January 12, 2015

Sabar dan Ibu yang Mengomel

Sebenarnya ada tiga hal yang ingin kuceritakan di tulisan ini. Sudah berlalu beberapa waktu yang lalu namun masih tetap saja terngiang di kepalaku, entah karena belum aku tuliskan sehingga kejadian tersebut masih segar menari-nari di memoriku. 
Tentang dua Ibu yang pernah kutemui dan menyolot marah kepadaku dan tentang W dengan sifat sabarnya. Memang hal yang perlu dilakukan ketika marah adalah bahwa ketika kita sedang dikuasai amarah, ketika perlu berpikir beribu kali untuk bertindak maupun berkata.

Sebulan atau dua bulan yang lalu, aku tidak tahu persis tanggalnya namun harinya aku masih ingat. Saat itu malam Sabtu dan aku akan memarkir motorku ke dalam kantor karena pada saat itu, aku berniat menginap di kantor. Tepat di depan pintu kantor, ada sebuah mobil warna putih yang parkir. Aku bahkan lupa mobil apa namun sepertinya honda jazz. Aaat aku akan mengarahkan motorku ke dalam kantor, ternyata mobil tersebut pun akan keluar dan ternyata si empunya adalah Ibu paruh baya berkerudung. Aaat itu aku tidak tahu dia akan mengarahkan mobilnya ke arahku dan merasa jalannya dihalangi, dia seakan membentakku di dalam mobilnya dan dengan bahasa isyarat dan mata yang menyolot seakan mengatakan bahwa mobilnya akan ke arahku karena itu arah keluar dari parkiran. 
 
Aku tidak membalas gertakannya meski aku juga bisa berdalih bahwa mobilnya yang seenak dengkul parkir tepat di depan kantorku. Meski aku tidak mendengar suaranya karena berada di dalam mobilnya namun raut muka dan mata yang menyolot bahkan bahasa isyarat menandakan dia begitu emosional. 
Ah, kota ini memang asing bagi orang-orang sabar.

Kasus kedua tepat di hari kamis sore tanggal 8 Januari 2015. Saat itu baru saja pulang dari kantor sekitar pukul 17:00. Aku dan W janjian untuk bukber di daerah pendurenan. Aku bergegas melaju dari daerah rawamangun ke bilangan kuningan. 
Baru sampai di depan Arion Mall yang hanya berseberangan dengan kantorku, kendaraan sangat padat sehingga motorku melaju dengan lambat. Aku berniat menyalip sebuah bis di depan Arion Mall namun karena amat sempit maka aku ngetem tepat di samping bis yang juga berhenti karena padatnya kendaraan. Tepat di waktu bersamaan, seorang ibu paruh baya dan anaknya yang kira-kira berumur 10 tahun berjalan dari arah berlawanan. saat melintas di sampingku, dia menendang ban motorku sambil mengomel dan muka yang memendam amarah. Aku membuka kaca helm dan menanyakan kenapa kemudian dengan samar-samar dia tetap mengomel sambil berlalu bersama anaknya. Aku kemudian memilih untuk tidak menanggapinya karena hanya mempermalukan diri. 
Ah, lagi-lagi bahkan ibu yang berpenampilan sopan harus meluapkan amarah hanya karena hal kecil.

Hal ketiga adalah tentang W. Dia punya sahabat bernama R. Pernah sekali waktu, si R marah dan mengomel di group WA. Aku yang merasa tidak nyaman membaca chatnya menyarankan agar W keluar saja dari group itu. 
Berselang beberapa lama, hal itu ternyata malah membuat hubungan mereka runyam. Aku merasa bersalah menyarankan dia dulu keluar dari group WA. Aku tahu bahwa sabar dalam segala hal adalah lebih baik daripada menunjukkan amarah. 
Itu yang sedang aku coba bahwa ketika ada yang sedang meluapkan amarahnya, biarkan saja mereka dan jangan ditanggapi.

