October 1, 2015

Ini Oktober

Selamat datang Oktober

Selamat di bulan yang kupilih sebagai momen terindah dalam hidupku. ah, sok sekali aku mengatakan bahwa momen itu terindah karena di dalamnya banyak tanggung jawab yang menanti. indah dan bahagia mungkin hanya sensasi dalam pikiran untuk orang sepertiku yang sedang merayakan euforia menjelang pernikahan tetapi sejatinya bahwa momen itu menandakan bahwa aku harus lebih banyak lagi belajar, belajar untuk bertanggung jawab. perasaan bahagia sejenak ingin kusimpan dan biarlah tersirat dalam perjalanan waktu dengan seorang gadis yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupku.

Selamat datang Oktober
Aku sejenak melupakan setiap mimpi berbahagia di bulan ini sebelum kupantaskan diriku merengkuhnya karena bahagai bukan tujuan namun sesuatu yang inheren dalam setiap proses kita memantaskan diri dan bertanggung jawab terhadap setiap hal. aku bertanggung jawab terhadap perempuan yang kupilih maka aku akan merengkuh bahagia itu sampai pada hal-hal terkecil pun yang membuat gadis itu betah disampingku maka bahagia itu ada disana namun ketika hal yang kuperbuat membuatnya murka maka bahagia hanyalah sesuatu yang utopis.

Selamat datang Oktober.
Jika September mengingatkanku beberapa tahun lalu hadir bumi dari rahim seorang ibu maka oktober akan menjadi bulan yang kukenang sebagai momen meleburkan diriku dalam diri seorang gadis. pikiranku berkecamuk dan sedikit prihatin dengan gadis tersebut karena kesialannya mendapatkan jodoh sepertiku, pribadi yang sampai sekarang tidak pernah pintar dan masih saja belajar tentang semua hal. 

Gadis itu bertemu dengan jodoh yang sama sekali tidak mapan namun berani-beraninya meminta gadis kepada orang tuanya. namun atas keprihatinanku terhadap kesialan gadis itu mendapatkan jodoh sepertiku, maka aku bertekad untuk melakukan hal kecil yang membuatnya selalu tersenyum. aku bertekad untuk sedikit mengeluarkan katakata yang hanya menguras air matanya.

Selamat datang Oktober
Harimu telah kupilih untuk mengabadikan kenangan kami mengikrarkan janji. sesungguhnya setelah ini, aku akan selalu mengingatku oktober tentang awal-awalmu yang akan mengingatkanku selalu betapa

September 30, 2015

Selarik Pesan Sebelum Pulang

hanya gelak yang tersisa sore ini
saat penat sudah di ubunubun
waktu adalah penantian untuk kembali ke jalan yang padat

sebelum pulang
kudendangkan beberapa bait doa dalam puisi
semoga di jalanan tak ada aral

Momen Itu Sebentar Lagi

Tiga hari lagi momen itu akan benar-benar nyata. semua rasa yang ada menyatu dalam hatiku tanpa bisa kutepis hadirnya. aku benar-benar telah melangkah mengambil tanggung jawab yang lebih besar lagi meski aku sadar sesadar sadarnya bahwa untuk bertanggung jawab ke diriku sendiri pun masih belum becus bahkan masih banyak hak diriku yang tidak kupenuhi dan terlebih tentang hal yang mungkin lebih prinsipil lagi namun apalah aku ini yang sok dewasa telah memutuskan untuk meminta tanggung jawab lagi untuk diri seorang gadis.

Tetapi ucapan untuk meminta bertanggung jawab terhadap gadis tersebut telah kuikrarkan kepada ibunya dan pantang untuk kembali mundur. hidup harus terus berlanjut dan aku harus mempersiapkan semua untuk lebih pantas mengemban tanggung jawab menjadi seorang kepala keluarga. ini bukan lagi soal coba-coba namun komitmen yang harus benar dijaga.

Tiga hari lagi aku akan memasuki dunia baru dengan tanggung jawab yang lebih. aku tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di benakku karena semua ada dalam satu rasa. menjelang momen yang sebentar lagi akan tiba, aku banyak berdiskusi dengan kawan bahkan senior yang kuanggap cakap dalam hal pernikahan dan  ini beberapa rangkuman diskusi yang masih kuingat

Tiga tahun lalu saat salah seorang temanku akan menikah, kami menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi dan satu hal yang kami perbincangkan saat itu adalah, mungkin saja sensasi sebelum menikah yang terlalu besar namun setelah itu semua berjalan seperti adanya. 

Aku pun pernah berdiskusi dengan seorang kawan saat mengantarkan undangan pernikahanku di kediamannya jln Salemba. Dia juga baru sebulan menjalani bahtera rumah tangga dan satu hal dari apa yang kami diskusikan adalah teori untuk menjawab setiap pertanyaan tentang pernikahan tersebut sejatinya tidak ada karena jawabannya ada pada momen-momen yang dijalani saat kita menikah. meski demikian, dia menambahkan bahwa tetap saja ketika menikah, kita harus bisa menurunkan ego dan perbanyak mengalah.

Seorang seniorku di Al-Markaz yang juga seorang ustadz di mesjid tersebut tidak ketinggalan kumintai pendapat dan doanya. lewat sambungan telepon, Beliau banyak berpesan kepadaku tentang pernikahan. mulai dari kehidupan sehari-hari sampai pada hubungan biologis. Beliau berpesan supaya lebih banyak bersabar dan nantinya setelah menikah, aku mencari pengajian rutin yang mengkaji Al-Quran. Beliau melanjutkan bahwa sebelum melakukan hubungan biologis, sebaiknya melakukan shalat 2 rakaat dan meminta keturunan yang shaleh shaleha.

Seorang bapak Guru Pesantren yang tinggal di Jeneponto dan kukenal baik saat kami sering bersua di mesjid Al-Markaz pun kutanyakan perihal menikah. Beliau sangat responsif dan menyarankan banyak hal. menurut beliau, menjelang pernikahan, sebaiknya melaksanakan shalat taubat untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya kemudian ketika akan ijab kabul, lebih baik shalat sunnah. saat akan melakukan hubungan biologis, perbanyak shalawat kepada kanjeng Nabi.

Entah siapa lagi yang pernah kuajak diskusi tentang pernikahan ini karena aku selalu merasa masih sangat kurang dalam hal pengetahuan untuk menghadapi pernikahan. aku merasa sok sudah pantas dan berani-beraninya mengambil tanggung jawab seorang gadis tapi tak apalah, aku akan terus belajar dan berbuat karena toh niatan untuk keputusan ini murni untuk menjaga diri.

Jakarta, 30-09-2015  08:27 WIB

September 24, 2015

Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H

Hari raya Qurban kembali dengan kenangan bersamanya. Ada banyak momen masa kecil yang abadi bersama dengan menuanya kita dan kenangan itu tidak akan pernah pudar sedikitpun. Satu dari beberapa momen tersebut adalah kebersamaan di hari Lebaran. Saya pun selalu membawa kenangan lebaran masa kecil sampai saat ini. untuk hari raya Idul Adha, hal yang paling membekas di dalam ingatanku saat masih kecil adalah kegembiraan sesaat setelah shalat ied kemudian bersama dengan kawan-kawan melihat acara pemotongan qurban di pinggir sungai. ikut membantu membersihkan daging qurban di pinggir sungai.

Itu alasan paling sentimental ketika momen lebaran tiba dan saya tidak sempat pulang kampung maka selalu saja ada kebahagiaan yang terenggut dari dalam sukmaku. Namun entah karena hal tersebut berulang kerap kali saat saya sudah menginjak bangku kuliah, maka sampai saat ini, lebaran di tanah rantau sudah mulai menjadi hal yang biasa bagi saya.

