June 26, 2015

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat kali ini tentang cara meraih kenikmatan di dunia dan akherat. ada 3 cara meraih hal tersebut yang pertama adalah banyak bersedekah, kemudian bertaqwa kepada Allah SWT dan yang terakhir adalah meyakini kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT.

Ulasan tentang sedekah bahwa sedekah tersebut bisa mengobati penyakit. memang secara logika tidak akan mampu menjelaskan bagaimana sedekah tersebut menyembuhkan penyakit namun kita sedang tidak berbicara mengenai logika manusia karena kita sedang berada dalam kuasa Tuhan dimana semua tidak bisa dirasionalkan. sedekah pula bisa mencegah dari musibah maka dengan begitu perbanyaklah sedekah.

Meski dalam pembahasan yang lebih luas pun, sedekah harus dijelaskan secara komprehensif karena tidak sekedar memberi maka itu akan bermanfaat bagi orang lain. mungkin secara pribadi, saya masih percaya bahwa sedekah paling baik terlebih dahulu kepada keluarga terutama orang tua. juga kepada para handai tauladan yang membutuhkan. kemudian kepada orang yang benar-benar membutuhkan seperti orang papa yang sudah berusaha sekuat tenaga mencari rejeki namun tetap tidak mencukupi. menurut saya pribadi bahwa pengemis ataupun pengamen yang masih kuat secara fisik berada di urutan terakhir mendapatkan sedekah.

ah, terlalu idealis aku ini
padahal jarang sedekah
maluuu sama diri sendiri

Pulogadung, 260615

Tarawih #9

Saya tarawih di masjid samping pasar rawamangun yang kedua kali. Masjid tersebut ada 2 lantai dimana lantai atas dipergunakan oleh anak-anak dan lantai bawah oleh orang dewasa. shalat tarweh di mesjid tersebut serasa seperti di kampung karena setelah shalat isya kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama lalu kemudian shalat tarweh dengan model 4 4, hal yang berbeda saya dapatkan ketika tarweh di mesjid yang lain. ada 3 mesjid di dekat kosku dan dua mesjid lainnya tidak ada ceramah agama setelah shalat Isya namun langsung dilanjutkan dengan tarweh 20 Rakaat.

Ceramah tarweh malam ini dibawakan oleh seorang ustads yang masih muda. umurnya masih 30an tahun. dia membahas tentang bagaimana cara meningkatkan imam kita. hal yang diuraikan adalah meningkatkan imam dengan kembali kepada Al-Qur'an. mempelajarinya dan kemudian mengamalkannya. dari selingan ceramahnya, saya menduga bahwa si Ustads tidak sepakat dengan membaca Al-Qur'an dengan langgam jawa. pada potongan ceramahnya mengatakan bahwa salah satu cara tidak menghormati Al-Qur'an karena ada sebagian orang yang membaca tidak sesuai dengan tuntunan. perdebatan membaca Al-Qur'an dengan langgam jawa memang tidak ada habisnya. 

Saya tidak pernah berani ikut-ikutan membahasnya karena ilmu yang sama sekali tidak ada namun setidaknya saya sudah pernah menelepon kak Sudirman, satu dari 2 orang referensi saya masalah agama selain kak Hamzah, kak sudirman mengatakan bahwa selama tajwid dan harakatnya tidak salah maka melagukan Al-Qur'an dengan langgam jawa bukanlah hal yang keliru kemudian Kak Sudirman juga menegaskan pada niat seseorang yang membaca, jika niat karena Allah maka sama sekali itu tidak dilarang.

Secara umum, ceramah tarweh malam ini menjelaskan berbagai hal yang mungkin bisa kita temui di buku bacaan keagamaan. sang ustads mengajak jamaah untuk mempelajari Al-Qur'an. Dia mencontohkan bahwa dia pernah mengajar seorang yang umurnya sudah 75 tahun yang sama sekali tidak bisa baca Al-Qur'an sampai pada akhirnya bisa menghapal 2 juz. Sang ustads juga menyentil para masyarakat urban yang rela membayar mahal untuk guru privat untuk anaknya seperti musik, matematika dan pelajaran lain namun untuk membayar guru ngaji mereka enggan

begitulah kira-kira ceramah tarweh malam ini
Mesjid Nur Jami' Rawamangun
9 Ramadhan 1436 H