120115

January 8, 2015

Cukup Ini

serenade nada yang hialng
digantikan dengan hal yang baik baik saja
cukup ini

January 7, 2015

Jiwaku Bersama Waktu yang Menua

ini semua sedang terjadi
dengan apa yang benar menjadi sosok yang menakutkan
bukan karena diri namun hidup yang berliku
aku tidak tahu sampai sejauh mana hati kuat bertahan
dengan kerapuhan jiwa yang bersamaku
dan tentang semua onak.

aku melawan diri
aku melawan semua yang pernah kudengungkan
aku hampir saja bergerak mundur
memilih berdiam diri di gunung, ataupun di bibir pantai
namun tidak
aku bertahan dengan segenggam cita
dan percaya bahwa

pada akhirnya,
pada suatu saat nanti
semua akan berakhir dengan waktu yang menua
aku menggenggam keyakinan itu melebihi semua keyakinan yang pernah kutemui

bisnis ini, orang yang disekitarku
sulit memilih mana yang syubhat,
bahkan menentukan kawan yang sejati
karena semua terkadang menjadi penghianat
bahkan mungkin aku
ah, kerdil amat jiwa ini

waktu yang akan menjawab sampai kapan aku bertahan dengan dunia seperti ini

070115


January 6, 2015

Nasehat

Ketika Yahya bin Mu’adz melihat seorang Fuqaha’ Yang gemar harta benda, ia berkata:
Wahai ahli ilmu dan ahli hadits
Istanamu laksana Kaisar Rum
Gedung-gedungmu seperti istana Raja Persia
Tempat tinggalmu bagaikan kediaman Karun
Pintu-pintu rumahmu (tinggi) bak pintu kaum Luth
Pakaianmu bagaikan jubah Raja Jaluth
Jalan Agamamu tak ubahnya jalan setan
Hasil karyamu sama halnya karya-karya Raja Marwan
Wilayah kekuasaanmu tak berbeda dengan Fir’aun
Hakim-hakimmu suka gegabah dan menerima suapan
Dan para Gubernurmu bodoh tak berpendidikan
Lantas mana yang sesuai dengan ajaran Rasulullah?

Seorang Filosuf mengatakan:
Allah murka atas sepuluh perilaku Yang melekat pada sepuluh pelaku
Sifat bakhil pada orang kaya
Sifat sombong pada orang tak punya
Sifat tamak pada orang berilmu
Sifat tak tahu malu pada perempuan
Sifat cinta harta pada orang tua
Sifat malas pada pemuda
Sifat aniaya pada penguasa
Sifat penakut pada perwira
Sifat ujub pada orang yang zuhud dunia
Dan sifat riya’ pada seorang hamba
Rasulullah Saw bersabda:
Ada sepuluh kesempurnaan Lima di dunia dan lima lagi di alam baka.
Lima hal yang di dunia adalah ilmu, ibadah, Rezeki halal, jiwa sabar dan syukur atas anugrah
Sedang lima hal dialam baka adalah
Dihampiri Pencabut Nyawa dengan ramah tamah
Didatangi Munkar Nakir tanpa gemuruh
Dilimpahi rasa aman saat pembacaan putusan
Dihapusnya kejahatan dan diterimanya kebajikan
Dan melewati shirath secepat kilat
kemudian masuk surga dengan selamat
Abu Fadhl mengatakan:
Allah menamakan Kitab-Nya dengan sepuluh nama:
Al-Qur’an, Al-Furqan, al-Kitab, at-Tanzil, al-Huda, an-Nur, ar-Rahmah, asy-Syifa’, ar-Ruh dan adz-Dzikr
Luqman al-Hakim menasihati putranya:
Jika ingin engkau peroleh hikmah Maka lakukanlah sepuluh langkah
Pertama, sulutlah pelita hati yang telah padam
Kedua, gaulilah mereka yang tak punya
Ketiga, jauhilah forum elit para raja
Keempat, agungkanlah pahlawan tanpa tanda jasa
Kelima, lindungilah para pengungsi yang merana
Keenam, merdekakanlah para hamba sahaya
Ketujuh, ulurkanlah tanganmu pada mereka yang nestapa
Kedelapan, muliakanlah orang-orang yang mulia
Kesembilan, hormatilah para junjungan massa
Dan kesepuluh, jagalah lidahmu saat bertutur kata
Itu semua lebih baik darimu dari harta benda
Untuk berlindung dari kecemasan
Untuk berbekal demi masa depan
Laksana niaga yang menguntungkan
Untuk bersiap diri menghadapi cobaan
Berbenah diri menghadapi kematian
dan ke alam baka dengan penuh keyakinan
Orang bijak berkata:
Jika orang-orang suci ingin bersuci
Dari debu-debu dosa yang menyelimuti
Hendaklah ia penuhi sepuluh piranti
Beristighfar dengan lisan
Disertai hati penuh penyesalan
Tinggalkan maksia seluruh anggota badan
Niati berhenti untuk selamanya
Tumbuhkan cinta pada alam baka
Menjaga diri dari gila harta
Tahan lapar dan nestapa
Tahan dahaga dan bertapa
Sedikit tidur dan  tahan berjaga
Serta tak suka mengumbar kata

Anas bin Malik mengatakan Setiap hari bumi berseru: Wahai manusia!
Di atas punggungku kini engkau merajalela
Dalam perutku nanti engkau akan bermuara
Diatas punggungku kini engkau durhaka
Dalam perutku nanti engkau akan nikmati siksa
Diatas punggungku kini engkau bergelak tawa
Dalam perutku nanti engkau akan menangis penuh iba
Di atas  punggungku kini engkau bersuka cita
Dalam perutku nanti engkau akan berduka lara
Di atas punggungku kini engkau menumpuk harta
Dalam perutku nanti engkau akan menyesali
Di atas punggungku kini engkau makan rezeki haram
Dalam perutku nanti engkau akan dimangsa cacing pita
Di atas punggungku kini engkau besar kepala
Dalam perutku nanti engkau akan hina dina
Di atas punggungku kini engkau berbangga diri
Dalam perutku nanti engkau akan berciut nyali
Di atas punggungku kini engkau mandi cahaya
Dalam perutku nanti engkau akan rasakan gelap gulita
Di atas punggungku kini engkau selalu ditemani
Dalam perutku nanti engkau kan terbaring seorang diri
Rasulullah Saw bersabda:
Banyak tertawa telah menjebak manusia
pada sepuluh konsekwensi
Pertama, padamnya pelita hati
Kedua, musnahnya air muka
Ketiga, membuat setan berbahagia
Keempat, memanggil murak Ilahi
Kelima, dipersulit hisabnya di hari Kiamat
Keenam, tidak diakui Rasulullah sebagai ummat
Ketujuh, didoakan laknat oleh malaikat
Kedelapan, dibenci penduduk bumi dan langit
Kesembilan, dihinggapi penyakit mudah lupa
Dan kesepuluh, dibuka aibnya saat itu juga

Nb. Lupa Sumbernya

Sepiku

biarlah aku membunuh sepiku dalam diam hening. biarlah semua berlalu bersama seonggok cerita yang basi
aku manusia sepi. merenungi setiap kemewahan yang menghancurkan dan merayakan sendiri yang bahagia
anda saja semua seperti adanya
akan hal yang membebaskan
karena manusia
kita adalah bagian dari manusia lain
bahkan bagian dari semua semesta

060115

January 5, 2015

Simfoni Demam

Dek, perhatianmu
semoga tidak menguap bersama waktu yang usang
kemarin,
engkau membelaiku dengan kasih sayang
mengolesi seluruh badanku dengan minyak tawon
menyejukkanku

kuingin engkau ada
entah bagaimanapun kondisiku

dek, terlalu sayu matamu
menyinarkan kesabaran yang tak pudar

aku merindukanmu

050115

January 2, 2015

1 Januari 2015

Awal tahun masehi. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa di awal tahun dan gue pun bukan tipe orang yang terlalu peduli dengan pergantian tahun masehi karena gue yakin semua akan berjalan seperti biasa, namun tidak apalah gue bercerita perjalanan hidup gue seharian selama hari pertama 2015.

Malam tahun baru, gue udah ngorok jam 10 malam. Entah penat atau memang gue yang tuti (tukang tipu, eh salah itukan profesi lamaku. Maksudnya tukang tidur). Ga kerasa gue tidur selama setahun. Rekor tidur yang ga bisa dikalahin oleh siapapun bahkan Valentino Rossi pun gue rasa akan kesulitan mengalahkan rekor gue.

