July 29, 2020

Harapan Akhir Tahun

Salah satu harapan terbesar saya di akhir tahun ini adalah bisa mudik ke kampung. libur lebaran idul fitri yang reschedule ke akhir tahun akibat pandemi Covid membuat libur di akhir tahun menjadi lumayan panjang, sekitar dua minggu. jika kondisi membaik kemungkinan saya mudik ke kampung sekitar 20 hari. sebuah momen langkah yang belum pernah saya dapatkan selama ini dengan libur selama itu.

Itulah kenapa saya berharap bahwa keadaan pandemi ini segera membaik atau minimal tidak menjadi lebih buruk. jika kondisi seperti ini masih terus terjadi sampai akhir tahun, maka bayang-bayang mudik bisa saja gagal karena proses transportasi yang bakalan lebih susah, harus mengurus berbagai macam kelengkapan berkas yang jika tidak dipenuhi maka kemungkinan terburuk tidak diperbolehkan melakukan perjalanan antar kota.

belum ada tanda-tanda kondisi saat ini akan segera membaik. statistik yang ditampilkan di media-media masih sangat tinggi bahkan terus menunjukkan kenaikan grafik. aturan-aturan ketat di ruang publik pun masih belum dilonggarkan dan berbagai aturan lain yang tentunya akan mengambat banyak rencana. jika demikian, akhir tahun akan menjadi rencana gagal, namun semoga tidak.

Selama merantau sejak 8 tahun silam, saya tidak pernah melewatkan rutinitas mudik setiap tahun paling tidak sekali setahun. terdengar sedikit berlebihan karena banyak perantau yang bisa bertahun-tahun tidak pernah mudik namun bagi saya, mudik adalah semacam isi ulang energi dalam diri untuk memulihkan jiwa yang sudah kosong dihantam kerasnya kehidupan di perantauan.  kampung menjadi sumber energi meski seringkali hanya dijadikan sebagai pelarian namun paling tidak, kampung selalu menerima saya setiap kali ingin lari dari kehidupan kota, dan semoga,,,

Semesta bisa mengamini doa saya. di akhir tahun ini bisa mudik ke kampung.

July 28, 2020

Masalah

Hidup adalah perjalanan dari masalah yang satu ke masalah yang lain. tidak ada manusia yang masih bernafas, yang lepas dari sebuah masalah, siapapun itu. Hanya saja tingkat masalah mereka yang berbeda. tidak ada masalah yang berat namun juga tidak ada masalah yang ringan. hal yang menentukan adalah kedewasaan seorang manusia menghadapi masalah mereka masing-masing. mungkin inilah yang dimaksud dalam Al-Qur'an bahwa "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Saya terlalu picik saat belum menikah kemudian berpikir bahwa setelah menikah, kemungkinan masalah saya akan menjadi sedikit lebih ringan, ternyata tidak. masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya seringkali kelimpungan. ternyata masalah tidak menjadi lebih mudah namun sebaliknya semakin berat namun kita harus lebih kuat dari masalah itu sendiri. "What doesn't kill you, will makes you stronger." selalu saja kutipan Nietzche tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang bahkan sampai kapan pun. orang yang tidak kalah oleh masalah mereka akan semakin kuat dan semakin siap dalam menghadapi masalah demi masalah yang akan menyerang di hari-hari berikutnya. selama jantung masih berdenyut maka masalah akan tetap ada. iya masalah adalah sebuah keniscayaan dalam hidup.

Saat mengamati berbagai periode masalah yang saya lewati, satu hal yang saya pelajari adalah ketika bertemu masalah, jangan pernah membelakanginya kemudian menjauh karena masalah tersebut tidak akan pernah sirna jika dihindari. satu hal yang menurutku terbaik adalah menghadapi masalah kemudian melakukan hal yang terbaik, setelah itu, semesta akan menuntun langkah kita melewati masalah tersebut.