June 24, 2015

Tarawih #8

Setelah berbuka puasa di pelataran indomaret pendurenan. Saya beranjak makan ayam penyet dan tarweh di mesjid Al Islah.
Di mesjid ini lain dari yang biasanya karena setelah shalat Isya dilanjutkan dengan shalat tarweh 8 rakaat kemudian ceramah agama .
Isi ceramah lumayan sepakat karena sang penceramah mengatakan bahwa anak-anak tidak masalah ribut yang penting tidak mengganggu dan itu adalah keberkahan. Secara garis besar masih membahas tentang puasa. "Barangsiapa yang datang bulan ramadhan namun dosa-dosanya tidak diampuni maka dia merugi.
Keutamaan orang-orang yang berpuasa.
Amalan yang dilakukan di bulan ramadhan jauh lebih besar ganjarannya daripada di luar bulan ramadhan.
Jadikan bulan ramadhan sebagai syahrul Qura'an.
Penceramah mengulas tentang sebuah ajaran namun tidak jelas aliran yg dimaksud.


Mesjid Al-Islah Pendurenan
8 Ramadhan 1436 H

Tarawih #7

saya shalat tarweh di mushalah dekat kos. tidak ada ceramah agama setelah shalat isya, langsung dilanjutkan dengan shalat tarweh

June 22, 2015

Tarawih #6

Ramadhan berjalan tanpa henti sedikitpun. bagai kedipan mata, sudah memasuki langkah keenam. kita terus saja melongo menyaksikan momen ramadhan yang berlalu begitu saja tanpa ada hal baik sebagai pengisinya.

Ini adalah malam keenam. aku tarweh di mesjid Nur jami' samping terminal Rawamangun. lumayan jauh sebenarnya dari kosku karena setidaknya ada 2 mesjid yang dekat dari kosku namun aku sudah berniat untuk menjelajah mesjid satu persatu.

Di mesjid ini, seperti mesjid lainnya. ada ceramah tarweh setelah shalat Isya dan sebelum tarweh. ceramah tadi dibawakan oleh bapak Djufri MA. dia adalah seorang dosen meski tidak secara gamblang menjelaskan dimana dia mengajar.

Judul ceramahnya "Macam-macam Hati". menurut ceramahnya bahwa ada 3 macam hati manusia antara lain Hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. pada awal ceramahnya, aku sudah tidak terlalu bersemangat karena dia mencoba mengupas agama lain. menurutnya bahwa agama Yahudi memiliki 2 tuhan yaitu tuhan Allah dan tuhan uzair. sang penceramah juga dengan menggenaralisasikan bahwa orang yahudi kaya namun pelit sehingga ada anekdot bahwq orang yang pelit akan disebut orang yahudi.

Dia juga dengan sinisnya mengupas bahwa nasrani mempunyai 3 tuhan. tuhan Alah, Yesus kristus dan Roh kudus.

Dalam pemaparan ceramahnya, dia terlihat mencoba melucu meski selera humornya tidak mampu membuatku senyum karena memang hal yang dijadikan lelucon tidak pada tempatny.

Dalam sebuah kesempatan, dengan model dialog dia menanyakan kepada seluruh jamaah, dimanakah Tuhan? tidak ada yang menjawab kemudian dia dengan sebuah dalil diperkuat bahwa Allah bersemayam di Arsy.

Di sela- sela ceramahnya, dia mengkritik wacana yang ingin menghilangkan kolom agama di ktp. dengan contoh kasus yang menurutku sangat dangkal. dia mencontohkan bahwa ketika orang mau menikah dan di ktpnya tidak ada kolom agama maka orang tersebut bisa saja bilang sembarang saat ditanya agamanya apa.

Selalu saja ada sudut pandang yang berbeda dari setiap fenomena.

Mesjid nur Jami' Rawamangun
6 Ramadhan 1436 H

Tarawih #5

Seperti malam kemarin, saya masih tetap melaksanakan tarweh di mesjid kemarin, mesjid Al-bayyinah.
Gebyar Ramadhan
Ustadz Misbaqul Munir

Sabda Rasulullah SAW "semua ummatku masuk syurga kecuali yang sombong."
Sang Penceramah kemudian bercerita tentang pemerintahan Umar yang mengirim Tulang ke Gubernur Mesir, Amar bin Ash karena sang Gubernur menggusur rumah pemukiman orang Yahudi untuk didirikan mesjid.

