Sejak berkeluarga dan memiliki seorang putra, saya menakar kembali setiap relasi yang selama ini saya bangun dengan sesama teman. Saya meyakini satu hal bahwa dalam membangun sebuah relasi pertemanan, ada semacam kecocokan yang tidak bisa kalkulasi atau bahasa populernya sefrekuensi. Tidak harus selalu sependapat namun meskipun berbeda argumen, kita tidak menjadikannya sebagai sumber konflik.
Sementara ada teman yang meskipun kita sudah berusaha untuk membangun kedekatan tetapi nampaknya tidak ditakdirkan untuk menjadi teman dekat. Pola tersebut saya pelajari sejak kuliah sampai saat ini dan saya percaya bahwa memang ada orang yang ditakdirkan dekat dengan kita namun ada juga yang hanya sekadar kenalan.
Awalnya saya selalu merasa ingin dekat dengan semua orang yang saya kenal dengan berbagai cara. Berusaha menyenangkan mereka dan mencoba membantu sebisa yang saya dapat lakukan, namun dari berbagai pengamatan panjang, saya mulai menyadari bahwa relasi manusia tidak harus dekat dengan semuanya.
Berangkat dari pengamatan tersebut, saya kemudian tidak selalu berusaha dekat dengan semua orang yang saya kenali. Porsi saya hanya mencoba berbuat baik tanpa ingin menjadi teman dekat. Jika mereka tidak suka maka saya tidak akan mencoba menyenangkan mereka.
Prinsip saya bahwa selama bukan keluarga, maka saya tidak terlalu peduli dengan setiap omongan yang keluar dari siapapun yang saya temui entah di lingkungan kantor.
#7 2023
No comments:
Post a Comment