Masalah itu terbagai dalah dua kotak besar. ada masalah yang diluar jangkauan kita dan ada masalah yang terjadi karena ulah kita sendiri. masalah datang di luar kemampuan kita adalah bencana dan hal-hal yang sifatnya alamiah. sedangkan masalah yang datang karena polah kita yang tidak mengukur diri misalnya kita dililit hutang karena tidak mempertimbangkan secara rasional ketika hendak berutang. semua masalah tersebut harus dihadapi untuk diselesaikan.


July 27, 2020

Teman Kuliah

Sudah hampir setahun saya kuliah di kampus Parmad. kuliah dengan situasi yang sangat berbeda karena saya mengambil kelas sabtu otomatis hanya sekali dalam seminggu. sebuah kondisi yang menurut saya tidak terlalu ideal karena kuliah bukan hanya sebagai sebuah rutinitas dalam kelas semata. kuliah seharusnya memberikan ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan siapa saja dan banyak hal. kondisi perkuliahan saya semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang merebak di awal semester dua, alhasil saya harus mengikuti kuliah online dan intensitas interaksi dengan kampus semakin berkurang.

Kondisi seperti ini membuat banyak hal hilang dari perkuliahan pada umumnya. satu hal yang paling saya rasakan adalah kedekatan dengan teman kuliah yang tidak begitu akrab, meski ada beberapa diantara mereka yang mulai akrab namun kuliah dengan mayoritas pegawai kantoran membuat suasana perkuliahan sangat tidak mengasyikkan bahkan hampa. tidak bisa disalahkan karena mereka mempunyai banyak urusan selain kuliah misalnya tugas kantor atau kehidupan keluarga bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Saya yang berada diantara mereka pun akhirnya ikut dalam arus perkuliahan yang monoton. datang ke kampus, masuk kelas, sedikit beretorika kemudian istirahat dan menunggu kelas berikutnya dan sore hari pulang ke rumah. rutinitas perkuliahan yang tidak seperti dalam bayangan saya namun tetap harus saya jalani karena kondisinya memang sudah berbeda.

Sebenarnya saya sangat berhasrat bertemu dengan teman kuliah yang gandrung akan ilmu dan suka berdiskusi untuk sekedar menambah isi kepala namun nampaknya, sampai pada tahun pertama berlalu, sama sekali belum ada teman kuliah yang seperti dalam bayangan saya. tidak ada yang benar-benar menyukai diskusi tentang konsentrasi kuliah yang sedang dijalani. mayoritas hanya menjadi apa adanya seperti pelajar pada umumnya. bukan, bukan saya merasa haus pengetahuan atau apalah namun lebih karena saya menyesali masa lalu saya yang banyak terbuang dengan main-main sehingga saya membutuhkan relasi yang serius dalam mengejar pengetahuan, namun nampaknya belum ada seperti dalam bayangan saya. 

Entahlah mungkin saya yang belum pantas menemukan teman yang seperti itu. saya harus memantaskan diri terlebih dulu.

July 26, 2020

Hal-Hal Sepele

Kemarin sore saat berolahraga di taman Dadap Merah. tiba-tiba melintas 4 orang dengan pakaian rapi. sangat mencolok dari pengunjung taman karena rata-rata orang yang ke taman tersebut berniat olaharaga. sepersekian detik, saya tidak terlalu memperhatikannya sampai pada saat mereka melintas di pos satpam, salah satu dari mereka, seorang cewek dengan dandanan rapi, bersitegang dengan tukang parkir taman. entah apa yang dipermasalahkan namun yang pasti si cewek mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas sambil berlalu sedangkan tukang parkir dengan muka memerah, terus saja meneriakinya. akhirnya mereka menjadi tontotan bagi semua orang di sekitar taman.

Tadi pagi saat kembali berolahraga, saat hendak pulang dan menuju parkiran, saya menyodorkan uang parkir ke pemuda yang bersitegang dengan si cewek sehari sebelumnya. saya iseng menanyakan apa yang membuatnya begitu murka dengan cewek yang berdandan rapi kemarin sore.

Si Tukang parkir menjelaskan dengan detail bahwa sebenarnya si cewek tersebut berniat foto prewed di taman kemudian disarankan oleh si tukang parkir untuk meminta izin kepada pihak kelurahan karena regulasinya seperti itu. si cewek ternyata tidak terima bahkan dia sepertinya menantang si tukang parkir.