5 Ramadhan 1436 H
Mesjid Al Bayyinah
Jln Setiabudi

Tarawih #4

Kali ini saya terdampar di mesjid Al Bayyinah setiabudi di samping RS mata bunda Aini. entah kenapa sejak pertama kali ke mesjid ini beberapa bulan lalu, saja langsung menyukai suasananya yang menurut saya hampir menyerupai dengan mesjid-mesjid di kampung karena masih banyak pohon di sekitarnya dan juga tidak terlalu dekat dengan jalan protokol.

Suasana yang lain pun karena masih banyak bocah-bocah yang ikut tarweh dengan riang gembira. saya selalu menyukai mesjid yang banyak anak-anaknya dengan celoteh mereka yang membuat saya seakan kembali ke masa kecil. saya pun amat sangat tidak sepakat dengan orang yang menganggap dirinya ustadz namun ketika ada anak kecil yang ribut di mesjid, mereka dengan sok sucinya memarahi bahkan mengatakan celoteh anak kecil mengganggu kekhusyukan shalat berjamaah. biarkanlah kalau saya yang salah namun begitulah yang ada dipikiran saya bahwa biarkan anak-anak ke mesjid dan ribut di sana sambil berlari dan sesekali mengikuti gerakan orang shalat karena sejatinya anak-anak memang dunia bermain toh mereka akan tetap mengenang masa itu ketika sudah baliqh dan berpikir benar salah.

Ceramah kali ini diisi oleh seorang dari daerah tangerang. dia mengawali ceramahnya dengan retorika umum saat mengucapkan salam kemudian tidak ada yang menjawab dan mengulangi salam akhirnya jamaah membalas salam dengan serempak.

Ustadnya sedikit gokil jadi tidak membosankan, lumayan komunikatif meski isi ceramahnya sebenarnya amat mainstream. temanya masih seputar Puasa. menurutnya jangan omongin orang untuk menghormati Ramadhan. kemudian penceramah mengingatkan tentang pesan Rasulullah supaya memperbanyak Mengingat kesalahan. kalau mau sehat, banyak berlaku baik dan bersedekah, mengagungkan Asma Allah.

Hal yang mungkin sedikit membuatku risih adalah ketika di akhir ceramah, sang Ustadz menggiring jamaah kemudian meminta sumbangan bagi Mesjid yang sedang dibangun di tangerang kemudian sang Teman Ustads yang duduk di samping berdiri dan menggunakan sorbannya mengelilingi Jamaahn meminta sumbangan. saya tidak ingin berpikir negatif namun dengan cara seperti itu mungkin tidak terlalu tepat dalam menggalang dana meski disadari bahwa saat Ramadhan seperti ini, sangat gampang mengumpulkan dana dari Jamaah.

yobenlah, ojo kepo. haha
4 Ramadhan 1436 H
Mesjid Al Bayyinah
Jln Setiabudi

Tarawih #3

Ramadhan selalu menghadirkan sensasi yang menggembirakan bagi saya karena ada beberapa serpihan kenangan yang selalu menghadirkan rasa tenang ketika momen Ramadhan tiba. beberapa Ramadhan terakhir, saya selalu suka berkeliling mencari tempat tarweh yang baru dan kebiasaan tersebut sampai sekarang.

Di Ramadhan ketiga, saya memilih mesjid Istiqlal sebagai pelabuhan melebur dalam orang dengan berbagai aktivitas di Mesjid ini. ada yang pulang kerja dan mampir buka puasa, ada yang datang dengan tujuan berdagang dan berbagai manusia lainnya selalu tumpah ruah di mesjid ini ketika Ramadhan. tidak mengherankan memang karena Mesjid tersebut terbesar di negeri ini.

Saya sudah tahu rutinitas tarweh disini karena tahun lalu, saya beberapa kali tarweh di mesjid ini. setelah shalat Isya, biasanya diisi pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an kemudian setelah itu dilanjutkan dengan ceramah agama. tarweh dilaksanakan dengan 2 2 dan ada dua gelombang. ada yang tarweh delapan dan ada yang 20 rakaat. sistemnya yang tarweh delapan rakaat menyelesaikan witirnya dan yang 20 rakaat mundur sejenak ke belakang menunggu jamaah yang tarweh 8 selesai witir kemudian melanjutkan tarweh sampai 20 rakaat.
 
