April 23, 2014

Cerita dalam jalanan #2


Setiap kali saya menceritakan tentang pengalaman di jalanan kota ini, selalu saja tidak mengenakkan dan menjadi penguji kesabaran karena di jalanan kota ini, bertebaran umpatan, cacian dan ketidaksabaran dari mereka pengguna jalan ini yang sok sibuk, sok buru-buru dan sepertinya tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya. Fenomena itu selalu saja terjadi di jalanan kota ini yang benar-benar sesak di jejali kendaraan berbagai merek bagai semut yang mengerumuni gula.

Namun tidak tadi malam, benar-benar lain dari biasanya. Saat keluar mencari makan dengan windi. Saat itu jalanan begitu padat merayap karena bertepatan dengan jam pulang kantor apatahlagi dengan gerimis yang membuat genangan air di beberepa titik membuat kemacetan semakin parah. Saya dan windi nekat menembus kemacetan meski harus mencari sela dari setiap kendaraan untuk menembus kemacetan. Di daerah kuningan tepat di depan epicentrum, kepadatan benar-benar membuat motor harus berjalan perlahan dan sesekali saya menurunkan kaki saat motor harus berhenti, sialnya saya menginjak kaki seorang pengendara motor di sampingku. Saya sudah siap menerima umpatan seperti sebelumnya namun ternyata tidak, saya berusaha senyum kepadanya karena merasa bersalah dan berharap dia tidak marah dan benar saja, dia tersenyum balik kepada saya meski kutahu sepatunya yang mengkilat harus kotor karena injakanku tadi. Dari potongannya, kelihatannya dia seorang pegawai negeri dengan baju seragam.

Ah, untungnya saya tidak mendapat lagi umpatan binatang. Memang di tengah kerumunan orang yang berada dalam tekanan kerja yang begitu meremukkan kepala, selalu saja ada orang yang berdamai dengan hidup seperti ini. Saya berusaha menjadi salah satu dengan mereka yang berdamai dengan hidup apapun kondisinya.

Clndk, 23,4,14

No comments: