Aku tidak bisa memahami hal-hal yang terlalu rumit..!!
Selalu ada hal tak terduga dalam hidup yang kita jalani. banyak pula teori yang bertebaran tentang hidup, ada yang beranggapan bahwa semua bisa diraih jika kita mengusahakannya dan menempatkan Tuhan hanya sebagai simbol dan ada pula yang menjalani hidup bersandar pada takdir yang kemudian dikenal dikenal kaum fatalis sedangkan kelompok yang ketiga adalah orang orang yang menggabungkan dua teori tersebut dalam menjalani hidup.
Paragrap diatas mungkin tidak ada kaitannya dengan judul tulisan yang sedang kuketik namun aku hanya ingin mengatakan bahwa dalam segala hal termasuk pula dalam menjatuhkan pilihan pada pasangan hidup, kita tidak perlu terlalu meninggikan kriteria karena sejatinya pasangan hidup toh akan menjadi teman dan satu elemen paling mendasar untuk memilih pasangan menurutku adalah kesesuaian cara memandang hidup.
Aku sudah sampai pada tahap belajar bagaimana tidak menempatkan sex pada prioritas utama dalam meilih jodoh karena mungkin juga aku terpengaruh oleh rumusan cak nun bahwa sex adalah pewujudan paling dangkal pada kebudayaan manusia.
Aku sebenarnya berkeyakinan bahwa yang membuat sex itu menjadi wah karena sensasi dalam otak yang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sekitar terutama citra masyarakat tentang perempuan yang sexy ditambah lagi dengan media yang selalu mengembor-gemborkan perempuan sexy yang digambarkan sebagai perempuan yang berdada montok, bokong aduhai, tinggi semampai dengan badan yang ramping. namun pada dasarnya, semua itu hanyalah sensasi di otak yang tidak seheboh dengan kenyataannya, toh sex hanya berakhir pada beberapa menit ketika lelaki sudah mengeluarkan cairannya dan perempuan sudah orgasme sehingga semua sensasi tentang tubuh sudah lenyap.
Begitulah kira-kira keyakinanku sampai sekarang tentang sex sehingga aku berusaha untuk tidak terlalu mengagungkan sensasi tentang sex dalam memutuskan memilih jodoh. semua kupertimbangkan berdasarkan nilai yang kuanut dalam hidup ini dan memutuskan untuk setia terhadap pilihan pertama. Aku sepakat dengan kata Aan Mansyur "setia adalah pekerjaan yang bai."
Memproklamirkan hidup dengan pilihan yang lebih matang tentunya.
Jakarta Timur, 03 September 2015
Katamu di beberapa sela perbincangan kita. Bahkan aku yang sering berceramah tentang apa saja yang mungkin aku sendiri tidak mengerti. Aku terlalu ingin menceritakanmu dunia realitas yang tidak inderawi.
Dulu, aku bermimpi bertemu dengan gadis yang sejalan dengan pikiranku dan bisa kuajak berdiskusi tentang buku terakhir yang kami baca ataupun mungkin tentang seberapa banyak tulisan yang kami hasilkan namun seiring denga berjalannya waktu, kriteria tersebut luntur dan berubah menjadi sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang mampu memperlakukan ibunya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri.
Aku bertemu gadis tersebut di ujung timur pulau ini. tidak terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika kami berinteraksi namun entah kenapa, aku seakan tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Dulu, aku bermimpi bertemu dengan gadis yang sejalan dengan pikiranku dan bisa kuajak berdiskusi tentang buku terakhir yang kami baca ataupun mungkin tentang seberapa banyak tulisan yang kami hasilkan namun seiring denga berjalannya waktu, kriteria tersebut luntur dan berubah menjadi sederhana, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang mampu memperlakukan ibunya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri.
Aku bertemu gadis tersebut di ujung timur pulau ini. tidak terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika kami berinteraksi namun entah kenapa, aku seakan tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Selalu ada hal tak terduga dalam hidup yang kita jalani. banyak pula teori yang bertebaran tentang hidup, ada yang beranggapan bahwa semua bisa diraih jika kita mengusahakannya dan menempatkan Tuhan hanya sebagai simbol dan ada pula yang menjalani hidup bersandar pada takdir yang kemudian dikenal dikenal kaum fatalis sedangkan kelompok yang ketiga adalah orang orang yang menggabungkan dua teori tersebut dalam menjalani hidup.
Paragrap diatas mungkin tidak ada kaitannya dengan judul tulisan yang sedang kuketik namun aku hanya ingin mengatakan bahwa dalam segala hal termasuk pula dalam menjatuhkan pilihan pada pasangan hidup, kita tidak perlu terlalu meninggikan kriteria karena sejatinya pasangan hidup toh akan menjadi teman dan satu elemen paling mendasar untuk memilih pasangan menurutku adalah kesesuaian cara memandang hidup.
Aku sudah sampai pada tahap belajar bagaimana tidak menempatkan sex pada prioritas utama dalam meilih jodoh karena mungkin juga aku terpengaruh oleh rumusan cak nun bahwa sex adalah pewujudan paling dangkal pada kebudayaan manusia.
Aku sebenarnya berkeyakinan bahwa yang membuat sex itu menjadi wah karena sensasi dalam otak yang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sekitar terutama citra masyarakat tentang perempuan yang sexy ditambah lagi dengan media yang selalu mengembor-gemborkan perempuan sexy yang digambarkan sebagai perempuan yang berdada montok, bokong aduhai, tinggi semampai dengan badan yang ramping. namun pada dasarnya, semua itu hanyalah sensasi di otak yang tidak seheboh dengan kenyataannya, toh sex hanya berakhir pada beberapa menit ketika lelaki sudah mengeluarkan cairannya dan perempuan sudah orgasme sehingga semua sensasi tentang tubuh sudah lenyap.
Begitulah kira-kira keyakinanku sampai sekarang tentang sex sehingga aku berusaha untuk tidak terlalu mengagungkan sensasi tentang sex dalam memutuskan memilih jodoh. semua kupertimbangkan berdasarkan nilai yang kuanut dalam hidup ini dan memutuskan untuk setia terhadap pilihan pertama. Aku sepakat dengan kata Aan Mansyur "setia adalah pekerjaan yang bai."
Memproklamirkan hidup dengan pilihan yang lebih matang tentunya.
Jakarta Timur, 03 September 2015
No comments:
Post a Comment