Hidup sesungguhnya di ibu kota dimulai hari ini. Aku memilih untuk ngekos di daerah Mampang yang berjarak sekitar 5 km dari kantorku. Perjalanan dari kos ke kantor membutuhkan waktu sekitar 40 menit dan kehidupan di jalanan kota ini selalu menyajikan tontonan yang menarik. Sebelumnya aku tidak bisa merasakan kerasnya jalanan kota ini karena kosku hanya berjarak beberapa meter dari kantor namun sekarang nampaknya perjuangan benar-benar dimulai di rimba raya kota ini.
Kemarin adalah hari pertama berangkat dari Mampang ke kantor. aku berangkat tepat pukul 06:00 dan jalanan masih sedikit lengang alhasil aku sampai di kantor saat jarum jam belum menunjukkan jam 7. Tadi aku merubah jadwal berangkatku menjadi pukul 06:30, jalanan sudah mulai padat merayap bahkan di lampu merah depan kosku yang memang adalah salah satu titik macet terparah di daerah mampang.
Kendaraan tidak bisa bergerak sama sekali karena dari arah Ragunan, rombongan kendaraan roda 2 masuk ke jalur busway namun petugas busway menutup akses sehingga puluhan atau mungkin ratusan kendaraan roda dua tersebut terjebak di jalur busway sedangkan para pengendara di belakang sudah kesal dan berteriak sahut menyahut tanpa jelas. aku hanya berguman "hidup kok begini amat ya Tuhan."
Entah apa yang berseliweran dalam ruang kepalaku saat menyaksikan fenomena seperti itu. Para pengendara jalanan memang sudah seperti robot yang harus saling mendahului. Mereka mungkin khawatir telat sampai di kantor atau mungkin juga dikejar tugas yang harus diselesaikan atau bahkan akan bertemu klien yang menawarkan keuntungan yang besar sehingga saat di jalanan, mereka merasa paling sibuk atau paling berkepentingan. "hidup kok gini amat."
aku selalu berusaha untuk menjaga ritme hatiku untuk tidak terlalu terburu-buru dalam kondisi apapun. aku yakin bahwa kondisi tergesa-gesa selalu menghadirkan ketidaknyamanan bahkan hasilnya tidak memuaskan.
menjadi bagian dari kaum urban di kota ini memang harus menguatkan tekad untuk tidak tergerus dengan budaya di kota ini. Materi menjadi tujuan awal sehingga melupakan cara bagaimana untuk kembali mengenal diri dan mengenal bagaimana hidup yang seharusnya. di kota ini selalu saja kita berharap banyak materi dan kemudian memamerkan atau bahkan memuaskan nafsu akan materi tersebut meski secara sadar kita tahu bahwa tidak akan pernah terpuaskan.
Saya selalu mengingatkan diriku untuk kembali belajar menjadi manusia dalam kondisi dan situasi apapun karena ketika sudah menjadi manusia maka kebahagiaan akan menjemput. Belajar untuk memahami siapa aku, untuk apa aku disini, apa yang harus aku lakukan dan akan kemana langkah yang akan kukayuh..??
ah, teori memang selalu mudah namun aku akan menjumpai yang sebenarnya setiap hari
Pulogadung, 22-09-15

No comments:
Post a Comment