Begitulah, hidup di kota ini seakan terlalu berat. manusia-manusianya dihantam dengan berlipat masalah secara sporadis yang membuat urat-urat mereka tegang setiap saat. seringkali saya menemukan masalah yang sebenarnya sangat sederhana namun selalu diselesaikan dengan urat leher yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Saya pun tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kali momen, saya menjadi sangat temperamental, entah karena memang bawaan atau kota ini ikut menyeret saya dalam budaya adu urat leher. momen yang paling membuatku tidak bersabar ketika berada di jalan raya. saat ada kendaraan yang menghalangi jalan saya atau mungkin sedikit mengganggu saya maka dengan serta merta, saya merasa tergangggu tanpa berusaha untuk berusaha. saya benar-benar sudah tenggelam dalam budaya kota ini. budaya yang tidak melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.

July 24, 2020

Pengingat Waktu

Salah satu pengingat waktu yang paling mujarab adalah kematian orang yang dikenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan kita meski terkadang hanya beberapa waktu. kematian membuat kita berpikir bahwa waktu benar-benar tidak bisa ditarik ulur dan akan terus berlalu sampai pada titik yang entah sampai kapan.

Mengingat waktu dengan cara memperhatikan diri secara fisik sangat tidak efisien karena seringkali manusia selalu merasa sehat dan muda. manusia tidak pernah merasa menua entah karena sikap denial bahwa mereka fana atau bisa juga karena mereka ingin tetap menikmati waktu dengan cara mereka sendiri. 

Manusia memang mempunyai cara masing-masing dalam merayakan hidup namun tetap harus diingat bahwa merayakan hidup dengan menelan habis waktu untuk hal yang sifatnya sia-sia, akan menempatkan manusia suatu saat dalam penyelesan, bahkan untuk manusia yang sudah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pun tetap akan merasa menyesal di suatu momen. 

Pagi ini saya mendengar lagi seorang yang saya kenal, sudah menggenapkan waktunya di bumi ini. beliau mangkat menuju keabadian yang sempurna dengan meninggalkan jejak yang baik. bagaimana tidak, mereka yang pernah beriteraksi dengan beliau, bersaksi bahwa beliau orang baik dan tidak pernah mengalami pengalaman yang kurang baik selama berinteraksi dengannya. saya pun yang pernah beriteraksi dengannya hanya sekitar dua bulan, juga menemui tebaran kebaikan yang disemai untuk orang-orang di dekatnya. 

Begitulah hidup, bagai memakan sambal pedas. ketika sedang mengunyah dan menikmatinya, tidak ada perasaan pedas yang menempel di lidah karena pikiran fokus pada sensasinya namun ketika kunyahan terakhir, bibir mulai merasakan panas, perut mulai beraksi dan akhirnya lidah bereaksi.

Masing-masing dari kita hanya sedang berjalan menggenapkan waktu yang diamanatkan kepada kita. entah sampai kapan namun itulah rahasia semesta. makanya dalam beberapa petuah sucir, kita hanya dianjutkan untuk melakukan hal-hal baik dalam rangka mengisi waktu yang dijalani.

July 23, 2020

Kurir Ekspedisi

Beberapa jam yang lalu seusai shalat Jum'at (27/7/2020) seorang kurir salah satu ekspedisi masuk ke gang rumah kami. tebakan saya dia akan mengantarkan pesanan namun dugaan saya meleset, dia menanyakan apakah ada paket yang tercecer di sekitar depan rumah kami. memang di pagi hari, dia datang mengantar paket di tetangga. saya kemudian berpikir bagaimana jika dia tidak menemukan paket yang merupakan tanggung jawabnya. 

Berbagai dugaan-dugaan buruk muncul di kepalaku. apakah dia akan dipecat? disuruh ganti rugi berkali lipat dari harga paket? atau sanksi lain yang tentunya tidak mengenakkan baginya apatahlagi di masa yang lumayan sulit seperti sekarang ini. risiko pekerjaan yang harus ditanggung dan terjadi tanpa diduga yang terkadang membuat kita berpikir, kenapa harus terjadi sedangkan di sisi lain, sudah berusaha secara maksimal.

