Tadi siang saat pulang dari mall Penvil mengantar istri belanja, saya menemui peristiwa yang memang umum terjadi di kota ini. Kejadian yang mungkin setiap orang punya potensi untuk melakukan hal yang saya tergantung bagaimana pengendalian diri seseorang. Saya sendiri tentu punya potensi untuk melakukan hal yang sama dan seringkali meledak.
Jadi ketika tiba di lampu merah kementerian pertanian, kendaraan cukup padat seperti biasanya. Ada empat jalur yang harus antri di lampu merah. Ketika lampu lalu lintas masih merah dari arah Ragunan menuju Mampang menandakan bahwa kendaraan harus berhenti, namun ada kendaraan roda dua yang dikendarai oleh seorang bapak paruh baya tanpa menggunakan helm membonceng seorang perempuan yang mungkin seusianya.
Dia hampir menabrak motor dari arah berlawanan yang dikendarai oleh seorang gadis. Mungkin merasa terhalangi atau merasa benar, si bapak berteriak lantang sambil memaki ke arah pengendara gadis. Dia melontarkan berbagai umpatan yang mengundang perhatian pengendara lain.
Si ibu yang dibonceng memberikan kode untuk tidak mengumpat dan melanjutkan perjalanan namun tidak digubris sama sekali oleh bapak yang sudah tentu salah karena tidak menggunakan helm. Teriakannya seperti orang yang sedang meluapkan masalah yang sudah menumpuk di kepala.
Sesungguhnya peristiwa semacam itu seringkali saya temui di jalanan ibu kota. Orang-orang tidak memberikan ampun kepada orang lain dan selalu merasa benar sehingga mereka merasa sudah seharusnya diberikan jalan. Saya tentu kadang-kadang merasa emosi di jalan namun berusaha sekuat mungkin untuk tidak meluapkan amarah.
Saya pernah mendengar cerita tentang seorang bapak yang menetapkan kriteria seorang menantu bahwa jika ingin mencari menantu, uji kesabarannya dengan berkendara di jalanan ibu kota yang padat. Jika tidak emosi maka salah satu tanda dia mampu mengendalikan diri.
Hidup tentang bagaimana setiap hari memperbaiki diri.
Begitulah...
# 1 2023
No comments:
Post a Comment