Gue tiba-tiba aja bangun tau-tau udah tahun 2015, gue serasa bagian dari rombongan pemuda Ashabul Kahfi yang tidur di dalam gua selama ratusan tahun. Gue keluar dari kamar kos dan mencari orang melihat bentuk muka jangan-jangan udah ga ada yang gue kenalin, ah syukurlah ternyata ga se tragis pemuda Ashabul Kahfi yang bangun dan zaman berubah.

Disaat teman-teman gue liburan dan plesiran kemana-mana, gue boro-boro  mau ngerencanain liburan, bahkan hari ini di awal tahun, gue udah punya list survey kerjaan kantor yang tertunda. Lokasi di Radin Inten dan babelan bekasi.

Jam 10, gue dah siap dan berangkat ke lokasi, setelah berputar-putar kagak jelas dan bertanya alamat layaknya ayu ting-ting, akhirnya gue nyampe di lokasi survey pertama. Survey kehilangan motor di depan kantor media grafika Duren Sawit dekat dengan halte busway flyover radin inten. Gue nanya ke satpam taman buaran indah tentang kehilangan motor. Satpamnya ramah juga. Setelah dapat informasi yang lumayan akurat dibandingkan dengan berita tv, gue rasa dah cukup. Akhirnya misi pertama gue kelar juga. Saatnya misi kedua yang lebih berat.

Gue melaju ke bekasi dengan motor kesayangan. Seperti rossi yang meliuk-liuk melewati saingan di race. Gue bertanya beberapa kali baru nyampe di lokasi kedua. Lumayan jauh juga dibandingkan jarak dari kamarku ke toilet. Ya iyalah, tuh kan masih dalam satu rumah..hihihi. garing ah. Lanjut lagi ternyata lokasi yang gue survey rumahnya gede banget, gue sampe berpikir ni rumah bisa buat beberapa perumahan. Gue ketemu ama yang empunya rumah. lumayan ramah cuman dah berumur sih, kan lumayan kalau masih muda, bisa gue godain. Ah, dasar otak gue, liat yang bohai dikit dah ngeres.

Si ibu nunjukin tempat parkir motor yang ilang. Gue bengong kok bisa ilang di dalam halaman rumah yang pagarnya tinggi banget mana pagarnya ke gembok pula, Gimana sih pencuri ngambilnya. gue curiga pencuri punya ilmu kanuragan menghilangkan diri bersama motor curian. Mungkin pencurinya adalah murid wiro sableng, iya sih emang sableng kan pencuri gue kalo disuruh jadi pencuri, pengen jadi pencuri hati wanita aja soalnya dah bosen sendiri mlulu. Kok malah curhat sih, cekaceka. Setelah nanya kronologis kejadian bak seorang detektif konan yang baru sembuh dari diare, semua detail gue nanyain. Setelah gue rasa infonya cukup, gue foto lokasi kejadian, gue ngacir pulang. Gue dah serasa detektif amatir yang nanya-nanya sekaligus kayak tukang foto keliling yang suka fotoin rumah orang. Cuaca mendung - mendung gimana gitu serasa pengen di rumah aja.

Gue ngebut ke jakarta selatan. Bertemu teman gue yang selalu minta ditemani. Gue bingung teman gue yang satu itu kok ga mau ditemanin sama tukang ojeg di samping kosnya yah ? Yaiyalah, kan mereka ga kenal. Wekaweka. Akhirnya gue sampe di kosnya. Gue bonceng dia ke pasarraya manggarai. Baru nyampe matraman, hujan ga bersahabat dan turun amat deras. Emang sih gue ma hujan kagak pernah mengikrarkan diri menjadi sepasang sahabat. Gue berhenti di depan toko dan Kami beteduh di bawah atapnya, tanganmu kupegang erat-erat, kenangan ini selalu kuingat. Haha kok jadi lagu gereja tua sih. Kami berteduh berdempet-dempetan di toko penjual kursi, gue lihat wajah penjual begitu sumringah melihat puluhan motor mampir di depan warungnya. Dia udah siap-siap melayani. Bagai cewek yang di PHPin, penjual itu kecewa berat karena kami cuma numpang berteduh. Gue rasa penjual itu dah dongkol sedongkol-Dongkolnya habis makan jengkol.