Hari ini, Saya shalat idul adha di kemenkes. Ceramah Idul Adha yang dibawakan oleh KH. DR. Anwar Sanusi lumayan menyirami qalbu. Membahas panjang masalah hakekat dari berqurban. Bahkan mengulas tentang sumber rejeki yang haram. Ketika kita shalat dan hati tidak tertaut dengan Tuhan maka sejatinya kita harus flashback dalam sebulan ini, adakah kita memakan makanan yang syubhat atau haram.

KH. DR. ANWAR SANUSI
ada banyak hal yang disampaikan oleh beliau di dalam ceramahnya kali ini. menurutnya bahwa hakekat berqurban bukan memotong hewan namun bagaimana kita melepaskan sesuatu yang paling kita cintai selain Allah SWT. Beliau mencontohkan bahwa nabi Ibrahim mampu melepaskan kecintaannya terhadap selain Allah ketika Beliau diminta oleh Allah mengurbankan Ismail yang amat sangat dicintainya namun Nabi Ibrahim sadar bahwa perintah Allah jauh dari segalanya. 


Inilah hakekat menurut KH. Anwar Sanusi bahwa bagaimana kita melepaskan sesuatu yang paling dicintai selain Allah. bisa saja itu adalah pekerjaan kita, keluarga kita, harta kita atau apapun yang membuat hati kita tidak bisa berpaling darinya.

Selamat hari Raya Idul Adha 1436 H

September 22, 2015

Tentang Berpindah

Saya selalu berpikir bahwa dalam periode setahun, akan ada perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupku. Sejak menyandang predikat sarjana, hidupku selalu berganti dinamika dalam setahun. Tahun pertama setelah tamat kuhabiskan di kampung kemudian tahun kedua di makassar, tahun ketiga berpindah kerja dalam masa setahun.

Tepat setahun yang lalu pun aku mulai kerja di kantor baru dan ngekos di dekat kantor dan setahun berjalan sampai sekarang, saya kemudian berpindah kos lagi dengan alasan yang lebih rasional lagi. Saya menyewa sebuah rumah kos di daerah mampang dan daerah ini adalah salah satu titik macet paling parah di kota ini.

Saya selalu berpikir bahwa apakah mungkin saya harus menunggu setahun dalam setiap perubahan yang terjadi dalam hidupku namun saya selalu berharap untuk tidak perlu menunggu setahun untuk perubahan yang lebih baik.

Tentang berpindah memang hal yang mudah namun kenangan adalah hal lain yang membuat proses berpindah itu sulit karena saya selalu bilang bahwa satu hal yang saya percaya sebagai sesuatu yang abadi sampai saat ini adalah kenangan itu sendiri.

Kos di Rawamangun pun sudah menjadi kenangan meski tidak terlalu berkesan namun setidaknya semua periode rutinitas tahunan sudah kulalui disana mulai dari ramadan, idul adha dan momen-momen periodik dalam setahun

Mampang, 22.09.15

Perasaan Kaum Urban di Ibu Kota

Hidup sesungguhnya di ibu kota dimulai hari ini. Aku memilih untuk ngekos di daerah Mampang yang berjarak sekitar 5 km dari kantorku. Perjalanan dari kos ke kantor membutuhkan waktu sekitar 40 menit dan kehidupan di jalanan kota ini selalu menyajikan tontonan yang menarik. Sebelumnya aku tidak bisa merasakan kerasnya jalanan kota ini karena kosku hanya berjarak beberapa meter dari kantor namun sekarang nampaknya perjuangan benar-benar dimulai di rimba raya kota ini.

Kemarin adalah hari pertama berangkat dari Mampang ke  kantor. aku berangkat tepat pukul 06:00 dan jalanan masih sedikit lengang alhasil aku sampai di kantor saat jarum jam belum menunjukkan jam 7. Tadi aku merubah jadwal berangkatku menjadi pukul 06:30, jalanan sudah mulai padat merayap bahkan di lampu merah depan kosku yang memang adalah salah satu titik macet terparah di daerah mampang. 

Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali karena dari arah Ragunan, rombongan kendaraan roda 2 masuk ke jalur busway namun petugas busway menutup akses sehingga puluhan atau  mungkin ratusan kendaraan roda dua tersebut terjebak di jalur busway sedangkan para pengendara di belakang sudah kesal dan berteriak sahut menyahut tanpa jelas. aku hanya berguman "hidup kok begini amat ya Tuhan." 

Entah apa yang berseliweran dalam ruang kepalaku saat menyaksikan fenomena seperti itu. Para pengendara jalanan memang sudah seperti robot yang harus saling mendahului. Mereka mungkin khawatir telat sampai di kantor atau mungkin juga dikejar tugas yang harus diselesaikan atau bahkan akan bertemu klien yang menawarkan keuntungan yang besar sehingga saat di jalanan, mereka merasa paling sibuk atau paling berkepentingan. "hidup kok gini amat."

aku selalu berusaha untuk menjaga ritme hatiku untuk tidak terlalu terburu-buru dalam kondisi apapun. aku yakin bahwa kondisi tergesa-gesa selalu menghadirkan ketidaknyamanan bahkan hasilnya tidak memuaskan.
menjadi bagian dari kaum urban di kota ini memang harus menguatkan tekad untuk tidak tergerus dengan budaya di kota ini. Materi menjadi tujuan awal sehingga melupakan cara bagaimana untuk kembali mengenal diri dan mengenal bagaimana hidup yang seharusnya. di kota ini selalu saja kita berharap banyak materi dan kemudian memamerkan atau bahkan memuaskan nafsu akan materi tersebut meski secara sadar kita tahu bahwa tidak akan pernah terpuaskan.

Saya selalu mengingatkan diriku untuk kembali belajar menjadi manusia dalam kondisi dan situasi apapun karena ketika sudah menjadi manusia maka kebahagiaan akan menjemput. Belajar untuk memahami siapa aku, untuk apa aku disini, apa yang harus aku lakukan dan akan kemana langkah yang akan kukayuh..??

ah, teori memang selalu mudah namun aku akan menjumpai yang sebenarnya setiap hari

Pulogadung, 22-09-15

September 21, 2015

Dinamika

Tidak ada lagi yang bisa kutuliskan untuk saat ini selain hanya sebuah perasaan hampa. Tertatih menahan rasa yang mungkin akan menggumpal menjadi sebuah dendam yang pada akhirnya akan meleleh satu persatu. Tak pernah terbayangkan berada pada posisi yang mungkin kelihatan sulit seperti ini, kondisi yang mengharuskanku untuk tetap berdiri tegak dan mengatakan kepada dunia bahwa aku bisa survive dalam semua kondisi yang ada.

Persoalan mencari kontrakan di kota ini benar-benar membuka mataku bahwa tanggung jawab sebagai suami bukan hal yang main-main. Mencari tempat berteduh untuk istri adalah perjuangan yang tidak mudah ditengah kepadatan manusia seperti ini belum lagi tentang tetek bengek masalah perabotan rumah tangga.

Persoalan lain di tempat kerja yang mengharuskan untuk menunggu dan menunggu baru kemudian bisa menikah. Aku tidak pernah bisa menyelami alam pikiran orang yang dengan sinisnya memandang setiap keputusan yang kuambil tentang kenekatan untuk menikah.

Aku sudah tidak ingin terlalu terbebani dengan setiap hal yang belum nampak bahkan hal yang menurutku hanyalah ketakutan semu yang membayangi alam pikiran. Biarkan semua berjalan dengan semestinya dan jika hal paling ditakuti yang terjadi maka tetap berdiri menatap dunia dengan sisi yang lain.

Dinamika dalam kehidupan yang membuat kita semakin bergairah. namun entah lah selalu saja kita dan bahkan aku mengeluhkan terhadap setiap kejutan-kejutan yang terjadi dalam hidup meski kita menyadari bahwa seringkali kejutan tersebut menyenangkan namun kenapa kita harus mencaci kejutan yang dihadirkan oleh kehidupan.

