Satu hal yang hilang dari diri saya adalah rasa syukur yang semakin redup. Saya jarang mendapati diriku mengucap terima kasih atas apa yang sudah saya dapatkan baik secara lisan maupun dalam hati saya dan hal tersebut yang seringkali membuat jiwa saya tidak tenang sama sekali. rasa syukur yang tidak pernah muncul dalam diri saya menjadi pertanda bahwa begitu banyak angan-angan yang menutupi nurani saya untuk sekedar bersyukur atas nikmat yang saya peroleh.
Cerita tentang kesyukuran sebenarnya selalu terpampang di depan kehidupan saya yang seharusnya menjadi pelajaran bagi saya bahwa hidup tidak sekedar mengejar angan-angan namun harus tetap bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Tadi saat penjual kue langganan anak saya ke rumah, dia diberikan ketupat dan opor ayam oleh mertua saya. menurut cerita mertua saya bahwa dia begitu senang dan berkali-kali mengucap syukur karena kebetulan hari ini dia tidak memasak di rumah. sebuah sikap bersyukur yang menampar saya karena dengan mudahnya dia mensyukuri sedikitpun yang diterima sedangkan saya yang mungkin jauh menerima begitu banyak hal, tidak mampu mengucapkan hal tersebut. Saya yang masih digaji sekian juta per bulan, tidak pernah sama sekali mengucap hal yang sama.
Satu hal yang paling saya rasakan dari tingginya angan-angan dan kurangnya rasa syukur dalam diri saya adalah diri saya yang semakin tidak tenang karena cemas akan masa depanku yang berarti bahwa saya tidak mennsyukuri apa yang sudah saya miliki.
Pelajaran lain tentang bersyukur saya dapatkan dari percakapan ringan Gus Baha dan Quraish Shihab yang ditayangkan di youtube. Gus Baha menerangkan bahwa orang-orang di pasar mendapat 5 ribu sudah mengucap syukur. cerita lain dari beliau ketika gurunya tidur di kamar yang memiliki beberapa kamar kemudian bergumam, kenapa saya harus memiliki banyak kamar sedangkan saya sudah bahagia tidur di kamar ini. kurang lebih seperti itulah. pelajaran tentang rasa syukur yang begitu banyak namun sangat sulit menumbuhkan dalam diri saya.