10 menit kemudian, hujan mulai bersahabat. Gue sih yang ngrasa bersahabat ma hujan karena ga turun lagi. Sempat gue lirik wajah penjual kursi, nampaknya dia sujud syukur karena semua orang yang berteduh di tokonya dah pada cabut. Gue melaju ke pasar raya yang jaraknya udah dekat. Nyampe disana, gue berputar-putar sampe pusing kayak gasing. Pengen sih beli celana tapi pas liat harganya, gue kelabakan. Gue bisa-bisa ga punya modal nikah kalau gini. Emang sih diskon 30+20% tapi tetap aja masih mahal. Kadang gue berpikir diskon di mall cuma nipu, naikin harga baru ngediskon. Alhasil gue ga jadi beli celana setelah ngitung modal.

Gue ma teman gue ngacir ke mall ambassador. Ternyata tutup. Gue mutar haluan ke taman soeropati sampe jam 6 kurang. Trus gue balik ke pendurenan. Habis Maghrib, gue ma teman gue makan di seafood. Pas mesan sih enteng-enteng aja pesan ikan bawal. Kenyang banget iya tapi pas gue bayar, gue serasa lapar lagi, bagaimana tidak, bawal yang gue makan harganya 35 reebooo, tuh baru ikan bawalnya loh. Huhuhuhu. Niat irit malah menjerit.

Gue antar pulang teman gue habis itu gue balik ke kos. Di sepanjang perjalanan masih ada sisa-sisa aroma tahun baru karena petasan tidak henti-hentinya meletus. Dah kayak perang dunia kelima. Kan PD 3 ma PD 4 blom.hehehe.

Gitulah kisah gue di awal tahun 2015. Tragis, ironis sekaligus menyedihkan layaknya romansa india yang menguras emosi, gue aktor utamanya kayak shah rukh kan. Emang sih gue beda-beda tipis ma doi.

Ah udahlah, gue dah blepotan.
020115 06:03

January 1, 2015

Maafkan Aku

Maafkan aku tentang semua cerita pertemuan kita. Harapan dan cerita yang dibagi bersama.
Maafkan tentang semua harapan yang engkau selipkan dalam doamu disetiap langkahku
Bukan merasa engkau berharap ataupun membagi rasa
Aku menganggapmu tidak lebih dari seorang adik kecilku.
Bukan bermaksud untuk mempermainkan rasa yang ada papadamu.

Katamu aku menghapus semua jejak memori bersamamu
Pikirmu aku sedang mencoba melepaskan semua yang pernah engkau jumpai di diriku
Tidak, bahkan sama sekali aku tidak sedang mencoba.

Aku hanya tidak ingin meninggalkan luka menganga di hatimu.
Aku tidak ingin itu terjadi
Karena satuhal yang harus engkau tahu,
Aku sedang merencanakan kehidupanku yang baru
Dengan seorang gadis pilihanku di pulau ini.

Akupun tidak yakin engkau sedang menantikan harapan untukku
Ataupun merasa bahwa engkau menginginkan serpihan hatiku.
Aku hanya ingin menjaga, apatahlagi engkau adalah perempuan.

Aku hanya sedang menjaga komitmenku dengan gadis pilihanku.
Maaf semua media sosial milikku kujauhkan untuk menjaga komitmenku
Tapi bukan berarti melupakanmu.

Maaf sekali lagi.
Semoga kita berjalan di kehidupan masing-masing yang bahagia.


Setelah meneleponmu malam ini dan mengkonfirmasi semua
Mungkin setelah ini aku bakalan jarang menghubungi dirimu


#maafdektarypyup
010115 22:15


Kawan yang Kukenal

Hidup adalah tentang berperasaan dan menghargai.

Hidup adalah tentang bagaimana menganggap setiap orang apatahlagi bagi orang yang pernah dijumpai dan berteman. Bukan apa karena ada saja hal yang merusak setiap hubungan yang pernah terjalin, entah itu intim ataupun hanya sekedar sebagai kenalan biasa.

