Nampaknya
akan selalu ada momen di jalanan kota ini. Selalu saja ada hikmah yang tersebar
di setiap jalanan. Kota ini akan menjadi semakin padat pada pagi hari dan sore
hari. Umpatan demi umpatan dari sesama pengendara benar-benar sering kudengar
bahkan setiap aku di tengah macet yang berkepanjangan. Semua merasa benar dan
merasa paling sibuk. aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak akan
mengeluarkan umpatan ketika terjadi hal yang tidak kuinginkan di jalanan.
Tadi pagi,
bahkan benar-benar pagi buta. aku harus menyusuri padatnya kendaraan dari arah
cilandak ke kuningan karena windi sakit dan minta diantar ke poli. Macet adalah
hal biasa di kota ini dan akupun harus bersabar dengan itu. Di sekitaran halte
buncit indah, seorang ibu yang mengendarai motor matic dan nampaknya sedang
mengantar anaknya ke sekolah menyerempet motor di depannya alhasil flat motor
yang diserempet bengkok. Sang pengendara yang seorang laki-laki paruh baya
menoleh dengan wajah yang amat kesal dan terlihat sedang menahan marah. aku
sudah menduga dia akan memaki ibu itu atau paing tidak mengumpat namun ternyata
tidak. Dia hanya menunjukkan wajah kesal. Belum jauh dari kejadian itu, seorang
pengendara motor yang berusaha menyalip motor di depannya terjatuh karena
licin, pengendara yang lain hanya menoleh dan dengan cueknya berlalu. Begitu individualitas
di kota ini benar-benar memasuki tahap kronis.
Senja hari,
aku baru pulang menemani windi. Jalanan begitu padat karena bertepatan dengan
orang pulang kerja. Aku mengendarai motorku dengan pelan dan sesekali menyalip
karena maghrib sudah begitu mepet. Tepat di pertigaan pasar minggu setelah
halte jati padang, seorang bapak yang membonceng ibu, mungkin isterinya, amat
sangat kaget ketika ada motor dari belakang menyalip menuju pasar minggu. Dengan
amat kesalnya, dia berteriak dengan amat sangat keras tanpa memperdulikan orang
disampingnya “begoooooo”. Aku terperangah lalu dengan reflex menoleh kepada
bapak itu. Begitu orang-orang di kota benar sangat susah menahan emosinya dan
anehnya ibu yang di bonceng seakan tidak terganggu dan asyik memainkan hpnya.
Inilah kota
metropolitan. Terkadang orang di sini selalu merasa paling benar dan menganggap
yang lain pecundang. Umpatan amatlah sangat murah di jalanan kota ini bahkan
terkesan di obral meski amat sangat menyakitkan. Benar-benar untuk menguji
kesabaran adalah di jalanan kota ini. Kesabaran bukanlah diuji di tengah hutan
ataupun di atas gunung yang tidak berpenghuni manusia namun ujian kesabaran
dalam kondisi ramai yang sesungguhnya di kota ini.
Cilandak,
28’4’14
Untuk ke2
kalinya, windi sakit di kota ini

No comments:
Post a Comment