Kebiasaan saya adalah menulis ceramah agama. ceramah agama malam ini seperti biasanya. sang Penceramah menjelaskan tentang hakekat puasa adalah menahan diri. Kita diwajibkan memerangi nafsu syahwat. Ramadhan adalah membakar dan mengasah. puasa memiliki implikasi kemanusiaan. Puasa adalah ibadah rahasia yaitu antara manusia dan Tuhannya. hadist Qudsi mengatakan bahwa " semua amal anak adam untuk dirinya kecuali puasa" Ibadah selain puasa bisa dikoreksi langsung sedangkan puasa tetap rahasia, tidak boleh pamer saat sedang berpuasa. puasa menahan diri daripada maksiat, menempa jiwa melalui latihan fisik puasa harus memiliki dampak sosial.

Penceramah lebih mirip dengan pembacaan khutbah dengan terlalu berfokus pada konsep yang ada ditangannya. Jamaah yang mendengarkan pun tidak terlalu antusias karena penceramah kurang komunikatif ataupun menghidupkan suasana.
itu saja tentang ceramah malam ini.

Oh yah, Ramadhan tahun lalu di mesjid ini, saya kecopetan Hanphone BB jadi Para Jamaah yang berniat melaksanakan shalat tarweh di mesjid Istiqlal supaya tidak perlu membawa HP ataupun kalau terpaksa agar supaya berhati-hati dengan barang bawaan

Masjid Istiqlal
3 Ramadhan 1436 H

Tentang Insaf dan Hidayah

Cerita tentang seorang yang insyaf seringkali kita baca, dengar dari cerita orang lain atau bahkan melihat sendiri di sekitar kita tentang orang yang dulunya adalah pelaku maksiat namun tiba-tiba insyaf dan berubah 180 derajat. Orang yang insyaf karena mendapat Hidayah dari Allah SWT.

Anugerah hidayah adalah sesuatu yang tak terkira nilainya karena membawa kita kepada kebaikan. Ketika berbicara masalah Hidayah, maka hal yang kita percayai selama ini adalah hidayah tersebut otoritas Allah SWT. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan mendapatkan Hidayah tersebut. terkadang orang yang berkelimpangan dosa namun di kemudian hari mendapat hidayah dan berubah menjadi orang baik. Ada pula dalam sejarah tentang seorang pelacur yang kemudian dijamin masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan.

Hidayah memang adalah rahasia Allah namun ada benang merah yang kusimpulkan dari setiap cerita orang yang mendapat hidayah bahwa meskipun seseorang tersebut menggunung dosanya selama dia tidak bangga akan dosa itu dan dalam hatinya tetap merasa berdosa maka dia kemungkinan akan mendapat hidayah suatu saat nanti.

Beda halnya ketika orang bergumul dalam dosa namun dalam hatinya dia merasa bangga akan dosa yang diperbuatnya maka yakinlah Tuhan tahu hati setiap hambanya.

Begitulah menurutku hakekat hidayah tersebut. dia datang kepada orang yang tepat. Orang yang tetap berusaha menata hatinya menyatu dengan Rabbnya meski di permulaan, dia larut dalam kedzaliman, orang yang menikmati kedzaliman dirinya dan bahkan menyombongkan dirinya dengan perbuatan maksiat menandakan bahwa kedzaliman tersebut merasuk sampai kedalam hatinya.

Mencuri misalnya mempunyai dua sisi yang berbeda meski secara zahir hal tersebut tetaplah mencuri. orang yang kelaparan kemudian mencuri demi kebutuhan perutnya tidaklah sama dengan orang yang menjadikan mencuri sebagai profesinya namun dimata kita, tetaplah mencuri itu salah. wts yang terjerat dalam lubang hitam karena masalah ekonomi tidaklah sama dengan wts yang menikmati profesinya tersebut karena bermewah-mewahan dan menikmatinya.

Hati selalu saja tidak berbohong. bahkan aku berpandangan bahwa " hati yang menangis karena Allah saat bergelimpangan maksiat lebih mulia daripada hati yang menyombongkan kepada manusia ketaatannya kepada Rabb.

Ada satu petuah kuno di kampungku yang masih kuingat sampai sekarang "Tuhan mangkita penawa tangngia batang kale." secara sederhana bisa diartikan bahwa Tuhan melihat aktivitas dan niat dalam hati bukan aktivitas diri yang terlihat karena pada intinya, hatilah yang menentukan.