Aku adalah salah satu orang yang berusaha untuk menghargai setiap orang yang pernah hadir dalam kehidupanku. Aku tidak akan pernah melupakan bahkan saat ruang yang membatasi. Meski terkadang orang yang dianggap kawan seringkali tidak beranggapan seperti itu terhadap kita.

Lupakanlah tentang keberhasilan yang kita raih dan tentang nama besar yang melekat bahkan popularitas yang menjulang ketika saat itu masih ada perasaan tidak menghargai. Aku mungkin terlalu berperasa atau bahkan terlalu berbasa basi namun tidak pernah ada tertinggal rasa dendam dalam hati.

Aku mengenal beliau sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus merah, bahkan siapa yang tidak mengenal beliau dikalangan mahasiswa baru sebayaku. Mantan pimpinan organisasi dan terkenal kritis di kampus adalah modal menjadi terkenal sebagai mahasiswa panutan. Lama kelamaan aku pun arab dengannya. Banyak belajar kepadanya. Itu yang aku ingat dari memori keberkenalan kami di kampus merah.

Akhirnya beliau menjadi dosen dan menikah dengan seniorku pula. Dua senior yang kuhormati. Kemudian mereka mempunyai anak yang keren dan kutahu itu karena paradigma mereka yang keren pula dalam mendidik anak-anak mereka.

Meski ruang yang terlalu jauh untuk berinteraksi, aku masih sering stalking sosmed miliknya ataupun blog pribadinya karena kekagumanku terhadap cara berpikirnya. Benar saja, blognya dipenuhi dengan tulisan-tulisan yang sangat inspiratif. Aku akui beliau memang piawai dalam menuliskan kisah entah itu kisah anak-anaknya atau setiap momen yang dijumpai dalam kehidupannya. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa dekat dengannya.

Sampai akhirnya tadi, aku menelepon seorang kawan yang kebetulan nginap di rumahnya. Bercerita panjang lebar. Saat asyik bercerita, kawan tersebut memintaku berbicara dengan beliau. Namun tak terduga, beliau katanya tidak mau bicara denganku. Entahlah apa alasannya bahkan sekedar berbasa basi pun beliau tidak sudi. Semua hal mengenai dirinya langsung luntur di kepalaku. Meski aku akui beliau keren dalam setiap pemikirannya namun ada hal kecil dalam hal penghargaan yang beliau tidak lakukan. Apa salahnya berbasa-basi atau sekedar menanyakan kabar.

Aku bandingkan dengan beberapa rekan sejawatnya yang masih di Jogjakarta, bahkan mereka bisa menghargai dan saat kutelepon masih berbasa-basi denganku. Atau mungkin beliau menganggap bahwa tidak ada yang penting untuk dibicarakan denganku dan hanya menghabiskan waktunya. Ah terlalu naif kurasa mengingat selama ini beliau memaklumatkan dirinya sebagai orang yang peduli terhadap siapa saja.

Setelah ini, mungkin saja ada hal yang bisa kupetik bahwa belajarlah untuk menghargai siapapun. Tidak mesti dengan menunjukkan kepedulian yang retorik namun cukup menyapa setiap orang.
Ah sudahlah. Semua orang punya persepsi masing-masing.

Beliau yang sering dipanggil dengan sebutan kmrd
010115 22:05

December 31, 2014

Aku Merusak Rasamu

"jika raga ini tidak mendatangimu yang sedang mematung di taman indah kota itu bersama ibumu, jika aku tidak menyatakan rasa ini, mungkin jalinan kasihmu kepada ibumu tetap erat.aku merusak rasa rindumu terhadap ibumu,meruntuhkan semua ikatan bhatin kalian berdua".

aku membenci diri yang tidak tahu malu. meretakkan semua hubungan gadis dan ibunya. aku meredupkan cahaya rindumu terhadap ibumu. aku bagai menggenggam gelas kemudian membanting di sudut ubin yang keras. hancur tak beraturan. itu aku,

sejak aku membawa sebuah cinta kepadamu dan menawarkan untuk kau balas, sejak saat itu adalah awal keretakan hubunganmu dengan ibumu. cintaku mengorbankan semua perasaanmu yang tulus terhadap ibumu. langit mungkin saja suatu saat akan menghukumku dengan seberat-beratnya. memekakkan gendang telingaku dengan petir kedukaan.

