Setiap
kali saya menceritakan tentang pengalaman di jalanan kota ini, selalu saja
tidak mengenakkan dan menjadi penguji kesabaran karena di jalanan kota ini,
bertebaran umpatan, cacian dan ketidaksabaran dari mereka pengguna jalan ini
yang sok sibuk, sok buru-buru dan sepertinya tidak peduli dengan orang lain di
sekitarnya. Fenomena itu selalu saja terjadi di jalanan kota ini yang
benar-benar sesak di jejali kendaraan berbagai merek bagai semut yang
mengerumuni gula.
Namun
tidak tadi malam, benar-benar lain dari biasanya. Saat keluar mencari makan
dengan windi. Saat itu jalanan begitu padat merayap karena bertepatan dengan
jam pulang kantor apatahlagi dengan gerimis yang membuat genangan air di
beberepa titik membuat kemacetan semakin parah. Saya dan windi nekat menembus
kemacetan meski harus mencari sela dari setiap kendaraan untuk menembus
kemacetan. Di daerah kuningan tepat di depan epicentrum, kepadatan benar-benar
membuat motor harus berjalan perlahan dan sesekali saya menurunkan kaki saat
motor harus berhenti, sialnya saya menginjak kaki seorang pengendara motor di
sampingku. Saya sudah siap menerima umpatan seperti sebelumnya namun ternyata
tidak, saya berusaha senyum kepadanya karena merasa bersalah dan berharap dia
tidak marah dan benar saja, dia tersenyum balik kepada saya meski kutahu
sepatunya yang mengkilat harus kotor karena injakanku tadi. Dari potongannya,
kelihatannya dia seorang pegawai negeri dengan baju seragam.
Ah,
untungnya saya tidak mendapat lagi umpatan binatang. Memang di tengah kerumunan
orang yang berada dalam tekanan kerja yang begitu meremukkan kepala, selalu
saja ada orang yang berdamai dengan hidup seperti ini. Saya berusaha menjadi
salah satu dengan mereka yang berdamai dengan hidup apapun kondisinya.
Clndk,
23,4,14
No comments:
Post a Comment