Dalam
rasa yang tak padam. Menjelajah setiap sudut yang kosong dimana ruang itu amat
sangat kecil dan tersembunyi yang bernama nurani. Disini terdiam dalam setiap
detik kesunyian yang menemani. Kalau saja secercah asa menghampiri dan mengerus
kehampaan itu. Benar-benar sebuah tempat yang menjauhkanku dari diri atau
apakah aku yang sengaja berlari menjauh dari diriku namun yang pasti bahwa
kehampaan sering kali menghampiri tanpa ada petuah dari sang sufi yang
terkadang datang di senja dan mengajrkanku tentang hidup
Aku benar-benar
hampa. Ruang kosong yang tertinggal jauh tanpa ada nilai rohani yang mengisi. Ini
semua khilaf karena jauhnya aku berjalan dari diriku dan tak berusaha untuk
kembali. Terlalu sering melihat ke setiap orang dan meninggalkan kebahagiaan yang
hakiki di dalam nurani yang tertinggal. Aku terus saja mendiamkan diri dan
terus saja begini tanpa peduli lagi akan kebutuhan rohani yang mendesak.
Aku harus
kuat. Kembali menyinari diriku dan kembali bersama diri Karena terlalu jauh
diri akan menyesatkan. Semua yang dibutuhkan sudah tersimpan di dalam diri. Teori
ini sudah lama kuanut namun sering kali aku alpa tentangnya. Duniawi yang
menyilaukan membuatku harus bertarung lebih keras lagi apatahlagi nafsu yang
menggila dan merenggut semua kebahagiaan yang sudah kurangkai semasa dulu. Entah
mereka sudah berlalu kemana sehingga tak terlihat lagi. Aku mencari di
sela-sela waktu, di setiap got ataupun di belantara kota ini namun taka da. Semua
sirna begitu saja bersama dengan kesombanganku yang merasa mereka tidak berguna
lagi. Aku diam dan terpenjara dengan perasaan yang tak terkira pedihnya. Entahlah
akan sampai kapan namun aku telah melampaui batas di beberapa khilaf yang
membuatku harus menyucikan rohani yang berdebu.
Cilandak,
25,4,14
No comments:
Post a Comment