Entahlah, namun semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi yang tidak bersahabat.

July 22, 2020

Doa

Saya sedang merenungi tentang hakekat doa. kenapa doa terucap yang tak terlalu diinginkan dan kadang spontan seringkali terkabul sedangkan doa yang benar-benar dipanjatkan sepenuh hati, terkadang literally tidak terpenuhi. 

Mungkin dari kita pernah berpikir bahwa hal-hal buruk yang tiba-tiba terbersit dalam pikiran kita seringkali diamini oleh semesta sedangkan beribu bait doa yang dipanjatkan dalam keheningan, seringkali meleset, meskipun dalam keyakinan agama yang saya anut bahwa semua doa terkabul meskipun dalam bentuk yang berbeda namun maksud saya di sini adalah doa yang terkabul sesuai dengan yang dipanjatkan. 

Rahasia semesta memang selalu menyisakan misteri yang manusia sendiri harus membuka tabirnya. jika tidak demikian, maka hidup ini akan semakin membosankan. itulah mengapa mungkin sebagian orang menganjurkan kita untuk tidak menyisakan ruang sedikitpun di otak kita untuk pikiran-pikiran dan energi negatif karena semesta akan mewujudkannya. 

Dulu, dulu sekali. saya pernah membaca buku yang judulnya the secret. sebuah buku tentang segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita berasal dari pikiran-pikiran kita maka buku tersebut menganjurkan jika menginginkan sesuatu maka pikirkan hal-hal tersebut dan tanamkan dalam pikiranmu sehingga suatu saat akan terwujud. 

Saya pribadi mengambil sikap yang tidak terlalu sepakat meskipun di beberapa bagian hidup saya, benar adanya bahwa ketika saya serius memikirkan sesuatu yang saya ingini maka terkadang terwujud namun ada juga potongan-potongan hidup saya yang sudah saya curahkan perhatian atas apa yang saya inginkan namun nyatanya nihil.

Saya berada pada posisi bahwa memang ada beberapa hal yang tidak terwujud dan ada yang bisa diwujudkan namun buka berarti hal tersebut membuat saya menjadi seorang fatalis.

July 21, 2020

Olahraga

Seminggu yang lalu, saya menyadari bahwa berat badan saya sudah tidak normal, hampir mencapai 75 kg. Saya memutuskan untuk olahraga dan mengurangi porsi makanan. sebuah usaha untuk tetap sehat di tengah kondisi kesehatan global yang sedang tidak menentu akibat pandemi yang tidak kunjung reda. olahraga dan menjaga pola makan adalah salah satu ikhtiar untuk tetap stay fit. olahraga yang masih memungkinkan untuk saya jalani sebatas jogging, push up, dan gerakan-gerakan lain yang tidak membutuhkan orang lain seperti olahraga beregu. 

Dulu, jenis olahraga yang benar-benar saya anggap olahraga adalah olahraga yang beregu khususnya sepakbola. bahkan dulu, saya tidak terlalu suka untuk melakukan olahraga yang hanya bergerak sendiri. jogging adalah salah satu olahraga yang paling membosankan menurut saya dan sama sekali tidak ada gairahnya. 

Kondisi sosial saya yang berubah 180 derajat, memaksa saya untuk mengikuti alur olahraga mainstream di kota ini. ikut jogging bersama rombongan kaum urban setiap sabtu dan minggu adalah satu satunya alternatif untuk tetap berkeringat selain di rumah melakukan push up. 

Kita memang harus work out dalam segala ha yang diinginkan tidak terkecuali untuk tetap berkeringat sehingga proses alamiah dalam tubuh tetap terjaga dan makanan-makanan yang setiap hari dimasukkan ke dalam tubuh tidak tertimbun menjadi penyakit.

July 20, 2020

Mudik

Lumayan menyiksa keadaan di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang. saya sebagai perantau dari kampung yang sudah terlalu jauh melangkah dan harus menyimpan rindu selama setahun untuk menengok masa depan, harus terhalangi oleh pandemi yang entah sampai kapan. 

