Benar-benar
hal yang lumrah di kota ini ketika berada di jalanan dan akan terjadi adu mulut
antar pengendara. Tidak ada toleransi sedikit pun karena semua merasa benar dan
tak ada yang mengerti satu sama lain. Tadi pagi aku membaca artikel di kompas tentang
berkendara di kota ini. Si penulis mengemukan dengan gambling bagaiman setiap
orang yang berkendara merasa paling benar tanpa berusaha untuk mengerti
pengendara lain, apakah mereka sedang terburu-buru dengan sebuah urusan yang
mendesak, yang di benak kita ketika kita di ganggu di jalanan adalah mereka
tidak tahu aturan hingga ujung-ujungnya keluar berbagai macam umpatan.
Tadi
saat pulang mengantar windi, aku berjalan kaki dari bilangan jalan genteng ijo
kea rah indomaret tempatku memarkir motor. Tepat di pertigaan jalan, dua
pengendara motor hampir bersenggolan. Keduanya adalah bapak-bapak sekitar 50an
tahun. Mereka beradu mulut tanpa memperhatikan orang di sekitarnya dan anehnya
lagi, orang-orang di sekitarnya hanya memandangi dengan cuek seakan pemandangan
seperti itu adalah hal yang lumrah tanpa ada satupun dari mereka yang berusaha
melerai, bahkan terlihat bapak yang satu dari arah jalan genteng ijo turun dari
motornya dan dengan aba-aba ingin menggampar bapak yang tetap di atas motornya.
Berbagai umpatan keluar dari mulut mereka dan nampaknya, mereka saling merasa
benar tanpa ada yang berinisiatif untuk mengalah dan meminta maaf.
Kota
ini benar-benar keras. Menghadirkan setiap momen yang mengajarkan kita
bagaimana menjunjung tinggi kesabaran. Memang sejak menginjakkan kaki di kota
ini dua minggu lalu, aku sudah bersiap untuk mempertebal rasa kesabaran ketika
sedang berkendara karena aku mafhum semua orang amat sangat terburu-buru dan
ketika terjadi insiden kecil maka jarang sekali diantara mereka yang mau
disalahkan. Momen seperti itu pernah kualami ketika minggu pertama di kota ini,
seorang sopir taxi mengumpat kepadaku dengan amat sangat kasar, “Setann Loe.”
Begitu umpatannya kepadaku.
Aku
mulai menganggap semua hal itu adalah ujian kesabaran dan ketika aku mendapat
insiden seperti itu maka aku tidak berniat untuk meladeni. Bukan takut namun
hidup di jalanan kota ini amatlah sia-sia ketika dihabiskan untuk mengumpat. Aku
ingin beda dengan mereka yang dengan mudahnya mengumpat tanpa mengerti seperti
apa orang yang menjadi sasaran umpatan. Aku ingin lebih banyak menguji
kesabaranku di kota ini.
Cilandak,
26’4’14
No comments:
Post a Comment