Hidayah memang otoritas Tuhan namun percayalah bahwa dengan menjaga hati dan selalu menata hati adalah jalan menuju hidayah tersebut. jangan sampai membiarkan hati dalam keadaan sakit atau mati karena hati yang demikian sudah tidak berfungsi lagi.

Pulogadung
4 Ramadhan 1436 H

June 19, 2015

Khutbah Jum'at

Ini adalah jumat pertama di Bulan Ramadhan. tidak banyak yang berubah meski hanya dari perbedaan jalanan yang agak sepi dan warung pinggir jalan tutup selain itu, semua berjalan apa adanya. karyawan masuk seperti biasa meski ada pengurangan jam kerja 1-2 jam.

Barusan saya melaksanakan shalat jumat di mesjid kompleks. tidak seperti jumat kemarin dimana saya agak lambat tiba di mesjid, tadi saya sudah tiba di mesjid sebelum adzan dikumandangkan. alhasil saya bisa mendengarkan secara penuh khutbah jumat kali ini meskipun isi khutbah jumat yang datar-datar saja dan membahas isi khutbah secara tekstual.

Islam adalah salah satu agama yang paling benar di muka bumi ini. memilih jalan selain Islam berarti mengundang amarah Tuhan. Islam datang ketika orang memilih menjadi atheis atau bahkan memiliki banyak Tuhan sehingga pada saat itu, Islam datang dengan kebenarannya.

"ada sekelompok orang dalam Islam yang memilih untuk puasa terus menerus, beribadah tanpa tidur dan memutuskan tidak menikah karena khawatir isteri mereka akan mengalihkan perhatian mereka dari Tuhan. ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, Beliau berkata bahwa Saya adalah manusia yang paling takut kepada Allah namun saya masih makan, masih menyempatkan tidur bahkan memiliki beberapa Isteri"

Itu adalah sebagian dari isi khutbah jumat tadi yang masih segar diingatan saya. entah bagaimana mengutarakan hal yang tidak saya sepakati dari ceramah tersebut namun memang ketika kita membuka dalil-dalil mainstream Islam maka hal-hal seperti itu adalah hal yang umum dan sesuatu yang tidak diperdebatkan lagi meski terkadang saya sering terganggu dengan hal seperti itu karena sejatinya banyak faktor lain yang mungkin saja gugur dengan dalil tersebut diatas.

Cotoh sederhana saja bahwa manusia yang tinggal jauh dari peradaban Islam dan tidak pernah mengenal Islam namun dia secara manusiawi tetap berkelakuan baik meski tidak pernah mengikrarkan dirinya sebagai muslim karena tidak pernah bersentuhan dengan Islam. apakah dia termasuk dalam golongan orang yang kemudian akan di azab?

Contoh lain mengenai cerita tentang seseorang yang memilih tidak menikah karena tidak mau cintanya terhadap Rabbnya terbagi. kisah ini berasal dari Sufi wanita Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Rabi'ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke delapan tahun 713 - 717 masehi. sumber.

Rabiah memilih untuk tidak menikah demi kecintaannya kepada Rabb. Beliau terkenal dengan Syair-syair cinta yang ditujukan kepada Sang Khalik.
“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Syair diatas menunjukkan betapa cintanya Rabiah kepada Rabbnya dan alam semesta sudah tidak meragukan lagi ketebalan cinta yang dimiliki bahkan hatinya sudah tidak tersisa lagi selain dari cintanya kepada Rabb.

Ketika alasan seperti itu yang menyebabkan seseorang memilih untuk tidak menikah, apakah kita dengan sok taunya akan menjustifikasi mereka sebagai manusia yang tidak mengikuti ajaran Islam dengan sempurna?
WallahuAlam Bissawab

Pulogadung
190615

Tarawih #2

Puasa pertama berjalan lancar. tidak ada hal yang terlalu menarik diceritakan karena rutinitas kantor yang berjalan seperti biasanya hanya saja jam pulang kantor yang dipercepat. Jika pada hari biasa kantor masih ramai pada pukul 16:00 WIB namun hari pertama puasa, jam segitu kantor sudah lengang, mau tak mau, aku pun beranjak pulang meski jarak kantor ke kos hanya sekitar 10 menit ditempuh dengan jalan kaki.