Ini persoalan mental dan kedewasaan dalam menjalani hidup atau bahkan juga tentang tujuan hidup. Persoalan bagaimana menikmati hidup dan berpuas terhadap sesuatu yang diperoleh adalah hal yang kedua. namun yakinlah bahwa persoalan hidup tidak akan habis didiskusikan karena tidak ada teori yang mampu mengupasnya, hanya saja kita menjalani dan selalu belajar darinya.

Rawamangun. 21-09-15

September 8, 2015

Menginap di Hotel

Tiba di hotel dengan motor kesayangan. Perasaan tidak menentu karena harus stay di tempat ini untuk seminggu ke depan dengan materi yang bejibun sampai jam 9 malam.

Motor kuparkir di samping aula hotel dan berjalan pelan ke recepsionist. Entah apa yang kurasakan namun setidaknya momen ini harus kujalani meski sebenarnya aku tidak terlalu bisa menikmati acara seperti ini.

Seingatku, baru sekali ini seumur hidup menginap di hotel alhasil tadi ketika diberi kunci hotel yang seperti kartu, mataku sigap memperhatikan orang yang menggunakannya, setelah itu baru kupraktekkan membuka pintu hotel dan tralala, done. Akhirnya satu step kulalui.

Sekarang masih leyeh-leyeh menunggu pembukaan

Hotel Bumiyata, 080915 17:54

Sisa Percakapan Kemarin

Tidak banyak yang saya perbincangkan dengan seorang kawan ketika bertemu kemarin sore. Hanya sedikit gelak tawa dan nasehat darinya. Sebenarnya tujuan awal saya ke sana hanya silaturahim seperti biasa namun dia menanyakan tentang pernikahan alhasil saya bercerita bahwa saya akan menikah sebentar lagi dan butuh sedikit teman diskusi dalam menghadapi pernikahan.

Tidak banyak pula nasehat darinya untukku karena menurutnya setiap perjalanan dalam menghadapi pernikahan sama sekali tidak ada teorinya dalam bentuk jawabannya karena jawaban itu sendiri berada dalam perjalanan yang dilewati.

Sering kita ingin merasionalisasi setiap jawaban atas apa yang akan dilewati sedangkan pada kenyataannya, jawaban itu sendiri berjalan beriringan dengan kejadian. Setiap kejadian yang belum terjadi pun jawabannya belum ada.

Yang perlu dipersiapkan  hanyalah doa-doa yang dirapal terus-menerus kepada semesta supaya langkah tetap tegak pada setiap setapak yang curam. mustahil berdoa semoga jalan selalu lurus karena sudah menjadi rumus kehidupan bahwa perjalanan yang akan dilewati akan menawarkan banyak dinamika.

Kuatkan saja tekad dan mental untuk terus berjalan. Tidak perlu risau atas setiap jawaban karena toh hidup ini hanyalah tentang proses yang kita jalani. Apakah kita menjalani proses sesuai alurnya atau bahkan kita sedang berusaha menghianati proses.

#edited

September 6, 2015

Ulang Tahun

Sejam menuju usia yang bertambah. Entah apa artinya untuk perjalanan panjang yang sudah kulewati. Terkadang masih seperti mimpi pada sampai angka pengulangan tahun ke sekian. Untuk hal pencapaian masih sangat minim bahkan perbaikan diri masih stagnan.

Di hari akhir usia tahun sebelumnya, aku masih saja menabung nista yang kelak akan ditagih oleh Sang Pencipta. Sepanjang siang tadi, aku menanam dosa yang amat besar dan tak sekalipun mampu kubendung. Aku gagal untuk umur kali ini.