Lebaran idul fitri kemarin di bulan Mei, saya seharusnya mudik menengok serpihan masa lalu di kampung dan melepaskan semua sisa rindu yang tertimbun di ubun-ubun sambil menyerap energi kampung yang selalu menyisakan untuk perantau tanggung seperti saya, namun apa daya, semua sirna dengan keadaan yang tiba-tiba muncul tak diundang. rindu yang sudah disimpan rapi selama setahun semakin membuncah dan melepaskan energi negatif dalam kehidupan sehingga setiap hal yang dilakukan menjadi tidak maksimal. rutinitas mudik tahunan akhirnya batal dan hanya jiwa yang terbang jauh membawa beribu serpihan rindu yang tak pernah tuntas. 

Di pertengahan tahun ini, data pandemi ini tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir. meski demikian, masyarakat seakan sudah jenuh tinggal di rumah dengan berbagai alasan dan salah satu alasan yang mendominasi adalah faktor ekonomi. mereka harus keluar demi sesuap nasi karena tinggal di rumah dalam waktu yang tak menentu adalah sebuah hal yang tidak menyelesaikan masalah. ekonomi mikro sampai yang makro hancur berantakan. semua elemen masyarakat mengalami dampak dari pandemi ini dengan berbagai tingkat keparahan. 

Saya pribadi, meski tidak mengalami penurunan pendapatan dibandingkan sebelum pandemi ini, namun tetap saja bahwa tinggal di rumah bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. berbagai kebosanan menyerang sampai akhirnya harus memutar otak untuk mengantisipasi jika suatu waktu, kantor tempat saya bekerja juga memberlakukan pemotongan gaji. 

Selain mengkhawatirkan masalah pendapatan, saya juga sedang menimbang untuk tetap mudik di akhir tahun ini mengingat hari libur lebaran dipindahkan ke akhir tahun. meski demikian, saya juga masih tetap melihat perkembangan kondisi ini yang tidak benar-benar selesai. namun apa daya, rindu harus disalurkan dengan pulang kampung.

Dan semoga semesta mengamini rencana saya mudik di akhir tahun ini

July 19, 2020

Tulisan Lama

Selama pandemi ini, saya bersih-bersih blog dan menemukan begitu banyak tulisan lama di blog ini yang sangat menggelikan bahkan tidak membawa pesan apa-apa. blog ini sudah saya kreasi tepat 10 tahun yang lalu dan awalnya saya ingin memenuhinya dengan tulisan tulisan mengenai fenomena internasional. 

Setelah tidak berafiliasi dengan dunia akademik, saya kemudian membanting arah menjadikan blog ini sebagai tulisan-tulisan refleksi, namun entah kenapa di 5 atau 6 tahun yang lalu, blog ini saya penuhi dengan puisi-puisi menjijikkan. saya bahkan tidak sudi membacanya namun juga tidak menghapus karena saya jadikan sebagai histori untuk mengenang betapa saya tidak pernah berhasil menulis dengan baik.

July 18, 2020

Menyudahi Kebiasaan Buruk

Begitu sulitnya menyudahi kebiasaan buruk atau hal yang sia-sia seperti mengorek kuping dan menyia-nyiakan waktu dengan menonton youtube atau sekedar menghabiskan kuota internet dengan memelototi media sosial. saya tidak mengerti kenapa saya begitu rapuh di depan hal-hal remeh yang sering saya lakukan, namun mungkin ini adalah bukti bahwa kebiasaan yang terulang terus menerus akan menjadi habit yang susah dilepaskan dari hidup. 

Saya menyadari bahwa begitu banyak pekerjaan yang menunggu saya dan harus segera saya tuntaskan namun saya selalu terjatuh dalam absurditas yang melenakan. setiap kali ingin melakukan sesuatu, saya mengkompromikan diriku untuk sekedar membuka media sosial atau sekedar menonton youtube dengan alasan hanya beberapa menit namun sekian menit berlalu, saya sudah menyadari bahwa berjam-jam waktu sudah terbuang dalam kesia-siaan.

