April 28, 2014

CERITA DALAM JALANAN #4


Nampaknya akan selalu ada momen di jalanan kota ini. Selalu saja ada hikmah yang tersebar di setiap jalanan. Kota ini akan menjadi semakin padat pada pagi hari dan sore hari. Umpatan demi umpatan dari sesama pengendara benar-benar sering kudengar bahkan setiap aku di tengah macet yang berkepanjangan. Semua merasa benar dan merasa paling sibuk. aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak akan mengeluarkan umpatan ketika terjadi hal yang tidak kuinginkan di jalanan.

Tadi pagi, bahkan benar-benar pagi buta. aku harus menyusuri padatnya kendaraan dari arah cilandak ke kuningan karena windi sakit dan minta diantar ke poli. Macet adalah hal biasa di kota ini dan akupun harus bersabar dengan itu. Di sekitaran halte buncit indah, seorang ibu yang mengendarai motor matic dan nampaknya sedang mengantar anaknya ke sekolah menyerempet motor di depannya alhasil flat motor yang diserempet bengkok. Sang pengendara yang seorang laki-laki paruh baya menoleh dengan wajah yang amat kesal dan terlihat sedang menahan marah. aku sudah menduga dia akan memaki ibu itu atau paing tidak mengumpat namun ternyata tidak. Dia hanya menunjukkan wajah kesal. Belum jauh dari kejadian itu, seorang pengendara motor yang berusaha menyalip motor di depannya terjatuh karena licin, pengendara yang lain hanya menoleh dan dengan cueknya berlalu. Begitu individualitas di kota ini benar-benar memasuki tahap kronis.

Senja hari, aku baru pulang menemani windi. Jalanan begitu padat karena bertepatan dengan orang pulang kerja. Aku mengendarai motorku dengan pelan dan sesekali menyalip karena maghrib sudah begitu mepet. Tepat di pertigaan pasar minggu setelah halte jati padang, seorang bapak yang membonceng ibu, mungkin isterinya, amat sangat kaget ketika ada motor dari belakang menyalip menuju pasar minggu. Dengan amat kesalnya, dia berteriak dengan amat sangat keras tanpa memperdulikan orang disampingnya “begoooooo”. Aku terperangah lalu dengan reflex menoleh kepada bapak itu. Begitu orang-orang di kota benar sangat susah menahan emosinya dan anehnya ibu yang di bonceng seakan tidak terganggu dan asyik memainkan hpnya.

Inilah kota metropolitan. Terkadang orang di sini selalu merasa paling benar dan menganggap yang lain pecundang. Umpatan amatlah sangat murah di jalanan kota ini bahkan terkesan di obral meski amat sangat menyakitkan. Benar-benar untuk menguji kesabaran adalah di jalanan kota ini. Kesabaran bukanlah diuji di tengah hutan ataupun di atas gunung yang tidak berpenghuni manusia namun ujian kesabaran dalam kondisi ramai yang sesungguhnya di kota ini.



Cilandak, 28’4’14
Untuk ke2 kalinya, windi sakit di kota ini

April 27, 2014

CERITA DALAM JALANAN #3


Benar-benar hal yang lumrah di kota ini ketika berada di jalanan dan akan terjadi adu mulut antar pengendara. Tidak ada toleransi sedikit pun karena semua merasa benar dan tak ada yang mengerti satu sama lain. Tadi pagi aku membaca artikel di kompas tentang berkendara di kota ini. Si penulis mengemukan dengan gambling bagaiman setiap orang yang berkendara merasa paling benar tanpa berusaha untuk mengerti pengendara lain, apakah mereka sedang terburu-buru dengan sebuah urusan yang mendesak, yang di benak kita ketika kita di ganggu di jalanan adalah mereka tidak tahu aturan hingga ujung-ujungnya keluar berbagai macam umpatan.
Tadi saat pulang mengantar windi, aku berjalan kaki dari bilangan jalan genteng ijo kea rah indomaret tempatku memarkir motor. Tepat di pertigaan jalan, dua pengendara motor hampir bersenggolan. Keduanya adalah bapak-bapak sekitar 50an tahun. Mereka beradu mulut tanpa memperhatikan orang di sekitarnya dan anehnya lagi, orang-orang di sekitarnya hanya memandangi dengan cuek seakan pemandangan seperti itu adalah hal yang lumrah tanpa ada satupun dari mereka yang berusaha melerai, bahkan terlihat bapak yang satu dari arah jalan genteng ijo turun dari motornya dan dengan aba-aba ingin menggampar bapak yang tetap di atas motornya. Berbagai umpatan keluar dari mulut mereka dan nampaknya, mereka saling merasa benar tanpa ada yang berinisiatif untuk mengalah dan meminta maaf.
Kota ini benar-benar keras. Menghadirkan setiap momen yang mengajarkan kita bagaimana menjunjung tinggi kesabaran. Memang sejak menginjakkan kaki di kota ini dua minggu lalu, aku sudah bersiap untuk mempertebal rasa kesabaran ketika sedang berkendara karena aku mafhum semua orang amat sangat terburu-buru dan ketika terjadi insiden kecil maka jarang sekali diantara mereka yang mau disalahkan. Momen seperti itu pernah kualami ketika minggu pertama di kota ini, seorang sopir taxi mengumpat kepadaku dengan amat sangat kasar, “Setann Loe.” Begitu umpatannya kepadaku.
Aku mulai menganggap semua hal itu adalah ujian kesabaran dan ketika aku mendapat insiden seperti itu maka aku tidak berniat untuk meladeni. Bukan takut namun hidup di jalanan kota ini amatlah sia-sia ketika dihabiskan untuk mengumpat. Aku ingin beda dengan mereka yang dengan mudahnya mengumpat tanpa mengerti seperti apa orang yang menjadi sasaran umpatan. Aku ingin lebih banyak menguji kesabaranku di kota ini.