Hujan datang tibatiba. merusak semua rindu yang terjalin. jika aku adalah hujan yang datang di penghujung desember ini, kalian adalah keluarga merpati yang sedang berteduh saling menyayangi. aku datang tiba-tiba, merusak dan mengancurkan semua kasih yang kalian jalin. tak tersisa sedikit dari setiap memori yang ada bahkan aku hanyalah makhluk tak berarti untuk kalian.

jika dalam perjumpaan ada bahagia dan di setiap perpisahan ada airmata yang mengalir deras dari sudut mata. itu adalah aku.

kini, semua seakan menjadi kelam tak berarti. sirna dalam tatapan mata yang nanar. aku membenci dengan pertemuan di sudut kota pahlawan. aku meratapi diriku yang mendatangimu bersama ibumu di suatu senja di kediamanmu. awal keresahan bermula dari itu semua.

aku muak dengan kata-kata gombalku yang ingin bersamamu. aku benar-benar jemu karena semua itu merusak indahnya hubungan kalian berdua. pertalian kasih yang terjalin antara seorang gadis sendu dengan ibu yang sabar. kemudian kenapa aku harus datang dan merusak semua itu. ah, ini jejak yang engkau tinggalkan betapa engkau erat dengan ibumu.

pertemuan itu telah terjadi. tidak mungkin waktu berbaik hati kepadaku mengembalikan semua yang telah berlalu. namun perpisahan, entahlah aku tidak berani meyakinkan diriku bahwa itu adalah jalan terbaik mengembalikan jiwa kalian yang retak. aku sama sekali tidak yakin.

harusnya tidak ada aku diantara kalian. mestinya semua rasa yang kupunya kusimpan hingga waktu yang membuatnya sirna. pada setiap hati yang kubuat menangis.

311214

Malam

dari bibir yang tak mampu melafalkan doadoa
pun mata yang sudah tidak awas lagi membedakan setiap hal yang hitam
bahkan raga yang selalu bergelut dengan kelabu dunia

aku menunggu malam. menunggu sampai senja disapu malam yang kelam
aku menunggu gelap
menunggu terang yang diburamkan oleh pekatnya malam

aku ingin bercerita pada sang rembulan yang tenang
aku ingin mendamaikan hati bersamanya
melepaskan semua penat yang melekat

lelah sudah
jalan yang telah kutempuh
mungkin harus duduk sejenak

301214


Penghujung tahun 2014

Entah apa yang harus kutuliskan di penghujung tahun 2014 ini. tahun yang mungkin terlalu indah untuk dilewatkan tanpa di jejak dengan tulisan-tulisan singkat di blog ini. aku harus akui bahwa di tahun 2014 ini, aku masih penuh dengan lumpur dosa yang begitu memilukan bahkan untuk mengingat dosa-dosa tersebut pun tak sanggup namun di tahun ini pula, ada sebuah titik terang dari apa yang aku inginkan.

Januari adalah hari-hari terakhir aku bekerja sebagai karyawan Penerbit. di bulan tersebut, aku habiskan untuk mengurus semua saldoku di perusahaan tersebut sambil berpamitan kepada para guru yang pernah kukenal di daerah ngawi. januari pun menjadi saksi bahwa sebentar lagi aku akan kembali ke suarabaya, kota dimana aku pertama kali menginjakkan kaki ini jawa timur.

Februari-Maret merupakan bulan pertama aku kembali menetap di surabaya. menyewa sebuah kamar kos di Jl. Jojoran III. bulan tersebut kulewati sama sekali tanpa kegiatan. melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan namun tidak ada yang diterima. aku kadang hanya di kamar mengurung diri. menerawang masa depan yang kelabu. aku bahkan harus melewati hari-hariku dengan kebosanan yang maksimal.