Rak buku saya dipenuhi dengan buku-buku yang saya beli untuk menambah kapasitas keilmuan saya sebagai salah seorang Mahasiswa namun selalu tidak berhasil saya tuntaskan. beberapa buku yang seharusnya sudah saya baca, masih tersusun rapi di rak sedangkan waktu terus berlari dan tugas akhir kuliah sudah menanti. sampai pada akhirnya nanti, saya baru menyadari bahwa saya menjebak diri saya sendiri dalam sebuah pemenuhan nafsu kepalsuan. memandangi media sosial dan berangan-angan yang tinggi tanpa melakukan tindakan nyata, setelah itu kosong.

Oh Tuhan. semoga saya bisa mengalahkan diri sendiri yang selalu ingin membuka youtube ketika berniat membaca buku atau keinginan memandangi sosial media ketika akan beranjak mengerjakan tugas. jika pada tahapan ini saya bisa menang maka saya yakin langkah-langkah selanjutnya akan semakin ringan.

July 17, 2020

Jangan Sok Tahu

Catatan ini saya sadur dari kajian ust. Fahruddin Faiz bahwa menjadi manusia itu jangan sok tahu. Jika tidak mengerti akan sesuatu maka katakan saya tidak tahu. Semua pesan yang menohok saya karena harus diakui bahwa saya dan mungkin banyak orang, selalu tidak ingin dikatakan tidak tahu jika ditanya sesuatu dan terkadang kita berusaha menjawab apa yang sebenarnya tidak diketahui sehingga kita jatuh dalam istilah yang sering disebut "sok tahu." 

Ust Fahruddin Faiz menuturkan kisah tentang Buya Hamka yang mengangkat sebuah cerita tentang Imam Malik bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 20 masalah yang butuh penyelesaian secara ijtihad. 

Masalah yang dapat dijawab oleh Imam Malik cuma 3 masalah dan yang 17 masalah dijawab oleh Beliau bahwa "saya belum tahu." Meskipun demikian, orang tetap memandang Imam Malik sebagai Mujtahid. Jadi diantara integritas seorang ulama, seorang Ilmuwan itu adalah kejujuran. 

Meskipun Mujtahid, meskipun ulama besar kalau mereka tidak tahu pasti bilang tidak tahu, jangan ngarang. Tidak perlu khawatir, jika memang tidak tahu maka jawablah bahwa saya tidak tahu. Masyarakat tidak akan hilang penghormatannya justru semakin mulia karena orang tahu kita jujur. Kita tidak akan kehilangan integritas dengan kejujuran. Ulama zaman dulu sangat tawaddu. Bicara apa saja diakhiri "wallahu alam bissawab." 

Itu pelaran Imam Malik yang dikutip oleh Buya Hamka.

Kisah tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang khususnya diri saya sendiri. Seberapa sering saya ketika ditanya, selalu berusaha untuk menjawab bahkan ketika saya sendiri sama sekali tidak yakin bahwa masalah tersebut saya pahami. Ada rasa dalam diri semacam keinginan dianggap tahu segalanya yang sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. 

Mungkin perasaan ini pula yang membuat saya terkadang tidak konsentrasi dalam mempelajari sebuah ilmu karena dorongan ingin menunjukkan bahwa saya tahu sebuah masalah. 

Apatahlagi saat ini saya sedang kuliah, tentunya rasa ingin dianggap pintar terlalu kuat dari dalam diri sehingga jika tidak bisa mengalahkan diri atas perasaan tersebut maka ketika saya belajar tentang suatu hal, maka yang muncul pertama dalam diri bahwa saya bisa menjawab ketika ditanya dosen kemudian orang lain menganggap saya pintar. Sebuah perasaan konyol yang harusnya saya eliminasi dari dalam diri saya sebagai seorang Pelajar. 

Tentunya, untuk menepis hal-hal semacam itu, langkah pertama adalah berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika disuruh menanggapi, maka tanggapilah hal-hal yang memang dipahami. jangan menanggapi hal yang orang lain tidak menginginkannya.

begitulah kira-kira untuk belajar menjadi tidak sok tahu.