Sejam lagi akan bergulir ke angka yang baru. Aku tidak punya terlalu banyak harapan untuk menjalani angka ini selain doa tulus kepada semesta semoga acara pernikahannya lancar bulan depan kemudian aku dipertemukan dengan pekerjaan yang berkah dan settle denganku.

Untuk pengharapan di umur yang akan berganti, aku ingin menargetkan beberapa hal yang menurutku harus kuperjuangkan.
1. Mendapatkan pekerjaan  yang diridhai
2. Menyicil rumah di tahun depan.
3. Kesehatan jasmani dan rohani yang stabil.

Sementara itu yang mungkin menjadi targetku di umur kali ini.
Semoga umur kali ini lebih berberkah
Kue Ulang tahun dari kantor


Jakarta Timur
060915 23:09

Karma Hari Ini

Ada banyak cerita perjalanan hari ini yang sayang sekali kalau saya lewatkan. Mungkin tidak masuk akal bagi sebagian orang namun saya adalah orang yang percaya terhadap apa yang mungkin dikenal sebagai 'karma' yang dalam arti sebenarnya saya katakan bahwa itu peringatan langsung dari semesta.

Sore tadi saat saya dari kontrakan, saya melewati tetangga sebelah dan sekilas melihat seorang gadis dengan pakaian minim. di atas motor, saya berujar kepada W jika mungkin saja mereka baru selesai melakukan ritual "ranjang." Belum sampai 5 menit saya ngrasani tetangga tersebut, kaki saya tersandung ketika keluar dari gang kontrakan, windi lalu mengingatkan supaya jangan ngrasani orang karena begini akibatnya.

Cerita kedua ketika sepulang dari arisan di Jatiasih. di atas motor, W bercerita bahwa saat menyewa rumah di surabaya, dia pernah kehilangan barangnya. Saya kemudian menimpali bahwa sedekahnya kurang sehingga dia kecurian. Tidak lama setelah itu, saya berhenti di lampu merah bekasi tiba-tiba didatangi seorang Polisi. Saya yang merasa tidak melakukan pelanggaran dengan tenang memperlihatkan STNK dan SIM. Saya baru sadar ketika polisi memberitahu bahwa lampu motor saya tidak dinyalakan alhasil saya ditilang. Polisi meminta uang tilang 100 ribu, namun saya tidak mempunyai uang cukup sehingga hanya 30 ribu yang kuserahkan kepadanya. Setelah melanjutkan perjalanan, W kemudian menyindirkan bahwa saya ditilang karena kurang sedekah seperti sindiranku terhadapnya sebelum kami berangkat arisan tadi.

Entah kebetulan ataupun tidak, namun seringkali saya mengalami hal seperti itu. Ketika keluar dari mulutku ucapan yang mungkin mengandung unsur dosa maka segera saja saya selalu mendapat balasan secara nyata.

Wallahu alam bissawab.
060915

September 1, 2015

September

Entah kenangan apa yang ingin kuingat di bulan ini selain kelahiranku. Serasa hanyalah pengulangan dari tragedi september sebelumnya sebelum menjelma menjadi november yang basah. September hanyalah menyisakan kenangan tentang sebuah hari di beberapa tahun silam ketika aku dilahirkan ke bumi dengan membawa berbagai macam beban bahkan sampai sekarang, aku harus mengakui bahwa beban itu semakin berat di punggungku yang membuatku harus tertatih dalam melangkah.

Selain dari kenangan tersebut, september kali ini mengingatkanku bahwa sebulan lagi aku memasuki fase kehidupan yang baru. tentang tanggung jawab yang lebih besar lagi sementara belum ada apa-apa yang menjadi tumpuan hanya keyakinan yang memantapkan langkah untuk tetap maju menghadapi dunia.