April menjadi titik awal karena aku memutuskan hijrah ke Ibu kota. beberapa hari sebelum pemilihan Caleg. aku menumpang di kos salah satu temanku yang berasal dari kota asalku. kosnya yang sudah tidak asing bagiku karena agustus 2012, aku pernah tinggal beberapa hari di kosnya yang beralamatkan di Cilandak. bulan itu masih kulewati dengan baik dan sesekali melamar di perusahaan.

Mei-Agustus. ini adalah masa dimana benar-benar aku mengalami titik anti klimaks.selama 4 bulan tidak bekerja di jakarta adalah hal yang mengerikan yang pernah kurasakan. aku pernah lama tidak bekerja di kota asalku namun situasinya berbeda dengan di Ibu kota. selama itu, aku menyewa kos di Cilandak milik mpok E. setiap hari aku hanya mendekam di dalam kamar bagai orang yang dipenjara. aku bahkan tidak sanggup bertemu dengan tetangga kos karena khawatir ditanya tentang pekerjaan. hal yang mengherankan bagi mereka jika tinggal dan ngekos di jakarta tetapi tidak bekerja sama sekali. aku hampir saja putus asa dalam rentang bulan tersebut. hingga akhirnya di akhir agustus, aku diterima bekerja di Perusahaan B sebagai staff.

September-Desember. hari-hariku kini kuhabiskan di perusahaan B. bertemu dengan orang baru dan bekerja sebagai staff surveyor. aku melewati dengan beberap masalah bahkan masih sering melakukan kesalahan. hal yang paling sering adalah saat nginput pekerjaan ke aplikasi. aku terkadang keliru namun bagaimanapun aku harus melewati semua ini. aku mungkin orang yang terlalu berhati-hati dan terlalu takut salah sehingga jadinya malah berabe. bahkan di saat aku menulis ini pun, aku masih melakukan satu kesalahan yaitu berkas PT. Adhikarya Makmur sentosa tidak sesuai dengan penjelasan di klausulanya. ah, mungkin aku lelah.

Itulah 2014 kulewati dengan berbagai dinamika yang menantang. dibandingkan dengan tahun 2013 yang lebih statis karena selama itu aku hanya bekerja di Penerbit. di tahun mendatang 2015 yang akan dimulai esok hari, aku hanya mempunyai beberapa harapan dan Impian

-menikah 
-menghindari dari perbuatan dosa
-bekerja tetap di jakarta
-mempunyai rumah di sekitaran jakarta

itu saja dari beberapa impianku yang ingin kuwujudkan di tahun 2015
Aaamiin Ya Rabb

Kantor B  311214 08:05

December 30, 2014

dan Kau

Semakin lekat nama itu di sanubariku. menghempaskan semua akal sehatku
selalu dan akan selalu ada menjelma menjadi diriku sendiri
betapa tidak, sejauh jalan ini telah kami jejak bersama
entah itu senang ataupun sedih, namun aku selalu mensyukuri
meski terkadang aku harus memaki diriku yang berani mengerayangi tubuh mungilnya

kalau ada yang berani berkata
" engkau adalah dosa yang kusyukuri"
mungkin itu aku meski aku juga tidak mengamini

kalaupun ada yang berkata
engkau adalah pertemuan yang kusesali dan itu juga aku
semua tentangku berubah ketika mengenalmu

kita sering bercerita kepada  pagi
mengitari danau di kampus mulyosari

kitapun bercerita kepada senja
di setiap alun-alun kota yang pernah disinggahi bersama bahkan taman di setiap sudut kota

bahkan dengan malam
kita berbagi kasih dengannya. di setiap sudut mall yang pernah kita kunjungi

beribu bait puisi yang kita rangkai bersama bersama cerita dalam cerpen yang norak
bahkan nyanyian tak berirama pun kita suarakan

aku dengan dirimu
dengan segala cerita yang pernah kita ukir
engkau menangisi semua perbuatanku yang membuatmu sakit.

aku dan dirimu
menghabiskan waktu bersama, menjelma menjadi sepasang merpati yang melanglang buana
dan hinggap di setiap dahan yang rapuh

aku dan dirimu
telah sekian kali bertemu dengan manusiamanusia
kemudia kita tinggalkan mereka sebagai kenangan

namun aku dan dirimu
tak sekalipun akan saling melepaskan

301214