Cilandak, 26’4’14

3.5.14


3 mei 2014
Momen memulai perbaikan diri,
Menanggalkan setiap aib
Ah, aku harus kuat
Mengalahkan nafsu yg selalu menggelora
Kata Nabiku

Perang terbesar adalah melawan hawa nafsu
Kalau menang, akan bahagia namun jika kalah akan sengsara

karet kuningan, 14.00

April 25, 2014

KOSONG


Dalam rasa yang tak padam. Menjelajah setiap sudut yang kosong dimana ruang itu amat sangat kecil dan tersembunyi yang bernama nurani. Disini terdiam dalam setiap detik kesunyian yang menemani. Kalau saja secercah asa menghampiri dan mengerus kehampaan itu. Benar-benar sebuah tempat yang menjauhkanku dari diri atau apakah aku yang sengaja berlari menjauh dari diriku namun yang pasti bahwa kehampaan sering kali menghampiri tanpa ada petuah dari sang sufi yang terkadang datang di senja dan mengajrkanku tentang hidup
Aku benar-benar hampa. Ruang kosong yang tertinggal jauh tanpa ada nilai rohani yang mengisi. Ini semua khilaf karena jauhnya aku berjalan dari diriku dan tak berusaha untuk kembali. Terlalu sering melihat ke setiap orang dan meninggalkan kebahagiaan yang hakiki di dalam nurani yang tertinggal. Aku terus saja mendiamkan diri dan terus saja begini tanpa peduli lagi akan kebutuhan rohani yang mendesak.
Aku harus kuat. Kembali menyinari diriku dan kembali bersama diri Karena terlalu jauh diri akan menyesatkan. Semua yang dibutuhkan sudah tersimpan di dalam diri. Teori ini sudah lama kuanut namun sering kali aku alpa tentangnya. Duniawi yang menyilaukan membuatku harus bertarung lebih keras lagi apatahlagi nafsu yang menggila dan merenggut semua kebahagiaan yang sudah kurangkai semasa dulu. Entah mereka sudah berlalu kemana sehingga tak terlihat lagi. Aku mencari di sela-sela waktu, di setiap got ataupun di belantara kota ini namun taka da. Semua sirna begitu saja bersama dengan kesombanganku yang merasa mereka tidak berguna lagi. Aku diam dan terpenjara dengan perasaan yang tak terkira pedihnya. Entahlah akan sampai kapan namun aku telah melampaui batas di beberapa khilaf yang membuatku harus menyucikan rohani yang berdebu.

Cilandak, 25,4,14

April 23, 2014

Cerita dalam jalanan #2


Setiap kali saya menceritakan tentang pengalaman di jalanan kota ini, selalu saja tidak mengenakkan dan menjadi penguji kesabaran karena di jalanan kota ini, bertebaran umpatan, cacian dan ketidaksabaran dari mereka pengguna jalan ini yang sok sibuk, sok buru-buru dan sepertinya tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya. Fenomena itu selalu saja terjadi di jalanan kota ini yang benar-benar sesak di jejali kendaraan berbagai merek bagai semut yang mengerumuni gula.

Namun tidak tadi malam, benar-benar lain dari biasanya. Saat keluar mencari makan dengan windi. Saat itu jalanan begitu padat merayap karena bertepatan dengan jam pulang kantor apatahlagi dengan gerimis yang membuat genangan air di beberepa titik membuat kemacetan semakin parah. Saya dan windi nekat menembus kemacetan meski harus mencari sela dari setiap kendaraan untuk menembus kemacetan. Di daerah kuningan tepat di depan epicentrum, kepadatan benar-benar membuat motor harus berjalan perlahan dan sesekali saya menurunkan kaki saat motor harus berhenti, sialnya saya menginjak kaki seorang pengendara motor di sampingku. Saya sudah siap menerima umpatan seperti sebelumnya namun ternyata tidak, saya berusaha senyum kepadanya karena merasa bersalah dan berharap dia tidak marah dan benar saja, dia tersenyum balik kepada saya meski kutahu sepatunya yang mengkilat harus kotor karena injakanku tadi. Dari potongannya, kelihatannya dia seorang pegawai negeri dengan baju seragam.

Ah, untungnya saya tidak mendapat lagi umpatan binatang. Memang di tengah kerumunan orang yang berada dalam tekanan kerja yang begitu meremukkan kepala, selalu saja ada orang yang berdamai dengan hidup seperti ini. Saya berusaha menjadi salah satu dengan mereka yang berdamai dengan hidup apapun kondisinya.

Clndk, 23,4,14