Aku menggambarkan perjalanan waktu seperti garis lurus kedepan dimana setiap titik ada 12 bulan penanda bulan masehi yang sama yang akan dilalui selama masih diberi kesempatan untuk berjalan. Sebenarnya semua hanyalah pengulangan dalam hal nama namun pada dasarnya tidak ada yang berulang karena semakin berjalannya waktu maka semua semakin menua bahkan bumi ini sendiri dan pada akhirnya nanti, bumi akan tiba pada titik unjung yang membuatnya hancur dengan berbagai alasan, mungkin pertama karena bumi sudah terlalu tua, bumi sudah semakin rusak oleh tangan manusia atau bahkan memang bumi sudah ditakdirkan untuk kiamat.

September adalah permulaan dari apa yang sedang saya jalani. Berjalan mengitari setiap jejak langkah yang sudah sejauh ini saya jelajahi.

Gadis Kecil

Aku tidak bisa memahami hal-hal yang terlalu rumit..!!
Katamu di beberapa sela perbincangan kita. Bahkan aku yang sering berceramah tentang apa saja yang mungkin aku sendiri tidak mengerti. Aku terlalu ingin menceritakanmu dunia realitas yang tidak inderawi.

Dulu, aku bermimpi bertemu dengan gadis yang sejalan dengan pikiranku dan bisa kuajak berdiskusi tentang buku terakhir yang kami baca ataupun mungkin tentang seberapa banyak tulisan yang kami hasilkan namun seiring denga berjalannya waktu, kriteria tersebut luntur dan berubah menjadi sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang mampu memperlakukan ibunya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri.

Aku bertemu gadis tersebut di ujung timur pulau ini. tidak terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika kami berinteraksi namun entah kenapa, aku seakan tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

Selalu ada hal tak terduga dalam hidup yang kita jalani. banyak pula teori yang bertebaran tentang hidup, ada yang beranggapan bahwa semua bisa diraih jika kita mengusahakannya dan menempatkan Tuhan hanya sebagai simbol dan ada pula yang menjalani hidup bersandar pada takdir yang kemudian dikenal dikenal kaum fatalis sedangkan kelompok yang ketiga adalah orang orang yang menggabungkan dua teori tersebut dalam menjalani hidup.

Paragrap diatas mungkin tidak ada kaitannya dengan judul tulisan yang sedang kuketik namun aku hanya ingin mengatakan bahwa dalam segala hal termasuk pula dalam menjatuhkan pilihan pada pasangan hidup, kita tidak perlu terlalu meninggikan kriteria karena sejatinya pasangan hidup toh akan menjadi teman dan satu elemen paling mendasar untuk memilih pasangan menurutku adalah kesesuaian cara memandang hidup.

Aku sudah sampai pada tahap belajar bagaimana tidak menempatkan sex pada prioritas utama dalam meilih jodoh karena mungkin juga aku terpengaruh oleh rumusan cak nun bahwa sex adalah pewujudan paling dangkal pada kebudayaan manusia.

Aku sebenarnya berkeyakinan bahwa yang membuat sex itu menjadi wah karena sensasi dalam otak yang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sekitar terutama citra masyarakat tentang perempuan yang sexy ditambah lagi dengan media yang selalu mengembor-gemborkan perempuan sexy yang digambarkan sebagai perempuan yang berdada montok, bokong aduhai, tinggi semampai dengan badan yang ramping. namun pada dasarnya, semua itu hanyalah sensasi di otak yang tidak seheboh dengan kenyataannya, toh sex hanya berakhir pada beberapa menit ketika lelaki sudah mengeluarkan cairannya dan perempuan sudah orgasme sehingga semua sensasi tentang tubuh sudah lenyap.

Begitulah kira-kira keyakinanku sampai sekarang tentang sex sehingga aku berusaha untuk tidak terlalu mengagungkan sensasi tentang sex dalam memutuskan memilih jodoh. semua kupertimbangkan berdasarkan nilai yang kuanut dalam hidup ini dan memutuskan untuk setia terhadap pilihan pertama. Aku sepakat dengan kata Aan Mansyur "setia adalah pekerjaan yang bai."

Memproklamirkan hidup dengan pilihan yang lebih matang tentunya.
Jakarta Timur, 03 September 2015