Aku tiba di kos sebelum setengah lima. Tidak tahu harus berbuat apa meski sadar bahwa harusnya waktu luangkan itu dipergunakan untuk tadarrus namun aku lebih memilih menyetel radio dari Hp. Tidak terara ternyata aku ketiduran dan bangun 3 menit sebelum buka. alhasil aku hanya berbuka puasa dengan sebotol soft drink.

Aku memilih tarweh di mesjid Mashum dekat kos. di hari kedua tarweh, Mesjid tersebut masih lumayan ramai oleh Jamaah. Setelah shalat Isya, dilanjutkan dengan shalat tarweh secara berjamaah. Ternyata di mesjid tersebut tidak diselingi oleh ceramah tarweh sehingga tidak ada yang bisa aku ceritakan kali ini tentang ceramah tarweh. setelah rakaat kedelapan, tarweh masih dilanjutkan sampai rakaat ke 20 dan aku memilih pulang karena memang niatku dari kos tarweh 8 rakaat.

Di mesjid ini memang hanya menjadwalkan beberapa kali ceramah selama Ramadhan.

Ah, tidak ada yang menarik untuk diceritakan hari ini
mesjid Mashum
2 Ramadhan 1436 H

June 17, 2015

Tarawih #1

Saya memutuskan untuk melalui Tarweh Ramadhan pertama di bilangan blok M.alasanku sederhana karena suasana Mesjid blok M sangat sejuk dan damai. alasan lain mungkin karena beberapa malam tarweh di tahun kemarin kulalui di mesjid tersebut bahkan saat kesendirianku di malam hari raya idul fitri kuhabiskan di mesjid tersebut sambil meresapi betapa hampanya diri yang terkurung dalam kesendirian di saat harusnya momen tersebut dijadikan ajang kumpul bersama dengan keluarga.

Ceramah tarweh malam ini tentang Sejarah puasa dan hakekat puasa. si Penceramah menguaraikan bagaimana awal puasa yang dijalani oleh umat Islam dengan sangat berat karena pada saat itu, umat Islam masih dalam serba kekurangan. di masa awal-awal diwajibkannya Ramadhan pun ditandai dengan persaudaraan yang erat antara kaum anshar dan kaum Muhajirin.

Tidak banyak yang bisa kutuliskan ulang tentang ceramah malam tadi namun pada umumnya bahwa isi ceramah adalah flashback tentang puasa itu sendiri dan siapa saja yang diwajibkan berpuasa.


ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا Ø§Ù„َّذِينَ Ø¢Ù…َÙ†ُوا Ùƒُتِبَ Ø¹َÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ Ø§Ù„صِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ Ø¹َÙ„َÙ‰ Ø§Ù„َّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ ØªَتَّÙ‚ُونَ



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” 
(QS. Al Baqarah: 183)

Menurut saya, potongan ayat tersebut diatas menjadi inti ceramah semalam meski elaborasi yang lebih panjang tentunya.

Hal lain dari suasana Tarweh pertama semalam adalah mesjid yang dipenuhi oleh jamaah yang membludak. seperti suasana di awal Ramadhan ketika jamaah bahkan harus antri masuk ke dalam mesjid.

Mesjid Al-Azhar salah satu mesjid favorit shalat tarweh bagi  masyarakat ibukota selain mesjid Istiqlal. ada rasa sejuk yang mengalir dari dalam diri ketika shalat di mesjid tersebut atau mungkin juga karena suasananya yang masih rimbun oleh pepohonan di area parkiran meski beberapa bulan yang lalu, ada pohon yang ditebang dan mengurangi kesejukan mesjid

Mesjid Al-Azhar
1 Ramadhan 1436 H

Sisa Percakapan Dengan Bapak (Lagi)

paling tidak seminggu sekali saya menelepon Bapak di kampung. sekedar menanyakan kabarnya dan keluarga lainnya. seringkali ketika menelepon bapak, banyak sempalan cerita yang sayang sekali kalau tidak saya uraikan. sekedar untuk mengingat-ingat hikmah pembicaraan dengan Bapak meski terkadang seringkali kami berselisih pendapat untuk sebuah kasus.

