April 27, 2014

CERITA DALAM JALANAN #3


Benar-benar hal yang lumrah di kota ini ketika berada di jalanan dan akan terjadi adu mulut antar pengendara. Tidak ada toleransi sedikit pun karena semua merasa benar dan tak ada yang mengerti satu sama lain. Tadi pagi aku membaca artikel di kompas tentang berkendara di kota ini. Si penulis mengemukan dengan gambling bagaiman setiap orang yang berkendara merasa paling benar tanpa berusaha untuk mengerti pengendara lain, apakah mereka sedang terburu-buru dengan sebuah urusan yang mendesak, yang di benak kita ketika kita di ganggu di jalanan adalah mereka tidak tahu aturan hingga ujung-ujungnya keluar berbagai macam umpatan.
Tadi saat pulang mengantar windi, aku berjalan kaki dari bilangan jalan genteng ijo kea rah indomaret tempatku memarkir motor. Tepat di pertigaan jalan, dua pengendara motor hampir bersenggolan. Keduanya adalah bapak-bapak sekitar 50an tahun. Mereka beradu mulut tanpa memperhatikan orang di sekitarnya dan anehnya lagi, orang-orang di sekitarnya hanya memandangi dengan cuek seakan pemandangan seperti itu adalah hal yang lumrah tanpa ada satupun dari mereka yang berusaha melerai, bahkan terlihat bapak yang satu dari arah jalan genteng ijo turun dari motornya dan dengan aba-aba ingin menggampar bapak yang tetap di atas motornya. Berbagai umpatan keluar dari mulut mereka dan nampaknya, mereka saling merasa benar tanpa ada yang berinisiatif untuk mengalah dan meminta maaf.
Kota ini benar-benar keras. Menghadirkan setiap momen yang mengajarkan kita bagaimana menjunjung tinggi kesabaran. Memang sejak menginjakkan kaki di kota ini dua minggu lalu, aku sudah bersiap untuk mempertebal rasa kesabaran ketika sedang berkendara karena aku mafhum semua orang amat sangat terburu-buru dan ketika terjadi insiden kecil maka jarang sekali diantara mereka yang mau disalahkan. Momen seperti itu pernah kualami ketika minggu pertama di kota ini, seorang sopir taxi mengumpat kepadaku dengan amat sangat kasar, “Setann Loe.” Begitu umpatannya kepadaku.
Aku mulai menganggap semua hal itu adalah ujian kesabaran dan ketika aku mendapat insiden seperti itu maka aku tidak berniat untuk meladeni. Bukan takut namun hidup di jalanan kota ini amatlah sia-sia ketika dihabiskan untuk mengumpat. Aku ingin beda dengan mereka yang dengan mudahnya mengumpat tanpa mengerti seperti apa orang yang menjadi sasaran umpatan. Aku ingin lebih banyak menguji kesabaranku di kota ini.

Cilandak, 26’4’14

No comments: