnya, saya yang menjadi moderator, namun kemudian diubah akhirnya saya tidak menjadi moderator. 

Bukan persoalan jadi atau tidaknya namun bagaimana saya harus mengupgrade diri untuk setiap hal yang pastinya akan saya lalui ke depannya. 

#31 2023

March 30, 2023

Ramadan (8)

Saya punya begitu banyak potongan ide di kepala namun tidak mampu saya eksekusi dengan baik karena gagal dalam merencanakan prioritas termasuk gagal dalam konsistensi pelaksanaannya. Kegagalan demi kegagalan yang saya ciptakan sendiri kadangkala membuat saya muak terhadap diri yang tidak mampu sedikit lebih keras untuk meningkatkan kualitas diri.

Sikap menunda merupakan kebiasaan yang belum bisa saya hilangkan sama sekali apalagi dengan distraksi yang terlalu kuat dari sebuah benda yang disebut hp.

Sebagian tugas saya menjadi terbengkalai karena ketidakmampuan untuk menerapkan manajemen waktu. Saya baru menyadari saat sudah mendekati deadline sehingga membuat kelabakan akhirnya tidak berjalan sebagaimana adanya.

Hari ini sudah delapan ramadan dan beberapa target sebelumnya belum ada yang tercapai. Saya khawatir sampai akhir ramadan nantinya, target hanya menjadi secuil angan yang tetap menggantung di depan dahi dan menunggu  untuk dieksekusi.

#30 2023

March 29, 2023

Ramadan (7)

Entah berapa kali saya ditanya tentang keputusan saya pindah dari perusahaan dan beralih profesi menjadi bagian dari kampus. Pertanyaan yang benar-benar menjemukan dan hampir mendekati pola pertanyaan seperti pernikahan, punya anak dan pertanyaan lain yang membuat seseorang tidak nyaman.

Saya sadar kenapa setiap orang yang baru kenal saya di kampus ini selalu menanyakan seperti itu. Apalagi kalau bukan pertimbangan gaji. Mereka sadar bahwa gaji pegawai kampus jauh sangat rendah dibandingkan karyawan swasta apalagi yang bekerja di Jakarta. Saya pun sadar itu sebelum memutuskan untuk pindah dan saya berani mengambil risiko dengan beberapa pertimbangan yang lebih filosofis.

Jika hidup hanya untuk mengejar gaji bulanan maka tentu saya masih bekerja di perusahaan sebelumnya dan jika itu terjadi, maka saya masih tetap dalam kondisi serba tidak pasti dan bertarung dengan pertanyaan-pertanyaan dari dalam diri. 

Pertanyaan apa itu?

Tentang hal-hal ideal yang selalu saya pupuk dan selalu saya hidupkan dalam diri saya supaya minimal dalam menjalani hidup, saya tidak jatuh dalam pilihan terpaksa namun saya sedikit masih bisa mengontrol hidup saya.

Setelah ini bagaimana?

Tentu saya juga tidak tahu namun saya menyimpan keyakinan kuat dalam hati terdalam bahwa Semesta akan memberikan yang terbaik pada waktunya.

#29 2023

March 28, 2023

Ramadan (6)

Terjebak dalam sebuah kondisi yang mengharuskan kita ikut arus dalam sebuah lingkaran yang tidak mendukung sesuatu yang diperjuangkan merupakan salah satu hal yang cukup berat apalagi kondisi yang tidak bisa dihindari.

Fokus saya ingin merekonstruksi semua perjalanan hidup saya yang tidak baik namun tetap saja ada kondisi yang membuat saya merasa harus menahan diri untuk itu. Misalnya tentang bagaimana untuk tidak menjadi diri yang ikut dalam sesuatu yang membuat orang lain tidak nyaman.

Ada banyak hal yang ingin saya perbaiki seperti menghabiskan waktu sia-sia, perbuatan gibah, dan tindakan lain yang seharusnya tidak saya lakukan lagi dengan umur yang sudah setua ini, termasuk bagaimana manajemen waktu yang harus lebih baik lagi tanpa menghamburkan waktu begitu saja.

Hidup tentang bagaimana menentukan pilihan dan konsisten menjalani pilihan yang diambil. Hidup bukan untuk mengikuti apa pandangan orang lain karena kita akan hidup terus menerus dalam kepalsuan yang membuat kita teralienasi dari hidup kita sendiri.

#28 2023

March 27, 2023

Ramadan (5)

Hari pertama kembali ke Bandung di bulan ramadan. Tentu dengan berbagai perasaan yang campur aduk ketika harus menjalankan puasa jauh dari keluarga. Saya sudah terlalu lama tidak merasakan nuansa yang sama seperti ini, puasa di kos dan harus mikir sahur makan apa. Terakhir mungkin sekitar 8 tahun yang lalu.

Kesulitan lain karena letak kos saya berada di dalam kompleks perumahan yang jauh dari warung makanan, apalagi akses masuk ke kos ditutup portal mulai jam dua belas malam sampai jam lima subuh, artinya jika saya mau keluar menggunakan motor, maka harus membangunkan satpam yang sedang jaga.

Alhasil, seringkali saya hanya memberi dua potong roti untuk sahur sekadar mengganjal perut di siang hari. 

Kenyataan ini terkadang membuat saya berpikir kembali tentang keputusan yang saya ambil. Entah ini ujian atau langkah yang saya yang saya tempuh namun saya tidak punya pilihan lain kecuali terus bergerak maju untuk memahami makna dibalik fase hidup yang sedang saya alami.

Ramadan selalu menyisakan kenangan yang seringkali membuat suasana sendu.

#27 2023