Pembicaraan kami sebenarnya tidak pernah mengarah ke hal yang amat serius meski beberapa kali saya menangkapi pernyataannya yang menurutku tidak sesuai dengan idealisme abal-abal yang masih kurangkul misalnya pernyataannya tentang petani. Menurut saya bahwa hal-hal seperti itu penting untuk saya tanggapi

Bapak memang terkenal orang keras dan tak pernah kompromi namun ada lagi hal yang yang tidak kusepakati dengan apa yang ada di kepalanya. Misalnya saja ketika menjalin silaturrahim, bapak terkadang mengkorelasikannya dengan peluang kerja yang ada dari orang. Beberapa kali saya mendiskusikan hal tersebut bahwa menggantungkan nasib kepada orang lain adalah sesuatu yang keliru karena pada akhirnya ketika jalan tersebut yang akan ditempuh dalam mencari rejeki "pekerjaan" maka akibatnya hanya 2, ketika orang tersebut mampu membantu kita mendapatkan pekerjaan maka kita akan selalu merasa berutang budi dan tidak jarang yang malah menjadi ekor orang tersebut, hal kedua jika dia tidak mampu membantu kita maka kita pada akhirnya akan sakit hati dan terkadang antipati terhadap orang tersebut.

Ada sebuah cerita nyata di kampungku tentang seorang polisi yang pangkatnya sudah masuk dalam jajaran tinggi, saya lupa apa jabatannya. Dia terkenal bisa meloloskan orang-orang di kampungku masuk polisi sehingga tidak heran, banyak sekali orang yang bertandang ke rumahnya apatahlagi orang tua yang punya anak laki-laki yang digadang-gadang bisa dititipkan untuk menjadi seorang polisi. itu dulu saat saya masih bocah. dia benar-benar menjadi idola bahkan ketika beliau mudik maka bisa dipastikan rumahnya akan ramai. saya harus mengakui bahwa bapak juga sering silaturrahim karena memang abang saya yang sulung saat itu berniat mendaftar polisi. alhasil ketika tamat SMA, abang saya benar-benar mendaftar polisi dan sang polisi tadi yang jadi bumpernya. meski 3 kali mengikuti seleksi masuk polisi, abangnya tidak lulus dan yang mungkin menjadi ironis baginya karena pada kesempatan terakhir mendaftar, abang saya jatuh pada tes terakhir.

sejak saat itu, Bapak maupun abang saya sudah tidak terlalu akrab dengan polisi tadi. memang sebelumnya, banyak orang di kampungku yang "berhasil" lulus karena dibackingi oleh Bapak polisi tersebut namun ada insiden yang membuat dia tidak punya lagi power. tepat saat abangku mendaftar untuk terakhir kalinya, ad orang yang membocorkan kepada instansi kepolisian bahwa dia bisa meloloskan calon polisi alhasil pada saat itu, semua calon polisi yang berasal dari kabupaten kami tidak lulus dan termasuk abang saya yang jatuh di tes terakhir. entah isu itu benar atau tidak namun begitulah cerita yang beredar luas, pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP.

saya tidak tahu persis perasaan Bapak kenapa pada saat abang saya tidak lulus, dia begitu menjaga jarak dari polisi tersebut. cerita Bapak kemudian berlanjut semalam. katanya bapak Polisi tersebut yang sudah lanjut usia dan terserang maaf "Stroke" sempat mudik minggu lalu. tidak ada satupun warga di kampung saya yang menjenguknya padahal dulu saat masih aktif sebagai polisi dan punya power di Polda, dia selalu dikunjungi ketika mudik.

Bapak bercerita bahwa si Polisi tersebut mengatakan bahwa " saya masih bisa kok meloloskan orang masuk Polisi" entah apa yang ada dipikiran pak polisi tersebut namun menurut Bapak bahwa ada perasaan lirih dari pernyataannya tersebut karena jarang sekali orang yang menjenguknya tidak seperti saat dia masih punya kekuasaan.

sempalan-sempalan cerita dari bapak semakin menyadarkanku bahwa dunia ini memang tempatnya mayoritas orang yang melihat apa yang nampak. mereka menginkan duniawi dan akan berlalu seketika ketika duniawi sudah tidak di tangan. pun mengingatkanku bahwa roda hidup selalu saja akan berputar entah putarannya lambat ataupun cepat namun begitulah hakekat hidup. satu hal yang harus dipegang teguh adalah semua yang dilakukan seharusnya karena berasal dari nurani terdalam bukan karena ada sesuatu yang diinginkan. menjalin silaturrahim haruslah murni karena niat yang suci bukan karena ingin dekat dan mendapatkan manfaat dari silaturrahim tersebut

ah, sudah dulu
160615